Senin, 23 April 2018

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW , COOPERATIVE INTEGRATED READING COMPOSITION (CIRC) DAN PEMBIASAAN MEMBACA TERHADAP HASIL BELAJAR IPS GUGUS II KECAMATAN CITEUREUP KABUPATEN BOGOR JAWA BARAT

Ajat Sudrajat dan Tuti Rahmawati

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Jigsaw
dan Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan pembiasan membaca
terhadap hasil belajar IPS peserta didik. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan ANAVA
Dua Jalur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar siswa antara
menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw dan Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC), dan interaksi antar model pembelajaran Jigsaw dan Cooperative
Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan pembiasaan membaca terhadap
hasil belajar peserta didik. Uji lanjutan dengan menggunakan Uji Tuckey menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar siswa yang pembiasaan membaca tinggi
dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dan Cooperative Integrated Reading
and Composition (CIRC), dan terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar siswa yang
pembiasaan membaca rendah dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dan
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
Kata kunci: Hasil Belajar IPS, Model Jigsaw, Model Cooperative Integrated
Readingand Composition, Pembiasaan Membaca.

PENDAHULUAN

Hasil belajar merupakan hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar karena
kegiatan belajar merupakan proses sedangkan hasil belajar adalah sebagian dari hasil yang
dicapai seseorang setelah mengalami proses belajar dengan terlebih dahulu mengandalkan
evaluasi dari proses belajar yang dilakukan. Salah satu indikator tercapai atau tidakanya
suatu pembelajaran adalah dengan melihat hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil
belajar merupakan cerminan tingkat keberhasilan atau pencapaian tujuan dari proses
belajar yang telah dilaksanakan yang pada akhirnya dilaksanakan evaluasi.
Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang
dianggap sulit untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Hal ini terlihat dari nilai hasil
belajar peserta didik yang rendah dalam mata pelajaran IPS.
Pada mata pelajaran IPS dibutuhkan kemampuan peserta didik dalam memahami
materi melalui membaca. Namun pada saat ini masih banyak ditemukan rendahnya tingkat
pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, sehingga hasil belajar dalam mata
pelajaran IPS belum maksimal.

Selain itu proses pembelajaran IPS yang kurang menarik dan cenderung
membosankan selain itu juga minat baca yang rendah turut menjadi penyebab lain
munculnya masalah rendahnya hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu, guru harus
mampu memilih dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran
yang menarik bagi peserta didik, dan beberapa dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif dapat dipilih sebagai alternatif solusi yang tepat.
______________________________________________________________
Dr.Ajat Sudrajat, M.Pd. adalah Dosen FIP UNJ Jakarta dan Tuti Rahmawati, M.Pd.adalah
Guru SDN Citeureup 01 Kec. Citeureup Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.

21Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Salah satu jenis model pembelajaran kooperatif yaitu, Jigsaw dan Cooperative
Integrated Reading and Composition (CIRC). Model pembelajaran Jigsaw dalam
pembelajarannya peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok belajar yang heterogen.
Sedangkan, pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai
suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara
menyeluruh kemudian mengkomposisikan-nya menjadi bagian-bagian yang penting.
Jigsaw menempatkan siswa ke dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 4-6
orang. Setiap kelompok diberi informasi yang membahas salah satu topik dari materi
pelajaran mereka saat itu. Pada saat melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw, siswa bekerja kelompok selama dua kali, yakni dalam kelompok mereka sendiri
dan dalam kelompok ahli (Huda , 2011:120).

Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu setiap peserta didik
bertanggung jawab terhadap tugas kelompok.Setiap anggota kelompok saling
mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas, sehingga
terbentuk pemahaman belajar yang lama (Kurniasih, 2016: 89).Kegiatan pemahaman
bacaan dapat diukur dari kemampuan peserta didik memarafrase arti yang diberikan secara
jelas dalam wacana, kemampuan mencari jenis organisasidari bacaan dan ide-ide informasi
yang ada dalam bacaan, dan kemampuan peserta didik memahami proses berpikir tentang
bacaan peserta didik (Smith, 2007: 30).

Berdasarkan kajian-kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan
pemahaman bacaan adalah kesanggupan seseorang untuk menangkap informasi atau ide-
ide yang disampaikan oleh penulis melalui bacaan sehingga peserta didik dapat
menginterpretasikan ide-ide yang ditemukan, baik makna yang tersurat maupun yang
tersirat dari teks tersebut.Pemahaman bacaan meliputi pemahaman literal, pemahaman
inferensial, dan pemahaman evaluasi.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tentang pengaruh model pembelajaran Jigsaw dan Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC) dan pembiasaan membaca terhadap hasil belajar peserta didik.
Peserta didik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas V SDN di
Kecamatan Citeureup.

Mengacu kepada permasalahan, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.
Mengetahui perbedaan rata-rata hasil belajar siswa antara menggunakan Model
Pembelajaran Jigsaw dan Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
2.
Mengetahui interaksi antar model pembelajaran Jigsaw dan Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) dengan pembiasaan membaca terhadap hasil
belajar peserta didik.
3.
Mengetahui perbedaan rata-rata hasil belajar siswa yang pembiasaan membaca
tinggi dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dan Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC).
4.
Mengetahui perbedaan rata-rata hasil belajar peserta didik yang pembiasaan
membaca rendah dengan menggunakan
model pembelajaran Jigsaw dan
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).

METODE PENELITIAN

Sebelum diajukan pada kelas subyek penelitian, soal terlebih dahulu diujicobakan
pada kelas lain. Tujuan uji coba dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh butir tes
yang masuk dalam kategori baik dan bias dipakai untuk penelitian dengan mengetahui
tingkat kesukaran dan daya pembeda soal. Adapun responden yang dipilih adalah peserta
didik kelas V SDN Citeureup 01.Penelitian kelas sebagai responden uji coba didasarkan
atas pertimbangan bahwa kelas tersebut juga memiliki kesetaraan karakteristik dengan
22Penggunaan Model Pembelajaran Jigsaw, CIRC dan Pembiasaan Membaca ,..(Ajat .S.dkk)
subjek penelitian.Agar diperoleh data yang relevan perlu metode pengumpulan data yang
tepat.Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu metode
observasi, dokumentasi dan tes.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Uji Normalitas dengan menggunakan Uji Liliefors
Pengujian normalitas dilakukan dengan uji Liliefors, pada taraf signifikansi  = 0,05.
Dengan menggunakan program Excel for Windows 2007, diperoleh L 0 dari enam kelompok
(A 1 , A 2 , A 1 B 1 , A 1 B 2, A 2 B 1 , A 2 B 2 ) tersebut lebih kecil dari L t pada taraf signifikansi  = 0,05.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel penelitian berasal dari populasi
yang berdistribusi normal. Untuk lebih jelasnya kenormalan data tersebut, disajikan pada
tabel berikut ini:
Tabel 1
Uji Normalitas Kelompok A 1 , A 2, A 1 B 1 , A 1 B 2 , A 2 B 1 , A 2 B 2
Kelompok
N
L o
Kesimpulan
L t( = 0,05)
Sampel
1. A 1
20
0,134
0,198
Normal
2. A 2
20
0,132
0,198
Normal
3. A 1 B 1
10
0.176
0,258
Normal
4. A 1 B 2
10
0.162
0,258
Normal
5. A 2 B 1
10
0,149
0,258
Normal
6. A 2 B 2
10
0,109
0,258
Normal
Keterangan:
A 1
= Hasil belajar IPS ang diberikan model pembelajaran Jigsaw
A 2
= Hasil belajar IPS yang diberikan model CIRC
A 1 B 1 = Hasil belajar IPS yang diberikan dengan pembiasaan membaca tinggi
A 1 B 2
= Hasil belajar IPS yang diberikan model pembelajaran Jigsaw dengan
pembiasaan membaca rendah
A 2 B 1 = Hasil belajar IPS yang diberikan model CIRC dengan pembiasaan
membaca tinggi.
A 2 B 2 = Hasil belajar IPS yang diberikan model CIRC dengan pembiasaan
membaca rendah.
B.
Hasil Uji Homogenitas dengan menggunakan Uji Bartlett
Dengan menggunakan Uji Bartlett diperoleh hasil perhitungan uji homogenitas seperti
terangkum pada tabel berikut ini.
Tabel 2
Uji Homogenitas Varian menggunakan Uji Bartlett
Varians
Varians
Kelompok
Harga B
Keterangan
 2hit
 2tab
S 2
Gabungan S 2
A1B1
3,46
A1B2
1,36
3,42
19,22
3,548
7,81
Homogen
A2B1
4,53
A2B2
4,33
Berdasarkan tabel 4.8.di atas, diperoleh  2hitung sebesar 3,548, sedangkan  2tabel
dengan dk = 3 pada taraf signifikansi  = 0,05 diperoleh 7,81. Hal ini menunjukkan
bahwa  2hitung  2 tabel atau 3,548 7,81. Jika dikaitkan dengan kriteria penerimaan,
maka H 0 diterima. Diterimanya hasil uji normalitas dan homogenitas di atas, maka
23Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
dapat disimpulkan bahwa uji persyaratan untuk pengujian hipotesis dengan analisis
varians (ANAVA) dua jalur dapat dipenuhi dan dilaksanakan.
C. Hasil Uji Hipotesis dengan menggunakan Uji ANAVA Dua Jalur dan Uji Tuckey
Dengan menggunakan ANAVA diperoleh hasil analisis seperti pada tabel berikut:
Tabel 3
Hasil Analisis Varians Dua Jalur
Sumber Variansi Db JK RJK
Antar Kolom
Antar Baris
Interaksi
Dalam
Total Direduksi 1
1
1
36
39 50.63
30.63
189.22
318.50
588.97 50.63
30.63
189.22
8.85
F hitung
5.722
4.462
21.388
*
*
**
F tabel
0.05
0.01
4.11
7.31
4.11
7.31
4.11
7.31
Keterangan:
**
= signifikan pada  = 0,05
Dk
= derajat kebebasan
JK
= jumlah kuadrat
RJK = rerata jumlah kuadrat
Berdasarkan hasil analisis varians (ANAVA) dua jalur di atas, dapat dijelaskan:
1.
Hasil analisis varians dua jalur antar kolom menunjukkan harga F h = 4,462 lebih
besar dari F t = 4,11 pada taraf signifikansi  = 0,05. Hal ini berarti H 0 ditolak dan
menerima H 1 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara hasil
belajar IPS siswa dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dengan model
pembelajaran CIRC secara signifikan.
2.
Berdasarkan hasil analisis varians dua jalur antar kolom dan baris menunjukkan
harga Fhitung = 21,388 lebih besar dari Ftabel = 4,11 pada taraf signifikansi  = 0,05.
Hal ini berarti ditolak H 0 dan menerima H 1 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa
terdapat interaksi antara model pembelajaran dan pembiasaan membaca terhadap
hasil belajar IPS siswa secara signifikan. Bentuk interaksi tersebut dapat disajikan
pada gambar berikut:
Gambar 2
Grafik Interaksi antara Model Pembelajaran dan pembiasaan membaca terhadap
Hasil belajar IPS
Jigsaw
CIRC
24Penggunaan Model Pembelajaran Jigsaw, CIRC dan Pembiasaan Membaca ,..(Ajat .S.dkk)
3.
Berdasarkan hasil analisis varians dua jalur antar baris menunjukkan harga F h =
4,219 lebih besar dari F t = 4,11 pada taraf signifikansi = 0,05. Hal ini berarti
H 1 diterima dan menolak H 0 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
antara hasil belajar IPS siswa yang memiliki pembiasaan membaca tinggi dengan
yang memiliki pembiasaan membaca rendah secara signifikan.
Terujinya secara signifikansi interaksi antara model pembelajaran dan pembiasaan
membaca terhadap hasil belajar IPS, maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji
lanjut. Oleh karena jumlah subyek dalam sel (kelompok) sama, maka uji lanjut yang
digunakan adalah uji Tuckey, dinyatakan bahwa:
1.
Untuk kelompok A 1 B 1 dan A 2 B 1 ; Q h lebih besar Q t atau 7,022,042 pada =0,05.
Hal ini berarti H 0 ditolak dan menerima H 1 . Sehingga disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan hasil belajar IPS siswa yang belajar dengan menggunakan model
pembelajaran Jigsaw dengan model pembelajaran CIRC pada peserta didik yang
memiliki pembiasaan membaca tinggi secara signifikan.
2.
kelompok A 1 B 2 dan A 2 B 2 ; Q h lebih besar Q t atau 2,23>2,042 pada =0,05. Hal ini
berarti H 1 diterima dan menolak H 0 . Sehingga disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan hasil belajar IPS siswa yang belajar dengan menggunakan model
pembelajaran Jigsaw dengan model pembelajaran CIRC pada peserta didik yang
memiliki pembiasaan membaca rendah secara signifikan.
Hasil rangkuman perhitungan setiap pasangan kelompok dengan uji Tuckey dapat
disajikan pada Tabel 4
Tabel 4
Hasil Uji Lanjut dengan Uji Tuckey
N Hipotesis Statistik
1  A1B1 > A2B1
 A1B2 < A2B2
Q Hitung
o
.
9,14
3,17
Q tabel ( =
0,05)
2,04
2,04
2
.
Berdasarkan hasil Analisis Varians dan uji lanjut Tuckey di atas, dapat dinyatakan
bahwa:
1.
Hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa hasil belajar IPS yang diberikan model
pembelajaran Jigsaw dengan pembiasaan membaca tinggi lebih besar dari hasil
belajar IPS yang diberikan model CIRC dengan pembiasaan membaca rendah,
diterima secara signifikan pada  = 0,05.
2.
Hipotesis keempat yang menyatakan bahwa hasil belajar IPS yang diberikan model
pembelajaran Jigsaw dengan pembiasaan membaca rendah lebih kecil dari pada
hasil belajar IPS diberikan model CIRC dengan pembiasaan membaca rendah,
diterima.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan model pembelajaran dan pembiasaan
membaca terhadap hasil belajar IPS di Sekolah Dasar diperoleh kesimpulan bahwa:
1.
Hasil belajar IPS pada siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran Jigsaw
lebih tinggi daripada siswa yang diajarkan model pembelajaran CIRC..Sehingga
dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar IPS lebih tepat
digunakan model pembelajaran Jigsaw.
2.
Terdapat interaksi antara penggunaan model pembelajaran dan pembiasaan membaca
terhadap hasil belajar IPS. Hal ini dibuktikan setelah penelitian dengan adanya grafik
25Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
interaksi antara model pembelajaran dan pembiasaan membaca siswa. Karena model
Jigsaw pada pembiasaan membaca siswa yang tinggi hasil belajar yang didapatkan
siswa juga tinggi sedangkan pada hasil belajar IPS siswa pada model pembelajaran
CIRC dengan pembiasaan membaca rendah hasilnya lebih tinggi dari pada dengan
hasil belajar IPS pada model pembelajaran Jigsaw.
3.
Hasil belajar IPS Siswa Sekolah Dasar antara siswa yang belajar dengan
menggunakan model pembelajaran jigsaw yang memiliki pembiasaan membaca
tinggi lebih tinggi dari pada siswa yang belajar dengan menggunakan model CIRC
yang memiliki pembiasaan membaca tinggi.
4.
Hasil belajar IPS Siswa Sekolah Dasar antara siswa yang belajar dengan model
pembelajaran Jigsaw yang memiliki pembiasaan membaca rendah lebih rendah dari
pada siswa yang belajar dengan yang memiliki pembiasaan membaca rendah.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dan
pembiasaan membaca berpengaruh terhadap hasil belajar masalah IPS.
Saran
Berkenaan dengan hasil pembahasan, dan kesimpulan yang diperoleh pada penilaian
ini, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1.
Bagi guru, untuk mengoptimalkan Hasil belajar IPS maka hendaknya dapat
meningkatkan kemampuan dalam memilih bahkan merancang model pembelajaran
yang sesuai dengan materi dan pembiasaan membaca yang akan diberikan siswa,
agar siswa dapat lebih meningkatkan Hasil belajar IPS sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang diharapkan.
2.
Apabila dalam pembelajaran IPS guru memperhitungkan pembiasaan membaca
tinggi, maka untuk mengoptimalkan Hasil belajar IPS sebaiknya diberikan
pembelajaran dengan model pembelajaran Jigsaw dalam proses pembelajaran IPS di
Sekolah Dasar.
3.
Apabila dalam pembelajaran IPS guru memperhitungkan pembiasaan membaca
rendah, maka untuk mengoptimalkan Hasil belajar IPS sebaiknya diberikan
pembelajaran dengan model pembelajaran CIRC dalam proses pembelajaran IPS di
Sekolah Dasar.
4.
Bagi pengambil kebijakan dan pengelola lembaga/institusi pendidikan khususnya
pada Sekolah Dasar perlunya membekali para guru dalam hal kompetensi
menerapkan berbagai model pembelajaran di lembaga sekolah.
5.
Diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan subjek, waktu, dan tempat
yang lebih luas serta materi yang lebih mendalam supaya dapat memperkuat
penelitian-penelitian sebelumnya.

DAFTAR RUJUKAN

Agus, S. (2009). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ahmad, S. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Jakarta:
Prenadamedia Group.
Basuki, dkk,.(2014). Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Davidson, Cathy N & Dadavid Theo Goldberg (2010).The Future Of ThinkingLearning
Institutions In A Digital Age. London: The MIT Press.
Denzin, dkk,. (2009). Hendbook Of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Djamarah, dkk,.(2015). Strategi Belajar Mengajar. Jakrata: PT Bineka Cipta.
Farida, R (2011). Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Gadne, Robert M & Leslie J. Bringgs.( 1977). Principles Of Instructional Design Secound.
New York: Holt Rinehart and Wisnton.
26Penggunaan Model Pembelajaran Jigsaw, CIRC dan Pembiasaan Membaca ,..(Ajat .S.dkk)
Geoffrey E.Mills, Action Research a Guide. (2003). The Theacher Researcher Second
Edition. United State: Merrill Prentice Hall.
Harun, R dan Mansyur.(2008). Penilaian Hasil Belajar. Bandung: CV Wacana Prima.
Hermawan dan Riyan.(2006). Kurikulum dan Model Pembelajaran. Bandung: UPI
Fakultas Ilmu Pendidikan.
Imas, K dan Sani.(2016). Ragam Pengembangan dan Model Pembelajaran. Jakarta: Kata
Pena.
Kementerian Pendidikan Nasional.(2011). Standar Kompetensi dan Kompetensi Standar
Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: BSNP.
Miftahul, H. (2014). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran.Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Sumiati dan Asra.(2015). Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan. (2007). Pendidikan Disiplin Ilmu. Bandung: PT
Imperial Bhakti Utama.
Trianto.(2015). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Trianto. (2010). Mendisain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: konsep Landasan, dan
Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Kencana
Prenanda Media Group.
Wardani, dkk,.(2015). Filsafat Pendidikan Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.
27