Senin, 23 April 2018

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NARASI MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VIII SMPN 05 SAMBOJA KUTAI KARTANEGARA

Sujadi

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji tentang : Peningkatan Keterampilan Menulis
Narasi Melalui Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa
Indonesia Siswa Kelas VIII SMPN 05 Kutai Kartanegara.
Rancangan yang digunakan
dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Model penelitian tindakan Model Kurt Lewin
terdiri dari empat komponen, yaitu; a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting),
c)pengamatan (observing), dan d) refleksi (reflecting).Hasil penelitian menunjukkan
kondisi awal siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebesar 41%,
sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 13 siswa, atau sebesar 59% diadakan
penelitian dan analisa data pada siklus I.ada peningkatan hasil belajar yang
menggembirakan , yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 23%,
sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 17 siswa, atau sebesar 77%. Pada
kegiatan akhir siklus II, diperoleh data , yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3
siswa atau sebesar 14%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa, atau
sebesar 86%, dengan demikian, maka hasil belajar pada siklus II dinyatakan tuntas
belajar secara klasikal.
Kata Kunci: Pembelajaran Kontekstual dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN

Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya. Perubahan secara
terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk
penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan
menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa
untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan
maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia
Indonesia.
Menulis adalah kegiatan penyampaian pesan (gagasan, perasaan, atau informasi)
secara tertulis kepada pihak lain. Dalam kegiatan berbahasa menulis melibatkan empat
unsur, yaitu penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, medium tulisan, serta
pembaca sebagai penerima pesan. Kegiatan menulis sebagai sebuah perilaku berbahasa
memiliki fungsi dan tujuan: personal, interaksional, informatif, instrumental, heuristik, dan
estetis.
Sebagai salah satu aspek dari keterampilan berbahasa, menulis atau mengarang
merupakan kegiatan yang kompleks. Kompleksitas menulis terletak pada tuntutan
kemampuan untuk menata dan mengorganisasikan ide secara runtut dan logis, serta
______________________________________________________________
Drs. Sujadi adalah Guru Bahasa Indonesia yang mendapat tugas Sebagai Kepala
SMPN 05 Samboja Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.

37Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
menyajikannya dalam ragam bahasa tulis dan kaidah penulisan lainnya. Akan tetapi, di
balik kerumitannya, menulis menjanjikan manfaat yang begitu besar dalam membantu
pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, kepercayaan diri dan keberanian, serta
kebiasaan dan kemampuan dalam menemukan, mengumpulkan, mengolah, dan menata
informasi.

Sayangnya, tidak banyak orang yang suka menulis.
Di antara penyebabnya ialah karena siswa merasa tidak berbakat serta tidak tahu
bagaimana dan untuk apa menulis. Alasan itu sebenarnya tak terlepas dari pengalaman
belajar yang dialaminya di sekolah. Lemahnya guru, kurangnya model, dan kekeliruan
dalam belajar menulis yang melahirkan mitos-mitos tentang menulis, memperparah
keengganan orang untuk menulis.

Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa tak dapat dilepaskan dari aspek-
aspek keterampilan berbahasa lainnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi. Pengalaman dan
masukan yang diperoleh dari menyimak, berbicara, dan membaca, akan memberikan
kontribusi berharga dalam menulis. Begitu pula sebaliknya, apa yang diperoleh dari
menulis akan berpengaruh pula terhadap ketiga corak kemampuan berbahasa lainnya.
Namun demikian, menulis memiliki karakter khas yang membedakannya dari yang
lainnya. Sifat aktif, produktif, dan tulis dalam menulis, memberikannya ciri khusus dalam
hal kecaraan, medium, dan ragam bahasa yang digunakannya.

Menulis sebagai Proses. Banyak pendapat yang berkaitan dengan belajar-mengajar
menulis atau mengarang, seperti yang diungkapkan oleh pendekatan formal, pendekatan
gramatikal, pendekatan frekuensi, dan pendekatan koreksi. Pendekatan-pendekatan itu
tidak sepenuhnya salah, tetapi sayangnya tidak menyentuh proses menulisnya itu sendiri.
Sebagai proses, menulis melibatkan serangkaian kegiatan yang terdiri atas tahap
prapenulisan, penulisan, dan pascapenulisan. Fase prapenulisan merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk mempersiapkan sebuah tulisan. Di dalamnya terdiri dari kegiatan memilih
topik, tujuan, dan sasaran karangan, mengumpulkan bahan, serta menyusun kerangka
karangan. Berdasarkan kerangka karangan kemudian dilakukan pengembangan butir demi
butir atau ide demi ide ke dalam sebuah tulisan yang runtut, logis, dan enak dibaca. Itulah
fase penulisan. Selanjutnya, ketika buram (draf) karangan selesai, dilakukan penyuntingan
dan perbaikan. Itulah fase pascapenulisan, yang mungkin dilakukan berkali-kali untuk
memperoleh sebuah karangan yang sesuai dengan harapan penulisnya.

Narasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang
rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir.
Jenis-jenis narasi :
 Narasi informatif
Narasi informatif adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi
secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang
tentang kisah seseorang.
 Narasi ekspositorik
Narasi ekspositorik adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi
secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang
tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu
peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya,
satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini atau sampai terakhir
dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan
eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositprik. Ketentuan ini berkaitan
dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak
memasukan unsursugestif atau bersifat objektif.

 Narasi artistik
38Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi,. ..(Sujadi)
Narasi artistik adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud
tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau
pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat. Ketentuan ini berkaitan dengan
penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur
sugestif atau bersifat objektif.

 Narasi sugestif
Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud
tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau
pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.
Ciri-ciri Narasi
Menurut Gorys Keraf (2000:136)
 Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.
 Dirangkai dalam urutan waktu.
 Berusaha menjawab pertanyaan "apa yang terjadi?"
 Ada konfiks.
Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada
konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronologis, ciri-ciri narasi lebih lengkap
lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut:
 Berupa cerita tentang peristiwa atau pengalaman penulis.
 Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar
terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.
 Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik.
 Memiliki nilai estetika.
 Menekankan susunan secara kronologis.
Ciri yang dikemukakan Keraf memiliki persamaan dengan Atar Semi, bahwa narasi
memiliki ciri berisi suatu cerita, menekankan susunan kronologis atau dari waktu ke waktu
dan memiliki konfiks. Perbedaannya, Keraf lebih memilih ciri yang menonjolkan pelaku.
Tujuan Menulis Narasi
Tujuan menulis karangan narasi secara fundamental yaitu:
 Hendak memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan
 Memberikan pengalaman estetis kepada pembaca
Langkah-langkah menulis karangan narasi
 Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan
 Tetapkan sasaran pembaca
 Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema
alur
 Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita
 Rincian peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai
pendukung cerita
 Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandangan
 Mengerti aturan tanda bacanya dalam kalimat tersebut
Pembelajaran kontekstual merupakan sustu konsep belajar dimana guru menghadirkan
situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat (Nurhadi, 2003:4) Pembelajaran kontekstual adalah konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapnnya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh
39Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
komponen utama untuk pembelajaran kontekstual, yakni : kontruktivisme, bertanya,
inkuiri, masyarakat belajar, permodelan, dan penilaian, autentik (Trianto, 2008:20)
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.
Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerjasama menemukan sesuatu
yang baru bagi anggota kelas.

Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa dalam konteks bermakna yang
menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan
sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peranan guru.
Pendekatan kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki tujuh
komponen yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan CTL. Ketujuh komponen pendekatan kontekstual tersebut, yaitu :
1) Belajar berbasis masalah (Problem Based Learning),yaitu suatu pendekatan
pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi
siswa untuk belajar tentang berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah,
serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran
2) Pengajaran Autentik (Authentic Instruction), yaitu pendekatan pengajaran yang
memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna
3) Belajar Berbasis Inquiri (Inquiri Based Learning), yaitu strategi pengajaran yang
mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran
bermakna
4) Belajar Berbasis Proyek/Tugas (Project Based Learning), yaitu suatu pendekatan
komperhensif dimana lingkungan belajar siswa (kelas) di desain agar siswa dapat
melakukan penyidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman dari suatu
topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.
5) Belajar Berbasis Kerja (Work Based learning), yaitu suatu pendekatan pengajaran
yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari
materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan
kembali di tempat kerja
6) Belajar berbasis jasa layanan (Service Learning), Yaitu metodologi pengajaran
yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis
sekolah untuk merefleksikan jasa layanan tersebut, jadi menekankan hubungan
antara pengalaman jasa layanan dan pembelajaran akademis
7) Belajar kooperatif (Cooperatif Learning), yaitu pendekatan pengajaran melalui
kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar
dalam mencapai tujuan
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa
untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan
maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia
Indonesia. Namun sebagian besar siswa menganggap bahwa pelajaran bahasa Indonesia
adalah mata pelajaran yang membosankan dan sulit terutama dalam hal menulis
narasi/cerita.

Peneliti mengamati bahwa selama ini hasil belajar Bahasa Indonesia keterampilan
menulis narasi siswa kelas VIII di tempat peneliti mengajar masih belum mencapai
ketuntasan hasil belajar secara klasikal, yaitu dari 22 siswa hanya ada 13 siswa yang
mencapai ketuntasan, atau hanya sebesar 59%.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas , peneliti merasa perlu untuk
mengadakan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul : Peningkatan Keterampilan Menulis
Narasi Melalui Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa
Indonesia Siswa Kelas VIII SMPN 05 Kutai Kartanegara.
40Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi,. ..(Sujadi)
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapnnya dalam
kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama untuk pembelajaran
kontekstual, yakni : kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, permodelan,
dan penilaian, autentik (Trianto, 2008:20)

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas diatas, maka masalah penelitian tindakan kelas
dirumuskan sebagai berikut : Apakah Ada Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi
Melalui Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Siswa Kelas VIII SMPN 05 Kutai Kartanegara?
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan mengkaji tentang :
Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi Melalui Pembelajaran Kontekstual Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII SMPN 05 Kutai
Kartanegara.
Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai
berikut :
1) Bagi siswa, dapat lebih mudah dalam mempelajari cara menulis narasi dalam
pelajaran Bahasa Indonesia,
2) Bagi guru, penelitian ini membuat guru lebih berani untuk menerapkan model
pembelajaran yang variatif agar siswa tidak merasa malas dan jenuh dalam belajar,
3) Bagi sekolah, dapat sebagai masukan yang sangat baik untuk menentukan
kebijakan dalam rangka meningkatkan prestasi dan hasil belajar di sekolah
METODE PENELITIAN
Tempat penelitian adalah di kelas VIII SMPN 05 Kutai Kartanegara. Subjek
penelitian adalah siswa kelas VIII Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan
kelas ini adalah Model Penelitian Tindakan Kelas yang Dikembangkan Oleh Kurt Lewin.
Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai model penelitian
tindakan yang lain, khususnya PTK. Dikatakan demikian, karena dialah yang pertama kali
memperkenalkan Action Research atau penelitian tindakan. Pelaksanaan penelitian
tindakan adalah proses yang terjadi dalam suatu lingkaran yang terus-menerus. Ia
menggambarkan penelitian tindakan sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral.
Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari empat komponen,
yaitu; a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c)pengamatan (observing), dan d)
refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut dBahasa Indonesiandang
sebagai siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut :
41Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Gambar 1: Desain Model Kurt Lewin
1) Menyusun perencanaan (planning)
Pada tahap ini kegiatan yang harus dilakukan adalah membuat RPP,
mempersiapkan fasilitas dari sarana pendukung yang diperlukan dikelas,mempersiapkan
instrumen untuk merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan.
2) Melaksanakan tindakan (acting).
Pada tahap ini peneliti melakukan tindakan tindakan yang telah dirumuskan dalam
RPP, dalam situasi yang actual, yang meliputi kegiatan awal, inti dan penutup.
3) Melaksanakan pengamatan (observing)
Pada tahap ini yang harus dilaksanakan adalah mengamati perilaku siswa siswi
yang sedang mengikuti kegiatan pembelajaran. Memantau kegiatan diskusi atau kerja sama
antar kelompok mengamati pemahaman tiap tiap siswa dalam penguasaan materi
pembelajaran, yang telah dirancang sesuai dengan PTK.
4) Melakukan refleksi (reflecting)
Pada tahap ini yang harus dilakukan adalah mencatat hasil observasi, mengevaluasi
hasil observasi, menganalisis hasil pembelajaran, mencatat kelemahan-kelemahan untuk
dijadikan bahan penyusunan rancangan siklus berikutnya sampai tujuan PTK tercapai.
Tahap-tahap di atas, yang membentuk satu siklus, dapat dilanjutkan ke siklus
berikutnya dengan rencana, tindakan, pengamatan, dan refleksi ulang berdasarkan hasil
yang dicapai pada siklus sebelumnya. Dengan demikian, gambar 1 di atas dapat
dikembangkan menjadi gambar 2 (McNiff, 1992: 23).
Jumlah siklus dalam suatu penelitian tindakan tergantung pada apakah masalah
(utama) yang dihadapi telah terpecahkan.
Gambar 2: Model Dasar yang Dikembangkan
42Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi,. ..(Sujadi)
Apabila masih ditemukan adanya masalah yang belum terpecahkan maka peneliti
dapat melangkah ke siklus kedua, dengan membuat rencana tindakan ulang berdasarkan
hasil refleksi pada siklus sebelumnya. Dengan demikian, pada siklus kedua ini terjadi
revisi atau modifikasi rencana tindakan pertama, sesuai dengan keadaan di lapangan.
Langkah-langkah selanjutnya relatif sama dengan langkah-langkah yang telah dBahasa
Indonesiaparkan pada siklus pertama. Demikian seterusnya hingga masalah yang dihadapi
dapat terpecahkan. Untuk itu barangkali diperlukan lebih dari tiga siklus; dan hal itu tidak
menjadi masalah, karena jumlah siklus tidak ditentukan oleh hal lain kecuali
terpecahkannya masalah.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi,
observasi, dan tes.
a. Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah cara mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, skrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda, dan
sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2003: 188). Teknik dokumentasi dalam penelitian ini
digunakan untuk memperoleh data tentang nama siswa, hasil belajar Bahasa Indonesia
pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2011/2012, serta gambaran pelaksanaan tindakan
pada setiap siklus.
b. Observasi
Observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Teknik observasi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi sistematis, yaitu menggunakan
instrumen pengamatan. Instrumen pengamatan berupa daftar pengamatan yang berisi item-
item kejadian atau tindakan yang dilakukan dalam penelitian. Teknik observasi digunakan
untuk memperoleh data tentang pelaksanaan pembelajaran.
c. Tes
Teknik tes dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang hasil
belajar Bahasa Indonesia, setelah dilaksanakan tindakan. Instrumen tes disusun dan
diujicobakan pada siswa di luar objek penelitian, dan dianalisis untuk mengetahui validitas,
derajat kesukaran, daya beda, dan reliabilitas, sehingga instrumen soal yang digunakan
untuk evaluasi di akhir siklus adalah hanya butir soal yang baik.
Soal tes diujicobakan di luar sampel penelitian dengan maksud untuk tetap
menjaga agar hasil ujicoba benar-benar valid, sehingga ketika digunakan pada saat tes
setelah pelaksanaan tindakan dihasilkan data yang benar-benar sesuai dengan pelaksanaan
pembelajaran, karena apabila ujicoba dilaksanakan pada subjek penelitian, dikhawatirkan
mempengaruhi hasil penelitian.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi,
observasi, dan tes. Data yang dikumpulkan berupa:
a. Data Kuantitatif
Data Kuantitatif yaitu data tentang hasil tes formatif siswa sebelum dan
sesudah diadakan perbaikan.
b. Data Kualitatif
Data Kualitatif yaitu data tentang keterlibatan siswa dalam proses
pembelajaran.
c. Sumber data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana
data diperoleh. (Suharsimi Arikunto, 1997:114). Sumber data penelitian ini
diperoleh dari:
43Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Analisis Data
Data yang dianalisis meliputi data kuantitatif (angka-angka sebagai ukuran
prestasi), dan data kualitatif (angka sebagai perbandingan). Analisis data dilakukan untuk
membandingkan kondisi sebelum dan sesudah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran.
Tahapan menganalisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
a). Reduksi Data
Reduksi data dilakukan untuk pemilihan dan penyederhanaan data, yaitu seleksi
dan pembuangan data yang tidak relevan. Data-data yang relevan dengan penelitian akan
diorganisasikan sehingga terbentuk sekumpulan data yang dapat memberi informasi
faktual.
b). Penyajian data
Penyajian data dilakukan dalam bentuk sekumpulan informasi, baik berupa tabel,
bagan, maupun deskriptif naratif, sehingga data yang tersaji relatif jelas dan informatif.
c). Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan kegiatan tahap akhir dari proses analisis data.
Penarikan kesimpulan dilakukan dengan evaluatif berdasarkan kegiatan yang ditempuh
dalam dua tahap sebelumnya.
Indikator Keberhasilan
Dari tahap kegiatan pada siklus I , siklus II, hasil yang diharapkan adalah :
1. Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses
pembelajaran Bahasa Indonesia sebanyak ≥ 85 %.
2. Terjadi peningkatan prestasi siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia
≥ 70 %.
3. Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65% dan secara klasikal >
85 %, maksimal 100%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Tujuan dialaksanakan Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk memecahkan
permasalahan pembelajaran yang ada di dalam kelas dan sebagai upaya untuk
meningkatakan hasil belajar siswa. Oleh karena itu sebelum pelaksanaan Penelitian
Tindakan Kelas, terlebih dahulu diadakan analisa data melalui tes pada kondisi awal. Hal
ini dilaksanakan untuk mengetahui , apakah penelitian tindakan kelas perlu dilaksanakan
atau tidak.
Untuk mendapatkan data pada kondisi awal, peneliti mengadakan evaluasi
pembelajaran sebelum pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Hasil analisa data yang
dilaksanakan pada kondisi awal, hasilnya dapat dilihat pada tabel 1, sebagai berikut :
Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII
SMPN 05 Kutai Kartanegara Pada Kondisi Awal
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase (%)
9
41%
< 65
13
59%
65 – 100
22
100 %
Jumlah
Sumber : Data yang diolah
44Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi,. ..(Sujadi)
Berdasarkan tabel 1 di atas, menunjukkan bahwa yang mendapat nilai < 65
sebanyak 9 siswa atau sebesar 41%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 13
siswa, atau sebesar 59%, dengan demikian, maka hasil belajar pada kondisi awal
dinyatakan masih belum tuntas belajar secara klasikal.
Untuk mendapatkan pemecahan masalah dan meningkatkan hasil belajar,
selanjutnya diadakan penelitian dan analisa data pada siklus I.
Peneliti melaksanakan siklus I dengan menerapkan pembelajaran kontekstual
pada mata pelajaran bahasa Indonesia “Teks Bacaan”. Pada tahap ini siswa di ajak
menyimak teks bacaan yang sudah dipersiapkan.
Peneliti menjelaskan mengenai penulisan narasi. Selanjutnya siswa diajk
mengingat ingat hal-hal apa yang dialami kemudian disuruh membuat tulisan berbentuk
narasi. Pada kegiatan akhir, peneliti menilai narasi yang telah dibuat siswa dan hasilnya
adalah adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII
SMPN 05 Kutai Kartanegara Pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase (%)
5
23%
< 65
17
77%
65 – 100
22
100 %
Jumlah
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat dilihat bahwa ada peningkatan hasil belajar yang
menggembirakan , yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 23%,
sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 17 siswa, atau sebesar 77%.
Meskipun pada siklus I, hasil belajar sudah mencapai ketuntasan, namun untuk
mendapat hasil belajar yang lebih baik lagi, selanjutnya untuk perbaikan prestasi dan hasil
belajar diadakan analisa data pada siklus II. Kegiatan pada siklus II, hanya
menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I.
Pada kegiatan akhir siklus II, diperoleh data , yang mendapat nilai < 65 hanya
sebanyak 3 siswa atau sebesar 14%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19
siswa, atau sebesar 86%, dengan demikian, maka hasil belajar pada siklus II dinyatakan
tuntas belajar secara klasikal. Sehingga analisa data tidak dilanjutkan pada siklus
berikutnya.
Analisa data pada siklus II, lebih jelas dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas
VIIISMPN 05 Kutai Kartanegara 05 Pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase (%)
3
14%
< 65
19
19%
65 – 100
22
100 %
Jumlah
Sumber : Data yang diolah
Tabel 4 dan grafik 1 dibawah ini, menjelaskan perbandingan peningkatan hasil
belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ‘Kegunaan Akar’ mulai dari kondisi awal,
Siklus I, dan Siklus II.
45Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Tabel 4. PerbandinganKetuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Siswa Kelas VIII SMPN 05 Kutai Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
9
41%
5
23%
3
14%
< 65
13
59%
17
77%
19
86%
65 – 100
22
100%
22
100%
22
100%
Jumlah
Sumber : Data yang diolah
Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Siswa Kelas VIII SMPN 05 Kutai Kartanegara Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus
II
25
20
15
< 65
10
65 - 100
5
0
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Sumber : data yang diolah
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia dengan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan keterampilan menulis
narasi diperoleh peningkatan hasil belajar siswa yang menggembirakan. Hal ini dapat
dilihat analisa data pada kondisi awal masih rendah, yaitu pembelajaran kontekstual
diterapkan, diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebesar 41%,
sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 13 siswa, atau sebesar 59%.
Rendahnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan karena 1) kurangnya perhatian
siswa dalam proses pembelajaran, 2) kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran,3)
kurangnya kesempatan siswa dalam bertanya, dan 4) rendahnya tingkat penguasaan materi
yang baru dipelajari. Selanjutnya diadakan penelitian dan analisa data pada siklus I.
Pada siklus I dilaksanakan dengan menerapkan pembelajaran kontekstual. Pada
siklus ini siswa tampak bersemangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Materi
yang diajarkan pun menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa. Siswa juga tampak aktif
untuk menulis narasi. Hal ini terlihat pada saat analisa data dilakukan yaitu , diperoleh data
yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 23%, sedangkan yang mendapat
nilai 65 – 100 sebanyak 17 siswa, atau sebesar 77%.
Meskipun pada siklus I, hasil belajar sudah mencapai ketuntasan yang diharapkan ,
namun masih terjadi kurangnya optimalisasi kegiatan siswa pada saat kerja melakukan
penulisan narasi. Berdasarkan kenyataan tersebut peneliti melakukan tindakan perbaikan
pembelajaran siklus II. Upaya yang akan dilakukan adalah dengan mengoptimalkan
kegiatan siswa, dan meningkatkan pengawasan peneliti terhadap kerja siswa.
46Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi,. ..(Sujadi)
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, pada dasarnya sama dengan siklus I.
Namun ada beberapa perbaikan yang dirasa pada siklus I, masih belum maksimal
pelaksanaannya. Peneliti memberikan tugas berupa tes untuk mengadakan analisa data,
baik yang dikerjakan sendiri maupun secara kelompok.
Pada kegiatan siklus II ini, diperoleh data , yang mendapat nilai < 65 hanya
sebanyak 3 siswa atau sebesar 14%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19
siswa, atau sebesar 86%, dengan demikian, maka hasil belajar pada siklus II dinyatakan
tuntas belajar secara klasikal. Sehingga analisa data tidak dilanjutkan pada siklus
berikutnya.
Faktor lain yang ikut memberi kontribusi terhadap peningkatan hasil belajar siswa
adalah dengan diberikannya kesempatan kepada siswa untuk melakukan peragaan dalam
kelompok. Seperti dikatakan Edgar Dale bahwa pengalaman belajar yang paling tinggi
nilainya adalah pengalaman belajar langsung dan melakukan sendiri.
Namun, seperti pada model pembelajaran yang lain, selain mempunyai kelebihan,
pembelajaran kontekstual juga mempunyai kelemahan diantaranya adalah menyita waktu
banyak, karena guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai
pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar.
Untuk seorang guru ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru memerlukan waktu
yang banyak. Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi
motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik. Untuk itu guru harus menyesuaikan
model pembelajaran yang akan diterapkan dengan waktu, kondisi siswa dan sarana
prasarana yang ada supaya hasilnya maksimal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tindakan kelas (PTK), maka hasil analisis data dapat peneliti
simpulkan sebagai berikut : Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi Melalui
Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa
Kelas VIII SMPN 05 Kutai Kartanegara.
Saran-saran
Saran-saran yang peneliti sampaikan untuk memperbaiki proses pembelajaran,
adalah sebagai berikut :
1) Untuk guru, hendaknya menerapkan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan
hasil belajar siswa pada mata pelajaran yang lain.
2) Untuk sekolah, agar memberi dukungan dengan menyiapkan saran dan prasarana yang
dibutuhkan untuk mengadakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru
sebagai upaya untuk peningkatan kualitas pembelajaran di kelas.
DAFTAR RUJUKAN
Akhadiah Sabarti (2001). Menulis 1. Jakarta: Universitas Terbuka.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Moedjiono
dan Dimyab. 1992.
Keraf Gorys. (2000). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.
Kusumah Encep, dkk. (2002). Menulis 2. Jakarta: Universitas Terbuka.
Moeliono, A.M. (1989). Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar. Jakarta:
Gramedia.
47Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Mulyono Abdurrahman. (2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Pt.
Rineka Cipta.
Nurhadi, (2003). Pendekatan Kontektual, Jakarta : DepartemenPendidikan Nasional
Roestiyah. (1994). Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem.Jakarta: Rineka Cipta.
Sirait Bistok, Editor. (1985). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Slamet. (2008). Dasar-dasar ketrampilan Berbahasa Indonesia. Surakarta: UNS Press.
Suparmo dan Moh. Yunus. (2004). Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Suparno dan Martutik. (1997). Wacana Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.
Tarigan Heiny Guntur. (1982). Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.
Tarigan, H.G. (1986). Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktifistik. Jakarta
: Prestasi Pustaka
48