Senin, 23 April 2018

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU HADIS TENTANG AL-JARH WA AT-TA’DIL MELALUI METODE ROLE PLAYING PADA SISWA KELAS XI AGAMA MAN 4 JAKARTA

Abdul Jalil
rubiyanahjalil@gmail.com

Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan metode Role Playing
dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Ilmu Hadis tentang Al-JarhWa At-ta’dil
bagi siswa kelas XI Agama MAN 4 Jakarta. Pada studi awal motivasi siswa masih sangat
rendah sehingga memperoleh hasil belajar yang rendah pula, setelah dilakukan Penelitian
Tindakan Kelas, pada prasiklus siswa yang tuntas KKM hanya 50,0% dan siswa yang
melampaui KKM mencapai 50,0%, dan pada siklus 1 siswa yang tuntas KKM mencapai
76,7% dan yang belum mencapai KKM sekitar 23,3%. Sedangkan pada siklus 2 Hasil
belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan daripada pra siklus dan siklus 1
yakni, siswa yang tuntas KKM mencapai 90,0%, sedangkan yang belum tuntas tersisa 10%
dari 30orang siswa di kelas kelas XI Agama MAN 4 Jakarta.Peningkatan hasil belajar
siswa ini seiring dengankeaktifan di dalam proses pembelajarannya yang juga selalu
mengalami proses peningkatan disetiap siklusnya. Berdasarkan hasil yang diperoleh
dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Role Playing dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran pada pelajaran Ilmu Hadis tentang
Al-JarhWa At-ta’dil pada siswa kelas kelas XI Agama MAN 4 Jakarta.
Kata kunci : Hasil Belajar, Ilmu Hadis , Al-Jarh Wa At-ta’dil, Role Playing

PENDAHULUAN

Sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan. Perubahan itu
terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam dunia pendidikan.
Akibatnya pendidikan nasional semakin mengalami kemajuan, pendidikan di madrasah-
madrasah juga telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu
terjadi karena terdorong adanya pembaharuan tersebut.
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan
pembangunan di segala bidang. Hingga kini pendidikan masih diyakini sebagai wadah
dalam pembentukan sumber daya manusia yang diinginkan. Melihat begitu pentingnya
pendidikan dalam pembentukan sumber daya manusia, maka peningkatan mutu pendidikan
merupakan hal yang wajib dilakukan secara berkesinambungan guna menjawab perubahan
zaman.

Lebih lanjut dalam pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan
nasional adalah:
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi pesert didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.
______________________________________________________________
Drs. H. Abdul Jalil, M.AAdalah Guru MAN 4 Jakarta.
74Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Hadis,. ..( Abdul Jalil )

Agar tujuan dari pendidikan nasional dapat tercapai, telah banyak upaya-upaya
yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu seperti peningkatan kualitas guru, pembaharuan
kurikulum, pengadaan buku-buku pelajaran serta usaha-usaha lain yang berkaitan dengan
kualitas pendidikan.

Proses pembelajaran merupakan bagian terpenting dari kegiatan pendidikan. Pembelajaran
dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek
didik/pembelajar yang direncanakan atau di desain, dilaksanakan dan di evaluasi secara
sistematis agar subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara
efektif dan efisien.

Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar dan mengajar merupakan
kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan
pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan
dijalankan secara profesional. Setiap kegiatan belajar mengajar selalu melibatkan dua
pelaku aktif, yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pengajar merupakan pencipta kondisi
belajar siswa yang di desain secara sengaja, sistematis dan berkesinambungan. Sedangkan
anak sebagai subyek pembelajaran merupakan pihak yang menikmati kondisi belajar yang
diciptakan guru (Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, 2009).

Tugas guru dalam pembelajaran tidak hanya sebatas menyampaikan informasi,
akan tetapi seorang guru juga harus memahami bakat, minat, kemampuan dan potensi-
potensi yang dimiliki oleh peserta didik agar guru dapat membantu peserta didik apabila
mereka mengalami kesulitan dalam belajar. Akan tetapi dalam praktiknya saat ini, guru
hanya sebatas menyampaikan materi dan uji kompetensi yang harus dicapai oleh peserta
didik tanpa memperhatikan tingkat pemahaman dari peserta didik itu sendiri.
Ilmu Hadis adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek
yang berhubungan dengan manusia. Berbeda dengan ilmu sosial secara umun, Ilmu Hadis
tidak memusatkan diri pada satu topik secara mendalam melainkan memberikan tinjauan
yang luas terhadap masyarakat.

Ilmu Hadis merupakan ilmu yang berangkat dari fenomena keseharian, dan tidak bisa
dilepaskan dari dinamika perkembangan masyarakat yang senantiasa berubah. Karenanya
pembelajaran Ilmu Hadis bagi anak menjadi keniscayaan untuk selalu dihubungkan dengan
konteksnya, sehingga apa yang diperoleh anak tidak hanya berada dalam wilayah kognisi,
melainkan sampai kepada tatanan dunia nyata yang ia jalani sehari-hari.
Untuk dapat menyampaikan materi pembelajaran yang menarik seorang guru harus
mampu memilih pendekatan dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan
tujuan pembelajaran yang ingin di capai. Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan
guru untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Metode pembelajaran dapat diartikan
sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa
pada saat berlangsungnya pengajaran (Hamdani, 2011: 80) .

Bila Ilmu Hadis merupakan ilmu yang berangkat dari fenomena keseharian, maka
pembelajaran akan terasa lebih bermakna apabila peserta didik mengalami sendiri apa yang
dipelajarinya, tidak hanya sekedar mengetahuinya. Agar pembelajaran Ilmu Hadis dapat
dirasakan lebih bermakna, maka perlu dipilihkan metode yang tepat supaya peserta didik
dapat aktif saat pembelajaran berlangsung . Salah satu metode yang dapat diterapkan yaitu
metode Role Playing (bermain peran).

Metode Role Playing adalah cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui
pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan
penghayatan siswa dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau
benda mati. Metode Role Playing merupakan suatu cara mengajar dengan jalan
mendramatisasikan.Bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial. Dramatisasi dilakukan
75Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
oleh kelompok siswa dengan mekanisme pelaksanaan yang diarahkan oleh guru untuk
melaksanakan kegiatan yang telah di tentukan/direncanakan sebelumnya
Kelebihan dari metode Role Playing yaitu dalam penerapannya metode ini melibatkan
seluruh siswa dimana siswa dapat berpartisipasi dan mempunyai kesempatan untuk
memajukan kemampuannya dalam bekerja sama (Komalasari, 2013) .
Metode pembelajaran merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan
situasi pengajaran yang menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan
tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan. Pemilihan metode berkaitan langsung
dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan
kondisi sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal. Oleh karena itu,
salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami
kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan kegiatan belajar
mengajar yang sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam keseluruhan
komponen pendidikan.

Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar, diharapkan makin
efektif pula pencapaian tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu, fungsi-fungsi metode
mengajar tidak dapat diabaikan, karena metode mengajar tersebut turut menentukan
berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dan merupakan bagian yang integral dalam
suatu sistem pengajaran.

Bermain peran terdiri dari dua kata, yaitu bermain dan peran. Bermain adalah
sebuah aktivitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa mencari kemenangan,
dalam hal ini disebut playing. Bermain juga dapat di artikan sebagai sebuah aktivitas
bermain yang di lakukan dalam rangka mencari kesenangan dan kepuasan, namun ditandai
dengan adanya kemenangan dan kekalahan, dalam hal ini disebut dengan game. Sedangkan
peran atau Role adalah cara seseorang berperilaku dalam posisi dan situasi tertentu (Rinoto
Rin, 2015).

Role Playing adalah suatu metode mengajar yang merupakan tindakan yang
dilakukan secara sadar oleh sekelompok siswa dalam memperagakan secara singkat
tentang materi pembelajaran dengan memerankan tokoh. Metode role playing (bermain
peran) adalah metode yang melibatkan interaksi antara dua peserta didik atau lebih tentang
suatu topik atau situasi. Peserta didik melakukan peran masing-masing sesuai dengan
tokoh yang ia lakoni. Mereka berinteraksi sesama mereka melakukan peran terbuka.
Metode Role Playing adalah cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui
pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan
penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda
mati.
Dalam proses pembelajarannya, metode role playing mengutamakan pola
permainan dalam bentuk dramatisasi. Dramatisasi dilakukan oleh kelompok siswa dengan
mekanisme pelaksanaan yang diarahkan oleh guru untuk melaksanakan kegiatan yang telah
di tentukan/direncanakan sebelumnya. Role playing lebih menitik beratkan pada tujuan
untuk mengingat atau menciptakan kembali gambaran masa silam yang memungkinkan
terjadi pada masa yang akan datang atau peristiwa yang aktual dan bermakna bagi
kehidupan sekarang.

Role Playing berfungsi untuk (1) Mengeksplorasi perasaan siswa, (2) mentransfer
dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku, nilai, dan persepsi siswa, (3)
mengembangkan skill pemecahan masalah dan tingkah laku, dan (4) mengeksplorasi
materi pelajaran dengan cara yang berbeda.
Metode role playing melibatkan seluruh siswa dimana siswa dapat berpartisipasi
dan mempunyai kesempatan untuk memajukankemampuannya dalam bekerja sama. Selain
itu kelebihan dari metode role playing diantaranya adalah: Siswa bebas mengambil
76Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Hadis,. ..( Abdul Jalil )
keputusan dan berekspresi secara utuh, Permainan merupakan penemuan yang mudah dan
dapat digunakan dalam jangka waktu dan situasi yang berbeda, Guru dapat mengevaluasi
pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan, Permainan
merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

Ilmu hadist adalah ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui
kedudukan sanad dan matan hadits, apakah diterima atau di tolak. Ilmu Hadis memiliki
beberapa karakteristik sebagai berikut:Hadis Shahih adalah hadis yang bersambung
sanadnya diriwayatkan oleh orang yang adil lagi kuat daya ingatnya yang semisalnya
hingga puncak akhirnya, terhindar dari syadz dan cacat. Ilmu Hadis Hasan adalah hadis
yang sanadnya baik yang diriwayatkan melalui sanadnya yang didalamnya tidak terdapat
rawi yang dicurigai berdusta, matan hadisnya tidak tunggal
Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti
proses belajar mengajar. Tujuan pendidikan bersifat ideal, sedang hasil belajar bersifat
actual. Hasil belajar merupakan realisasi tercapainya tujuan pendidikan, sehingga hasil
belajar yang diukur sangat tergantung kepada tujuan pendidikannya.
Kerangka pemikiran dari penelitian ini adalah metode pembelajaran yang sering
digunakan oleh guru menemui permasalahan, terutama pada mata pelajaran Ilmu Hadis
kelas XI Agama MAN 4 Jakarta. Masalah yang dihadapi yaitu siswa dirasa jenuh saat
pembelajaran berlangsung dan hasil belajarnya di bawah KKM. Hal ini membuat peneliti
berinisiatif untuk menggunakan metode role playing dalam pembelajaran Ilmu Hadis pokok
bahasan Al-Jarh Wa At-ta’dil . Dengan penerapan metode role playing ini diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Hadis, Sehingga apa yang menjadi
tujuan adanya pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal.

Rumusan masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan Metode Role Playing pada mata pelajaran Hadis-Ilmu Hadis
tentang Al-Jahr Wa At-ta’dil bagi siswa kelas XI Agama MAN 4 JakartaTahun Ajaran
2016-2017?
2. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa melalui Metode Role Playing pada mata
pelajaran Hadis-Ilmu Hadis tentang Al-Jarh Wa At-ta’dil bagi siswa kelas XI Agama
MAN 4 JakartaTahun Ajaran 2016-2017?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menjelaskan penerapan Metode Role Playing pada mata pelajaran Hadis-Ilmu
Hadis tentang Al-Jahr Wa At-ta’dil bagi siswa kelas XI Agama MAN 4 JakartaTahun
Ajaran 2016-2017.
2. Untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui Metode Role Playing
pada mata pelajaran Hadis-Ilmu Hadis tentang Al-Jarh Wa At-ta’dil bagi siswa kelas XI
Agama MAN 4 JakartaTahun Ajaran 2016-2017.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang pendidikan,
khususnya tentang penerapan Metode Role Playing dalam pembelajaran Hadis-Ilmu
HadisSecara praktis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan kebijakan oleh
Kepala Madrasah dalam proses belajar mengajar. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat
dijadikan pertimbangan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan
77Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
meningkatkan efektivitas pembelajaran di dalam kelas, dan siswa diharapkan dapat
meningkatkan prestasi belajarnya dalam pembelajaran Ilmu Hadis.
Untuk menghindari kesalah pahaman dan perluasan masalah dalam pembahasan
laporan penelitian ini, maka peneliti memfokuskan masalah ini pada penerapan Metode
Role Playing untuk meningkatkan hasil belajar. Ilmu Hadis untuk siswa kelas XI Agama
MAN 4 Jakarta tentang Al-Jarh Wa At-Ta’dilI.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI Agama MAN 4 Jakarta. Subyek penelitian
ini adalah seluruh siswa kelas XI Agama MAN 4 Jakarta . Penelitian ini dilaksanakan
dalam waktu 2 bulan. Mulai dari bulan Februari sampai bulan Maret 2017.
Berikut ini gambar siklus pelaksanaan PTK menurut John Elliot.
Gambar : Siklus Pelaksanaan PTK model John Elliot
Tahapan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : tahap perencanaan
(rencana tindakan), tahap implementasi (pelaksanaan tindakan), tahap observasi, tahap
evaluasi dan refleksi yang diikuti dengan perencanaan ulang.
Metode Pengumpulan Data
Dalam metode pengumpulan data disetiap penelitian tidak dapat diabaikan begitu
saja, sebab kegiatan pengumpulan data dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-
keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi,
wawancara dan telaah dokumen. Data yang dikumpulkan adalah melalui catatan observasi
selama proses belajar berlangsung dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian
hingga sampai dengan siklus 2.
Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dan
permunculan ketrampilan kooperatif siswa, sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur
peningkatan mutu belajar siswa.
Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap
keberhasilan dan pencapaian tujuan. Lebih rinci akan penulis jelaskan sebagai berikut:
78Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Hadis,. ..( Abdul Jalil )
a. Metode Angket
Metode angket adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengajukan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi
dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal lain yang diketahuinya
(Suharsimi Arikunto, 1983 : 107). Dapat disimpulkan angket adalah suatu daftar
pertanyaan yang disusun secara teratur menjadi sebuah pertanyaan tertulis untuk
memperoleh informasi dari orang yang dikenai angket tersebut. Dalam aplikasinya angket
atau kuisioner dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut :
 Menyusun beberapa pertanyaan tentang variable yang diteliti
 Menyampaikan daftar pertanyaan kepada responden
 Mengumpulkan kembali daftar pertanyaan yang telah dijawab oleh responden,
sehingga diperoleh data.
 Memeriksa jawaban yang telah dikumpulkan dengan tujuan jika ada jawaban yang
kurang jelas dapat dikoreksi melalui wawancara kepada responden yang
bersangkutan
b. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan jalan mencatat
secara sistematika dan fenomena yang diselidiki (Arifin: 1991 :49). Observasi
dilaksanakan adalah untuk mengetahui tentang kedaan sekolah, kegiatan belajar mengajar
serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Selain itu juga ada aspek afektif yang
meliputi minat dan rasa ingin tahu siswa, perhatian siswa, kedisiplinan siswa, kerjasama,
tanggung jawab, dan rasa tenggang rasa siswa. Sedangkan aspek psikomotorik meliputi
ketrampilan mengerjakan tugas, ketrampilan berdiskusi, mempresentasikan materi,
menyimpulkan materi dan berbicara.
c. Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan mencari data mengenai hal-hal yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002 :
206). Adapun sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
1) Nama responden penelitian
2) Daftar nilai ujian
d. Wawancara
Menurut Arikunto, wawancara adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara
terhadap terwawancara. Hal ini juga didukung oleh Arifin (1991 : 54). Wawancara
langsung adalah wawancara langsung dengan orang yang diwawancarai tanpa perantara.
Dan wawancara tidak langsung adalah wawancara dengan orang yang diwawancarai
melalui perantara atau tidak bertemu langsung.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan
siswa untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mengikuti pembelajaran .
Metode Analisis Data
Analisis data merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian.
Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam penelitian perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran matematika
penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama dengan media gambar
mulai kegiatan prasiklus, siklus 1, sampai siklus 2 dapat kita lihat hasil belajarnya peserta
didik pada kegiatan pelaksanaan sebagai berikut:
79Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Prasiklus
Dari hasil belajar diatas bahwa dari 30 orang peserta didik dalam kegiatan prasiklus
ternyata terdapat 15 orang peserta didik yang masih kurang dari KKM yang diharapkan,
sedangkan 15 orang peserta didik lainnya sudah tuntas.
Dari data diatas disimpulkan bahwa peserta didik kelas XI Agama yang berjumlah 30
orang pada kegiatan perbaikan pembelajaran prasiklus sebanyak 15 orang atau sekitar 50%
peserta didik kurang dari KKM dengan nilai tertinggi pada prasiklus tersebut adalah 100
dan nilai terendahnya 40, sehingga perlu dilakukan perbaikan kembali pada siklus 1
Siklus 1
Setelah dilakukan perbaikan pada siklus 1 diharapkan ada perubahan yang
meningkat pada hasil belajar matematika peserta didik.
Hasil belajar di siklus 1 dapat kita lihat terjadi peningkatan dibanding hasil belajar di
prasiklus dari 30 orang siswa yang masih kurang dari KKM sebanyak 7 orang siswa
dengan hasil tertinggi nilainya adalah 100 dan terendah 40 selain dari itu dapat kita lihat
dari data statistik pada tabel dibawah ini
Dari 30 orang siswa sekitar 23,3 % nya atau sebanyak 7 orang siswa masih kurang
memahami materi yang dibahas dan masih perlu ada perbaikan pembelajaran kembali pada
siklus 2 dan dapat kita lihat di gambar histogram dibawah ini. Sehingga diharapkan pada
siklus 2 akan terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan
pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama tersebut.
Siklus 2
Data nilai di siklus 2 ternyata peserta didik mengalami peningkatan hasil
belajarnya.
Dengan melihat hasil belajar pada tabel 4.5 diatas pada siklus 2 terjadi peningkatan yang
cukup baik, ternyata dari 30 orang siswa setelah melakukan perbaikan dari siklus-siklus
sebelumnya pada siklus 2 ini tinggal 3 orang siswa yang belum memahami dengan jelas
materi dengan perolehan nilai tertinggi 100 dan nilai terendahnya 50. Maka dari itu target
yang diperkirakan 90% nya sudah tercapai, dan apabila ingin mencapai 100 % hasilnya
perlu dilakukan perbaikan pada siklus selanjutnya
Jika dilihat dari hasil data statistik diatas tabel 4.6 dari 30 orang siswa sudah 90%
nya berhasil mencapai KKM bahkan melampaui dan hanya tinggal 10 % saja atau sekitar 3
orang siswa yang masih kurang dari KKM dan perlu diremedial dan untuk perbaikan
berikutnya supaya mencapai 100% dari seluruh peserta didik mencapai KKM maka dapat
dilakukan lanjutan perbaiakn pada siklus berikutnya. Dan gambaran diagramnya bisa kita
lihat pada gambar histogram dibawah ini
Pembahasan Hasil penelitian Perbaikan pembelajaran
Dari ketiga data hasil belajar dapat kita bandingkan nilainya mulai dari hasil belajar
yang diperoleh pada prasiklus, siklus 1, dan siklus 2 sehingga terlihat perubahan yang
terjadi apakan setiap dilakukan perbaikan pembelajaran ada peningkatan yang terjadi pada
hasil belajarnya atau tidak sehingga kita bisa melihat perlu tidaknya dilakukan perbaikan
pembelajaran disetiap mata pelajaran yang dirasakan oleh peneliti atas kekurangan dan
kelemahan apakah penyebab permasalahan yang terjadi pada gurunya, materi belajar atau
pada siswanya sehingga sedini mungkin bisa dapat dilakukan perbaikan atau perubahan
metode agar hasil belajarnya dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Dengan melihat data tersebut maka kita dapat menyimpulkan terdapat perubahan
nilai hasil belajar dari tiap siswa persiklusnya mulai dari kegiatan prasiklus sampai
dilakukan perbaikan pembelajaran di siklus 1 dan kegiatan perbaikan pembelajaran pada
siklus 2 siswa yang belum dapat memahami pembelajaran atau belum mencapai KKM,
80Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Hadis,. ..( Abdul Jalil )
setelah dilakukan perbaikan di siklus 1 ternyata ada perbaikan yang cukup meningkat yang
tadinya 15 orang siswa atau setengah nya dari jumlah siswa 30 orang menjadi sebanyak 7
orang siswa yang masih belum mencapai KKM dan setelah dikakukan uji siklus yang ke 2
terjadi peningkatan yang cukup baik terhadap pemahaman materi pembelajaran menjadi 3
orang siswa yang belum memahami materi penjumlahan dan pengurangan pecahan
berpenyebut tidak sama dengan media gambar. Dan untuk lebih jelasnya bisa kita lihat
pada data statistik dibawah ini dimana terlihat berapa prosentase ketuntasan dan ketidak
tuntasan yang diperoleh setelah dilakukan kegiatan perbaikan pada siklus 2 ini sebagai
pembanding apakah perlu dilakukan perbaikan kembali pada siklus berikutnya supaya nilai
ketuntasan dapat diperoleh oleh seluruh peserta didik
Dengan melihat perbandingan dari data statistik ketiga siklus tersebut maka kita
dapat menyimpulkan dari hasil prasiklus masih terdapat 50% siswa yang belum dapat
memahami pembelajaran atau sekitar 15 orang siswa belum mencapai KKM, setelah
dilakukan perbaikan di siklus 1 ternyata ada perbaikan yang cukup meningkat menjadi
sekitar 23,3% siswa lagi atau sebanyak 7 orang siswa yang masih belum mencapai KKM
dan setelah dikakukan uji siklus yang ke 2 terjadi peningkatan yang cukup baik terhadap
pemahaman materi pembelajaran menjadi 10% lagi siswa atau sekitar 3 orang siswa yang
belum memahami materi yang dibahas sehingga dapat kita artikan bahwa perbaikan
pembelajaran di siklus 2 berhasil meningkatkan hasil belajar siswa mengenai penjumlahan
dan pengurangan pecahan berpenyebut tidak sama dengan media gambar.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
Penerapan metode role playing kelas XI Agama MAN 4 Jakarta sebagai berikut:
Kegiatan awal: guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam, do’a dan absebsi,
menyampaikan tujuan, memotivasi siswa, serta apersepsi terkait materi yang akan
disampaikan.
Kegiatan inti: guru menjelaskan materi tentang Al-JarhWa At-ta’dil. Guru juga
menunjukkan beberapa gambar ilmu hadis secara dasar. Kemudian guru meminta siswa
untuk menyebutkan Al-JarhWa At-ta’dil menurut definisi. Selanjutnya guru membagikan
teks skenario dan menjelaskan setiap karakter pemain yang ada dalam cerita. Dan siswa
diminta untuk bermain peran. Selesai bermain peran guru membagikan soal kepada
masing-masing siswa untuk mengukur kepahaman siswa terhadap materi yang telah di
pelajari menggunakan metode role playing.
Kegiatan penutup: guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan merefleksi
terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dipelajari, kemudian guru menutup
pembelajaran dengan membaca hamdalah bersama dan mengucapkan salam.
Dari hasil wawancara yang telah peneliti lakukan, dapat disimpulkan bahwa siswa merasa
senang mengikuti pembelajaran dengan metode role playing
Penerapan metode role playing dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI
Agama MAN 4 Jakarta pada Al-JarhWa At-ta’dil. Dalam penelitian terbukti bahwa
keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran telah meningkat. Hal ini dapat
dilihat dari hasil pengamatan aktivitas siswa ada peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu
dari 74% meningkat menjadi 88% dengan kategori sangat baik. Untuk hasil tes juga
mengalami peningkatan pada tes akhir siklus I nilai rata-rata siswa 76,2 dan pada tes akhir
siklus II nilai rata-ratanya 89,7. Demikian juga mengalami peningkatan pada ketuntasan
yaitu pada siklus I 68,75% meningkat menjadi 93,75% pada siklus II.
81Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
SARAN
Dalam rangka kemajuan dan keberhasilan proses pembelajaran dalam rangka
meningkatkan mutu pembelajaran, maka dari pengalaman selama melakukan penelitian di
kelas XI MAN 4 Jakarta, peneliti dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut :
Bagi Kepala Sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan atau sumbangan
pemikiran untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. MAN 4 Jakarta diharapkan
menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap guna mendukung aktivitas pembelajaran.
Bagi guru, hendaknya selalu meningkatkan keilmuan tentang metode atau model
yang berhubungan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Selain itu siswa juga akan
lebih bersemangat jika menjalani sistem pembelajaran yang bervariasi dan kerja sama yang
erat dengan sesama guru dilingkungan kerja mereka.
Bagi siswa, demi nama baik sekolah, orang tua, dan terutama dari masa depan diri
sendiri yang gemilang, hendaknya siswa belajar dengan lebih giat dan aktif dalam proses
pembelajaran serta tidak menggantungkan segala sesuatunya pada temannya sehingga hasil
belajarnya terus meningkat dan mendapatkan nilai bagus demi menyongsong masa depan
yang gemilang.

DAFTAR RUJUKAN

Kokom komalasari, 2010, Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi, (Bandung:
PT Rafika Aditama,
Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, 2009, Strategi Belajar Mengajar Melalui
Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama,)
Hamdani, 2011, Strategi Belajar Menjagar, Bandung: Pustaka Setia.
Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno,2009 , Strategi Belajar Mengajar Melalui
Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama.
Isriani Hardini dan Dewi Puspitasari, Strategi Pembelajaran Terpadu: Teori, Konsep &
Implementasi, Yogyakarta: Familia.
Rinoto Rin, 2015. “Pengertian Metode Bermain Peran dalam Pembelajaran” dalam
http://modelpembelajaransd.blogspot.nl diakses 09 Mei 2015
Martinis Yamin,2013. Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran, Jakarta: GP
Press Group, 2013.
Nurhayani, 2015. “Metode Role Playing” dalam http://nurhay13.blogspot.com diakses 11
Mei 2015
Intang, 2015, 2011. “Metode Pembelajaran Role Playing (Bermain Peran)” dalam
http://pendidikanuntukindonesiaku.blogspot.com diakses 11 Mei 2015
Etin Solihatin, Cooperative Learning: Analisis Model Pembelajaran IPS, (Jakarta: Bumi
Aksara.
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).
Agus Suprijono, 2011, Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Muhammad Thobroni & Arif Mustofa,2013, Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan
Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional,
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
82