Senin, 23 April 2018

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW PADA MATERI EKOSISTEM KELAS X MA DARUD DA`WAH WAL IRSYAD (DDI) ENTROP KOTA JAYAPURA

Joko Waluyo
masjokowa@gamail.com

Abstrak: Pembelajaran Biologi khususnya materi Ekosistem berperan dalam
kehidupan sehari-hari untuk memahami fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan
proses belajar mengajar yang efektif dimana peserta didik terlibat secara aktif.
Model Cooperatiive Learning Jigsaw merupakan alternatif untuk mengembangkan
keaktifan peserta didik dalam pembelajaran sehingga diharapkan prestasi
belajarnya dapat meningkat . Penelitian ini dilaksanakan di MA DDI Entrop Kota
Jayapura dengan subjek penelitian peserta didik kelas X tahun pelajaran 2015/2016
yang berjumlah 33 peserta didik dengan kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran
Biologi 70. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan tes.
Berdasarkan
hasil penelitian, nilai rata-rata mengalami peningkatan. Sebelum penelitian rata-
rata prestasi belajar adalah 57,27 dengan ketuntasan 27,27 % kemudian pada siklus
I meningkat menjadi 65,18 dan ketuntasan 60,61 % dengan keaktifan peserta didik
dalam pembelajaran 54,06 %. Pada siklus II meningkat menjadi 69,09 dan
ketuntasan 87,87 % dengan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran 90,90 %.
Kata Kunci : Cooperatiive Learning Jigsaw, Prestasi belajar

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia.
Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia
menurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius
menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan
muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk
hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sekolah sebagai organisasi, mempunyai peran penting dalam membentuk
kehidupan publik dan merubah pola pikir peserta didik aagar tercipta generasi yang
berkualitas. Sekolah diharapkan tidak hanya untuk menciptakan peserta didik yang cerdas
namun juga mampu menyiapkan peserta didik dengan moral dan etika guna memasuki
tahapan kehidupan secara harkat dan bermartabat.

Pembelajaran merupakan suatu proses yang rumit karena tidak sekedar menyerap
informasi dari pendidik, tetapi melibatkan berbagai kegiatan dan tindakan yang harus
dilakukan terutama bila menginginkan hasil yang lebih baik. Salah satu kegiatan
pembelajaran yang menekankan berbagai kegiatan dan tindakan adalah menggunakan
metode tertentu dalam pembelajaran, karena suatu metode dalam pembelajaran pada
hakekatnya merupakan cara teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu tujuan
Joko Waluyo, S.Pd., M.MPd., Adalah Guru MA Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Entrop
Kota Jayapura
92Peningkatan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw,...(Joko W)
pengajaran dan untuk memperoleh kemampuan dalam mengembangkan aktifitas dan minat
belajar yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik.
Kesuksesan belajar tidak hanya tergantung pada inteligensi peserta didik saja, akan
tetapi tergantung juga bagaimana guru menggunakan model pembelajaran yang tepat dan
memberinya motivasi untuk berkembang sesuai dengan bakat yang dimiliki peserta didik.
Kedudukan guru yang demikian itu senantiasa relevan dengan zaman dan sampai kapanpun
diperlukan. Dengan kata lain potret dan wajah diri bangsa di masa depan tercermin dari
potret diri para guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding
lurus dengan citra para guru ditengah masyarakat.

Proses pembelajaran akan berjalan dengan baik kalau model yang digunakan betul-
betul tepat. Karena antara pembelajaran yang dilakukan dengan model-model
pembelajaran saling berkaitan. Model pembelajaran harus dapat mengarahkan peserta didik
untuk mengetahui, memahami, dan mempergunakan dan menguasai bahan pelajaran,
sehingga terjadi interaksi dua arah antara pendidik dan peserta didik. Kedua kegiatan ini
akan saling mempengaruhi dan menentukan hasil belajar, disini kemampuan pendidik
dalam menyampaikan atau mentransformasikan mata pelajaran dengan baik yang
merupakan syarat mutlak dan dapat mempengaruhi proses pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peserta didik aktif adalah Jigsaw
learning. Model ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang
akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak
mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan model ini adalah dapat melibatkan seluruh
peserta didik dalam belajar sekaligus mengajar orang lain.

Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak pesesta didik untuk
belajar secara aktif, ketika peserta didik belajar secara aktif berarti mereka mendominasi
aktifitas pembelajaran. Dalam strategi pembelajaran aktif peserta didik akan memainkan
pikirannya untuk menemukan ide pokok materi pembelajaran, memecahkan persoalan atau
mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari dalam suatu persoalan yang ada dalam
kehidupan nyata. Dalam pembelajaran aktif ini peserta didik dilibatkan aktif baik dari
aspek fisik maupun aspek mental, karena dengan cara ini peserta didik dapat menemukan
cara belajar yang menyenangkan sehingga belajar akan efektif dan efisien.

Model pembelajaran Jigsaw ini dikembangkan oleh Aronson, dan teknik ini dapat
digunakan dalam pembelajaran membaca, menulis, mendengarkan atau berbicara. Teknik
ini juga dapat digunakan dalam semua mata pelajaran. Dalam satu kelas peserta didik
memiliki latar belakang yang heterogen, ada yang memiliki kemampuan tinggi , sedang
dan rendah. Dalam teknik ini peserta didik dibagi menjadi tenaga ahli tentang materi
dengan cara bekerja sama dengan para anggota dari kelompok lain yang telah ditetapkan
sesuai dengan keahlian yang sesuai dengan materi tersebut.

a. Langkah-langkah Model Pembelajaran Jigsaw
1) Pilihlah materi yang dapat dibagi menjadi beberapa kelompok bagian
2) Bagi peserta didik menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah
bagian yang ada. Jika jumlah peserta didik 50 sementara jumlah bagian
yang ada adalah 5, maka masing-masing kelompok terdiri dari 10 peserta
didik. Jika jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi dua,
sehimgga setiap kelompok terdiri dari 5 peserta didik. Kemudian stelah
proses selesai gabungkan kedua kelompok pecahan tersebut.
3) Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi yang
berbeda-beda
4) Setiap kelompok mengirim anggotanya ke kelompok lain untuk
menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompoknya.
5) Kembalikan suasana kelas seperti semula, kemudian tanyakan sekiranya ada
93Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
6) Beri peserta didik beberapa pertanyaan untuk mnegecek pemahaman
mereka terhadap materi.
Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengatasi rendahnya
prestasi belajar Biologi adalah model cooperative learning tipe Jigsaw. Model
pembelajaran Jigsaw sebagai salah satu cooperative learning memiliki ciri pembelajaran
berpusat pada peserta didik (student center). Oleh karena itu dalam pelaksanaan tipe
Jigsaw, peserta didik terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran aktif akan
membuat peserta didik dapat menemukan cara belajar yang menyenangkan sehingga
belajar akan efektif dan efisien. Dengan demikian, penerapan cooperative learning tipe
Jigsaw, tidak hanya meningkatkan prestasi belajar peserta didik saja tetapi juga
menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Berdasarkan Uraian Diatas,
Penulis Tertarik Untuk Mengadakan Penelitian Dengan Judul “Peningkatan Hasil Belajar
Biologi Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw Pada Materi Ekosistem Kelas X MA
Darud Da`Wah Wal Irsyad (DDI) Entrop Kota Jayapura
Proses belajar mengajar materi Keanekaragaman Hayati yang dilakukan oleh guru
biologi selama ini menggunakan metode ceramah belum mencapai kriteria ketuntasan
belajar oleh karena itu guru memilih metode diskusi kelompok untuk meningkatkan hasil
belajar peserta didik.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, maka dapat ditarik beberapa pertanyaan
penelitian sebagai suatu rumusan masalah sebagai berkut :
1. Apakah model pembelajaran tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar peserta
didik kelas X materi Ekosistem di MA Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Entrop Kota
Jayapura?
2. Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran tipe Jigsaw untuk meningkatkan hasil
belajar materi Ekosistem peserta didik kelas X di MA Darud Da’wah Wal Irsyad
(DDI) Entrop Kota Jayapura?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang disebutkan diatas, maka tujuan penelitian ini
adalah untuk:
1. Mengetahui apakah model pembelajaran tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik kelas X materi Ekosistem di MA Darud Da’wah Wal Irsyad
(DDI) Entrop Kota Jayapura?
2. Mengetahui bagaimana pelaksanaan model pembelajaran tipe Jigsaw untuk
meningkatkan hasil belajar materi Ekosistem peserta didik kelas X di MA Darud
Da’wah Wal Irsyad (DDI) Entrop Kota Jayapura?
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan kontribusi dalam upaya untuk meningkatkan hasil belajar mata
pelajaran Biologi di MA Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Entrop Kota
Jayapura.
b. Menjadi salah satu sumber informasi untuk mengevaluasi proses belajar
mengajar di MA Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Entrop Kota Jayapura.
2. Manfaat Praktis
a. Guru mampu memilih dan menggunakan model-model pembelajaran yang
94Peningkatan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw,...(Joko W)
tepat sesuai dengan materi dan karakter peserta didik sehingga dapat
meningkatkan mutu pembelajaran.
b. Sebagai bahan pertimbangan dan tambahan informasi dalam menentukan
langkah-langkah pengembangan pembelajaran di MA Darud Da’wah Wal
Irsyad (DDI) Entrop Kota Jayapura.
Kenyataan yang ada dilapangan menunjukkan bahwa mutu mata pelajaran
Biologi masih belum memuaskan. Hal ini disebabkan oleh kesulitan peserta didik
dalam memahami materi yang sukar diterima. Salah satu penyebab rendahnya
prestasi belajar adalah metode yang digunakan guru. Metode yang digunakan dalam
pembelajaran masih terpusat pada buku-buku pelajaran dan kurang adanya variasi
guru dalam menggunakan metode dengan model-model pembelajaran yang lebih
bervariatif.
Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengatasi
rendahnya prestasi belajar biologi adalah model cooperative learning tipe Jigsaw.
Daalam pelaksanaan model pembelajaran Jigsaw, peserta didik terlibat secara aktif
dalam pembelajaran. Pembelajaran aktif akan membuat peserta didik dapat
menemukan cara belajar yang menyenangkan sehingga belajar akan efektif dan
efisien. Dengan demikian, penerapan cooperative learning tipe Jigsaw tidak hanya
meningkatkan prestasi belajar peserta didik saja tetapi juga menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan.

Kerangka berpikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian merupakan tempat penelitian yang dapat melihat fakta-fakta
yang terjadi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Lokasi penelitian adalah di
MA Darud Da`wah Wal Irsyad Entrop Kota Jayapura yang dijadikan obyek penelitian
untuk menerapkan model pembelajaran Jigsaw. Subyek penelitian adalah kelas X
yang berjumlah 33 peserta didik.
Waktu pelaksanaan penelitian disesuaikan dengan jam pelajaran pada kelas
yang digunakan subyek penelitian yaitu mulai bulan Februari Sampai dengan April
2016 atau pada semester 2 (dua) pada tahun pelajaran 2015/2016.
Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data tentang masalah yang akan diteliti maka penelitian
menggunakan metode antara lain:
a. Obsevasi
Metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data berupa aktivitas serta sikap
atau perilaku peserta didik selama pembelajaran. Observasi dilakukan dengan
bantuan lembar observasi.
b. Dokumentasi
Metode dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang data-data peserta didik,
misalnya nama, nomor induk serta nilai.
c. Wawancara
Peneliti melakukan wawancara terhadap peserta didik untuk mendapatkan
informasi mengenai respon peserta didik terhadap pembelajaran yang telah
dilaksanakan.
95Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
d. Tes
Tes digunakan untuk mengetahui prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran
Biologi materi Ekosistem. Tes diberikan pada peserta didik setiap akhir siklus.
Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam PTK ini adalah teknik analisis
deskriptif deduktif. Dengan teknik ini maka data yang telah dikumpulkan dari hasil
penelitian akan disortir untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk presentasi atau tabel
distribusi untuk selanjutnya dilakukan penafsiran dan pemaknaan secara kualitatif
dalam bentuk seperti tinggi rendah, tuntas atau tidak tuntas, aktif tidak aktif, dan lain
sebagainya.

Validasi Data

Dalam penelitian deskriptif yang termasuk studi kasus pengecekan
keabsahan data dapat dilakukan dengan kredibilitas. Kredibilitas adalah data upaya
peneliti untuk menjamin keabsahan data dengan mengkonfirmasikan data yang
diperoleh kepada subyek penelitian.
Indikator Kinerja
Kriteria keberhasilan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah jika
nilai rerata prestasi beajar peserta didik mencapai kriteria ketuntasan minimal nilai 70.
Prosedur Penelitian
PTK merupakan suatu pencermatan terhadap belajar yang merupakan
sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi disebuah kelas secara bersama.
PTK ini adalah penelitian yang bertujuan meningkatkan praktek pembelajaran secara
berkesinambungan yang pada dasarnya melekat pada terlaksananya misi-misi
profesional yang diemban seorang pendidik.

Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga
siklus terdiri dari empat tindakan yaitu:
1. Perencanaan tindakan (planning)
2. Pelaksanaan tindakan (action)
3. Pengamatan (observation)
4. Refleksi (reflection)

Keempat tindakan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Perencanaan tindakan
Dalam tahap ini peneliti menjelaskn tentang apa, mengapa, kapan , dimana, oleh
siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Tanggal 26 Januari 2016
penelitian tindakan kelas ini akan dipakai dengan model siklus yang dilakukan
secara berulang-ulang dan berkelanjutan, sehingga diharapkan semakin lama akan
menunjang hasil yang dicapai. Langkah-langkah kegiatan yang dipersiapkan dalam
penelitian tindakan kelas ini adalah:
a. Observasi
b. Identifikasi permasalahan dalam kegiatan pembelajaran
c. Merumuskan metode strategi yang sesuai dengan pembelajaran
d. Melakukan pemilihan model pembelajaran yang sesuai
Penelitian ini dilaksanakan selama 4 kali pertemuan pada satu kelas yaitu kelas X
MA DDI Entrop Kota Jayapura.
2. Pelaksanaan tindakan
Adapun kegiatan atau tindakan yang dilaksanakan di kelas semua pertemuan
sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran
b. Mengelompokkan peserta didik menjadi 5 kelompok
96Peningkatan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw,...(Joko W)
c. Menyampaikan maeri secara garis besar
d. Melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Jigsaw learning dan
mempraktekkan materi apabila dibutuhkan.
e. Setelah mereka melakukan diskusi dengan model Jigsaw learning, maka tiap-
tiap kelompok menyampaikan pertanyaan dan maksimal dua pertanyaan bagi
setiap kelompok.
f. Peserta didik mendapat pengarahan dari guru berkaitan dengan tugas-tugas
yang diberikan
g. Peserta didik mendapat tugas sesuai dengan materi pembelajaran.
3. Observasi
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan pengamatan
dengan pengambilan data hasil belajar dan kiner peserta didik.
4. Refleksi

Data yang diperoleh dari tindakan kelas yang dilaksanakan akan dianalisis untuk
memastikan bahwa dengan model pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik kelas X MA DDI Entrop Kota Jayapura. Menganalisis data
akan digunakan prosedur dan teknik yang sesuai dengan tujuan yang inigin dicapai,
yakni memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk menemukan
pengetahuan-pengetahuan baru dalam meningkatkan hasil belajar khususnya mata
pelajaran Biologi pada materi Ekosistem.

Pada tahap kegiatan ini difokuskan pada upaya upaya menganalisis,
memaknai, menjelaskan dan menyimpulkan. Oleh karena kegiatan penelitian
dilakukan secara mandiri maka kegiatan menganalisis dan refleksi menjadi
tanggung jawab sendiri. Analisis dan refleksi dari kesesuaian antar pelaksanaan
dan rencana pembelajaran yang telah diterapkan, mengkaji dan mencari
kelemahan-kelemahan model pembelajaran yang digunakan serta berdiskusi
dengan orang yang lebih ahli membuat kesimpulan. Dengan demikian penelitian
tindakan kelas diartikan sebagai upaya pendidik atau penelitian yang bertujuan
untuk memperbaiki atau meningkatkan kegiatan pembelajaran dalam mengatasi
kesulitan peserta didik dalam pembelajaran dengan penerapan langsung di dunia
kerja atau dunia faktual laninnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Sebelum Tindakan
Prestasi belajar mata pelajaran Biologi peserta didik kelas X MA DDI Entrop
Kota Jayapura masih rendah hal ini dapat dilihat dari prestasi belajar mata pelajaran
Biologi rata-rata 57,27 dan ketuntasan 27,27 %. Salah satu penyebab rendahnya prestasi
belajar adalah metode yang digunakan guru. Metode yang digunakan dalam pembelajaran
masih terpaku pada buku-buku pelajaran dan kurang adanya variasi guru dalam
menggunakan metode dengan model-model pembelajaran yang lebih bervariatif. Metode
konvensional menyebabkan peserta didik pasif dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan
peserta didik merasa cepat jenuh dan akibatnya menjadi malas untuk belajar. Apabila hal
tersebut dibiarkan berlarut-larut, maka kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran Biologi
tidak akan tercapai.

Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti termotivasi untuk menerapkan model
pembelajaran kooperatif Jigsaw dalam pembelajaran Biologi. Jigsaw memberi kesempatan
pada peserta didik untuk terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga diharapkan akan
memiliki pemahaman yang lebih baik.

97Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Hasil Peenelitian
1. Siklus I
a. Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
1) Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan antara lain menyiapkan
RPP, lembar penilaian, lembar observasi, dan sarana pembelajaran.
2) Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan adalah mendiskusikan tentang mengidentifikasi
komponen biotik dan komponen abiotik yang ada di lingkungan madrasah.
Dan mengelompokkan menjadi 5 kelompok.
3) Pengamatan
Pada siklus pertama ini peneliti membuat diskusi tentang mengidentifikasi
komponen biotik dan komponen abiotik yang ada di lingkungan madrasah.
Dari hasil diskusi tersebut adalah semua hasil diskusi kelompok yang
dipaparkan sudah cukup baik.
4) Refleksi
Hasil pengamatan peneliti ternyata hasil diskusi peserta didik kelas X sudah
cukup baik, tetapi sebagian peserta didik ada yang kurang antusias dalam
diskusi sebagian peserta didik masih ada yang malu dan tidak mau
mengeraskan suaranya, sehingga sebagian peserta didik tidak
mendengarkannya. Mungkin ini masih pertama dan para peserta didik
belum terbiasa, kalau sudah terdiasa para peserta didik akan berani dengan
sendirinya. Untuk diskusi selanjutnya peserta didik kelas X ada beberapa
materi yang dipresentasikan lagi menukar tiap-tiap kelompok.
b. Hasil Tindakan Siklus I
1) Aktivitas Peserta didik
Hasil observasi menunjukkan bahwaa peserta didik sudah mulai aktif dalam
pembelajaran. Berikut disajikan hasil observasi akktivitas pada siklus I.
Tabel 2
Hasil Observasi Aktivitas Peserta Didik pada Siklus I
Aspek yang
Jumlah
Presenta
diamati
pesert adidik
si
Kerja sama
12
50,05 %
Bertanya
15
45,45 %
Melaksanaka
22
66,67 %
n tugas
Rata-rata
54,06 %
2) Prestasi Belajar Peserta didik
Dari hasil tes diketahui bahwa prestasi belajar peserta didik pada
siklus Imengalami peningkatan. Sebelum penelitian rata-rata prestasi belajar
adalah 57,27 dan ketuntasan 27,27 % kemudian meningkat menjadi 65,18
dan ketuntasan 60,61 % dengan rata-rata keaktifan peserta didik dalam
pembelajaran adalah 54, 06 %. Hasil tes selengkapnya terdapat pada
lampiran.
2. Siklus II
a. Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
98Peningkatan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw,...(Joko W)
1) Perencanaan
Pada siklus yang kedua ini peneliti melakukan kelanjutan dari model
pembelajaran Jigsaw yaitu membagi peserta didik menjadi 5 kelompok akan
tetapi tiap kelompok terdiri dari beberapa materi dan tiap-tiap peserta didik
mempresentasikan bahasan mereka masing-masing pada kelompok baru
mereka secara bergantian dan ketua kelompok tetap menilai anggota
kelompok yang terbaik pada tiap-tiap kelompok.
2) Pelaksanaan
Pada siklus ini apa yang telah direncanakan pada saat pembelajaran berjalan
dengan lancar sesuai dengan yang telah direncanakan.
3) Pengamatan
Ketika proses pembelajaran berlangsung, mengalami perubahan kondisi
kelas yaitu peserta didik aktif mengikuti pembelajaran. Karena pada siklus
ke dua ini peneliti menggunakan variasi dengan memberikan tugas pada
peserta didik untuk mempraktekkan didepan kelas, tentang materi yang
dipelajari yaitu menjelaskan hubungan antar komponen biotik dan abiotik
dan hubungan antara komponen biotik dengan komponen abiotik yang ada
dilingkungan, walaupun ada hambatan yaitu waktu yang kurang mencukupi,
namun dari diskusi mereka didepan kelas dapat diketahui bahwa mereka
sudah memahami materi dan dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-
hari.
4) Refleksi
Dari hasil pengamatan peneliti peserta didik kelas X ternyata tindakan yang
dilakukan oleh peneliti sesuai dengan harapan dan mendekati hasil yang
optimal karena peserta didik sudah mulai terbiasa dan lebih enjoy dengan
metode ini walaupun masih ada sedikit hambatan.
b. Hasil Tindakan Siklus II
1) Aktivitas Siswa
Aktivitas peserta didik pada siklus II lebih baik dibandingkan siklus
I. Artinya, pada siklus II peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran. Hal
ini tampak pada tabel berikut:
Tabel 3
Hasil Observasi Aktivitas Peserta Didik pda Siklus II
Aspek yang
Jumlah pesert
Presenta
diamati
adidik
si
Kerja sama
28
84,84 %
Bertanya
29
87,87 %
Melaksanak
33
100 %
an tugas
Rata-rata
90,90 %
2) Prestasi Belajar Peserta didik
Prestasi belajar juga mengalami peningkatan. Pada siklus II rata-rata
prestasi belajar meningkat menjadi 69,09 dengan ketuntasan 87,87
% dan rata-rata keaktifan peserta didik dalam pembelajaran adalah
90,90%. Hasil tes selengkapnya terdapat pada lampiran.
99Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Pembahasan
Setelah melakukan penelitian selama kurang lebih 3 bulan, maka peneliti
mendapatkan data sesuai dengan yang diinginkan. Selanjutnya kembali kepada
rumusan masalah yaitu bagaimana pelaksanaan cooperative learning tipe Jigsaw
dalam pembelajaran Biologi pada materi Ekosistem meningkatkan hasil belajar
peserta didik kelas X MA DDI Entrop Kota Jayapura. Setelah diterapkannya
model pembelajaran Jigsaw di kelas X MA DDI Entrop Kota Jayapura peneliti
menemukan temuan-temuan dari hasil penelitian yaitu:
1. Temuan Siklus I
a. Guru dan peserta didik mengalami kesulitan dengan menggunakan
model pembelajaran Jigsaw, hal ini dikarenakan guru dan peserta
didik belum terbiasa dengan model pembelajaran jigsaw.
b. Peserta didik masih malu mempraktekkan model pembelajaran
Jigsaw materi yang disamapaikan.
c. Proses belajar mengajar dengan model pembelajaran Jigsaw berjalan
belum sesuai dengan tahapan-tahapan (sintak).
d. Guru masih banyak membantu peserta didik dalam proses
pembelajaran.
e. Didalam diskusi kelompok peserta didik yang bertugas masih
menemui kendala dalam menyampaikan materi dan menjawab
pertanyaan dari kelompok lain.
f. Diskusi berjalan dengan baik walaupun masih jauh dengan apa yang
diharapkan peneliti.
2. Temuan Siklus II
a. Aktivitas peserta didik mengalami peningkatan yaitu peserta didik
bersemangat dan antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
b. Kebanyakan peserta didik sudah tidak malu lagi untuk bertanya dan
menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kelompok lain maupun dari
guru.
c. Peserta didik sudah berani untuk mempraktekkan model
pembelajaran Jigsaw dalam menyampaikan materi pembelajaran.
d. Didalam diskusi kelompok peserta didik yang bertugas sangat baik
dalam menyampaikan materi dan kelompok lain sangat aktif dalam
menanggapi materi yang disamapaikan.
e. Diskusi berjalan dengan baik dan sudah sesuai dengan yang
diharapkan oleh peneliti walaupun masih ada kekurangan yang perlu
dievaluasi.
Berdasarkan hasil yang di dapat peneliti ditemukan bahwa dengan
menggunakan model pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan prestasi
belajar peserta didik dan sesuai dengan indikator yang diharapkan.
Peningkatan prestasi belajar peserta didik dapat disajikan dalam tabel
berikut.
Tabel 4
Peningkatan Prestasi Belajar
Perlak
K
Nilai
Ketun
uan
eaktifan
rata-rata
tasan
Kondis
-
57,2
27,27
i awal
7
%
Siklus
5
65,1
60,61
I
4,06 %
8
%
100Peningkatan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw,...(Joko W)
Siklus
II
9
0,90 %
69,0
9
87,87
%
Peserta didik belajar dengan sangat aktif karena didasarkan oleh dua faktor
yaitu faktorg pembelajaran guru dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw
yang menyenangkan dan suasana belajar yang komunikatif dan kondusif. Dengan
menggunakan model pembelajaran Jigsaw tersebut dapat meningkatkan prestasi
hasil belajar peserta didik, karena peserta didik merasa dihargai atas apa yang telah
dikerjakan.
Model pembelajaran Jigsaw sangat baik digunakan dalam mata pelajaran
Biologi pada materi ekosistem karena melalui model pembelajaran ini peserta
didik dilatih untuk aktif berkomunikasi dalam belajar.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan pada hasil dan pembahasan penelitian model pembelajaran Jigsaw
dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X materi Ekosistem karena peserta
didik sangat aktif dan merasa dihargai dalam proses pembelajaran.
Pelaksanaan
proses belajar mengajar dengan menggunakan model
pembelajaran Jigsaw dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan dapat memudahkan
peserta didik dalam memahami materi pelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi
belajar.
Saran
Berdasarkan simpulan yanr telah diuraikan di atas, ada beberapa saran yang ingin
penulis samapaikan, yaitu:
1. Model pembelajaran Jigsaw dapat digunakan oleh guru dalam malaksanakan
pembelajaran karena sangat memudahkan peserta didik dalam memahami materi
pelajaran.
2. Model-model pembelajaran sangat penting diketahui oleh guru sehingga proses
belajar mengajar tidak terkesan hanya menggunakan metode ceramah.
DAFTAR RUJUKAN
Abu ahmadi, djoko tri prasetiyo, 2004, Strategi Belajar Mengajar. Bandung. Pustaka setia.
Anike erliena arindawati, hasbullah huda, 2004, Beberapa Alternatif Pembelajaran.
Malang Bayumedia publishing.
Bahri syaiful djamara 2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, UN Surabaya.
Baharudin, 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta, Ar ruzz media
Darajt zakiya, 2014. Guru dan Anak Didik Dalam Interaktif Eedukatif. Jakarta, PT. rieneka
cipta.
Hanim zainab, 2007, Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Suharsismi arikunto dkk, 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta, Sinar Grafika Offset.
Tayan Yusuf dan Syaiful Anwar, 2007. Metodelogi pengajaran. Jakarta, PT. Raja Grafindo
Persada.
101