Senin, 23 April 2018

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) KOMPETENSI MENGIDENTIFIKASI PERIZINAN BISNIS RITEL PADA SISWA KELAS XII PEMASARAN 2 DI SMK NEGERI 4 JEMBER


Evi Yuliana

Abstrak: Penerapan pendekatan kooperatif dengan model pembelajaran STAD diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang nantinya berdampak pada hasil belajarnya. Rancangan Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus mencakup yaitu: 1. Perencanaan tindakan 2. Pelaksanaan tindakan 3.Observasi 4.Refleksi. Subjek penelitian adalah siswa Kelas XII program studi Pemasaran 2 di SMK Negeri 4 Jember. yang berjumlah 36 siswa.Teknis analisis data yang digunakan adalah analisa deskriptif kwantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan setelah diterapkan pendekatan kooperatif model STAD, aktivitas dan hasil belajar siswa bertambah meningkat. Perubahan aktivitas ini terlihat pada siklus 1 (satu) ke siklus 2(dua) bahwa: aspek menghargai konstribusi sebesar 78,2 % menjadi 92,4 %, aspek mengambil giliran dan berbagi tugas dari 74,9 % meningkat menjadi 91,2 %, pada aspek bertanya dari 62,9 % menjadi 86,8 % dan untuk aspek memeriksa ketepatan dari 76,9 % meningkat 88,8 %. Sedangkan untuk hasil belajar siklus I ke siklus II juga meningkat dari rata-rata 62,9 meningkat menjadi 73,2 dengan standart ketuntasan belajar 65.Sedangkan prosentase ketuntasan awalnya 36,1% pada siklus I menjadi 83,3 % pada siklus II dengan standar prosentase ketuntasan klasikal 75%. Dengan demikian pendekatan Kooperatif model STAD dapat dijadikan acuan pembelajaran pada bidang studi produktif Pemasaran lain.

Kata Kunci: Model Pembelajaran STAD, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

PENDAHULUAN
Berbagai usaha telah dilakukan Depdiknas untuk memperbaiki mutu Pendidikan Nasional, salah satunya adalah penyempurnaan kurikulum, yaitu melalui KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) kemudian disempurnakan menjadi kurikulum 13 dan dilakukan perubahan lagi menjadi kurikulum 13 revisi, Dilihat dari tujuannya perubahan kurikulum tersebut memusatkan diri pada pengembangan seluruh kegiatan siswa. Siswa dibantu agar kompetensinya muncul dan dikembangkan semaksimal mungkin. Dengan perubahan kurikulum ini siswa akan dibawa memasuki kawasan pengetahuan dan penerapan realistis yang didapatkan pada saat proses pembelajaran.
Tetapi dari hasil pengamatan peneliti terhadap kegiatan pembelajaran pada kompetensi mengidentifikasi Perizinan bisnis ritel di kelas XII Pemasaran 2 serta wawancara dengan guru produktif Pemasaran di SMKN 4 Jember, hasil belajar siswa rata-rata mendapatkan daya serap yang rendah. Salah satu faktor yang mempengaruhi tehadap rendahnya daya serap siswa tersebut karena dalam proses pembelajaran guru masih melakukan pembelajaran yang konvensional dan belum menggunakan metode mengajar yang bervariasi.
Umumnya pembelajaran model yang konvensional ini dilaksanakan dengan ceramah, sehingga siswa menjadi pasif, siswa hanya mendengarkan keterangan dari guru, akibatnya siswa menjadi cepat bosan karena pembelajaran konvensional kurang memberikan aktivitas dan hasil belajar yang maksimal, maka sudah waktu-nya bagi guru untuk beralih pada pola-pola pembelajaran model baru. Dengan kata lain dalam pembelajaran konvensional guru cenderung lebih mendominasi kegiatan belajar mengajar sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran siswa kurang aktif terlibat. Oleh karena itu, untuk memenuhi tuntutan pendidikan dimasa sekarang guru harus mengubah paradigma pembelajaranya (Ibrahim. M dkk, 2000; Nurhadi, 2004) .
Untuk mengatasi persoalan tersebut di atas, perlu diuji cobakan penerapan paradigma baru dalam pembelajaran di kelas dengan menggunakan pembelajaran kontekstual. Adapun strategi pembelajaran kontekstual ini salah satunya melalui pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams Achievement Division). Dalam pembelajaran kooperatif STAD ini mengajarkan informasi akademik baru, baik penyajian verbal maupun tertulis dengan cara membagi kelompok yang heterogen melalui lembar kerja akademik dan diskusi.
Pembelajaran kooperatif model STAD ini merupakanbelajar kelompok yangberorientasi merangsang pemikiran dan ide-ide siswa, dalam pengertian yang cukup luas yakni menampung dan melatih aspek sosial dan penghargaan kepada orang lain. Dengan demikian siswa dipacu untuk bisa berkomunikasi dan beriinteraksi serta mampuberadaptasi dengan yang lain.
Suryanto (1990), menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah salah satu jenis belajar kelompok dengan kekhususan sebagai berikut: (1).Kelompok terdiri atas anggota yang heterogen (kemampuan, jenis kelamin dan sebagainya), ada ketergantungan yang positif diantara anggota-anggota kelompok yang ber-tanggung jawab atas keberhasilan melaksanakan tugas kelompok dan tugas individual, berupa mengerjakan soal, memahami materi pelajaran dan sebagainya.(2) Kepemimpinan dipegang bersama tapi ada tugas selain kepemimpinan. (3) Guru memberikan kerja kelompok dan melaksanakan intervensi bila perlu. (4) Setiap kelompok harus siap menyajikan hasil kerja kelompok. DisisilainRogers dalam Lie (2005: 5) menyatakan bahwa, pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif bersama guru dan siswa lainnya mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri dan melakukan hubungan interpersonal.
Penggunaan pembelajaran Model STAD ini dipandang sebagai model pembelajaran yang paling sederhana dan langsung. Pendekatan pembelajaran kooperatif model STAD ini dipergunakan untuk mengajarkan informasi akademik baru pada siswa, baik pengajaran verbal maupun tertulis. Pada model ini siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang siswa, tiap kelompok memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik dan kemampuanya Tiap anggota ini menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu menguasai bahan ajar melalui tanya jawab dan diskusi antara sesama anggota tim(kelompok), tiap minggu atau dua minggu sekali dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap materi yang dipelajari. Tiap siswa dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa atau kelompok yang meraih skor tertinggi (sempurna) akan diberi penghargaan agar siswa termotivasi untuk meningkatkan kegiatan belajarnya, sehingga berdapak pada hasil belajar yang ia peroleh.
Menurut Sudjana (1990) hasil belajar diartikan sebagai kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa hasil belajar merupakan gambaran tentang perubahan dan perkembangan terjadi pada diri siswa setelah melewati proses belajar. Perubahan dan perkembangan tersebut misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Hasil belajar siswa dapat diketahui melalui penilaian dan evaluasi.Penilai- an itu menetapkan baik buruknya hasil dari kegiatan suatu pembelajaran yang menekankan diperolehnya informasi tentang perolehan siswa dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.Sedangkan Evaluasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana bahan yang dipelajari dapat dipahami oleh siswa (Dimyati, 1994; Mapa, S dan Balesman, 1994). Dengan demikian pencapaian penguasaan materi secara minimal yang ditetapkan setiap satuan mata pelajaran dapat tercapai.
Ketercapaian ini disebut pula ketuntasan hasil belajar.Hasil belajar dapat diketahui melalui penilaian atau hasil tes.Dalam penelitian ini hasil belajar yang dimaksud adalah hasil score siswa setelah mereka melaksanakan pembelajaran pada satu kompetensi dasar, dari hasil tes inilah siswa akan diketahui ketuntasan hasil belajarnya.
Penilaian ketercapaian ketuntasan belajar, dilakukan pada waktu atau setelah pembelajaran berlangsung. Kriteria Ketuntasan belajar setiap indicator dalam satu kompetensi dasar, ditetapkan dengan rentang 0% - 100%. Syarat ke-tuntasan belajar minimal atau SKMB di SMK Negeri 4 Jember pada mata pelajar-anmengidentifikasi Perizinan bisnis ritel kelas XII pemasaran 2 semester ganjil adalah 65, sehingga siswa dapat dinyatakan tuntas jika mencapai nilai ≥ 65 dari skor maksimal 100. Sedangkan daya serap secara klasikal suatu kelas dikatakan tuntas bila dikelas tersebut telah mendapatkan minimal ≥ 75% siswa yang telah mencapai ≥ 65 dari skor maksimal 100 (Depdiknas, 2004).

METODE PENELITIAN
Strategi pembelajaran kontekstual melalui pembelajaran kooperatif dengan model STAD (Student Teams Achievement Division) ini, dilakukan di SMK Negeri 4 Jember pada siswa kelas XII Pemasaran 2, dengan jumlah siswa sebanyak 36 orang, yang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 21 orang siswa perempuan. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada kompetensi dasar mengidentifikasi Perizinan bisnis ritel. Prosedur penelitian ini, menggunakan empat tahap. Keempat tahap tersebut merupakan satu siklus atau putaran yang diawali dengan perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi yang mengacu padamodel Kemmis dan Mc. Taggart (Arikunto, 2006 ; Hopkins D,1985).





















Gambar 1.Model Kemmis dan Mc. Taggart

Skenario penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan dua siklus, dengan demikian penelitian tindakan kelas dapat dilaksanakan dalam beberapa pertemuan.Dalam Penelitian tindakan ini hasil refleksi sangat dibutuhkan untuk dipakai sebagai acuan perbaikan untuk siklus selanjutnya.Setelah refleksi diketemukan pada siklus pertama maka pada siklus kedua dilakukan tahapan seperti siklus pertama guna meyakinkan hasil penelitian yang dilakukan dan membuktikan bahwa pembelajaran yang dilakukan dapat digunakan dalam pokok bahasan tertentu.
Adapun prosedur penelitiantindakan kelas dilaksanakan 2 siklus, masing-masing siklus sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan atau Plan.
a).Menyusun rencana,Gurumenyususn rencana pembelajaran sesuai dengan pokok bahasan. untuk menyampaikan tujuan pembelajaran kemudian dilaksanakan pretes
b).Guru memberitahukan sub-sub topik dan membagi kelompok siswa yang beranggotakan 4/5 orang
c).Siswa berdiskusi sesama kelompoknya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti dan memahami materi yang dibahasnya.
d).Guru memberi pertanyaan dalam bentuk kuis kepada seluruh siswa dan tidak boleh saling membantu
e).Guru mempersiapkan lembar pengamatan
f). Guru mengevaluasi dan memberi pemantapan

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Menyampaikan tujuan pembelajaran pada siswa
a). Memberi motivasi kepada siswa
b). Membagikan Lembar Kerja siswa (LKS)
c). Menjelaskan kepada siswa tentang metode STAD
d). Memberikan materi bahasan sesuai yang disampaikan
e). Melakukan Evaluasi berupa tes tulis.


3. Tahap Observasi.
a). Guru mengamati, Kegiatan pengamatan dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung.Dalam pelaksanaannya, peneliti dibantu seorang observer yang bertugas mengamati:a). Proses Pembelajaranya. b). aktivitas siswa, c). Kesulitan siswa.
b). Kemudian Observer mencatat pada lembar observasi yang telah disediakan.

4.Tahap Refleksi.
Refleksi dilakukan untuk menganalisa:
a).Hasil belajar yang diperoleh dari pengamatan.
b). Aktivitas siswa, hasil belajar siswa, wawancara siswa, dan cacatan siswa.
c). Memperbaiki masukan observer dari hasil pengamatan.
d). Selanjutnya hasil dari analisis tersebut digunakan untuk menentukan langkah berikutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pembelajaran mengidentifikasi Perizinan bisnis ritel dapat dilihat dari perolehan prestasi belajar siswa atau hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada siklus I ada 13 siswa yang mendapat nilai lebih dari atau sama dengan 65. Sehingga prosentase ketuntasan secara klasikal mencapai 36,1 %. Demikian pula untuk nilai rata- rata kelas 62,9 karena kreteria ketuntasan secara klasikal adalah 75 %, maka pembelajaran menggunakan model STAD pada siklus I dikatakan belum tuntas.
Tabel 1.Pengamatan aktivitas siswa Siklus I
Aktivitas siswa
Penilaian ke 1
Penilaian ke 2
Rata-rata
Menghargai konstribusi
76,8 %
79,6 %
78,2 %
Berbagi tugas
72,2 %
77,7 %
74,9 %
Bertanya
58,3 %
67,5 %
62,9 %
Memeriksa ketepatan
75,0 %
78.7 %
76,9 %

Jika digambarkan dengan diagram batang terlihat sbb:

Gambar 2. Tabel Penilaian Aktivitas Siswa Siklus I.
Hasil tes belajar pada siklus II ditemukan, bahwa ada 30 siswa yang mendapat nilai lebih dari atau sama dengan 65 dan 6 siswa yang mendapat nilai kurang dari 65. Dengan kata lain siswa tuntas sebanyak 30 anak dan siswa yang tidak tuntas 6 anak sehingga prosentase ketuntasan klasikal mencapai 83,3 %. Demikian pula untuk nilai rerata kelas telah mencapai 76,3 %. Kreteriaketuntasan secara klasikal adalah 75 %, maka siklus II dikatakan tuntas.
Tabel 2.Pengamatan aktivitas siswa Siklus II
Aktivitas Siswa
Penilaian ke-1
Penilaianke-2
Rata-rata
Menghargai konstribusi
90,1 %
94,8 %
92,4 %
Berbagi Tugas
89,8 %
92,6 %
91,2 %
Bertanya
87,9 %
89,8 %
86,8 %
Memeriksa ketepatan
87,9 %
89,8 %
88,8 %

Jika digambarkan dengan diagram batang terlihat sbb:
Terlihat jelas sekali jika aktivitas siswa dari siklus ke-1 dibandingkan dengan Aktivitas siswa siklus ke-2 dari tabel tersebut di atas, maka menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dari pencapaian nilai tertinggi,nilai terendah,rata–rata kelas maupun prosentase ketuntasansemua mengalami peningkatan.Peneliti juga menyadari bahwa dalam penerapan pembelajaran kooperatif STAD pada mata pelajaran ini pada awal pembelajaran suasana kelas menjadi gaduh dan ramai, hal ini karena baru pertama kali pendekatan model STAD ini diterapkan. Namun dengan berjalanya waktu, dilakukan pendekatan dan bimbingan oleh peneliti, akhirnya siswa dapat berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan: 1)Penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada kompetensi mengidentifikasi Perizinan bisnis ritelpada siswa kelas XII Pemasaran 2 SMK Negeri 4 Jember; 2) Penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi mengidentifikasi Perizinan bisnis ritel pada siswa kelas XII pemasaran 2 SMK Negeri 4 Jember; 3) Dengan penerapan model pembelajaran STAD untuk kompetensi mengidentifikasi Perizinan bisnis ritel pada siswa kelas XII Pemasaran 2 SMK Negeri 4 Jember terjadi peningkatan ketuntasan belajar dari rata-rata 62,9 pada siklus I menjadi 73,2 pada pembelajaran siklus II.
Berdasarkan hasil penelitian peneliti dapat memberikan saran untuk kolega guru: dalam rangka untuk mengoptimalkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan hasil belajar maka dapat diterapkan pembelajaran STAD .

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto dkk, 2006, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta, Bumi Aksara.
Arikunto Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2007. Manajemen Penelitian . Jakarta, Rineka Cipta
Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta, PN Persero Balai Pustaka Depdiknas,2004 Standart Kompetensi, Jakarta .
Dimyati, 1994, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.
Hopkins D,1985, A Teachers. Guide to Classroom Reasearch. England, Open University. Press.
Ibrahim. M dkk, 2000,Pembelajaran Kooperatif.Surabaya, Unesa University Press.
Mapa,S dan Balesman, 1994, Teori Belajar Orang Dewasa. Jakarta, Depdikbud
Nasution ,S .2000, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara.Rmaja Rosdakarya
Nurhadi, 2004,Pembelajaran Kontektual dan penerapannya dalam KBK, Malang, Universitas Negeri Malang.
Pusat Pengembangan Kurikulum, 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta, Depdiknas
Susanto, 1999,Strategi Pembelajaran di sekolah ,Jakarta, Depdiknas
Sudjana, 1990, Penelitian Hasil Belajar Proses Belajar MengajarBandung, Remaja Rosdakarya.
Sudjana. 2001,Metode Statistik.Bandung, Tarsito Bandung