Senin, 23 April 2018

STRATEGI MENINGKATKAN KEMAUAN DAN KEMAMPUAN BELAJAR SISWA


Haris Lifiatno

Abstrak: Tidak jarang orang tua melihat putra putinya menjadi bingung dan bertanya-tanya, kenapa anak yang mula pertamanya begitu aktif dan kreatif, bisa menggambar dan mengekspesikan dirinya melalui bentuk coretan demikian spontan, bebas dan tanpa beban, demikian pula dalam bentuk seni mereka bebas menyanyi, menari, bersuara begitu menikmati dengan rasa senang. Namun belakangan setelah ia masuk sekolah di jenjang sekolah lanjutan, dalam keseharian ia bagai orang yang memiliki beban berat, yang ada hanya ekspresi kelelahan tanpa semangat untuk belajar. Disisi lain ia dituntut untuk berprestasi menggapai tingkat lanjutan yang dipilihnya. Kondisi yang demikian ini, kita tidak bisa menyalakan siapapun, karena demikianlah tuntutan pendidikan saat ini dari jenjang sekolah dasar hingga menengah. Untuk menjawab ini semua, maka kita tentu bertanya, “adakah suatu strategi belajar yang mampu membuat anak atau siswa lebih enjoi dan senang dalam belajar”?. Inilah yang harus kita pecahkan tidak hanya oleh guru tetapi siswa, dan orang tuapun harus mengetahui.

Kata Kunci: Meningkatkan Kemauan Dan Kemampuan Belajar

PENDAHULUAN.
Tanggungjawab utama bagi para pendidik adalah memastikan secara terus menerus kepada anak didiknya, apakah si siswa dapat belajar dengan baik ataukah siswanya merasakan kesulitan menerima informasi dalam belajarnya. Pakar pendidikan dan pakar psikologi, telah banyak mengungkapkan berbagai tiori pembelajaran untuk memudahkan siswa dalam belajar. Seperti teori behaviori stik, teori humanistik, teori konstruktif, teori-teori ini mengajarkan bagaimana seorang guru melakukan proses pembelajaran di dalam kelas, serta bagaimana membuat siswa senang untuk belajar yang nantinya berdampak pada peningkatan prestasi belajarnya. Namun demikian pada realitanya masih ada beberapa siswa dan kelompok siswa yang masih kurang beruntung dalam belajar meningkatkan prestasi belajarnya.
Selain guru bekerja keras untuk mengupayakan peningkatan prestasi belajar siswanya, sisi lain yang perlu harus dipahami bahwa usaha meningkatkan prestasi siswa tidaklah menjadi tanggungjawab satu-satunya dan dipasrahkan sepenuhnya kepada guru, melainkan adanya kerjasama yang saling melengkapi antara guru dan usaha siswa dalam belajar. Kemudian timbul pertanyaan; “mengapa demikian pentingnya, usaha yang dilakukan siswa?”.
Siswa sebagai pihak pebelajar tentunya dalam menerima perkembangan informasi, saat ini tidaklah tergantung pada penyampaian materi oleh guru semata, karena guru sebagai pendidik adalah fasilitator untuk membantu siswa dalam me-mecahkan permasalahanya sendiri dalam belajar. Bagaimanapun usaha dan upaya guru yang dilakukan untuk membantu siswa dalam belajar, tanpa ada usaha dan kemauan siswa itu sendiri dalam belajar, maka yang namanya prestasi jauh untuk didapatkan siswa. Uno H.B. (2008) menjelaskan bahwa, siswa yang belajar harus berperan secara aktif membentuk pengetahuanya.
Disisi lain Bettencuort C. (1994), telah menegaskan bahwa semua penge tahuan yang kita peroleh adalah konstruksi kita sendiri, mereka menolak adanya kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada orang yang lain, dan dijelaskan pula bahwa sebagian besar dari apa yang dipelajari dan dipahami se-seorang ditentukan oleh individu itu sendiri dan menjadi siswa yang mandiri.
Untuk menjadi mandiri, Johnson (2009) mengharuskan siswa untuk be-kerja sendiri maupun secara kelompok, siswa harus bisa mengajukan pertanyaan menarik, membuat pilihan yang bertanggung jawab, berpikir kritis dan kreatif, memiliki pengetahuan tentang diri sendiri dan bekerja sama serta memecahkan semua masalah pembelajaran secara mandiri.

PEMBAHASAN
Ketika melihat siswa menunjukkan ekspresi bingung, loyo, dan tidak bersemangat dalam belajar, serta sering mendapatkan tekanan untuk belajar, tentunya siswa tersebut mengalami permasalahan baik dalam belajar maupun masalah yang lain dan ini perlu ada solusi pemecahanya. Pemecahan terhadap suatu masalah yang timbul dari pembelajaran yang dialami oleh masing-masing siswa tentunya berbeda, hal ini tergantung dari gaya belajar yang dimilikinya. Johnson (2009), menyampaikan bahwa belajar mandiri membebaskan para siswa untuk menggunakan gaya belajar mereka sendiri, maju dalam kecepatan mereka sendiri, menggali minat pribadi, dan mengembangkan bakat mereka dengan menggunakan kecerdasan majemuk yang mereka sukai.
Hal ini jelas sekali bahwa kreatifitas belajar individu secara mandiri adalah kunci sukses dalam mempercepat peningkatan prestasi belajar siswa. Usaha-usaha yang harus dilakukan siswa dalam mencapai prestasi tidak lain bahwa siswa harus rajin, kerja keras dalam memecahkan masalah sendiri yang terkait dengan belajarnya. Jika hal ini sudah dilakukan oleh siswa secara mandiri, maka percepatan pencapaian peningkaan prestasi tentu akan terwujud.
Peningkatan prestasi belajar bagi siswa, adalah hal yang paling didamba- kan dan diinginkan oleh setiap individu. Usaha-usaha atau kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dalam upaya meningkatkan prestasi belajarnya salah satunya adalah, “mengenal gaya belajar apa saya ini dalam belajar?”.
Kegiatan belajar dapat dijalankan dengan baik, tepat, dan berhasil, jika siswa tersebut memiliki strategi belajar yang dapat membantu mereka dalam mengoptimalkan kegiatan belajarnya. Arends (1997), menyatakan bahwa strategi belajar siswa merujuk kepada perilaku dan proses pikiran yang digunakan siswa terhadap apa yang dipelajarinya. Selanjutnya Slavin (2000) menyatakan bahwa strategi belajar harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa. Pandangan ini diperkuat oleh Degeng (2007) yang menyatakan bahwa strategi belajar yang digunakan siswa sangat menentukan proses dan prestasi belajarnya.
Hal tersebut diatas sesuai konsepsi dalam tiori gaya belajar yang disampai kan oleh Gomes J. (1999), bahwa gaya belajar visual, auditif, aktif dan yang lain yang dimiliki siswa dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Ada kala-nya siswa bergaya belajar aktif unggul dalam prestasi belajar daripada siswa ber-gaya belajar visual, tetapi ada kalanya justru sebaliknya yang terjadi. Hal ini bergantung pada karakteristik siswa, serta sifat materi atau bahan ajar dalam proses pembelajarannya.
Gomez Juga menekankan, betapa pentingnya kita mengetahui proses pembelajaran dan cara belajar atau gaya belajar individu-individu sebagai kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Jurnal Pendidikan TIGAENF: 1999), hal ini diperjelas oleh Nick (2010), bahwa Gaya belajar mempengaruhi cara belajar siswa dan karakter kognitif, afektif dan perilaku psikologis yang menjadi idikator stabil terhadap cara pandang siswa, interaksi siswa dan cara merespon lingkungan belajarnya.
Gaya belajar secara sederhana dapat dikatakan sebagai cara-cara belajar yang dimiliki oleh setiap individu. Pada dasarnya setiap individu ketika belajar tidaklah memiliki kesamaan dalam mempermudah untuk menyerap informasi. Contoh yang konkrit adalah: ada siswa yang bisa belajar dengan mendengarkan suara saja cukup, ada siswa yang belajar dengan mendengarkan suara musik baru bisa nyaman belajarnya, ada pula siswa yang mudah dalam belajar jika kondisi lingkunganya sepi tanpa ada keramaian.
Berdasarkan pendapat dari beberapa akhli tersebut di atas maka dapat dinyatakan bahwa gaya belajar yang dimiliki individu untuk meningkatkan kualias belajarnya, dapat mempengaruhi cara belajar siswa, karakter kognisi, afektif dan perilaku psikologis siswa dalam merespon linkungan belajarnya. Dengan demikian siswa akan mencari dan mengulang model belajarnya dalam meningkatkan pemahaman terhadap setiap informasi yang ditangkap.

Tiori Gaya Belajar (style learning)
Setiap Individu tentunya memiliki gaya belajar, gaya belajar yang dimiliki oleh setiap individu tentunya tidak sama antara individu yang satu dengan yang lain. Ketika ada suatu masalah yang muncul, tentunya perlu sekali untuk memecahkanya masalah yang muncul itu, disinilah akan terlihat bahwa setiap individu memiliki persepsi dan kemampuan intelektual yang berbeda. Pada saat pemecahan masalah tersebut, tentunya gaya belajar adalah kunci yang dapat dipergunakan untuk me-ngembangkan kinerja, baik dalam pekerjaan di sekolah, dikantor dan dalam situasi antar pribadi disetiap individu.
Ketika seseorang atau individu menyadari bagaimana ia dan orang lain menyerap dan mengolah informasi, maka seseorang itu dapat menjadikan belajar dan berkomunikasi yang lebih mudah dengan menggunakan gaya belajar (style learning) yang telah mereka temukan sendiri.
Gaya belajar (style learning) adalah perbedaan yang dimiliki oleh setiap individu dalam belajar (Kolb, D. 1984). Gaya belajar individu "adalah cara ia atau individu tersebut berkonsentrasi pada proses internalisasi, mengingat hal baru, dan ketrampilan menerima informasi akademik" (Shaughnessy, 1998). Dunn at al. (1995), bahwa gaya belajar (style learning) adalah cara seseorang memproses dan menerima pengetahuan baru, dan gaya belajar tergantung kepada ciri-ciri biologi dan perkembangan sosial seseorang, sehingga Masing-masing individu memiliki pendekatan belajar yang berbeda.
Pendekatan belajar pada masing-masing individu tentunya berbeda, cara belajar individu berbeda ini karena adanya perbedaan dalam gaya belajar mereka, demikian pula metode belajar seseorang yang relatif stabil merupakan indikator tentang bagaimana mereka melihat, berinteraksi, dan merespon lingkungan belajar (Sims, 1995).
Memahami gaya belajar dan peran gaya belajar dalam proses belajar adalah komponen utama dalam belajar yang efektif. Sarasin (1999) menyatakan bahwa "mengajar tidak bisa sukses tanpa pengetahuan tentang gaya belajar dan komitmen untuk mencocokkannya dengan gaya dan strategi pembelajaran".
Di beberapa sekolah dasar dan sekolah lanjutan di Amerika, para guru menyadari bahwa setiap orang mempunyai cara yang optimal dalam mempelajari informasi baru. Mereka memahami bahwa semua murid perlu diajarkan cara-cara yang lain dari metode mengajar standar. Jika murid ini diajar dengan mengetahui gaya belajar yang berbeda ini, akan dapat membantu guru dimanapun untuk dapat mendekati semua atau hampir semua murid, hanya dengan menyampaikan infor-masi dengan gaya murid atau gaya siswa yang berbeda beda (DePorter, 2002).
Secara umum telah disepakati bahwa tujuan ditemukan gaya belajar (style learning) adalah untuk mengatasi belajar seseorang agar dapat dengan mudah menyerap, mengatur dan kemudian mengelola informasi untuk dipahami. Dalam artian bahwa secara umum terdapat 2 kategori tentang bagaimana kita belajar:
  1. Bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah (Modalitas).
  2. Bagaimana cara mengatur dan mengelolah informasi tersebut ( DePorter, 2002).

Model Gaya Belajar.
Model gaya belajar yang dikembangkan oleh Richard Felder dan Linda Silverman (1996), bahwa gaya belajar mencakup empat dimensi yaitu : (1) Pebelajar aktif-reflektif, (2) Pebelajar penginderaan intuitif, (3) Pebelajar visual-verbal, (4) Pebelajar skuensial-global. Model gaya belajar Felder silvermen ini memiliki empat dimensi yaitu :
Untuk dimensi pertama membedakan antara aktif dan reflektif dalam mengolah informasi. Pelajar aktif, paling baik dalam belajar dengan bekerja secara aktif dengan bahan-bahan pembelajaran, pelajar aktif lebih cenderung tertarik berkomunikasi dengan orang lain, lebih memilih bekerja dengan kelompok agar bisa mendiskusi kan tentang bahan belajar. Sebaliknya lebih suka belajar reflektif untuk memikirkan dan merenungkan materi.
Dimensi kedua meliputi pengindraan versus intuitif. Pelajar yang gaya belajarnya model ini lebih suka belajar fakta, mereka suka memecahkan masalah dengan pendekatan standar dan lebih suka terinci. Pelajar pengindraan ini dianggap lebih realistis dan masuk akal, mereka cenderung lebih praktis daripada pelajar yang intuitif. Sebaliknya pelajar yang intuitif suka belajar yang sifatnya abstrak, seperti belajar teori dan makna serta lebih inovatif dan kreatif.
Dimensi ketiga adalah visual & verbal, pelajar yang bergaya belajar ini adalah pelajar terbaik dalam mengingat. Pelajar ini lebih suka belajar dari apa yang telah mereka lihat (misalnya gambar, diagram, flow-chart). Dimensi keempat adalah pelajar yang ditandai skuensial dan Global, Pelajar yang demikian belajarnya dalam langkah yang berurutan dan mereka cenderung mengikuti jalur stepwise logis dalam mencari solusi. Sebaliknya pelajar Global menggunakan proses berpikir holistik dan belajarnya melompat-lompat. Mereka cenderung menyerap materi pembelajaran secara acak namun memiliki gambaran yang luas dalam memecahkan masalah. Pelajar ini cenderung tertarik pada pandangan dan pengetahuan yang luas sedangkan pelajar skuensial tertarik pada hal yang rinci.
Disisi lain model gaya belajar De-Porter (2002) memiliki 3 macam gaya belajar, yaitu; a. Gaya belajar visual; b. Gaya belajar auditif; dan yang ketiga adalah c. Gaya belajar kinestetik. Pada masing gaya belajar model De-Porter memiliki instrumen pengukuran yang berupa pertanyaan, gunanya instrumen ini adalah untuk menempatkan pada posisi mana masing-masing individu memiliki dari satu diantara tiga gaya belajar yang disebutkan (De-Porter, 2002).
Berikut adalah Model gaya belajar (style learning) yang penulis Adopsi dari ( De-Porter, 2002), Instrumen gaya belajar De-Porter ini memiliki kemudahan untuk diimplementasikan pada siswa sekolah tingkat dasar, maupun tingkat menengah, baik siswa SD, SMP maupun siswa tingkatan SMA/SMK. Kondisi tabel isian dibawah ini merupakan kumpulan dari beberapa pertanyaan yang akan membawa pada setiap individu untuk menjawab dan kemudian menjumlahkan dari setiap jawaban yang sudah tertulis dalam tabel.


Angket Gaya Belajar
Angket gaya belajar ini fungsinya untuk mengetahui gaya belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswa, dan setiap individu siswa pasti memiliki 1 (satu) diantara ke-3 gaya belajar tersebut.
Petunjuk : Tandailah kotak yang sesuai untuk setiap pertanyaan. Jumlahkan nilai anda untuk setiap bagian
Visual :

Sering
Kadangkadang
Jarang
  • Apakah Anda rapi dan teratur ?



  • Apakah Anda berbicara dengan cepat ?



  • Apakah Anda perencana dan pengatur jangka panjang yang baik ?



  • Apakah Anda pengeja yang baik dan dapat-kah Anda melihat kata-kata dalam pikiran Anda?



  • Apakah Anda lebih ingat apa yang dilihat daripada yang didengat ?



  • Apakah Anda menghafal dalam asosiasi visual ?



  • Apakah Anda sulit mengingat perintah lisan kecuali jika dituliskan, dan apakah Anda sering meminta orang mengulang ucapannya ?



  • Apakah Anda lebih suka membaca daripada dibacakan ?



  • Apakah Anda suka mencoret-coret selama menelpon/menghadiri rapat ?



  • Apakah Anda lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato ?



  • Apakah Anda lebih suka seni daripada musik ?



  • Apakah Anda tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak terpikir kata yang tepat ?




Subtotal

..x 2
.. x 1
x 0
Jumlah Total
………

Auditif :


Sering
Kadangkadang
Jarang
  • Apakah Anda berbicara kepada diri sendiri saat bekerja?



  • Apakah Anda mudah terganggu dengan keributan ?



  • Apakah Anda menggerakkan bibir / melafalkan kata saat membaca ?



  • Apakah Anda suka membaca keras-keras dan mendengarkan ?



  • Dapatkah Anda mengulang dan menirukan nada, perubahan dan warna suara ?



  • Apakah Anda merasa menulis itu sulit, tetapi pandai bercerita ?



  • Apakah Anda berbicara dengan pola beriama ?



  • Apakah menurut Anda, anda adalah pembicara yang fasih ?



  • Apakah Anda lebih suka seni daripada musik ?



  • Apakah Anda belajar melalui mendengar dan meng-ingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat ?



  • Apakah Anda banyak bicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan panjang lebar ?



  • Apakah Anda lebih baik mengeja keras-keras daripada menuliskannya ?



Subtotal

.. x 2
x 1
x 0
Jumlah Total
……..

Kinestetik :

Sering
Kadangkadang
Jarang
  • Apakah Anda berbicara dengan lambat ?



  • Apakah Anda menyentuh orang untuk mendapat perhatiannya ?



  • Apakah Anda berdiri dekat-dekat saat berbicara dengan seseorang ?



  • Apakah Anda berorientasi pada fisik dan benyak bergerak ?



  • Apakah Anda belajar melalui manipulasi dan praktik ?



  • Apakah Anda menghafal dengan berjalan dan melihat ?



  • Apakah Anda menggunakan jari untuk menunjuk saat membaca ?



  • Apakah Anda banyak menggunakan isyarat tubuh ?



  • Apakah Anda tak bisa duduk tenang untuk waktu lama?



  • Apakah Anda membuat keputusan berdasarkan perasaan ?



  • Apakah Anda mengetuk-ngetuk pena, jari, atau kaki saat mendengarkan ?



  • Apakah Anda meluangkan waktu untuk berolahraga dan kegiatan fisik lainnya ?



Sub Total

x 2
.x 1
.x 0
Jumlah Tutal
……
Cara-cara Belajar.
Setelah diketemukan gaya belajar masing-masing individu atau siswa, maka berikutnya yang harus dipahami adalah bagaimana cara belajarnya masing-masing dari setiap gaya belajar. Setiap individu atau siswa akan perlu menggunakan strategi khusus untuk masuk ke dalam cara bagaimana ia belajar.  For example,  if you are a visual learner, you could use a highlighter when reading a text book. Misalnya, jika ia seorang pebelajar visual, ia bisa menggunakan stabilo ketika membaca buku teks. The bright color would appeal to your artistic sense and help you concentrate on the reading. Warna cerah akan menarik rasa seni mereka dan akan membantunya ber-konsentrasi saat melakukan kegiatan mebaca sebuah bacaan.
Here are some more practical suggestions pertaining to each learning style: Berikut adalah beberapa saran praktis untuk dilakukan oleh individu, yang berhubungan dengan setiap gaya belajar (style learning) yang dimilikinya:
Visual Learners:Pebelajar atau Siswa Visual:
  • use visual materials such as pictures, charts, maps, graphs, etc.Belajarnya menggunakan bahan visual seperti gambar, grafik, peta, grafik, dll
  • have a clear view of your teachers when they are speaking so you can see their body language and facial expressionDi kelas memiliki pandangan yang jelas tentang guru anda ketika mereka berbicara sehingga anda dapat melihat bahasa tubuh dan ekspresi wajah
  • use colour to highlight important points in textPergunakan warnayg cerah untuk menyorot poin penting dalam buku teks
  • take notes or ask your teacher to provide handoutsMencatat atau meminta guru anda untuk memberikan handout
  • illustrate your ideas as a picture or brainstorming bubble before writing them downMengilustrasikan ide-ide anda sebagai gambar atau brainstorming bubble sebelum menuliskannya
  • write a story and illustrate itMenulis cerita dan menggambarkan itu
  • use multi-media (eg computers, videos, and filmstrips)Menggunakan multi-media (misalnya komputer, video, dan filmstrips)
  • study in a quiet place away from verbal disturbancesBelajar di tempat yang tenang jauh dari gangguan lisan
  • read illustrated booksMembaca buku-buku dan diilustrasikan
  • visualize information as a picture to aid memorizationMemvisualisasikan informasi sebagai gambar untuk membantu menghafal
Auditory Learners: Pebelajar atau Siswa Auditif / Auditori:
  • participate in class discussions/debates Berpartisipasi dalam diskusi kelas / perdebatan
  • make speeches and presentations Menyampaikan pidato dan presentasi
  • use a tape recorder during lectures instead of taking notes Menggunakan tape recorder selama kuliah bukannya mencatat
  • read text out aloud Membaca teks keras-keras
  • create musical jingles to aid memorization Membuat jingle musik untuk membantu menghafal
  • create mnemonics to aid memorization Membuat nemonik atau sandi untuk membantu menghafal
  • discuss your ideas verbally Mendiskusikan ide-ide Anda secara lisan
  • dictate to someone while they write down your thoughts Mendikte seseorang sementara mereka menuliskan pemikiran Anda
  • use verbal analogies, and story telling to demonstrate your point Menggunakan analogi verbal, dan bercerita untuk menunjukkan titik Anda
Tactile/Kinesthetic Learners Pebelajar atau Siswa Kinestetik.
  • take frequent study breaks Ketika membaca, istirahat sering adalah penting
  • move around to learn new things (eg read while on an exercise bike, mold a piece of clay to learn a new concept) Bergerak di sekitar untuk belajar hal-hal baru (misalnya membaca dengan berjalan, corat-coret di tanah untuk belajar konsep baru)
  • work at a standing position Bekerja di posisi berdiri
  • chew gum while studying Mengunyah permen karet selama belajar
  • use bright colors to highlight reading material Menggunakan warna-warna cerah untuk menyorot bacaan
  • dress up your work space with posters Berdandan ruang kerja Anda dengan poster
  • if you wish, listen to music while you study Jika Anda ingin, dengarkan musik sementara dan lanjutkan Anda belajar
  • skim through reading material to get a rough idea what it is about before settling down to read it in detail. Skim melalui bahan bacaan untuk mendapatkan gambaran kasar tentang apa itu sebelum menetap di bawah untuk membacanya secara rinci (De-Poter, 2000).
SIMPULAN
Gaya belajar (style learning) adalah Perbedaan cara belajar yang dimiliki oleh setiap individu dalam menerima atau mencerna setiap informasi. Dengan memahami gaya belajar maka setiap individu akan mengalami kemudahan belajar yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan prestasi belajarnya. Memang tidak dipungkiri bahwa beberapa temuan penelitian terdahulu menyata kan pada dasarnya gaya belajar yang dimiliki siswa tidak ada pengaruhnya yang signifikan terhadap peningkatan prestasi. Seperti yang dinyatakan oleh (Claxton CS 2007, 2001; Soylu M.Y, 2002; Montemayor E.,at.al, 2009) dalam temuan pe-nelitiannya bahwa gaya belajar tidak berpengaruh terhadap prestasi siswa maupun sikap yang dimiliki siswa. Hal tersebut juga diperjelas oleh temuan (Sarasin, 1999; Graf at al., 2005; Sabine G. at.al., 2007; Jonson, 2009) bahwa gaya belajar untuk meningkatkan kemampuan dan kemauan belajar siswa, untuk membuat siwa menjadi lebih mudah belajarnya, dan gaya belajar dapat diterapkan dalam strategi, juga teknologi belajar.
Beberapa penelitian tentang dampak gaya belajar terhadap prestasi belajar memang tidaklah signifikan, namun dengan mengetahui gaya belajar ini setiap individu akan menemukan cara belajarnya dan akan merasa senang dalam belajarnya. Kesenangan dalam belajar inilah yang akan membawah arah siswa untuk belajar menjadi lebih baik, kemauan belajar lebih baik, yang pada akhirnya memiliki dampak pada prestasi pada setiap siswa.


DAFTAR RUJUKAN
Bettencourt, C. 1994, What is Constructivism and Why are they All Talking about It? Michigan: Michigan State University.

Claxton CS, Murrell PH, 1987. Learning Styles. Washington, DC: George Washington University.

De-Porter Bobbi.1992. Quantum Learning, New York: Dell Publishing.

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­ De-Porter Bobbi, 2002. Quantum Teaching, Bandung: CV. KAIFA.

Dunn, R. S. A., Griggs, J., Olson, 1995. A meta-analytic validation of the Dunn and Dunn learning style model, Journal of Educational Research, 88(6), 353-361.

Gomes, J., 1999. Gaya Pembelajaran: Satu Tinjauan Literatur, dalam Jurnal Pendidikan TIGAENF, Departemen Ilmu Pendidikan MPSK.

Johnson E.B., 2009. Contectual Taeching & Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikan dan Bermakna, Terjemah Ibnu Setiawan, Penerbit: Kaifah, Ujung Berung Bandung.

Montemayor E, atal., 2009. Learning style of high and low academic achieving freshman teacher education students: an application of the Dunn and Dunn’s learning style model. University of Cardilleras, 01 (4):71.

Sarasin, L.C., 1999. Learning style perspectives: Impact in the clasroom, Madison, WI: Atwood Publishing.

Uno, H. B., 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Wen Sayling. 2002. Future Of Education: Masa Depan Pendidikan. Batam Center: Lucky Publisher.