Senin, 23 April 2018

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI AJAR “CIRI KHUSUS MAKHLUK HIDUP” MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK SISWA KELAS VI SD NEGERI BADEAN 01


Bahariyanto

Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri Khusus Makhluk Hidup” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 01. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun desain siklus tindakan Hopkins adalah mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian: pada proses pembelajaran yang diamati pada pra tindakan, yaitu dari pra tindakan dari 38 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 17 siswa atau sebesar 45% sedangkan yang mendapat 65-100 hanya sebanyak 21 siswa atau sebesar 55%. pada siklus I meningkat, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 79%, pada siklus II secara klasikal sudah mencapai ketuntasan yaitu, dari 38 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 89%  meskipun ada 4 siswa (11%) belum mencapai ketuntasan belajar individu.Berdasarkan hasil analisis keaktifan siswa secara keseluruhan siswa ikut dalam Kegiatan Belajar Mengajar .

Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Proyek, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam merupakan wahana untuk membekali siswa dengan pengetahuan keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan dan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan disekelilingnya. Pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sejak dini akan menghasilkan generasi dewasa yang melek sains yang dapat menghadapi tantangan hidup dalam dunia yang makin kompetitif, sehingga mereka mampu turut serta memilih dan mengolah informasi untuk digunakan dalam mengambil keputusan.
Namun pada kenyataannya pembelajaran di sekolah seringkali mengalami kesulitan dan banyak dari siswa tidak menyukai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Siswa mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam yang sifat materinya masih elementer dan hal itu merupakan konsep essensial sebagai dasar bagi prasyarat konsep yang lebih tinggi. Banyak aplikasi dalam kehidupan masyarakat dan pada umumnya dalam mempelajari konsep-konsep tersebut bisa dipahami melalui pendekatan induktif. Hal ini sesuai dengan kemampuan kognitif siswa yang telah dicapainya (Astawa, 2015; Forsythe F. 2002. )..
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa perlu mendengarkan dengan cermat, aktif, dan menuliskan kembali pernyataan atau komentar penting yang diungkapkan oleh teman ataupun guru. Kemampuan Ilmu Pengetahuan Alam siswa rendah karena sebagian besar siswa kurang antusias menerimanya. Siswa lebih bersifat pasif, enggan, takut atau malu mengemukakan pendapatnya.
Agar siswa memiliki kreativitas berfikir, pemecahan masalah, dan interaksi serta membantu dalam penyelidikan yang mengarah pada penyelesaian masalahmasalah nyata adalah project-based learning (PBL) atau pembelajaran berbasis proyek (Forsythe F. 2002; ) . Project-based learning dapat menstimulasi motivasi, proses, dan meningkatkan prestasi belajar dengan menggunakan masalah-masalah yang berkaitan dengan Pembelajaran Berbasis Proyek  adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam pengumpulan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata (Baran, M. & Maskan, A., 2010).
Pembelajaran berbasis proyek (project-based) membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkostruksikannya dalam produk nyata (Larmer J & Mergendoller JR, . 2012 ).
Dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa diberikan proyek yang kompleks, cukup sulit, lengkap, tetapi realistik dan kemudian di berikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. Di samping itu, penerapan strategi pembel ajaran berbasis proyek mendorong tumbuhnya kompetensi nurturant seperti kreativitas, ke mandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan berpikir kritis dan analitis (Nasution, Noehi, dkk.2007).
Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa (Gear, 1998). Sedangkan menurut Buck Institute For Education (1999) dalam Made (2000, 145) belajar berbasis proyek memiliki karakteristik yaitu:1) Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerja; 2)Terdapat masalah yang pemecahannya  tidak ditentukan sebelumnya; 3)Siswa merancang proses untuk mencapai hasil; 4)Siswa bertanggunga jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan; 5)Siswa melakukan evaluasi secara kontinu; 6)Siswa secara teratur melihat kembali apa yang meraka kerjakan; 7)Hasil akhir berupa produk dan di evaluasi kualitasnya; 8)Kelas memiliki atmosfir yang memberikan toleransi kesalahan dan perubahan.
Ada lima criteria, pembelajaran berbasis proyek, lima criteria itu yaitu :
  • Keterpusatan (centrality)
Proyek dalam pembelajaran berbasis proyek adalah pusat atau inti kurikulum, bukan pelengkap kurikulum, didalam pembelajaran proyek adalah strategi pembelajaran, pelajaran mengalami dan belajar konsep – konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek. Model ini merupakan pusat strategi pembelajaran, dimana siswa belajar konsep utama dari suatu pengetahuan melalui kerja proyek. Oleh karna itu, kerja proyek bukan merupakan praktik tambahan dan aplikasi praktis dari konsep yang sedang dipelajari, melainkan menjadi sentral kegiatan pembelajaran dikelas.
  • Berfokus pada pertanyaan atau masalah
Proyek dalam PBL adalah berfokus pada pertanyaan atau masalah , yang mendorong pelajar menjalani (dalam kerja keras) konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin.
  • Investigasi konstruktif atau desain
Proyek melibatkan pelajaran dalam investigasi konstruktif dapat berupadesain, pengambilan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, deskoveri akan tetapi aktifitas inti dari proyek ini harus meliputi transformasi dan kontruksi pengetahuan
  • Bersifat otonomi pembelajaran
Lebih mengutamakan otonomi, pilihan waktu kerja dan tanggung jawab pelajaran terhadap proyek Bersifat realisme
Pembelajaran berebasis proyek melibatkan tantangan kehidupan nyata, berfokus pada pertanyaanatau masalah autentik bukan simulative dan pemecahannya berpotensi untuk diterapkan dilapangan yang sesungguhnya.
Keuntungan dari Belajar Berbasis Proyek adalah sebagai berikut:
    1. Meningkatkan motivasi.
Laporan-laporan tertulis tentang proyek itu banyak yang mengatakan bahwa siswa suka tekun sampai kelewat batas waktu, berusaha keras dalam mencapai proyek. Guru juga melaporkan pengembangan dalam kehadiran dan berkurangnya keterlambatan. Siswa melaporkan bahwa belajar dalam proyek lebih fun daripada komponen kurikulum yang lain.
    1. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
Penelitian pada pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada bagaimana menemukan dan memecahkan masalah. Banyak sumber yang mendiskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
    1. Meningkatkan kolaborasi.
Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi (Johnson & Johnson, 1989). Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa, pertukaran informasi online adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek. Teori-teori kognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskan bahwa belajar adalah fenomena sosial, dan bahwa siswa akan belajar lebih di dalam lingkungan kolaboratif.
    1. Meningkatkan keterampilan mengelola sumber.
Bagian dari menjadi siswa yang independen adalah bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang kompleks. Pembelajaran Berbasis Proyek yang diimplementasikan secara baik memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
    1. Increased resource – management skill
Pembelajaran berbasis proyek yang diimplementasikan secara baik memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam pengorganisasian proyek dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas dengan baik (Rositawati, S dan Aris Muharam, 2008).
Dalam penelitian ini siswa diminta untuk melaksanakan proyek penelitian sederhana untuk mengkaji ciri-ciri makhluk hidup yang ada dilingkungan masing-masing sebanyak lima jenis hewan. Selanjutnya membuat laporan dan menyajikan/ presentasi dihadapan teman-teman satu kelas.


Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, Apakah dapat Meningkatkan Keterampilan Proses Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri Khusus Makhluk Hidup” Melalui Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 01 ?

Tujuan Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan Keterampilan Proses Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri Khusus Makhluk Hidup” melalui Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari dan untuk menganalisis peningkatan hasil belajar siswa setelah Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek .

Manfaat Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut ,
  1. Bagi Siswa, dapat meningkatkan aktifitas dan kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan oleh guru,
  2. Bagi Guru, Meningkatkan kreativitas variasi pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktifan siswa dan meningkatkan kreativitas dalam mendesain model pembelajaran inovatif,
  3. Bagi Sekolah, Dapat digunakan sebagai pedoman untuk perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran dan kelas lain dan meningkatkan profesionalitas SDM guru dalam pengembangan pembelajaran.
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah: Ketuntasan individual, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100. Ketuntasan klasikal, suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.


METODE PENELITIAN

Tempat dan subyek Penelitian
Suatu kegiatan penelitian, seharusnya tidak dilakukan disembarang tempat, melainkan ditempat yang telah ditentukan sesuai dengan obyek permasalahan yang akan diteliti. Mengingat adanya permasalahan pembelajaran di tempat penelitia yakni di Kelas VI SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember .
Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas VI SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016 sejumlah 38 siswa.

Pendekatan dan jenis Penelitian.
Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Mengingat penelitian ini berusaha untuk mengkaji pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, maka yang ditekankan dalam penelitian ini adalah proses dan hasil pembelajarannya. Oleh karenanya, variabel-variabel yang akan dikaji dalam penelitian ini meliputi: a) Faktor siswa, yaitu dengan mengamati aktivitas siswa dalam prosesmengikuti pembelajaran. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran merupakan indikasi keberhasilan dari penelitian ini; b) Faktor guru, kemampuan dan ketrampilan guru dalam dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran; c) Proses pembelajaran, yaitu proses yang terjadi dalam proses pembelajaran tersebut meliputi aktivitas guru, siswa dan interaksi aktif berbagai unsur kegiatan pembelajaran; d) Hasil belajar siswa.

Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian bersifat kolaboratif yang didasarkan pada permasalahan yang muncul dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar ”Ciri Khusus Makhluk Hidup” di Kelas VI SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Adapun desain siklus tindakan Hopkins adalah sebagai berikut :



Model skema yang menggunakan prosedur kerja dipandang sebagai suatu siklus spiral dari perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection).
1) Perencanaan
Kegiatan ini meliputi :
    1. Peneliti membuat perencanaan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan serta meningkatkan intelektual siswa.
    2. Membuat dan melengkapi alat media pembelajaran.
    3. Membuat lembar observasi.
    4. Mendesain alat evaluasi.
2) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahapan ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebaimana yang telah direncanakan. Kegiatan pelaksanaan tindakan merupakan bagian pokok dalam Penelitian Tindakan Kelas. Oleh karenanya harus dilakukan dengan keseriuasan dan kesungguhan. Dalam pelaksanaan tindakan terjadi interaksi dan komunikasi antara guru atau peneliti, siswa dan antar siswa di dalam suasana pembelajaran.
3) Observasi
Peneliti melakukan observasi pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Pengamatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran aktifitas siswa dalam pembelajaran di kelas sehingga diketahui kekurangan atau kendala apa yang muncul pada saat pelaksanaan tindakan.
4) Refleksi
Dalam tahapan ini hasil observasi dikumpulkan dan dianalisis. Berdasarkan hasil observasi tersebut peneliti dapat merefleksi diri tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan demikian peneliti akan mengetahui efektivitas kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil refleksi ini akan dapat diketahui kelamahan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti terhadap siswa sehingga dapat dipergunakan pada siklus berikutnya.
Penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini dilakukan tiga siklus (tentative). Dan setiap siklus memuat empat tahapan Setiap Siklus akan dilaksanakan sesuai dengan perubahan dicapai seperti yang telah didesain dalam faktor-faktor yang diselidiki. Untuk mengetahui proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Kelas VI SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016, maka perlu dilakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru/peneliti. Adapun kegiatan observasi tersebut meliputi :
  1. Metode pembelajaran
  2. Kegiatan pembelajaran siswa
  3. Media pembelajaran
  4. Kegiatan guru selama pembelajaran
  5. Hasil belajar siswa.
Berdasarkan observasi yang dilakukan, maka langkah yang tepat untuk meningkatkan pengajaran, adalah dengan meningkatkan aktivitas dan peran serta siswa dalam kegiatanpembelajaran tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, maka tendakan yang paling tepat, terarah dan terencana adalah dengan menerapkan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Metode Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian disamping menggunakan metode yang tepat juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Metode Observasi.
Observasi adalah salah satu cara pengamatan yang dilakukan terhadap suatu obyek dengan prosedur dan aturan-aturan tertentu. Observasi merupakan kegiatan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung terhadap suatu obyek yang diteliti. Metode observasi adalah cara pengamatan dengan pusat perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh panca indera (Arikunto, 1998: 146).
Dalam penelitian ini maksud dari observasi adalah untuk mengamati beberapa kegiatan diantaranya:
  1. Kegiatan siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar.
  2. Kegiatan guru selama berlangsungnya proses kegiatan mengajar.
Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi secara langsung, dimana peneliti melihat langsung obyek yang diteliti.
  1. Metode Wawancara.
Menurut Arikunto, wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (1998: 144). Dalam penelitian ini pelaksanaan, wawancara dilakukan dengan cara interview bebas, yaitu yang dibutuhkan atau yang akan dikumpulkan.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini melalui metode wawancara adalah data yang diperoleh secara langsung yaitu melalui siswa yang terdapat pada kelas sampel untuk mengetahui kesulitan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Selain itu pelaksanaan wawancara juga dilakukan dengan guru mata pelajaran.
Metode Tes
Tes merupakan suatu cara yang digunakan dalam rangka pengukuran penelitian, berbentuk pemberian tugas yang berupa pertanyaan yang dikerjakan oleh peserta didik sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi peserta didik (Arifin, 1991, 69).
Data hasil belajar siswa yang telah tercapai dapat diketahui dengan menggunakan metode tes. Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk negukur kemampuan siswa setelah mempelajari materi yang diajarkan dengan Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek. Metode tes yang digunakanadalah tes uraian atau tertulis dalam bentuk soal essay yang diberikan pada saat past tes.
  1. Metode dokumentasi
Sumber informasi dokumenter pada dasarnya adalah segala macam bentuk informasi yang berhubungan dokumen, baik dokumen resmi maupun tidak resmi, dalam bentuk laporan, statistik, surat-surat resmi, buku harian dan semacamnya; bahkan yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan (Ali, 1993, 64).
Dalam penelitian ini data yang ingin diperoleh dari metode ini berupa data tentang nama responden dan daftar nilai ulangan harian siswa.

Analisis Data
Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilakan susatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabakan kebenarannya. Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah: 1) kegiatan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi yakni meliputi aspek afektif dan psikomotor, 2) hasil tugas dan ulangan harian siswa (aspek kognitif) dianalisis data denagn Analisis deskriptif kualitatif.
Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabakan kebenarannya.
Data yang kan dianalisis dalam penelitian ini adalah: 1) kegiatan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi yakni aspek afektif dan psikomotor, 2) hasil tugas dan ulangan harian siswa (aspek kognitif).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Kegiatan pertama-tama dilakukan dalam penelitian ini adalah melaksanakan kegiatan sesuai dengan desain yang telah dibuat sebelumnya. Pada tahap ini persiapan telah dilakukan, baik yang berkaitan dengan persiapan mengajar (Rencana Pembelajaran), alat evaluasi dan perencanaan setting pembelajaran) lembar observasi, panduan wawancara, dan persiapan laitihannya.
Pada tahap pelaksanaan, guru mengajar materi Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sesuai rencana yang telah direncanakan, guru lebih menekankan pada aktivitas belajar siswa.
Langkah-langkah, dalam dalam pembelajaran pertama-tama guru menjelaskan ruang lingkup materi kemudian guru menjelaskan garis besar materi pelajara Ilmu Pengetahuan Alam, selanjutnya siswa diberi tugas kelompok dengan topik yang telah ditetapkan sebelumnya, kemudian dipresentasikan siswa yang mau maju kedepan. Langkah selanjutnya guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk bertanya. Setelah proses diskusi selesai, setiap siswa diminta membuat kesimpulan hasil diskusi selanjutnya diberi tugas soal.
Kegiatan obswervasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi utamanya dilakukan oleh guru (sebagai peneliti) dan dibantu oleh guru lain, observasi difokuskan pada proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran utamanya berkaitan dengan ketrampilan guru dalam mengajar tugas merangkum. Observasi juga dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan dilakukan oleh peneliti dan pembantu peneliti.
Disamping ini peneliti juga memberikan tes tertulis. Untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan pencapaian kompetisi mata pelajaran.
Pada saat refleksi peneliti mengadakan analisis, interprestasi dan evaluasi, terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, seperti kegiatan observasi, hasil wawancara, angket, dan hasil test. Semua kegiatan ini dilakukan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan pencapaian tindakan.
Beberapa kegiatan yang dianalisis, diinterprestasi dan dievaluasi meliputi: a). Efektivitas pembelajaran malalui Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek. b).Prestasi siswa. c). Aktivitas belajar siswa.
Pada suatu permulaan, suasana kelas cukup kondusif dan, tertib. Aktivitas guru (peneliti) dan pembentu peneliti dalam melakukan pembelajaran, utamanya dalam melakukan observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran masih nampak agak kesulitan.
Hasil wawancara peneliti dengan beberapa siswa tentang implementasi pembelajaran mereka merasa termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran, yang berbeda dengan proses sebelumnya, mereka merasa lebih jelas dalam memahami persoalan. Berdasarkan hasil analisis keaktifan siswa secara keseluruhan siswa semua ikut Kegiatan Belajar Mengajar namun pada saat kegiatan diskusi, tampak masih ada beberapa siswa yang tidak aktif.
Hasil kegiatan pada siklus I, tingkat pengusaan materi sudah cukup berhasil bila dibandingkan pada pra tindakan. Hal ini ditandai dengan hasil analisis tingkat penguasaan materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa atau hasil daya serap siswa. Kegiatan Belajar Mengajar yang kurang barhasil adalah pada saat diskusi masih banyak yang kurang aktif maka masih diperlukan perbaikan pada siklus berikutnya (siklus II), dan untuk mengaktifkan siswa, yaitu dengan merubah teknik diskusi. Diubah dengan dibentuk diskusi kelompok kecil agar semua siswa terlibat aktif.
Setelah menganalisis kegiatan pada siklus I, maka perlu diadakan beberapa perbaikan agar hasil yang diharapkan lebih baik. Pada tahap ini semua persiapan dilakukan berdasarkan beberapa kelemahan yang terjadi pada siklus I, untuk itu ada beberapa perencanaan ulang yang perlu dilakukan. Hal ini baik yang berkaitan dengan aktifitas peneliti, perasaan siswa, mengatasi kelemahan yang terjadi pada siklus I, selain itu peneliti yang akan melibatkan siswa diajak berdiskusi tentang beberapa kelemahan yang terjadi, sehingga dapat menyebabkan kesulitan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Tentang keaktifan siswa yang kurang optimal dapat dipecahkan dengan merubah teknik diskusi.
Pada tahap pelaksanaan, guru mengajar materi Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sesuai rencana yang telah direncanakan, guru lebih menekankan pada aktifitas siswa. Langkah-langkah dalam pembelajaran pertama-tama guru menjelaskan ruang lingkup materi kemudian guru menjelasakan garis besar materi Ilmu Pengetahuan Alam, selajutnya siswa diberi tugas diskusi kelompok kecil, kemudian dipresentasikan siswa yang mau majukedepan. Dalam diskusi paripurna. Langkah selanjutnya guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk bertanya setelah proses diskusoi selesai, siswa diberi tugas soal.
Pada kegiatan ini ada beberapa yang diamati yaitu: a) aktifitas guru; b) aktifitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran, mengamati proses siswa selama mengerjakan tugas individu maupun tugas kelompok maupun pada saat mereka mengerjakan test diakhir proses pembelajaran. Peneliti juga membuat catatan beberapa peristiwa yang tidak terekam dalam kegiatan observasi yang telah dipersiapkan, selain itu peneliti juga menyebar angket dan mengadakan wawancara kepada beberapa siswa.
Kegiatan observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi utamanya dilakukan oleh guru (sebagai peneliti) dan dibantu oleh guru lain, observasi difokuskan pada proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran utamanya berkaitan dengan keterampilan guru dalam mengajarkan dan aktivitas siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar.
Observasi juga dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan dilakukan oleh peneliti dan pembantu peneliti. Disamping ini peneliti juga memberikan tes tertulis. Untuk mengetahui tingkat pemahaman meteri dan pencapian kompetensi mata pelajaran.
Pada saat refleksi peneliti mengadakan analisis, interperstasi dan evaluasi, terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, sperti kegiatan observasi, hasil wawancara, angket, dan hasil test. Semua kegiatan ini dilakukan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan pencapaian tindakan.
Adapun hasil analisa data yang dilaksanakan melalui tes pada Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut,

Tabel. Perbandingan Hasil Pada Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II
Kategori Nilai
Pra Tindakan
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
17
45
8
21
4
11
65-100
21
55
30
79
34
89
Jumlah
38
100
38
100
38
100
Sumber : Data Yang Diolah
Untuk melihat dengan lebih jelas peningkatan hasil belajar pada tabel diatas, dapat disajikan pada grafik dibawah ini,
Grafik. Perbandingan Hasil Belajar Pada Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II





Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Tabel Dan Grafik di atas menggambarkan bahwa pada proses pembelajaran yang diamati pada pra tindakan, yaitu dari pra tindakan dari 38 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 17 siswa atau sebesar 45% sedangkan yang mendapat 65-100 hanya sebanyak 21 siswa atau sebesar 55%.
Kondisi tersebut berubah pada proses pembelajaran yang dilaksanakan melalui Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek yaitu pada siklus I meningkat menjadi, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 79% , pada siklus II secara klasikal sudah mencapai ketuntasan yaitu, dari 38 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 89%  meskipun ada 4 siswa (11%) belum mencapai ketuntasan belajar individu.
Berdasarkan hasil analisis keaktifan siswa secara keseluruhan siswa ikut dalam Kegiatan Belajar Mengajar dan pada saat kegiatan diskusi siswa sangat aktif. Hasil kegiatan pada siklus II tingkat penguasaan materi sudah berhasil. Hal ini ditandai dengan hasil analisis tingkat penguasaan materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa atau hasil daya serap siswa. Ketuntasan telah mencapai standar, maka dianggap telah cukup dan tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Dari hasil analisis terbukti dengan penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan keterampilan proses dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri Khusus Makhluk Hidup” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil. Hal ini sesuai dengan pendapat Forsythe F (2002) dan Baran, M. & Maskan, A.,( 2010) siswa akan aktif, memiliki kreativitas berfikir, pemecahan masalah, dan interaksi serta membantu dalam penyelidikan yang mengarah pada penyelesaian masalah. Project-based learning dapat menstimulasi motivasi, proses, dan meningkatkan prestasi belajar dengan menggunakan masalah-masalah yang berkaitan dengan Pembelajaran Berbasis Proyek. Sebagai langkah awal dalam pengumpulan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.
Dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa diberikan tu­gas atau proyek yang kompleks, lengkap, tetapi realistik dan kemudian di berikan bantuan secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas. Di samping itu, penerapan strategi pembel ajaran berbasis proyek/ tugas ini mendorong tumbuhnya kompetensi nurturant seperti kreativitas, ke mandirian, tanggung jawab, keper cayaan diri, dan berpikir kritis dan analitis.
Pembelajaran berbasis proyek yang diimplementasikan secara baik menberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam pengorganisasian proyek dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperi perlengkapan untuk menyelesaikan tugas

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Ciri Khusus Makhluk Hidup” dapat meningkatkan hasil belajar Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016. Hal tersebut terbukti dari  hasil belajar pada pra tindakan dari 38 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 17 siswa atau sebesar 45% sedangkan yang mendapat 65-100 hanya sebanyak 21 siswa atau sebesar 55%, pada siklus I meningkat menjadi, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 79%, pada siklus II secara klasikal sudah mencapai ketuntasan yaitu, dari 38 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 89%  meskipun ada 4 siswa (11%) belum mencapai ketuntasan belajar individu.

Saran-saran
Mengingat pada penelitian ini masih terdapat kekurangan-kekurangan diantaranya belum bisa menuntaskan hasil belajar siswa seluruhnya, maka saran bagi peneliti selanjutnya supaya mengkombinasikan Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dengan model pembelajaran atau mengkombinasikan dengan menggunakan media lain yang relevan yang sekiranya mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara maksimal.


DAFTAR RUJUKAN
Astawa, I. M., dkk. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek terhadap Sikap Ilmiah dan Konsep Diri Siswa SMP. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha. Vol. 5, hal. 1-11
Baran, M. & Maskan, A. 2010. The Effect of Project-Based Learning On PreService Physics Teachers’ Electrostatic Achievements. Cypriot Journal of Educational Sciences, Vol 5, hal. 243-257
Forsythe F. 2002. “Problem-based Learning” 2nd (Revised) Edition. Journal The Handbook for Economics Lecturers University of Ulster.

Larmer J & Mergendoller JR. 2012. Essentials for Project Based Learning. Journal Buck Institute for Education 18 Commercial Blvd. Novato, CA, USA 94949 ph: 415-883-0122. http://www.bie.org/images/uploads/useful_stuff/8_
Nasution, Noehi, dkk.2007. Pendidikan IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka
Moedjiono dan Moh. Dimyati. 1993. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: DEPDIKBUD
Rositawati, S dan Aris Muharam.2008.Senang Belajar IPA 6. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Sumantri, Mulyani dan Johar Permana.1998/ 1999. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: DEPDIKBUD
Suryabrata, S. (2001). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Yuliariatiningsih, Margaretha, & Dede Margono. 2009. Pendidikan IPA di Sekolah Dasar. Bandung: UPI Kampus Cibiru.