Senin, 23 April 2018

TOLERANSI ANTAR PEMELUK AGAMA: KAJIAN TENTANG EKSISTENSI PEMELUK “ KRISTEN” DALAM MAYORITAS MASYARAKAT MUSLIM DI KECAMATAN YOSOWILANGUN KABUPATEN LUMAJANG



Mohamad Na'im, Sumardi dan Totok Abdurrisan
Mohamadnaim66@yahoo.co.id

Abstrak: Tujuan penelitian: 1)mengkaji latar belakang terbentuknya komunitas Kristen Tunjungrejo; 2) mengkaji eksistensi desa “ kristen” Tunjungrejo ditengah tengah masyarakat muslim di Kecamatan Yosowilangun kabupaten lumajang dari tahun 1965 sampai tahun 2016. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode sejarah, yaitu proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Langkah-langkah metode sejarah meliputi empat tahap, yaitu: (1) heuristik (pengumpulan sumber), (2) kritik, (3) interpretasi, (4) historiografi. Hasil: Desa Kristen Tunjungrejo merupakan Desa Kristen yang terbentuk pada tahun 1897. Desa Kristen Tunjungrejo terbentuk tidak terlepas dari adanya konflik yang ada di Mojowarno Kab. Jombang, yaitu konflik antara Brontodiwirjo dengan guru injil J Kruyt, akhirnya Brontodiwirjo mengajak kerabatnya untuk memutuskan keluar dari Desa Mojowarno menuju ke daerah Lumajang. Perkembangan agama Kristen di Desa Tunjungrejo dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seperti bertambahnya jumlah pemeluk agama Kristen dan perkembangan sarana dan prasarana tempat peribadatan umat Kristen. Kehidupan dengan pemeluk agama Islam disekitarnya harmonis, saling menghargai dan menghormati dan saling bekerjasama, terbukti setiap ada acara saling membantu dan tidak pernah terjadi konflik.

Kata Kunci: Toleransi, Pemeluk Kriten- Islam

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang toleransi antar umat beragama sangat kuat. Keragaman beragama dalam segala segi kehidupan merupakan realitas kehidupan yang tidak mungkin untuk dihindari. Keragaman tersebut menyimpan potensi yang dapat memperkaya warna hidup. Setiap pihak, baik individu maupun komunitas dapat menunjukkan eksistensi dirinya dalam interaksi sosial yang harmonis. Namun, dalam keragaman tersimpan juga potensi yang positif yakni memperkaya budaya, dapat juga bersifat destruktif, jika tidak dibina kerukunannya. Sebagai realitas sosial menarik untuk dikaji. Salah satu contoh yang terjadi pada yang di Lumajang, di Desa Kristen Tunjungrejo berdiri sejak pada tahun 1897 yang diprakarsai oleh Brontodiwirjo, hingga sekarang hidup secara harmonis di tengah masayarakat mayoritas muslim. Hali ini merupakan Kekayaan Indonesia. Di Desa Tunjungrejo tidak pernah terjadi, hal-hal yang meresahkan yang dapat menghilangkan kekayaan khazanah kehidupan yang penuh keragaman. Oleh karena itu, berbagai upaya telah dilakukan, kerukunan dilestarikan sebagai salah satu cara untuk memperkokoh nilai toleransi beragama.
Toleransi pada hakikatnya adalah penghormatan, penerimaan dan penghargaan tentang keragaman yang kaya akan kebudayaan dunia, bentuk ekspresi manusia dan tata cara sebagai makhluk sosial. Hal itu dipelihara oleh pengetahuan, keterbukaan, komunikasi, dan kebebasan pemikiran, kata hati dan kepercayaan. Toleransi adalah harmoni dalam perbedaan (UNESCO APNIEVE, 2013). Micheal Walze (1997) memandang toleransi sebagai keniscayaan dalam ruang individu dan ruang publik karena salah satu tujuan toleransi adalah membangun hidup damai (peaceful coexistence) diantara berbagai kelompok masyarakat dari berbagai perbedaan latar belakang sejarah, kebudayaan dan identitas.
Penyebaran agama Kristen di Indonesia bersumber dari para Zending. Zending yang merupakan pekabar injil yang berusaha untuk menyebarkan Kristen Protestan dan menegakkan gereja-gereja Protestan (Daya, 2004: 99). Lembaga Zending yang pertama muncul di Indonesia adalah Naderlandsche Zendeling-Genotschaap (NZG) pada tahun 1797. Pada perkembangan selanjutnya mulai bermunculan lembaga-lembaga pekabaran injil yang bermacam macam aliran, yakni: Java Committe, Nederlandsche Gereformede Zendingsvereniging (NGZV). Lembaga-lembaga Zending tersebut memiliki perbedaan dalam  hal aliran, prinsip-prinsip rohani, wilayah kerja, dan cara-cara Kristenisasi yang diterapkan (Weitjens, 2013: 19).
Di Indonesia saatu wilayah yang mendapatkan pengaruh Kristen adalah Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Masyarakat Kristen Mojowarno terbentuk setelah babad hutan yang dilakukan oleh Ditotaruno pada tahun 1847. Mojowarno tumbuh menjadi daerah dengan mayoritas penduduk beragama Kristen tahun 1864. Kemajuan dapat dilihat dari adanya sembilan organisasi jemaat yang membina 1300 jiwa. Antar pemimpin organisasi jamaat terjadi disharmoni, memunculkan  beberapa konflik yang mengakibatkan perpecahan pada pengikut-pengikutnya. Salah satu contoh konflik yang terjadi adalah konflik antara J. Kruyt yang merupakan pemimpin Sekolah Injil Mojowarno dengan Iprayim Setoe Brontodiwirjo. Konflik tersebut mengakibatkan Brontodiwirjo mengasingkan diri ke hutan Tunjung Putih dan membuka hutan tersebut menjadi perkampungan Kristen yang diberi nama Tunjungrejo, ikut serta beberapa anggota jamatnya (Handoyomarno, 1975: 37).
Desa Tunjungrejo pada awalnya merupakan hutan belantara Tunjung Putih yang tidak berpenghuni. Pembukaan hutan Tunjung Putih dilakukan pada tahun 1897 tepatnya pada tanggal 17 Juli 1897. Diber nama desa Tunjung Putih tidak terlepas dari situasi dan kondisi atau keadaan sekitar Hutan Tunjung Putih sebelum dibuka antara lain sebelah barat merupakan hamparan Bunga Tanjung (bunga teratai yangbunganya berwarna putih), di sebelah timur terdapat pepohonan Besar, dan sebelah selatan adalah daerah pesisir pantai samudra Hindia. Pembukaan hutan ini dilakukan oleh keluarga Brontodiwirjo dan lima keluarga lain. Iprayim Setoe Brontodiwirjo lahir pada Tanggal 19 Juni 1859 di Mojoroto putra dari Karulus Wirjoguno, menyelesaikan pendidikan di Sekolah Guru Injil di Mojowarno, kemudian Brontodiwirjo menjadi Guru Injil di Jemaat Kertorejo, yang merupakan bagian dari Jemaat Mojowarno, namun Brontodiwirjo diberhentikan sebagai guru Injil di Kertorejo karena perkawinan keduanya dengan Rasipah yang tidak disetujui oleh pemimpin Sekolah Guru Injil Mojowarno, yaitu J Kruyt. Adanya penolakan tersebut menyebabkan Brontodiwirjo ingin pindah dari Kertorejo. Keingginan Brontodiwirjo untuk pindah dari Kertorejo diketahui seorang kerabatnya yang menggajar di Sekolah Rakyat di Lumajang bernama Purbowiyoto dan menyarankan Brontodiwirjo untuk pindah dari Kertorejo dan membuka daerah baru di wilayah Lumajang di kawasan Tunjungrejo tersebut (Panitia Penulisan Sejarah Desa Tunjungrejo ke 100 tahun, 1997: 3).
Perkembangan agama Kristen di Tunjungrejo dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seperti bertambahnya jumlah pemeluk agama Kristen dan perkembangan sarana prasarana tempat peribadatan umat Kristen. Tahun 1899 mulai dibangun sarana prasarana berupa jalan desa untuk mempermudah transportasi masyarakat, kemudian dibangun gereja serta rumah pesuruh gereja. Desa Tunjungrejo juga memiliki Sekolah Rakyat atau sekolah zending yang dibangun pada tahun 1907. Sekolah Zending tersebut banyak mengajarkan mengenai perjalanan kehidupan Tuhan Yesus yang berasal dari Kitab Suci serta diajarkan mengenai Kidung Pasamuan. Setiap hari minggu pagi penduduk Desa Tunjungrejo diwajibkan untuk mengikuti kebaktian di Gereja Pasamuan. Semarak kegiatan keagamaan umat Kristen di Desa Tunjungrejo, dilakukan seperti Natal, Paskah, dan hari raya unduh-unduh yang dilaksanakan setiap tanggal 17 Juli. Hari raya unduh-unduh dilaksanakan olehs warga desa yang beragama Kristen dengan cara mengumpulkan hasil bumi untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Persembahan yang berupa hasil bumi tersebut diarak berkeliling desa. Sepanjang perjalanan keliling desa para penduduk menyanyikan pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan.
Kehidupan masyarakat Desa Tunjungrejo yang terdiri dari agama Kristen dan agama Islam, tentu saja akan memiliki keunikan dan keragaman dalam menjalankan kehidupan keagamaan. Masyarakat pemeluk agama Kristen di Desa Tunjungrejo hidup secara berdampingan dengan pemeluk agama Islam. Hubungan social antar pemeluk umat beragama yang berada di Desa Tunjungrejo terjalin harmonis tidak ada diskriminasi terhadap masing-masing pendudk yang memiliki perbedaan keyakinan. Terlebih terhadap pemeluk agama Islam di Desa Tunjungrejo merupakan minoritas. Hubungan social yang baik tersebut dapat dibuktikan dengan adanya perayaan Hari Raya Unduh-Unduh secara bersama-sama atara pemeluk Nasrani dan pemeluk agama Islam, di tiap tanggal 17 Juli. Hari raya Unduh-Unduh adalah hari raya yang dilaksanakan oleh penduduk Desa Tunjungrejo sebagai ucapan syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang telah diperoleh masyarakat. Perayaan ini menjadi tradisi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Bagaimana latar belakang terbentuknya Desa Kristen Tunjungrejo? Bagaimana eksistensi desa “ kristen” Tunjungrejo ditengah tengah masyarakat muslim di Kecamatan Yosowilangun kabupaten lumajang dari tahun 1965 sampai tahun 2016?
eksistensi Agama Desa Kristen Tunjungrejo dari tahun 1965-2014?
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai adalah: 1)mengkaji latar belakang terbentuknya komunitas Kristen Tunjungrejo; 2) mengkaji eksistensi desa “ kristen” Tunjungrejo ditengah tengah masyarakat muslim di Kecamatan Yosowilangun kabupaten lumajang dari tahun 1965 sampai tahun 2016.
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan diatas, maka diharapkan penelitian ini memperoleh manfaat sebagai berikut: 1) Diharapkan dapat menambah wawasan tentang sejarah lokal; 2) Bagi penerus bangsa, hendaknya meningkatkan toleransi, saling menghormati antar umat beragama karena Indonesia merupakan negara multikultur; 3) Bagi pemerintah Kabupaten Lumajang, merupakan masukan untuk dijadikan pertimbangan untuk melakukan pengembangan dan pelestarian tradisi di Desa Kristen Tunjungrejo.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode sejarah, yaitu proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. (Gottschalk, 1975:32). Langkah-langkah metode sejarah meliputi empat tahap, yaitu: (1) heuristik (pengumpulan sumber), (2) kritik, (3) interpretasi, (4) historiografi.
PEMBAHASAN
Pada bagian ini dipaparkan mengenai hasil kajian tentang latar belakang terbentuknya Desa Kristen Tunjungrejo
1. Latar Belakang Terbentuknya Desa Kristen Tunjungrejo
Tunjungrejo terdiri dari dua kata yaitu “Tunjung” yang berarti bunga teratai dan “Rejo” yang berarti ramai. Berdasarkan pengertian di atas maka, Tunjungrejo memiliki arti sebagai desa yang memiliki banyak bunga teratai. Tunjungrejo pada awalnya merupakan kawasan hutan yang tidak dihuni oleh manusia. Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, Tunjungrejo dahulunya merupakan hutan yang diberi nama Tunjung Putih. Hutan Tunjung Putih merupakan tanah yang tertutup, belum berpenghuni dan dikuasai oleh pemerintah Kolonial Belanda. Tanah di hutan Tunjung Putih merupakan tanah yang subur.
Desa Tunjungrejo terkenal sebagai daerah yang memiliki penduduk dengan mayoritas beragama Kristen Tunjungrejo terbesar di wilayah Kecamatan Yosowilangun. Terbentuknya Desa Kristen berawal dari terpecahnya Desa Kristen terbesar di Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Masyarakat Kristen Mojowarno merupakan masyarakat Kristen terbesar di Jawa Timur. Masyarakat Kristen Mojowarno terbentuk setelah babad hutan yang dilakukan oleh Ditotaruno pada tahun 1847. Mojowarno tumbuh menjadi daerah dengan mayoritas penduduk beragama Kristen tahun 1864. Masyarakat Kristen Mojowarno yang terus bertumbuh memunculkan beberapa konflik sehingga mengakibatkan perpecahan. Salah satu perpecahan yang terjadi dipimpin oleh Iprayim Setoe Brontodiwirjo. Brontodiwirjo adalah Guru Injil di Jemaat Kertorejo yang pada saat itu merupakan bagian dari jemaat Mojowarno. Brontodiwirjo diberhentikan dari tugasnya sebagai Guru Injil oleh J. Kruyt. Konflik yang terjadi antara J.Kruyt dan Brontodiwirjo mengakibatkan Brontodiwirjo mengasingkan diri ke hutan Tunjung Putih dan membuka hutan tersebut menjadi perkampungan Kristen yang diberi nama Tunjungrejo (Handoyomarno, 1975: 37).
Brontodiwirjo mempunyai keinginan untuk pindah dari Kertorejo terkait dengan perbuatannya yang tidak terpuji yaitu berselingkuh dan menikah kembali dengan istri orang Belanda yang bernama Rasipah. Akibat dari perbuatannya itu, Brontodiwirjo dipecat menjadi guru Injil oleh J.Kruyt yang merupakan pemimpin guru Injil di Mojowarno. Keinginannya untuk pindah dari Kertorejo ini diketahui oleh sahabatnya yang berada di Lumajang yaitu Purbowiyoto. Purbowiyoto merekomendasikan pada Brontodiwirjo untuk membuka daerah baru di wilayah Lumajang yaitu Hutan Tunjung Putih yang merupakan tanah tertutup, belum berpenghuni, milik pemerintah. Tanah ini dapat dibuka dengan ijin pemerintah Belanda pada waktu. Brontodiwirjo akhirnya tertarik untuk membuka hutan Tunjung Putih karena keberadaan dirinya tidak ingin diketahui oleh jemaat Kertorejo yang lain. Pedukuhan Tunjung Putih dijuluki sebagai Desa Pertobatan, hal ini terkait dengan perbuatan Brontodiwirjo yang tidak terpuji selama di Kertorejo (Trawaca, dkk. 1997: 3-8).
Hutan Tunjung Putih merupakan daerah yang subur dan cocok untuk menjadi wilayah pertanian. Brontodiwirjo tertarik untuk menjadikan Hutan Tunjung Putih sebagai wilayah yang ramai sehingga Brontodiwirjo mengajak beberapa saudara dekat untuk membuka hutan Tunjung Putih dan meminta ijin kepada pemerintah Belanda untuk melakukan pembabatan Hutan Tunjung Putih. Pembukaan Hutan Tunjung Putih dilakukan pada tanggal 17 Juli 1897 oleh keluarga Brontodiwirjo dan lima keluarga lain yaitu keluarga Sriodirojidin, keluarga Musdran, keluarga Dono, Keluarga Garinah, dan keluarga Sariban yang semuanya berasal dari Kertorejo. Perjalanan dan proses ijin membuka hutan Tunjung lama membutuhkan waktu yang lama sehingga rombongan menginap sementara di rumah penduduk Desa Yosowilangun yang bernama Marlan dan kepala dukuh Yosowilangun (Panitia Penulisan Sejarah Desa Tunjungrejo, 1997: 4).
Pembangunan pertama di Hutan Tunjung Putih berupa gubuk panggung di tengah hutan yang digunakan sebagai tempat tinggal sementara oleh enam keluarga. Berita pembabatan Hutan Tunjung Putih oleh keluarga Brontodiwirjo tersebar sampai ke pelosok-pelosok daerah sehingga banyak yang tertarik untuk berpindah ke wilayah Tunjung Putih. Tahun 1899 atau dua tahun setelah babad hutan dilakukan mulai berdatangan rombongan dari Kertorejo, Mojoroto, Mojowangi, Mojoarum, Bangsorejo. Wilayah Hutan Tunjung Putih akhirnya menjadi sebuah pedukuhan dengan nama pedukuhan Tunjung Putih dan Brontodiwirjo menjadi kepala dukuh. Penduduk pedukuhan Tunjung Putih dari tahun ke tahun terus mengalami kemajuan pesat. Banyak pendatang yang berasal dari wilayah Pare Kediri dan Parerejo atau Sidoarjo yang menetap di Tunjung Putih diantara pendatang tersebut ada yang berlatar belakang non-Kristen kemudian memutuskan untuk masuk Kristen (Trawaca dkk, 1997: 5).
Brontodiwirjo menginginkan agar Pedukuhan Tunjung Putih menjadi sebuah desa yang baik dalam segala hal, baik itu pembangunan fisik maupun non fisik sehingga sebelum babad hutan dilakukan telah direncanakan mengenai pengaliran parit patusan, jalan, pengaturan tanah kongsen untuk desa, pengaturan letak rumah, tempat ibadah, tanah makam, dan sekolah. Pelaksanaan pembangunan fisik di Tunjung Putih pertama kali dilakukan pada bulan Oktober tahun 1899. Pendidikan keagamaan diperoleh dari kegiatan kebaktian bersama yang dilakukan pada hari Minggu. Setiap hari anak-anak remaja diberi pelatihan untuk menyanyi Kidung Pasamuwan. Pada pemerintahan Brontodiwirjo dibnagn juga Sekolah Rakyat yang dikenal dengan sekolah zending . Sekolah zending tersebut terdiri dari kelas 1 sampai dnegan kelas 5, dengan tenaga pengajar yaitu Masirun, Saputro Yekti, Wusijo, Gariman, dan Sudiharjo (Trawaca, 1997: 6-7).
Tahun 1905 keberadaan Pedukuhan Tunjung Putih diketahui oleh Panitia Jawa yang menangani masalah zending di Pulau Jawa dan diputuskan bahwa Pedukuhan Tunjung Putih merupakan bagian dari Panitia Jawa. Masuknya Jemaat Tunjung Putih menjadi bagian Panitia Jawa memberikan peluang untuk mengadakan hubungan kembali dengan jemaat induk Mojowarno. Jemaat Tunjung Putih diajarkan mengenai tata cara penyampaikan zending kepada sekitar, tata cara membimbing pertumbuhan sekolah-sekolah zending serta pedoman untuk guru-guru zending (Nortier, 1980: 115).
Pada tanggal 19 Oktober 1910 Brontodiwirjo meninggal dunia dan digantikan oleh putra sulung Brontodiwirjo yaitu Prawito Kertodiwirjo. Guru Injil Tunjungrejo digantikan  oleh Masirun. Masa pemerintahan Prawito Kertodiwirjo Pedukuhan Tunjung Putih diganti menjadi Pedukuhan Tunjungrejo. Banyak pendatang yang berasal dari luar wilayah Lumajang yang datang dan menetap di Tunjungrejo sehingga keadaan pedukuhan Tunjungrejo semakin ramai. Masa pemerintahan Prawito Kertodiwirjo dilakukan pembangunan gedung Sekolah Rakyat atau sekolah zending dan pengadaan seperangkat gamelan yang dapat digunakan oleh pemuda-pemuda Tunjungrejo sebagai sarana kesenian. Tujuan dari pengadaan gamelan tersebut adalah agar para pemuda Tunjungrejo mempuyai kegiatan dalam bidang kesenian dan tidak mencari hiburan keluar pedukuhan Pemerintahan Prawito Kertodiwirjo tidak berjalan lama kemudian digantikan oleh Dinar Wirjosoemarto (Panitian Penulisan Sejarah Desa Tunjungrejo, 1997: 8).
Pada masa pemerintahan Dinar Wirjosoemarto Pedukuhan Tunjungrejo ditingkatkan menjadi pedesaan dengan nama Desa Tunjungrejo, sehingga Dinar Wirjosoemarto merupakan kepala desa pertama dari Desa Tunjungrejo. Pembangunan-pembangunan sarana-prasarana untuk keagamaan semakin ditingkatkan karena jemaat Kristen semakin bertambah. Sekolah Kristen atau Sekolah Zending yang ada di Tunjungrejo digunakan sebagai tempat pendidikan Kristen bagi anak-anak dan remaja di desa Tunjungrejo.  Kesehatan masyarakat lebih diperhatikan pada masa pemerintahan Dinar Wirjosoemarto, dibangun poliklinik desa yang dikelola oleh Mantri Kasenan yang dibantu oleh Luwisih dan Kabul. Kebutuhan untuk sekolah Rakyat dan Poliklinik tersebut di dapatkan dari iuran masyarakat dan dana pasamuan yang dikumpulkan oleh panitia pencari dana poliklinik tersebut. Pada pemerintahan Dinar Wirjosoemarto terjadi konflik antar desa dikarenakan adanya perebutan areal Desa Tunjungrejo dengan Desa Yosowilangun dan Kraton (rampalan), sehingga banyak sarana prasarana Desa Tunjungrejo yang dipindahkan ke area lain yang tidak menjadi sengketa. Pemerintah desa setelah Dinar Wirjosoemarto mengundurkan diri merupakan pemerintah yang  melaksanakan program dari pemerintahan Desa yang terdahulu dan menambah beberapa program pemerintahan yang lainnya (Trawaca, 1997: 12).
Pada tahun 1966 di Desa Tunjungrejo terjadi peristiwa sejarah yang penting. Penduduk di Kecamatan Yosowilangun melakukan perpindahan agama. Perpindahan keyakinan tersebut terjadi akibat adanya peristiwa G30S atau “Gerakan 30 September”. Terjadinya peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965 mengakibatkan banyak masyarakat yang dicurigai sebagai bagian dari PKI memutuskan untuk menjadi Kristen agar terhindar dari tuduhan dan juga mendapat pembelaan dari gereja. Penduduk yang dicurigai sebagi seorang PKI adalah penduduk yang tidak memiliki keyakinan atau tergabung dalam aliran-aliran kepercayaan yang terlebih dahulu berkembang di masyarakat. Penduduk yang tergabung dalam aliran kepercayaan dicap sebagai bagian orang-orang atheis dan komunis (wawancara dengan Salamun pada tanggal 25 Oktober 2015).
Menurut Aritonang dalam Nugroho (2008: 4) peningkatan pemelukk agama Kristen terjadi sebagai akibat peraturan pemerintah melalui ketetapan MPRS No 27 Tahun 1966, yang menyatakan bahwa setiap warga Negara Indonesia harus memeluk salah satu dari lima agama yang resmi diakui oleh negara dan pemerintah Indonesia yakni Islam, Kristen, Kristen, Hindhu dan Budha, terkait dengan stigma terhadap PKI yang dituduh ateis. Ricklefs (2008:435) menyatakan bahwa sejak 1960-an dan masa-masa selanjutnya agama-agama formal mengalami peningkatan jemaat secara signifikan dari masa sebelumnya. Salah satu agama yang mengalami peningkatan jumlah anggotanya paling mencolok adalah Kristen. Masuknya orang-orang PKI ke dalam agama Kristen dikenal dengan istilah "Baptisan Masal", hal itu menyebabkan warga GKJW Jemaat Tunjungrejo mengalami peningkatan yang tajam dan terus berkembang sampai tahun 2016.

2. Eksistensi Agama Kristen di Desa Tunjungrejo dari tahun 1965-2016
Eksistensi Agama Kristen di Tunjungrejo dapat terlihat dari berkembangnya jumlah penganut, kehidupan bermasyarakat yang baik,  berkembangnya ajaran agama Kristen dan tercipatanya sarana dan prasarana yang memadai untuk kegiatan agama Kristen. Agama Kristen berkembang di Tunjungrejo tanpa diwarnai konflik dengan penduduk desa sekitar. Toleransi beragama yang baik ditunjukkan oleh penduduk desa sekitar Tunjungrejo. Pada saat masyarakat Tunjungrejo yang mayoritas beragama Kristen mengadakan upacara keagamaan atau merayakan hari raya agama seperti Natal dan lain sebagainya masyarakat sekitar Desa Tunjungrejo ikut membantu agar acara yang diselenggarakan oleh Desa Tunjungrejo sehingga tidak mengalami gangguan dan acara dapat berjalan lancar.
Eksistensi agama Kristen di Tunjungrejo ditandai dengan semakin banyaknya penduduk dan pemeluk agama Kristen di Desa Tunjungrejo. Kehidupan bermasyarakat di Tunjungrejo berjalan cukup baik tidak ada konflik yang dapat mengganggu berjalannya kehidupan bermasyarakat. Masyarakat hidup saling menghormati antar umat beragama. Berikut akan dipaparkan mengenai Eksistensi umat Kristen di Desa Tunjungrejo.

Jumlah Penduduk Penganut Kristen
Desa Tunjungrejo merupakan kawasan yang mayoritas dihuni oleh masyarakat Jawa dan Madura. Jumlah penduduk Desa Tunjungrejo setiap tahun mengalami peningkatan. Angka kelahiran dan banyaknya pendatang baru merupakan salah satu factor bertambahnya penduduk Desa Tunjungrejo. Jumlah penduduk Desa Tunjungrejo setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 1965 jumlah penduduk berjumlah 1937 yang terdiri dari 1.025 laki-laki dan 912 perempuan. Bertambahnya penduduk setiap tahunnya juga ditunjukkan pada tahun 2014 yaitu berjumlah 2.431 jiwa dengan jumlah laki-laki 1.080 jiwa dan perempuan 1.351 jiwa. Jumlah penduduk usia 5-19 tahun pada tahun 2014 adalah 997 orang atau 41% dari jumlah keseluruhanpenduduk, usia 20-40 tahun adalah 1069 orang atau 44% dari jumlah keseluruhanpenduduk dan usia 41 keatas adalah 365 jiwaatau 15% dari jumlah keseluruhanpenduduk. jumlah penduduk usia produktif di Desa Tunjungrejo selama 20 tahun terakhir rata-rata berjumlah 29% dari jumlah penduduknya. Pada tahun 2016 jumlah penduduknya 2491 jiwa. Berkembangnya jumlah pendududuk, salah satunya disebabkan Kepercayaan dan tradisi di Kecamatan Yosowilangun yaitu jika pihak perempuan harus mengikuti agama dari pihak laki-laki, jika pihak laki-laki beragama Kristen dan pihak perempuan beragama selain Kristen maka pihak perempuan harus mengikuti agama yang dianut oleh pihak laki-laki. Perpindahan agama karena factor perkawinan sedikit terjadi di Tunjungrejo. Hal ini disebabkan karena sebagian masyarakat tidak mau meninggalkan agama yang telah dianutnya dan memilih untuk tidak melakukan pernikahan dengan masyarakat yang memiliki perbedaan agama. Jika terjadi pernikahan maka pihak perempuan harus mengikuti keyakinan dari pihak laki-laki.
Agama Kristen sebelum tahun 1965 telah berkembang pesat di . Eksistensi agama Kristen di Tunjungrejo mulai terlihat sejak adanya perpindahan agama yang dilakukan oleh penduduk  di Kecamatan Yosowilangun pada tahun 1966. Agama Kristen di Desa Tunjungrejo terus mengalami perkembangan, terlebih dengan adanya pembangunan sarana prasarana tempat peribadatan dan sarana prasarana sekolah Kristen sebagai penunjang Pendidikan Agama Kristen di Desa Tunjungrejo.
Sarana Prasarana Ibadah, Perkembangan dari segi sarana prasarana keagamaan dapat dilihat dari dibangunnya kapel yang digunakan untuk membantu gereja Pasamuwan Tunjungrejo dalam memberikan pembelajaran agama Kristen kepada masyarakat Tunjungrejo yang tidak dapat ditampung di Gereja Pasamuwan. Pada tahun 1972 dibangun gereja Immanuel Tunjungrejo. Pembangunan gereja pembantu tersebut sebagai tempat alternatif bagi penduduk setempat yang baru memeluk Kristen namun belum mendapatkan Pembelajaran Agama Kristen.
Sarana prasarana sekolah yang terdapat yang terdapat di Desa Tunjungrejo secara umum dapat membantu proses Pendidikan Agama Kristen kepada masyarakat, karena sebagian besar sekolah di Tunjungrejo dikelola oleh pihak gereja Pasamuwan Tunjungrejo seperti sekolah SMP YBPK yang dikelola oleh gereja bekerja sama dengan Yayasan Budi Pekerti Kristen (YBPK) Surabaya. Sarana prasarana yang terdapat di Desa Tunjungrejo juga memperlihatkan bahwa agama Kristen tetap eksis dan bertahan di Desa Tunjungrejo.

3. Kehidupan Masyarakat Penganut Agama Kristen Dari Tahun 1965-2016
Umat beragama di Indonesia memeiliki aturan dan tatacara tersendiri dalam pelaksanaan kehidupan beragama. Pelaksanaan ibadah, tatacara ibadah, larangan, doa-doa dan lain sebagainya tentu berbeda antara agama satu dan agama lainnya. hal tersebut berlaku bagi seluruh umat beragama termasuk umat Kristen. Umat Kristen memiliki cara beribadah yang berbeda dengan umat beragama lain. Berikut akan dipaparkan mengenai kegiatan keagamaan penganut agama Kristen, kehidupan social ekonomi dan kehidupan social budaya penganut agama Kristen di Desa Tunjungrejo.
Paskah merupakan puncak peringatan liturgi gereja Kristen. Paskah menjadi hari yang istimewa bagi umat Kristen karena Yesus telah bangkit dari kematian. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus, seperti yang tercatat di dalam keempat injil di Perjanjian Baru. Perayaan ini juga dinamakan Minggu Paskah, Hari Kebangkitan, atau Minggu Kebangkitan. Perayaan Ekaristi pada hari Pasakah dengan perayaan Ekaristi pada hari hari yang lain adalah digantinya seruan tobat dengan pemercikan air suci. Air suci yang digunakan untuk memerciki umat adalah air yang telah dikuduskan pada perayaan Malam Paskah. Air itu pula yang ditempatkan di pintu masuk gereja untuk digunakan umat menyucikan diri saat akan memasuki gereja. Selain adanya pemercikan air suci, pada hari ini juga dilagukan Madah Paskah yang mewartakan kebangkitan Yesus. Madah Paskah ini dilagukan sebelum bait pengantar Injil. Paskah dirayakan  setelah perayaanTrihari Suci dimulai dengan Ekaristi petang pada Kamis Putih, memuncak pada perayaan Malam Paskah, dan berakhir pada Ibadat Sore Minggu Paskah. Selama tiga hari suci ini, Gereja merayakan misteri terbesar karya penebusan: sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.
Hari Raya Natal, Di Desa Tunjungrejo Natal dirayakan oleh umat Kristen dengan cara pergi ke Gereja untuk berdoa kepada Tuhan kemudian dilanjutkan dengan saling berkunjung kerumah sanak saudara dan tetangga-tetangga dekat untuk merayakan hari suci lahirnya Isa Al Masih Sang Juru Selamat. Masyarakat Kristen biasanya membawa membawa bingkisan-bingkisan yang akan diserahkan kepada kerabat-kerabat atau tetangga-tetangga yang kurang mampu

Kehidupan Sosial Ekonomi
Mayoritas mata pencaharian penduduk pemeluk agama Kristen di Desa Tunjungrejo adalah sebagai petani. hamper 80% dari jumlah pemeluk agama Kristen di Desa Tunjungrejo bekerja sebagai petani dan buruh tani dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp. 4.000.000,-/bulan untuk petani dan sekitar Rp.500.000 sampai dengan 1.000.000,-/bulan. semua penghasilan tersebut tergantung dari jumlah panen yang didapatkan. jika jumlah panen banyak maka pendapatan akan semakin banyak akan tetapi jika jumlah panen sedikit maka jumlah penghasilan juga sedikit. Hasil panen masyarakat Desa Tunjungrejo disimpan di Lumbung Panceklik atau Lumbung Desa untuk berjaga-jaga bila hasil panennya sedikit.
Lumbung desa juga membantu untuk menghidupi gereja, sebagian besar bantuan dari lumbung desa untuk gereja diambil dari hasil tanah selawean (25). Tanah selawean sudah direncanakan pada masa pimpinan Setoe Brontodiwirjo pemimpin babat hutan, tetapi rencana untuk pembelian tanah selawean dapat diwujudkan pada masa pemimpinan Prawito (1910-1914), Prawito menarik dana dari warga Desa Tunjungrejo untuk membeli tahah sebagai tempat ibadah dan kegiatan-kegiatan keagamaan termasuk rumah pelayan jemaat, pesuruh gereja beserta kebunya. Dana yang dibuat untuk membeli tanah seluas 20ha yang diiuri oleh 25 orang, dan dikenal sebagai tanah selawean. 25 orang yang ikut urunan untuk membeli tanah selawean antara lain adalah: 1.Kertodiwirjo; 2. Trismani; 3. Wiryo Usodo; 4. Masirun; 5. Wiryo Sumarto; 6. Pireno; 7. Swiadi; 8. Sutami; 9. Miradi; 10. Surati; 11. Lestari; 12. Nastiti; 13. Ngarko ;14. Aryanyo; 15.Suntoko; 16. Arti;17. Kaspiyo; 18. Rusti; 19. Sumarti; 20. Tirtoadi 21. Waspodo
22. Yatno; 23. Suyatno; 24. Trismi; 25. Tartip Iprayim
Tanah selawean sekarang berupa tanah sawah dengan penggarapan dibagi 50 petak sawah yang dikerjakan oleh warga jemaat atau desa dengan sistem bagi hasil. System bagi hasilnya yaitu 50% dari jumlah penjualan hasil panen dipersembahkan untuk kepentingan gereja, dan 50% dari jumlah penjualnya lagi diambil oleh orang-orang Desa Tunjungrejo yang mengolah sawahnya. Orang yang mengolah sawah selawean adalah orang yang kurang mampu. Adanya sawah selawean membuat gereja tetap melakukan pelayanan keagamaan kepada masyarakat Kristen, yang tetap membuat agama Kristen tetap eksis sampai sekarang.

Kehidupan Sosial Budaya dan Kerukunan antar Umat Beragama di Desa Tunjungrejo

Pelaksanaan kegiatan keagamaan di Tunjungrejo biasanya menggunakan pakaian adat Jawa yaitu kebaya untuk jemaat perempuan dan beskap untuk jemat laki-laki. Penggunaan pakaian adat dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan merupakan salah satu bentuk budaya yang masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Tunjungrejo. Umat Kristen di Desa Tunjungrejo menganggap bahwa dengan memakai baju adat Jawa maka mereka ikut serta dalam upaya untuk melestarikan budaya Jawa yang mulai luntur dalam masyrakat.
Kegiatan-kegiatan keagamaan di Tunjungrejo juga memperkenalkan kesenian asli masyarakat Jawa. Kesenian yang sering diperlihatkan dalam kegiatan kegamaan di Tunjungrejo adalah wayang kulit, teater, serta karawitan. pergelaran kesenian tersebut diselenggrakan dengan tujuan untuk mengenalkan budaya Jawa kepada pemuda-pemuda Desa Tunjungrejo, karena kesenian-kesenian tersebut mulai ditingglakan oleh masyarakat akibat mulai banyaknya tontonan yang lebih modern. Pementasan kesenian biasanya diselenggarakan oleh pemuda-pemuda gereja yang dibantu dengan pengurus-pengurus gereja.
Penduduk Desa Tunjungrejo hidup secara berdampingan dengan umat beragama lain. Hubungan social yang terjalin antara umat Kristen dan umat Islam yang tinggal di Tunjungrejo berjalan dengan baik dan tidak membeda-bedakan antara pemeluk satu dengan pemeluk lainnya yang memiliki perbedaan keyakinan walaupun agama Islam adalah agama minoritas di Tunjungrejo akan tetapi tidak terjadi diskriminasi dari umat Kristen terhadap umat Islam. Tradisi yang berkembang di masyarakat Tunjungrejo yaitu adanya tradisi saling berkunjung ketika salah satu umat beragama merayakan hari raya. adanya tradisi tersebut membuktikan hubungan social budaya yang terjalin di antara penduduk Tunjungrejo cukup baik
Toleransi beragama yang ditunjukkan oleh penduduk di Desa Tunjungrejo memang sangat baik. Pada saat hari raya Natal bagi umat Kristen maka seluruh penduduk ikut merasakan suka cita Natal. Pemeluk agama Islam  berkunjung ke rumah-rumah tetangga terdekat yang beragama Kristen. Sebaliknya apabila umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri maka penduduk yang beragama Kristen datang berkunjung rumah-rumah umat Islam untuk menghormati dan ikut merayakan hari raya Idul Fitri. Hubungan social antar pemeluk agama di Desa Tunjungrejo terjalin sangat baik dengan adanya tradisi anjangsana.
Rasa kebersamaan, gotong royong dan toleransi merupakan pedoman masyarakat Tunjungrejo mampu untuk menjaga eksistensi agama Kristen di Desa Tunjungrejo sampai dengan sekarang. Perkembangan globalisasi berdampak kepada hilangnya sikap gotong royong, kebersamaan dan toleransi yang merupakan identitas masyarakat Indonesia. Kegiatan-kegiatan keagamaan di Desa Tunjungrejo mengajarkan masyarakat untuk saling bergotong royong dan memiliki sikap kebersamaan. Nilai social antar masyarakat tersebut juga harus diipertahankan sebagai identitas masyarakat Indonesia.
Kerukunan merupakan kebutuhan bersama yang tidak dapat dihindarkan di Tengah perbedaan. Perbedaan yang ada bukan merupakan penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan persatuan.
Komunitas Kristen di DusunTunjungrejo hidup secara berdampingan dengan umat beragama lain. Hubungan sosial yang terjalin antar umat Kristen dan umat Islam yang tinggal berjalan dengan baik dan tidak membeda-bedakan antara pemeluk satu dengan pemeluk agama lainnya yang memiliki perbedaan keyakinan walaupun agama Islam adalah agama minoritas di Tulungrejo akan tetapi tidak terjadi diskriminasi dari umat Kristen terhadap umat Islam. Tradisi yang berkembang adanya tradisi saling berkunjung ketika salah satu umat beragama merayakan hari raya. Sebagai contoh Pada saat perayaan Natal maka yang beragama Islam juga berkuncung ke rumah yang beragama Kristen, Pada saat Perayaan hari raya Idul Fitri Juga saling mengunjung silaturahmi. Adanya tradisi tersebut membuktikan hubungan sosial budaya yang terjalin diantara penduduk sangat baik. Dibuktikan pada saat hari raya natal pihak Gereja mengundang tokoh Agama lain untuk ikut menghadiri perayaan Natal bersama, begitupula dengan hari raya Idul Fitri, pemuka agama Islam mengundang tokoh agama Kristen untuk menghadiri dan menghormati hari raya tersebut. Hubungan sosial antar pemeluk agama terjalin sangat baik dengan adanya tradisisaling menghormati dan anjangsana.
Rasa kebersamaan, gotong royong, dan toleransi merupakan pedoman masyarakat Tulungrejo mampu untuk menjaga eksistensi Komunitas Kristen di DusunTulungrejo sampai sekarang. Perkembangan Globalisasi berdampak kepada hilangnya sikap gotong royong, kebersamaan, dan toleransi yang merupakan identitas masyarakat Indonesia. Kegiatan-kegiatan keagamaan, mengajarkan masyarakat untuk saling bergotong royong dan memiliki sikap kebersamaan. Nilai sosial antar masyarakat tersebut juga harus dipertahankan sebagai identitas masyarakat Indonesia.
Di dalam Gereja Kristen Jawi Wetan terdapat Organisasi-organisasi Gereja yang memiliki tugas di bidang masing-masing. Organisasi-Organisasi tersebut antara lain Komisi Antar Umat (KAUM). Komisi Antar Umat (KAUM) adalah Organisasi yang bertugas untuk menjaga hubungan sosial Komunitas Kristen juga menjaga hubungan sosial antar masyarakat.Pemerintah Desa berkerja sama dengan Organisasi Gereja tersebut dalam bentuk gotong royong, musyawarah, saling menghormati dan saling membantu tanpa melihat perbedaan agama. Contoh kerjasama dalam masyarakat kerjasama antar tokoh-tokoh umat kristen dengan tokoh-tokoh agama lain seperti agama Islam dan Hindu. Mereka saling mendatangi dan saling bersosialisasi tentang kehidupan masing-masing agama dan mengarah ke arah kerukunan.
Kerukunan antar umat beragama berjalan dari tahun ke tahun tanpa mengalami masalah dan hambatan. Warga yang beragama Islam hidup rukun tanpa merasa adanya diskriminasi dari agama minoritas yaitu Agama Kristen. Begitupula agama Mayoritas tidak membeda-bedakan dalam bersosialisasi dengan agama minoritas.
Keharmonisan hubungan terjalin dengan baik dengan desa-desa sekitarnya yang mayoritas beragama Islam juga terjalin dengan baik. Masyarakat Desa “ kristen” Tunjungrejo ditengah tengah masyarakat muslim di kecamatan yosowilangun kabupaten lumajang, merasakan aman, tentram dan damai.

Upacara Unduh-Unduh
Upacara unduh-unduh dirayakan setiap tahun sekali yaitu pada hari ulang tahun Desa Tunjungrejo yang jatuh pada tanggal 17 Juli. Pada Upacara unduh-unduh semua warga desa atau jemaat gereja mengumpulkan persembahan kepada Tuhan berupa hasil bumi, hal ini juga dikuti oleh masyarakat yang beragama Islam, persembahan tersebut dilakukan oleh masyarakat desa Tunjungrejo dari yang kecil sampai dengan yang tua. Masyarakat desa datang berduyun-duyun mengumpulkan persembahannya di Kantor Desa Tunjungrejo kemudian setelah persembahan terkumpul masyarakat beramai-ramai berkeliling desa dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kendaraan yang dihias dengan bermacam-macam hasil bumi. sepanjang perjalanan keliling desa menyanyikan puji-pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan. Arak-arakan berhenti di lumbung desa dan semua persembahan dikumpulkan jadi satu, didoakan, kemudian dimasukkan dalam lumbung jemaat yang letaknya dekat dengan lumbung desa

SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang dideskripsikan dalam pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa Desa Kristen Tunjungrejo merupakan Desa Kristen yang terbentuk pada tahun 1897. Desa Kristen Tunjungrejo terbentuk tidak terlepas dari adanya konflik yang ada di Mojowarno Kecamatan Jombang, yaitu konflik antara Brontodiwirjo dengan guru injil J Kruyt, akhirnya Brontodiwirjo mengajak kerabatnya untuk memutuskan keluar dari Desa Mojowarno menuju ke daerah Lumajang, Brontodiwirjo mendapat ijin dari pemerintah Belanda pada tahun 1897 untuk membuka daerah baru yang bernama Tunjung Putih. Penduduk Desa Tunjungrejo semakin lama semakin bertambah banyak setelah pedukuhan Tunjung Putih diganti dengan nama Pedukuhan Tunjungrejo, karena penduduk pedukuhan semakin ramai sehingga Pedukuhan Tunjungrejo dinaikan shtatusnya menjadi Desa Tunjungrejo sampai sekarang.
Agama Kristen di Desa Tunjungrejo sebelum tahun 1965 belum mengalami perkembangan yang pesat. Eksistensi agama Kristen di Desa Tunjungrejo terlihat sejak terjadinya perpindahan keyakinan yang dilakukan oleh penduduk di Kecamatan Yosowilangun pada tahun 1966. Latar belakang perpindahan keyakinan tersebut disebabkan adanya peristiwa G30S PKI pada tahun 1965. akibat terjadinya peristiwa G30SPKI aparatur pemerintahan dan aktivis Islam melakukan pembunuan atau pembersihan terhadap orang-orang yang dianggap PKI. Melihat kondisi yang dilakukan oleh aktivis-aktivis Islam di Yosowilangun menyebabkan sebagian pendduk memilih untuk berpindah keyakinan menjadi Kristen.
Perkembangan agama Kristen di Desa Tunjungrejo dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seperti bertambahnya jumlah pemeluk agama Kristen dan perkembangan sarana dan prasarana tempat peribadatan umat Kristen. Pada tahun 1972 dibangun kapel dan Gereja Immanuel Tunjungrejo sebagai bawahan dari Gereja Pasamuwan Tunjungrejo. Kapel di Desa Tunjungrejo berfungsi sebagai tempat pembelajaran aama Kristen terhadap anak-anak dari penduduk Desa Tunjungrejo sedangkan Gereja Immanuel Tunjungrejo berfungsi sebagai tempat sementara untuk menampung masyarakat yang tidak mendapatkan tempat ketika beribadah di Gereja Pasamuwan Tunjungrejo. Kehidupan dengan pemeluk agama Islam disekitarnya harmonis, saling menghargai dan menghormati dan saling bekerjasama, terbukti setiap ada acara saling membantu.
Aktivitas keagamaan Kristen di Desa Tunjungrejo antara lain adanya perayaan perayaan yang setiap tahunnya dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tunjungrrejo yang beragama Kristen. yaitu terdapat di acara Paskah, hari raya Natal, hari raya Unduh-unduh dan lain-lain. eksistensi agama Kristen juga dapat dilihat dari jumlah penduduk penganut Kristen, jumlah sarana prasarana umat Kristen dalam menjalankan kegiatan beragamanya.
Kehidupan masyarakat penganut Agama Kristen di Tunjungrejo dari segi social ekonomi dan social budaya dari tahun 1965-2014 terus mengalami peningkatan yang sangat baik. Dari segi social ekonomi masyarakat Tunjungrejo merupakan masyarakat yang bekerja di sector pertanian dengan lahan sebagai hak milik maupun lahan pinjam. Hubungan social antar penduduk di Desa Tunjungrejo terjalin baik. Penduduk hidup berdampingan dan menjalankan kehidupan sehari-haru sesuai dengan tradisi yang ada dalam ajaran agama masing-masing.
Kedamaian, keharmonisan hubungan terjalin dengan baik dengan desa-desa sekitarnya yang mayoritas beragama Islam. Masyarakat Desa “ kristen” Tunjungrejo ditengah tengah masyarakat muslim di kecamatan yosowilangun kabupaten lumajang, merasakan aman, tentram dan damai, hidup berdampingan dengan rukun,saling tolong menolong.

SARAN
Berkaitan dengan kesimpulan diatas, maka peneliti dapat menyampaikan beberapa saran : Bagi penerus bangsa, hendaknya mampu mencintai keragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, keberagaman tersebut harus tetap dilestarikan sebagai bentuk menjaga kebudayaan asli Indonesia. Bagi pemerintah daerah, hendaknya lebih memperhatikan tradisi yang dijalalankan oleh masyarakat, tanpa adanya perhatian khusus dari pemerintah pastinya tradisi lokal yang dimiliki masyarakat tidak dapat bertahan bertahan dalam perkembangan zaman. Pemerintah daerah juga harus melihat potensi yang ada dalam tradisi lokal di setiap daerah agar dapat dimanfaatkan dengan baik.

DAFTAR RUJUKAN
Abdurahman, D. 2007. Metode Penelitian Sejarah. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
Aritonang, J. 2004. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia
Berkhof, H. 1995. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Gottschalk, L. 2006. Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Handoyomarno. 1975. Benih Yang Tumbuh VII. Malang: Gereja Kristen Jawi Wetan Pusat.
Jebus, W. 1930. Sejarah Keluarga Raden Paing Wiryoguno. Lumajang.
Kruger, M. 1959. Sedjarah Geredja Di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Michael Walze. 1997. On Toleration.. New Haven: Yale University Press.
Nawawi, H. 1998. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: UGMPRESS
Nugroho, S. 2008. Menyintas dan Menyebrang, Perpindahan Massal Keagamaan Pasca 1965 di Pedesaan Jawa. Yogyakarta: Syarikat.
Nortier, C.W. 1979. Tumbuh Dewasa dan Bertanggungjawab. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Panitia Penulisan Sejarah Desa Tunjungrejo Ke 100 Tahun. 1997. Mengenang 1 Abad Desa Tunjungrejo tahun 1897-1997. Lumajang: Tanpa penerbit.
Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: PT Serambi ilmu semesta.
Trawaca. 1997. Mengenang 1 Abad Desa Tunjungrejo (Tahun 1897-1997). Lumajang: Tanpa Penerbit