Senin, 23 April 2018

PENGGUNAAN ALAT PERAGA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “BANGUN DATAR SIMETRIS, DAN PENCERMINAN” SISWA KELAS IV SDN TUGUSARI 03


Nanang Ponco Suwasono

Abstrak: Tujuan penelitian tindakan kelas ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika. Dalam PTK ini menggunakan model penelitian tindakan Hopkins yang berbentuk spiral, dengan tahapan penelitian tindakan pada satu siklus meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Hasil analisis data Penelitian tindakan kelas ini diperoleh data dari 18 siswa pada kondisi awal yaitu sebelum penggunaan alat peraga yang mencapai ketuntasan hanya sebanyak 11 siswa atau hanya sebesar 61%, setelah diterapkan penggunaan alat peraga pada siklus I, yang mencapai ketuntasan belajar meningkat menjadi sebanyak 15 siswa atau sebanyak 83%, dan pada siklus II hasil belajar siswa sudah mencapai ketuntasan scara klasikal karena yang siswa yang berhasil tuntas belajar mencapai 17 siswa atau sebanyak 94%.

Kata Kunci : Alat Peraga Dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Matematika adalah mata pelajaran yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dengan menggunakan bilangan dan menggunakan ketajaman penalaran untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari. Dengan kata lain belajar matematika yaitu mempelajari obyek kajian yang abstrak dengan pola pendekatan deduktif dan kebenaran absolut. Namun pada kenyataannya pembelajaran di sekolah seringkali mengalami kesulitan dan banyak dari siswa tidak menyukai pelajaran matematika. Siswa mempelajari matematika yang sifat materinya masih elementer dan hal itu merupakan konsep essensial sebagai dasar bagi prasyarat konsep yang lebih tinggi. Banyak aplikasi dalam kehidupan masyarakat dan pada umumnya dalam mempelajari konsep-konsep tersebut bisa dipahami melalui pendekatan induktif. Hal ini sesuai dengan kemampuan kognitif siswa yang telah dicapainya (Depdikbud, 2006).
Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar harus diselaraskan dengan perkembangan psikologis siswa yakni pada fase  operasional konkret supaya dapat meningkatkan hasil belajar. Adapun beberapa masalah yang perlu mendapat perhatian adalah apabila siswa secara prematur dihadapkan suatu materi pelajaran tertentu sedangkan ia belum siap untuk memahaminya, maka ia tidak saja akan gagal dalam belajar tetapi juga belajar untuk menakuti, membenci, dan menghindari pelajaran yang berkenaan dengan materi tersebut (Udin S.Winataputra, 2001; Suryabrata, S., 2001).).
Guru harus pandai dalam memilih metode pembelajaran yang digunakan. Hal ini berpengaruh pada minat dan efektivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran Matematika.
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan alat peraga untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas Siswa Siswa Kelas IV SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Kelas ini dipilih sebagai subyek penelitian, karena minat dan hasil belajar Matematika materi ajar “Bangun Datar Simetris, Dan Pencerminan” masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal.
Dalam pembelajaran matematika siswa perlu mendengarkan dengan cermat, aktif, dan menuliskan kembali pernyataan atau komentar penting yang diungkapkan oleh teman ataupun guru. Kemampuan matematika siswa rendah karena sebagian besar siswa kurang antusias menerimanya. Siswa lebih bersifat pasif, enggan, takut atau malu mengemukakan pendapatnya. Tidak jarang siswa merasa kurang mampu dalam mempelajari matematika sebab matematika dianggap sulit, menakutkan, bahkan sebagian dari mereka ada yang membencinya sehingga matematika dianggap sebagai momok oleh mereka. Hal ini menyebabkan siswa menjadi takut atau fobia terhadap matematika. Ketakutan yang muncul dari dalam diri siswa tidak hanya di sebabkan oleh siswa itu sendiri. Tetapi juga di dukung oleh ketidak mampuan guru menciptakan situasi yang membawa siswa tertarik pada matematika (Muhsetyo, G..2008) .
Alat Peraga merupakan bagian dari media pendidikan, sementara alat peraga juga bagian dari sarana pembelajaran. Pengunaan alat peraga pendidikan harus dilakukan dengan tepat, demikian juga pemiliha jenisnya yang harus relevan dengan materi pendidikan yang akan dipelajari. Agar dalam memilih dan menggunakan alat peraga sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran, maka perlu diketahui fungsi alat peraga. Adapun konsep pembelajaran menuntut dua unsur yang sama-sama aktif, yaitu siswa dan guru. Keduanya sama berposisi sebagai subjek-objek secara timbal balik.
Penggunaan alat peraga pendidikan dinilai mampu mempertajam nalar siswa dalam memahami, meyakini, dan mengamalkan materi yang dipelajari. Karena dalam pelaksanaannya pembelajaran menggunakan alat peraga ini menggunakan pendekatan kontekstual untuk memadukan pendekatan teoritis dan praktis, abstrak dan konkrit. Pembelajaran dengan alat peraga memberikan hasil yang jauh lebih optimal dibandingkan pembelajaran verbalisme atau tanpa menggunakan media atau alat peraga apapun. Sebagaimana diketahui bahwa indera manusia yang berperan aktif dalam menyerap informasi adalah mata atau indera penglihatan yakni sekitar 75 % hingga 85 %, selebihnya diperoleh dari indera lain. Dengan memadukan antara pendekatan teoritis dan praktis, abstrak dan konkrit maka akan diperoleh hasil yang lebih maksimal. Para siswa akan lebih mudah memahami dan menguasai materi pelajaran (Abidin, Zaenal. 2003).
Siswa Sekolah Dasar (SD) berada pada umur  yang berkisar antara usia 7 hingga 12 tahun, pada tahap ini siswa masih berpikir pada fase operasional konkret. Kemampuan yang tampak dalam fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek  yang bersifat konkret (Heruman, 2008). Siswa SD masih terikat dengan objek yang ditangkap dengan pancaindra, sehingga sangat diharapkan dalam pembelajaran matematika yang bersifat abstrak, peserta didik lebih banyak menggunakan media sebagai alat bantu, dan penggunaan alat peraga akan mudah memahami materi.
Saat ini ada banyak sekali jenis alat peraga pendidikan yang ada di pasaran dimana setiap jenisnya memiliki desain, ukuran, fitur, spesifikasi dan tujuan penggunaan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Untuk menentukan jenis alat peraga pendidikan yang tepat dan sesuai, tentu saja harus relevan dengan materi yang akan dipelajari serta metode pengajaran yang digunakan. Penting untuk diketahui bahwa dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran., keduanya saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang relevan, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, seperti misalnya tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung, konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa.
Adapun tujuan penggunaan alat peraga adalah untuk membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan sehingga siswa lebih antusias dalam menyimak dan memahami materi sehingga pada akhirnya para siswa akan mampu memahami semua materi yang telah dipelajari. Ada banyak sekali manfaat yang diperoleh dari penggunaan alat peraga pendidikan yang tepat dan efektif.Secara umum, manfaat alat peraga dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Berikut ini adalah beberapa manfaat serta tujuan penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran:
  1. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik
Ketika menggunakan alat peraga pendidikan, maka siswa akan menjadi lebih antusias dan penasaran dengan materi yang akan dipelajari, peran alat peraga tersebut yang pada akhirnya akan memotivasi siswa dalam belajar dan menguasai semua materi yang dipelajari. Sebaliknya jika pembelajaran tanpa menggunakan alat peraga, terutama untuk jenis materi yang bersifat abstrak, maka siswa akan sangat sulit memahami dan menangkap informasi yang diberikan. Kondisi ini yang apda akhirnya membuat para siswa merasa malas dan kurang motivasi untuk belajar.
  1. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Saat menggunakan alat peraga pendidikan, guru akan lebih mudah dalam menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan materi pelajaran kepada siswa,demikian sebaliknya siswa juga akan lebih mudah dalam memahami materi yang dipejari. Sinkronitas antara guru dan siswa ini yang kemudian akan menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih interaktif  dan suasana kelas menjadi lebih hidup.
  1. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Keberadaan alat peraga pendidikan akan membuat para siswa lebih mudah dalam menangkap informasi dan memahami materi yang diajarkan. Sehingga guru tidak perlu bersusah payah mengulang penjelasan yang tentu saja sangat tidak efektif dan efisien.
  1. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Dengan menggunakan alat peraga pendidikan, maka akan terajdi pendekatan kontekstual untuk memadukan pendekatan teoritis dan praktis, abstrak dan konkrit. Sehingga membuat para siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dengan demikian maka tentu saja prestasi akademik para siswa akan mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu.
  1. Menghindari situasai pembelajaran yang verbalisme
Ketika pembelajaran dilakukan dengan tanpa alat peraga pendidikan, maka guru akan menyampaikan teori secara verbalis saja. Etode pembelajaran yang demikian ini tentu akan sangat membosankan sehingga membuat siswa tidak produktif dan bahkan bosan mengikuti kelas. Sebaliknya saat menggunakan alat peraga pendidikan, dapat menghindari metode pembelajaran yang verbalis dan membosankan.
  1. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
Hal ini juga akan meminimalisir terjadinya kesalahpahaman dalam penyampaian serta penerimaan materi yang dipelajari.
  1. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka dan memungkinkan terjadinya interaksi
Dari berbagai kelebihan penggunaan alat peraga diatas maka peneliti menerapkannya agar hasil belajar siswa dapat optimal(Syah, M. 1996; Sukiman. 2012)

Perumusan Masalah
Berdasarkan hasil analisis yang mengungkap berbagai penyebab  munculnya masalah kekurang-berhasilan pembelajaran Matematika tersebut di atas, maka masalah yang menjadi fokus pebaikan itu dapat  dirumuskan sebagai berikut : Penggunaan Alat Peraga Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Bangun Datar Simetris, Dan Pencerminan” Siswa Kelas IV SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten?

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Disamping itu untuk meningkatkan perhatian dan keterlibatan siswa kelas IV dalam pembelajaran Matematika, melalui penggunaan alat peraga diharapkan dapat membangkitkan motivasi siswa sehingga proses  belajar mengajar pada pelajaran Matematika akan lebih bermakna  dan bergairah. Siswa juga dapat memusatkan perhatian pada materi yang sedang diajarkan .

Manfaat Hasil Penelitian
Adapun hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat :
  1. Bagi Guru, yaitu dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan serta membangkitkan rasa percaya diri sehingga akan selalu bergairah dan bersemangat untuk memperbaiki  pembelajarannya secara terus menerus,
  2. Bagi siswa yaitu  dapat meningkatkan  pemahaman dalam menyerap materi yang dipelajari sehingga  proses  dan hasil belajar pun akan lebih meningkat pula,
  3. Bagi  sekolah  yaitu bermanfaat  untuk membantu sekolah  dalam mengembangkan dan menciptakan lembaga pendidikan yang berkualitas yang  akan  menjadi  percontohan atau model bagi sekolah – sekolah, disamping akan terlahir guru – guru yang profesional  berpengalaman dan menjadi kepercayaan orang tua masyarakat serta pemerintah.


METODE PENELITIAN

Tempat, Waktu subyek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas IV SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember dan dilaksanakan pada Semester Genap .Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas IV SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember yang berjumlah 18 siswa. Tingkat kemampuan siswa yang dipilih dalam kelas sampel tergolong sedang. Sedangkan obyek penelitiannya adalah hasil belajar mata pelajaran Matematika dan penggunaan alat peraga pada materi ajar “Bangun Datar Simetris, Dan Pencerminan”.

Rancangan / Desain Penelitian
Dalam PTK ini menggunakan model penelitian tindakan Hopkins (PGSM:1999) yang berbentuk spiral, dengan tahapan penelitian tindakan pada satu siklus meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Adapun tahapan prosedur penelitian tindakan tersebut dapat dijabarkan dalam uraian sebagai berikut :
  1. Perencanaan
Kegiatan ini meliputi :
  1. Peneliti (guru) menetapkan alternatif peningkatan efektivitas pembelajaran.
  2. Peneliti membuat perencanaan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan serta meningkatkan intelektual siswa.
  3. Membuat dan melengkapi alat media pembelajaran berupa alat peraga yang berbentuk bangun datar simetris dan pencerminan dari karton/kertas warna warni
  4. Membuat lembar observasi.
  5. Mendesain alat evaluasi.
  1. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahapan ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan. Kegiatan pelaksanaan tindakan merupakan bagian pokok dalam PTK. Oleh karenanya harus dilakukan dengan keseriusan dan kesungguhan. Dalam pelakasanaan tindakan terjadi interaksi dan komunikasi antara guru atau peneliti, siswa dan antar siswa di dalam suasana pembelajaran.
  1. Observasi
DPeneliti dan guru melakukan observasi pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Pengamatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran di kelas sehingga diketahui kekurangan atau kendala apa yang muncul pada saat pelaksanaan tindakan.
  1. Refleksi
Dalam tahapan ini hasil observasi dikumpulkan dan dianalisis. Berdasarkan hasil observasi tersebut guru dapat merefleksi diri tentang, kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan demikian guru akan mengetahui efektivitas kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil refleksi ini akan dapat diketahui kelemahan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru terhadap siswa sehingga dapat dipergunakan pada siklus berikutnya.
Adapun desain siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut :
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam setiap penelitian dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini metode yang digunakan meliputi tes observasi, dukumentasi dan wawancara.

Tes
Salah satu cara untuk mengetahui tingkat penguasaan dan pemahaman siswa terhadap suatu materi pelajaran diperlukan alat ukur yang berupa tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes akhir (post tes) dan ujian blok dalam bentuk obyektif dan subyektif. Tes akhir digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran, sedangkan ujian blok adalah ujian yang dilaksanakan setelah kompetensi dasar selesai. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dari aspek kognitif. Tes yang digunakan mengacu pada validasi isi, yaitu adanya kesesuaian antara tes dengan materi yang telah diajarkan. Nilai akhir siswa diperoleh dari :
NA = 0,25 NK + 0,75 NB
Keterangan :
NA = Nilai akhir
NK = Rata-rata nilai kelas (post tes)
NB = Nilai ujian blok

Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan jalan mencatat secara sistematika dan fenomena-­fenomena yang diselidiki. Observasi dilaksanakan antara lain untuk mengetahui tentang keadaan atau lokasi sekolah, proses pembelajaran didalam kelas, serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah.

Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang­-barang tertulis, jadi metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Berdasarkan itu dapat disimpulkan bahwa metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data melalui sumber-­sumber dokumen yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku atau dalam bentuk lain.
Adapun sumber data yang diperlukan dalam penentuan ini adalah :
  1. Nama responder penelitian.
  2. Daftar nilai ulangan harian materi sebelumnya.

Wawancara
Wawancara langsung adalah wawancara yang dilakukan secara langsung dengan orang yang diwawancarai tanpa melalui perantara. Sedangkan wawancara tidak langsung pewancara dan orang yang diwawancarai tidak bertemu secara langsung melainkan melalui perantara.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Matematika dengan mengetahui apakah mereka tertarik dengan metode pembelajaran tersebut. Wawancara juga dilakukan dengan guru Matematika untuk mengetahui pendapat guru tentang penggunaan alat peraga dalam pelajaran Matematika.



Analisis Data
Analisis merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana dengan baik tetapi jika analisa datanya tidak relevan, maka kesimpulan yang diperoleh bisa salah dan tidak relevan. Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat eksploratif atau developmental. Dua kelompok data yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka dan data kuantitatif yang dinyatakan dengan kata-kata atau simbol. Analisis deskriptif menggambarkan bahwa dengan tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan adanya perbaikan, peningkatan dan perubahan ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Data yang bersifat kualitatif, disisihkan untuk sementara karena sangat berguna untuk melengkapi gambaran yang diperoleh dan analisis data kuantitatif.

Indikator Kinerja
Meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Matematika di sekolah di ukur dari nilai ketuntasan belajar siswa dengan standar nilai 65 secara individual dapat dikatakan telah tercapai ketuntasan dalam belajar khusunya mata pelajaran Matematika. Secara klasikal mencapai ketuntasan 85 % dari total siswa.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kelas IV SDN Tugusari 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember dengan jumlah siswa 18 orang, pemilihan kelas di dasarkan dari hasil observasi. Berdasarkan hasil observasi diperoleh data bahwa pembelajaran masih belum memberikan kesempatan pada siswa untuk mengolah konsep dan ide sendiri, sehingga tidak /tanpa proses inkuiri pada siswa.
Berdasarkan hasil interview di atas dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran guru hanya menggunakan metode ceramah bervariasi dan penugasan pada akhir pembelajaran, jika mengggunakan pembelajaran diskusi guru menggunakan diskusi biasa, sehingga siswa merasa bosan dan jenuh sehingga siswa tidak termotivasi untuk melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
Pelaksanaan tindakan awal yaitu melaksanakan tes pendahuluan tentang Materi Ajar “Bangun Datar Simetris, Dan Pencerminan” sesuai dengan jam pelajaran matematika. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran. Sebelum tes dimulai peneliti menginformasikan agar setiap siswa menuliskan nama dan nomor absen sebagai identitas pada tes pendahuluan. Hasil tes pada Kondisi Awal diperoleh data, dari 18 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 siswa atau sebesar 39%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 11 siswa atau sebesar 61%, maka kondisi awal dinyatakan belum tuntas belajar.
Selanjutnnya, dilaksanakan pembelajaran pada Siklus I dengan menggunakan alat peraga. Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, siswa diberikan penjelasan tentang alat peraga yang digunakan dan memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran kepada siswa.
Pada akhir pembelajaran setiap kelompok diminta mengumpulkan tugas kelompok (LKS), memberikan PR kepada setiap siswa. Selanjutnya hasil observasi dijadikan masukan dan refleksi tentang penggunaan alat peraga.
Hasil analisa pada siklus I, diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 siswa atau sebesar 17%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 83%, hasil belajar pada siklus I masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal sehingga penelitian dilanjutkan pada siklus II.
Selanjutnya analisa dilaksanakan pada siklus II, dengan cara yang sama dengan pelaksanaan siklus I. Hasil analisa pada siklus II, diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 1 siswa atau sebesar 6%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 17 siswa atau sebesar 94%, maka pada siklus I dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Karena pada siklus II, sudah mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang diharapkan, maka analisa data dan penelitian dihentikan pada siklus II.
Selanjutnya peneliti mengadakan analisa ketuntasan hasil belajar pada kondisi awal, Siklus I, dan Siklus II secara keseluruhan dapat di lihat tabel di bawah ini:

Tabel 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Bangun Datar Simetris, Dan Pencerminan” Siswa Kelas IV SDN Tugusari 03 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan siklus II

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
7
39%
3
17%
1
6%
65-100
11
61%
15
15%
17
94%
Jumlah
18
100%%
18
100%
18
100%
Sumber : Data yang diolah
Untuk lebih jelas, dapat dilihat pada grafik perebandingan di bawah ini,

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Bangun Datar Simetris, Dan Pencerminan” Siswa Kelas IV SDN Tugusari 03 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan siklus II











Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Penggunaan alat peraga pada penelitian tindakan kelas ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Pada kegiatan pembelajaran siswa terlihat aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka berdisusi untuk memahami materi yang disajikan dalam bentuk ringkasan materi serta saling bekerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru sekaligus saling membantu dalam mencari jawaban dari pertanyaan dari guru pada siswa.
Hasil analisa pada siklus I, diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 siswa atau sebesar 17%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 83%.
Pada siklus II, dengan cara yang sama dengan pelaksanaan siklus I. Hasil analisa pada siklus II, diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 1 siswa atau sebesar 6%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 17 siswa atau sebesar 94%, maka pada siklus I dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Karena pada siklus II, sudah mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang diharapkan, maka analisa data dan penelitian dihentikan pada siklus II.
Alat Peraga merupakan bagian dari media pendidikan, sementara alat peraga juga bagian dari sarana pembelajaran. Pengunaan alat peraga pendidikan harus dilakukan dengan tepat, demikian juga pemiliha jenisnya yang harus relevan dengan materi pendidikan yang akan dipelajari. Agar dalam memilih dan menggunakan alat peraga sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran, maka perlu diketahui fungsi alat peraga. Adapun konsep pembelajaran menuntut dua unsur yang sama-sama aktif, yaitu siswa dan guru. Keduanya sama berposisi sebagai subjek-objek secara timbal balik.
Penggunaan alat peraga pendidikan dinilai mampu mempertajam nalar siswa dalam memahami, meyakini, dan mengamalkan materi yang dipelajari. Karena dalam pelaksanaannya pembelajaran menggunakan alat peraga ini menggunakan pendekatan kontekstual untuk memadukan pendekatan teoritis dan praktis, abstrak dan konkrit. Banyak penelitian menuerutkan bahwa pembelajaran dengan alat peraga memberikan hasil yang jauh lebih optimal dibandingkan pembelajaran verbalisme atau tanpa menggunakan media atau alat peraga apapun.
Saat menggunakan alat peraga pendidikan, guru akan lebih mudah dalam menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan materi pelajaran kepada siswa,demikian sebaliknya siswa juga akan lebih mudah dalam memahami materi yang dipejari. Sinkronitas antara guru dan siswa ini yang kemudian akan menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih interaktif  dan suasana kelas menjadi lebih hidup.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Hasil analisis data Penelitian tindakan kelas ini diperoleh data dari 18 siswa pada kondisi awal yaitu sebelum penggunaan alat peraga yang mencapai ketuntasan hanya sebanyak 11 siswa atau hanya sebesar 61%, setelah diterapkan penggunaan alat peraga pada siklus I, yang mencapai ketuntasan belajar meningkat menjadi sebanyak 15 siswa atau sebanyak 83%, dan pada siklus II hasil belajar siswa sudah mencapai ketuntasan scara klasikal karena yang siswa yang berhasil tuntas belajar mencapai 17 siswa atau sebanyak 94%. Sehingga disimpulkan bahwa Penggunaan Alat Peraga Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Bangun Datar Simetris, Dan Pencerminan” Siswa Kelas IV SDN Tugusari 03 .

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut,
  1. Bagi guru hendaknya mengembangkan kemampuan profesionalnya dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) demi penyempurnaan pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya,
  2. Bagi lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat merupakan bahan masukan yang berguna dan juga sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan kegiatan belajar mengajar dimasa mendatang.


DAFTAR RUJUKAN

Abidin, Zaenal. 2003. Media dan Sumber-sumber Belajar. Surakarta: UMS Press
Depdiknas. 2006. Model – Model Pembelajaran yang Efektif. Bahan Sosialisasi KTSP. Jakarta. Depdiknas
Muhsetyo, G..2008. Pembelajaran Matematika SD, Jakarta: Universitas Terbuka..
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukiman. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani.
Suryabrata, S. 2001. Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Suryosubroto. 1990. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Syah, M. 1996. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Tim Pelatihan Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta.
Winataputra. Udin s. 2001. Model-model Pembelajaran Inovatif. Jakarta Pusat: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional