Senin, 23 April 2018

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DENGAN PENGETAHUAN AWAL TERHADAP HASIL BELAJAR SEJARAH PADA PESERTA DIDIK KELAS X IPA DI SMA NEGERI 2 JEMBER


Eny Muffida

Abstract:The purpose of research is to investigate the influence of applying discovery learning method and applying discovery learning method with prior knowledge toward the history learning result. The method used, namely, tests, interviews, and observations. Analysis of the data used is the analysis of One Way Anova and Two Way Anova. results: (1) there is an influence of the application of learning methods of discovery learning for learning outcomes history with sig. = 0.014 < 0,05. (2) there is an influence of the application of learning methods of discovery learning with prior knowledge on learning outcomes history with sig. = 0,003 < a = 0.05. It can be concluded there are effects of the application of learning methods of discovery learning for learning outcomes history and effects of the application of learning methods of discovery learning with prior knowledge of the outcomes studied history at SMAN 2 Jember.

Keywords: Discovery Learning Method Learning, Early Knowledge, and History Learning Result

PENDAHULUAN
Proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan. Secara keseluruhan melibatkan komponen-komponen antara lain peserta didik, pendidik, sarana dan prasarana belajar. Kegiatan pembelajaran sejarah pada umumnya, pendidik masih menempatkan diri sebagai pusat kegiatan belajar, sementara peserta didik sebagai sasaran dan pelengkap dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Para peserta didik menjadi kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Pembelajaran sejarah adalah perpaduan antara aktivitas belajar dan mengajar yang di dalamnya mempelajari tentang peristiwa masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini (Widja, 1989: 23). pendidikan sejarah adalah wahana bagi pewarisan nilai-nilai keunggulan bangsa.
Penyajian pembelajaran sejarah umumnya hanya menuntut peserta didik menghapal konsep, sehingga peserta didik kurang mampu menggunakan konsep tersebut ketika peserta didik menemukan masalah dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan konsep yang telah dimiliki, akibatnya peserta didik kurang mampu menghubungkan konsep yang mereka pelajari, dengan bagaimana cara memanfaatkan dan mengaplikasikan konsep tersebut pada situasi baru. Masalah lain yang dijumpai dalam pembelajaran sejarah adalah tingkat kemampuan awal peserta didik berbeda-beda, padahal dalam belajar sejarah pengetahuan awal memegang peranan penting dalam ketercapaian belajar optimal pada pembelajaran sejarah.
Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh peneliti yaitu pembelajaran sejarah yang terjadi di sekolah masih jauh dari harapan untuk memungkinkan anak melihat relevansinya dengan kehidupan masa kini dan masa depan. Hal ini dapat dilihat dari metode yang disampaikan oleh pendidik sejarah masih monoton yaitu ceramah atau diskusi, peserta didik hanya berperan sebagai pendengar, pendidik belum nampak berupaya untuk mengaitkan materi dengan tujuan pembelajaran sejarah. Sehingga tidak aneh bila pembelajaran sejarah terasa kering dan sering dianggap sebagai pelajaran yang suram, penuh dengan hafalan, tidak menarik dan membosankan. Akibatnya hasil belajar peserta didik rendah dan tidak memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar menggali makna dari sebuah peristiwa sejarah.
Untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan suatu perubahan dalam metode pembelajaran yang diterapkan. Salah satu metode yang relevan dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah dan metode yang direkomendasikan dalam Kurikulum 2013 adalah penggunaan metode pembelajaran discovery learning. Dengan penerapan variasi metode pembelajaran tersebut dalam pembelajaran sejarah diharapkan peserta didik tidak merasa jenuh atau bosan karena peserta didik dapat menemukan sendiri apa yang dicarinya. Metode discovery learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila peserta didik tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Discovery Learning ini memiliki pola strategi dasar yang dapat diklasifikasikan ke dalam empat strategi belajar, yaitu penentuan problem, perumusan hipotesis, pengumpulan dan pengolahan data, dan merumuskan kesimpulan. Alma, dkk (2010:61). Bruner memakai metode yang disebutnya discovery learning, di mana peserta didik mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (dalam Dalyono, 1996). Metode discovery learning memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip.
Jadi penerapan metode pembelajaran Discovery Learning dapat menumbuhkan dan membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Terbukti peserta didik mampu dan mau mencari tahu tentang problem termasuk menemukan penyelesaiannya yang dimunculkan di dalam kelas, dengan berbagai sumber. Menurut Jacobsen (2009: 210), dalam metode pembelajaran discovery learning, pendidik akan lebih sedikit dalan menjelaskan sehingga peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran secara kognitif, mendorong pembelajaaran dan motivasi. Senada dengan Slavin (2011:11) menyatakan bahwa keunggulan metode discovery learning yaitu membangkitkan keingintahuan peserta didik dan memotivasi mereka untuk terus bekerja dalam menemukan jawaban, peserta didik juga mempelajari kemampuan penyelesaian soal dan pemikiran kritis secara mandiri karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi data. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Salah satu manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran Discovery Learning adalah munculnya sikap keilmiahan peserta didik misalnya sikap obyektif, rasa ingin tahu untuk menyelesaikan masalah dengan baik, dan berpikir kritis. Terpacunya rasa ingin tahu peserta didik, menyebabkan peserta didik akan menjadi lebih bersemangat untuk belajar dan mengetahui pengetahuannya. Rasa ingin tahu peserta didik memberikan motivasi bagi peserta didik untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang muncul dan dihadapinya. Hubungan antara rasa ingin tahu dan ingin menemukan penyelesaian dari masalah dengan penerapan model pembelajaran Discovery Learning, searah dengan motivasi belajar.
Pelajaran sejarah akan menjadi lebih menarik, lebih bermakna, dan berkonstribusi pada keberhasilan peserta didik apabila melalui proses belajar yang lebih banyak melibatkan peserta didik dalam kegiatan belajarnya. Pembelajaran yang memberi kesempatan pada peserta didik untuk mencari jawaban atas hipotesis mereka sendiri. Hal ini sesuai dengan pendapat Joolingen (1999:385), bahwa discovey learning adalah tipe pembelajaran di mana peserta didik membangun pengetahuan mereka sendiri dengan melakukan percobaan sesuai bidang, dan menyimpulkan aturan dari hasil percobaan tersebut.
Selain itu, adanya pengetahuan awal peserta didik juga dapat mempengaruhi kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran sejarah. Pengetahuan awal peserta didik dapat membantu pendidik untuk merancang strategi yang cocok, membantu peserta didik untuk menghubungkan pengalaman yang lalu dengan informasi yang baru. Sebagai akibatnya meningkatkan ketertarikan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang akan memunculkan minat belajar peserta didik pada materi tersebut. Oleh karena itu pengetahuan awal tidak hanya membantu pendidik untuk menentukan strategi pembelajaran tetapi juga membantu peserta didik belajar dalam perubahan konsep.
Kemampuan awal peserta didik penting untuk diketahui pendidik sebelum memulai pembelajaran, karena dengan demikian dapat diketahui apakah peserta didik telah mempunyai pengetahuan awal yang merupakan prasyarat untuk mengikuti pembelajaran, sejauh mana peserta didik mengetahui materi apa yang akan disajikan. Jadi, adanya pengerahuan awal yang dimiliki peserta didik dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Hal ini dikarenakan dengan adanya pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik, maka peserta didik memiliki suatu pengetahuan mengenai materi yang akan diajarkan oleh pendidik. Relevan dengan hasil hasil penelitian tersebut, pengetahuan awal sebagai bagian dari kemampuan awal kognitif peserta didik perlu mendapat perhatian. Pengetahuan awal telah lama dianggap sebagai faktor paling penting yang mempengaruhi belajar dan perolehan belajar (Hailikari, et al.,2008:72).
Proses Pembelajaran mengandung dua unsur penting yaitu proses dan hasil belajar. Setiap kegiatan belajar menghasilkan suatu perubahan yang khas sebagai hasil belajar. Hasil belajar dapat dicapai peserta didik melalui usaha-usaha sebagai perubahan tingkah laku yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga tujuan yang telah ditetapkan tercapai secara optimal. Hal utama dalam suatu proses pembelajaran adalah hasil belajar yang dipeorleh peserta didik. Jadi dengan penerapan metode discovery learning dan pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik di harapkan dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik, serta memperbaiki sistem pembelajaran yang terdahulu.
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan dalam penelitian ini ialah: Apakah ada pengaruh penerapan metode pembelajaran discovery learning dan penerapan metode pembelajaran discovery learning dengan pengetahuan awal terhadap hasil belajar sejarah pada peserta didik kelas X IPA di SMA Negeri 2 Jember.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen, dalam penelitian eksperimen ini ada dua kelompok subjek, satu kelompok mendapat perlakuan dan satu kelompok sebagai kelompok kontrol, keduanya memperoleh pra tes dan pasca tes. Subjek dalam penelitian ini yaitu peserta X IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X IPA 3 sebagai kelas kontrol. Untuk kelas eksperimen diterapkan metode discovery learning dengan pengetahuan awal, sedangkan kelas kontrol diterapkan diskusi kelompok. Metode pengumpulan data yang digunakan terdiri dari metode: tes, wawncara, dan observasi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis varian satu jalur (One Way Anova) dan varian dua jalur (Two Way Anova).

HASIL PENELITIAN
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis varian satu jalur (One Way Anova) dan varian dua jalur (Two Way Anova). Untuk menjawab hipotesis 1 yaitu menggunakan analisis one way anova atau anova 1 jalur sebagai berikut


Tabel 1.1 Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Discovery Learning terhadap Hasil Belajar Sejarah pada Peserta Didik Kelas X IPA di SMA Negeri 2 Jember
ANOVA
Nilai

Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Between Groups
277,018
1
277,018
6,402
,014
Within Groups
3072,297
71
43,272


Total
3349,315
72



Sumber: Data Primer Diolah (2016)
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh signifikansi (sig.) = 0,014 < a = 0,05. Hal ini berarti bahwa hipotesis statistik (Ho) ditolak dan (Ha) diterima. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar peserta didik yang di dibelajarkan dengan menggunakan metode discovery learning dan yang tidak dibelajarkan dengan menggunakan metode discovery learning sejarah di kelas X IPA SMAN 2 Jember. Dan untuk menjawab hipotesis 2 dengan menggunakan analisis two way anova atau anova 2 jalur. Berikut merupakan hasil analisis two way anova.
Tabel 1.2 Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Discovery Learning dan Pengetahuan Awal terhadap Hasil Belajar Sejarah pada Peserta Didik Kelas X IPA di SMA Negeri 2 Jember
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: Hasil
Source
Type III Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Corrected Model
3161,815a
5
632,363
225,964
,000
Intercept
157379,872
1
157379,872
56237,074
,000
Kriteria
13,710
1
9,710
4,968
,001
Kelas
2749,988
2
1374,994
491,331
,000
Kriteria *Kelas
11,698
2
8,849
3,733
,003
Error
187,500
67
2,799


Total
503925,000
73



Corrected Total
3349,315
72



a. R Squared = ,944 (Adjusted R Squared = ,940)
Sumber: Data Primer Diolah (2016)
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh langsung metode discovery learning dan tingkat pengetahuan awal terhadap hasil belajar sejarah. Untuk nilai kelas*kriteria dengan nilai sig. = 0,003 < 0,05 artinya terdapat interaksi antara penerapan metode discovery learning dengan tingkatan pengetahuan awal peserta didik untuk mempengaruhi hasil belajar peserta didik secara bersama-sama. Hal ini berarti bahwa hipotesis statistik (Ho) diterima dan (Ha) ditolak. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara metode discovery learning dengan tingkat pengetahuan awal terhadap hasil belajar sejarah peserta didik di kelas X IPA SMAN 2 Jember.

PEMBAHASAN
  1. Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Discovery Learning terhadap Hasil Belajar Sejarah pada Peserta Didik Kelas X IPA di SMA Negeri 2 Jember
Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat diketahui bahwa hipotesis statistik (Ho) ditolak dan (Ha) diterima. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar peserta didik yang di dibelajarkan dengan menggunakan metode discovery learning dan yang tidak dibelajarkan dengan menggunakan metode discovery learning sejarah di kelas X IPA SMAN 2 Jember. Salah satu manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran Discovery Learning adalah munculnya sikap keilmiahan peserta didik yaitu: sikap obyektif, rasa ingin tahu untuk menyelesaikan masalah dengan baik, dan berpikir kritis. Terpacunya rasa ingin tahu peserta didik, menyebabkan peserta didik akan menjadi lebih bersemangat untuk belajar dan mengetahui pengetahuannya. Begitu halnya pada peserta didik kelas X IPA SMAN 2 Jember. Rasa ingin tahu peserta didik memberikan motivasi bagi peserta didik untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang muncul dan dihadapinya. Hubungan antara rasa ingin tahu dan ingin menemukan penyelesaian dari masalah dengan penerapan model pembelajaran Discovery Learning, searah dengan motivasi belajar. Artinya semakin besar rasa ingin tahu peserta didik dan ingin menemukan penyelesaian dari masalah, maka semakin besar pula motivasi belajar yang dimiliki peserta didik.
Jadi penerapan metode pembelajaran Discovery Learning dapat menumbuhkan dan membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Terbukti peserta didik mampu dan mau mencari tahu tentang problem termasuk menemukan penyelesaiannya yang dimunculkan di dalam kelas, dengan berbagai sumber. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jacobsen (2009: 210) yang menjelaskan bahwametode pembelajaran discovery learning, guru akan lebih sedikit dalan menjelaskan sehingga peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran secara kognitif, mendorong pembelajaaran dan motivasi. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran metode discovery learning peserta didik diharapkan dapat menemukan suatu permasalah sesuai dengan tujuan pembelajaran, serta mencari jawaban dari permasalahan tersebut. Adanya hal tersebut tentu saja dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Senada dengan Slavin (2011:11) menyatakan bahwa keunggulan metode discovery learning yaitu membangkitkan keingintahuan peserta didik dan memotivasi mereka untuk terus bekerja dalam menemukan jawaban, peserta didik juga mempelajari kemampuan penyelesaian soal dan pemikiran kritis secara mandiri karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi data. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Illahi (2012: 34) yang menyatakan bahwa discovery learning merupakan metode yang melibatkan peserta didik secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga peserta didik mampu menggunakan proses mentalnya untuk menemukan konsep pengetahuan yang dipelajarinya yang dapat berdampak pada hasil belajar peserta didik.
Jadi, model pembelajaran discovery learning dapat memberi ruang bagi peserta didik untuk memenuhi kebutuhannya sehingga peserta didik akan memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar. Penerapan metode pembelajaran discovery learning pada peserta didik kelas X IPA SMAN 2 Jember tidak hanya berdampak pada hasil belajar aspek kognitif saja, akan tetapi juga berdampak pada aspek afektif dan psikomotor setelah diberi perlakuan.

  1. Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Discovery Learning Dengan Pengetahuan Awal Terhadap Hasil Belajar Sejarah Pada Peserta Didik Kelas X IPA di SMA Negeri 2 Jember
Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat diketahui bahwa hipotesis statistik (Ho) ditolak dan (Ha) diterima. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara metode discovery learningdan tingkat pengetahuan awal terhadap hasil belajar sejarah di kelas X IPA SMAN 2 Jember. Pengetahuan awal merupakan struktur skemata kognitif pada diri peserta didik yang sudah ada sebelum peserta didik masuk ke dalam pembelajaran formal. Pengetahuan awal tersebut merupakan gagasan-gagasan yang berupa pengetahuan pribadi mereka dan terbentuk melalui belajar informal dalam proses memahami pengalaman-pengalaman sehari-hari.
Dalam pembelajaran, pengetahuan awal memegang peranan yang sangat penting karena apa yang telah diketahui oleh individu sedikit banyak akan berpengaruh terhadap apa yang mereka pelajari. Pengetahuan awal sangat berperan dalam proses mengasimilasi dan mengakomodasi pengetahuan. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan awal dalam proses pembelajaran dapat membantu peserta didik membangun jembatan antara pengetahuan yang telah mereka pelajari. Begitu halnya yang dialami oleh peserta didik kelas X IPA SMAN 2 Jember.
Tingkat pengetahuan awal peserta didik tergantung pada pengalaman mereka masing-masing, sehingga pengetahuan awal setiap peserta didik tidak akan sama persis. Addison & Hutcheson (2001) mengartikan pengetahuan awal sebagai pengetahuan yang telah dimiliki, pengetahuan tentang dunia, kemahiran pengetahuan dan pengetahuan sebelumnya. Pengetahuan awal sebagai kombinasi sikap-sikap dan pengalaman-pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik, sehingga sangat erat dengan hasil belajar peserta didik. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan pentingnya pengetahuan awal peserta didik dalam pemahaman materi sejarah di kelas X dapat membantu peserta didik untuk menghubungkan pengalaman yang lalu dengan informasi yang baru. Sebagai akibatnya meningkatkan pembela­jaran menjadi lebih bermakna. Oleh karena itu, mengetahui pengetahuan awal yang dimiliki oleh peserta didik akan mem­bantu peserta didik bekerja dalam perubahan konsep.
Metode pembelajaran Discovery Learning merupakan metode pembelajaran yang dapat melihat seberapa tinggi pengetahuan awal peserta didik tentang suatu materi, sehingga peserta didik memudahkan pendidik dalam membentuk kelompok dengan mencampur peserta didik yang memiliki pengetahuan awal tinggi dan peserta didik yang memiliki pengetahuan awal rendah. dengan percampuran tersebut, diharapkan peserta didik yang memiliki pengetahuan awal tinggi akan lebih mudah menerima materi yang akan disampaikan oleh pendidik sehingga mereka dapat membantu peserta didik yang memiliki pengetahuan awal rendah. Dengan demikian proses pembelajaran akan dapat melayani semua tipe peserta didik dilihat dari pengetahuan awalnya. Proses pembelajaran yang demikian, peneliti memprediksi ketuntasan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran sejarah akan mengalami peningkatan. Alma, dkk (2010:61) menyatakan Discovery Learning ini memiliki pola strategi dasar yang dapat diklasifikasikan ke dalam empat strategi belajar, yaitu penentuan problem, perumusan hipotesis, pengumpulan dan pengolahan data, dan merumuskan kesimpulan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan hasil belajar peserta didik.
Keberhasilan proses belajar peserta didik pada pembelajaran discovery learning dibanding diskusi kelompokwalaupun keduanya menggunakan strategi kerjasama secara berkelompok tidak terlepas dari peran peneliti yang memberikan pertanyaan stimulus yang mengintervensi yang sering disebut interogasi elaboratif (elaborative interrogation) sehigga meningkatkan pembelajaran dan retensi secara signifikan (Ambrose, dkk., (2010:17). Tanpa adanya pertanyaan stimulus yang menginterogasi elaboratif sebagaimana dalam strategi kooperatif proses diaktifkan (activated), ketercukupan (sufficient), kesesuaian (appropriate) dan ketepatan (accurate) memngkonstruksi pengetahuan baru dengan menghubungkan pengetahuan awal yang dimiliki-akan sulit tercapai dan tentu memerlukan waktu yang lebih lama yang juga menyita pemenuhan pembelajaran lainnya.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat diketahui bahwa dengan penerapan metode discovery learning dan pengetahuan awal peserta didik terdapat pengaruh terhadap hasil belajar yang dipeorleh peserta didik. Hal ini dikarenakan dengan penerapan metode discovery learning dan pengetahuan awal peserta didik memudahkan peserta didik dalam menerima dan memahami materi yang diberikan oleh pendidik. Selain itu, dengan pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik, mereka memiliki suatu pengetahuan dasar yang sangat berhubungan dengan materi yang akan diajarkan, sehingga dengan adanya pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik, tentu saja sangat mempengaruhi hasil belajar yang diperoleh peserta didik.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang dilakukan mengenai pengaruh penggunaan metode pembelajaran discovery learning dengan pengetahuan awal terhadap hasil belajar sejarah pada peserta didik kelas X IPA di SMA Negeri 2 Jember dapat ditarik kesimpulan yaitu, (1) terdapat pengaruh penerapan metode pembelajaran discovery learning terhadap hasil belajar sejarah pada peserta didik kelas X IPA di SMA Negeri 2 Jember yaitu sebesar signifikansi (sig.) = 0,014 < a = 0,05. Hal ini berarti bahwa hipotesis statistik (Ho) ditolak dan (Ha) diterima. (2) Terdapat pengaruh penerapan metode pembelajaran discovery learning dengan pengetahuan awal terhadap hasil belajar sejarah pada peserta didik kelas X IPA di SMA Negeri 2 Jember yaitu dengan nilai sig. = 0,003 < 0,05 artinya terdapat interaksi antara penerapan metode discovery learning dengan tingkatan pengetahuan awal peserta didik untuk mempengaruhi hasil belajar peserta didik secara bersama-sama. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis statistik (Ho) ditolak dan (Ha) diterima.


Saran
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh penggunaan metode pembelajaran discovery learning dengan pengetahuan awal terhadap hasil belajar sejarah pada peserta didik kelas X IPA Di SMA Negeri 2 Jember, maka saran yang dapat diberikan peneliti yaitu, (1) secara Teoritis, bagi pendidik mata pelajaran sejarah, untuk lebih memvariasikan penggunaan metode pembelajaran dan mencoba metode-metode pembelajaran lain yang bersifat inovatif atau berpusat pada peserta didik (student centered). (2) secara praktis, bagi pengambilan kebijakan sekolah, hendaknya lebih melengkapi fasilitas sarana dan prasarana guna memperlancar pembelajaran. (3) secara akademik, diharapkan dapat menggunakan beberapa metode pembelajaran modern yang lainnya guna meningkatkan pendidikan peserta didik.

DAFTAR RUJUKAN
Addison, P.A. dan Hutcheson, V.K. 2001.The Importance of Prior Knowledge to New Learning.http://cea.curtin.edu.au/tlf/tlf2001/addison.html. [diakses 3 September 2016]
Alma, dkk. 2010. Guru Profesional Menguasai Metode dan Terampil Mengajar. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Ambrose, dkk. 2010. How Learning Works: 7 Research-based Principles for Smart Teaching. San Francisco, CA: Jossey Bass.
Dalyono. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Hailikari, H., Katajavouri, N & Ylane, S.L 2008,. The Relevance of Prior Knowledge in Learning and Instructional design. American Journal of Pharmaticeutical Education, 72(5).
Ilahi, M.T. 2012. Pembelajaran Discovery Strategi dan Mental Vocational Skill. Yogjakarta: Diva Press.
Jacobsen. 2009. Methods For Teachy. Terjemah Ahmad Fawaid Dan Khoirul Anam, New Jersey, USA: Pearson Education.
Joolingen, Wouter van.1999 , Cognitive tools for discovery learning, International Journal of Artificial Intelligence in Education, 10, 385-397
Slavin, R.E. 2011. Educational Psychology Theory and Practice (6th ed.). Boston: Allyn & Bacon.
Widja, I Gde. 1989. Pengantar Ilmu Sejarah: Sejarah dalam Perspektif Pendidikan. Semarang: Satya Wacana.