Senin, 23 April 2018

PENINGKATAN HASIL BELAJAR KEMAMPUAN MEMBACA NYARING DENGAN TEMA “KESEHATAN” MENGUNAKAN MEDIA CERITA BERGAMBAR SISWA KELAS II SD NEGERI BADEAN 01


Muflihah

Abstrak: Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengkaji tentang, Peningkatan Kemampuan Membaca Nyaring Dengan Tema Kesehatan Mengunakan Media Cerita Bergambar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas II SD Negeri Badean 01. Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection). Hasil penelitian: Dapat meningkatkan Kemampuan Membaca Nyaring Dengan Tema Kesehatan Mengunakan Media Cerita Bergambar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas II SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember . Pada Siklus II diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 siswa atau sebesar 9%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 31 siswa atau sebesar 91%, dengan demikian pada Siklus II dinyatakan tuntas


Kata Kunci: Membaca Nyaring, Media Cerita Bergambar

PENDAHULUAN
Dalam proses belajar-mengajar di kelas guru memegang peranan yang sangat penting. Para siswa tetap memerlukan bimbingan dan arahan untuk dapat belajar dengan baik. Selain itu, media pembelajaran yang bervariasi dapat membantu siswa mengembalikan semangat belajarnya. Di samping itu, media pembelajaran yang bervariasi membuat para siswa tertarik dan tertantang untuk mengikuti proses pembelajaran tanpa membuat siswa tersebut jenuh dan bosan dalam mengikuti proses balajar-mengajar tersebut. Oleh karena itu, variasi media pembelajaran di sekolah dasar sangat diperlukan, apalagi keadaan siswa sekolah dasar yang pola pikirnya masih bersifat konkret dan masih senang bermain, sangat cocok diterapkan media pembelajaran yang bervariasi. Para guru hendaknya membuat pembelajaran jadi bermakna dan buatlah semua siswa aktif dalam mengikuti proses belajar-mengajar, jangan gurunya saja yang aktif dalam proses pembelajaran.
Menurut teori Piaget (dalam Syamsudin, 2001:102), anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. Hal ini menunjukkan bahwa anak sangat menyukai benda-benda yang nyata. Di samping itu, anak juga memiliki daya fantasi yang sangat tinggi. Berdasarkan asumsi tersebut, agar lebih menarik dan menumbuhkan motivasi anak terhadap sesuatu hal, diperlukan media yang dapat menyalurkan imajinasi yang kreatif pada anak. Dalam hal ini guru harus kreatif dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, baik itu dari segi materi, metode maupun media yang digunakan harus menarik agar dapat menarik minat siswa untuk giat dalam belajar di sekolah, khususnya di dalam kelas.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan membaca nyaring yang selama ini masih belum mencapai ketuntasan seperti yang diharapkan. Berdasarkan hal tersebut diatas peneliti yang juga sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan media yang tepat untuk diterapkan di kelas II SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
Salah satu media yang dapat dimanfaatkan diantaranya adalah media cerita bergambar. Dengan buku cerita bergambar kita dapat membantu mempermudah anak untuk menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam bentuk bahasa karena gambar akan memberikan inspirasi dan motivasi yang sangat tinggi kepada siswa untuk melakukan proses pembelajaran terutama dalam megajarkan membaca. Jika kesulitan belajar berbahasa khususnya belajar membaca dibiarkan begitu saja tanpa adanya tindak lanjut maka akan banyak siswa yang berkesulitan membaca khususnya membaca nyaring.
Gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual kedalam bentuk dua dimensi sebagai hasil perasaan dan pikiran. Gambar dapat dipergunakan sebagai media dalam penyelenggaraan proses pendidikan sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar-mengajar. Tarigan (1995:209) mengemukakan bahwa pemilihan gambar haruslah tepat, menarik dan dapat merangsang siswa untuk belajar. Media gambar yang menarik, akan menarik perhatian siswa dan menjadikan siswa memberikan respon awal terhadap proses pembelajaran. Media gambar yang digunakan dalam pembelajaran akan diingat lebih lama oleh siswa karena bentuknya yang konkrit dan tidak bersifat abstrak. Gambar adalah suatu bentuk ekspresi komunikasi universal yang dikenal khalayak luas.
Media Cerita Bergambar adalah buku bergambar tetapi dalam bentuk cerita, bukan buku informasi. Dengan demikian Media Cerita Bergambar sesuai dengan ciri-ciri buku cerita, mempunyai unsur-unsur cerita (tokoh, plot, alur). Media Cerita Bergambar ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, (1) Media Cerita Bergambar dengan kata-kata, (2) Media Cerita Bergambar tanpa kata-kata. Kedua buku tersebut biasanya untuk prasekolah atau murid sekolah dasar kelas awal.
Media Cerita Bergambar merupakan sesuatu yang tidak asing dalam kehidupan anak-anak. Disamping itu, buku adalah sebuah media yang baik bagi anak-anak untuk belajar membaca. Media Cerita Bergambar merupakan kesatuan cerita disertai dengan gambar-gambar yang berfungsi sebagai penghias dan pendukung cerita yang dapat membantu proses pemahaman terhadap isi buku tersebut. Melalui Media Cerita Bergambar, diharapkan pembaca dapat dengan mudah menerima informasi dan deskripsi cerita yang hendak disampaikan.
Untuk anak usia dini, alangkah baiknya jika kita mengenalkan Media Cerita Bergambar yang sesuai dengan usia mereka, untuk membantu perkembangannya. Karena pada saat usia dini, perkembangan otak anak berkembang secara pesat. Sehingga kita harus memotivasi anak untuk selalu belajar dan media pembelajaran membaca permulaan yang efektif adalah melalui Media Cerita Bergambar.
Mitchell (dalam Nurgiantoro, 2005:159) mengungkapkan fungsi dan pentingnya Media Cerita Bergambar sebagai berikut: 1)Membantu perkembangan emosi anak; 2)Membantu anak belajar tentang dunia dan keberadaannya; 3)Belajar tentang orang lain, hubungan yang terjadi dan pengembangan perasaan; 4)Memperoleh kesenangan; 5)Untuk mengapresiasi keindahan, dan; 6)Untuk menstimulasi imajinasi.

Perumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dikaji pada penelitian ini adalah, Apakah dapat meningkatan Kemampuan Membaca Nyaring Dengan Tema Kesehatan” dengan Mengunakan Media Cerita Bergambar Siswa Kelas II SD Negeri Badean 01?



Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengkaji tentang, Peningkatan Kemampuan Membaca Nyaring Dengan Tema Kesehatan Mengunakan Media Cerita Bergambar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas II SD Negeri Badean 01.

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil yang dperoleh pada Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan bermanfaat bagi :
  1. Siswa, dapat memperbaiki kualitas proses pembelajaran sehingga dengan sasaran akhir memperbaiki hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia,
  2. Bagi Guru, dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas, guru dapat berkembang dan meningkatkan kinerjanya secara profesional, karena guru mampu menilai, merefleksi diri, dan mampu memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya,
  3. Bagi Sekolah, dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah sehingga membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
Untuk menghindari salah tafsir tentang judul penelitian maka perlu batasan operasional sebagai berikut :
  1. Media Cerita Bergambar adalah buku bergambar tetapi dalam bentuk cerita, bukan buku informasi. Dengan demikian Media Cerita Bergambar sesuai dengan ciri-ciri buku cerita, mempunyai unsur-unsur cerita (tokoh, plot, alur)
  2. Membaca nyaring atau membaca bersuara merupakan jenis kompetensi membaca yang menuntut persyaratan yang ketat. Membaca nyaring bukan sekedar menyuarakan huruf. Jika hal ini yang terjadi maka pemahaman akan materi yang dibaca akan gagal diperoleh
  3. Hasil belajar juga merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar dan dapat dinilai atau diukur melalui tes. (Nana Sudjana (1995:22).

METODE PENELITIAN
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di kelas II SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember . Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas II SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember dan dilaksanakan pada semester genap yang berjumlah sebanyak 34 siswa, dan yang menjadi obyek penelitian adalah proses dan peningkatan hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia materi ajar “Membaca Nyaring” dengan menggunakan media Cerita Bergambar.

Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (PTK). menurut Sunardi (1997:3) bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian atau kajian secara sistematis dan terencana yang dilakukan oleh peneliti dan praktisi (dalam hal ini guru), untuk memperbaiki pelajaran dengan jalan mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujan untuk mengembangkan keterampilan - keterampiIan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung didunia kerja atau dunia aktual.
PTK adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik.
Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).
1) Perencanaan (planning)
Dalam penelitian ini disusun dengan menggunakan media gambar, materi pelajaran, post-tes, pedoman observasi, angket, mengkordinir tindakan.
2) Tindakan (action)
Pada fase tindakan yang dilakukan adalah penggunaan media gambar.
3) Pengamatan (observation)
Pada fase ini yang dilakukan adalah pengumpulan data yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media gambar pada materi ajar “Membaca Nyaring”.
4) Refleksi (reflection)
Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai dasar langkah berikutnya yakni apakah hasil yang didapatkan sudah sesuai dengan kriteria ketuntasan atau tidak. Jika iya maka penelitian selesai yang berarti penelitian hanya sampai pada siklus I namun jika tidak maka akan dilanjutkan pada siklus II yakni diawali dengan merevisi kembali perencanaan, kemudian melakukan kembali poin 2, 3, 4 dan seterusnya.
Penelitian ini direncanakan menggunakan 3 siklus jika pada siklus pertama hasil belajar sudah mencapi ketuntasan maka siklus akan dihentikan begitu sebaliknya.

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu memperoleh data-data yang relevan dan akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Metode observasi 2) Metode wawancara 3) Metode tes 4) Metode dokumentasi.
  1. Metode observasi
Observasi adalah suatu teknik penelitian yang dilakukan degan cara mengadakan pengamatan terhadap suatu objek baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan siswa dalam pembelajaran ini diamati oleh peneliti untuk mendapatkan data tentang aktivitas siswa.
  1. Metode wawancara
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin dimana pewawancara membawa pedoman yang hanya berupa garis besar saja dan pengembangannya dilakukan saat wawancara berlangsung. Wawancara akan dilakukan untuk mengetahui tanggapan dan pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang dilakukan.
  1. Metode tes
Tes adalah pertanyaan-pertanyaan atau latihan-latihan yang diberikan untuk mengetahui dan mengukur pengetahuan, keterampilan intelegensi, bakat dan kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai materi. Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes tertulis (essay) karena tes dalam bentuk ini dapat memunculkan kreatifitas siswa dalam berfikir dan menyusun jawaban sesuai dengan pendapat dan pemikiran mereka sendiri.
  1. Metode dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Pada penelitian ini data yang ingin diperoleh adalah data siswa dan nilai Bahasa Indonesia siswa pada pokok bahasan sebelumnya. Hal ini dapat memberikan informasi bagi peneliti untuk untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa sehigga peneliti dapat membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan yang berbeda.

Analisis Data
Analisis merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif terhadap data-data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara oleh peneliti seperti tanggapan siswa mengenai penggunaan gambar dan kegiatan guru selama proses pembelajaran berlangsung sedangkan analisis data kuantitatif diperoleh dari hasil tes.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pada pembelajaran sebelum penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan, hasil belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia materi ajar “Membaca Nyaring” siswa kelas II SD Negeri badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember, secara klasikal masih belum mencapai ketuntasan belajar. Data yang dianalisa pada sebelum penelitian ini menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, karena dari 34 siswa yang mendapat nilai < 65 masih sebanyak 14 siswa atau sebesar 41% dan yang mendapat nilai 65-100 hanya sebanyak 20 siswa atau sebesar 59%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih belum memahami apa yang dimaksud dengan membaca nyaring dan belum memahami materi yang diajarkan dengan baik.
Berdasarkan hasil analisa yang dilaksanakan diatas, peneliti melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan media cerita bergambar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia materi ajar “Membaca Nyaring” pada siklus I. Memperhatikan hasil pelaksanaan kegiatan dalam siklus I diperoleh data bahwa pembelajaran dengan penerapan model ini, hasil belajar siswa mengalami peningkatan.
Adapun hasil belajar pad siklus I, lebih jelas pada tabel dibawah ini:


Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Materi Ajar “Membaca Nyaring” Dengan Menggunakan Media Cerita Bergambar Siswa Kelas II SD Negeri Badean 01 pada Siklus I


Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
8
24%
65 -100
26
76%
Jumlah
34
100%
Sumber : Data Yang Diolah
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui, hasil belajar pada Siklus I, terjadi peningkatan, yaitu dari 34 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebanyak 24%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 siswa atau sebsesar 76%. Meskipun pada siklus I, sudah ada peningkatan hasil belajar, namun masih belum mencapai ketuntasan hasil belajar yang diharapkan. Selanjutnya peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran pada Siklus II.
Pada siklus II perhatian siswa terhadap materi pelajaran tampak lebih sungguh-sungguh. Peneliti memberi perhatian lebih kepada siswa yang pada siklus I masih belum mencapai ketuntasan belajar. Pada siklus II siswa mulai berani membaca dengan nyaring dan bacaannya juga benar. Akhir siklus II menunjukkan ketuntasan belajar secara klasikal sudah dapat dicapai. Aktivitas peneliti dalam kegiatan pembelajaran, pengamatan, dan memotivasi siswa semakin baik. Diakhir pembelajaran peneliti mengadakan evaluasi dan analisa data, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :


Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Materi Ajar “Membaca Nyaring” Dengan Menggunakan Media Cerita Bergambar Siswa Kelas II SD Negeri Badean 01 pada Siklus II


Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
9%
65 -100
31
91%
Jumlah
34
100%
Sumber : Data Yang Diolah
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui ketuntasan hasil belajar pada Siklus II diperoleh data. Yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 siswa atau sebesar 9%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 31 siswa atau sebesar 91%, dengan demikian pada Siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal, sehingga penelitian dihentikan pada siklus II.
Selanjutnya untuk melihat lebih jelas perbandingan ketuntasan hasil belajar, dari mulai kondisi awal, siklus I, dan siklus II, dapat disajikan pada tabel dan grafik perbandingan di bawah ini :

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Materi Ajar “Membaca Nyaring” Dengan Menggunakan Media Cerita Bergambar Siswa Kelas II SD Negeri Badean 01 pada Kondisi Awal, Siklus I Dan Siklus II


Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
14
41%
8
24%
3
9%
65 – 100
20
59%
26
76%
31
91%
Jumlah
34
100%
34
100%
34
100%
Sumber : Data yang diolah

Grafik 1 Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Materi Ajar “Membaca Nyaring” Dengan Menggunakan Media Cerita Bergambar Siswa Kelas II SD Negeri Badean 01 pada Kondisi Awal, Siklus I Dan Siklus II
Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Pemanfaatan Media cerita bergambar dalam pembelajaran membaca nyaringterbukti efektif. Efektivitas tersebut terlihat pada hal berikut. Pertama, pemanfaatan Media cerita bergambar dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan gembira, bebas, aktif, dan produktif, sehingga kendala psikologis yang sering menghambat siswa seperti rasa enggan, takut, malu dapat teratasi. Hal ini terlihat ketika siswa melaksanakan kegiatan membaca yang semula malu dan takut untuk membaca menjadi lebih bergairah, gembira, dan semangat dalam melaksanakan kegiatan membaca. Kedua, hasil membaca nyaring siswa semakin meningkat, dari kurang mampu mengenali gambar menjadi tertarik untuk mengenalinya, dari kurang mampu membaca huruf, suku kata, kata, dan kalimat sederhana menjadi tertarik menganalisisnya sampai bisa menguasai kalimat sederhana dengan baik. Dari kurang berminat membaca, menjadi tertarik dan penasaran ingin membaca dan memiliki Media cerita bergambar.
Dari hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi ajar “Membaca Nyaring” terjadi adanya peningkatan hasil belajar yang signifikan. Ini dapat dilihat ketuntasan belajar klasikal yang lebih baik daripada siklus sebelumnya. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar lebih baik, lebih termotivasi, lebih bersemangat, lebih menyenangkan, sehingga dapat meningkatkan pemahaman materi ajar yang lebih baik.
Hal ini dibuktikan dengan hasil belajar sebelum menggunakan media cerita bergambar menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, karena dari 34 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 14 siswa atau sebesar 41% dan yang mendapat nilai 65-100 hanya sebanyak 20 siswa atau sebesar 59%.
Selanjutnya dilaksanakan pembelajaran pada siklus I menggunakan media cerita bergambar dengan langkah-langkah sebagai berikut, bebelum KBM dilakukan, peneliti mengawalinya dengan berbagai kegiatan pra-KBM yang dapat merangsang dan menggali pengalaman berbahasa anak. Percakapan-percakapan ringan antara guru dan siswa sebelum kegiatan KBM dimulai merupakan langkah awal yang bagus untuk membuka pintu komunikasi. Sapaan-sapaan hangat dan berbagai pertanyaan ringan mereka akan membuat siswa termotivasi untuk betah dan belajar di sekolah.
Hasil belajar pada Siklus I dengan penggunaan media cerita bergambar, terjadi peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar, yaitu yang mendapat nilai < 65 menjadi sebanyak 8 siswa atau sebanyak 24%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 siswa atau sebsesar 76%. Meskipun pada siklus I, sudah ada peningkatan hasil belajar, namun masih belum mencapai ketuntasan hasil belajar yang diharapkan. Selanjutnya peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran pada Siklus II.
Pada pelaksanaan pembeljaran berikutnya atau pada siklus kedua ini dilakukan dengan pengecekan sarana yang di siapkan siswa, kemudian memberikan materi yang akan dibahas.
Pada Siklus II diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 siswa atau sebesar 9%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 31 siswa atau sebesar 91%, dengan demikian pada Siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal, sehingga penelitian dihentikan pada siklus II.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diberikan, maka media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian siswa sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara guru (atau pembuat media) dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna.
Media yang digunakan dalam proses pembelajaran harus dapat memotivasi siswa untuk giat dalam belajar, Sesuatu dapat dikatakan sebagai media apabila media tersebut digunakan dalam menyampaikan atau menyalurkan pesan dengan tujuan-tujuan pendidikan dan pembelajaran.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan: Dapat meningkatkan Kemampuan Membaca Nyaring Dengan Tema Kesehatan Mengunakan Media Cerita Bergambar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas II SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember . Pada Siklus II diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 siswa atau sebesar 9%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 31 siswa atau sebesar 91%, dengan demikian pada Siklus II dinyatakan tuntas.


Saran-saran
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian penelitian ini, ada beberapa saran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan hasil belajar, yang dapat peneliti sampaikan diantaranya adalah sebagai berikut,
  1. Untuk guru, hendaknya guru menerpakan media pembelajaran yang variatif untuk membuat siswa kelas rendah menjadi semangat dan gembira dalam mengikuti pembelajaran,
  2. Untuk sekolah, hendaknya dapat menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk membuat proses belajar siswa lebih optimal dan mendapatkan hasil yang diharapkan.

DAFTAR RUJUKAN

Budiasih., dan Zuchdi, D. (1997). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Depdikbud. 2016. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Kemendikbud.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Hartati, tatat, dkk. 2009. Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di kelas rendah. Bandung.
Pratama, Rizal. (2009). Jenis-jenis Membaca dan Kecepatan Membaca .
Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa. (1999). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-2. Jakarta: Balai Pustaka
Solehan, T.W, dkk. 2001. Hakikat pendekatan, prosedur dan strategi pembelajaran bahasa Indonesia- system pembelajaran bahasa Indonesia (modul UT). Jakarta. UT
Tampubolon. (1993). Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca Pada Anak. Bandung: Angkasa
Winataputra, U.S., dkk. (2001). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka
Uno, Hamzah.B. 2007. Mode Pembelajaran : Menciptakan Proses Belajar
Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta. Bumi Aksara.