Senin, 23 April 2018

PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “PENAKSIRAN HASIL OPERASI HITUNG” SISWA KELAS IV SD NEGERI SIDODADI 05


Mukadaroh

Abstrak: Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung” Siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017 melalui Penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving). Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah terdiri atas beberapa siklus, setiap siklus terdiri atas empat langkah, yaitu: (1) perencanaan, (2) aksi atau tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Hasil penelitian: Melalui penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) pada Siklus I, yang mendapat nilai <65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 19% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 81%, maka pada siklus I sudah terjadi peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan, namun secara klasikal masih belum mencapai ketuntasan sehingga analisa data dilanjutkan pada siklus II.Untuk mencapai target ketuntasan, analisa data berikutnya dilakukan pada siklus II, dengan pencapaian nilai <65 sebanyak 2 siswa atau sebesar 7% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 25 siswa atau sebesar 93%, dinyatakan tuntas belajar secara klasikal.


Kata Kunci: Hasil Belajar, Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving).

PENDAHULUAN
Dalam pengajaran Matematika, ketepatan dalam penggunaan metode pengajaran sangat mempengaruhi hasil belajar Matematika yang dicapai oleh siswa. Banyak metode pengajaran yang bisa dikembangkan dalam kegiatan belajar-mengajar. Misalnya: metode ceramah, metode diskusi, metode demonstrasi, metode tanya-jawab, metode pemberian tugas, dan lain-lain. Penggunaan metode yang monoton akan memberikan dampak yang kurang bagus dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. Sebagai contoh metode pengajaran yang selalu menggunakan metode ceramah menyebabkan siswa lebih cepat bosan dan jenuh sehingga materi yang disampaikan oleh guru tidak dapat diserap oleh siswa secara optimal. Jelasnya dalam suatu pembelajaran guru seharusnya bisa mengembangkan berbagai metode pengajaran sesauai dengan karakteristik pokok bahasan yang diajarkan (Faturrohman, 2007; Hamalik, 2007).
Keberhasilan kegiatan belajar-mengajar, khususnya mata pelajaran Matematika sangat dipengaruhi banyak faktor, antara lain: minat belajar siswa, keprofesionalan guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik, sarana dan prasarana pembelajaran, metode pengajaran dan lain-lain.Oleh karena itu pembelajaran matematika di Sekolah Dasar menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan ketrampilan proses dan sikap ilmiah (Depdiknas, 2006).
Melalui Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) yang diterapkan pada peneletian tindakan kelas ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran matematika siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017 yang sebelumnya masih rendah dan belum mencapai ketuntasan secara klasikal.
Faktor- faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar adalah kondisi lingkungan sekolah terutama sarana dan prasarana secara keseluruhan belum memenuhi karena fasilitas pembelajaran masih kurang, kemampuan guru sudah baik karena guru sudah mempunyai kreativitas dalam pembelajaran, kondisi lingkungan pergaulan siswa cukup baik, serta metode atau model pembelajaran yang diterapkan kurang bervariasi sehingga siswa kurang bersemangat dalam mengikuti proses belajar mengajar (Djamarah, 1994. Metode pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran (Muis dan David, 2008). Metode ini diciptakan seorang ahli didik berkebangsaan Amerika yang bernama Jhon Dewey. Metode ini dinamakan  Problem Method. Sedangkan Crow & Crow dalam bukunya Human Development and Learning, mengemukakan nama metode ini dengan Problem Solving Method.Sebagai prinsip dasar dalam metode ini adalah perlunya aktivitas memecahkan masalah dalam mempelajari sesuatu. Timbulnya aktivitas peserta didik sehingga hasil belajar dapat meningkat.

Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
  1. Apakah penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) dapat meningkatkan Aktivitas Belajar siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05 ?,
  2. Apakah Penerapakan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving), dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung” siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05?

Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk mengkaji Penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) dalam Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung” Siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017.

Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat hasil penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut :
  1. Bagi siswa, Penelitian ini membuat siswa menjadi aktif dan berinisiatif sendiri serta bertanggung jawab sendiri terhadap permasalahan yang dihadapi.
  2. Bagi guru, sebagai bahan masukan dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat dalam rangka meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
  3. Bagi lembaga pendidikan dan sekolah peningkatan mutu pendidikan, khususnya perbaikan pembelajaran dalam mata pelajaran Matematika.

METODE PENELITIAN
Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
Daerah penelitian merupakan tempat atau lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di Siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember dan dilaksanakan pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017.

Subyek penelitian adalah siswa Siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah sebanyak 27 siswa serta proses pembelajaran matematika materi ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung” dengan penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving).


Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Kurt Lewin menyatakan bahwa PTK terdiri atas beberapa siklus, setiap siklus terdiri atas empat langkah, yaitu: (1) perencanaan, (2) aksi atau tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi (Ditjendikti, 1999). Keempat langkah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Berdasarkan langkah-langkah PTK seperti yang digambarkan di atas, selanjutnya dapat digambarkan lagi menjadi beberapa siklus, yang akhirnya menjadi kumpulan dari beberapa siklus.


Langkah pertama pada setiap siklus adalah penyusunan rencana tindakan. Tahapan berikutnya pelaksanaan dan sekaligus pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan. Hasil pengamatan kemudian dievaluasi dalam bentuk refleksi. Apabila hasil refleksi siklus pertama menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan belum memberikan hasil sebagaimana diharapkan, maka berikutnya disusun lagi rencana untuk dilaksanakan pada siklus kedua. Demikian seterusnya sampai hasil yang dinginkan benar-benar tercapai.
  1. Tahap Perencanaan (Planning)
  1. Mengidentifikasi masalah
  2. Menganalisis dan merumuskan masalah
  3. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)
  4. Bahan-bahan yang akan dibahas terlebih dahulu disiapkan oleh guru.
  5. Guru menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan sebagai bahan pembantu dalam memecahkan persoalan.
  6. Guru memberikan gambaran secara umum tentang cara-cara pelaksanaannya.
  7. Problem yang disajikan hendaknya jelas dapat merangsang peserta didik untuk berpikir.
  8. Problem harus bersifat praktis dan sesuai dengan kemampuan peserta didik.
2.  Pelaksanaan
  1. Guru menjelaskan secara umum tentang masalah yang dipecahkan.
  2. Guru meminta kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan tentang tugas yang akan dilaksanakan.
  3. Peserta didik dapat bekerja secara individual atau berkelompok.
  4. Mungkin peserta didik dapat menemukan pemecahannya dan mungkin pula tidak.
  5. Kalau pemecahannya tidak ditemukan oleh peserta didik kemudian didiskusikan mengapa pemecahannya tak ditemui.
  6. Pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan pikiran.
  7. Data diusahakan mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk analisa sehingga dijadikan fakta.
  8. Membuat kesimpulan.
3.  Tahap Mengamati (observasi)
  1. Melakukan pengamatan terhadap penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
  2. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
  3. Melakukan diskusi untuk membahas tentang kelamahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya
  1. Tahap refleksi (Reflection)
  1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi
  2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
  3. Melakukan refleksi terhadap penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
  4. Melakukan refleksi terhada kreativitas siswa dalam pembelajaran Matematika
  5. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa


Metode Dan Instrumen Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumenter. Teknik observasi digunakan untuk menggali berbagai kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang berkaitan dengan system yang berlangsung pada proses pembelajaran di kelas. Jadi observasi dipakai untuk menggali data yang terlihat, terdengar, atau terasakan dimana kesemuanya dipandang sebagai suatu hamparan kenyataan (Stuart, 1977) yang mungkin saja diangkat sebagai aspek penting terkait dengan system pembelajaran di sekolah.
Teknik wawancara mendalam (in depth interview) digunakan untuk menggali apa yang ada di dalam proses pembelajarnnya baik bagi guru maupun bagi siswa. Sedangkan dokumenter digunakan untuk menggali data yang bersifat dokumen.


Metode Analisis Data
Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dua tahap. Tahap pertama untuk data kuantitatif dianalisis dengan statistic deskriptif selanjutnya dimaknai dengan analisis kualiatif. Ketika pengumpulan data berlangsung, peneltian akan dengan sendirinya terlibat melakukan perbandingan-perbandingan dalam rangka memperkaya data bagi tujuan konseptual, kategori dan teorisasi. Reduksi data dilakukan untuk memastikan data terkumpul dengan selengkap mungkin untuk kemudian dipilah-pilahkan ke dalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu (Muhajir, 1989).
Kategori yang peneliti maksud adalah skala yang digunakan untuk dapat memasukkan data sehingga data tersebut dapat dianalisis untuk memudahkan dalam data kuantitatif.
Setelah mendapatkan data dan dianalisis maka data tersebut bisa dibaca secara deskriptif untuk memudahkan dalam membaca laporan hasil penelitian tindakan kelas. Pada saat melakukan penelitian siklus yang digunakan adalah dua siklus dalam dua kali pertemuan untuk melaksanakan penelitian ini.


Indikator Keberhasilan
Siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran Matematika sebanyak ≥ 80 % dari total siswa. Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65% dan secara klasikal > 85 %, maksimal 100%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memperbaiki pembelajaran matematika di kelas IV SD Negeri Sukodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember pada semester ganjil tahun pelajaran 2016/2017. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut, kegiatan pertama-tama melaksanakan analisa data pada kondisi awal, yaitu sebelum Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) diterapkan. Dan hasilnya adalah, dari 27 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 siswa atau sebesar 44%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 56%, berdasarkan analisis data dan pengolahan data hasil belajar, maka kondisis awal pembelajaran dinyatakan belum mencapai ketuntasan.
Selanjutnya pada pertemuan berikutnya dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving). Pada tahap ini persiapan telah dilakukan, baik yang berkaitan dengan persiapan mengajar (Rencana Pembelajaran, alat evaluasi dan perencanaan setting pembelajaran) lembar observasi, panduan wawancara, dan persiapan latihannya.
Pada tahap pelaksanaan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving). Guru mengajar mata pelajaran Matematika materi ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung” sesuai rencana, namun peneliti lebih menekankan pada aktivitas belajar siswa.
Langkah-langkah dalam pembelajaran pertama-tama peneliti menjelaskan ruang lingkup materi kemudian menjelaskan garis besar materi ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung”, selanjutnya siswa diberi tugas diskusi kelompok dengan topik yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kegiatan observasi Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi utamanya dilakukan oleh guru (sebagai peneliti) dan dibantu oleh guru lain, observasi difokuskan pada proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran utamanya berkaitan dengan materi ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung”. Pada tahapan-tahapan ini akan dijelaskan pada pembelajaran berikutnya yakni Siklus I dan Siklus II yang tujuannya untuk mencari ketuntasan hasil belajar pada Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) melalui tahapan-tahapan yang sudah dijelaskan ppada bab III laporan ini.
Pencapaian ketuntasan hasil belajar yang telah dijelaskan tahapan-tahapan diatas, maka tabel dibawah ini menjelaskan ketuntasan berdasarkan pada analisis data Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.

Tabel . Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi Ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung” Siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II .

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
12
44%
5
19%
2
7%
65 - 100
15
56%
22
81%
25
93%
Jumlah
27
100%
27
100%
27
100%
Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan tabel diatas, dapt dijelaskan pada Kondisi Awal belum mencapai ketuntasan, selanjutnya analisa data hasil belajar melalui penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) pada Siklus I, memperoleh data yang mendapat nilai <65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 19% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 81%, maka pada siklus I sudah terjadi peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan, namun secara klasikal masih belum mencapai ketuntasan sehingga analisa data dilanjutkan pada siklus II.
Untuk mencapai target ketuntasan, analisis data berikutnya dilakukan pada siklus II, dengan pencapaian nilai <65 sebanyak 2 siswa atau sebesar 7% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 25 siswa atau sebesar 93%, dengan demikian hasil analisis data pada siklus data pada siklus II, secara signifikan dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Dan tidak perlu diadakan analisis berikutnya mengingat sudah mencapai target ketuntasan yang diharapkan. Untuk memperjelas ketuntasan hasil belajar yang diperoleh pada penelitian ini, dapat digambarkan pada grafik perbandingan sebagai berikut,

Grafik. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi Ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung” Siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II .
Sumber : Data yang diolah




Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis kuantitatif diskriptif di atas, menunjukan bahwa proses pembelajaran siswa mengalami peningkatan dari tindakan pertama dibanding yang kedua. Hasil belajar lebih jelas dapat dilihat pada grafik dan tabel di atas.
Peningkatan ini dapat kita pahami karena pada dasarnya adalah Penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving). Tugas guru adalah mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri (Faturrohman, P. 2007).
Metode pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Sebagai prinsip dasar dalam metode ini adalah perlunya aktifitas dalam mempelajari sesuatu. Timbulnya aktifitas peserta didik kalau sekiranya guru menjelaskan manfaat bahan pelajaran bagi peserta didik dan masyarakat.
Dalam bukunya “school and society” John Dewey mengemukakan bahwa keaktifan peserta didik di sekolah harus bermakna artinya keaktifan yang disesuaikan dengan pekerjaan yang biasa dilakukan dalam masyarakat.Alasan penggunaan metode problem solving bagi peneliti adalah dengan penggunaan metode problem solving siswa dapat bekerja dan berpikir sendiri dengan demikian siswa akan dapat mengingat pelajarannya dari pada hanya mendengarkan saja (Muhsetyo, G..2008).
Peningkatan yang dicapai oleh siswa pada tindakan pertama yang cukup signifikan ini, akan menjadi dasar bagi peneliti untuk meneruskan model pembelajaran ini dengan tindakan kedua, khususnya untuk mencapai kriteria ketuntasan belajar secara klasikal walaupun model pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada waktu proses belajar mengajar cukup bervariasi, akan belum banyak memberikan perubahan pada upaya optimalisasi peningkatan proses pembelajaran yang tuntas.
Tingkat ketuntasan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : motivasi, suasana kelas, materi pembelajaran, kompetensi (profesi guru) dan lain-lain. Khusus guru berdasarkan pengamatan peneliti, relatif kurang dasar profesi keguruannya, Keadaan seperti itu, akan mempengaruhi seorang guru dalam proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kadar proses pembelajaran siswa, khusus variasi-variasi model pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung dari interaksi guru dan siswa. Interaksi guru dan siswa dapat dilihat dalam hal tanya jawab yang dilakukan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar (Sudjana,1990) dan proses interaksi akan berjalan bila siswa memiliki reaksi cepat terhadap stimulus yang diberikan oleh guru.
Pemberian motivasi untuk memanfaatkan sarana pembelajaran yang tersedia dan selalu memanfaatkan belajar kelompok akan dapat meningkatkan kadar proses pembelajaran optimal dan akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa sebagaimana diharapkan bersama, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin mengglobal sekarang.
Peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik suatu mata pelajaran adalah merupakan suatu kemampuan seorang pendidik untuk memiliki daya kreatif dan inovatif melalui suatu percobaan tindakan dikelas. Kegiatan ini harus dilakukan terus menerus oleh seorang pendidik, sampai mendapatkan model pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang dibinanya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Peningkatan hasil belajar yang dicapai dari siklus ke siklus dalam penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan bahwa, Penerapan Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) Dapat Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Penaksiran Hasil Operasi Hitung” Siswa Kelas IV SD Negeri Sidodadi 05 Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017, pada Siklus yang tuntas 81%, pada Siklus kedua 93%.

Saran-saran
Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka saran-saran yang diberikan peneliti berkaitan dengan strategi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran siswa adalah sebagai berikut:
  1. Bagi sekolah, Sebaiknya berusaha memenuhi kebutuhan belajar siswa baik fasilitas, alat-alat maupun media pembelajaran yang salah satunya dengan memperbanyak buku paket dan alat peraga yang menunjang sehinga  dapat menunjang kualitas pembelajaran siswa,
  2. Bagi guru, Perlu adanya kinerja yang baik dalam proses pembelajaran dan meningkatkan lagi pengetahuan terhadap perkembangan dunia pendidikan dengan sering mengikuti pelatihan-pelatihan sehingga dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi siswa,
  3. Bagi siswa, diharapkan lebih giat lagi dalam belajar, baik belajar sendiri, atau dengan teman dan memperbanyak literatur buku dengan sering membaca diperpustakaan, dirumah serta selalu berusaha semaksimal mungkin berani mengemungkakan ide pengerjaan soal matematika yang perlu segera dipecahkan.


DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas. 2006. Model – Model Pembelajaran yang Efektif. Jakarta. Depdiknas
Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : PT. Rineka Cipta
Djamarah, 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya : Usaha Nasional
Faturrohman, P. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT Refika Aditama
Hamalik, Oemar. 1994. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Bandung : Tri Genda Karya
Hamalik, Oemar. 2007. Proses Belajar Mengajar, Bandung : Bumi Aksara
Muhsetyo, G..2008. Pembelajaran Matematika SD, Jakarta: Universitas Terbuka..
Muis, Daniel dan David Rainold. 2008. Efective Teaching. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Roestiyah NK., 1988, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara.
Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rineka Cipta
Suryosubroto. 1983. Sistem Pengajaran dengan Modul. BINA AKSARA
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Ditjendikti. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta.
Winataputra. Udin s. 2001. Model-model Pembelajaran Inovatif. Jakarta Pusat: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional