Senin, 23 April 2018

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MATERI AJAR “PERPINDAHAN KALOR” MELALUI METODE DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS V SDN 30 SAMBOJA KUTAI KARTANEGARA


Nur Anasiroh

Abstrak: Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah ingin meningkatkan hasil belajar ilmu pengetahuan alam materi ajar “perpindahan kalor” melalui metode demonstrasi pada siswa kelas V SDN 30 Samboja Kutai Kartanegara. Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang Dikembangkan Oleh Kurt Lewin. Sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral terdiri dari empat komponen, yaitu: a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c)pengamatan (observing), dan d) refleksi (reflecting). Hasil penelitian: Dapat meningkatkan hasil belajar ilmu pengetahuan alam materi ajar “perpindahan kalor” melalui metode demonstrasi pada siswa kelas V SDN 30 Samboja Kutai Kartanegara. Pada siklus I dengan penerapan metode demonstrasi, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%. Pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang menggembirakan yaitu : yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 92%.


Kata Kunci: Hasil Belajar, metode Demonstrasi

PENDAHULUAN

Pada era pembangunan utamanya membangun manusia seutuhnya pendidikan sangat berperan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk itu kegiatan pendidikan dan pengajaran dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itu dalam pelaksanaan belajar mengajar guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efisien dan efektif. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar.
Metode mengajar ialah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan oleh seorang guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual atau secara klasikal agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Pendapat lain menyatakan bahwa metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat diuraikan bahwa metode mengajar adalah cara belajar yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa pada saat berlangsungnya proses pembelajaran (Depdikbud, 2016).
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, hal ini disebabkan karena IPA merupakan dasar dari semua ilmu rekayasa dan teknologi (Giancoli, 1998: 2). IPA merupakan pengetahuan tentang dunia alamiah yang terbagi menjadi beberapa bidang yaitu, biologi, fisika, dan kimia (Tipler,1998:1). Sebagai ilmu pengetahuan modern yang dibangun oleh Galileo pada abad pertengahan, IPA merupakan paduan antara analisis deduktif dan proses induktif dengan mengandalkan dukungan pengamatan empiris berdasarkan pada panca indra sebagai dasar validitas prinsip yang dikembangkan.
Menurut pendapat Dahar (1986:34) dalam Radiastuti, mengemukakan IPA merupakan proses dan produk. Produk IPA yang meliputi sekumpulan pengetahuan yang terdiri dari teori ilmiah, konsep, dan prinsip, sedangkan proses IPA berasal dari data hasil observasi tentang gejala-gejala alam. Oleh karena itu dalam mempelajari IPA tidak hanya sekedar hafalan, akan tetapi lebih ditekankan pada pengertian sekaligus penanaman konsep yang dititik beratkan pada proses terbentuknya pengetahuan.
Berdasarkan uraian di atas, hakikat IPA adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang mempunyai proses dan produk, prosesnya adalah data hasil observasi tentang gejala-gejala alam, sedangkan produknya adalah teori ilmiah, konsep, dan prinsip. Untuk itu perlu adanya suatu metode atau penerapan model pembelajaran tertentu dalam kegiatan belajar mengajarnya, agar diperoleh hasil yang maksimal, karena tidak semua model atau metode pembelajaran cocok digunakan dalam pembelajaran IPA .
Fungsi dan tujuan pembelajaran IPA yaitu: 1)Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan YME, berdasarkan keindahan dan keteraturan alam yang merupakan ciptaannya; 2) Memupuk sikap ilmiah; 3)Mengembangkan kemampuan berfikir analitis deduktif dengan menggunakan prinsip IPA untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan penyelesaiannya baik secara kualitatif maupun kuantitatif; 4)Menyesuaikan berbagai konsep dan prinsip untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri sehingga dapat dijadikan bekal dimasa yang akan datang; 5)Pembentukan sikap positif terhadap IPA, yaitu merasa tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut karena merasakan keindahan dan keteraturan alam serta kemampuan IPA menjelaskan peristiwa alam dan penerapan IPA dalam teknologi (Depdiknas, 2002: 9).
Berdasarkan fungsi dan tujuan pembelajaran IPA di atas maka menunjukkan betapa pentingnya IPA diajarkan kepada siswa sebagai bekal hidupnya dimasa yang akan datang sedangkan dilihat dari ciri pembelajaran IPA sendiri dapat di simpulkan bahwa diperlukan suatu metode atau model pembelajaran tertentu agar diperoleh hasil belajar siswa secara maksimal. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sangat penting diajarkan kepada siswa sebagai bekal hidupnya dimasa yang akan datang. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memafaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah tidak pasti dan kompetitif. Dengan standar kompetensi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menggunakan IPA dalam pemecahan masalah
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dengan menerapkan metode demonstrasi. Hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan di kelas ini masih relative rendah, yaitu dari 24 siswa hanya 14 siswa yang yang mencapai ketuntasan belajar, atau hanya 58%.
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan secara langsung proses terjadinya sesuatu yang disertai dengan penjelasan lisan. Kegiatan belajar mengajar akan lebih bersemangat apabila seorang guru dapat menggunakan metode yang menarik dan bervariasi dalam mengajar. Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan, dimana seorang instruktur atau tim guru menunjukkan, memperlihatkan suatu proses (Roestiyah, 2001: 83). Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu untuk memperunjukkan proses tertentu (Udin S. Wianata Putra, 2004). Metode demonstrasi digunakan untuk memperlihatkan suatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran (Djamarah , 2000: 54 ). Keunggulan dari metode demonstrasi adalah kemungkinan siswa mendapat kesalahan lebih kecil, sebab siswa mendapatkan langsung dari hasil pengamatan kemudian siswa memperoleh pengalaman langsung, siswa dapat memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang dianggap penting, bila melihat hal-hal yang membuat keraguan, siswa dapat bertanya langsung pada guru (Elizar, 1996: 45). Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti berpandangan bahwa penerapan metode domentrasi merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada materi perpindahan kalor.

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan penelitian tindakan kelas dirumuskan sebagai berikut: Apakah dapat meningkatkan hasil belajar ilmu pengetahuan alam materi ajar “perpindahan kalor” melalui metode demonstrasi pada siswa kelas V SDN 30 Samboja Kutai Kartanegara ?

Tujuan Penelitian
Dengan mendasarkan pada permasalahan yang ada, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah ingin meningkatkan hasil belajar ilmu pengetahuan alam materi ajar “perpindahan kalor” melalui metode demonstrasi pada siswa kelas V SDN 30 Samboja Kutai Kartanegara.

Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat atau nilai guna yang diharapkan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
  1. Untuk siswa, dapat memberikan motivasi untuk lebih tertarik mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam, sehingga dalam proses belajar mengajar siswa bersemangat dalam menerima materi yang diajarkan,
  2. Untuk guru, dapat dijadikan referensi dalam memilih model pembelajaran yang akan diterapkan dalam rangka meningkatkan kualitas dan hasil belajar siswa,
  3. Untuk Kepala sekolah adalah sebagai masukan dalam rangka pemantapan penerapan metode mengajar, sehingga bisa bermanfaat bagi guru dan siswa


METODE PENELITIAN

Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
Tempat penelitian adalah di kelas siswa kelas V SDN 30 Samboja Kutai Kartanegara. Dilaksanakan pada semester genap tahun 2017/2018 yang berjumlah sebanyak 24 siswa.

Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Model Penelitian Tindakan Kelas yang Dikembangkan Oleh Kurt Lewin. Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai model penelitian tindakan yang lain, khususnya PTK. Dikatakan demikian, karena dialah yang pertama kali memperkenalkan Action Research atau penelitian tindakan. Pelaksanaan penelitian tindakan adalah proses yang terjadi dalam suatu lingkaran yang terus-menerus. Penelitian tindakan sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral.
Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu; a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c)pengamatan (observing), dan d) refleksi (reflecting) (Wiraatmadja, 20015). Gambarannya sebagai berikut:






Gambar 1: Desain Model Kurt Lewin


1) Menyusun perencanaan (planning)
Pada tahap ini kegiatan yang harus dilakukan adalah membuat RPP, mempersiapkan fasilitas dari sarana pendukung yang diperlukan dikelas (perpindahan kalor) mempersiapkan instrumen dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan.
2)  Melaksanakan tindakan (acting).
Pada tahap ini peneliti melakukan tindakan tindakan yang telah dirumuskan dalam RPP, dalam situasi yang actual, yang meliputi kegiatan awal, inti dan penutup.
Adapun langkah tersebut adalah sebagai berikut :
  • Merumuskan dengan jelas kecakapan dan atau keterampilan apa yang diharapkan dicapai oleh siswa sesudah demonstrasi itu dilakukan.
  • Mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, apakah metode itu wajar dipergunakan, dan apakah ia merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang dirumuskan.
  • Mencoba terlebih dahulu alat-alat yang diperlukan untuk demonstrasi supaya waktu diadakan demonstrasi tidak gagal.
  • Jumlah siswa memungkinkan untuk diadakan demonstrasi dengan jelas.
  • Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah yang akan dilaksanakan, sebaiknya sebelum demonstrasi dilakukan, sudah dicoba terlebih dahulu supaya tidak gagal pada waktunya.
  • Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan, apakah tersedia waktu untuk memberi kesempatan kepada siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan komentar selama dan sesudah demonstrasi.
  • Menetapkan rencana untuk menilai kemajuan siswa. Sering perlu diadakan diskusi sesudah demonstrasi berlangsung atau siswa mencoba melakukan demonstrasi. Setelah perencanaan-perencanaan telah tersusun sebaiknya diadakan uji coba terlebih dahulu agar penerapannya dapat dilaksanakan dengan efektif dan tercapai tujuan belajar mengajar yang telah ditentukan dengan mengadakan uji coba dapat diketahui kekurangan dan kesalahan praktek secara lebih dini dan dapat peluang untuk memperbaiki dan menyempurnakannya.
3)  Melaksanakan pengamatan (observing)
Pada tahap ini yang harus dilaksanakan adalah mengamati perilaku siswa siswi yang sedang mengikuti kegiatan pembelajaran. Memantau kegiatan diskusi atau kerja sama antar  kelompok mengamati pemahaman tiap tiap siswa dalam penguasaan materi pembelajaran, yang telah dirancang sesuai dengan PTK.
4)  Melakukan refleksi (reflecting)
Pada tahap ini yang harus dilakukan adalah mencatat hasil observasi, mengevaluasi hasil observasi, menganalisis hasil pembelajaran, mencatat kelemahan-kelemahan untuk dijadikan bahan penyusunan rancangan siklus berikutnya sampai  tujuan PTK tercapai.
Tahap-tahap di atas, yang membentuk satu siklus, dapat dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan rencana, tindakan, pengamatan, dan refleksi ulang berdasarkan hasil yang dicapai pada siklus sebelumnya. Dengan demikian, gambar 1 di atas dapat dikembangkan menjadi gambar 2 (McNiff, 1992: 23).
Apabila masih ditemukan adanya masalah yang belum terpecahkan maka peneliti dapat melangkah ke siklus kedua, dengan membuat rencana tindakan ulang berdasarkan hasil refleksi  pada siklus  sebelumnya.  Dengan  demikian,  pada  siklus kedua ini terjadi revisi atau modifikasi rencana tindakan pertama, sesuai dengan keadaan di lapangan.  Langkah-langkah selanjutnya relatif sama dengan langkah-langkah yang telah dIlmu Pengetahuan Alamparkan  pada siklus pertama. Demikian seterusnya hingga masalah yang dihadapi dapat terpecahkan. Untuk itu barangkali diperlukan lebih dari tiga siklus; dan hal itu tidak menjadi masalah, karena jumlah siklus tidak ditentukan oleh hal lain kecuali terpecahkannya masalah.

Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi, dan tes.
a. Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah cara mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, skrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda, dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2003: 188). Teknik dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang nama siswa, hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam, serta gambaran pelaksanaan tindakan pada setiap siklus.
b.  Observasi
Observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi sistematis, yaitu menggunakan instrumen pengamatan. Instrumen pengamatan berupa daftar pengamatan yang berisi item-item kejadian atau tindakan yang dilakukan dalam penelitian. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh data tentang pelaksanaan pembelajaran.
c. Tes
Teknik tes dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam, setelah dilaksanakan tindakan. Instrumen tes disusun dan diujicobakan pada siswa di luar objek penelitian, dan dianalisis untuk mengetahui validitas, derajat kesukaran, daya beda, dan reliabilitas, sehingga instrumen soal yang digunakan untuk evaluasi di akhir siklus adalah hanya butir soal yang baik.
Soal tes diuji cobakan di luar sampel penelitian dengan maksud untuk tetap menjaga agar hasil ujicoba benar-benar valid, sehingga ketika digunakan pada saat tes setelah pelaksanaan tindakan dihasilkan data yang benar-benar sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran, karena apabila ujicoba dilaksanakan pada subjek penelitian, dikhawatirkan mempengaruhi hasil penelitian.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi, dan tes. Data yang dikumpulkan berupa:
a. Data Kuantitatif
Data Kuantitatif yaitu data tentang hasil tes formatif siswa sebelum dan sesudah diadakan perbaikan.
b. Data Kualitatif
Data Kualitatif yaitu data tentang keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
c. Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data diperoleh. (Suharsimi Arikunto, 1997:114).

Analisis Data
Data yang dianalisis meliputi data kuantitatif (angka-angka sebagai ukuran prestasi), dan data kualitatif (angka sebagai perbandingan). Analisis data dilakukan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran.
Tahapan menganalisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
a). Reduksi Data
Reduksi data dilakukan untuk pemilihan dan penyederhanaan data, yaitu seleksi dan pembuangan data yang tidak relevan. Data-data yang relevan dengan penelitian akan diorganisasikan sehingga terbentuk sekumpulan data yang dapat memberi informasi faktual.
b). Penyajian data
Penyajian data dilakukan dalam bentuk sekumpulan informasi, baik berupa tabel, bagan, maupun deskriptif naratif, sehingga data yang tersaji relatif jelas dan informatif.
c). Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan kegiatan tahap akhir dari proses analisis data. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan evaluatif berdasarkan kegiatan yang ditempuh dalam dua tahap sebelumnya.


Indikator Keberhasilan
Dari tahap kegiatan pada siklus I , siklus II, hasil yang diharapkan adalah :
  1. Siswa mencapai ketuntasan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam sebanyak ≥ 85 % dari seluruh jumlah siswa.
  2. Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65% dan secara klasikal > 85 %, maksimal 100%.



HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa SDN 30 Samboja Kutai Kartanegara, sebelum diterapkan metode demonstrasi, secara klasikal dinyatakan belum tuntas belajar, karena yang mendapat nilai < 65 sebanyak 10 siswa atau sebesar 41,6% sedangkan yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 14 siswa atau sebanyak 58%. Hal ini terjadi karena proses belajar mengajar pada kondisi awal ini kurang kondusif, siswa dalam kelas ramai, kurang memperhatikan penjelasan guru, beberapa siswa malah terlihat asyik mengobrol dengan teman sebangkunya.
Berdasarkan keadaan dia atas, peneliti yang juga sebagai guru di kelas V mengadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode demonstrasi pada siklus I. Dengan metode ini diharapkan siswa dapat terlibat secara langsung pada penjelasan materi tentang Perpindahan Kalor. Pembelajaran pada siklus I ini membuat siswa tampak antusias dan bersemangat. Materi yang diajarkan pun lebih mudah dipahami oleh siswa. Hal ini terbukti saat diadakan evaluasi melalui tes pada siklus I yang hasilnya adalah dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1 : Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada Siklus I.

Skor
Siswa
Persentase (%)
< 65
5
21%
65 – 100
19
79%
Jumlah
24
100 %
Sumber: Data yang diolah

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui danya peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar pada siklus I yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79 %. Berdasarkan indikator ketuntasan minimal (KKM) masih belum mencapai, meskipun pada siklus I sudah terjadi peningkatan hasil belajar, namun masih belum mencapai ketuntasan seperti yang diharapkan, oleh karena itu masih perlu diadakan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II.
Pada siklus II, peneliti memberi perhatian lebih terutama pada siswa, yang pada siklus I masih belum mencapai ketuntasan untuk fokus pada langkah-langkah demontrasi yang dilakukan, dan menanyakan jika ada yang belum jelas. Untuk siswa yang pada siklus I sudah mencapai ketuntasan, pembelajaran pada siklus II ini membuat mereka menjadi semakin mudah dalam memahami materi yang diajarkan. Setelah proses pembelajaran pada siklus II selesai, maka peneliti mengadakan analisa data melalui evaluasi berupa tes, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2: Ketuntasan Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa pada Siklus II.
Skor
Siswa
Persentase (%)
< 65
2
8%
65 – 100
22
92%
Jumlah
24
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui hasil belajar pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang menggembirakan yaitu: yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8,3% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 91,7% pada siklus II sudah mencapai ketuntasan hasil belajar seperti yang diharpakan, yaitu tuntas belajar secara klasikal maupun secara individual.
Untuk melihat perbandingan ketuntasan hasil belajar dari Kondisi Awal siklus I, dan Siklus II disajikan pada tabel 3 bawah ini.

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam Pada Kondisi Awal Siklus I, dan Siklus II .

Kategori Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
Persentase
Siswa
Persentase
Siswa
Persentase
< 65
10
42%
5
21%
2
8%
65 -100
14
58%
19
79%
22
92%
Jumlah
24
100%
24
100%
24
100%
Sumber : Data yang diolah

Peningkatan hasil belajar pada penelitian tindakan kelas ini lebih jelas dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut :

Grafik. Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam Pada Kondisi Awal Siklus I, dan Siklus II

.

Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Kegiatan belajar mengajar akan lebih bersemangat apabila seorang guru dapat menggunakan metode yang menarik dan bervariasi dalam mengajar. Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru.
Hal ini terbukti dari adanya peningkatan hasil belajar pada penelitian tindakan kelas ini, pada siklus I dengan penerapan metode demonstrasi, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%. Pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang menggembirakan yaitu : yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 92%. Sehingga penelitian dihentikan, karena pada siklus II sudah mencapai ketuntasan hasil belajar seperti yang diharapakan, yaitu tuntas belajar secara klasikal maupun secara individual, hal ini selaras dengan Djamarah , (2000: 54 ). Keunggulan dari metode demonstrasi adalah kemungkinan siswa mendapat kesalahan lebih kecil, sebab siswa mendapatkan langsung dari hasil pengamatan kemudian siswa memperoleh pengalaman langsung, siswa dapat memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang dianggap penting, bila melihat hal-hal yang membuat keraguan, siswa dapat bertanya langsung pada guru (Elizar, 1996: 45). Penerapan metode domentrasi merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada materi perpindahan kalor.
Peningkatan hasil belajar pada penelitian tindakan kelas ini dapat dipahami karena dengan metode demonstrasi, kemungkinan siswa mendapat kesalahan lebih kecil, sebab siswa mendapatkan langsung dari hasil pengamatan kemudian siswa memperoleh pengalaman langsung, siswa dapat memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang dianggap penting, bila melihat hal-hal yang membuat keraguan, siswa dapat bertanya langsung pada guru. Selain itu, metode demonstrasi juga mebuat siswa dapat memusatkan perhatiannya pada pokok bahasan yang akan didemonstrasikan, siswa memperoleh pengalaman yang dapat membentuk ingatan yang kuat, siswa terhindar dari kesalahan dalam mengambil suatu kesimpulan, pertanyaan-pertanyaan yang timbul dapat dijawab sendiri oleh siswa pada saat dilaksanakannya demonstrasi, apabila terjadi keraguan siswa dapat menanyakan secara langsung kepada guru, kesalahan yang terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki karena siswa langsung diberikan contoh konkretnya.
Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu demonstrasi harus benar benar dapat diikuti oleh setiap siswa, memberi petunjuk kepada siswa mengenai hal-hal yang perlu dicatat, sehingga waktu yang tersedia dapat digunakan secara efektif dan efisien.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penleitian tindakan kelas yang dilaksanakan maka peneliti simpulkan bahwa : Dapat meningkatkan hasil belajar ilmu pengetahuan alam materi ajar “perpindahan kalor” melalui metode demonstrasi pada siswa kelas V SDN 30 Samboja Kutai Kartanegara. Pada siklus I dengan penerapan metode demonstrasi, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%. Pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang menggembirakan yaitu : yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 92%.

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, untuk mendapatkan hasil belajar siswa yang diharapkan, maka saran-saran yang peneliti sampaikan adalah sebagai berikut : 1)Untuk Guru, karena setiap model pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka penerapannya harus disesuaikan dengan karakter siswa dan materi yang diajarkan; 2)Untuk sekolah, diharapkan mendukung penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

DAFTAR RUJUKAN
Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta
Dahar, Ratna.Wilis. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Depdikbud. 2016. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Kemendikbud.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Giancoli.2001. Fisika Jilid 2. Jakarta:Erlngga. 
Hamalik, Oemar. 1994. Metode Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Permendikbud No 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
Permendikbud No 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Paul A.Tipler,(2001), Fisika untuk Sains dan Teknik, Jilid 1, Penerbit Erlangga.
Uno, Hamzah.B. 2007. Mode Pembelajaran : Menciptakan Proses Belajar
Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta. Bumi Aksara. 
Udin S. Winata Putra. 2004. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Universitas. Terbuka.
Wiriaatmadja, R.2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung : PPS UPI.