Senin, 23 April 2018

MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA TEMA PERISTIWA DALAM KEHIDUPAN PESERTA DIDIK KELAS V SDN 30 SAMBOJA KUTAI KARTANEGARA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ATTENTION, RELEVANCE, CONFIDENCE, SATISFACTION (ARCS)

Nur Anasiroh

Abstrak: Permasalahan dalam penelitian ini adalah peserta didik kurang termotivasi
dalam mengikuti pembelajaran. cenderung pasif. Rendahnya motivasi belajar peserta
didik mengakibatkan hasil belajar rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran
Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction (ARCS) pada peserta didik kelas V
SDN Samboja 30. Motivasi belajar peserta didik pada siklus 1 memperoleh skor 2,9
dengan kriteria sedang, pada siklus 2 memperoleh skor 3,41 dengan kriteria tinggi dengan
peningkatan 0,64, pada siklus 3 meningkat 3,67 kriteria tinggi dengan peningkatan 0,26.
Hasil analisi hasil belajar (kognitif) terdapat peningkatan berdasarkan tes yang dilakukan
pada siklus 1, 2, dan 3. Pada Pra siklus hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan
54% yang tuntas, sehingga belum mencapai kriteria ketuntasan klasikal. Pada siklus 1
hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan 66%, dari pra siklus ke siklus 1 terjadi
peningkatan sebesar 12%. Pada siklus 2 memperoleh ketuntasan sebesar 75% sehingga
meningkat 15%. Pada siklus 3 meningkat sebesar 9% dengan memperoleh ketuntasan
klasikal sebesar 87,5%, Berdasarkan kriteria ketuntasan klasikal maka termasuk kata gori
tuntas..Hasil belajar psikomotorik pada siklus 1 memperoleh skor 2,92 dengan kriteria
cukup, pada siklus 2 memperoleh skor 3,11 sehingga meningkat 0,19 dengan kriteria baik,
dan pada siklus 3 meningkat 0,21 menjadi 3,32 dengan kriteria baik. Dapat disimpulkan
bahwa penerapan model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction
(ARCS) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik kelas V SDN 030
Samboja.
Kata Kunci: Model Pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction
(ARCS), Motivasi Belajar, Hasil Belajar Peserta Didik.

PENDAHULUAN

Berbagai masalah sering muncul pada saat pembelajaran berlangsung. Permasalahan
pada mata pelajaran yaitu kurangnya antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran
di kelas. Mata pelajaran hanya dipandang sebagai pelajaran hafalan. Selain antusiasme
peserta didik yang rendah, hasil belajar juga seringkali rendah karena peserta didik lebih
menghafal materi dan tidak memahami materi secara mendalam. Pendidik lebih sering
menerangkan materi dengan ceramah dan memberikan tugas-tugas. Tugas yang diberikan
baik berupa LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) maupun tugas yang dibuat oleh pendidik
sendiri. Pembelajaran berpusat pada pendidik lebih mengutamakan hasil belajar dari
peserta didik di bandingkan dengan proses belajar peserta didik. Akibatnya hasil belajar
peserta didik rendah karena pelajaran yang membosankan dan tidak menarik sehingga
peserta didik tidak termotivasi untuk mengikutinya.
____________________________________________________________________
Nur Anasiroh, S.Pd.SD Adalah Guru SDN 30 Samboja Kutai Kartanegara , Kalimantan
Timur

112Meningkatkan Hasil Belajar IPS Melalui Metode Simulasi,...( Atminingsih )
Pembelajaran dalam kurikulum 2013 diharapkan menjadi mata pelajaran yang dapat
membentuk karakter peserta didik. Peserta didik dituntut untuk lebih aktif dalam
pembelajaran sehingga merasa tertantang dan termotivasi untuk mampu mengikuti tuntutan
pembelajaran. Tujuan pengembangan Kurikulum 2013 adalah menghasilkan insan
Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap,
ketrampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Pendidik dalam Kurikulum 2013 sebagai
pengajar dan fasilitator serta motivator bagi peserta didik. Sesuai penerapan ketrampilan
dasar mengajar “memberi penguatan”.

Motivasi adalah hal yang penting dalam proses pembelajaran. Motivasi merupakan
proses pemberian semangat, arah dan kegigihan perilaku peserta didik (Santrock,
2007:510). Hasil belajar peserta didik ditentukan dari motivasi yang dimilikinya. Semakin
besar motivasi dalam diri peserta didik, semakin besar pula hasil belajar yang dicapai.
Dengan demikian motivasi penting untuk ditingkatkan. Usaha peneliti dan pendidik untuk
mengatasi permasalahan rendahnya motivasi belajar peserta didik akan dilakukan dengan
menerapkan model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction
(ARCS) dalam pembelajaran, sehingga dapat memenuhi pembelajaran yang diharapkan
pada kurikulum 2013.

Model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction (ARCS)
merupakan suatu bentuk pendekatan pemecahan masalah untuk merancang aspek motivasi
serta lingkungan belajar dalam mendorong dan mempertahankan motivasi peserta didik
untuk belajar (Keller, 1987). Model pembelajaran ini mengutamakan perhatian peserta
didik, menyesuaikan materi pembelajaran dengan pengalaman belajar peserta didik,
menciptakan rasa percaya diri dalam diri peserta didik, dan menimbulkan rasa puas dalam
diri peserta didik tersebut. Empat kategori kondisi motivasional yang harus diperhatikan
oleh pendidik untuk menghasilkan pembelajaran menarik dan bermakna bagi peserta didik.
Empat kategori model ARCS yaitu perhatian, relevansi, kepercayaan diri, dan kepuasan
(Gagne, 2000:198).

Beberapa Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ARCS dapat
meningkatkan hasil belajar dan motivasi peserta didik. Berdasarkan uraian diatas peneliti
melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini.
Permasalahan penelitian ini adalah:
1) Apakah penerapan model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, and
Satisfaction (ARCS) dapat meningkatkan motivasi belajar pada peserta didik kelas V
SDN 030 Samboja Kutai Kartanegara ?
2) Apakah penerapan model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, and
Satisfaction (ARCS) dapat meningkatkan hasil belajar pada tema peristiwa dalam
kehidupan?

Tujuan penelitian ini adalah:

1) Menerapkan model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction
(ARCS) untuk meningkatkan motivasi belajar pada peserta didik kelas V SDN 030
Samboja Kutai Kartanegara.
2) Menerapka model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction
(ARCS) untuk meningkatkan hasil belajar pada tema peristiwa dalam kehidupan.
Manfaat Penelitian ini adalah: 1)Bagi peneliti lain, manfaatnya adalah sebagai
dorongan, motivasi dan rangsangan untuk melakukan penelitian yang sejenis sekaligus
pengembangannya. 2)Bagi pendidik, sebagai masukan dalam pemilihan model
pembelajaran yang sesuai dengan materi. 3)Bagi peserta didik, diharapkan dapat
meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar peserta didik terhadap mata pelajaran , dan
113Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.4) Bagi sekolah yang
diteliti, memberikan masukan dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran.

METODE PENELITIAN

Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas V SDN 030 Samboja Kutai
Kertanegara. Peserta didik kelas V SDN Samboja 030 tersebut sebanyak 24 peserta didik
pada semester Gasal Tahun pelajaran 2017/2018. Pemilihan kelas yang akan dijadikan
penelitian adalah kelas yang berdasarkan proses pembelajaran dan observasi yang pernah
peneliti lakukan selama ini.
Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis bagaimana pelaksanaan model
ARCS dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. Pendekatan kuantitatif
digunakan untuk menganalisis apakah terjadi peningkatan motivasi belajar dan hasil
belajar peserta didik.
Jenis rancangan penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas (classroom action
reserch).
Ciri khusus dari penelitian tindakan kelas adalah adanya tindakan (action) yang
nyata. Tindakan ini dilakukan oleh situasi yang alami (bukan dalam laboratorium) dan
ditujukan untuk memecahkan masalah yang praktis (Arikunto, 2009:62). Penelitian ini
114Meningkatkan Hasil Belajar IPS Melalui Metode Simulasi,...( Atminingsih )
dipusatkan pada kegiatan pembelajaran yang berlangsung dikelas sebagai upaya untuk
perbaikan pelaksanaan praktek pembelajaran dengan cara melakukan tindakan-tindakan
dalam pembelajaran.
Ketuntasah hasil belajar dalam penelitian ini menggunakan standar ketuntasan
belajar yang telah di tetapkan sekolah. Peserta didik dinyatakan tuntas apabila nilai hasil
tes memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75 dari skor maksimal 100. Ketuntasan
klasikal minimal mencapai 75%. Sedangkan motivasi peserta didik dinyatakan meningkat
apabila kriteria motivasi belajar tinggi dengan rata-rata skor 3,4 - 4,1 diukur dari minat dan
perhatian peserta didik terhadap pelajaran, semangat peserta didik untuk melakukan tugas-
tugas belajarnya, tanggung jawab peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya,
reaksi yang ditunjukkan peserta didik terhadap stimulus yang diberikan pendidik, dan rasa
senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dipaparkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan
selama penelitian dikelas V SDN Samboja 030.
A. Peningkatan Motivasi Belajar Peserta Didik dengan Menggunakan model
Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction (ARCS)
Hasil analisis persentase motivasi belajar peserta didik dalam belajar dengan
menggunakan model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction
(ARCS) dengan membandingkan ketuntasan pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 yang
disajikan dalam diagram dibawah ini:
Gambar 1. Peningkatan motivasi belajar peserta didik siklus 1,2 dan 3. (sumber: Hasil
analisis data siklus 1, 2, dan 3)
Berdasarkan analisis data observasi motivasi belajar peserta didik yang peneliti
lakukan, motivasi belajar peserta didik pada indikator minat dan perhatian peserta didik
pada siklus 1 memperoleh skor 3,1 dengan kriteria sedang, siklus 2 memperoleh 3,85
115Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
dengan kriteria tinggi, sehingga peningkatannya 0,75. Pada siklus 3 meningkat 0,35
menjadi 4,2 dengan kriteria tinggi. Indikator semangat peserta didik untuk melakukan
tugas-tugas belajarnya pada siklus 1 memperoleh skor 2,75 dengan kriteria sedang, pada
siklus 2 memperoleh 3,12 kriteria sedang sehingga meningkat 0,37, pada siklus 3
meningkat 0,28 dengan nilai 3,4 dengan kriteria tinggi. Tanggung jawab peserta didik
dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya pada siklus 1 mendapat skor 2,65 dengan
kriteria sedang, pada siklus 2 mendapat skor 3,07 dengan kriteria sedang sehingga
peningkatannya 0,42, pada siklus 3 mendapat skor 3,47 dengan kriteria tinggi sehingga
meningkat 0,40. Reaksi yang ditunjukkan peserta didik terhadap stimulus yang diberikan
pendidik pada siklus 1 mencapai skor 2,92 dengan kriteria sedang, pada siklus 2
memperoleh skor 3,45 dengan kriteria tinggi, sehingga peningkatannya 0,53, pada siklus 3
meningkat 0,15 menjadi 3,60 dengan kriteria tinggi. Indikator rasa senang dan puas dalam
mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik pada siklus 1 mencapai kriteria sedang
dengan skor 3,05, pada siklus 2 memperoleh skor 3,57 dengan kriteria tinggi sehingga
meningkat 0,57, pada siklus 3 memperoleh skor 3,70 dengan kriteria tinggi sehingga
meningkat 0,13. Skor rata-rata motivasi pada siklus 1 memperoleh skor 2,9 dengan kriteria
sedang, pada siklus 2 memperoleh skor 3,41 dengan kriteria tinggi, sehingga meningkat
0,51. Pada siklus 3 meningkat 0,26 dengan skor 3,67 dengan kriteria tinggi. Berdasarkan
hasil observasi pada pelaksanaan siklus 1, 2, dan 3 dapat disimpulkan bahwa penerapan
model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction (ARCS) dapat
meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas V SDN Samboja 030 .
Motivasi belajar peserta didik kelas V SDN Samboja 030 meningkat setelah
dilakukan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Attention, Relevance,
Confidence, and Satisfaction (ARCS) pada siklus 1, siklus 2 dan siklus 3. Hal ini sesuai
dengan pendapat Sardiman (2011:84) semakin tepat motivasi yang diberikan pendidik pada
peserta didik semakin meningkat pula keberhasilannya.
B. Hasil Belajar Peserta Didik Kelas V SDN Samboja 030 dengan penerapan
Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction (ARCS)
Hasil belajar yang dianalisis dalam penelitian ini adalah pada aspek kognitif dan
aspek psikomotorik. Hasil analisis persentase hasil belajar aspek kognitif peserta didik
dalam belajar
dengan menggunakan model pembelajaran Attention, Relevance,
Confidence, and Satisfaction (ARCS) dengan membandingkan ketuntasan pada siklus 1,
siklus 2, dan siklus 3.
Hasil analisi hasil belajar (kognitif) terdapat peningkatan berdasarkan tes yang
dilakukan pada siklus 1, 2, dan 3. Pada Pra siklus hasil belajar peserta didik memperoleh
ketuntasan 54% atau ada 13 siswa yang tuntas, sehingga belum mencapai kriteria
ketuntasan klasikal. Pada siklus 1 hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan 66%
atau sebanyak 16 siswa, dari pra siklus ke siklus 1 terjadi peningkatan sebesar 12%. Pada
siklus 2 memperoleh ketuntasan sebesar 75% atau 18 siswa sehingga meningkat 15%.
Pada siklus 3 meningkat sebesar 9% dengan memperoleh ketuntasan klasikal sebesar
87,5% atau 21 siswa sehingga yang belum tuntas ada 3 siswa, Berdasarkan kriteria
ketuntasan klasikal maka termasuk kata gori tuntas..
Hasil analisis penilaian psikomotorik yaitu produk berupa tulisan yang dihasilkan
peserta didik terjadi peningkatan pada tiap indikatonya. Pada siklus 1 sistematika
penulisan produk yang dihasilkan peserta didik memperoleh skor 3,3 dengan kriteria baik,
pada siklus 2 meningkat menjadi 3,37 dengan peningkatan 0,07 tetap pada kriteria baik
dan meningkat pula pada siklus 3 sebesar 3,47 dengan peningkatan 0,10 dengan kriteria
baik. Kelengkapan materi pada tulisan yang dihasilkan pada siklus 1 memperoleh skor
116Meningkatkan Hasil Belajar IPS Melalui Metode Simulasi,...( Atminingsih )
2,97 dengan kriteria cukup, pada siklus 2 menjadi 3,22 meningkat 0,25 dengan kriteria
baik, dan pada siklus 3 meningkat 0,23 memperoleh skor 3,45 dengan kriteria baik.
Keruntutan penyajian materi pada tulisan yang dihasilkan pada siklus 1 memperoleh
skor 2,9 dengan kriteria cukup, pada siklus 2 dengan skor 3,1 meningkat 0,2 mencapai
kriteria baik. Pada siklus 3 meningkat 0,3 menjadi 3,4 dengan kriteria baik. Penggunaan
referensi sumber pada siklus 1 memperoleh skor 3 dengan kriteria baik, pada siklus 2
memperoleh 3,12 sehingga meningkat 0,12 dengan kriteria baik. Pada siklus 3 meningkat
0,18 menjadi 3,3. Indikator penarikan kesimpulan pada siklus 1 memperoleh skor 2,65
dengan kriteria cukup, pada siklus 2 memperoleh skor 2,95 meningkat sebesar 0,3 masih
pada kriteria cukup. Pada siklus 3 meningkat sebesar 0,25 menjadi 3,2 dengan kriteria
baik.
Berdasarkan hasil penilaian pada pelaksanaan siklus 1, 2, dan 3 bahwa penerapan
model pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction (ARCS) dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V SDN Samboja 030 . Hal ini sesuai
dengan pendapat Azizah (2010) hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model
pembelajaran Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction (ARCS) memperoleh
hasil belajar matematika sangat tinggi karena model pembelajaran Means Attention,
Relevance, Confidence, and Satisfaction (ARCS) dapat meningkatkan motivasi belajar
peserta didik.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis disimpulkan: Penerapan Model pembelajaran Attention,
Relevance, Confidence, dan Satisfaction (ARCS) dapat meningkatkan motivasi belajar
peserta didik kelas V SDN Samboja 030 . Hal ini ditandai dengan indikator motivasi: (a)
Minat dan perhatian peserta didik terhadap pelajaran, pada siklus 1 memperoleh skor 3,1
kriteria sedang, siklus 2 memperoleh 3,85 kriteria tinggi, dengan peningkatan 0,75, siklus 3
memperoleh skor 4,2 kriteria tinggi, dengan peningkatan 0,35. (b) Semangat peserta didik
untuk melakukan tugas-tugas belajarnya, pada siklus 1 memperoleh skor 2,75, siklus 2
memperoleh skor 3,12 kriteria sedang, dengan peningkatan 0,37, siklus 3 memperoleh 3,4
tinggi dengan peningkatan 0,28. (c) Tanggung jawab peserta didik dalam mengerjakan
tugas-tugas belajarnya, pada siklus 1 memperoleh skor 2,65 kriteria sedang, pada siklus 2
memperoleh skor 3,07 kriteria sedang, dengan peningkatan 0,42, siklus 3 memperoleh skor
3,47 kriteria tinggi, dengan peningkatan 0,4. Indikator (d) reaksi yang ditunjukkan peserta
didik terhadap stimulus yang diberikan pendidik, pada siklus 1 memperoleh skor 2,92
kriteria sedang, pada siklus 2 memperoleh skor 3,45 kriteria tinggi, dengan peningkatan
0,53, siklus 3 memperoleh 3,6 kriteria tinggi dengan peningkatan 0,15. Indikator (e) rasa
senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik, pada siklus 1
memperoleh skor 3,05 kriteria sedang, pada siklus 2 memperoleh skor 3,57 kriteris tinggi
dengan peningkatan 0,57, siklus 3 memperoleh skor 3,7 kriteria tinggi dengan peningkatan
0,13. Pada siklus 1 motivasi belajar peserta didik mendapat skor 2,9 dengan kriteria
sedang. Pada siklus 2 motivasi belajar peserta didik mendapat skor 3,41 dengan kriteria
tinggi. Pada siklus 3 motivasi belajar peserta didik mendapat skor 3,67 dengan kriteria
tinggi. Peningkatan motivasi belajar peserta didik dari siklus 1 ke siklus 2 meningkat
sebesar 0,64 dan meningkat lagi dari siklus 2 ke siklus 3 sebesar 0,26. Motivasi belajar
peserta didik meningkat dari sedang ke tinggi. Penerapan Model pembelajaran Attention,
Relevance, Confidence, dan Satisfaction (ARCS) dapat meningkatkan hasil belajar peserta
didik kelas V SDN Samboja 030 .

Hasil analisi hasil belajar (kognitif) terdapat peningkatan berdasarkan tes yang
dilakukan pada siklus 1, 2, dan 3. Pada Pra siklus hasil belajar peserta didik memperoleh
ketuntasan 54% atau ada 13 siswa yang tuntas, sehingga belum mencapai kriteria
117Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
ketuntasan klasikal. Pada siklus 1 hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan
66% atau sebanyak 16 siswa, dari pra siklus ke siklus 1 terjadi peningkatan sebesar 12%.
Pada siklus 2 memperoleh ketuntasan sebesar 75% atau 18 siswa sehingga meningkat
15%. Pada siklus 3 meningkat sebesar 9% dengan memperoleh ketuntasan klasikal
sebesar 87,5% atau 21 siswa sehingga yang belum tuntas ada 3 siswa, Berdasarkan
kriteria ketuntasan klasikal maka termasuk kata gori tuntas..

Peneliti memberikan saran dan masukan sebagai berikut. Bagi guru, sebaiknya
menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar sehingga
dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Bagi lembaga pendidikan, hasil dari
penelitian ini merupakan sebuah masukan yang dapat berguna dan digunakan sebagai
umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Bagi peneliti selanjutnya, agar dapat lebih
mengembangkan penelitian pembelajaran dengan model pembelajaran Attention,
Relevance, Confidence, dan Satisfaction (ARCS) pada materi yang lain dalam ruang
lingkup yang luas dan dalam jangka waktu yang lama.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, S. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Azizah, WA. 2012. Penerapan Model Pembelajaran ARCS Dengan Teknik Probing
Prompting Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar. Skripsi.
Tidak diterbitkan. Jember. Universitas Negeri Jember.
Clegg, B. 2001. Instant Motivation-79 Cara Instan Menumbuhkan Motivasi. Jakarta:
Erlangga
Dewi, RA. 2012. Motivasi Belajar Untuk Anak dengan IQ di atas Rata-rata. Yogyakarta:
Javalitera.
Kemendikbud. 2013. Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian dan Pendidikan
Nasional.
Santrock, J.W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana
Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Slameto, 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Slavin,
Suciati dan Irawan, P. 2001. Teori Belajar dan Motivasi. Jakarta: Pusat antar Universitas
untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional
Learningtheori.
2010.
Model
ARCS
Keller.
(online).
http://learningtheori.wordpress.com/2010/03/08/model-arcs-keller
Kurniawan. 2012. Penerapan Model Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction
(ARCS) pada Pembelajaran Mata Pelajaran Pkn Kelas X Semester Gasal di
MA Nahdlotussibyan Demak Tahun 2011-2012. Skripsi. IKIP PGRI
Semarang.
118