Senin, 23 April 2018

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MATERI AJAR “KEANEKARAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA INDONESIA” SISWA KELAS V SDN SIDODADI 05 KECAMATAN TEMPUREJO KABUPATEN JEMBER

Mukadaroh

Abstraks: Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah: Untuk mengekaji
penggunaan media gambar dalam meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial materi ajar “Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya
Indonesia” pada Siswa Kelas V SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo
Kabupaten Jember. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang
dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip
Kemmis dan Mc Taggart. Hasil penelitian: diketahui pada siklus I sudah ada
peningkatan hasil belajar, yaitu diperoleh data yang mendapat <65 sebanyak 4
siswa atau 21%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau 79%.
Namun secara klasikal hasil belajar siswa masih belum mencapai ketuntasan. Siklus
II, dilaksanakan dengan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada
siklus I. Dan hasil sangat menggembirakan, karena yang mendapat <65 hanya
sebanyak 2 siswa atau 11%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 17 siswa
atau 89%, sehingga hasil belajar pada siklus II dinyatakan telah mencapai
ketuntasan secara klasikal .
Kata kunci: Media gambar, Hasil Belajar

PENDAHULUAN

Proses pembelajaran yang ada sekarang tidak lepas dari campur tangan media
sebagai perantara dalam penyampaian informasi atau materi pelajaran kepada siswa. Media
pembelajaran ini pun sangat banyak jenisnya dan juga sangat beragam kegunaannya.
Dalam penggunaannya kita perlu memilih dengan tepat media apa yang cocok dan sesuai
serta layak digunakan dalam proses belajar mengajar. Hal ini tidak lepas dari berbagai
macam faktor seperti psikologi anak, kesiapan belajar anak, dan penguasaan anak terhadap
media tersebut.

Dalam pembelajaran di sekolah dasar sangat banyak media pembelajaran yang
dapat digunakan. Namun pada kesempatan kali peneliti membahas tentang media gambar
sebagai media pembelajaran di sekolah dasar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
pada materi ajar “Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya Indonesia”. Media gambar
itu sendiri merupakan media yang cukup unik dimana ia menggambarkan apa pemikiran
lisan yang ditangkap oleh siswa. Selain itu media gambar juga merupakan media yang
sangat menarik terutama bagi siswa sekolah dasar karena berisikan berbagai macam
gambar yang beradu dengan warna-warna menarik sehingga menambah minat dalam
belajar.

Menurut media gambar adalah : Media gambar adalah suatu gambar yang
berkaitan dengan materi pelajaran yang berfungsi untuk menyampaikan pesan dari guru
Mukadaroh S.Pd.Adalah Guru SDN Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember
102Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS,...( Mukadaroh)
kepada siswa. Media gambar ini dapat membantu siswa untuk mengungkapkan informasi
yang terkandung dalam masalah sehingga hubungan antar komponen dalam masalah
tersebut dapat terlihat dengan lebih jelas (Sadiman Arief S, (2003:21),.
Kelebihan media gambar adalah : 1)Sifatnya konkrit, gambar lebih realistis
menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata; 2)Gambar dapat
mengatasi batasan ruang dan waktu; Media gambar dapat mengatasi keterbatasan
pengamatan; 4)Dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja; 5)Murah
harganya, mudah didapatkan dan digunakan (Purwanto dan Alim, 1997 : 63). Berbagai
kelebihan inilah yang mendorong peneliti menggunakannya dalam pembelajaran untuk
meningkatkan hasil belajar siswa.

Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diangkat pada penelitian tindakan kelas ini adalah,
a) Apakah pengertian atau definisi dari media gambar ?
b) Apakah kelemahan dan kelebihan dari media gambar ?
c) Apakah penggunaan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi ajar “Keanekaragaman Suku Bangsa Dan
Budaya Indonesia” pada Siswa Kelas V SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan
Tempurejo Kabupaten Jember ?

Tujuan Penelitian

Sedangkan tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah :
a) Untuk mengetahui pengertian atau definisi dari media gambar ,
b) Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dari media gambar ,
c) Untuk mengetahui penggunaan media gambar dalam meningkatkan hasil belajar
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi ajar “Keanekaragaman Suku
Bangsa Dan Budaya Indonesia” pada Siswa Kelas V SD Negeri Sidodadi 05
Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember .

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil yang diperoleh pada Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan bermanfaat
bagi :
a) Bagi Siswa, membuat siswa lebih mudah dalam memahami materi ajar
“Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya Indonesia” sehingga meningkatkan
hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
b) Bagi Guru, agar dapat mengetahui lebih dalam lagi mengenai pengertian media
khususnya media gambar yang sering di pakai dalam pemebelajaran serta mengenal
cara pembuatan media gambar dan kelebihan maupun kekurang dari media gambar
serta dapat memanfaatkannya sebagai referensi dalam penggunaan media gambar
khususnya pada materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di Kelas V SD Negeri Sidodadi 05
Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember. Mata pelajaran yang menjadi obyek penelitian
yaitu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi ajar “Keanekaragaman Suku Bangsa
Dan Budaya Indonesia”, dengan menggunakan Media Gambar sedangkan yang menjadi
subyek adalah seluruh siswa Kelas V SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo
Kabupaten Jember yang berjumlah sebanyak 19 siswa. Tingkat kemampuan para siswa
bervariasi ada yang kurang, ada yang sedang dan ada pula beberapa orang di atas rata-rata.
103Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)
yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip
Kemmis dan Mc Taggart (dalam Rafi′uddin, 1996) penelitian tindakan dapat dipandang
sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan tindakan,
pengamatan (observasi), dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti dengan siklus spiral
berikutnya.

Dalam pelaksanaannya ada kemungkinan peneliti telah mempunyai seperangkat
rencana tindakan (yang didasarkan pada pengalaman) sehingga dapat langsung memulai
tahap tindakan. Ada juga peneliti yang telah memiliki seperangkat data, sehingga mereka
memulai kegiatan pertamanya dengan kegiatan refleksi. Akan tetapi pada umumnya para
peneliti mulai dari fase refleksi awal untuk melakukan studi pendahuluan sebagai dasar
dalam merumuskan masalah penelitian. Selanjutnya diikuti perencanaan, tindakan,
observasi, dan refleksi yang dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Refleksi awal
Refleksi awal dimaksudkan sebagai kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk
mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian.
Peneliti bersama timnya melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan
mengetahui situasi yang sebenarnya. Berdasarkan hasil refleksi awal dapat dilakukan
pemfokusan masalah yang selanjutnya dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasar
rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan
refleksi awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan dengan
masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan masalah selesai
dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual dari penelitian.
2. Penyusunan perencanaan
Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara
rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki,
meningkatkan atau merubah perilaku dan sikap yang diinginkan sebagai solusi dari
permasalahan-permasalahan. Perlu disadari bahwa perencanaan ini bersifat fleksibel dalam
arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada.
3. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya
perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana
tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya selalu didasarkan pada
pertimbangan teoritik dan empirik agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja
dan hasil program yang optimal.
4. Observasi (pengamatan)
Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan
data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak
dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi
digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.
5. Refleksi
Pada dasarnya kegiatan refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi
terhadap semua informasi yang diperoleh saat kegiatan tindakan. Dalam kegiatan ini
peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil atau dampak dari tindakan.
Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan
kaitannya dengan teori atau hasil penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi
yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam. Refleksi merupakan
104Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS,...( Mukadaroh)
bagian yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan hasil
yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan.
Pada hakekatnya model Kemmis dan Taggart berupa perangkat-perangkat atau
untaian dengan setiap perangkat terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan,
pengamatan, dan refleksi yang dipandang sebagai suatu siklus. Banyaknya siklus dalam
PTK tergantung dari permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan, yang pada
umumnya lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para guru
di sekolah pada umumnya berdasar pada model (2) ini yaitu merupakan siklus-siklus yang
berulang.
Secara mudah PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart dapat
digambarkan dengan diagram alur berikut ini.
Metode Pengumpulan Data
Pengambilan data dilakukan terhadap siswa Kelas V SD Negeri Sidodadi 05
Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember . Dalam metode pengumpulan data di setiap
penelitian tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab kegiatan pengumpulan data dapat
digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan
masalah penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi,
wawancara dan telaah dokumen. Data yang dikumpulkan adalah melalui catatan observasi
105Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
selama proses belajar berlangsung dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian
hingga sampai dengan siklus II.
Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dan
permunculan ketrampilan kooperatif siswa, sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur
peningkatan mutu belajar siswa.
Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap
keberhasilan dan pencapaian tujuan. Lebih rinci akan penulis jelaskan sebagai berikut :
a. Metode Angket
Metode angket adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengajukan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi
dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal lain yang diketahuinya
(Suharsimi Arikunto, 1983 : 107). Selanjutnya Kartini Kartono (1990 : 217) menjelaskan
angket adalah penyelididkan mengenai suatu masalah yang banyak menyangkut
kepentingan umum dengan jalan mengadakan formulir daftar pertanyaan, diajukan secara
tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan jawaban tertulis seperlunya.
Dapat disimpulkan angket adalah suatu daftar pertanyaan yang disusun secara
teratur menjadi sebuah pertanyaan tertulis untuk memperoleh informasi dari orang yang
dikenai angket tersebut. Dalam hal ini Bimo Walgito mengemukakan angket dapat
dibedakan atas beberapa jenis tergantung pada sudut pandangnya :
1) Dipandang dari macam pertanyaannya, maka ada ;
1) Pertanyaan yang tertutup : dimana responden tinggal memilih jawaban yang
telah disediakan didalam angket.
2) Pertanyaan yang terbuka : memberikan kesempatan kepada responden untuk
memberikan jawabannya terhadap angket tersebut.
3) Pertanyaan yang terbuka dan tertutup : merupakan campuran dari kedua
pertanyaan diatas.
2) Dipandang dari cara memberikan, maka ada :
1) Angket langsung yaitu bila angket itu langsung diberikan kepada responden
yang ingin diselidiki.
2) Angket tidak langsung yaitu angket yang untuk mendapatkan jawaban
membutuhkan perantara.
Dalam aplikasinya angket atau kuisioner dilaksanakan dengan prosedur sebagai
berikut :
 Menyusun beberapa pertanyaan tentang variable yang diteliti
 Menyampaikan daftar pertanyaan kepada responden
 Mengumpulkan kembali daftar pertanyaan yang telah dijawab oleh
responden, sehingga diperoleh data.
 Memeriksa jawaban yang telah dikumpulkan dengan tujuan jika ada
jawaban yang kurang jelas dapat dikoreksi melalui wawancara kepada
responden yang bersangkutan
b. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan jalan mencatat
secara sistematika dan fenomena yang diselidiki (Arifin : 1991 : 49). Observasi
dilaksanakan adalah untuk mengetahui tentang kedaan sekolah, kegiatan belajar mengajar
serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Selain itu juga ada aspek afektif yang
meliputi minat dan rasa ingin tahu siswa, perhatian siswa, kedisiplinan siswa, kerjasama,
tanggung jawab, dan rasa tenggang rasa siswa. Sedangkan aspek psikomotorik meliputi
ketrampilan mengerjakan tugas, ketrampilan berdiskusi, mempresentasikan materi,
106Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS,...( Mukadaroh)
menyimpulkan materi dan berbicara. Dalam pengumpulan data tersebut peneliti
mengobservasi pelaksanaan pembelajaran mulai siklus I sampai selesai.
c. Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan mencari data mengenai hal-hal yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002 :
206). Adapun sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
1) Nama responden penelitian
2) Daftar nilai ujian
d. Wawancara
Menurut Arikunto, wawancara adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara
terhadap terwawancara. Hal ini juga didukung oleh Arifin (1991 : 54). Wawancara
langsung adalah wawancara langsung dengan orang yang diwawancarai tanpa perantara.
Dan wawancara tidak langsung adalah wawancara dengan orang yang diwawancarai
melalui perantara atau tidak bertemu langsung.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan
siswa untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mengikuti pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial. Wawancara juga dilakukan untuk mengetahui pendapat tentang penggunaan Media
Gambar.
e. Tes
Teknik tes dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang hasil
belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial setelah dilaksanakan tindakan. Instrumen
tes disusun dan diujicobakan pada siswa diluar obyek penelitian, dan dianalisis untuk
mengetahui validitas, derajat kesukaran, sehingga instrument soal yang digunakan untuk
evaluasi diakhir siklus adalah hanya pemberian soal yang digunakan untuk mengukur
tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan.
Soal tes diujicobakan di luar sampel penelitian dengan maksud untuk tetap
menjaga hasil uji coba benar-benar valid, sehingga ketika digunakan pada saat tes setelah
pelaksanaan tindakan dihasilkan data yang benar-benar sesuai dengan pelaksanaan
pembelajaran, karena apabila ujicoba dilksanakan pada subyek penelitian, dikhawatirkan
mempengaruhi hasil penelitian.
Validitas Data
Data yang sudah terkumpul merupakan titik awal yang sangat berharga dalam
penelitian ini, dari data yang terkumpul akan dilakukan analisis yang selanjutnya dipakai
sebagai bahan masukan untuk penarikan kesimpulan. Melihat begitu pentingnya analisis
data, maka keabsahan data yang terkumpul yang terkumpul menjadi sangat penting.
Keabsahan data itu dikenal sebagai validitas data sebagaimana dijelaskan Alwasilah
(2008:170) bahwa tantangan bagi segala jenis penelitian pada akhirnya adalah terwujudnya
produksi ilmu pengetahuan yang valid, benar, dan beretika.
Metode Analisis Data
Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dua tahap. Tahap
pertama untuk data kuantitatif dianalisis dengan statistik deskriptif selanjutnya dimaknai
dengan analisis kualiatif. Ketika pengumpulan data berlangsung, penelitian akan dengan
sendirinya terlibat melakukan perbandingan-perbandingan dalam rangka memperkaya data
bagi tujuan konseptual, kategori dan teorisasi. Reduksi data dilakukan untuk memastikan
data terkumpul dengan selengkap mungkin untuk kemudian dipilah-pilahkan ke dalam
suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu (Muhajir, 1989).
107Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Setelah mendapatkan data dan dianalisis maka data tersebut bisa dibaca secara
deskriptif untuk memudahkan dalam membaca laporan hasil penelitian tindakan kelas.
Pada saat melakukan penelitian siklus yang digunakan adalah dua siklus dalam dua kali
pertemuan untuk melaksanakan penelitian ini.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pada tahap observasi awal terdapat beberapa temuan antara lain: semangat dalam
belajar rendah, siswa cenderung tidak aktif, lingkungan yang kaku dan membosankan
untuk belajar. Daya tangkap materi pembelajaran masih belum optimal dibuktikan dengan
masih adanya 8 dari 19 siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal evaluasi.
Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada tabel ketuntasan hasil belajar pada
kondisi awal dibawah ini :
Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Materi
Ajar “Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya Indonesia” Siswa Kelas V SD
Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember pada Kondisi Awal
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
8
42%
< 65
11
58%
65 – 100
19
100%
Jumlah
Sumber : Data yang olah
Analisa pada pada tabel di atas, menunjukkan bahwa pada kondisi awal, hasil
belajar siswa masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal, karena dari 19 siswa yang
mendapat nilai < 65 masih sebanyak 8 siswa atau sebesar 42% dan yang mendapat nilai
65-100 sebanyak 11 siswa atau sebesar 58%. Kondisi ini menjadi acuan perlu tidak
diadakannya Penelitian Tindakan kelas. Selanjutnya peneliti melaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan media gambar yang berisi tentang materi yang diajarkan, yaitu
“Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya Indonesia” pada siklus I. Pada akhir
pembelajaran dilaksanakan tes yang hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Materi
Ajar “Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya Indonesia” Siswa Kelas V SD
Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
4
21%
< 65
15
79%
65 – 100
19
100%
Jumlah
Sumber : Data yang olah
Dari tabel 2, dapat diketahui, analisis pada siklus I sudah ada peningkatan hasil
belajar, yaitu diperoleh data yang mendapat <65 sebanyak 4 siswa atau 21%, dan yang
mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau 79%. Namun secara klasikal hasil belajar
siswa masih belum mencapai ketuntasan.
Untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti
melanjutkan analisa data pada siklus II. Pelaksanaan Siklus II, dilaksanakan dengan
108Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS,...( Mukadaroh)
menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I. Dan hasil sangat
menggembirakan, karena yang mendapat <65 hanya sebanyak 2 siswa atau 11%, dan yang
mendapat nilai 65-100 sebanyak 17 siswa atau 89%, sehingga hasil belajar pada siklus II
dinyatakan telah mencapai ketuntasan secara klasikal oleh karena itu analisa tidak
dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Dibawah ini adalah tabel untuk memperjelas hasil analisa data pada siklus II.
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Materi
Ajar “Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya Indonesia” Siswa Kelas V SD
Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
2
11%
< 65
17
89%
65 – 100
19
100%
Jumlah
Sumber : Data yang olah
Berdasarkan Tabel 3 di atas, menunjukkan bahwa tujuan penggunaan media
gambar telah tercapai pada siklus II.
Terjadinya peningkatan hasil belajar pada penelitian ini, dapat dilihat pada tabel
dan grafik perbandingan sebagai berikut :
Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial Materi Ajar “Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya Indonesia” Siswa
Kelas V SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember pada Kondisi
Awal, Siklus I, Dan Siklus II
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65 8 42% 4 21% 2 11%
65 – 100 11 58% 15 79% 17 89%
19
Jumlah
Sumber : data yang diolah 100 % 19 100 % 19 100 %
Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial Materi Ajar “Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya Indonesia” Siswa
Kelas V SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember pada Kondisi
Awal, Siklus I, Dan Siklus II
20
15
< 65
10
65 -100
5
0
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Sumber : Data yang diolah
109Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Pembahasan
Hasil perbandingan analisis data siswa pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II
tampak pada grafik sebagaimana diatas. Pada kondisi awal hasil belajar siswa masih belum
tuntas secara klasikal, sedangkan analisa pada siklus I sudah ada peningkatan hasil belajar,
yaitu diperoleh data yang mendapat <65 sebanyak 4 siswa atau 21%, dan yang mendapat
nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau 79%.
Untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti
melanjutkan analisa data pada siklus II. Pelaksanaan Siklus II, dilaksanakan dengan
menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I. Dan hasil sangat
menggembirakan, karena yang mendapat <65 hanya sebanyak 2 siswa atau 11%, dan yang
mendapat nilai 65-100 sebanyak 17 siswa atau 89%. Karena hasil belajar pada siklus I
telah mencapai ketuntasan secara klasikal maka analisa tidak dilanjutkan pada siklus
selanjutnya.
Peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa diukur menggunakan tes hasil belajar
meliputi hasil belajar sebelum penelitian tindakan dilaksanakan, hasil belajar pada kondisi
awal, siklus I dan hasil belajar pada siklus II. Perbandingan ketiga hasil belajar tersebut
menunjukkan bahwa penggunaan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa
secara meyakinkan.
Penggunaan gambar secara efektif disesuaikan dengan tingkatan anak, baik dalam
hal besarnya gambar, detai, warna dan latar belakang untuk penafsiran. Dijadikan alat
untuk pengalaman kreatif, memperkaya fakta, dan memperbaiki kekurang jelasan. Akan
tetapi gambar juga menjadi tidak efektif, apabila terlalu sering digunakan dalam waktu
yang tidak lama. Gambar sebaiknya disusun menurut urutan tertentu dan dihubungkan
dengan masalah yang luas.
Gambar dapat digunakan untuk suatu tujuan tertentu seperti pengajaran yang dapat
memberikan pengalaman dasar. Mempelajari gambar sendiri dalam kegiatan pengajaran
dapat dilakukan cara, menulis pertanyaan tentang gambar, menulis cerita, mencari gambar-
gambar yang sama, dan menggunakan gambar untuk mendemonstrasikan suatu obyek.
Pengajaran dalam kelas dengan gambar sedapat mungkin penyajiannya efektif.
Gambar-gambar yang digunakan merupakan gambar yang terpilih, besar, dapat dilihat oleh
semua peserta didik, bisa ditempel, digantung atau diproyeksikan. Display gambar-gambar
dapat ditempel pada papan buletin, menjadikan ruangan menarik, memotivasi siswa,
meningkatkan minat, perhatian, dan menambah pengetahuan siswa.
Adapun gambar yang yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah gambar/foto
suku-suku yang ada di Indonesia, macam-macam rumah adat, macam-macam upacara adat,
dan jenis-jenis kesenian daerah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan: Penggunaan Media Gambar
Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar
“Keanekaragaman Suku Bangsa Dan Budaya Indonesia” Siswa Kelas V SD Negeri
Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember. Diketahui pada siklus I sudah ada
peningkatan hasil belajar, yaitu diperoleh data yang mendapat <65 sebanyak 4 siswa atau
21%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau 79%. Namun secara klasikal
hasil belajar siswa masih belum mencapai ketuntasan. Siklus II, dilaksanakan dengan
menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I. Dan hasil sangat
menggembirakan, karena yang mendapat <65 hanya sebanyak 2 siswa atau 11%, dan yang
110Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS,...( Mukadaroh)
mendapat nilai 65-100 sebanyak 17 siswa atau 89%, sehingga hasil belajar pada siklus II
dinyatakan telah mencapai ketuntasan secara klasikal .
Saran-saran
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian penelitian ini, ada beberapa saran
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan hasil belajar, yang dapat
peneliti sampaikan diantaranya adalah sebagai berikut:
a) Untuk guru, hendaknya dapat menggunakan media gambar pada materi ajar yang
yang lain, sehingga pembelajaran menjadi menarik bagi siswa,
b) Untuk sekolah, hendaknya memperhatikan dan dapat proaktif terhadap penerapan
model-model pembelajaran yang aktual, sehingga kualitas guru dan siswa semakin
meningkat.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
Rineka Cipta.
E. Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Hasan, Hamid. 2009. Pembelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar.
Hamalik, Oemar. 1994. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Bandung : Tri
Genda Karya
Huberman, Milles M.B. 1992. Analisis Data Kualitatif Terjemahan oleh Tjetjeb Rohendi
Rohandi. Jakarta : Universitas Indonesia.
Kagan. 2004. Pembelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar.
Gunawan, Rudy. 2011. Tujuan Pembelajaran IPS Sekolah Dasar.
Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rineka Cipta
Muis, Daniel dan David Rainold. 2008. Efective Teaching. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Roestiyah NK., 1988, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara.
Suryosubroto. 1983. Sistem Pengajaran dengan Modul. BINA AKSARA
Tim Penyusun. Materi Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG). 2009. Malang :
UIN Malang.
111