Senin, 23 April 2018

PENGEMBANGAN MODEL CONFLICT MAPS-PROBLEM BASED LEARNING FISIKAUNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

Anis Farida
E-mail: anis_farida1976@yahoo.com

Abstrak: Peningkatan kwalitas pendidikan fisika senantiasa perlu dilakukan. Salah satu
cara untuk meningkatkan kwalitas pendidikan fisika adalah peningkatan kwalitas guru
terutama dalam memfasilitasi, memotivasi dan mendorong siswa untuk belajar fisika. Guru
fisika mempunyai tugas utama menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dapat
menarik minat dan antusias siswa serta dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar
fisika dengan baik dan semangat. Untuk itu diperlukan variasi pembelajaran dan model
pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk berpikir, aktif, keratif, menyenangkan,
dan memotivasi untuk senantiasa belajar fisika dengan semangat. Penelitian ini bertujuan
mengembangkan model Conflict Maps-Problem Based Learning.Tujuan penelitian ini
untuk mengembangkan dan menguji keefektifan model Conflict Maps-Problem Based
Learning terhadap kemampuan berpikir kritis. Desain penelitian ini mengacu pada
Research & Developent yang terdiri dari studi pendahuluan, pengembangan model, dan
uji model. Validasi terhadap model Conflict Maps-Problem Based Learning dilakukan oleh
2 expert dan 3 user.Hasil pengembangan model Conflict Maps-Problem Based Learning
berupa flowchart, silabus, RPP, sintaks, bahan ajar, LKS dan perangkat penilaian. Hasil
uji keefektifan model Conflict Maps-Problem Based Learning menunjukkan bahwa
hasilnya efektif dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa.
Kata kunci: Conflict Maps, Problem Based Learning, berpikir kritis

PENDAHULUAN

Fisika sebagai suatu mata pelajaran disekolah memegang peranan penting, terutama
dalam mendukung kemajuan teknologi dan juga berperan dalam memberikan landasan
berpikir logis dan sistematis. Fisika merupakan salah satu cabang IPA yang mendasari
perkembangan teknologi maju dan konsep hidup harmonis dengan alam (BSNP, 2006).
Pembelajaran Science/Fisika diperlukan suatu strategi pembelajaran yang sangat
menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran (Eggen & Kauchak, 2012),
sehingga guru juga harus dapat merancang pelaksanaan pembelajaran yang dinamis sesuai
dengan karakteristik peserta didiknya (Rusmono, 2012).
Berdasarkan Permendiknas No. 22 tahun 2006 kemampuan berpikir berguna untuk
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berpikir merupakan dasar
dalam suatu proses pembelajaran (Heong, 2011). Kemampuan berpikir yang dimaksud
adalah kemampuan berpikir kritis, kemampuan ini meliputi kemampuan berpikir analisis
induktif dan deduktif, kemampuan merumuskan masalah, dan mengajukan hipotesis.
Pengembangan kemampuan berpikir kritis dijenjang SMA/MA perlu dilakukan
untuk mempersiapkan peserta didik pada jenjang yang lebih tinggi dalam suatu proses
pembelajaran. Kemampuan berpikir kritis merupakan bagian dari kemampuan berpikir
tingkat tinggi (Hawes, 2005:10). Kemampuan berpikir kritis merupakan cara berpikir
reflektif dan beralasan yang difokuskan pada pengambilan keputusan untuk memecahkan
masalah (Ennis, 1985; King, 1999:17)
____________________________________________________________________
Anis Farida Guru SMAN 1 Bantur Kabupaten Malang
143Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Pembelajaran mata pelajaran fisika dirasakan sulit oleh peserta didik, karena
sebagian besar peserta didik belum mampu menghubungkan antara materi yang dipelajari
dengan pengetahuan yang digunakan. Selain itu, penggunaan sistem pembelajaran yang
tradisional yaitu siswa hanya diberi pengetahuan secara lisan (ceramah) sehingga siswa
menerima pengetahuan secara abstrak (hanya membayangkan) tanpa mengalami sendiri.
Mata pelajaran fisika merupakan bidang ilmu yang tidak hanya berupa kumpulan fakta
tetapi juga merupakan serangkaian proses ilmiah untuk memperoleh fakta tersebut (Yuliati,
2008:4).

Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik Fisika adalah
model Problem Based Learning(PBL). Model Problem Based Learning menggunakan
masalah sebagai fokus untuk mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah, materi,
dan pengaturan diri (Eggen & Kauchak, 2012). Siswa melakukan investigasi, eksplorasi,
membuat kesimpulan sebelum melakukan pemecahan masalah, mengaitkan pengetahuan
baru dengan struktur kognitif yang telah dimilikinya, dan mengkonstruksi pemahamannya
sendiri.

Problem Based Learning lebih menekankan pada interaksi dan komunikasi dalam
pembelajaran serta menekankan pada proses pembentukan pengetahuan secara aktif oleh
siswa. Problem Based Learning merupakan strategipembelajaranyang digunakandengan
melibatkan siswa dalam proses pembelajaran secara lebih mendalam (Pepper, 2009). Hasil
studi menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan kognitif siswa lebih efektif jika belajar
menggunakan strategi Problem Based Learning (White, 2001; Sahin, 2009; Selcuk, 2010;
Bledsoe,2011; Lauridsen, 2012).Masek (2011) menyatakanProblem Based Learning
memiliki pengaruh pada kemampuanberpikir kritissiswa.

Hasil survei tentang kegiatan pembelajaran dan penyebaran kuesioner kepada guru
fisika di beberapa sekolah di Kabupaten Malang pada bulan Januari sampai Juni 2017
mengindikasikan tentang guru fisika sebagai berikut: Guru dalam menyampaikan materi
pelajaran dengan ceramah, diskusi atau demonstrasi, kurang dalam mengembangkan
ketrampilan menyelesaikan permasalahan, padahal pada tingkat SMA/MA, fisika
dipandang penting untuk diajarkan sebagai mata pelajarantersendiri dengan beberapa
pertimbangan antara lain sebagai wahana untukmenumbuhkan kemampuan berpikir yang
berguna untuk memecahkan masalah didalam kehidupan sehari-hari (BSNP:
2006).Pemahaman fisika akan baik salah satunya jika siswa dapat menyelesaikan
permasalahan siswa dalam kehidupan sehari-hari dan juga dapat mengaitkan konsep fisika
dengan teori-teori yang mendukung, untuk itu diperlukan adanya Conflict Maps.
Tsai (2000) menawarkan suatu metode untuk membantu siswa yang mengalami
kesulitan dalam mengaitkan satu konsep ke konsep lain atau dari satu teori ke teori lain
dalam fisika dengan menggunakan “Conflict Maps”. Tsai (2000) menjelaskan Conflict
Maps
sebagai
berikut:
strategi
perubahankonseptualyang
didasarkanpada
kondisiserangkaianperistiwa
pentingatau
bertentanganyang
berhubungan
dengankonsepilmiah yang akurat.
Conflict Maps membantu siswa untuk memetakan pengetahuan mereka dan
mencari solusi pada permasalahan fisika. Menurut Bawaneh (2010) Conflict Maps berhasil
membawa perubahan konseptual pada siswa dan juga merekomendasikan agar
pengembang kurikulummempertimbangkanmetode Conflict Mapskarena metode ini
didasarkan pada peristiwa konflik yang menciptakan keadaan ketidakseimbangan dalam
struktur kognitif siswa, yang pada gilirannya merangsang pencarian siswa untuk konsep
ilmiah yang akurat.Conflict Mapsdidasarkan pada kerangka teoritis konstruktivismebisa
menjadi alat untuk meningkatkan pengajaran ilmu pengetahuan alam menurut Tsai (1999)
Model Conflict Maps-Problem Based Learning dirancang dengan menggabungkan
Problem Based Learning dan strategi Conflict Maps. Problem Based Learning merupakan
144Pengembangan Model Conflict Maps-Problem Based Learning,...(Anis Farida)
strategi pembelajaran yang menyajikan situasi masalah otentik dan bermakna bagi siswa,
yang berfungsi sebagai landasan investigasi dan penyelidikan siswa (Arends, 2008:41).
Conflict Mapsdidasarkan pada kerangka teoritis konstruktivisme, mengusulkan sebuah ide
untuk menggunakan Conflict Mapssebagai alternatif konsepsi siswa. Conflict Mapsbisa
menjadi alat untuk meningkatkan pengajaran ilmu pengetahuan alam menurut Tsai
(1999).Problem Based Learning dan Conflict Maps memiliki kesamaan sifat yaitu
didasarkan pada suatu permasalahan, sehingga Problem Based Learning dapat
digabungkan.
Model Conflict Maps-Problem Based Learning dirancang untuk memadukan antara
Conflict Maps dan Problem Based Learning. Dengan Conflict Maps diharapkan siswa
dapat memetakan pengetahuan mereka dan mencari solusi pada permasalahan fisika.
Sedangkan Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan
masalah sebagai titik tolak (startingpoint) pembelajaran. Conflict Maps membantu siswa
untuk memetakan pengetahuan mereka dan mencari solusi pada permasalahan fisika
sehingga bisa menjadi alat untuk meningkatkan pengajaran fisika (Tsai, 1999).
Kemampuan berpikir kritis peserta didik merupakan kemampuan peserta didik
mengaplikasikan konsep yang dipelajarinya di kelas dengan gejala-gejala masalah yang
dialaminya di luar kelas (Ennis, 1985). Kemampuan berpikir kritis ini dikembangkan
melalui model Conflict Maps-Problem Based Learning yang menitikberatkan
pembelajaran pada permasalahan disekitar siswa yang relevan dengan materi
pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan model Conflict Maps-Problem Based
Learning. Dalam pengembangan model Conflict Maps-Problem Based Learning akan
dihasilkan beberapa produk, antara lain: sintaks, buku siswa beserta pedoman praktikum,
dan Conflict Maps materi Fluida. Keberhasilan penggunaan model Conflict Maps-Problem
Based Learning diukur berdasarkan keefektifan untuk meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa ketika diterapkan dalam pembelajaran fisika.
METODE
Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan. Prosedur penelitian ini
mengacu pada penelitian pengembangan dari Sukmadinata, dkk (2010). Penelitian dan
pengembangan terdiri atas tiga tahap, yaitu: 1) studi pendahuluan, 2)pengembangan model,
3)Uji model. Diagram prosedur penelitian seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
Teknik analisis data dalam penelitian pengembangan ini adalah deskriptif kualitatif
yang digunakan untuk mengolah data yang dihimpun dari pendapat dan saran dari validator
dan uji coba model. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengolah data hasil
pengelompokan pendapat dari angket penilaian buku siswa dari BSNP dan kelayakan
Silabus serta RPP. Hasil analisis ini digunakan sebagai dasar merevisi produk model
Conflict Maps-Problem Based Learning
Data yang diperoleh dari angket uji ahli (dosen dan guru mata pelajaran Fisika) dan
uji model diolah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif untuk mengetahui
kevalidan dari produk pengembangan. Kevalidan adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi
karena kevalidan terkait dengan kekuatan teori yang melandasi pengembangan dan
keabsahan alur penalaran alam merancang produk tersebut.
145Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
1. STUDI PENDAHULUAN




Studi Pustaka:
Kurikulum 2013
Pembelajaran berbasis masalah
Conflict Maps
Berpikir kritis
Studi Lapangan:
 Karakteristik siswa SMA
 Metode yang digunakan guru
 Tujuan pembelajaran fisika berdasar
Kurikulum 2013
2. PENGEMBANGAN
MODEL
Draf Problem Based Learning dengan Conflict Maps:
Sintaks, Silabus, RPP, Bahan ajar, LKS, Perangkat
Penilaian
Expert Judgment:
2 dosen Pendidikan Fisika
yang ahli dibidangnya
Revisi
Teachers
Judgment
Revisi dan
penyempurnaan
Model Conflict Maps-Problem Based Learning
3. UJI MODEL
Quasi Experiment:
 Populasi dan Gambar
sampel: siswa
kelas XI Prosedur
jurusan IPA
1 Diagram
Penelitian Pengembangan
Model
SMAN 1 Bantur
Revisi
Teruji
 Desain Penelitian
 Instrumen uji model:tes tulis yang telah divalidasi dan
realibilitasnya, angket untuk mengetahui tanggapan
siswa
 Analisis data
HASIL PENGEMBANGAN
Produk pengembangan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah model Conflict
Maps-Problem Based Learning yang mencakup: (1)flowchart, sintaks, silabus, rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan perangkat penilaian; (2) bahan ajar yang disebut
dengan buku siswa didalamnya terdapat lembar kerja siswa dan panduan praktikum,
rangkuman materi, Conflict Maps; (3) buku panduan guru yang didalamnya terdapat
flowchart, sintaks, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), perangkat penilaian,
dan buku siswa yang dilengkapi dengan kunci jawaban soal.
Rata-rata hasil penilaian silabus dan RPP oleh validator disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Hasil Validasi Silabus dan RPP Model Conflict Maps-Problem Based Learning
Komponen
Validasi
Silabus
RPP
Expert Judgment
Expert 1 Expert 2
2,818
3,818
3,111
3,889
User 1
3,818
3,778
User Judgment
User 2
User 3
3,636
3,636
3,667
3,889
Rata-
rata
3,545
3,667
Kesimpulan
Valid
Valid
Rata-rata hasil penilaian bahan ajar oleh expert dan user disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Hasil Validasi Bahan Ajar Model Conflict Maps-Problem Based Learning
Komponen
Expert Judgment
Teacher Judgment
Rata- Kesimpu
Validasi
rata
lan
Expert 1 Expert 2 User 1
User 2
User 3
Halaman muka
3,75
3,75
3,75
3,75
3,75
3,75
Valid
(Cover)
146Pengembangan Model Conflict Maps-Problem Based Learning,...(Anis Farida)
Halaman Materi
Kelayakan Isi
Penyajan Isi
Lembar Kegiatan
Siswa
Conflict Maps
3,75
3,57
3,25 3,75
3,57
3,37 3,75
4
4 3,75
3,57
3,75 3,75
3,71
3,87 3,75
3,68
3,65 Valid
Valid
Valid
3,75 3,75 4 3,75 4 3,85 Valid
3 3,67 4 3,67 3,67 3,6 Valid
Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan dalam model Conflict Maps-
Problem Based Learning menggunakan tahap-tahap seperti pada Tabel 3.
Tabel 3 Sintak Conflict Maps-Problem Based Learning
Tahap
Tahap – 1
Orientasi siswa pada masalah dengan
menggunakan Conflict Maps
Tahap – 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Tahap – 3
Membimbing penyelidikan individu
maupun kelompok
Tahap – 4
Mengembangkan dan menyajikan
Conflict Maps
Tahap – 5
Menganalisis dan mengevaluasi
proses pemecahan masalah
Kegiatan Guru
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan
logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat
pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut.
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen
sederhana, untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah.
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan
menyiapkan Conflict Maps yang sesuai dengan
eksperimen, dan model, dan membantu mereka untuk
berbagi tugas dengan teman lainnya
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau
evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-
proses yang mereka gunakan.
Dampak model Conflict Maps-Problem Based Learning terhadap kemampuan
berpikir siswa juga tampak dari hasil membuat Conflict Maps. Siswa tidak hanya
mengetahui konsep hukum Pascal tetapi siswa juga bisa mengaitkan dengan konsep
pendukung hukum Pascal dan juga bisa memberikan contoh penerapan hukum Pascal
dalam kehidupan sehari-hari. Conflict Maps tersebut juga memperlihatkan bahwa fisika
merupakan ilmu yang aplikasinya berada disekeliling siswa dan banyak dijumpai oleh
siswa.
Conflict Maps yang dibuat oleh siswa menghubungkan antara contoh aplikasi
hukum Archimedes dengan konsep-konsep pendukung hukum Archimedes. Setiap Conflict
Maps yang dibuat selalu didasarkan pada praktikum yang dilakukan oleh siswa.
Conflict Maps yang dibuat oleh siswa sesuai dengan indikator kemampuan berpikir
kritis. Kemampuan merumuskan masalah ditunjukkan dengan kegiatan siswa
memformulasikan dalam bentuk pertanyaan yang memberikan arah untuk memperoleh
jawaban dari gambar pada conflict maps yang dibuat. Kemampuan memberikan argumen
ditunjukkan dengan kegiatan siswa memberikan argumen menjawab pertanyaan yang
dirumuskan. Kemampuan melakukan induksi ditunjukkan dengan kegiatan siswa
melakukan percobaan/eksperimen untuk menguatkan argumen yang disampaikan.
Kemampuan melakukan evaluasi ditunjukkan dengan kegiatan siswa memberikan evaluasi
terhadap fakta yang ditemukan dalam percobaan dengan menuangkan pada conflict maps
yang dibuat. Kemudian kemampuan mengambil keputusan dan menentukan tindakan
ditunjukkan dengan kegiatan siswa merumuskan solusi sehingga membuat kesimpulan
berupa konsep fisika fluida statis.
147Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Praktikum yang dilakukan oleh siswa menggambarkan bahwa siswa memiliki
ketrampilan berpikir ilmiah. Dalam hal ini, siswa menggunakan langkah-langkah ilmiah:
(1) menetapkan hipotesis, (2) mengumpulkan data, (3) menganalisis data, (4) membuat
kesimpulan
KESIMPULAN
Model Conflict Maps-Problem Based Learning dirancang untuk memadukan antara
Conflict Maps dan Problem Based Learning. Conflict Maps diharapkan agar siswa dapat
memetakan pengetahuanya dan mencari solusi pada permasalahan fisika. Problem Based
Learning adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik tolak
(startingpoint) pembelajaran
Silabus Conflict Maps-Problem Based Learning dikembangkan sesuai dengan
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
dengan kegiatan pembelajaran yang mengacu pada sintaks model Conflict Maps-Problem
Based Learning. Kegiatan pembelajaran dalam silabus Conflict Maps-Problem Based
Learning dapat menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta
berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting dalam kecakapan hidup (BSNP, 2006).
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Conflict Maps-Problem Based Learning
memuat strategi pembelajaran yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya tujuan
pembelajaran. Pembelajaran fisika diperlukan suatu strategi pembelajaran yang sangat
menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran (Eggen & Kauchak, 2012). RPP
Conflict Maps-Problem Based Learning memuat Conflict Maps yang membantu siswa
untuk memetakan pengetahuan mereka dan mencari solusi pada perasalahan fisika.
Menurut Bawaneh (2010) Conflict Maps berhasil membawa perubahan konseptual pada
siswa dan juga merekomendasikan agar pengembang kurikulum mempertimbangkan
metode Conflict Maps karena metode ini didasarkan pada peristiwa konflik yang
menciptakan keadaan ketidakseimbangan dalam strukur kognitif siswa.
Bahan ajar Conflict Maps-Problem Based Learning untuk siswa memuat materi dan
LKS, sedangkan bahan ajar Conflict Maps-Problem Based Learning untuk guru memuat;
silabus, RPP, materi pelajaran yang disertai kunci jawaban, dan penilaian. Materi dalam
bahan ajar ini memuat contoh kontekstual aplikasi dari materi yang dinyatakan dalam
Conflict Maps. Conflict Maps membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam
mengaitkan satu konsep ke konsep lain atau dari satu teori ke teori lain dalam fisika (Tsai,
2000).
Penilaian yang diukur dalam model Conflict Maps-Problem Based Learning adalah
kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan KTSP kemampuan berpikir kritis penting untuk
dikuasai untuk dikuasai oleh peserta didik karena sangat diperlukan dalam beregai bidang
kehidupan (Presseisen, 1985).
Hasil uji keefektifan model Conflict Maps-Problem Based Learningmenunjukkan
bahwa hasilnya efektif dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Hal ini
ditunjukkan oleh rata-rata nilai siswa yang diajar dengan model Conflict Maps-Problem
Based Learning lebih tinggi dari kelas yang diajar dengan pembelajaran Problem Based
Learning.
Proses belajar dengan menggunakan model Conflict Maps-Problem Based Learning
memiliki kelebihan sebagai berikut.
1. Model ini bisa meningkatkan kemampuan berpikir siswa menjadi lebih optimal dalam
memecahkan masalah yang ada sehingga membuat siswa lebih kritis dalam
menghadapi suatu permasalahan.
148Pengembangan Model Conflict Maps-Problem Based Learning,...(Anis Farida)
2. Permasalahan yang digunakan dalam Conflict Maps adalah masalah yang kontekstual
yang sering dijumpai oleh peserta didik.
3. Kegiatan pembelajaran model Conflict Maps-Problem Based Learning yang tercermin
dalam sintaks akan membuat siswa lebih terorganisir dalam kegiatan pembelajaran.
4. Model Conflict Maps-Problem Based Learning mengarahkan siswa untuk menemukan
konsep yang didasarkan dari suatu masalah, hal ini akan membuat siswa lebih mudah
mengingat/menghafal.
5. Conflict Maps yang dibuat oleh siswa dapat membantu siswa mengingat konsep-konsep
materi yang diajarkan dan juga materi pendukung.
6. Meningkatnya kemampuan berpikir kritis siswa dari tes yang diberikan dan hal ini
mengindikasikan bahwa bahan ajar hasil pengembangan dapat dijadikan sumber belajar
yang baik.
SARAN-SARAN.
Pengembangan model Conflict Maps-Problem Based Learning lebih lanjut adalah
sebagai berikut.
a. Model Conflict Maps-Problem Based Learning dapat diujicobakanpada siswa dengan
populasi yang lebih luas.
b. Media pembelajaran yang digunakan dalam model Conflict Maps-Problem Based
Learning dapat dikembangkan/dimodifikasi sesuai dengan kondisi sekolah.
c. RPP model Conflict Maps-Problem Based Learning dapat dikembangkan sesuai
dengan karakteristik siswa dan kondisi sekolah.
d. Penilaian yang digunakan dalam model Conflict Maps-Problem Based Learning
dikembangkan juga pada pembuatan Conflict Maps yang dilakukan oleh siswa.
e. Pembuatan video pembelajaran yang memuat alur model Conflict Maps-Problem
Based Learning untuk mempermudah sosialisasi model
DAFTAR RUJUKAN
Arends, RI. 2008. Learning to teach (belajar untuk mengajar) . Terjemahan oleh Helly
Prayitno Sucipto. Yogyakarta : Pustaka Belajar
Bledsue, K. 2011. Managing Problem-Based Learning in Large Lecture
Sections,Department of Biology, Division of Natural Science and Mathematics,
Western Oregon University, Monmouth, Oregon, USA
BSNP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang
Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.
............ 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41
Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.
Ennis. R.H. 1985. A Logical Basis for Measuring Critical Thingking Skills. Association for
supervisions and Curriculum Development
................. 1993. Critical Thingking Assessment. Theory into Practice, Volume 32,
Number 3, Summer 1993
Eggen, P dan Kauchak, D.2012. Strategi dan model pembelajaran mengajarkan konten dan
keterampilan berpikir (terjemahan). Jakarta Barat: indeks
Lauridsen, B. 2012. Problem-based Learning applied to Team Environments: A Visual
Literature Review.ABD Information Technology Education, Capella University
Masek, A. 2011. The Effect of Problem Based Learning on Critical Thinking Ability: A
Theoretical and Empirical Review. International Review of Social Sciences and
Humanities (online), diakses 20 september 2012
149Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Pepper, C. 2009. Problem based learning in science.Issues in Educational Research. The
University of Western Australia
Sahin, M.2009. A comparison of problem-based learning and traditional lecture students’
expectations and course grades in an introductory physics classroom. Scientific
Research and Essay Vol.4. (Online), http://www.academicjournals.org/SRE,
diakses 20 september 2012.
Selcuk, G. 2010.The effects of problem-based learning on pre-service teachers’
achievement, approaches and attitudes towards learning physics. International
Journal
of
the
Physical
Sciences
Vol.
5(6),
(online),
http://www.academicjournals.org/IJPS, diakses 20 September 2012
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Tsai, C. 2000. Enhancing Science instruction: the use of Conflict Maps, International
Journal of Science Education, Vol 22, No 3 Page 285-302
White, H. 2001.Problem-Based Learning, Stanford University Newsletter on Teaching
Yuliati,Lia. 2008. Model-Model Pembelajaran Fisika Teori dan Praktek. Malang. LP3
Universitas Negeri Malang
150