Senin, 23 April 2018

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN BERBASIS AKTIVITAS PADA SISWA KELAS X AKUNTASI 1 MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMK NEGERI 4 JEMBER


Lilis Sulistyaningrum


Abstrak: Tujuan penelitian, untuk meningkatkan hasil belajar pada siswa SMKN 4 Jember kelas X Jurusan Akuntasi 1 melalui pendekatan Pembelajaran berbasis aktivitas. Rancangan penelitian ini adalah penelitian Tindakan Kelas. Metode untuk mengumpulkan data: observasi, dokumentasi, kuesiner dan interviu. Sedangkan desain penelitian tindakan kelas menggunakan model Kemmis dan Taggart dengan alur: 1. perencanaan, 2. tindakan, 3. pengamatan, dan 4. refleksi. Untuk menganalisis data dengan menggunakan metode diskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) siswa lebih termotivasi dalam belajar, (b) siswa lebih kreatif, (c) siswa lebih berani menyampaikan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan, (d) hasil belajar siswa lebih meningkat, pada siklus -1 skor 65- 100 sebanyak 33 %, siklus-2 menjadi 83%, pada siklus 3 menjadi 93%
Kata Kunci: Pendekatan Berbasis Aktivitas, Motivasi Belajar Siswa


PENDAHULUAN
Terbentuknya kondisi, peserta didik yang aktif dalam pembelajaran merupakan dambaan semua komponen pendidikan termasuk juga orang tua, peserta didik dan praktisi pendidikan.Oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran dituntut suatu strategi pembelajaran yang direncanakan oleh guru dengan mengedepankan keaktifan atau kreativitas peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.Melalui kegiatan pembelajaran yang menekankan pada aktivitas, peserta didik diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar yang sesuai dengan tujuan kurikulum atau tujuan pendidikan.
Menurut Suparno dkk (2002), Perbuatan nyata peserta didik dalam pembelaja-ran merupakan hasil keterlibatan berpikir peserta didik terhadap kegiatan belajarnya. Dengan demikian proses peserta didik aktif dalam kegiatan belajar mengajar merupa-kan suatu kegiatan pembelajaran yang harus dilaksanakan secara terus menerus dan tiada henti. Hal ini dapat dilakukan apabila interaksi antara guru dengan peserta didik terjalin dengan baik. Sebab menurut Usman (2002), interaksi dan hubungan timbal balik antara guru dan peserta didik itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Berdasar pendapat diatas, menunjukkan bahwa aktivitas peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar mutlak diperlukan.Namun yang lebih penting lagi dalam meningkatkan aktivitas peserta didik adalah kemampuan guru dalam merencanakan suatu kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.Berdasar pada fenomena-fenomena di atas, peneliti melakukan suatu kegiatan penelitian tindakan pada kelas X AK1 di SMKN 4 Jember yang menekankan pada peningkatan motivasi belajar peserta didik melalui kegiatan pembelajaran berbasis aktivitas. Ada beberapa alasan mengapa peneliti menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas dalam mengajarkan materi pembelajaran Bahasa Indonesia, diantaranya (1) asas aktivitas dapat digunakan dalam semua jenis metode mengajar baik di dalam maupun di luar kelas, (2) asas aktivitas bertujuan mengembangkan ide-ide atau merealisasikan suatu ide dalam suatu bentuk tertentu, (3) asas aktivitas dapat menikmati pengalaman-pengalaman estetis, (4) memecahkan suatu kesulitan intelektual, dan (5) memperoleh pengalaman dan ketrampilan tertentu.Pada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari selalu ditekankan pada efektivitas dan aktivitas untuk meraih tujuan.
Kondisi pembelajaran yang terjadi saat ini di SMK Negeri 4 Jember adalah sebagai berikut: 1)Pembelajaran bahasa Indonesia di kelas masih monoton; 2)Belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat; 3)Belum ada kolaborasi antara guru dan siswa; 4)Metode yang digunakan bersifat konvensional; 5)Rendahnya kualitas pembelajaran bahasa Indonesia; 6)Rendahnya prestasi siswa untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia
Berdasarkan beberapa alasan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah: untuk meningkatkan hasil belajar bahasa indonesia untuk siswa sekolah lanjutapan melalui penerapan pendekatan yang berbasis aktivitas. Penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memotivasi belajar siswa kelas X jurusan Akuntansi 1 (satu) di SMKN 4 Jember meningkat yang akhirnya akan berdampak pada prestasi atau hasil belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.


METODE PENELITIAN.
Metodologi penelitian dalam pelaksanaanya menggunakan penelitian tindakan kelas yang juga dapat disebut penelitian diskriptif kualitatif. Penelitian tidakan kelas ini terdapat 2 (dua) siklus model Kemnis dan Taggart dengan alur sebagai berikut: 1. Perencanaan, 2. Tindakan, 3. Pengamatan dan ke-4. Refleksi atau dengan kata lain dilakukan dengan 4 (empat) tahapan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif, menurut Sudjana (1990), pendekatandiskriptif kualitatif memiliki kelebihan sebagai berikut:
  1. Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung,
  2. Bersifat deskriptif analitik karena data yang diperoleh tidak dituangkan dalam bentuk bilangan statistik namun dalam bentuk kata-kata atua gambar-gambar,
  3. Lebih menekankan proses daripada hasil,
  4. Analisis data bersifat induktif karena penelitian tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan,
  5. Mengutamakan makna.
Hal tersebut juga sesuai dengan pendapatMoleong (2002), yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif mempunyai karakterisik:
  1. peneliti sebagai instrurmen utama, maksudnya adalah pengumpulan data dan penganalisis data, peneliti terlibat langsung dalam proses penelitian,
  2. data dianalisis secara indukif, maksudnya data dianalisis setelah mengadakan penelitian terlebih dahulu,
  3. hasil penelitian bersifa deskriptif, yaitu hasil penelitian merupakan gambaran dari penelitian yang telah diadakan,
  4. adanya batasanpermasalahan yang ditentukan oleh fokus penelitian.
Pelaksanaan Penelitian.
Pelaksanaan penelitian dilakukan di SMK Negeri 4 Jember dengan populasi penelitian adalah kelas X Ak1 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Penelitian tindakan kelas ini berdasarkan pada tahapan-tahanpan penelitian model Kemnis dan Toggart yang bertujuanuntuk melaksanakan rangkaian secara komrehensif yang terdiri 4 (empat) komponen yaitu: 1. Perencanaan, merupakan tindakan awal yang tersusun dan mengarah pada tindakan, fleksibilitas dan refleksi. Pada alur berikutnya adalah 2. Tindakan, tindakan ini dilakukan dengan cara sadar dan terkendali dan merupakan praktik penerapan pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan yang berbasis aktivitas.Yang dilanjutkan pada tahap ke-3 (tiga) adalah pengamatan atau observasi.Pada kegiatan ini dilakukan pengamatan secara langsung kepada kondisi kelas pembelajaran, baik pengamatan pada siswa maupun pengamatan pada pebelajarnya sebagai guru sekaligus yang menerapapkan pendekatan.Pada tahap berikutnya adalah tahap ke-4 yaitu Rekfleksi, pada tahap ke-4 inilah yang paling dominan dalam kita menganalisa kondisi kelas, dan merupakan kegiatan perenungan dalam menganalisis kegiatan yang telah terjadi dari kondisi real. Berikut adalah desain model Kemnis dan Toggart:




Desain Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, sehingga hanya 1 kelas yang diteliti pendekatan berbasis aktivitas yaitu dengan mengamati hasil yang dicapai siswa dari saat perlakuan penelitian berlangsung.
  1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam mengikuti mata diklat Bahasa Indonesia melalui pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Berbasis Aktivitas Siswa .
  2. Persiapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah membuat berbagai input instrumental yang akan digunakan untuk memberi perlakuan dalam PTK, yaitu satuan pelajaran yang akan dijadikan PTK dengan Kompetensi Dasar (KD) memahami perbedaan paraf induktif dan deduktif melalui membaca secara intensif. Selain itu akan dibuat perangkat pembelajaran yang berupa (1) Lembar Kerja Siswa; (2) Lembar Pengamatan diskusi; (3) Lembar Evaluasi. Dalam persiapan juga akan disusun nama kelompok diskusi yang dibuat secara heterogen.
  3. Pembagian kelompok bertujuan ntuk mengamati efektivias dan komprehensitivi- tas kegiatan diskusi yang akan dilaksanakan. Kelas yang berjumlah 30 siswa dibagi menjadi 7 kelompok kecil dan masing-masing kelompok beranggotakan 4-5 siswa. Masing-masing kelompok berdiskusi dan mengerjakan latihan serta tugas-tugas yang terdapat dalam LKS.Sebagai konsultan guru melayani siswa yang mengalami kesulitan dan menugasi siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi secara bergantian dan ditanggapiolehkelompok lain.
  4. Refleksi (Reflection) dilaksanakan setelah kelomok melaksanakan proses kegiatan.
Penelitian tindakan kelas ini berhasil apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
  1. Sebagian besar (75% dari siswa) mampu menjawab pertanyaan guru dengan benar.
  2. Lebih dari 80% siswa dapat menunjukkan perbedaaan yang signifikan tentang materi yang didisksikan.
  3. Lebih dari 80% menyelesaikan tugas sesuai waktu yang telah ditentukan.
  1. Evaluasi dilakukan setelah siswa melaksanakan kegiatan diskusi dan presentasi.


Teknik Pengumpul Data dan Analisis Data
Dalam penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas X Ak 1 yang terdiri dari 30 siswa dengan komposisi perempuan 20 siswa dan laki-laki 10 siswa. Penelitian ini menggunakan empat macam instrumen, yaitu (1) istrumen pengukur kemampuan awal, (2) instrumen berupa pretes untuk mengukur keterampilan sebelum diberi perlakuan, (3) instrumen berupa postes untuk mengukur keterampilan setelah sampel diberi perlakukan, (4) pedoman penilaian keterampilan mengarang, (5) Instrumen untuk memandu pelaksanaan KBM dengan pendekatan berbasis aktivtas berupa rencana pelaksanaan pembelajaran. Untuk pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan tes observasi, questioner, wawancara, dan dikusi.
Data Penelitian yang terkumpul kemudiandianalisis menggunakan analisiskualitatif.Data yang disimpulkan pada kegiatan observasi dari pelaksanan siklus penelitian dianalisis secara deskriptif, dengan menggunakan teknik prosentase. Data yang dianalisis diantaranya adalah
  1. Hasil belajar siswa,diperoleh dengan menganalisis nilai rata-rata ulangan harian.
  2. Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar Bahasa Indonesia,diperoleh dengan menganalisis tingkat keaktifan siswa dalam proses pembelajaranberlangsung.
Kategori pengklasifikasian pada butir 1 dan 2 seperti terlihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 1.Klasifikasi Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa.
Persentase
Kategori
80 – 100
Tinggi
60 – 79
Sedang
0 - 59
Rendah

  1. Implementasi pembelajaran dengan pendekatan berbasis aktivitas,untuk menganalisis implementasi inidilakukan pengklasifikasian; berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil. Untukmengetahui perbedaan dan peningkatan hasil belajar dengan implementasi pendekatan berbasis aktivitas secara klasikal digunakan persentase dalam tabel aktivitas hasil belajar.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Setelah dilaksanakan pengambilan data di kelas X Ak1 SMK Negeri 4 Jember berdasarkan hasil pengerjaan siswa diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 1. Distribusi Hasil Evaluasi Belajar Siswa Siklus I.
No.
Nilai
Jumlah Siswa
Prosentase
1.
80-100
2
7 %
2.
65-79
13
43 %
3.
0-64
15
50 %

Jumlah
30
100 %

Tabel 2. Distribusi Hasil Evaluasi Belajar Siklus II
No.
Nilai
Jumlah Siswa
Prosesntase
1.
80-100
10
33%
2.
65-79
15
50 %
3.
0-64
5
17%

Jumlah
30
100 %

Tabel 3. Distribusi Hasil Evaluasi Belajar Siklus III
No.
Nilai
Jumlah Siswa
Prosentase
Kategori Nilai
1.
80-100
23
77%
Berhasil
2.
65-79
5
17 %
Kurang Berhasil
3.
0-64
2
6,6%
Tidak Berhasil

Jumlah
30
100 %


Dari ketiga siklus diatas, perkembangan hasil belajar siswa dapat diakumulasikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4. Akumulasi Hasil Belajar Siswa Siklus I - III
No.
Nilai Siswa
Jumlah Siswa
Siklus 1
Siklus 2
Siklus 3
1.
80-100
2 (6 %)
10 (33%)
23(77%)
2.
65-79
13 ( 30 %)
15(50%)
5(16,6%)
3.
0-64
15 (64 %)
5(16,6%)
2(7%)

Jumlah
30 (100%)
30 (100%)
30 (100%)







Siklus -1 skor 65- 100 sebanyak 33 %, siklus-2 menjadi 83%, pada siklus 3 menjadi 93%

Jika digambarkan dengan grafik, maka terlihat sebagai berikut.
Gambar 1. Grafik Akumulasi Hasil Belajar Siswa.
Pelaksanaan tindakan dilakukan oleh peneliti sendiri, oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran peneliti bertindak sebagai guru mata pelajaran, sedangkan guru Bahasa Indonesia yang sejawat bertindak sebagai pengamat. Penelitian yang dilaksanakan di SMK Negeri 4 Jember pada kelas X Ak1 dengan populasi sejumlah 30 siswa yang dibagi 7 kelompok kecil. Materi yang dilakukan adalah paragraf deduktif daninduktif.Dengan materi ini siswa diharapkan dapat membedakan antara kedua jenis paragraf karena materi tersebut merupakan dasar siswa mampu menulis dengan benar.
Adapun hasil penelitian pada tabel 1 menunjukkan bahwa (1) Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar pada siklus 1 masih tergolong sedangdengan perolehan skor 5 atau 62,5%, sedangkan skor idealnya 8. Hal ini terjadi karena siswa kurang memperhatikan manfaat bahan dan materi yang diberikan guru. Selain itu kurang memahami tentang teknik menentukan paragraf induktif dan deduktif yang benar.(2) Aktivitas guru dalam kegiatan belajar mengajar pada siklus 1 masih ter-golong sedangdengan perolehan skor 7 atau 53,8%, sedangkan skor idealnya adalah 13. Hal ini terjadi karena guru lebih banyak duduk di depan kelas dan kurang membe-rikan pengarahan kepada siswa bagaimana menentukan paragraf induktif maupun deduktif yang benar. (3) Penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran. Selain aktivitas siswa dan guru dalam proses belajar mengajar, penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran pun masih tergolong tidak berhasil. Dari skor ideal 100, skor perolehan rata-rata hanya mencapai 64 atau 64%.
Tabel 2. Menunjukkan bahwa (1) Aktivitas siswa dalam proses belajar me-ngajar pada siklus 2 tergolong sedang. Hal ini berarti mengalami perbaikan dari siklus pertama.Dari skor ideal 8.Nilai yang diperoleh adalah 6 atau 75%. (2) Akti-vitas guru dalam kegiatan belajar mengajar pada siklus 2 tergolong sedang. Hal ini berarti mengalami perbaikan dari siklus 1.Dari skor ideal 13.Nilai yang di-peroleh adalah 10.atau 76,9%. (3) Penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran pada siklus 2 juga tergolong kurang berhasil yakni dari nilai skor ideal 100 nilai rerata skor perolehan adalah 71,33 atau 71,33%.
Tabel 3. Menunjukkan bahwa (1) Aktivitas Siswa dalam proses belajar mengajar pada siklus 3 mendapat rerata nilai perolehan 7 dari skor ideal 8 atau 87,5%. Hal ini berarti menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. (2) Aktivitas guru dalam kegiatan belajar mengajar mendapat rerata 11 atau 80,46% dari skor ideal 13. Hal ini berarti menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. (3) Penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran memiliki rerata 82 atau 82% dari skor ideal 100. Hal ini menunjukkan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran tergolong berhasil.
Berdasarkan temuan dari hasil penelitian diatas, implementasi strategi pembelajaran berbasis aktivitas yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar siswa SMKN 4 Jember, ternyata lebih efektif dalam meningkatkan dan me-numbuhkan motivasi belajar siswa sehingga prestasi belajarnya juga meningkat.
Terdapat banyak alasan penggunaan strategi pembelajaran berbasis aktivitas dalam kegiatan belajar mengajar agar didapatkan hasil belajar yang optimal, maka sistem pembelajaran pendekatan berbasis aktivitas ini digunakan dalam pengajaran pada SMKN 4 Jember di antaranya adalah: 1). Meningkatkan motivasi belajar siswa; 2)2. Meningkatkan prestasi siswa; 3).Melakukan Inovasi dalam strategi pengajaran; 4)4. Pendekaan berbasis aktivias memilii dampak yang positif terhadap motivasi belajar

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan: Penerapan pendekatan Pembelajaran berbasis aktivitas dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa SMKN 4 Jember kelas X Jurusan Akuntasi 1 . Hasil belajar siswa lebih meningkat, pada siklus -1 skor 65- 100 sebanyak 33 %, siklus-2 menjadi 83%, pada siklus 3 menjadi 93%
Aktivitas siswa, siklus I diperoleh skor 5 atau 62,5% sehingga dikategorikan sedang,siklus II skor 6 atau 75% dikategorikan sedang,dan siklus III diperoleh skor 7 atau 87,5% kategorinya juga sedang. Aktivitas Guru, siklus I diperoleh skor 7 atau 58% sehingga dikategorikan sedang, siklus II skor 10 atau 76,9% dikategorikan sedang, dan siklur III diperoleh skor 11 atau 80,46% kategorinya tinggi. Peningkatan yang terjadi pada setiap siklus menunjukkan kenaikan yang signifikan dan komprehensif.
Dengan demikian, penerapan pendekatan berbasis aktivitas menunjukkan hasil yang optimal sehingga pendekatan berbasis akivitas mampu meningkakan motivasi dan prestasi belajar siswa dan ini terlihat bahwa suasana kelas menyenangkan dantidakmembosankan.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi.2002.Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta; Bumi Aksara.
Bafadal, I. 1994. Proses Perubahan di Sekolah. Disertasi.Prog.Pasca Sarjana IKIP Malang.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar, 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Husin dan Gunawan. 2005. Modul Bahasa Indonesia Menuju Kualifikasi Semenjana untuk SMK. Jakarta: Dwadasa.
Miles, M. B., & Hubermen, A. M. 1984.Analisis Data Qualitatif.Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi.Universitas Indonesia.Jakarta.
Moleong, L. J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nasution, S. 1988. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif.Bandung: Tarsito
Nurhadi, 2002. Pendekatan Kontekstual. Malang: Universitas Negeri Malang.
Suparno, dkk.2002. Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sudjana, N.1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandng: Remaja Rosdakarya.
Tim LP2IP. 2008. Bahasa Indonesia untuk SMK IB. Yogyakarta: LP2IP.