Senin, 23 April 2018

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS DEMOKRASI DENGAN MEMBENTUK “DYNAMIC GROUP” PADA SISWA KELAS XII IPA 4 MAN 2 JEMBER Dwiasih Heniastuti dwiasih.2203@gmail.com Abstract:.The general objectives of the study are: 1). Increase the liveliness, creativity and ideas and inspiration of students in physics learning. 2). Developing the formation of a more comfortable classroom atmosphere and learning becomes unsatisfactory. 3). Appreciate the different learning styles of students so that learning becomes more optimal; and special purposes: 1). Using research results as a variation of learning models. 2). Train thinking for students, 3) Foster self-confidence for students.  This classroom action research was conducted on the students of class XII IPA 4 Year 2016/2017 with the number of students 32 students consisting of 6 men and 26 women and using 2 cycles with presentation of problem instruments, field notes, instruments based on democracy learning by forming dynamic group , and interview guidelines. The result of the research shows that there is an increase of student activity in learning mathematics. Thus through democracy-based learning by forming a dynamic group can be used as a variety of learning models in the classroom. Key Words: Learning Activity, Democracy-Based Learning, Dynamic Group. PENDAHULUAN Pada saat proses belajar mengajar berlangsung seorang guru tidak mudah menciptakan kondisi yang kondusif bagi semua siswanya .Ada siswa yang proaktif, ada siswa yang tidak banyak bicara (pendiam) tetapi memiliki kemampuan akademik di atas temannya, dan ada pula siswa yang banyak bicara tetapi bicaranya tidak bermakna sehingga membuat suasana kelas menjadi kurang efesien dan kurang kondusif. Selain itu, ada siswa dengan kemampuan akademik menengah ke bawah yang merasa tertekan sebab materi pelajaran Matematika sarat dengan teori, konsep dan rumus-rumus yang rumit dan sulit dipahami (Becker, J.P. dan Shimada, S. 1997; Bell, 1978). Untuk meningkatkan aktivitas belajar Matematika, model pembelajaran berbasis demokrasi dapat diterapkan dengan membentuk dynamic group yang di dalamnya masing-masing peserta didik menghormati cara belajar temannya sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki, menghormati perilaku temannya yang pendiam maupun temannya yang nakal dengan kemampuan rendah agar ikut serta berperan aktif dalam proses pembelajaran. Siswa bebas berpendapat dan aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah disepakati bersama sebelum pembelajaran berlangsung. Sehingga di akhir kegiatan, siswa mampu menemukan kesimpulan konsep yang telah didiskusikan, dipresentasikan, dan mencapai kesepakatan bersama. Dengan demikian, hasil pembelajaran dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran tentunya tidak sama. Siswa yang pandai pada mata pelajaran Matematika belum tentu pandai pada mata pelajaran Biologi. Dalam hal ini, setiap individu memiliki kemampuan, minat, motivasi, maupun kecerdasan yang beragam. Demikian pula dengan gaya belajar. Sebagian orang belajar lebih baik dengan satu cara tertentu sedangkan sebagian yang lain dengan cara yang lain pula. Sebagian orang belajar dengan baik secara berkelompok dan sebagian orang suka belajar sambil duduk di kursi, sambil berbaring atau yang lain. Beberapa orang berorientasi pada teks tercetak dengan membaca buku lebih mudah mengingat tetapi sebagian yang lain dengan berinteraksi. Sedangkan jumlah siswa di setiap kelas terlalu besar bahkan terlalu padat yang artinya dalam satu kelas dipenuhi 32 siswa dan jumlah jam pelajaran yang berlangsung sangat terbatas. Hal ini menyebabkan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung sukar sekali bagi guru untuk mengikutsertakan setiap siswa dalam kegiatan tersebut. Cara belajar yang mengutamakan belajar dengan mengalami sendiri dan belajar dengan mengerjakan (learning by doing) akan menjadikan siswa memiliki pengalaman dalam menemukan suatu konsep. Sehingga, siswa tidak menerima secara mentah pengetahuan yang diberikan guru. Siswa diajak mengikuti proses pengetahuan tentang suatu konsep yang dipelajari secara bertahap dan konstruktif sehingga kondisi pembelajaran tidak lagi berada dalam keadaan yang dipaksakan. Dalam pembelajaran berbasis demokrasi, sistem pembelajaran ditekankan pada kegiatan melibatkan semua siswa dengan menekankan cara berpikir kreatif, kritis dalam mengemukakan pendapat (ide maupun gagasan) sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki dan keberagaman kecerdasan siswa yang meliputi kecerdasan verbal, matematika, pemahaman ruang, kinestetik, musikal, kecakapan antar pribadi dan kemampuan intrapsikis (Istadi Irawati, 2002). Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengatur, serta mengolah informasi. Untuk siswa yang memiliki kecenderungan gaya visual, belajar dilakukan melalui apa yang dilihat. Siswa yang memiliki kecenderungan gaya auditorial, belajar dilakukan melalui apa yang didengar. Siswa yang memiliki kecenderungan gaya kinestetik, belajar dilakukan lewat gerak dan sentuhan (Hernacki Mike dan DePorter Bobbi, 2002). Pembentukan dynamic group atau kelompok dinamik pada pembelajaran Matematika menurut Gulo (2002) memiliki beberapa ciri khusus, yakni : (1) Interaksi: Terdapatnya interaksi antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dalam suatu kelompok sesuai dengan gaya belajarnya, di mana anggota-anggota dalam kelompok tersebut terikat pada pokok pembicaraan tertentu. Keterikatan pada pembicaraan ini akan menimbulkan komunikasi. (2) Tujuan: Setiap siswa dalam suatu kelompok memiliki tujuan bersama yang jelas. Sehingga pada saat pembelajaran berlangsung tidak mengalami disintegrasi. Hal ini dikarenakan tujuan yang samar-samar akan menjadikan siswa kurang termotivasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sebenarnya, ikatan antar siswa menjadi kurang kukuh sehingga kohesifitas yang terdapat dalam suatu kelompok menjadi lemah. (3) Kepemimpinan : Sifat kepemimpinan dalam hal ini tidak harus selalu terpusat pada diri seseorang atau satu siswa namun dapat berpindah-pindah dari satu siswa ke siswa lainnya, pada saat siswa yang satu berbicara maka dialah pemimpin pembicaraan di dalam kelompok tersebut. Dengan demikian setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama dalam mengemukakan berbagai ide, gagasan, inspirasi maupun ketidakcocokan atau kekurang jelasan terhadap materi pembelajaran yang berlangsung. (4) Norma: Setiap siswa terikat pada norma yang telah disepakati bersama dan harus ditaati oleh setiap anggota kelompok. Ketaatan kelompok pada norma yang dibuat bersama akan membuat pembelajaran menjadi lebih kohesif dan efesien. (5) Emosi : Setiap siswa dalam anggota kelompok akan mengalami cetusan-cetusan emosional tertentu diantaranya: rasa bosan, kecewa, senang, kesal, tertarik, merasa ditolak, merasa bangga dan diterima, semuanya dapat terjadi jika setiap siswa aktif di dalam proses pembelajaran. Untuk membina perasaan-perasaan positip, setiap siswa harus mengakui kehadiran sesamanya, sehingga guru berfungsi sebagai fasilitator yang harus menetralisir keadaan dan menstabilkan emosi siswa. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diterapkan pembelajaran berbasis demokrasi dengan membentuk dynamic group pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung agar setiap siswa dapat ikut serta terlibat, berpartisipasi aktif, dan berani mengemukakan pendapatnya (Mulryan, C., & McCaslin, M. , 1992). Rumusan Masalah Di dalam penelitian ini, permasalahan yang akan diteliti adalah: Apakah penerapan pembelajaran berbasis demokrasi dengan membentuk “dynamic group” dapat meningkatkan aktivitas belajar Matematika pada siswa kelas XII IPA 4 MAN 2 Jember? Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti melakukan penelitian dengan menerapkan pembelajaran berbasis demokrasi dengan tujuan: 1)Untuk meningkatkan keaktifan, daya kreativitas dan ide-ide serta inspirasi siswa dalam pembelajaran Matematika. 2)Untuk mengembangkan atmosfir kelas yang lebih nyaman dan pembelajaran menjadi tidak menjenuhkan, dan dapat menghargai perbedaan gaya belajar siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih optimal. Melalui penelitian ini juga diharapkan juga dapat digunakan sebagai variasi model pembelajaran, untuk melatih berfikir siswa dan juga untuk menumbuhkan rasa percaya diri bagi siswa. METODE PENELITIAN Jenis penelitian adalah kuantitatif non eksperimen. Arikunto (2010:27) mengatakan bahwa penelitian kuantitatif dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Selanjutnya Arikunto (2010:30) megatakan analisis data penelitian non-eksperimen dapat dilakukan menggunakan rumus statistik, dapat juga hanya statistik sederhana dalam bentuk rerata, simpangan baku, tabulasi silang, dan disajikan dalam bentuk tabel, bagan atau grafik. Dari analisis dan tampilan data tersebut peneliti membuat interpretasi dalam bentuk narasi yang menunjukkan kualitas dari segala atau fenomena yang menjadi objek penelitian. Jenis pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa XII IPA 4 MAN 2 Jember semester ganjil tahun pelajaran 2016/2017. Jumlah siswa kelas XII IPA 4 adalah 32 siswa terdiri dari 6 laki-laki dan 26 perempuan Prosedur Penelitian Tahapan dalam kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: 1; Studi Pendahuluan 2; Perencanaan Siklus I 3; Pelaksanaan Siklus I 4; Observasi Siklus I 5; Refleksi Siklus I 6; Pelaksanaan Siklus II 7; Pelaksanaan Siklus II 8; Observasi Siklus II 9; Refleksi Siklus II Metode Pengumpulan Data dan Analisis Data Pengumpulan data dilakukan dengan: 1)Observasi/pengamatan dengan menggunakan instrumen pedoman observasi/rubrik penilaian keaktifan siswa dalam mendengarkan dan berdiskusi pada saat pembelajaran berlangsung. 2)Kuesoioner Untuk pengumpulan data kepemimpinan dilakukan dengan kuesioner dengan menggunakan skala likert. 3)Tes merupakan pertanyaan yang harus dikerjakan siswa atau sekelompok siswa yang dapat menghasilkan skor atau nilai dari hasil pekerjaan yang siswa kerjakan. 4).Dokumentasi, dalam penelitian ini data yang diperoleh adalah data siswa mengenai nama, jenis kelamin, dan hasil belajar siswa. 5)Wawancara untuk melengkapi data penelitian yang dipandang perlu atau untuk melakukan cross cek. Analisis data penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif . Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1; Analisis Data Skala Kepemimpinan Data skala kepemimpinan diperoleh dari siswa yang menjawab pada instrumen skala kepemimpinan mengikuti petunjuk penskoran yang terdapat dalam lembar instrumen.Secara klasikal kategori skala kepemimpinan adalahsebagai berikut : Skala tinggi : skore ( 11 – 15) Skala sedang : skore (6 – 10) Skala rendah : skore (0 – 5) 2; Analisis Data skala mendengar efektif, Data skala mendengar dalam kegiatan pembelajaran semuanya diperoleh dari hasil observasi. Dari penskoran masing-masing item terlihat bahwa pada saat pembelajaran berbasis demokrasi berlangsung terjadi peningkatan yang sangat efektif dari kegiatan mendengar 3; Analisis Data Dari catatan notulen saat pembelajaran berlangsung Data yang di catat oleh notulen pada saat pembelajaran berlangsung adalah 1; siswa yang paling banyak berbicara dengan efektif, 2; siswa yang mengemukakan ide, gagasan, 3; siswa yang bertanya tetang ketidak jelasan materi, 4; siswa yang memberi sumbang saranatau sanggahan 4; Analisis Data hasil wawancara Siswa mengatakan sudah lebih berani, tidak malu-malu untuk tampil, menjawab pertanyaan temannya, memperagakan hasil dan menguatkan konsep. Orientasi pembelajaran dirasakan mereka dapat diperoleh dari berbagai sumber, mereka sudah menyadari bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. 5; Analisis data hasil penyelesaian problem pembelajaran. Seorang siswa dinyatakan berhasil menyelesaikan problem belajarnya jika skor kecakapan verbal , kecakapan logika kecerdasan kinestetik, kecakapan antar pribadinya memperoleh skor diatas 80 %. HASIL PENELITIAN Analisis skoring skala kepemimpinan; Pada siklus I dari jumlah 32 siswa kelas XII IPA 4 diperoleh nilai sebagai berikut: Skala tinggi (11-15) : 4 siswa, Skala sedang (6-10) : 9 siswa dan Skala rendah (0-5) : 19 siswa.Pada siklus II terdapat peningkatan sebagai berikut: Skala tinggi ( 11-15 ) : 20 siswa, Skala sedang ( 6-10 ) : 7 siswa, dan Skala rendah ( 0-5 ) : 5 siswa Interpretasi: Kategori tinggi berarti: Siswa memiliki jiwa kepemimpinan yang dapat dikembangkan, dikarenakan mereka berfokus pada bagaimana membangun dan mengembangkan teman-temannya di dalam kelompoknya. Mereka memiliki pandangan jauh ke depan, mampu membangkitkan semangat temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Selain itu mereka nantinya berkemungkinan bisa menjadi pemimpin sejati karena sejak dini sudah mampu menginspirasikan kepercayaan, antusiasme, komitmen dan visi bagi kelompoknya. Kategori sedang berarti: Kadang-kadang mereka memiliki visi ke depan, namun seringkali tidak mampu menggambarkannya secara jelas. Mereka nampak ragu-ragu, masih takut dalam menghadapi resiko. Siswa dengan katagori ini perlu meningkatkan kemampuan dan keberanian yang dimiliki agar dapat menginspirasikan ide dan gagasan yang ada pada saat pembelajaran berlangsung. Sedangkan kategori rendah berarti: Siswa lebih suka menjalani apa yang sudah ada, dan melihat segala sesuatu dari segi prakmatisme. Sebaiknya guru sebagai motivator dalam pembelajaran tidak segan-segannya memberi motivasi dan memusatkan perhatiannya pada siswa yang lemah sehingga mereka mampu mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki dan meminimalkan kekurangan yang terdapat di dalam dirinya. Analisis skoring skala mendengar efektif, Pada siklus I dari 32 siswa kelas XII IPA 4 diperoleh data sebagai berikut: Nilai rendah (0-6) terdapat 22 siswa (69%), nilai sedang (7-12) terdapat 7 siswa (22%), nilai tinggi (13-18) terdapat 3 siswa (9%). Pada siklus II nilai rendah (0-6) terdapat 4 siswa(13%), nilai sedang (7-12) terdapat 11 siswa (34%), nilai tinggi (13-18) terdapat 17 siswa (53%). Interpretasi Kategori tinggi nilai (13-18) berarti: Siswa tersebut merupakan seorang pendengar efektif dan berperan aktif, tidak mudah terpengaruh dan terganggu oleh situasi yang merusak kosentrasi saat diskusi berlangsung sehingga mereka mampu menyerap materi pembelajaran dan mengetahui tujuan pembelajaran apa yang harus dicapai. Selain itu mereka juga mampu menjadi pendengar yang obyektif dan empatik, yang artinya mereka juga mau memberikan saran-saran serta gagasan pada kelompok yang mengalami kesulitan. Mereka juga mampu memahami perasaan dan pikiran dari sudut pandang pembicara tersebut. Kategori sedang nilai (7-12) berarti: Siswa dalam katagori ini penuh diliputi prasangka awal, hal ini menjadikan materi pembelajaran yang berlangsung tidak dapat diserap dengan sempurna, mereka juga kurang memahami isi materi. Namun pada situasi yang kondusif mereka mampu menjadi pendengar yang efektif, obyektif, aktif dan partisipatif. Sedangkan kategori rendah nilai (0-6) berarti: Siswa bukanlah pendengar yang efektif, hal ini dikarenakan mereka hanya mendengar apa yang dianggap penting. Mereka tidak bisa berperan aktif saat pembelajaran berlangsung, mereka mudah sekali terganggu oleh situasi dan kondisi yang terdapat di sekitarnya. Dari catatan notulen saat pembelajaran berlangsung Pada siklus I Frekwensi bicara (0 – 2 ) kali ada 14 siswa atau 44%, ( 3 – 5 ) kali ada 8 siswa atau 25%, ( 6 – 8 )kali ada 6 siswa atau 19% dan (9 – 12) kali ada 4 siswa atau 13%. Sedangkan pada siklus II frekwensi bicara (0 – 2) kali sebanyak 2 siswa atau 6%, (3 – 5) kali sebanyak 4 sisw 13%a atau, (6 – 8) kali sebanyak 10 siswa atau 31% dan (9 – 12) kali sebanyak 16 siswa atau 50%. Dari hasil wawancara Siswa menyatakan pembelajaran lebih menyenangkan karena mereka dapat berargumen, mengeluarkan pendapat, bertanya, tampil ke depan, berdiskusi dengan kelompok kecil maupun kelompok kelas. Namun pada siklus I sebagian siswa mengatakan masih malu-malu untuk berani tampil, menjawab pertanyaan temannya, memperagakan hasil dan menguatkan konsep. Orientasi mereka sumber belajar satu-satunya adalah guru.sedangkan pada siklus II siswa menyatakan pembelajaran lebih menyenangkan karena mereka dapat berargumen, mengeluarkan pendapat, bertanya, tampil ke depan, berdiskusi dengan kelompok kecil maupun kelompok kelas. Siswa mengatakan sudah lebih berani, tidak malu-malu untuk tampil, menjawab pertanyaan temannya, memperagakan hasil dan menguatkan konsep. Orientasi pembelajaran dirasakan mereka dapat diperoleh dari berbagai sumber, mereka sudah menyadari bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Dari hasil penyelesaian problem pembelajaran. Dengan permasalahan yang sama, 6 kelompok terdata sebagai berikut: Siswa menyelesaikan problem dengan kecakapan verbal pada siklus I ada 11 siswa 60% benar, pada siklus II 12 siswa 80% benar, dengan kecakapan logika pada siklus I 5 siswa 75 % benar, pada siklus II 4 siswa 85% benar, dengan kecerdasan kinestetik pada siklus I 2 siswa 30 % benar, , pada siklus II 3 siswa 75% benar, dengan kecakapan antar pribadi pada siklus I 7 siswa dengan 80% benar, , pada siklus II 6 siswa 90% benar, dengan kemampuan intrapsikis pada siklus I 2 siswa 40 % benar, pada siklus II 2 siswa 70% benar, dan Menyelesaikan dengan kecerdasan majemuk pada siklus I 7 siswa 80 % benar, pada siklus II 6 siswa 90% benar, PEMBAHASAN Dari data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam siklus I ke siklus II terjadi peningkatan pemahaman konsep yang cukup signifikan, pembelajaran menjadi milik semua siswa. Dengan demikian siswa yang mampu menyampaikan gagasannya di depan kelas tanpa ragu, jelas dan runtut serta mampu menyakinkan temannya atas konsep yang dipelajari dapat dikatakan memiliki jiwa kepemimpinan yang dapat dikembangkan. Dari data di atas dapat dicermati bahwa te rdapat peningkatan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dari siklus I ke siklus II, dalam hal ini setiap siswa dalam anggota kelompok merupakan seorang pendengar efektif dan mampu berperan aktif saat pembelajaran berlangsung sehingga mereka mampu menyerap materi pembelajaran dan mengetahui tujuan pembelajaran apa yang harus dicapai. 3. Dari Catatan Lapangan dapat diketahui bahwa: a. Alur berpikir siswa lebih menyeluruh dalam memahami konsep, terlihat kemampuan siswa mengkaitkan konsep dengan alam sekitar dan kehidupan sehari-hari. b. Pembicaraan sudah tidak didominasi orang perorang namun sudah milik bersama untuk mencapai pemahaman yang lebih jelas. c. Volume maupun nada suara siswa sudah lebih keras, sehingga pembicaraan dapat didengar audiens atau peserta pembelajaran yang lain. d. Pembelajaran berpusat pada siswa dan mereka menyadari bahwa informasi dan pembelajaran yang berlangsung tidak harus menggunakan metode ceramah. e. Perasaan rendah diri, ragu-ragu, berbicara terlalu banyak sampai tidak memberi kesempatan temannya, sifat sok tahu, merasa tidak tentram, merasa terancam jika mengeluarkan pendapat maupun gagasan pelan-pelan sudah musnah. Sehingga masing-masing anggota kelompok memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan pembelajaran berlangsung lebih menyenangkan, perhatian sifat lebih terfokus, interaksi yang terjadi antar kelompok juga terjalin lebih efektif. 4. Dari Notulen siswa diperoleh grafik sebagai berikut: Dari grafik di atas dapat dikatakan bahwa aktivitas berbicara siswa saat terjadi diskusi kelompok dengan gaya belajar yang sama maupun diskusi kelas dengan gaya belajar berbeda untuk menyelesaikan problem pembelajaran yang sama dan mencapai kompetensi dasar yang telah ditentukan telah meningkat dari siklus 1 ke siklus 2. a. Dengan kelompok dinamik siswa lebih merasa senang, dapat berargumen, mengeluarkan pendapat, bertanya, tampil ke depan, berdiskusi dengan kelompok kecil maupun kelompok kelas. b. Melalui kelompok dinamik dengan gaya belajar yang bervariasi siswa mengatakan sudah lebih berani, tidak malu-malu untuk tampil, menjawab pertanyaan temannya, memperagakan hasil dan menguatkan konsep. Orientasi pembelajaran dirasakan mereka dapat diperoleh dari berbagai sumber, mereka sudah menyadari bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. 6. Dari penyelesaian problem. Siswa dapat menjawab problem yang disajikan guru dan mencapai kompetensi dasar yang ditentukan meskipun melalui gaya belajar dan kecerdasan yang beragam memperhatikan kenyataan yang ada maka pembelajaran berbasis demokrasi dengan membentuk dynamic group dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika. Berdasarkan hasil pantauan guru peneliti dan pengamat maka pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II dapat di refleksikan sebagai berikut: a. Semua tindakan yang direncanakan dapat terlaksana meskipun pada siklus I belum efektif karena belum seluruhnya siswa beraktivitas secara maksimum.sedangkan pada siklus II semua tindakan yang direncanakan dapat terlaksana dan lebih efektif. b. Guru peneliti menyadari pada siklus I masih terdapat kekurangan-kekurangan yang timbul pada saat proses pembelajaran, tetapi pada siklus II sudah dapat diminimalkan. c. Perhatian siswa pada siklus I masih terpusat pada guru bukan pada pembelajaran yang berlangsung.sedangkan pada siklus II alur berpikir siswa lebih menyeluruh dalam memahami konsep, terlihat kemampuan siswa mengkaitkan konsep dengan alam sekitar dan kehidupan sehari-hari. d. Pada siklus I beberapa siswa masih merasa risih, malu-malu dalam mengemukakan pendapatnya dan pada saat presentasi ke depan keberanian siswa juga masih kurang. Sedangkan pada siklus II, pembicaraan sudah tidak di dominasi orang perorang namun sudah milik bersama untuk mencapai pemahaman yang lebih jelas. e. Volume maupun nada suara pada siklus I terlalu pelan, sehingga pembicaraan kurang dapat didengar audiens atau peserta pembelajaran yang lain.sedangkan pada siklus II sudah lebih keras, sehingga pembicaraan dapat didengar audiens atau peserta pembelajaran yang lain f. Pada siklus I siswa belum terbiasa diajak melakukan penelitian tindakan kelas dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan gaya belajar yang berbeda, nampaknya mereka juga belum puas kalau guru belum menggunakan metode ceramah.Sedangkan pada siklus II siswa sudah dapat diajak melakukan pembelajaran yang berpusat pada siswa, nampaknya mereka menyadari bahwa informasi dan pembelajaran yang berlangsung tidak harus menggunakan metode ceramah g. Perasaan rendah diri, ragu-ragu, berbicara terlalu banyak sampai tidak memberi kesempatan temannya, sifat sok tahu, merasa tidak tentram, merasa terancam jika mengeluarkan pendapat maupun gagasan, pelan-pelan pada siklus I sudah musnah. Sedangkan pada siklus II masing-masing anggota kelompok memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan pembelajaran berlangsung lebih menyenangkan, perhatian lebih terfokus, interaksi yang terjadi antar kelompok juga terjalin lebih efektif KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan: Ada peningkatan aktivitas belajar, dari kondisi awal/pra tindakan dibandingkan dengan siklus pertama, walaupun pada siklus I belum efektif karena belum seluruhnya siswa beraktivitas secara maksimum, siswa yang mendapat skor tinggi pada aktivitas mendengarkan hanya sebesar 9%. Baru pada siklus II semua tindakan yang direncanakan dapat terlaksana dan lebih efektif, mayoritas siswa aktif dalam proses pembelajaran. Aktivitas mendengarkan terdapat 53% siswa mendapat skor tinggi. Pada siklus pertama yang kurang aktif 44 %, sedangkan peningkatan pada siklus kedua 50 % siswa yang aktif dalam berdiskusi pada saat proses pembelajarn, bahkan 50 % sangat aktif dalam berdiskusi.Pada siklus I beberapa siswa masih malu-malu dalam mengemukakan pendapatnya dan pada saat presentasi ke depan keberanian siswa juga masih kurang. Sedangkan pada siklus II, pembicaraan sudah tidak di dominasi orang perorang namun sudah merata semua siswa aktif. Saran Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai rujukan oleh a) Guru Matematika Disarankan agar guru Matematika benar-benar menyadari keberagaman gaya belajar setiap siswa. Sehingga, mekanisme belajar dengan memperhatikan gaya belajar siswa ini akan berdampak pada keberagaman jumlah anggota kelompok dan jumlah kelompok di dalam kelas. Berdasarkan keberagaman ini, cara siswa dalam menemukan solusi atas problem yang diberikan oleh guru juga beragam. Oleh sebab itu, guru hendaklah memiliki kearifan dalam menghadapi beragam gaya belajar dan tidak boleh otoriter (memaksakan kehendak) kepada siswa. b) Kepala Sekolah Disarankan agar Kepala Sekolah memahami kondisi kelas yang mungkin berbeda dari kondisi sehari-hari. Jika hasil penelitian ini diterapkan, kelas akan tampak lebih ramai jika dibandingkan dengan kelas yang diajar dengan metode ceramah. Selain itu, hendaklah Kepala Sekolah meminta guru untuk menempilkan produk-produk belajar siswa melalui penerapan metode hasil penelitian ini sehingga selain belajar dari sudut proses, produk belajar dapat digunakan sebagai fakta hasil belajar yang ditekankan pada implementasi perbedaan gaya belajar siswa. DAFTAR RUJUKAN Becker, J.P. dan Shimada, S. 1997. The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Virginia: NCTM 37 Bell, F.H. (1978). Teaching and Learning Mathematics in Secondary Schools. Dubuque: Wm.C. Brown Company Publishers. Dubinsky, E. (2001). Using a Theory of Learning in College Mathematics Courses. Coventry: University of Warwick Fraivillig, J.L., Murphy, L.A., & Fuson, K.C. (1999). Advancing Children’s Mathematical Thinking in Everyday Mathematics Classrooms. Journal for Research in Mathematics Education, 30, 148-170. Gagne, R.M. (1970). The Conditions of Learning, second edition, New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc. Good, T.L., Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Gramedia Widiasarana. Istadi Irawati.2002. Istimewakan Setiap Anak. Jakarta : Pustaka Inti Roestiyah. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Safaria. 2004. Tes Kepribadian Untuk Seleksi Pekerjaan. Yogyakarta: Amara books. Mulryan, C., & McCaslin, M. (1992). Grouping for Instruction in Mathematics: A Call for Programmatic Research on Small-Group Processes. Dalam D.A. Grouws (Ed.), Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning, (pp. 165-196). New York: NCTM