Senin, 23 April 2018

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MATERI AJAR “KESATUAN DAN PERSATUAN” MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KUANTUM SISWA KELAS V SDN TUGUSARI 03 KECAMATAN BANGSALSARI KABUPATEN JEMBER

Nanang Ponco Suwasono

Abstrak: Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji
tentang Peningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan
Materi Ajar “Kesatuan dan Persatuan” Melalui Model Pembelajaran Kuantum
(Quantum Learning) Siswa Kelas V SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari
Kabupaten Jember.Model Penelitian Yang Digunakan Adalah Model Elliot.Hasil
analisis data yang diperoleh pada penelitian ini, menunjukkan adanya peningkatan
prestasi dan hasil belajar dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II, Diperoleh
adanya peningkatan ketuntasan hasil belajar pada siklus I dibandingkan pada pra
tindakan, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 22%,
sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 14 atau sebesar 78%,. Pada
siklus II, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 2 siswa atau sebesar 11%,
sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 16 siswa atau sebesar 89%
dengan demikian pada siklus II hasil belajar dikatakan tuntas belajar secara
klasikal
Kata Kunci :Model Pembelajaran Kuantum Dan HasilBelajar

PENDAHULUAN
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran juga memfokuskan pada
pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku
bangsa. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaran ini diharapkan akan mampu
membentuk siswa yang ideal memiliki mental yang kuat, sehingga dapat mengatasi
permasalahan yang akan dihadapi.Namun selama ini proses pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaran kebanyakan masih mengunakan paradigma yang lama dimana guru
memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru mengajar dengan metode
konvensional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat
dan hafal, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderug tidak begitu
tertarik dengan pelajaran Pendidikan Kewarganegaran karena selama ini pelajaran
Pendidikan Kewarganegaran dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan
hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya
minat belajar Pendidikan Kewarganegaran siswa di sekolah.
Masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ialah
penggunaan metode atau model pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran
secara tepat, yang memenuhi muatan tatanan nilai, agar dapat diinternalisasikan pada diri
siswa serta mengimplementasikan hakekat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari
belum memenuhi harapan seperti yang diinginkan.
____________________________________________________________________
Nanang Ponco Suwasono S. Pd Adalah Guru SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari
Kabupaten Jember
119Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Metode pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) terkesan sangat kaku,
kurang fleksibel, kurang demokratis, dan guru cenderung lebih dominan. Di samping
masih menggunakan model konvensional yang monoton, aktivitas guru lebih dominan
daripada siswa, akibatnya guru seringkali mengabaikan proses pembinaan tatanan nilai,
sikap, dan tindakan; sehingga mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaran tidak dianggap
sebagai mata pelajaran pembinaan warga negara yang menekankan pada kesadaran akan
hak dan kewajiban tetapi lebih cenderung menjadi mata pelajaran yang jenuh dan
membosankan.

Pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya sekedar mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik, yang
cerdas, terampil, dan berkarakter. Melainkan juga mampu membentuk siswa yang ideal
memiliki mental yang kuat, sehingga dapat mengatasi permasalahan yang akan dihadapi.
Tidak hanya dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaran saja melainkan dalam
semua mata pelajaran harus meningkankan kesan dalam pelajaran yang sedang dipelajari
siswa agar siswa lebih lama mengingat mata pelajaran dan lebih mudah dalam memahami
pelajaran tersebut. Dengan demikian, diharapkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaran akan meningkat.

Model pembelajaran Kuantum (Quantum Learning) digunakan sebagai alternatif
karena kenyataan yang terjadi pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan khususnya
pada materi ajar “Kesatuan Dan Persatuan” di kelas V SD Negeri Tugusari 03 Kecamatan
Bangsalsari Kabupaten Jember masih kurang optimal, sehingga Model pembelajaran ini di
harapkan membuat pembelajaran menjadi lebih baik dalam proses pembelajaran
sebelumnya dan dapat menjadi suatu terobosan baru untuk menyelesaikan permasalah
pendidikan serta dapat mengefektifkan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung di
kelas untuk melihat efektif tidaknya melalui alat evaluasi.

Quantum learning merupakan kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar
yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu
proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Quantum learning ini berakar dari upaya
Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang
disebutnya suggestology. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi
hasil situasi belajar, dan setiap detil apapun memberikan sugesti positif atau negatif.
Tokoh utama di balik Quantum Learning adalah Bobbi DePorter. Dia perintis,
pencetus dan pengembang utama Quantum Learning. Sejak tahun 1982 DePorter
mematangkan dan mengembangkan gagasan Quantum Learning di SuperCamp. Dengan
dibantu oleh teman-temannya, terutama Eric Jansen, Greg Simmons, Mike Hernacki, Mark
Reardon dan Sarah Singer Nouric, DePorter secara terprogram dan terencana mengujicoba
gagasan-gagasan Quantum Learning kepada para remaja di SuperCamp salama tahuan
awal 1980-an. DePorter menjelaskan bahwa metode ini dibangun berdasarkan pengalaman
dan penelitian terhadap 2.500 siswa dan sinergi pendapat ratusan guru di SupeCamp.
Prinsip-prinsip dan metode-metode Quantum Learning ini dibentuk di SuperCamp
(Deporter, 2011).

Pada tahap awal perkembangannya, Quantum Learning dimaksudkan untuk
membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karier para remaja dirumah tetapi lama
kelamaan orang menginginkan DePorter untuk mengadakan program-program Quantum
Learning bagi orang tua siswa. Hal ini menunjukkan bahwa falsafah dan metodologi
pembelajaran yang bersifat umum, tidak secara khusus diperuntukkan bagi pengajaran di
sekolah.

Tujuan
a. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif
120Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning),...( Nanang P.S )
b. Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan
c. Untuk menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak
d. Untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir
e. Untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran
Keunggulan Dan Kelemahan
 Keunggulan:
1) Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum
meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.
2) Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris,
“hewan-istis”, dan atau nativistis.
3) Pembelajaran kuantum lebih konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris,
behavioristis.
4) Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan
bermakna, bukan sekedar transaksi makna.
5) Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran
dengan taraf keberhasilan tinggi.
6) Pembelajaran kuantum sangat menentukan kealamiahan dan kewajaran proses
pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
7) Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses
pembelajaran.
8) Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi
pembelajaran.
9) Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan ketrampilan
akademis, ketrampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.
10) Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting
proses pembelajaran.
11) Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan
keseragaman dan ketertiban.
12) Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses
pembelajaran.
7 kunci keunggulan quantum learning :
 Integritas : Bersikaplah jujur, tulus dan menyeluruh. Selaraskan dengan nilai-nilai
yang ada pada diri kita.
 Kegagalan awal kesuksesan : Pahamilah bahwa kegagalan hanyalah memberikan
informasi yang anda butuhkan untuk sukses.
 Bicaralah dengan niatan baik : Berbicaralah dengan pengertian positif dan
bertanggungjawablah untuk berkomunikasi yang jujur dan lurus.
 Komitmen : Penuhilah janji dan kewajiban, laksanakan visi dan lakukan apa yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.
 Tanggungjawab : Bertanggungjawablah atas tindakan anda.
 Sikap fleksibel: Bersikap terbuka terhadap perubahan baru yang dapat membantu
kita memperoleh hasil yang kita inginkan.
 Keseimbangan : Jaga keselarasan pikiran, tubuh dan jiwa. Sisihkan waktu untuk
membangun dan memelihara ketiganya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas dengan
judul : Upaya Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan
Materi Ajar “Kesatuan dan Persatuan” Melalui Model Pembelajaran Kuantum (Quantum
Learning) Siswa Kelas V SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember .
121Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut: Apakah Ada Upaya Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar
Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Kesatuan dan Persatuan” Melalui Model
Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning) Siswa Kelas V SDN Tugusari 03
Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember ?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji
tentang : Peningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi
Ajar “Kesatuan dan Persatuan” Melalui Model Pembelajaran Kuantum (Quantum
Learning) Siswa Kelas V SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember .
Manfaat Hasil Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan akan memberikan beberapa
manfaat, sebagai berikut,
a. Bagi peningkatan mutu pembelajaran, penelitian ini diharapkan akan memberikan
sumbangan bagi peningkatan mutu dan efektifitas pembelajaran di sekolah,
b. Bagi guru, akan dapat membantu mengatasi permasalahan pembelajaran yang
mereka hadapi dan mendapat tambahan wawasan serta keterampilan pembelajaran
yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pembelajarannya,
c. Bagi siswa, akan memperoleh pelajaran yang lebih menarik, menyenangkan dan
memungkinkan bagi dirinya untuk memperoleh nilai-nilai yang sangat berguna
bagi kehidupannya,
d. Bagi sekolah, akan dapat memberikan sumbangan dalam upaya meningkatkan mutu
pembelajaran di sekolah.

METODE PENELITIAN

Tempat Dan Waktu Penelitian
Daerah penelitian merupakan tempat atau lokasi untuk melakukan penelitian yaitu
di Kelas V SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember dan dilaksanakan
pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.
Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek dan obyek Penelitian tindakan kelas ini adalah siswa Kelas V SDN
Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember yang berjumlah 18 siswa serta
proses dan hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar
“Kesatuan Dan Persatuan” melalui penerapan Model pembelajaran Kuantum (Quantum
Learning).

Prosedur Penelitian
Model penelitian yang digunakan adalah model Elliot. Elliot dan Adelman bekerja
bersama-sama dengan guru di kelas, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi mereka sebagai
kolaborator atau teman sejawat guru. Melalui partisipasi semacam ini, mereka membantu
guru untuk mengadopsi suatu pendekatan penelitian untuk pekerjaannya. Elliot setuju
dengan ide dasar langkah-langkah tindakan refleksi yang terus bergulir dan kemudian
menjadi suatu siklus seperti yang dikembangkan Kemmis, namun skema langkah-
langkahnya lebih rinci dan berpeluang untuk lebih mudah diubah sehingga sebenarnya dia
telah membuat suatu diagram yang lebih baik.
122Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning),...( Nanang P.S )
Penelitian Tindakan Model Elliot (1991)
Berikut ini gambar siklus pelaksanaan PTK menurut John Elliot.
Tahapan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : tahap perencanaan
(rencana tindakan), tahap implementasi (pelaksanaan tindakan), tahap observasi, tahap
evaluasi dan refleksi yang diikuti dengan perencanaan ulang.
Ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami langkah-langkah
yang ada di dalam model PTK yang dikembangkan oleh Ebbut, Elliot dan Kemmis. Bila
guru akan menerapkan atau mengadopsi untuk penelitian tindakan kelas dalam praktik di
kelasnya, guru harus memahami betul apa yang dimaksud oleh masing-masing penulis.
Disamping itu, guru atau peneliti harus mengetahui penggunaan data dan keterbatasan
skema-skema tersebut bila dipraktekkan dalam penelitian tindakan.

Beberapa keterbatasan
langkah-langkah di dalam model PTK ini antara lain :
a. Adanya gerakan yang mulai menjauh dari sgerakan ajaran Lewin semula.
b. Skema-skema kelihatannya rapuh dan membingungkan.
c. Skema-skema tersebut tidak dapat menyesuaikan dengan hal-hal baru yang menjadi
fokus utamanya.
d. Skema tersebut tidak begitu saja cocok untuk diikuti.
Metode Pengumpulan Data
Dalam metode pengumpulan data disetiap penelitian tidak dapat diabaikan begitu
saja, sebab kegiatan pengumpulan data dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-
keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi,
wawancara dan telaah dokumen. Data yang dikumpulkan adalah melalui catatan observasi
selama proses belajar berlangsung dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian
hingga sampai dengan siklus 3 bersama mitra kolaborasi.
Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dan
permunculan ketrampilan kooperatif siswa, sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur
peningkatan mutu belajar siswa.

Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap
keberhasilan dan pencapaian tujuan. Lebih rinci akan penulis jelaskan sebagai berikut :
123Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
a. Metode Angket
Metode angket adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengajukan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi
dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal lain yang diketahuinya
(Suharsimi Arikunto, 1983 : 107). Selanjutnya Kartini Kartono (1990 : 217) menjelaskan
angket adalah penyelididkan mengenai suatu masalah yang banyak menyangkut
kepentingan umum dengan jalan mengadakan formulir daftar pertanyaan, diajukan secara
tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan jawaban tertulis seperlunya.
Dapat disimpulkan angket adalah suatu daftar pertanyaan yang disusun secara
teratur menjadi sebuah pertanyaan tertulis untuk memperoleh informasi dari orang yang
dikenai angket tersebut.

Dalam hal ini Bimo Walgito mengemukakan angket dapat
dibedakan atas beberapa jenis tergantung pada sudut pandangnya :
1) Dipandang dari macam pertanyaannya, maka ada ;
1) pertanyaan yang tertutup : dimana responden tinggal memilih jawaban yang
telah disediakan didalam angket.
2) Pertanyaan yang terbuka : memberikan kesempatan kepada responden untuk
memberikan jawabannya terhadap angket tersebut.
3) Pertanyaan yang terbuka dan tertutup : merupakan campuran dari kedua
pertanyaan diatas.
2) Dipandang dari cara memberikan, maka ada :
1) Angket langsung yaitu bila angket itu langsung diberikan kepada responden
yang ingin diselidiki.
2) Angket tidak langsung yaitu angket yang untuk mendapatkan jawaban
membutuhkan perantara.
Dalam aplikasinya angket atau kuisioner dilaksanakan dengan prosedur sebagai
berikut :
 Menyusun beberapa pertanyaan tentang variable yang diteliti
 Menyampaikan daftar pertanyaan kepada responden
 Mengumpulkan kembali daftar pertanyaan yang telah dijawab oleh responden,
sehingga diperoleh data.
 Memeriksa jawaban yang telah dikumpulkan dengan tujuan jika ada jawaban yang
kurang jelas dapat dikoreksi melalui wawancara kepada responden yang
bersangkutan
b. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan jalan mencatat
secara sistematika dan fenomena yang diselidiki (Arifin : 1991 : 49). Observasi
dilaksanakan adalah untuk mengetahui tentang kedaan sekolah, kegiatan belajar mengajar
serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Selain itu juga ada aspek afektif yang
meliputi minat dan rasa ingin tahu siswa, perhatian siswa, kedisiplinan siswa, kerjasama,
tanggung jawab, dan rasa tenggang rasa siswa. Sedangkan aspek psikomotorik meliputi
ketrampilan mengerjakan tugas, ketrampilan berdiskusi, mempresentasikan materi,
menyimpulkan materi dan berbicara.
c. Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan mencari data mengenai hal-hal yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002 :
206). Adapun sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
1) Nama responden penelitian
2) Daftar nilai ujian
124Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning),...( Nanang P.S )
d. Wawancara
Menurut Arikunto, wawancara adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara
terhadap terwawancara. Hal ini juga didukung oleh Arifin (1991 : 54). Wawancara
langsung adalah wawancara langsung dengan orang yang diwawancarai tanpa perantara.
Dan wawancara tidak langsung adalah wawancara dengan orang yang diwawancarai
melalui perantara atau tidak bertemu langsung.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan
siswa untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan.
Metode Analisis Data
Analisis data merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian.
Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana denga baik tetapi jika analisa datanya
tidak relevan. Data hasil observasi pembelajaran dianalisis bersama-sama dengan mitra
kolaborasi dengan guru pelajaran dengan peneliti. Kemudian ditafsirkan berdasarkan
kajian pustaka dan pengalaman guru. Sedangkan hasil belajar siswa dianalisis berdasarkan
ketentuan belajar siswa.
Indikator Hasil Kerja
Indikator yang dapat dicapai dari penelitian ini antara lain :
a. Adanya interaksi antara guru dan murid yang lebih aktif jika menggunakan Model
pembelajaran Kuantum (Quantum Learning)
b. Terjadi peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai pre tes
ke nilai pos tes.
c. Ketuntasan Hasil belajar dalam penelitian ini adalah suatu pencapaian dari suatu
penguasaan materi secara maksimal baik secara perorangan maupun secara
kelompok. Bila dalam belajar mengajar sudah diperoleh ketuntasan belajar maka
proses belajar mengajar dikatakan efektif.
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
1) Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah
mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.
2) Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85%
siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan, karena hasil belajar Pendidikan
Kewarganegaraan materi ajar “Kesatuan dan persatuan” siswa kelas V SD Negeri Tugusari
03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember, masih rendah, yaitu dari 18 siswa yang
mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 44%, dan yang mendapat nilai 65 – 100
sebanyak 10 siswa atau sebesar 56%. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebagai
upaya untuk meningkatkan prestasi dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model
pembelajaran Kuantum (Quantum Learning).

Hasil observasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa selama mengikuti
proses pembelajaran. Setelah itu, peneliti juga memberikan tes tertulis. Untuk mengetahui
tingkat pemahaman materi dan pencapaian kompetensi mata pelajaran
125Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Pada tahap ini, peneliti mengadakan analisis, interprestasi dan evaluasi terhadap
kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, seperti kegiatan observasi, hasil hasil wawancara,
angket dan hasil test. Semua kegiatan ini dilakukan utamanya adalah untuk mengetahui
tingkat keberhasilan dan pencapaian tindakan.

Selanjutnya peneliti mengadakan tes untuk mengevaluasi hasil pembelajaran pada
siklus I. hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Materi Ajar “Kesatuan Dan Persatuan Siswa Kelas V SDN Tugusari 03 Kecamatan
Bangsalsari Kabupaten Jember pada siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65 4 22%
65 – 100 14 78%
Jumlah 18 100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh adanya peningkatan ketuntasan hasil belajar
pada siklus I dibandingkan pada pra tindakan, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4
siswa atau sebesar 22%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 14 atau
sebesar 78%,.

Meskipun terjadi peningkatan hasil belajar pada pada siklus I, namun masih belum
mencapai ketuntasan hasil belajar yang diharapkan. Untuk itu peneliti melaksankan
perbaikan belajar pada siklus II. Namun tingkat penguasaan materi belum berhasil.
Kegiatan belajar yang kurang berhasil adalah pada saat diskusi masih banyak yang kurang
aktif maka masih diperlukan perbaikan pada siklus berikutnya yaitu pada siklus II , untuk
mengaktifkan siswa, yaitu dengan merubah teknik diskusi. Diubah dengan dibentuk diskusi
kelompok agar semua siswa terlibat aktif.

Pada intinya pembelajaran siklus II, dilaksanakan sebagai penyempurnaan
pelaksanaan pembelajaran pada siklus I. Peneliti memberi perhatian yang lebih kepada
siswa, yang belum tuntas pada siklus I.
Selanjutnya peneliti mengadakan tes untuk mengevaluasi hasil pembelajaran pada
siklus II. Hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Materi Ajar “Kesatuan Dan Persatuan Siswa Kelas V SDN Tugusari 03 Kecamatan
Bangsalsari Kabupaten Jember pada siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
2
11%
65 – 100
16
89%
Jumlah
18
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui pada siklus II, yang mendapat nilai < 65
sebanyak 2 siswa atau sebesar 11%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 16
siswa atau sebesar 89% dengan demikian pada siklus II hasil belajar dikatakan tuntas
belajar secara klasikal. Karena pada siklus II sudah mendapatkan hasil ketuntasan yang
126Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning),...( Nanang P.S )
diharapkan, maka perbaikan pembelajaran dihentikan karena berarti tingkat penguasaan
materi sudah berhasil. Untuk melihat lebih jelas peningkatan hasil belajar dari Pra
Tindakan , siklus I, dan siklus II, dapat dilihat pada tabel 3 dan grafik 1 dibawah ini.
Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan Materi Ajar “Kesatuan Dan Persatuan Siswa Kelas V SDN Tugusari
03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember pada Pra Tindakan, Siklus I, dan
Siklus II
Kriteria
Nilai
Pra Tindakan
Siklus I
Siklus II
Siswa % Siswa % Siswa %
< 65 8 44% 4 22% 2 11%
65 – 100 10 56% 14 78% 16 89%
Jumlah 18 100% 18 100% 18 100%
Sumber : data yang diolah
Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan Materi Ajar “Kesatuan Dan Persatuan Siswa Kelas V SDN Tugusari
03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember pada Pra Tindakan, Siklus I, dan
Siklus II
20
15
< 65
10
65 - 100
5
0
Pra Tindakan
Siklus I
Siklus II
Sumber : Data yang diolah
Pembahasan
Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum
meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai. Pembelajaran kuantum juga
memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi
makna, karena sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf
keberhasilan tinggi.
Hal ini terbukti dengan meningkatnya hasil belajar siswa dari mulai pra tindakan,
yaitu yaitu dari 18 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 44%, dan
yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 10 siswa atau sebesar 56%. Selanjutnya ada
peningkatan hasil belajar pada siklus I, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa
atau sebesar 22%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 14 atau sebesar
78%.
127Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Sedangkan pada siklus II, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 2 atau sebesar 11%,
sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 16 siswa atau sebesar 89% dengan
demikian pada siklus II hasil belajar dikatakan tuntas belajar secara klasikal. Karena pada
siklus II sudah mendapatkan hasil ketuntasan yang diharapkan, maka perbaikan
pembelajaran dihentikan tingkat penguasaan materi sudah berhasil.
Sasaran pembelajaran kuantum siswa dibawa pada suasana yang dekat dengan
kehidupan nyata siswa sehingga diharapkan siswa dapat mengembangkan pengetahuan
yang telah mereka miliki untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang diperkirakan
akan timbul di sekitar kehidupannya.
Pembelajaran Kuantum merupakan orkestra dari berbagai interaksi yang ada di
dalam dan disekitar aktivitas belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar
efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah
kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bemanfaat bagi dirinya
dan orang sekitarnya. Orkestra merupakan kolaborasi berbagai interaksi belajar yang terdiri
dari konteks maupun kontens.
Konteksnya meliputi :
1. Suasana pembelajaran
2. Landasan/kerangka kerja
3. Lingkungan pembelajaran
4. Perancangan pembelajaran yang dinamis
Sedangkan kontensnya meliputi :
1. Cara penyampaian materi
2. Pemberdayaan fasilitas
3. Ketrampilan hidup
Adapun kegiatan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut,
Kegiatan pendahuluan :
 Guru melakukan apersepsi dengan pertanyaan pada materi model-model
pembelajaran
 Memberi pertanyaan kepada siswa tentang cakupan materi dari model-model
pembelajaran
Kegiatan inti :
 Mentrasfer jawaban siswa dalam bentuk peta konsep
 Memperbaiki peta konsep yang belum terstruktur menjadi terstuktur
 Setelah peta konsep jadi, membeti tugas kepada siswa untuk membuat peta konsep
secara berkelompok berdasarkan sub-sub materi
 Menjadi siswa menjadi beberapa kelompok, kemudian siswa kerja kelompok untuk
membuat peta konsep
 Guru keliling untuk memberi penjelasan jika ada kelompok yang bertanya selama
siswa menyusun peta konsep
 Wakil-wakil kelompok maju untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Sementara itu
kelompok lain diberi kesempatan untuk memberi tanggapan dan masukan
 Menjelaskan tentang materi yang belum dipahami siswa
Kegiatan Penutup :
 Memberikan masukan tentang hasil pekerjaan siswa
 Postest
 Memberi kesempatan siswa untuk memberi masukan tentang cara pmbelajaran
yang dilakukan guru sebagai evaluasi pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
128Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning),...( Nanang P.S )
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Hasil analisis data yang diperoleh pada penelitian ini, menunjukkan adanya
peningkatan prestasi dan hasil belajar dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II,
menyimpulkan bahwa : Ada Upaya Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Pendidikan
Kewarganegaraan Materi Ajar “Kesatuan dan Persatuan” Melalui Model Pembelajaran
Kuantum (Quantum Learning) Siswa Kelas V SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari
Kabupaten Jember .
Saran-saran
Sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar maka peneliti memberi saran
sebagai berikut:
a. Bagi guru Pendidikan Kewarganegaraan sebaiknya menggunakan Model
pembelajaran Kuantum dalam proses pembelajaran,
b. Bagi lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat merupakan bahan masukan
yang berguna dan juga sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam
rangka peningkatan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas. (2006). Model – Model Pembelajaran yang Efektif. Jakarta. Depdiknas
Deporter, B dan Hernacki, M. (2011). Quantum Learning. Jakarta: Kaifa
Kurikulum .(2004). Mata Pelajaran Kewarganegaraan Permendiknas No 22 tahun 2006
tentang Standar Isi. Lampiran Standar Isi
Pendidikan Kewarganegaraan Suwarma Al Muchtar, dkk. (2007). Strategi Pembelajaran
PKn. Jakarta : UT
Shabri, H. A. (2005). Strategi belajar mengajar micro teaching. Jakarta: Quantum
Teaching.
Sudjana, N. (2005). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Suryabrata, S. (2001). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Muchji, Achmad dkk, 2007, Pendidikan Kewarganegaraan, Universitas Gunadarma,
Jakarta.
129