Senin, 23 April 2018

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn MATERI AJAR “PEMERINTAHAN DESA DAN KECAMATAN” MELALUI METODE KUASAI SISWA KELAS IV SD NEGERI PETUNG 02


Harti Setiyaningsih

Abstrak: Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa Dan Kecamatan” Melalui Penerapan Metode KUASAI Siswa Kelas IV SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian Tindakan Kelas (PTK), tahapannya yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi . Hasil penelitian: Penerapan Metode KUASAI dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, baik kualitas proses maupun kualitas hasil, kualitas proses dapat diliihat dari peningkatan keaktifan siswa dari Pra Tindakan, siklus I dan siklus II. Begitu juga peningkatan hasil belajar dari Pra Tindakan yang tuntas baru 55% , siklus pertama 82% siklus ke II (dua), yang tuntas mencapai 91 %.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Metode Kuasai

PENDAHULUAN
Masalah pendidikan sangat kompleks, untuk mencapai tujuan pendidikan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi proses pendidikan, salah satunya adalah proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa. Inti dari proses pembelajaran adalah kegiatan belajar para siswa. Tinggi rendahnya kadar kegiatan belajar banyak dipengaruhi oleh tingkat pelibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu masalah yang memerlukan perhatian dalam kegiatan belajar mengajar adalah penerapan metode mengajar (Syafriani, D. 2004). Hal ini disebabkan adanya pandangan bahwa kegiatan belajar mengajar itu akan tercapai tujuannya jika di dalamnya ada kemauan, simpati secara intuitif terhadap siswa.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memiliki karakteristik berbeda dengan mata pelajaran lain. Pendidikan Kewarganegaraan termasuk kajian ilmu sosial, tujuan akhir dari pelajaran ini, agar siswa sebagai warga negara memiliki kepribadian yang baik, bisa menjalankan hak dan kewajibannya dengan penuh kesadaran. Sebagai wujud cinta atas tanah air dan bangsanya sendiri sehingga tujuan NKRI bisa terwujud (Saripudin, 1996).
Kenyataan dilapangan menunjukkan, masih ada siswa yang menganggap pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tidak begitu penting, dibandingkan mata pelajaran yang lain. Terbukti dalam pembelajaran siswa cenderung ramai dan kurang memperhatikan. Hal ini terjadi karena dalam diri siswa timbul perasaan jenuh dan bosan. Salah satu penyebabnya dalam pembelajaran guru menerapkan pola guru sentris (guru menjadi pusat kegiatan di dalam kelas), maka untuk mengatasi diterapkan model pembelajaran “Kuasai”.
Model pembelajaran kuasai dikemukakan oleh Colin Rose yang menyatakan melalui pembelajaran dengan model “Kuasai” siswa diharapkan dapat menyelesaikan suatu permasalahan dengan metode sesuai dengan daya nalar mereka. Model pembelajaran kuasai  merupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Colin Rose dengan cara mengadaptasi dan mensistensis hasil penelitian dari Dr Howard Gorden tentang multiple intelligenses. Kuasai  sendiri merupakan akronim dari enam tahapan pembelajaran yang efektif yang terdiri dari: 1)Kerangka pikiran untuk sukses; 2) Uraikan faktanya; 3)Apa maknanya ; 3)Sentakkan ingatan ; 4)Ajukan yang anda ketahui, 5)Introspeksi (Rose, Colin and Nicholl, Malcolm J. 1998).
Seperti yang disampaikan oleh Rose (2003: 23) bahwa pembelajaran efektif melibatkan enam tahap. Enam tahap ini disimpulkan dari akronim KUASAI. Tahap pertama adalah Kerangka Pikiran untuk Sukses. Tahap kedua adalah Uraikan Faktanya. Tahap ketiga adalah Apa Maknanya. Tahap keempat adalah Sentakkan Ingatan. Tahap kelima adalah Ajukan Pertanyaan Yang Anda Ketahui. Tahap yang terakhir atau yang keenam adalah Intropeksi. Pelaksanaan pembelajaran model KUASAI membutuhkan partsipasi dan kerjasama dalam kelompok dengan pembagian tugas peran pada setiap anggota kelompoknya.
Colin Rose (2003) telah menyimpulkan bahwa pembelajaran efektif melibatkan enam tahap. Enam tahapan ini dapat disimpulkan oleh akronim KUASAI. 

Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah :

1) Kerangka pikiran untuk sukses

Beberapa metode yang dapat diterapkan pada saat tahapan ini adalah :
  1. Fokus yang tenang. Salah satu cara agar dapat menjadi fokus dan tenang adalah memaksimalkan oksigen di dalam tubuh. Menurut Yusuf (2004:19) para ahli yang telah melakukan penelitian dalam rangka menciptakan cara yang efektif untuk meningkatkan kemampuan mengingat. 
Mereka akhirnya sampai pada tiga cara yang efektif yang bisa membantu dalam berkonsentrasi, dan menjauhkan seseorang dari perangkap lupa yang tidak diinginkan, yaitu: 
  • Menarik nafas yang dalam dan panjang pada saat merekam pengetahuan atau informasi dalam ingatan
  • Relaksasi dengan bantuan nafas yang dalam
  • Penguatan yang mendalam
  1. Menuliskan dan menetapkan tujuan. Ketika menuliskan tujuan, tulislah diatas kertas, sasaran akan terlihat lebih konkrit dan nyata. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya seseorang akan lebih mudah mengingat sesuatu yang berarti bagi dirinya. Maka dalam menetapkan tujuan hendaknya disesuaikan dengan manfaat bagi dirinya.

2) Uraikan faktanya

Beberapa metode yang dapat diterapkan pada langkah yang kedua ini antara lain :
  1. Belajar Multi Indrawi.
Pengalaman multi-indrawi membantu seseorang membentuk ingatan yang awet. Jadi, jika ingin mengingat, sebaiknya lakukan apapun untuk memastikan adanya pengalaman visual, audition dan fisik dalam pembelajaran,
  1. Pecahlah Informasi yang Panjang.
Wacana tentang ingatan menunjukkan bahwa seseorang dapat mengingat informasi dalam ingatan jangka pendek. 
Jadi, inilah cara untuk memaparkan banyak informasi menjadi bentuk yang mudah diingat dengan cara: 
  • Buatlah catatan dalam bentuk peta belajar
  • Berikan judul setiap peta belajar dengan satu kata
  • Ciptakan akronim yang terdiri atas tujuh huruf atau kurang, yang memungkinkan untuk mengingat semua judul peta belajar

3) Apa maknanya

Adapun beberapa cara-cara yang dapat diterapkan oleh pendidik dalam membantu para siswa mencari makna, antara lain:
  1. Kartu: mintalah para siswa menyiapkan kartu yang meringkas hal-hal penting dari materi yang dipelajari
  2. Urutkan mintalah siswa mengumpulkan materi-materi yang telah dipelajari, lalu urutkanlah dan berilah nomor urut menurut tingkat kepentingannya
  3. Menyebarkan ingatan kelompok bagi siswa menjadi beberapa kelompok yang berisi tiga atau empat orang/kelompok
  4. Buat lagu rap: atau pantun, lagu, irama untuk meringkaskan sebagian atau semua hal yang telah dipelajari
  5. Tukar masalah dan bentuk kelompok
  6. Menjelaskan kepada orang lain dan minta para siswa membayangkan mereka pulang ke rumah dan menjelaskan kepada keluarganya materi yang telah didapatnya
  7. Mengacak urutan, jika sedang mempelajari proses mintalah setiap siswa membuat kartu yang bertuliskan satu bagian dari urutan

4) Sentakkan ingatan

Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk dapat mengingat informasi, yaitu :
  1. Ambil keputusan untuk mengingat. Jika seseorang ingin belajar sesuatu, maka ia harus menentukan pilihan (keputusan) untuk mengingat atau tidak mengingatnya,
  2. Ambil jeda secara teratur. Jika menginginkan menjaga kemampuan ingatan agar tetap tinggi, buatlah banyak awal dan akhir sesi belajar.
  3. Buat daur ulang. Pengulangan adalah tahap penting dalam menciptakan ingatan jangka panjang. Contoh rencana mengulang yang efektif : 
  • Pelajari bahannya
  • Ulangi bahan setelah satu jam
  • Ulangi lagi setelah sehari
  • Ulangi lagi setelah seminggu
  • Ulangi lagi setelah satu bulan
  • Ulangi lagi setelah enam bulan
  1. Ciptakan ingatan multi indrawi. Setiap manusia memiliki ingatan terpisah atas apa yang dilihat, didengar, diucapkan, dan dikerjakan. Karena itu, pengalaman multi indrawi akan memperluas potensi seseorang dalam mengingat. Maka pastikan bahwa ada pengalaman-pengalaman visual (lihat/pandang), auditori (dengar) dan kinestetik (gerak-laku), 
  2. Gunakan pencintraan untuk mengingat untuk memperkuat citra dapat dengan menambahkan gerakan hal yang lucu dan aneh akan dapat teringat dengan baik, jadi gunakanlah citra yang kocak dan aneh. 
  3. Cobalah "konser mengulang" Musik membuat seseorang menjadi relaks dan belajar akan lebih mudah selagi rileks. 
  4. Kilasan ingatan. Cara mengingat dengan teknik kilasan ingatan sangat efektif dan sederhana, yaitu: 
  • Siapkan catatan dalam bentuk peta belajar atau daftar ringkas
  • Pelajari dengan cermat selama satu atau dua menit
  • Kesampingkan catatan tersebut, lalu buat peta belajar berdasarkan ingatan
  • Bandingkan kedua peta belajar, akan terlihat ada yang terlewat
  • Buat peta belajar atau catatan yang ketiga. Lalu bandingkan dengan peta belajar yang pertama
  1. Kartu pengingat. Beberapa subyek cukup ideal bagi kartu-kartu belajar, misalnya rumus-rumus ilmiah atau kata-kata asing. 
  2. Peta kilasan. Peta kilasan merupakan versi lanjut kartu pengingat. 
  3. Ciptakan Mnemonik. Mnemonik merupakan alat bantu ingatan. Salah satu yang paling bermanfaat adalah akronim, 
  4. Biarkan mengendap dalam semalam Jika mengulang catatan disuatu topik beberapa saat sebelum bersiap tidur, pembelajaran akan memetik manfaat karena otak menggunakan tidur sebagai waktu untuk "mengarsipkan" informasi baru yang terlewat, 
  5. Memberi nomer hal-hal yang perlu diingat. 

5) Ajukan sesuatu yang anda ketahui

Teknik yang bisa dilakukan untuk menguji diri, yaitu: 
  1. Ujilah diri anda. Jika membuat pengujian diri sebagai bagian proses belajar yang otomatis, maka akan mampu memandang secara realistis kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. 
  2. Terapkan apa yang telah dipelajari. 
  3. Gunakanlah. Penelitian menunjukkan bahwa jika suatu gagasan digunakan dalam 24 jam setelah dilihat atau di dengar, gagasan itu lebih mungkin digunakan secara permanen. 
  4. Mencari Dukungan. Mencari dukungan dari orang lain, baik orang tua, atau teman belajar. 

6) Introspeksi

Seseorang perlu merenungkan sebaik apa pembelajaran yang telah dikerjakan. Tujuannya adalah meningkatkan sesuatu yang tidak hanya diketahui, tetapi cara ia belajar yang baik. Dengan demikian, seseorang akan menjadi pembelajar yang semakin lama semakin baik dan dapat belajar lebih baik setiap saat.



Karakteristik Model Pembelajaran KUASAI  (Rose, 2003: 101-102) adalah :

  1. Para anggota saling bergantung
  2. Menggabungkan hasil kerja terbaik
  3. Bersepakat untuk tujuan kelompok yang jelas
  4. Mengganti pemimpin kelompok sesering mungkin
  5. Menyediakan waktu untuk bercermin
  6. Eratkan kelompok, dan
  7. Sesekali bersaing dengan kelompok lain

Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran Kuasai

Pembelajaran model kuasai dalam penerapan didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
  1. Belajar bagaimana belajar (Learning how to learn) dan belajar bagaimana berpikir (learning how to think). 
  2. Belajar harus menyenangkan dan membangun rasa percaya diri. 
  3. Pengetahuan harus disampaikan dengan pendekatan multi-sensori dan multi-model dengan menggunakan berbagai bentuk kecerdasan.
  4. Orang tua dan masyarakat umumnya harus terlibat sepenuhnya dalam pendidikan
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. 
  1. Sekolah harus menjadi ajang persiapan yang sebenarnya bagi kehidupan dunia nyata.

Kelebihan metode pembelajaran kuasai  adalah sebagai berikut:

  1. Membantu siswa memotivasi diri untuk sukses dan percaya pada kemampuan sendiri, 
  2. Membantu siswa dalam menangkap ide-ide pokok menyimpulkan, mendefinisikan, merumuskan dan berfikir faktual dari sebuah materi pelajaran sesuai dengan caranya sendiri, 
  3. Meningkatkan daya ingat siswa dengan terbiasa memahami kata kunci dan merefleksikannya, 
  4. Proses belajar mengajar menjadi aktif dan menyenangkan.

Berdasarkan paparan, latar belakang di atas, maka dalam rangka mengatasi masalah pembelajaran PKn, diterapkan model pembelajaran Kuasai.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka masalah dalam penelitian tindakan kelas ini dapat di rumuskan sebagai berikut : Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa Dan Kecamatan” Melalui penerapan Metode KUASAI Siswa Kelas IV SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017 ?


Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa Dan Kecamatan” Melalui Penerapan Metode KUASAI Siswa Kelas IV SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017.

Manfaat Hasil Penelitian
Selanjutnya manfaat hasil penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut :
  1. Bagi peneliti, dapat di jadikan sebagai salah satu Metode untuk memperluas wawasan tentang disiplin ilmu yang di tekuni;
  2. Bagi guru, sebagai bahan masukan dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat dalam rangka meningkatkan kualitas proses belajar mengajar khususnya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan;
  3. Bagi lembaga pendidikan dan sekolah yang terkait, di harapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran demi peningkatan mutu pendidikan, khususnya perbaikan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan;
  4. Bagi penelitian lain, dapat bermanfaat sebagai referensi dalam kegiatan penelitian yang sejenis.






METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas IV SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember dan dilaksanakan pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017

Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh Siswa Kelas IV SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 22 siswa.

Rancangan Penelitian
Penelitian ini dirancang sebagai penelitian Tindakan Kelas (PTK), untuk itu desain penelitian lebih bersifat deskriptif. Penelitian ini menggunakan model skema PTK. Menurut "Kommis dan Mc. Taggart" kedua tokoh ini mengembangkan teori/skema yang diciptakan oleh "Kurt Lewin" yaitu perencanaan, perlakuan, refleksi dan pengamatan dengan menambah komponen tindakan (acting) di dalamnya (Sukidin. 2002).
Berikut skemanya :
Metode Pengumpulan Data
a.Sumber data meliputi :
Siswa (peserta didik), pengajar, dan proses belajar mengajar.
b. Cara Pengambilan data :
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data (Arikunto, 1993:136) Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara dan tes.

Metode Analisis Data
Teknik Analisis
Ada dua teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas (PTK). Untuk menggambarkan keadaan subyek penelitian (Populasi), akan digunakan teknik deskriptif kualitatif, yaitu dengan menggambarkan kondisi subyek penelitian baik sebelum maupun pada saat penelitian dikelas atau pada akhir perkuliahan. Sedangkan untuk mengetahui seberapa efektif penelitian (penerapan metode KUASAI), telah menunjukkan hasil atau belum digunakan analisis kuantitatif. Teknik Deskriptif kuantitatif dan di deskripsikan secara kualitatif.

lndikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila: (1) Penerapan metode KUASAI yang dilakukan oleh pembina Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn); (2) Proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan produktif, yang dapat diukur dari peningkatan keaktifan peserta didik dalam PBM, prestasi belajar meningkat memenuhi standart ketuntasan yang ditentukan nilai individual mencapai 65, ketuntasan klasikan 85% dari total siswa dikelas tersebut.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pre-tes dalam penelitian ini dilakukan sebelum pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan metode KUASAI pada kondisi awal, selama 10 menit. Pemberian pre-tes ini bertujuan untuk mengetahui kondisi awal sebelum pembelajaran dilakukan. Serta dari pre-tes nantinya dapat diketahui peningkatan hasil prestasi belajar sebelum dan sesudah penerapan metode KUASAI.
  1. Hasil Penelitian dan Analisis Data Siklus I
Proses belajar mengajar dengan penerapan metode KUASAI, pada siklus I dilaksanakan satu kali tatap muka. Pelaksanaan proses pembelajaran dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 1) Penjelasan pembelajaran metode KUASAI, 2) pelaksanaan kegiatan pembelajaran, 3) siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru, 4) masing-masing anggota saling bertukar pasangan untuk berdiskusi, 5) Pemantapan konsep. Pada saat diskusi keaktifan siswa dalam diskusi diamati dengan menggunakan pedoman observasi oleh dua observer.
Setelah pelaksanaan pembelajaran selesai dilaksanakan, dilakukan pos tes I untuk mengetahui hasil prestasi belajar siswa. Setelah diperoleh data hasil prestasi belajar siswa, kemudian data siswa dikelompokkan dalam kategori nilai yang telah ditetapkan.
Data lain yang ingin diperolah dari penelitian ini yaitu mengenai keaktifan siswa dalam pembelajaran. Data tersebut diperoleh dari hasil observasi yang kemudian dikelompokkan dalam kategori yang ditentukan. Baik data dari pre tes, pos tes I, dan observasi kemudian dinalisis untuk mengetahui tingkat ketuntasan hasil prestasi belajar, keaktifan siswa, dan untuk refleksi guna pembelajaran yang lebih baik pada siklus selanjutnya atau siklus II.

Berdasarkan analisis data diatas, diperoleh peningkatan hasil belajar dari kondisi awal ke siklus 1 masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal.. Dari analisis data observasi, siswa cukup aktif dalam diskusi tetapi tidak maksimal. Hal ini terjadi karena siswa dan guru masih belum terbiasa menggunakan metode KUASAI sehingga proses pembelajaran belum maksimal. Untuk mengantisipasi hal di atas, pada siklus berikutnya perlu dilakukan perbaikan.
Selanjutnya dibuat suatu perbaikan pada siklus berikutnya (siklus II), yaitu guru lebih aktif dalam menjelaskan pelaksanaan pembelajaran, mengatur jalannya diskusi dan selalu mengingatkan akan tugas masing-masing siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih terarah dan efektif.
Proses belajar mengajar dengan pembelajaran dengan metode KUASAI siklus II dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 1) Penjelasan pembelajaran metode KUASAI, 2) pelaksanaan pembelajaran, 3) siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru, 4) masing-masing anggota saling bertukar pasangan untuk berdiskusi, 5) Pemantapan konsep. Pada saat diskusi keaktifan siswa dalam diskusi diamati dengan menggunakan pedoman observasi oleh dua observer.
Setelah pelaksanaan pembelajaran selesai dilaksanakan, dilakukan pos tes II untuk mengetahui hasil prestasi belajar siswa. Setelah diperoleh data hasil prestasi belajar siswa , kemudian data siswa dikelompokkan dalam kategori nilai yang telah ditetapkan.
Seperti pada siklus I, keaktifan siswa merupakan data yang ingin diperoleh dari penelitian ini, data ini diperoleh dari hasil observasi. Baik data dari pre tes, pos tes II, dan observasi kemudian dinalisis untuk mengetahui tingkat ketuntasan hasil belajar siswa. Karena pada siklus II ini diperoleh peningkatan hasil prestasi belajar dan aktifitas siswa yang cukup tinggi maka tidak perlu dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Adapun peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh pada penelitian ini selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel. Perbandingan Hasil Belajar Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Kategori Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
10
45
4
18
2
9
65 - 100
12
55
18
82
20
91
Jumlah
22
100
22
100
22
100
Sumber: Data penelitian yang diolah.
Tabel di atas , juga dapat disajikan dengan lebih jelas pada grafik dibawah ini,
Grafik. Perbandingan Hasil Belajar Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Sumber: Data penelitian yang diolah.

Pembahasan

Bentuk belajar penemuan mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan, kemudian siswa menghubungkan informasi itu dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, dalam hal ini terjadi belajar bermakna. Dengan pembelajaran metode KUASAI, pada diri siswa terjadi belajar bermakna, ketika siswa berdiskusi dengan temannya mengerjakan soal-soal/pertanyaan yang mengarah pada konsep materi.

Model pembelajaran kuasai dikemukakan oleh Colin Rose yang menyatakan melalui pembelajaran dengan model kuasai siswa diharapkan dapat menyelesaikan suatu permasalahan dengan metode sesuai dengan daya nalar mereka yang tidak hanya terpancang apa yang disampaikan peneliti.
Model pembelajaran kuasai  merupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Colin Rose dengan cara mengadaptasi dan mensistensis hasil penelitian dari Dr Howard Gorden tentang multiple intelligenses.
Kuasai  sendiri merupakan akronim dari enam tahapan pembelajaran yang efektif yang terdiri dari :
  1. Kerangka pikiran untuk sukses,
  2. Uraikan faktanya,
  3. Apa maknanya
  4. Sentakkan ingatan
  5. Ajukan yang anda ketahui,
  6. Introspeksi.
Seperti yang disampaikan oleh Rose (2003: 23) bahwa pembelajaran efektif melibatkan enam tahap. Enam tahap ini disimpulkan dari akronim KUASAI. Tahap pertama adalah Kerangka Pikiran untuk Sukses. Tahap kedua adalah Uraikan Faktanya. Tahap ketiga adalah Apa Maknanya. Tahap keempat adalah Sentakkan Ingatan. Tahap kelima adalah Ajukan Pertanyaan Yang Anda Ketahui. Tahap yang terakhir atau yang keenam adalah Intropeksi. Pelaksanaan pembelajaran model KUASAI membutuhkan partsipasi dan kerjasama dalam kelompok dengan pembagian tugas peran pada setiap anggota kelompoknya.
Dalam kegiatan pembelajaran siklus I, terlihat jelas komponen utama pembelajaran dengan metode KUASAI kurang terlaksana. Komponen inkuiri, yang mana siswa dihadapkan pada persoalan matematika dan siswa mencari solusinya, masih kurang tampak pada pengerjaan soal-soal dengan diskusi kelompok, di sini siswa masih belum termotivasi dalam mencari jawaban dan rasa tanggung jawab untuk mempertahankan pendapatnya masih kurang. Hal ini diakibatkan karena guru dan siswa belum terbiasa menggunakan model pembelajaran ini. Hasil prestasi belajar dan keaktivan siswa pada siklus I masih perlu ditingkatkan pada siklus II.
Pada siklus II, berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan skor hasil prestasi belajar dan kektifan siswa termasuk pada kategori tinggi. Sehingga pada siklus ini tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya karena baik ketuntasan dan keaktifan siswa cukup tinggi. Ini dikarenakan komponen inkuiri telah terlaksana yang mana siswa dihadapkan pada persoalan dan siswa mencari solusinya, tampak pada pengerjaan soal-soal dengan diskusi kelompok. Di sini sebagian besar siswa telah termotivasi dalam mencari jawaban karena merasa bertanggung jawab untuk mempertahankan pendapatnya.
Keaktifan siswa meningkat dikarenakan mereka lebih menyukai pembelajaran dengan model ini dari pada biasanya, yang diketahui dari wawancara siswa. Pada pembelajaran dengan metode KUASAI juga mempunyai kelebihan yang diindikasikan adanya peningkatan hasil prestasi belajar dan peningkatan kualitas kerjasama, adapun kelebihan-kelebihannya antara lain: (1) Adanya persaingan antar kelompok untuk menjadi yang terbaik, (2) Dapat terjadi komunikasi yang lebih efektif dan pertukaran informasi di antara siswa, (3) Saling membantu tercapainya hasil yang lebih baik, (4) Dapat berbagi pengetahuan di antara siswa (5) Ada perasaan terlibat yang lebih besar, (6) Berkurangnya rasa takut akan gagal dan berkembangnya sikap saling mempercayai di antara siswa, (7) Siswa memiliki kecakapan menggali dan menemukan informasi, mengolah informasi, dan mengambil keputusan serta kecakapan memecahkan masalah, (8) Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi hubungan antar pribadi yang saling menghargai agar siswa memiliki kecakapan sosial termasuk kecakapan berkomunikasi dan kerjasama
Pada saat pembelajaran dengan metode KUASAI berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerjasama antar anggota kelompok. Dari pembahasan di atas bisa diketahui bahwa walaupun banyak kekurangan-kekurangan pada pembelajaran dengan metode KUASAI tetapi model pembelajaran ini bisa diterapkan pada kegiatan belajar mengajar di sekolah dalam meningkatkan hasil prestasi belajar dan keaktifan kerjasama siswa.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Penerapan Metode KUASAI dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, baik kualitas proses maupun kualitas hasil, kualitas proses dapat diliihat dari peningkatan keaktifan siswa dari Pra Tindakan, siklus I dan siklus II. Begitu juga peningkatan hasil belajar dari Pra Tindakan hingga siklus ke II (dua), yang sangat signifikan. Peningkatan hasil belajar dari Pra Tindakan yang tuntas baru 55% , siklus pertama 82% siklus ke II (dua), yang tuntas mencapai 91 %.

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan hasil belajar siswa, maka penulis memberi saran sebagai berikut :
  1. Bagi Pengajar sebaiknya menggunakan metode KUASAI sebagai media pembelajaran dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. 2
  2. Bagi lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat merupakan bahan masukan yang berguna dan juga sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam rangka peningkatan kegiatan belajar mengajar dimasa mendatang

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, S. 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Dimyati & Mulyono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Nurkancana & Sunartama. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya : Usaha Nasional.
Rose, Colin and Nicholl, Malcolm J. 1998. Accelerated Learning For The 21st Century: The Six-Step Plan To Unlock Your Master-Mind. New York: Dell Trade Paperback.
Rose, Colin. 2003. KUASAI Lebih cepat: Buku Pintar Accelerated Learning. Bandung: Kaifa.
Saripudin, U. 1996. Model-model Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi, D. K. 1995. Proses Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : Rineka Cipta.
Sukidin. 2002. Menejemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : Insan Cendekia.
Suryosubroto. 1990. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Syafriani, D. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Tim Pelatihan Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Rineka Cipta.