Senin, 23 April 2018

SEJARAH BATIK COTTO’AN DI DESA PELEYAN

Sugiyanto, Sumarno, dan Risqi R.A.P.

Abstrak: Latar Belakang Berdirinya Batik Cotto’an di Desa Peleyan Batik Cotto’an
berasal dari Dusun Cotto’ Desa Peleyan Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo.
Desa Peleyan saat ini menjadi salah satu pusat industri batik khas yang terkemuka di
Kabupaten Situbondo. Pecinta batik Situbondo tentu mengenal Desa Peleyan sebagai desa
penghasil batik khas Situbondo sejak tahun 1950 dan berlangsung hingga saat ini. Namun,
produksi batik Cotto’an di Desa Peleyan ini pernah mengalami mati suri dan bangkit
kembali pada tahun 2010, setelah diakuinya batik oleh UNESCO sebagai warisan budaya
dari Indonesia. Dalam kurun waktu 30 tahun, tercipta beberapa morif utama batik
Cotto’an yang bercorak pedalaman dan bermotif seperti batik Madura. Ciri khas yang
ditampilkan batik Cotto’an tahun 1950-1980 adalah tumbuhan alam seperti bunga dan
daun. Hampir disetiap karya kain batiknya selalu mengkombinasikan bunga, daun, tali
sambung, titik-titik juga dengan motif kabung dan parang. Setiap motif tidak hanya
memiliki ciri khas tersendiri, melainkan juga mempunyai makna dan arti filosofi yang
berbeda.

Kata Kunci: Batik Cotto’an

PENDAHULLUAN

Batik merupakan salah satu kebudayaan yang berasal dari Indonesia. Sejarah
perbatikan di Indonesia sering dikaitkan dengan Kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam
di Pulau Jawa. Hal ini dibuktikan dengan penemuan arca dalam Candi Rimbi dekat
Jombang yang menggambarkan sosok Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, memakai
kain batik bermotif kawung (Wulandari, 2011:12). Batik secara historis berasal dari zaman
nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar.
Saat itu motif atau pola batik masih didominasi oleh bentuk makhluk hidup, khususnya
binatang dan tumbuhan. Seiring perkembangannya, motif batik terus bermunculan seperti
motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang dan sebagainya. Batik
merupakan kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan malam
pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu yang memiliki
kekhasan. Berdasar pengertian ini batik tidak saja merujuk pada kain yang memiliki motif
atau corak tertentu, namun lebih kepada proses pembuatannya yang tercipta dari tangan-
tangan perajin batik dengan sentuhan seni dan dedikasi yang tinggi.
Di Jawa, teknik penggunaan cairan malam ini dilakukan dengan cara menitikkan
malam menggunakan alat. Karena itu ada yang berpendapat kata batik berasal dari bahasa
Jawa Kuno: titi yang berarti teliti, atau mbatik yang berarti membuat titik. Jadi kata batik
sebenarnya berarti proses menghias kain dengan cara menahan warna, dalam hal ini
menggunakan malam (Tjahjani, 2013:2). Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik,
teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah
ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi
(Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.
Kebanggan dan kebahagiaan ini sejatinya harus kita lestarikan disetiap diri penerus
bangsa. Pemerintah Indonesia memiliki peran terhadap pelestarian batik sebagai warisan 1
______________________________________________________________
Drs. Sugiyanto, M.Hum , Dr. Sumarno, M.Pd adalah Dosen PIPS FKIP UNEJ
Risqi R.A.P, S.Pd adalah Alumni FKIP UNEJ
1Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
2 budaya dari Indonesia, salah satunya dengan menetapkan tanggal 2 Oktober diperingati
sebagai Hari Batik Nasional. Setidaknya, setiap tanggal 2 Oktober setiap tahunnya,
kalangan masyarakat dari segala usia memakai batik yang merupakan warisan budaya
Indonesia. Selain itu, peran pemerintah dalam pemberdayaan industri batik juga terus
dikembangkan. Apa yang telah dilakukan pemerintah sangat berarti bagi masyarakat yang
bergantung pada industri batik. Hal tersebut membuat semakin menjamurnya industri batik
di daerah-daerah baik sebagai home industri maupun pabrik batik skala besar sekalipun.
Kini disetiap daerah mempunyai batik khas dengan motif yang berbeda. Motif
tersebut berasal dari kekayaan dimasing-masing daerah. Tak terkecuali motif kerang yang
merupakan batik khas Situbondo, daerah yang sebagian wilayahnya pesisir pantai utara
(Anshori, 2011:55). Kabupaten Situbondo merupakan kabupaten yang hampir secara
keseluruhan masyarakatnya bekerja pada sektor agribisnis dan sektor kelautan perikanan,
hal tersebut dikarenakan wilayah Kabupaten Situbondo sebagian besar pesisir. Namun
potensi pertanian maupun perikanan tidak dioptimalkan dengan baik. Pada tahun 2007,
tercatat angka pengangguran di Kota Santri tersebut tembus 19 ribu. Hal ini tentu
mendorong pemerintah bertindak cepat menanggulangi masalah lapangan kerja.
Wiraswasta, menjadi pilihan bijak yang bisa dijadikan lapangan kerja baru, misalnya
seperti membuka Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Batik Jawa Timur yang termasuk
jenis pertama adalah batik (Djoemena,. 1990:3). Penelitian ini fokus pada Sejarah batik
cotto’an di desa Peleyan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian sejarah. Adapun dalam metode sejarah tersebut
dibagi menjadi empat tahap, yaitu: 1. Heuristik, 2. Kritik, 3. Interpretasi, dan 4.
Historiografi (Gottschalk, 1986:32). Heuristik merupakan langkah awal dalam penyusunan
sebuah cerita sejarah yaitu langkah mencari, menemukan dan mengumpulkan jejak-jejak
masa lampau yang relevan untuk menyusun sejarah masa lampau. Kejadian-kejadian
diceritakan dalam kronologis, dari awal sampai akhir. Beberapa peristiwa juga perlu diatur
menurut urutan kronologis (Kartodirdjo, 1992:60). Tahap selanjutnya adalah kritik sumber.
Kritik sumber merupakan langkah yang dilakukan oleh peneliti sejarah untuk menyaring
sumber-sumber yang telah dikumpulkan secara kritis agar terjaring fakta yang menjadi
pilihan, baik terhadap materi sumber maupun terhadap substansi sumber (Kuntowijoyo,
1995:89). Tahap selanjutnya adalah Interpretasi yaitu menyimpulkan sumber-sumber
sejarah dengan dianalisis berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan yang meliputi apa,
siapa, kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa (Kartodirdjo, 1992:32).Langkah terakhir
dalam penulisan sejarah ialah historiografi atau penulisan sejarah.

PEMBAHASAN DAN PEMBAHASAN
LATAR BELAKANG BERDIRINYA INDUSTRI BATIK COTTO’AN DI DESA
PELEYAN

Latar Belakang Berdirinya Industri Batik Cotto’an Di Desa Peleyan Tahun 1950-
1980
Batik tulis di Desa Peleyan telah dikenal oleh para perempuan di Desa Peleyan
sejak zaman Hindia Belanda. Bermula ketika Enjuk Bayan yang berasal dari Pulau Madura
menetap di Desa Peleyan Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo. Enjuk Bayan yang
memiliki keterampilan membuat batik tulis khas Madura melanjutkan kegiatannya
2Sejarah Batik Cotto’an Di Desa Peleyan...( Sugiyanto, dkk)
membuat batik tulis di Desa Peleyan, namun batik tulis yang dibuat hanya digunakan untuk
keperluan rumah tangga, bukan untuk dipasarkan. Enjuk Bayan membuat batik untuk
digunakan sebagai pakaian, sewek/samper, odheng, dll. Dahulu memang kain batik sangat
jarang di Situbondo. Namun kain batik yang memiliki corak dan motif yang unik, apalagi
motif batik Madura yang saat itu terkenal di Jawa Timur, membuat masyarakat sekitar
Enjuk Bayan yang melihatnya tertarik untuk memiliki kain batik sendiri (Wawancara
dengan Dari 15 April 2017). Berdasarkan keterangan dari narasumber yang bernama Dari,
cucu Enjuk Bayan, bahwa batik Cotto’an bercorak seperti batik Madura. Hal tersebut
dikarenakan asal Enjuk Bayan. Enjuk Bayan menurunkan keterampilannya membatik
kepada anaknya, Dul dan cucunya, Sahriya. Kehidupan keluarga Enjuk Bayan awalnya
tidak bergantung ke batik, namun ke pertanian. Dul dan Sahriya inilah yang kemudian 35
36 memberi pelatihan membuat batik tulis kepada para perempuan di sekitar rumah mereka
yang memang ingin belajar. Mereka yang mendapat pelatihan batik tulis terdiri dari ibu
rumah tangga dan anak perempuan. Bahan dan alat yang digunakan untuk melakukan
pelatihan batik tulis didapat di salah satu toko milik orang Cina di daerah Asembagus.
Masyarakat yang ikut dalam pelatihan terlihat antusias mengikuti pelatihan membatik
(Wawancara dengan Dari 15 April 2017). Melihat sebagian masyarakat Desa Peleyan bisa
membatik, pada 1950 beberapa warga Desa Peleyan yaitu: H. Khadir; H. Dafir; Hj.
Aminah; & Hj. Kultsum, membiayai produksi batik Cotto’an dan memasarkannya ke
beberapa pasar di Situbondo. Industri batik Cotto’an ini dipimpin langsung oleh Sahriya
dan putrinya, Dari, dalam kegiatan produksi. Beberapa warga Desa Peleyan yang
mempunyai keterampilan membatik bergabung dalam industri pembuatan batik Cotto’an.
Batik yang dihasilkan nantinya dapat dipasarkan untuk menambah penghasilan. Hal ini
sekaligus dilakukan untuk mendukung pemerintah dalam menumbuhkembangkan industri
demi perbaikan perekonomian rakyat. Perbatikan di Desa Peleyan bisa berkembang dan
didukung oleh Camat Kapongan dan Kepala Desa Peleyan saat itu. Kepala Desa Peleyan
yang bernama Mawardi sangat menaruh minat kepada batik Cotto’an yang diproduksi oleh
Sahriya dan Dari. Tercatat mereka memberikan bantuan berupa alat-alat batik seperti
canting, wajan, malam, yang didatangkan dari Solo, Jawa Tengah. Kepala Desa Peleyan
mengoordinasi perempuan yang bisa membatik agar bergabung dalam industri batik
Cotto’an dari tahun 1950-1980 (Wawancara dengan Dari 15 April 2017). Zaman kejayaan
batik Cotto’an berlangsung mulai tahun 1950-1980. Pemasaran batik Cotto’an di pasar
Cermee, pasar Situbondo, pasar Asembagus dan pasar Prajekan. Ciri khas Batik Cotto’an
adalah menggunakan bahan yang disebut ourpos, malam tawon, dan malam Jepang. Motif
batik bernafas pedalaman dan pedesaan, dengan warna sogan dengan dominasi coklat,
hitam dan putih Beberapa motif ada kombinasi warna merah dan biru. Batik ini pernah
mengalami masa surut, karena kurangnya pengetahuan dan terbatasnya akses dengan
suplier 37 bahan pembatikan. Bahan pewarna waktu itu diperoleh di Asembagus dengan
jenis pewarna bernama beddelen atau soge. Berakhirnya produksi batik Cotto’an tahun
1980 dikarenakan penjual bahan pewarna yaitu orang Cina sudah meninggal dunia dan
usahanya tidak dilanjutkan oleh penerusnya. Penyebab lain adalah Dari yang hanya
memproduksi batik tulis, sedangkan di pasaran telah menjamur batik cap dan batik
printing. Selain itu dalam kurun waktu 10 tahun, terjadi pengurangan tenaga kerja, dimana
proses produksi batik tidak lagi dilakukan di rumah Dari, melainkan di rumah pembatik
yang masih bertahan. Dengan berkurangnya tenaga kerja, tentu berdampak pada hasil
produksi yang tidak sebanyak tahun sebelumnya. Walaupun produsen dan pembatik tetap
berusaha mempertahankan kualitas batik baik dari segi warna, motif atau corak.
Ketidaktahuan Dari dalam melakukan manajemen produksi, pemasaran, tenaga kerja dan
keuangan menjadi penyebab berakhirnya industri batik Cotto’an yang telah berdiri sekitar
30 tahun lamanya (wawancara dengan Dari 15 April 2017). Berdiri sejak tahun 1950,
3Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
industri rumah tangga batik Cotto’an berhenti produksi di tahun 1980. Pembatik yang
sempat menggantungkan perekonomian pada industri batik ini harus beralih ke pekerjaan
lain. Beberapa pembatik yang bertahan sampai berakhirnya masa produksi batik Cotto’an
yaitu Jaswani, Patrek, Sunawi, Saisa, Sahwan dan Syarifah. Setelah mati suri selama 30
tahun, label atau brand batik Cotto’an muncul lagi tahun 2010, di produksi oleh Syarifah
yang pernah belajar membatik tahun 1975 kepada pembatik senior di Desa Peleyan
Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo.
Latar Belakang Berdirinya Industri Batik Cotto’an Di Desa Peleyan Tahun 2010-
2016
Pada tahun 2009, batik ditetapkan sebagai warisan budaya dari Indonesia oleh
UNESCO, tentunya pemerintah Indonesia semakin menggiatkan produksi batik nasional.
Kabupaten Situbondo juga ikut menerima kebijakan tersebut. Terbukti pada awal tahun
2010, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Situbondo melakukan pembinaan dan
pelatihan batik di Desa Peleyan Kecamatan Kapongan 38 Kabupaten Situbondo. Hal
tersebut berdampak munculnya kembali industri batik Cotto’an yang telah lama mati suri.
Pada Juli 2010, Hj. Syarifah Fatma Assegaf menggait pembatik tahun 1975- an sampai
dengan 1980-an yang kini masih hidup yaitu Dari, Jaswani, dan Patrek yang mana mereka
sudah tidak membatik 30 tahun lamanya kini mulai melakukan aktivitasnya membatik
kembali bersama warga lingkungan sekitar dan sejumlah santri Syarifah yang beralamat di
Pondok Pesantren Nurul Huda Desa Peleyan Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo
untuk membangkitkan batik Cotto’an kembali (wawancara dengan Aisyah 5 Januari 2017).
Pelatihan batik oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Situbondo mampu
mengembangkan dan membangkitkan industri batik Cotto’an yang telah lama mati suri.
Setelah mendapatkan bantuan dana dan alat, produksi batik Cotto’an dilakukan yaitu
dengan batik tulis sebagai komoditas utamanya dan motif yang jauh berbeda dari tahun
1950-1980. Motif utama batik Cotto’an adalah motif kerang dan biota laut lainnya seperti
terumbu karang, ubur-ubur, bintang laut, ikan, rumput laut dan bakau. Motif kerang
merupakan motif khas batik Situbondo yang merupakan ide dari Jasmiko (Wawancara
dengan Syarifah 5 Januari 2017). Motif kerang dan biota laut lainnya dianggap cocok
untuk merepresentasikan Kabupaten Situbondo yang wilayahnya terletak di pesisir pantai
utara Laut Jawa. Penduduk Kabupaten Situbondo sebagian adalah nelayan dan perajin
hiasan kerang. Olahan laut juga menjadi produk khas Situbondo, misalnya abon tuna, abon
teri, keripik teri, kerupuk ikan, kerupuk udang, dan lain sebagainya. Industri batik Cotto’an
yang diproduksi oleh Syarifah merekrut santriwati Pondok Pesantren Nurul Huda dan ibu
rumah tangga di sekitar pondok pesantren tersebut sebagai pembatik dan tenaga kerjanya.
Mereka sudah mendapat pelatihan membatik yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Situbondo pada pertengahan tahun 2010. Kini batik Cotto’an mampu
memproduksi batik tulis dalam jumlah banyak setiap bulannya. Batik Cotto’an yang
diproduksi di Desa Peleyan membantu masyarakat sekitar yang terlibat 39 dalam industri
batik Cotto’an dalam memperbaiki perekonomiannya (Wawancara dengan Aisyah 10 April
2017).
MOTIF BATIK COTTO’AN
Sebelum mendeskripsikan motif batik di Desa Peleyan, terlebih dahulu akan
dideskripsikan beberapa motif batik yang sejarah dan perkembangannya telah
dikemukakan di subbab sebelumnya. Motif yang dimaksud dalam hal ini terutama motif
pedesaan, karena motif tersebut mempengaruhi motif batik di Desa Peleyan. Menurut
Doellah (2002:20) untuk mempermudah pengenalan, motif batik dikelompokkan
berdasarkan bentuk dan gaya. Berdasarkan bentuknya, motif terdiri atas dua kelompok
4Sejarah Batik Cotto’an Di Desa Peleyan...( Sugiyanto, dkk)
besar, yaitu motif bangun berulang atau motif geometri dan motif non geometri. Motif
geometri secara umum mengandung unsur-unsur garis dan bangun seperti garis miring,
bujur sangkar, empat persegi panjang, trapesium, belah ketupat, jajaran genjang, lingkaran
dan bintang, yang disusun secara berulang-ulang sehingga membentuk suatu kesatuan pola.
Pola geometri ini terdiri atas pola ceplok atau ceplokan, seperti kawung, dan pola garis
miring, seperti parang dan lereng. Berdasarkan gaya, motif batik terdiri atas batik
pedalaman dan batik pesisiran. Motif pedalaman merupakan motif yang berasal dari
keraton tidak banyak digunakan oleh masyarakat, karena motif tersebut hanya digunakan
oleh raja dan keluarga raja.
Perkembangan Motif Batik Cotto’an Tahun 1950-1980.
Batik tulis di Desa Peleyan merupakan batik petani atau batik pedesaan yang
mendapat pengaruh dari batik Madura. Motif yang ditampilkan berupa ragam hias yang
berasal dari alam sekitar, yaitu tumbuhan, binatang serta kombinasi motif sesuai selera
pengrajinnya. Untuk ciri khas batik Madura daerah pedalaman cenderung bercorak klasik
dan dengan warna yang redup atau lembut. Motif batik Madura memiliki ciri khas
tersendiri yang tidak dimiliki oleh batik dari daerah lain. Ciri khas batik madura yang
sangat mudah dikenali adalah adanya warna merah pada motif bunga, tangkai atau daun.
Kebanyakan orang 40 mengenal batik tulis Madura dengan karakter yang kuat, yang
dicirikan oleh bebas, dengan warna yang berani yaitu merah, kuning, hijau muda
(Wawancara dengan Dari 15 April 2017).
Kabupaten Situbondo mayoritas penduduknya merupakan suku bangsa Madura.
Bagi orang Madura, setiap warna yang ditampilkan pada kain batik memiliki makna dan
pengharapan yang berbeda. Warna hijau biasanya digunakan dalam batik buatan kabupaten
Bangkalan. Dimana warna hijau tersebut diadaptasi lewat perkembangan agama Islam di
Pulau Madura. Di samping berdasarkan religi sendiri, warna hijau bernotasi sebagai warna
daun, yang menggambarkan tentang simbol dari dewa kesuburan ketika kerajaan Majapahit
di Madura masih berkuasa. Sementara batik Madura biru sendiri adalah warna yang bisa
diartikan sebagai bentuk warna natural daerah kepulauan, dimana warna tersebut
mendeskripsikan bahwa Madura dikelilingi oleh bentangan laut yang biru dan luas. Warna
merah tidak hanya berarti berani saja. Melainkan menggambarkan sifat masyarakat Madura
dengan ciri-ciri tegas, keras dan kuat sehingga memiliki makna kekuatan masyarakat
Madura yang tegar ketika menghadapi setiap permasalahan. Sementara kuning sendiri
memiliki makna bahwa di beberapa daerah di wilayah Madura digambarkan memiliki
wilayah cukup subur sebagai wilayah pertanian. Berbeda dengan warna kuning yang
digambarkan dalam bentuk padi siap panen yang telah menguning. Ditiap daerah yang ada
di pulau Madura sendiri, terdapat berbagai macam corak dengan ciri khas dari
masingmasing (Salamun, 2013:202).
Pada dasarnya, kain batik Cotto’an dengan motif yang mengadopsi dari batik khas
Madura menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Madura. Kebanyakan ragam corak
batik berasal dari motif hewan, tumbuhan serta kombinasi dari keduanya atau disesuaikan
dengan selera dari pembatik. Masyarakat pedalaman lebih memilih corak yang klasik dan
warna-warna soft atau redup. Keduanya sama-sama memiliki kualitas yang bagus dengan
dominasi corak garis. Batik Cotto’an memiliki banyak garis pada satu desainnya. Setiap
motif batik Cotto’an memiliki cerita dan filosofi yang unik untuk 41 merepresentasikan
kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar (Wawancara dengan Dari 15 April 2017).
Pada awal 1930-an, batik tulis di Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Kabupaten
Situbondo masih merupakan batik dengan motif tumbuhan, yang digunakan seperti motif
bunga, ranting dan daun. Berdasarkan peninggalan kain batik tulis dari tahun 1930-1940,
motif yang paling banyak digunakan yaitu motif bunga, motif daun, dan motif garis
5Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
melintang simetris. Dalam satu kain batik dapat berisi seluruh motif yang disebutkan
diatas. Ketika batik sudah diproduksi oleh cucu Enjuk Bayan yang bernama Sahriya pada
tahun 1950, motif yang digunakan masih sama yaitu bunga dan daun namun dengan pola
lebih rumit. Adapula motif parang yang dikombinasikan dengan motif bunga. Motif parang
ini sama seperti motif batik khas Yogyakarta .
Dalam satu kain batik berisi perpaduan motif bunga, daun, dan garis melintang
simetris. Motif tersebut terus digunakan sampai tahun 1980, tentunya dengan corak yang
beragam pada setiap kain batik yang diproduksi. Untuk nama motifnya sendiri, Sahriya dan
Dul menyebutkan batik yang mereka produksi adalah batik motif pecca’an, sessek, ramok,
leres, kabung dan parang (Wawancara dengan Dari 15 April 2017).
Berdasarkan data diatas, dalam kurun waktu 30 tahun, tercipta beberapa morif
utama batik Cotto’an yang bercorak pedalaman dan bermotif seperti batik Madura. Ciri
khas yang ditampilkan batik Cotto’an tahun 1950-1980 adalah tumbuhan alam seperti
bunga dan daun. Hampir disetiap karya kain batiknya selalu mengkombinasikan bunga,
daun, tali sambung, titik-titik juga dengan motif kabung dan parang. Setiap motif tidak
hanya memiliki ciri khas tersendiri, melainkan juga mempunyai makna dan arti filosofi
yang berbeda.
Berikut nama motif dan makna yang terkandung dalam motif batik Cotto’an tahun
1950-1980, antara lain :
Berikut nama motif dan makna yang terkandung dalam motif batik Cotto’an tahun
1950-1980, antara lain :
1) Pecca’an merupakan kata yang berasal dari bahasa Madura yang artinya pecah.
Pecah artinya terbelah menjadi beberapa bagian. Motif pecca’an yang tergambar dalam
batik Cotto’an seperti kelopak bunga yang dipecah oleh garis dan titik-titik. Pada motif
pecca’an, akan kita temukan bunga yang tidak utuh misalnya hanya terdiri dari tiga
kelopak saja atau bunga yang terpisah dari daunnya. Makna dari motif pecca’an yaitu
dalam kehidupan bermasyarakat, kita tidak selalu mempunyai pandangan yang sama.
Dalam satu keluarga saja terdapat sifat yang berbeda namun tetap saling melengkapi dan
membutuhkan satu sama lain (Wawancara dengan Dari 15 April 2017).
6Sejarah Batik Cotto’an Di Desa Peleyan...( Sugiyanto, dkk)
2) Sessek juga kata yang berasal dari bahasa Madura yang berarti cecekan atau titik-titik.
Pada batik Cotto’an, motif titik-titik ini sering diaplikasikan pada kain batik untuk
menambah kesan manis dan indah. Titik-titik ini biasanya sebagai latar dan dihiasi dengan
ornamen bunga, daun, dan rumput. Titik-titik putih ini dapat juga disamakan dengan garam
yang merupakan produk Madura, karena batik Cotto’an memang mengadopsi motif dari
batik khas Madura (Wawancara dengan Dari 15 April 2017).
3) Ramok artinya akar-akaran. Motif ini diberi nama ramok dikarenakan bentuknya yang
menyerupai akar. Motif ramok banyak diaplikasikan pada kain batik Cotto’an dengan
desain yang cantik dan indah. Ramok yang berarti akar, akar sendiri merupakan unsur yang
paling penting dalam proses tumbuhnya sebuah tanaman atau pohon. Akar yang kuat pasti
menghasilkan tanaman atau pohon yang kuat. Akar memang terdapat dalam tanah, namun
fungsinya sangat 43 penting. Makna dari motif ramok yaitu dalam menjalani kehidupan
bermasyarakat harus mempunyai akar atau pondasi yang kuat agar tercipta kehidupan yang
tentram dan damai. Begitupun halnya dengan rumah tangga, harus mempunyai akar yang
kuat agar dapat mendidik anak-anaknya dengan baik (Wawancara dengan Dari 15 April
2017).
4) Motif batik leres dalam bahasa Madura atau liris dalam bahasa Indonesia, merupakan
motif batik yang menonjolkan garis melintang simetris. Motif leres merupakan motif yang
banyak diaplikasikan pada kain batik Cotto’an dengan ditambah motif bunga dan daun.
Motif leres dikombinasikan dengan bunga sepatu lengkap dengan daunnya Hal tersebut
dikarenakan banyak tanaman tersebut di Desa Peleyan. Motif ini mengandung makna
ketabahan dan harus tahan menjalani hidup prihatin biarpun dilanda hujan dan panas.
Orang yang berumah tangga, apalagi pengantin baru, harus berani dan mau hidup prihatin
ketika banyak halangan dan cobaan (Wawancara dengan Dari 15 April 2017).
5) Motif batik kabung atau kawung merupakan motif batik keraton yang diadopsi oleh
batik Cotto’an, namun dengan desain yang sedikit berbeda serta ditambah motif bunga dan
daun yang merupakan ciri khas dari batik Cotto’an. Batik motif kabung tidak selalu
dibentuk menyerupai buah kolang kaling, namun juga berbentuk persegi empat hampir
diseluruh kaiinya. Batik motif Kawung mempunyai makna yang melambangkan harapan
agar manusia selalu ingat akan asal usulnya. (Wawancara dengan Dari 15 April 2016).
6) Motif batik parang merupakan motif batik keraton yang diadopsi oleh batik Cotto’an,
namun dengan desain yang sedikit berbeda serta ditambah motif bunga, daun atau garis
melintang simetris yang merupakan ciri khas dari batik Cotto’an. Motif batik parang
seringkali dikombinasikan dengan motif bunga sepatu, bunga melati, bunga mawar serta
dedaunan. Motif batik parang menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah
secara diagonal. Susunan motif S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan
kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak 44 samudra yang
menggambarkan semangat yang tidak pernah padam (Wawancara dengan Dari 15 April
2016). Motif batik leres, kabung dan parang merupakan motif batik keraton yang diadopsi
oleh batik Cotto’an, namun dengan desain yang sedikit berbeda serta ditambah motif
bunga, daun atau garis melintang simetris yang merupakan ciri khas dari batik Cotto’an.
Banyak pengamat batik yang mengatakan bahwa motif atau corak batik dari Madura
hampir sama dengan batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan dan daerah lain. Memang tidak
dapat dipungkiri, hal demikian terjadi sebab bagaimana pun juga motif batik ini terbawa
pengaruh oleh silsilah keluarga raja-raja Mataram yang berhubungan baik dengan keluarga
pembesar kerajaan Madura. Demikianlah makna dari motif dan warna pada kain batik
7Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Cotto’an produksi tahun 1950-1980. Pewarna digunakan berasal dari Asembagus,
tempatnya di selatan jalan atau di Situbondo, tempatnya di depan lampu merah. Nama
pewarnanya adalah beddelen atau soge. Produksi batik Cotto’an berkahir tahun 1980
dikarenakan penjual bahan pewarna yaitu orang cina meninggal dunia dan kemungkinan
penerusnya tidak ada yang meneruskan usaha tersebut.
Perkembangan Motif Batik Cotto’an Tahun 2010-2016
Pada tahun 2010, ketika Syarifah mendirikan industri batik Cotto’an yang telah
mati suri, motif yang digunakan adalah biota laut seperti kerang, ikan, uburubur, kepiting,
terumbu karang, bintang laut, rumput laut dan bakau, yang merupakan hasil ide dari
Jasmiko. Motif biota laut merupakan motif batik khas Situbondo yang sebagian
wilayahnya adalah pesisir pantai utara Jawa.
Sejak tahun 2010-2016 telah tercipta ratusan motif batik yang diproduksi oleh
Syarifah. Motif yang paling banyak digunakan adalah motif kerang. Banyak varian motif
kerang dari mulai kerang dara, kerang mahkota, kerang cincin, kerang congcong dan
kerang duri. Selain motif biota laut, terdapat pula motif tali atau tale dalam bahasa Madura,
motif bunga dan daun seperti malate sato’or, lamtoro gong dan pakis, motif matahari dan
bulan dengan sebutan sonar are dan sonar bulen, serta terdapat motif yang terinspirasi dari
wisata Kabupaten Situbondo seperti Pantai 45 Pasir Putih dan Taman Nasional Baluran.
Setiap motif memiliki arti dan makna sendiri. Setiap batik dengan motif biota laut memiliki
keindahan tersendiri, batik tersebut seolah menggambarkan keindahan ekosistem laut yang
terawat. Motif tali seringkali dipadukan dengan kerang, menggambarkan hubungan
masyarakat yang seperti tali, panjang dan terus tersambung (Wawancara dengan Aisyah 10
April 2017).
Motif batik khas Situbondo kebanyakan bermotif kerang karena utara Kabupaten
Situbondo merupakan daerah pesisir. Kini kerang yang memiliki nilai seni yang tinggi
disentuh kembali dan dijadikan sebagai salah satu simbol kekayaan daerah, oleh karena itu
untuk mengekspresikan kekayaan tersebut, kerang dibuat sebagai dasar motif batik yang
nantinya akan menjadi ciri khas batik Situbondo yang selama ini masih belum memiliki
ciri khas. Pemilihan kerang sebagai motif batik Situbondo sangatlah tepat karena daerah
lain masih belum mengidentifikasi kerang sebagai ciri khas daerah (Wawancara dengan
Kepala Dinas Perindustrian 4 Januari 2017).
Berikut nama motif dan makna yang terkandung dalam motif batik Cotto’an tahun
2010-2016, antara lain :
1) Motif kerang pada batik Cotto’an memiliki beberapa macam, seperti kerang
mahkota, dara, cincin, congcong dan duri (Lihat lampiran halaman 127 dan 128). Bentuk
dari tiap kerang pun berbeda. Misalnya saja cangkang kerang mahkota memiliki beberapa
lapisan mulai dari lapisan terkecil sampai lapisan terluar yang semakin membesar. Batas
antara lapisan terkecil hingga lapisan terbesar terdapat tonjolan yang tumpul dengan
ukuran yang berbeda-beda. Kerang dara memiliki bentuk cangkang yang simetris dengan
sepasang cangkang (katup). Panjang cangkangnya dua kali diameter lebarnya dan biasanya
bentuknya simetris yang terhubung dengan satu ligament (jaringan ikat). Kerang cincin
memiliki bentuk cangkang yang bulat menyerupai cincin yang melingkar-lingkar
ditubuhnya. Bentuk kerang ini beruas-ruas mulai dari ruas yang terkecil hingga ruas yang
terbesar dengan alur yang menyerupai spiral. Kerang congcong adalah kerang yang
berbentuk elips menyerupai kerang mahkota namun pada setiap garis yang terdapat pada
cangkangnya 46 memiliki ujung yang bergerigi dan tajam. Terdapat bagian yang sedikit
lebih lebar dan panjang pada cangkang di bagian bawahnya. Kerang duri adalah kerang
yang memiliki cangkang dengan ukuran kecil namun memiliki warna yang bagus dan
8Sejarah Batik Cotto’an Di Desa Peleyan...( Sugiyanto, dkk)
tekstur yang rapi. Kerang ini memiliki warna putih, merah, hijau, dan coklat (Sasongko,
2014:13).
2) Motif biota laut lainnya seperti ikan, ubur-ubur, kepiting, terumbu karang,
bintang laut, rumput laut dan bakau, juga menjadi motif unggulan batik Cotto’an. Motif
biota laut merupakan motif batik khas Situbondo yang telah terkenal dikalangan
masyarakat Situbondo. Motif biota laut khas Situbondo saat ini masih dalam usaha
mendapat hak paten dari Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta. Motif batik biota
laut dilukis dengan cantik oleh para pembatik di Desa Peleyan. Hal tersebut seolah
menampilkan ekosistem laut Situbondo yang terawat dengan baik dan indah .
3) Motif bunga dan tumbuhan yang terdapat pada kain batik Cotto’an seperti
Malate sato’or, lamtoro gong dan pakis. Malate sato’or dalam bahasa Madura adalah seikat
melati. Motif ini memiliki motif utama yaitu stilasi bunga melati yang tergolong corak
flora (tumbuhan). Namun terdapat juga motif pendukung yaitu kerang-kerangan yang
menjadi ikon batik Situbondo, ditambah dengan isen titik-titik. Lamtoro gong merupakan
motif tumbuhan yang kerap digunakan dalam penghijauan lahan atau pencegahan erosi.
Tumbuhan ini sudah ratusan tahun diperkenalkan ke Jawa untuk kepentingan pertanian dan
kehutanan. Lamtoro dijadikan motif batik Cotto’an dan menghasilkan kain batik yang
cantik (Wawancara dengan Aisyah 10 April 2017).
4) Motif alam yang terdapat pada kain batik Cotto’an yaitu Sonar are dan sonar
bulen. Sonar are dalam bahasa Madura adalah cahaya matahari. Motif ini hampir mirip
dengan motif sonar bulen. Motif ini memiliki motif utama yaitu stilasi dari matahari, daun
dan laut serta terdapat isen berupa titik dan garis bergelombang tak beraturan. Motif sonar
bulen dalam bahasa Madura adalah cahaya bulan. Motif ini memiliki motif utama yaitu
stilasi dari bulan sabit di atas lautan. Serta terdapat isen berupa titik-titik 47 dan garis
bergelombang tak beraturan. Bulan sebagai simbol kecantikan dan keindahan (Wawancara
dengan Aisyah 10 April 2017).
5) Motif yang terinpirasi dari wisata Kabupaten Situbondo seperti Pantai Pasir
Putih dan Taman Nasional Baluran. Motif batik yang terinspirasi Pantai Pasir Putih, pada
kain batik Cotto’an dilukis indah menggunakan malam di atas kain batik seperti lukisan
pantai juga pasir yang putih. Kain batik dengan tema Taman Nasional Baluran, memiliki
motif fauna yaitu hewan khas yang ada di hutan Baluran seperti banteng, burung merak
dan rusa. Pada motif ini juga terdapat motif pendukung yaitu motif hasil stilasi dari bunga,
daun-daun dan rumput. Motif ini sebagai tanda untuk membawa Kabupaten Situbondo
lebih baik lagi di sektor pariwisata serta lebih baik lagi dalam menjaga aset daerah di
taman nasional, bahari dan sebagainya (Wawancara dengan Aisyah 10 April 2017).
Penggunaan warna pada kain batik sejak tahun 2010 dilakukan dengan dua jenis,
yaitu warna alam yang berasal dari warna tanaman di alam dan warna sintetis yang dibuat
oleh pabrikan. Warna yang digunakan juga sudah bervariasi dan menampilkan warna-
warna yang berani atau warna kuat. Untuk warna alam, Syarifah dan pembatik Cotto’an
membuat sendiri misalnya dari warna kuning dari kunyit atau daun jambu biji, warna
merah dari pace/mengkudu, warna biru dari daun nila/tarum dan sebagainya. Warna alam
ini sangat bagus diaplikasikan ke kain batik namun harus dilakukan pewarnaan berulang
kali sampai 5 atau 7 kali untuk mendapatkan warna yang indah. Sedangkan untuk warna
sintetis cukup satu kali atau maksimal 3 kali pewarnaan (wawancara dengan Umi Kulsum,
10 April 2017).
9Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Berdasarkan tabel diatas, dapat kita ketahui bahwa batik Cotto’an pada tahun 2010-
2016 adalah motif batik khas Situbondo yaitu kerang dan biota laut yang digunakan juga
oleh beberapa industri batik di Situbondo. Motif tumbuhan dan alam serta wisata
Situbondo menjadi inspirasi motif batik Cotto’an yang dituangkan dalam karya kain batik.
Motif batik khas Situbondo kebanyakan bermotif kerang karena utara Kabupaten
Situbondo merupakan daerah pesisir. Kini kerang yang memiliki nilai seni yang tinggi
disentuh kembali dan dijadikan sebagai salah satu simbol kekayaan daerah, oleh karena itu
untuk mengekspresikan kekayaan tersebut, kerang dibuat sebagai dasar motif batik yang
nantinya akan menjadi ciri khas batik Situbondo yang selama ini masih belum memiliki
ciri khas.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Latar belakang berdirinya industri batik Cotto’an tahun 1950 karena adanya
pelatihan membatik yang dilakukan oleh Enjuk Bayan, pembatik pertama di Desa Peleyan
yang kemudian menurunkan keahliannya ke anak cucu. Sahriya dan Dari merupakan cucu
Enjuk Bayan yang mendirikan industri batik Cotto’an pada tahun 1950-1980. Latar
belakang berdirinya kembali industri batik Cotto’an tahun 2010 karena adanya pelatihan
membatik oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Situbondo yang bekerjasama dengan
Syarifah dan diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga dan anak
perempuan di Desa Peleyan.
Dalam kurun waktu 30 tahun, tercipta beberapa morif utama batik Cotto’an yang
bercorak pedalaman dan bermotif seperti batik Madura. Ciri khas yang ditampilkan batik
Cotto’an tahun 1950-1980 adalah tumbuhan alam seperti bunga dan daun. Hampir disetiap
10Sejarah Batik Cotto’an Di Desa Peleyan...( Sugiyanto, dkk)
karya kain batiknya selalu mengkombinasikan bunga, daun, tali sambung, titik-titik juga
dengan motif kabung dan parang. Setiap motif tidak hanya memiliki ciri khas tersendiri,
melainkan juga mempunyai makna dan arti filosofi yang berbeda.
Berikut nama motif dan makna yang terkandung dalam motif batik Cotto’an tahun
1950-1980, antara lain : 1) Pecca’an merupakan kata yang berasal dari bahasa Madura
yang artinya pecah. Pecah artinya terbelah menjadi beberapa bagian. 2) Sessek juga kata
yang berasal dari bahasa Madura yang berarti cecekan atau titik-titik. 3) Ramok artinya
akar-akaran. Motif ini diberi nama ramok dikarenakan bentuknya yang menyerupai akar 4)
Motif batik leres dalam bahasa Madura atau liris dalam bahasa Indonesia, merupakan motif
batik yang menonjolkan garis melintang simetris. Motif leres merupakan motif yang
banyak diaplikasikan pada kain batik Cotto’an dengan ditambah motif bunga dan daun. 5)
Motif batik kabung atau kawung merupakan motif batik keraton yang diadopsi oleh batik
Cotto’an, namun dengan desain yang sedikit berbeda serta ditambah motif bunga dan daun
yang merupakan ciri khas dari batik Cotto’an. Batik motif kabung tidak selalu dibentuk
menyerupai buah kolang kaling, namun juga berbentuk persegi empat hampir diseluruh
kaiinya . 6)Motif batik parang merupakan motif batik keraton yang diadopsi oleh batik
Cotto’an, namun dengan desain yang sedikit berbeda serta ditambah motif bunga, daun
atau garis melintang simetris yang merupakan ciri khas dari batik Cotto’an.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa industri batik Cotto’an telah berdiri
sejak tahun 1950 dan mendapat dukungan dari masyarakat karena mampu menjadi mata
pencaharian baru dan memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga. Peneliti mencoba
memberikan saran teoritis dan praktis yaitu sebagai berikut: (1) Penelitian ini diharapkan
dapat menjadi acuan referensi dalam pengembangan kepenulisan kajian penelitian sejarah
lainnya; (2) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan tambahan
pengetahuan sejarah tentang batik Indonesia.

DAFTAR RUJUKAN
Anshori, Y., dan Adi Kusrianto. 2011. Keeksotisan Batik Jawa Timur. Surabaya: Elex
Media Komputindo.
Aini, M.Q. 2013. Pewarna Alami Batik Eks Karesidenan Besuki. Jember.
Ariati, L.D. 1996. “Perkembangan Perusahaan Batik Surakarta Suatu Kerajinan Tentang
Batik Semar Tahun 1975-1985”. Tidak diterbitkan. Skripsi. Jember: Jurusan
Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UNEJ.
Assegaf, S.F. 2010. “Riwayat Batik Cotto’an Kabupaten Situbondo”. Arsip Pribadi.
Badan Pusat Statistik. 2016.
Dedi, D.S. 2009. Sejarah Batik Indonesia. Bandung: Sarana Panca Karya Nusa.
Djoemena, N.S. 1986. Ungkapan Sehelai Batik. Jakarta: Djambatan.
Djoemena, N.S. 1990. Batik dan Mitra. Jakarta: Djambatan. Doellah, S. 2002. Batik,
Pengaruh Zaman dan Lingkungan. Surakarta: Batik Danar Hadi.
Gottschalk, L. 1983. Terj. Nugroho Notosusanto. Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Kartodirdjo, S. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta:
Gramedia.
Noval. 2012. “Perkembangan Kerajinan Batik di Desa Sumberpakem Kecamatan
Sumberjambe Kabupaten Jember Tahun 1974-2010”. Tidak diterbitkan.
Skripsi. Jember: Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNEJ.
Salamun, dkk. 2013. Kerajinan Batik dan Tenun. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai
Budaya.