Senin, 23 April 2018

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT” SISWA KELAS VI SD NEGERI BADEAN 03


Atminingsih

Abstrak: Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah, untuk mengkaji tentang Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas. Penelitian Tindakan Kelas disebut juga Classroom Action Reasearch. Dalam penelitian ini model PTK yang digunakan adalah model Kemmis dan Mc. Taggart yang merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin. Desain Kemmis dan Mc. Taggart terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan (Planning), tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflection). Hasil penelitian. Pada tahap pra tindakan, peneliti melaksanakan pembelajaran Matematika materi ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat hasilnya adalah, dari 42 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 18 Siswa atau 43% dan yang mendapat nilai 65-100 hanya sebanyak 24 siswa atau sebesar 57%. Hasil belajar pada pra tindakan dinyatakan belum tuntas secara klasikal. Hasil evaluasi dilaksanakan cukup waktu. Hasil evaluasi belum mencapai Kriteria Ketuntasan belajar secara optimal yaitu secara individual yakni 65 maupun secara klasikal 85%. Selanjutnya penelitian dilanjutkan pada siklus II. Pembelajaran pada siklus II, hanya sebagai penyempurnaan kekurangan yang terjadi pada siklus I. Pada akhir pembelajaran pada siklus II menunjukkan hasil belajr siswa telah mencapai ketuntasan secara klasikal, sehingga penelitian tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya.

Kata Kunci: Tutor Sebaya, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Keberhasilan pendidikan, khususnya pada mata pelajaran Matematika dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal, dimana yang dimaksud dalam faktor internal adalah dari dalam diri siswa itu sendiri sedangkan faktor eksternal adalah dari guru, orang tua, masyarakat dan lain sebagainya. Oleh karena itu, salah satu peranan guru yaitu menguasai materi yang diajarkan dan terampil dalam menyajikannya. Faktor internal yang berupa motivasi, dalam proses pembelajaran sangat berperan penting sebab seseorang yang tidak termotivasi dalam belajar, maka tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar secara efektif.
Pada proses pembelajaran, guru mempunyai peranan penting dalam menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Dalam meningkatkan hasil belajar siswa khususnya hasil belajar pada mata pelajaran matematika sangat dibutuhkan kemampuan dari guru untuk mengembangkan kreasi mengajar, mampu menarik minat siswa untuk belajar Matematika.
Metode/model mengajar sangat diperlukan oleh seorang guru, dimana guru sebagai pemegang manajemen kelas yang akan menentukan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan yang hendak dicapai. Menurut pendapat Nasution (1982:54) dalam proses pembelajaran guru harus menggunakan metode/model yang tepat agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif. Maka pemilihan strategi pembelajaran dengan memilih model dan metode pembelajaran yang tepat untuk siswa, tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Berbagai penelitian dalam pendidikan, di antaranya yang dilakukan oleh Zimmerman dan Risemberg (dalam Sungur & Tekkaya, 2006) menunjukkan bahwa keyakinan dan kesadaran untuk memperbolehkan siswa menjadi pembelajar yang bebas sangat berhubungan dengan peningkatan mutu akademis. Pandangan tersebut mampu memberikan peningkatan pada proses belajar mengajar dalam kelas dan faktor-faktor kontekstual lainnya yang secara meyakinkan akan berpengaruh pada pembelajaran siswa dan motivasi. Hal ini berarti guru harus memperhatikan pada usaha strategi siswa untuk mengatur prestasi dan proses-proses yang terjadi dalam belajarnya. Proses-proses regulasi-diri dan kepercayaan yang terfokus pada penelitian sistematis tentang variabel yang mempengaruhi belajar berdasar regulasi-diri pada siswa
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, bangsa Indonesia dituntut untuk mampu beradaptasi dengan meningkatkan kualitas dan sumber daya manusianya. Hal ini sangat penting untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin pesat maka pemerintah memberikan perhatian terhadap pendidikan dengan berbagai perbaikan dibidang pendidikan, antara lain perbaikan pada kurikulum yaitu diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), palaksanaan seminar bagi para guru, pelaksanaan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), pengadaan buku paket dan lain sebagainya. Namun, keberhasilan pendidikan belum mencapai hasil yang dinginkan.
Satu komponen yang sangat penting dalam dunia pendidikan adalah guru, karena guru merupakan ujung tombak pendidikan. Dalam konteks ini, gurumempunyai peranan yang sangat besar dan strategis, karena gurulah yang berada di barisan paling depan dalam pelaksanaan pendidikan. Guru langsung berhadapan dengan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang di dalamnya mencakup kegiatan pentransferan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penanaman nilai-nilai positif melalui bimbingan dan juga tauladan.
Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan menentukan metode yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Pemilihan dan penentuan metode ini didasari adanya metode-metode tertentu yang tidak bisa dipakai untuk mencapai tujuan yaitu meningkatkan hasil belajar.
Tutorial adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar siswa dapat efisien dan efektif dalam belajar. Subyek atau tenaga yang memberikan bimbingan dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor dapat berasal dari guru atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan siswa yang dipilih dan ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam belajar di kelas. Pengajaran tutoring merupakan pengajaran melalui kelompok yang terdiri atas satu siswa dan satu pengajar (tutor, mentor) atau boleh jadi seorang siswa mampu memegang tugas sebagai mentor, bahkan sampai taraf tertentu dapat menjadi tutor (Winkel, 1996:401).
Secara singkat pengertian tutor dapat diartikan sebagai orang yang memberikan tutorial atau tutoring, sedangkan tutorial atau tutoring adalah bimbingan yang dapat berupa bantuan, petunjuk, arahan ataupun motivasi baik secara individu maupun kelompok dengan tujuan agar siswa dapat lebih efisien dan efektif dalam kegiatan pembelajaran sehingga tujuan dalam kegiatan pembelajaran tersebut dapat tercapai dengan baik.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta (Tim Perumus, 2008:150) dijelaskan bahwa  baya adalah umur, berumur atau tua, sedang sebaya adalah sama umurnya (tuanya), atau hampir sama (kekayaannya, kepandaiannya, dsb), seimbang atau sejajar. Pengertian lain sebaya menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia adalah hampir sama; (Trisno Yuwono dan Pius Abdullah, 1994:367).
Teman sebaya berarti teman-teman yang sesuai dan sejenis, perkumpulan atau kelompok prapuberteit yang mempunyai sifat- sifat tertentu dan terdiri dari satu jenis. Menurut Ali (2004:99) Kelompok teman sebaya memegang peranan penting dalam kehidupan remaja. Remaja sangat ingin diterima dan dipandang sebagai anggota kelompok teman sebaya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Oleh karenanya, mereka cenderung bertingkah laku seperti tingkah laku kelompok sebayanya.
Interaksi antara kawan membuka mata anak terhadap pola tingkah laku yang berlaku dalam kebudayaan tertentu, yang sering dilakukan. Dengan demikian, interaksi ini cenderung untuk mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku yang dipakai untuk pergaulan yang berlaku. Interaksi antara kawan itu menyebakan tersedianya contoh yang lebih representatif tentang apa yang boleh dilakukan dalam kebudayaan itu dibanding dengan yang tersedia di rumah.
Menurut Suryo dan Amin (1984:51), bantuan yang diberikan teman-teman sebaya pada umumnya dapat memberikan hasil yang cukup baik. Peran teman sebaya dapat menumbuhkan dan membangkitkan persaingan hasil belajar secara sehat, karena siswa yang dijadikan tutor, eksistensinya diakui oleh teman sebaya. Dalam satu kelas selisih usia antara siswa satu dengan siswa yang lain tentu relative kecil atau hampir sama, sehingga dalam satu kelas terdapat kelompok teman sebaya yang saling berinteraksi antara siswa satu dengan yang lain sehingga akan terbentuk pola tingkah laku yang dipakai dalam pergaulan mereka. Dalam interaksi tersebut tidak menutup kemungkinan antar siswa satu dengan siswa yang lain saling membantu dan membutuhkan dalam pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
Pembelajaran teman/tutor sebaya adalah pembelajaran yang terpusat pada siswa, dalam hal ini siswa belajar dari siswa lain yang memiliki status umur, kematangan/harga diri yang tidak jauh berbeda dari dirinya sendiri. Sehingga anak tidak merasa begitu terpaksa untuk menerima ide-ide dan sikap dari “gurunya” yang tidak lain adalah teman sebayanya itu sendiri. Dalam tutor sebaya, teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami, selain itu dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya, sehingga diharapkan siswa yang kurang paham tidak segan-segan untuk mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya (Suherman, 2003:277).
Menurut Ischak dan Warji dalam Suherman (2003:276) berpendapat bahwa tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya. Suryo dan Amin (1984:51) yang dimaksud dengan tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa-siswa tertentu yang mengalami kesulitan belajar.
Tugas sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman dan sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri, karena dalam model pembelajaran tutor sebaya ini, mereka (para tutor) harus berusaha mendapatkan hubungan dan pergaulan baru yang mantap dengan teman sebaya, mencari perannya sendiri, mengembangkan kecakapan intelektual dan sosial. Dengan demikian, beban yang diberikan kepada mereka akan memberi kesempatan untuk mendapatkan perannya, bergaul dengan orang– orang lain, dan bahkan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.
Percobaan menggunakan siswa sebagai guru atau tutor sebaya telahberlangsung di negara lain yang sudah maju dan telah menunjukkankeberhasilan. Dasar pemikiran tentang tutor sebaya adalah siswa yang pandaimemberikan bantuan belajar kepada siswa yang kurang pandai. Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman-teman sekelasnya di sekolah atau di luar sekolah / di luar jam mata pelajaran (Semiawan, 1985:70).
Tutor teman sebaya adalah perekrutan salah satu siswa guna memberikan satu per satu pengajaran kepada siswa lain, dalam menyelesaikan tugas yang diberikan melalui partisipasi peran tutor dan tuteeTutor memiliki kemampuan lebih dibandingkan tutee, tapi pada beberapa variasi tutorial jarak pengetahuan yang dimiliki antara tutor dan tutee minimal (Roscoe & Chi, 2007). Hisyam Zaini (dalam Amin Suyitno, 2002:60) mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu siswa di dalam mengajarkan materi kepada teman-temannya.
Metode tutor sebaya adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara memberdayakan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi dari kelompok siswa itu sendiri untuk menjadi tutor bagi teman-temannya, dimana siswa yang menjadi tutor bertugas untuk memberikan materi belajar dan latihan kepada teman-temannya (tutee) yang belum faham terhadap materi/ latihan yang diberikan guru dengan dilandasi aturan yang telah disepakati bersama dalam kelompok tersebut, sehingga akan terbangun suasana belajar kelompok yang bersifat kooperatif bukan kompetitif.
Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya (Suherman,  dkk. 2003). Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami, selain itu dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya, sehingga diharapkan siswa yang kurang paham tidak segan-segan untuk mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya (Sukmadinata, 2007).
Inti dari metode pembelajaran tutor sebaya adalah pembelajaran yang pelaksanaannya dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil, yang sumber belajarnya bukan hanya guru melainkan juga teman sebaya yang pandai dan cepat dalam menguasai suatu materi tertentu. Dalam pembelajaran ini, siswa yang menjadi tutor hendaknya mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman lainnya, sehingga pada saat dia memberikan bimbingan ia sudah dapat menguasai bahan yang akan disampaikan. Model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil sangat cocok digunakan dalam pembelajaran matematika dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dikelas dan siswa menjadi terampil dan berani mengemukakan pendapatnya dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil dapat meningkatkan hasil belajar siswa dimana semua siswa aktif, siswa sangat antusias dalam melaksanakan tugas, semua perwakilan kelompok berani mengerjakan tugas didepan kelas, siswa berani bertanya dan respon siswa yang diajar sangat tinggi.
Hasil Belajar mata pelajaran Matematika siswa kelas Kelas VI SD Negeri Badean 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember, masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal, yaitu dari 42 siswa, yang mencapai ketuntasan belajar hanya 24 siswa, atau hanya sebesar 57%. Dan sisanya masih belum mencapai ketuntasan belajar.
Peneliti yang juga sebagai guru matematika melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas dengan menerapkan metode pembelajaran Tutor sebaya pada materi ajar “Operasi Hitung Bilangan”. Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar, dengan menerapkan metode-metode pembelajaran yang variatif.

Perumusan Masalah
Adapun permasalahan penelitian tindakan kelas peneliti rumuskan sebagai berikut, Apakah Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 03?

Tujuan Penelitian
Sedangkan tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah, untuk mengkaji tentang Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 03..

Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
  1. Bagi siswa, dapat lebih mudah dalam mempelajari mata pelajaran Matematika,
  2. Bagi guru, penelitian ini membuat guru lebih berani untuk menerapkan model pembelajaran yang variatif agar siswa tidak merasa malas dan jenuh dalam belajar,
  3. Bagi sekolah, dapat sebagai masukan yang sangat baik untuk menentukan kebijakan dalam rangka meningkatkan prestasi dan hasil belajar di sekolah.


METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Badean 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupten Jember dan dilaksanakan pada semester ganjil .
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah guru dan siswa Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Jumlah siswa kelas VI  yang menjadi subyek penelitian berjumlah 42 siswa dengan latar belakang kemampuan yang berbeda-beda mulai dari yang tinggi, sedang, dan rendah dilihat dari kecerdasan dan intelektual masing-masing siswa.
Yang menjadi bahan dalam penelitian ini terfokus pada permasalahan proses pembelajaran terutama terhadap kemampuan siswa, yang mana hasil dalam pembelajaran dan aktifitas siswa masih ada dalam kategori rendah dan masih ada yang di bawah KKM.

Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas. Penelitian Tindakan Kelas disebut juga Classroom Action Reasearch. Adapun bentuk penelitian tindakan kelas yang digunakan disini adalah bentuk yang pertama, yaitu PTK yang memandang guru sebagai peneliti. Dalam bentuk ini tujuan utama PTK adalah untuk meningkatkan praktek-praktek pembelajaran dikelas dimana guru terlibat langsung dalam perencanaan, tindakan, dan refleksi.

Desain Penelitian
Dalam penelitian ini model PTK yang digunakan adalah model Kemmis dan Mc. Taggart yang merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin. Desain Kemmis dan Mc. Taggart terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan (Planning), tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflection). Model ini hampir sama dengan model Kurt Lewin hanya saja komponen tindkan (acting) dengan pengamatan (observing) dijadikan sebagai satu kesatuan (Hopkins, D. 1993).
Penelitian Tindakan Kelas ini direncanakan tiga siklus, tapi tidak menutup kemungkinan untuk melakukan siklus berikutnya atau bahkan siklus apabila hasil perbaikan belum mencapai tujuan yang diharapkan atau siklus dihentikan apabila telah mencapai hasil belajar yang diharapkan. Satu siklus tindakan sama dengan satu kali tindakan pembelajaran dengan alokasi waktu 3 x 45 menit, sehingga istilah siklus tindakan identik dengan tindakan pembelajaran.
Alur siklus Penelitian Tindakan Kelas dapat dibuat seperti model Kemmis Dan Mc. Taggart seperti berikut ini,
Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri dari 4 tahapan (fase): (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (action), (3) pengamatan (observation), dan (4) refleksi (reflection).
Namun sebelum sampai pada tahap inti, akan diawali dengan beberapa kegiatan persiapan. Operasionalnya sebagai berikut :
  1. Orientasi dan Indentifikasi Masalah
  1. Melakukan kegiatan observasi dan orientasi di kelas VI dengan fokus  pada penelitian terhadap pelaksanaan proses pembelajaran Matematika, terutama pada kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran yang diterapkan
  2. Secara bersama-sama dengan rekan sejawat berkolaborasi mengidentifikasi masalah dengan menerapkan skala prioritas dari sejumlah masalah pembelajaran Matematika khususnya pada materi ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat
  1. Perencanaan Tindakan
Tahap ini dirumuskan upaya penyelesaian atau penanganan terhadap masalah utama yang teridentifikasi. Rumusan masalah lebih difokuskan pada penggunaan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya.
  1. Pelaksanaaan Tindakan dan Observasi
  1. Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran dalam siklus pertama dan kedua adalah melakukan kegiatan sebagai berikut :
    • Menyusun instrumen pembelajaran, yaitu: skenario pembelajaran, LKPD, dan instrumen tes
    • Mempersiapkan sumber pembelajaran, alat peraga atau media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran
    • Menyusun instrumen penelitian, yang terdiri dari: lembar observasi, dan lembaran aktivitas siswa dalam pelaksaan pembelajaran
  1. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran peneliti bertindak sebagai guru yang melakukan keguatan pembelajaran sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah ditetapkan. Gambaran global materi dari siklus pembelajaran mata pelajaran Matematika sebagai berikut:
Langkah-langkah model pembelajaran tutor sebaya yang dilaksankan adalah sebagai berikut :
  1. Peneliti menetapkan materi ajar, yaitu “Operasi Hitung Bilangan Bulat”
  2. Membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen.. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya, dalam hal ini yang dipilih menjadi Tutor adalah Nanik Nurhasanah, Rizki Efendi, Jamila, Diki Wijaya, Siti Erika,
  3. Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari materi yang diajarkan.
  4. Setiap kelompok di pandu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.
  1. Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan hasil kerja sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama.
  2. Setelah kelompok menyampaikan tugasnya secara berurutan, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan.
d. Refleksi
Data yang dikumpul dari hasil observasi terhadap setiap pembelajaran segera diolah dan dideskripsikan maknanya dengan cara diklasifikasikan, dianalisis, didiskusikan dan dikaji ulang secara bersama-sama dengan observer, terutama yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan yang terjadi dalam proses pembelajaran. Hasil kegiatan refleksi digunakan sebgai bahan untuk pertimbangan penyusunaan rencana tindakan berikutnya dan merevisi kekurangan – kekurangan serta melengkapi perencenaan pembelajaran yang akan ditindaklanjuti pada siklus berikutnya.
Peneliti dan observer menganalisis dan merefleksi pelaksanaan dan hasil tindakan siklus I. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi terhadap tindakan siklus I. Pada saat refleksi ini didiskusikan pula oleh peneliti dan observer fokus tindakan untuk pembelajaran di siklus II. Dan seterusnya dalam setiap siklus.

Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penilaian disebut instrumen penelitian.
Penelitian inipeneliti menggunakan tes tertulis untuk mengukur keberhasilan siswa dalam pokok bahasan tersebut dan lembar observasi sebagai pedoman guru dalam proses pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode pembelajaran Tutor sebaya.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik data yang akan dianalisis adalah data yang terkumpul baik waktu pra-tindakan, selama tindakan, maupun sesudah tindakan pembelajaran dilaksanakan. Ada 3 teknik cara pengumpulan data, yaitu :
  • Lembar Observasi
Lembar observasi digunakan untuk memperoleh data perencanaan dan kinerja guru dalam proses pembelajaran.
  • Penilaian Kinerja Siswa
Penilaian kinerja siswa merupakan alat untuk mengukur kemampuan siswa dalam penguasaan materi yang diajarkan.
  • Tes tertulis
Tes tertulis digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa.

Metode Analisis Data
Analisis data merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana denga baik tetapi jika analisa datanya tidak relevan. Data hasil observasi pembelajaran dianalisis bersama-sama dengan mitra kolaborasi dengan guru pelajaran dengan peneliti. Kemudian ditafsirkan berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman guru. Sedangkan hasil belajar siswa dianalisis berdasarkan ketentuan belajar siswa.

Indikator Hasil Kerja
Indikator yang dapat dicapai dari penelitian ini antara lain :
  1. Adanya interaksi antara guru dan siswa yang lebih aktif jika menggunakan metode pembelajaran Tutor sebaya
  2. Terjadi peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai pre tes ke nilai post tes.
  3. Ketuntasan Hasil belajar dalam penelitian ini adalah suatu pencapaian dari suatu penguasaan materi secara maksimal baik secara perorangan maupun secara kelompok. Bila dalam belajar mengajar sudah diperoleh ketuntasan belajar maka proses belajar mengajar dikatakan efektif.
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
  1. Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skormaksimal 100.
  2. Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pada pertemuan pra tindakan pembelajaran Matematika menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Hasil dari test dari dua kali pertemuan ini, dijadikan sebagai dasar pijakan awal untuk mengetahui perkembangan proses belajar mengajar mata pelajaran Matematika materi ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat”. Hasil belajar Matematika pada pra tindakan tersebut diatas dinyatakan belum tuntas belajar karena 42 siswa yang mecapai ketuntasan hanya 57% dengan rincian yang mendapat nilai < 65 sebanyak 18 Siswa atau 43% dan yang mendapat nilai 65-100 hanya sebanyak 24 siswa atau sebesar 57%.
Selanjutnya dilaksanakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya pada siklus I. Di akhir pembelajaran dilaksanakan analisa data melalui evalusi berupa tes yang hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 03 Pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase (%)
<65
10
24 %
65-100
32
76 %
Jumlah
42
100 %
Sumber : data yang diolah
Tabel 1 di atas menjelaskan bahwa hasil analisis data pada siklus I menunjukkan siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 10 siswa atau sebesar 24% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 32 siswa atau sebesar 76%. Dari hasil analisa data diatas dapat diketahui pada siklus I sudah ada peningkatan hasil belajar namun belum mencapai ketuntasan secara klasikal. Sehingga perlu diadakan program perbaikan belajar dan dianalisa data yang dilaksanakan pada siklus II.
Pada dasarnya pembelajaran siklus II hanya menyempurnakan kekurangan yang terjadi pada siklus I. Seperti pada siklus I, setelah proses pembelajaran selanjutnya diadakan evaluasi berupa tes yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini,

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 03 Pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase (%)
<65
3
7 %
65-100
39
93 %
Jumlah
42
100 %
Sumber : data yang diolah

Berdasarkan tabel 2 diatas, dapat diketahui pada siklus II yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3 siswa atau hanya sebesar 7% dan yang mendapat nilai 65-100 meningkat menjadi sebanyak 39 siswa atau sebesar 93%, sehingga pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Karena hasil belajar pada siklus II sudah mendapat ketuntasan hasil belajar yang diharapkan maka penelitian dan analisa data tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk lebih jelas, berikut ini kami sajikan perbandingan ketuntasan hasil belajar yang diperoleh dari mulai Pra Tindakan, Siklus I, dan siklus II pada Tabel 3 dan grafik 1 dibawah ini.

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 03 Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II
Kriteria
Nilai
Pra tindakan
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
18
43%
10
24%
3
7%
65 – 100
24
57%
32
76%
39
93%
Jumlah
42
100%
42
100%
42
100%
Sumber : Data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II
Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tindakan konkret. Jika ternyata tindakan yang dilakukan masih belum berhasil dalam hal ini peneliti harus mengadakan refleksi kembali untuk mencari kekurangan dan kelemahan pada waktunya berlangsung proses pembelajaran sehingga dapat diperbaiki pada siklus berikutnya.
Pada tahap pra tindakan, peneliti melaksanakan pembelajaran Matematika materi ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” seperti yang selama ini dilakukan, yaitu dengan metode konvensional/ceramah. Guru Pada akhir pembelajaran, peneliti melaksanakan tes yang hasilnya adalah, dari 42 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 18 Siswa atau 43% dan yang mendapat nilai 65-100 hanya sebanyak 24 siswa atau sebesar 57%. Hasil belajar pada pra tindakan dinyatakan belum tuntas secara klasikal.
Berdasarkan hasil belajar pada pra tindakan, peneliti memperbaiki proses pembelajaran matematika materi ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” dengan menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya pada siklus I. Langkah - langkah pembelajaran telah dijelas.
Setelah itu guru melakukan tanya jawab sesuai dengan materi yang akan disampaiakan yaitu manajemen. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Dan menyelesaikan lembar kerja yang diperintahkan oleh guru. Setelah itu guru melakukan tanya jawab sesuai dengan materi yang akan disampaiakan yaitu “Operasi Hitung Bilangan Bulat”. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Dan menyelesaikan lembar kerja yang diperintahkan oleh guru
Kegiatan awal guru melakukan apresepsi dengan menulis beberapa soal, sebagai usaha untuk mengetahui pengetahuan awal siswa, namun banyak siswa yang belum bisa menyelesaikan soal yang diberikan guru. Pada tahap kegiatan inti, tampak belum mampu mengaktifkan siswa, sehingga siswa belum mampu meningkatkan kemampuannya dalam mempelajari materi yang diajarkan.  
Pada saat kerja kelompok siswa belum menunjukan aktivitas yang optimal, Interaksi siswa dengan siswa dan siswa dengan guru masih kurang padahal guru sudah memberikan bantuan bimbingan dalam pelaksanaan pembelajaran. 
Pada kegiatan penutup, waktu merangkum, mereview, dan menyimpulkan kurang melibatkan siswa. Evaluasi dilaksanakan sesuai dengan tujuan, dilakukannya pemeriksaan. Hasil belajar siswa belum mencapai KKM yang telah di tetapkan.
Tahap akhir siklus satu melakukan refleksi pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hasil temuan selama pelaksanaan, hasil observasi, dan hasil tes evaluasi dari pengamat merupakan bahan untuk melakukan perbaikan pembelajaran selanjutnya. Dari data-data tersebut masih ditemukan beberapa kekurangan dan kelemahan guru dalam waktu proses pembelajaran, diantaranya yaitu pertanyaan apresepsi belum memberikan motivasi, belum mampu merespon dan menarik perhatian siswa. 
Kegiatan penutup dilaksanakan kurang efektif, waktu merangkum cukup dari pendapat guru, tugas rumah diberikan dengan penjelasan sekilas. Hasil evaluasi dilaksanakan cukup waktu. Hasil evaluasi belum mencapai Kriteria Ketuntasan belajar secara optimal yaitu secara individual yakni 65 maupun secara klasikal 85%. Selanjutnya penelitian dilanjutkan pada siklus II. Pembelajaran pada siklus II, hanya sebagai penyempurnaan kekurangan yang terjadi pada siklus I. Pada akhir pembelajaran pada siklus II menunjukkan hasil belajr siswa telah mencapai ketuntasan secara klasikal, sehingga penelitian tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya.
Model tutorial merupakan cara penyampaian bahan pelajaran yang telah dikembangkan dalam bentuk modul untuk dipelajari siswa secara mandiri. (Yamin,  2007). Tutor berfungsi sebagai tukang atau pelaksana mengajar yang cara mengajarnya telah disiapkan secara khusus dan terperinci. Untuk menghidupkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok, peran ketua kelompok atau tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan (M. Saleh Muntasir, 1985).
Melalui tutor sebaya ini siswa bukan hanya dijadikan sebagai objek pembelajaran tetapi menjadi subjek pembelajaran, yaitu siswa diajak untuk menjadi tutor atau sumber belajar dan tempat bertanya bagi temannya. Dengan cara demikian siswa yang menjadi tutor melakukan repetition (pengulangan) dan menjelaskan kembali materi sehingga menjadi lebih paham dalam setiap bahan ajar yang disampaikan.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Setelah penelitian tindakan dilaksanakan, diperoleh peningkatan hasil belajar dari siklus I dan siklus II, maka peneliti simpulkan bahwa, Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan Bulat” Siswa Kelas VI SD Negeri Badean 03 .

Saran-saran
Saran-saran yang peneliti sampaikan untuk memperbaiki proses pembelajaran, adalah sebagai berikut,
  1. Untuk guru, agar dapat menggunakan metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran serta dapat melakukan berbagai variasi metode pembelajaran, agar siswa dapat aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar,
  2. Untuk sekolah, agar memberi dukungan dengan menyiapkan saran dan prasarana yang dibutuhkan untuk mengadakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru sebagai upaya untuk peningkatan kualitas pembelajaran di kelas.

DAFTAR RUJUKAN


Arikunto, S. 2006. “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik” Edisi Revisi VI, Jakarta: Rineka Cipta
Asikin. 2002. “Strategi Belajar dan Pembelajaran”. Jakarta.
Danial, Endang AR,2013. Penelitian Tindakan Kelas. Direktorat PLP Dirjendikdasmen. Depdiknas. Jakarta
Budimansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian. Bandung: Ganesindo
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993, Kurikulum Pendidikan Dasar, Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar.
Dimyati, Mujiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: ASMP; Mahasatya. Depdiknas, 2003, Draf Final Kurikulum 2004, Jakarta: Depdiknas.
Hopkins, D. (1993) A Teacher’s Guide to Classroom Research, Buckingham: Open University.
Yamin, Martinis. 2007 Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, Gaung Persada Press, Jakarta.
Nasution1982. Didaktik Asas-asas Mengajar. Penerbit Jemmars, Bandung.
Hopkins, D. 1993. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Open University Press. Buckingham. Philadelpia.
Suherman, E dkk. 2003. “Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer”. Bandung. UPI
Sungur, S., Tekkaya, C. & Geban, O. 2006. Improving Achievement Through. Problem Based Learning.
Winkel. WS 1996. Psikologi. Pengajaran. Jakarta: Gramedia
, diunduh Rabu 18 Oktober 2017 jam 21.09.