Senin, 23 April 2018

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA TENTANG KESEIMBANGAN BENDA TEGAR MELALUI METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW PADA SISWA KELAS XI IPA 4 MAN 4 JAKARTA

Eneng Hernawati
hernawatieneng@yahoo.com

Abstrak : Pembelajaran Fisika di Kelas XI IPA 4 MAN 4 Jakarta, mayoritas siswa
yang pasif sehingga prestasi belajar tidak memenuhi standar kompetensi dengan
demikian diadakan penelitian yang dilakukan sebanyak 3 siklus, yang di dalamya
mencakup perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi dan pengumpulan data
melalui observasi. Siswa yang mendapat nilai rendah ada 13 orang atau (10%)
siswa yang mendapat nilai sedang ada 29 orang atau (72,5%) dan siswa yang
mendapat nilai baik ada 1 orang atau (1%).
Dari komponen siswa yang
bekerjasama dalam kelompok mengalami kenaikan 90 % dan siswa yang bertanya
naik 75 %, siswa yang memberikan pendapat naik 70 % dan siswa yang
berpartisipasi dalam kelompok naik 75 %. Dansiswa yang mengobrol turun 5
%.Perbandingan siklus I dengan siklus III yang mengalami kenaikkan cukup besar
adalah siswa yang memberikan pendapatnya dalam belajar kelompok.Artinya,
dengan kerja kelompok para siswa mulai aktif dalam belajar dan menurunkan siswa
yang mengobrol pada saat belajar. Sedangkan aspek yang sedikit kenaikan pointnya
adalah dalam bertanya kepada guru. Setelah dilakukan perbaikan hasil penelitian
dengan Metode Cooperative Learning Tipe Jigsawmenunjukkan hasil yang baik
karena mengalami peningkatan yaitu Siklus 1 5,7%, Siklus 2 7,2%, setelah
dilakukan siklus 3 menjadi 7,76%.
Kata kunci :Metode Cooperative Learning Tipe Jigsaw, Fisika

PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu yang pesat di era modern sekarang ini membawa pengaruh
terhadap perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Hal ini tanpa disadari
menuntut wawasan anggota masyarakat yang luas serta peningkatan taraf berfikir agar
terwujud proses demokrasi masyarakat makin lancar dan para individunya menjadi
semakin kritis.
Konsep-konsep Fisika adalah konsep-konsep dasar yang sangat diperlukan agar
orang dapat menyelesaikan masalah elementer yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-
hari. Selain itu, penguasaan konsep-konsep fisika sangat penting untuk dapat memahami
Fisika dan ilmu-ilmu lain yang semakin kompleks yang akan di pelajari di jenjang yang
lebih tinggi.

Conny R. Semiawan (2002) menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran di
Sekolah Dasar saat ini bertujuan mengembangkan kemampuan dasar siswa berupa
kemampuan akademik, keterampilan hidup, pengembangan moral, pembentukan karakter
yang kuat, kemampuan untuk bekerja sama dan pengembangan estetika terhadap dunia
sekitar. Secara lebih khusus kemampuan yang dikembangkan pada siswa dijenjang
pendidikan dasar adalah logika, etika, estetika dan kinestika .
____________________________________________________________________
Eneng Hernawati, M.Pd Adalah Guru MAN 04 Jakarta
130Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Tentang Keseimbangan Benda Tegar,...( Eneng Hernawati)
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003
menyatakan pembelajaraan adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai proses yang di bangun
oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan
berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru
sebagi upaya peningkatan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran
Teori belajar yang dianut guru akan memberikan warna terhadap implementasi
proses belajar, karena berpengaruh terhadap bahan yang dipelajari, proses yang dilakukan
dan hasil yang diinginkan. Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh pendekatan dan
strategi belajar yang digunakan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang
dituntut dalam kurikulum saat ini dipandang sebagai proses pembelajaran yang dapat
mengptimalkan seluruh aktivitas siswa berdasarkan potensi yang dimilikinya.

Penulis menyadari dengan ketidakakuratan dalam mempersiapkan proses
pembelajaran dan tidak menggunakan alat peraga sehingga pada saat menyampaikan
materi pelajaran di kelas XI IPA 4 MAN 4 Jakarta, ternyata sebagian besar siswa kesulitan
dalam memahami pelajaran, hal tersebut ditunjukkan dengan rendahnya hasil belajar yang
diperoleh siswa atau masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), maka perlu
upaya peningkatan kemampuan melalui upaya – upaya yang dapat dilakukan oleh guru.
Upaya peningkatan kemampuan siswa terhadap pokok bahasan pecahan bilangan
bulat antara lain menggunakan metode Cooperative Learning Tipe Jigsaw. Penggunaan
metode Cooperative Learning Tipe Jigsaw dalam proses pembelajaran diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep Fisika yang
dipelajarinya dengan mudah. Metode Cooperative Learning Tipe Jigsaw akan merangsang
minat siswa sekaligus mempercepat proses pemahaman siswa ketika mendapat hal-hal
yang sulit dimengerti anak. Dengan menggunakan metode Cooperative Learning Tipe
Jigsaw juga dapat menghilangkan rasa kejenuhan terhadap peserta didik.
Model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsawmerupakan salah satu
model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran
Cooperative Learning Tipe Jigsawdapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar
kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok
(Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab
individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.

Falsafah
yang
mendasari
pembelajaran
Cooperative
Learning
Tipe
Jigsaw(pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius”
yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.Cooperative Learning Tipe
Jigsawadalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku
bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang
teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan
faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah
siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam
menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja
sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran
kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum
menguasai bahan pelajaran.

Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning Tipe Jigsaw”, bahwa
model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsawtidak sama dengan sekadar belajar
kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian
kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak
131Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning Tipe Jigsaw, untuk itu harus
diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu :

1. Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya.
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas
sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya
sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

2. Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran
Cooperative Learning Tipe Jigsaw, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk
melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran
Cooperative Learning Tipe Jigsawmembuat persiapan dan menyusun tugas
sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan
tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.

3.Tatap muka.
Dalam pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsawsetiap kelompok harus
diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan
memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua
anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan,
dan mengisi kekurangan.

4. Komunikasi antar anggota.
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai
keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung
pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka
untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok
juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat
bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan
perkembangan mental dan emosional para siswa.

5. Evaluasi proses kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya
bisa bekerja sama dengan lebih efektif.Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut
model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah
sebagaimana terlihat pada table berikut ini
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang
menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada
kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah
menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh
keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-
tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000),
yaitu:

1. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga
memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa
ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami
konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model
struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar
akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di
samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran
132Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Tentang Keseimbangan Benda Tegar,...( Eneng Hernawati)
kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun
kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

2. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas
dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan,
dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa
dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung
pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan
belajar saling menghargai satu sama lain.

3. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada
siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial,
penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam
keterampilan sosial.
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson
dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan
teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).
Teknik mengajar Tipe Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai
metode Cooperative Learning Tipe Jigsaw. Teknik ini dapat digunakan dalam
pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.Dalam teknik ini,
guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu
siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.
Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong
dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan
keterampilan berkomunikasi.

Pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw adalah suatu Tipe pembelajaran
kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang
bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan
materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997).
Model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw merupakan model
pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri
dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang
positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus
dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain
(Arends, 1997).

Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap
pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya
mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan
mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan
demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama
secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A., 1994).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu
untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran
yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim /
kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa
yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.

Pada model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal
dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang
beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang
beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli
133Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang
ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan
tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada
anggota kelompok asal.

Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidaklah selalu berjalan dengan
mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa.

Hal-hal yang dapat
menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan metode pembelajaran
Cooperative Learning Tipe Jigsawdiantaranya adalah sebagai berikut :

1. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan metodeCooperative
Learning Tipe Jigsaw.
2. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap
proses pembelajaran relatif kecil sehingga yang hanya segelintir orang yang
menguasai arena kelas, yang lain hanya sebagai penonton.
3. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik metodeCooperative
Learning Tipe Jigsaw.
4. Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
5. Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang
dapat mendukung proses pembelajaran.

Agar pelaksanaan metodeCooperative Learning Tipe Jigsaw dapat berjalan
dengan baik, maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model pembelajaran
metodeCooperative Learning Tipe Jigsaw di kelas dan menyesuaikan dengan
materi yang akan diajarkan.
2. Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas
heterogen.
3. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang metodeCooperative Learning
Tipe Jigsaw.
4. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
5. Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan
informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Identifikasi dan Analisis Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan diatas , maka dapat di
identifikasi permasalahan sebagai berikut :
a. Pembelajaran untuk peningkatan pemahaman operasi pecahan bilangan bulat
melalui pemanfaatan metode Cooperative Learning Tipe Jigsaw sebagai media
pembelajaran yang dilakukan di MAN 4 Jakarta siswa kelas XI IPA 4 Semester
ganjil.
b. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fisika masih rendah.
c. Siswa tidak semangat dalam belajar.
d. Siswa belum bisa konsentrasi dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Sejalan dengan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka
penulis berupaya untuk mengkaji dan mencari apa yang menjadi penyebab dari
masalah-masalah tersebut, dari analisis penulis dapat menyimpulkan yang menjadi
penyebab masalah tersebut adalah :
a. Guru terlalu cepat dalam menjelaskan materi pelajaran.
b. Guru kurang memberikan motivasi siswa bahwa pelajaran Fisika adalah pelajaran
yang mudah.
c. Guru kurang menggunakan media / alat peraga.
134Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Tentang Keseimbangan Benda Tegar,...( Eneng Hernawati)
Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah.
Atas dasar analisis tersebut, penulis berupaya mencari alternatif dan prioritas
pemecahan masalah yang penulis jadikan solusi untuk perbaikan pembelajaran ke
depan. Adapun alteratif dan prioritas pemecahan masalah – masalah yang penulis pilih
untuk dijadikan solusi adalah sebagai berikut ;
a. Guru memperhatikan suara dan intonasi dalam menjelaskan materi pelajaran, tidak
terlalu kencang dan juga tidak terlalu pelan, juga tidak terburu-buru dalam
menyampaikan materi pelajaran.
b. Dalam proses belajar mengajar guru menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan sehingga siswa termotivasi dalam belajar.
c. Guru menggunakan media metode Cooperative Learning Tipe Jigsaw dalam
kegiatan belajar mengajar.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikanmaka
penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut “Apakah penggunaan
metodeCooperative Learning Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa
MAN 4 Jakarta kelas XI IPA 4 terhadap pelajaran Fisika pada materi Keseimbangan
Benda Tegar?”
Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui partisipasi dan aktifitas siswa setelah mendapat
pembelajaran Fisika dengan menggunakan metodeCooperative Learning Tipe
Jigsaw.
2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mendapat pembelajaran Fisika
dengan menggunakan metodeCooperative Learning Tipe Jigsaw.
3. Untuk mengetahui respon atau sikap yang muncul setelah mendapat
pembelajaran Fisika dengan menggunakan metodeCooperative Learning Tipe
Jigsaw.
Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru, siswa dan sekolah
untuk meningkatkan pembelajaran yang lebih baik dan berkualitas. Secara khusus
manfaat tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Bagi Guru
a. Meningkatkan pengetahuan guru tentang kemampuan pemecahan masalah siswa
b. Memberikan masukan yang bermanfaat bagi tenaga pengajar tentang kemampuan
pemecahan masalah siswa
c. Di temukan strategi pembelajaran yang tepat, tidak konvensional, tetapi bersifat
variatif dan menyenangkan bagi siswa
2. Bagi Siswa
a. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran
b. Memperoleh cara belajar yang efektif, menarik, dan menyenangkan serta mudah
untuk menangkap materi yang di pelajari
c. Menumbuhkan keaktifan belajar siswa, secara mandiri.
d. Tercapainya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Fisika.
3. Bagi Sekolah
135Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam pembelajaran Fisika dengan
menggunakan metodeCooperative Learning Tipe Jigsaw.

METODE PENELITIAN
Subjek, Tempat, Waktu Penelitian
Siswa yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 4 MAN 4
Jakarta sebanyak 43 orang. Dengan jumlah siswa perempuan sebanyak 21 orang
dan 22 orang siswa laki-laki. Perbaikan pembelajaran dilaksanakan di kelas XI IPA
4 MAN 4 Jakarta.
Tabel 3.1
No Siklus Hari/Tanggal Waktu
1 Pra Siklus Senin 09 Agustus 2016 Pukul. 08.10 - 09.50
2 Siklus I Senin 16 Agustus 2016 Pukul. 08.10 - 09.50
3 Siklus II Senin, 24 Agustus 2016 Pukul. 08.10 - 09.50
4 Siklus III Rabu, 14 September 2016 Pukul. 07.00 - 08.20
Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran, Penulis didampingi oleh Nurhali,
S.Pd yang akan mengamati segala aktifitas guru dan siswa selama proses pembelajaran,
kemudian membahas, menganalisa dan menyimpulkan hasil pengamatannya.
Persiapan yang dilakukan untuk perbaikan pembelajaran ini antara lain:
1. Membuat langkah-langkah proses pembelajaran.
2. Mempersiapkan fasilitas untuk digunakan dalam pelaksanaan perbaikan, seperti:
- Media pembelajaran/alat peraga.
Digunakan untuk memudahkan pemahaman dan membantu daya ingat siswa
secara optimal.
- Lembar tes tertulis.
Untuk mengetahui gambaran penguasaan siswa pada konsep mata pelajaran
Fisika beserta keterampilan belajarnya.
- Catatan lapangan.
Untuk merekam kejadian-kejadian yang dianggap perlu dan didiskusikan
selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
3. Mempersiapkan Observasi.
Secara sederahana, observasi berarti pengamatan dengan tujuan tertentu,
yaitu untuk mengumpulkan data-data hasil perbaikan. Observasi dalam penelitian
ini dilakukan guru sebagai peneliti oleh supervisor 2, dan pengamatan (observasi)
terhadap siswa sebagai subjek penelitian.
1.
136
Langkah-langkah yang ditempuh pada perbaikan pembelajaran Fisika ;
Siklus I
Materi pelajaran Fisika pada siklus ini
Perencanaan Tindakan IMeningkatkan Hasil Belajar Fisika Tentang Keseimbangan Benda Tegar,...( Eneng Hernawati)
.
Sebelum melakukan tindakan, Peneliti menyusun:
1. Rencana pembelajaran
2. Membuat tes akhir
Tindakan yang direncanakan adalah memfokuskan minat dan perhatian siswa
dengan menggunakan metode ceramah, ekspositori (menerangkan).
a. Pelaksanaan Tindakan I
Pada awal pembelajaran guru memberikan apersepsi pada siswa dengan
memberikan pertanyaan-pertanyaan. Selanjutnya memberikan penjelasan tentang
materi pelajaran yang akan dibahas.
Di akhir pelajaran guru memberikan tes soal untuk mengevaluasi hasil
belajar siswa. Dan ternyata hasilnya kurang memuaskan.
b. Observasi Tindakan I
Selama proses pembelajaran berlangsung, observasi tindakan dilakukan oleh
teman sejawat. Hasilnya dicatat sebagai bahan masukan dan kajian bagi Peneliti.
c. Refleksi Tindakan I
Semua temuan didiskusikan dan di interpretasikan bersama teman sejawat,
kemudian hasilnya digunakan sebagai bahan dan pedoman pada langkah siklus
selanjutnya.
Siklus II
Pada siklus II ini materi pembelajaran adalah tentang Operasi Pecahan Bilangan
Bulat dengan indikator sebagai berikut:
- Mendeskripsikan Operasi Pecahan Bilangan Bulat.
- Mengidentifikasi pengerjaan hitung campuran.
a. Perencanaan Tindakan II
Berdasarkan hasil pelaksanaan pada siklus I, Peneliti menyusun:
1. Rencana pembelajaran
2. Membuat tes awal dan tes akhir
Pada siklus ini, tindakan yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode
Cooporative Learning Tipe Jigsaw.
b. Pelaksanaan Tindakan II
Guru melakukan pre tes untuk mengetahui berapa besar siswa memahami
tentang metode Cooporative Learning Tipe Jigsaw.Di akhir pelajaran Penulis
memberikan tes untuk mengetahui sampai sejauh mana penguasaan siswa
terhadap materi yang diberikan. Ternyata hasilnya lebih memuaskan
c. Observasi Tindakan II
Selama proses pembelajaran berlangsung, teman sejawat mencatat dan
memberikan masukan tentang aktifitas guru dan siswa. Hasil catatan tersebut
menunjukkan sudah cukup baik mulai dari penyajian guru dalam
menyampaikan materi, bahasa yang digunakan lebih mudah dipahami.
d. Refleksi Tindakan II
Semua temuan yang diperoleh didiskusikan untuk mengetahui sejauh
mana kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik dan benar. Dalam
pemahaman siswa terhadap materi pelajaran semakin baik sehingga tercapai
tujuan pembelajaran yang optimal.
Teknik Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan mengatur, mengurutkan, mengelompokan,
memberi tanda/kode, dan mengkategorikan data sehingga dapat ditemukan dan
dirumuskan hipotesis kerja berdasarkan data yang diperoleh.
137Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Menganalisis data penilaian merupakan suatu langkah yang sangat kritis.
Pola analisis mana yang akan digunakan, apakah analisis statistik atau non statistik
perlu dipertimbangkan oleh peneliti.

Untuk mengumpulkan data-data selama perbaikan penelitian,
peneliti menggunakan instrument sebagai berikut :

1. Lembar Observasi
Secara sederhana observasi berarti pengamatan dengan tujuan tertentu, yaitu
untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan. Observasi dalam penelitian ini
dilakukan terhadap guru sebagai peneliti oleh supervisor 2, dan pengamatan
(observasi) terhadap siswa sebagai subjek penelitian. Lembar observasi
terhadap guru sebagai peneliti adalah jurnal yang telah disediakan. Lembar
observasi untuk siswa sebagai subjek perbaikan penelitian adalah observasi
aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

2. Lembar tes / Soal-soal tes
Untuk mengetahui hasil perbaikan pembelajaran, data-data dikumpulkan
melalui hasil tes pembelajaran. Tes pembelajaran berupa soal-soal tes yang
disusun dalam RPP (Rencana Perbaikan Pembelajaran). Hasil tes pembelajaran
dimasukan ke dalam suatu table, kemudian dideskripsikan sehinga diketahui
peningkatan perbaikan pembelajaran setiap siklusnya.
Secara mendetail Kemmis dan Taggart menjelaskan tahap-tahap penelitian
tindakan kelas yang dilakukannya. Pada bagian awal yaitu identifikasi masalah,
permasalahan penelitian difokuskan kepada strategi bertanya kepada siswa dalam
pembelajaran sains. Keputusan ini timbul dari pengamatan tahap awal yang
menunjukkan bahwa siswa belajar sains dengan cara menghafal dan bukan dalam
proses inkuiri. Dalam diskusi dipikirkan cara untuk mendorong inkuiri siswa,
apakah dengan mengubah kurikulum atau mengubah cara bertanya kepada siswa?
Lanjut pada tahap perencanaan, fokus permasalahan diputuskan untuk
menyusun strategi bertanya untuk mendorong siswa untuk menjawab pertanyaan
sendiri.
Pada kotak tindakan (action), mulai diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada
siswa untuk mendorong mereka mengatakan apa yang mereka pahami, dan apa
yang mereka minati.
Pada kotak pengamatan (observe), pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-
jawaban siswa dicatat atau direkam untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Pengamat juga membuat catatan dalam lembar-lembar observasi yang telah mereka
sediakan.
Dalam kotak refleksi (reflect), ternyata kontrol kelas yang terlalu ketak
menyebabkan tanya jawab kurang lancar dilaksanakan sehingga tidak mencapai
hasil yang baik, dan perlu diperbaiki.
Pada siklus berikutnya, perencanaan direvisi dengan modifikasi dalam
bentuk mengurangi pernyataan-pernyataan guru yang bersifat mengontrol siswa,
agar strategi bertanya dapat berlangsung dengan baik. Pada tahap tindakan siklus
kedua hal itu dilakukan. Pelaksanaannya dicatat dan direkam untuk melihat
pengaruhnya terhadap perilaku siswa

HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Setelah mengalami proses perbaikan didua siklus berikutnya, kondisi tersebut
tampak mengalami perbaikan, mengalami peningkatan yang cukup memuaskan jika
138Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Tentang Keseimbangan Benda Tegar,...( Eneng Hernawati)
dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel berikut ini.

Dari data hasil pelaksanakan per siklus selama pembelajaran Fisika berlangsung
penulis yang dibantu oleh teman sejawat dengan pokok bahasan operasi hitung
bilangan bulat diperoleh nilai sebagai berikut:

Pada awal siklus, hasil analisis terhadap masing-masing aktifitas bertanya, aktif
memberikan pendapat dan hasil belajar Fisika siswa belum menunjukkan hasil yang
memuaskan, karena masih di bawah nilai yang diperoleh secara klasikal belum
memenuhi KKM (70). Hal ini antara lain disebabkan siswa masih terlihat banyaknya
siswa yang kurang konsentrasi dalam mengikuti pelajaran dan masih banyak siswa
yang tidak aktif dalam mengikuti pelajaran
Dalam menangani siswa yang belum terbiasa dalam mengemukakan pendapatnya,
guru memberi motivasi dengan mencoba memberikan kesempatan siswa tersebut
untuk tampil dan memberikan kesempatan siswa tersebut untuk tampil.
Pembelajaran dengan menggunakan media sederhana yang konkret dapat
menciptakan suasana belajar yang bergairah serta memancing keaktifan siswa dalam
belajar, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Selain penggunaan media sederhana ini memiliki, tidak juga lepas dari beberapa
point kelemahan seperti dalam pengaturan kelompok di kelas, guru harus lebih teliti
dan memahami betul kondisi sosiometri siswa dikelas. Selain mengetahui sosiometri
siswa juga guru harus lebih banyak ide dan kreativitas dalam mengoptimalkan proses
pembelajaran.

Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti membuat rancangan pembelajaran
yang bersifat memperbaiki kekurangan dari proses pembelajaran yang telah di lakukan
dengan memperbaiki metode pembelajaran dan dapat mendukung ketercapaian dan
keberhasilan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai yang terlampir dalam RPP (
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran ).RPP sangat berpengaruh terhadap tingkat
aktivitas siswa dan hasil belajar yang di capai siswa,berikut contoh RPP sebelum guru
menggunakan metode Cooporative Learning Tipe Jigsaw.
Dari data diatas diketahui bahwa hasil tes pra siklus rata-rata 59.Siswa yang
mendapat nilai rendah ada 13 orang atau (10%) siswa yang mendapat nilai sedang ada
29 orang atau (72,5%) dan siswa yang mendapat nilai baik ada 1 orang atau (1%).
Berdasar hasil nilai rata-rata siswa yang hanya 59 berarti hasil KBM masih jauh
dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Karena KKM yang ditetapkan sekolah
untuk mata pelajaran Fisika adalah 70. Namun, hal itu tidak menjadi masalah, karena
pra siklus ini dilakukan sebelum guru memberikan informasi atau pemahaman tentang
operasi hitung bilangan bulat. Pra siklus ini dilakukan dengan tujuan mengukur
kemampuan awal siswa secara umum.

Dari tabel di atas komponen siswa yang bekerjasama dalam kelompok mengalami
kenaikan 90 % dan siswa yang bertanya naik 75 %, siswa yang memberikan pendapat
naik 70 % dan siswa yang berpartisipasi dalam kelompok naik 75 %. Dansiswa yang
mengobrol turun 5 %.

Perbandingan siklus I dengan siklus III yang mengalami kenaikkan cukup besar
adalah siswa yang memberikan pendapatnya dalam belajar kelompok.Artinya, dengan
kerja kelompok para siswa mulai aktif dalam belajar dan menurunkan siswa yang
mengobrol pada saat belajar. Sedangkan aspek yang sedikit kenaikan pointnya adalah
dalam bertanya kepada guru. Para siswa belum terbiasa dengan bertanya. Data dapat
dilukiskan dalam bentuk diagram batang dibawah ini :

Sementara itu, perbandingan hasil belajar Fisika selama siklus perbaikan
dilaksanakan :

139Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Untuk lebih mempermudah dalam menganalisis,data hasil rekapitulasi angket
tentang hasil belajar mata pelajaran Fisika disajikan juga dalam bentuk diagram area
yang menggambarkan dalam bentuk prosentase.
Siklus I
Refleksi

Berdasarkan data diatas direfleksikan sebagai berikut:
1. Penggunaan media belum tepat
2. Metode yang digunakan monoton
3. Guru kurang menguasai situasi kelas
4. Siswa kurang berkosentrasi
Berdasarkan hasil refleksi diatas, penulis perlu mengadakan perencanaan
perbaikan sebagai berikut:
1. Menggunakan media yang tepat
2. Menggunakan metode yang variasi
3. Guru dalam menyampaikan materi tidak terlalu cepat
4. Guru lebih menguasai situasi kelas
5. Guru membangkitkan siswa untuk dapat konsentrasi
6. Alat peraga disiapkan maksimal

Diagram diatas menjelaskan hasil prosentase siswa dan hasil rata-rata 66 dapat
disimpulkan siswa yang mendapat nilai rendah ada 11 orang atau (20%), siswa yang
mendapat nilai sedang ada 30 orang (75%) dan yang mendapat nilai baik ada 2 orang
atau (5%). Dalam hal ini berarti dalam pembelajaran Fisika mengalami peningkatan.
Refleksi
Dalam hasil penelitian siklus I dapat direfleksikan sebagai berikut:
1. Di Siklus I ini pembelajaran Fisika mengalami peningkatan, ini dapat dilihat dari nilai
rata-rata pada siklus ini
2. Guru menggunakan media secara optimal
3. Guru mengemas materi lebih menarik agar murid tertarik dan dapat berkosentrasi.
4. Pengelolaan kelas masih kurang.
Berdasarkan hasil refleksi diatas penulis mengadakan perancanaan perbaikan
sebagai berikut:
1. Guru menggunakan model bervariasi
2. Media pembelajaran harus dipersiapkan maksimal
Diagram diatas menunjukkan hasil belajar di siklus II mengalami peningkatan.
Hal ini bisa dilihat rata-rata 74 atau diatas KKM. Pada siklus II siswa yang mendapat
nilai rendah 8orang (12,5%), siswa yang mendapat nilai sedang ada 16orang (40 %)
dan siswa yang mendapat nilai tinggi ada 19 anak (47,5 %).

Refleksi
Dari pengamatan penulis dibantu oleh teman sejawat selama pembelajaran Fisika
dalam siklus II mengalami peningkatan, meski ada beberapa anak mendapat nilai
rendah. Penggunaan metode yang bervariasi, media yang tepat dan kecakapan guru
dalam menyampaikan materi berpengaruh besar terhadap peningkatan hasil tes.
Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan di kelas XI IPA 4 MAN 4 Jakarta.
Penelitian ini berupaya untuk meningkatkan hasil belajar Fisika siswa. Peranan guru
dalam membimbing dan memberi penguat positif seperti menanyakan langsung
kepada siswa selama proses belajar dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan
siswa. Selain itu, pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan Metode
Cooperative Learning Tipe Jigsaw akan membuat siswa lebih tertarik dalam suatu
140Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Tentang Keseimbangan Benda Tegar,...( Eneng Hernawati)
materi yang diajarkan dan juga dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam
belajar.Data yang diperoleh dalam siklus I yaitu siswa yang mendapat nilai 40 tidak
ada, nilai 50 ada 5 orang (12,5%), nilai 55 ada 3 orang (7,5%), nilai 60 ada 3 orang
(7,5%), nilai 65 ada 7 orang (17,5%),nilai 70 ada 16 orang (40%), nilai 75 ada 4 orang
(10%) nilai 80 ada 1 orang (2,5%), nilai 90 ada 1 orang (2,5%). Dari data di atas dalam
siklus I mengalami peningkatan karenanilai rata-rata kelas menjadi 66.
Siklus II data yang diperoleh dari siklus dua siswa mendapat nilai 50 ada 4 orang
(10%), nilai 55 ada 1 orang (2,5%), nilai 60 ada 3 orang (7,5%), nilai 70 ada 5 orang
(12,5%), nilai 75 ada 8 orang (20%) nilai 80 ada 12 orang (30%) nilai 85 ada 5 orang
(12,5%) nilai 90 ada 1 orang (2,5%) nilai 100 ada 1 orang (2,5%). Dari data di atas
dapat disimpulkan siklus II dikatakan berhasil karena dilihat dari hasil evaluasi nilai
rata-rata anak lebih dari KKM (70), meski masih ada beberapa anak yang mendapat
nilai rendah dibawah KKM. Oleh karena itu perbaikan di siklus
IIdihentikan.Sementara itu dari aspek aktivitas siswa dalam belajar pada dua siklus
yang dilakukan juga mengalami kenaikan : komponen siswa yang bekerjasama dalam
kelompok mengalami kenaikan 27,5 % dan siswa yang bertanya naik 20 %, siswa
yang memberikan pendapat naik 37,5 % dan siswa yang berpartisipasi dalam
kelompok naik 20 %. Dan siswa yang mengobrol turun 25 %.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan sebanyak dan siklus.
Maka dapat ditarik kesimpulan:
1. Siswa lebih mudah memahami pelajaran Fisika dengan menggunakan model
pembelajaran Cooporative Learning Tipe Jigsaw.
2. Siswa lebih aktif dan antusias dalam menerima pelajaran Fisika dengan
Cooporative Learning Tipe Jigsaw.
3. Penggunaan alat peraga yang tepat dapat meningkatkan semangat pada materi yang
diajarkan.
4. Dengan model pembelajaran Cooporative Learning Tipe Jigsawterbukti dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
Saran Tindak Lanjut
Berdasarkan hasil penelitian diatas diharapkan para guru diantaranya
sebagai berikut:
1. Guru hendaknya memberikan bimbingan dan mengadakan pendekatan kepada siswa
secara konseptual dan individual.
2. Guru
berusahamemahamikondisi
di
lapanganmengenaikekurangan
yang
dialamisiswa dan guru, sehinggadapatmemberikantindakan secara tepat, cepat dan
efisien (denganperbaikan).
3. Guru menggunakan alat peraga dan metode yang bervariasi dan sesuai dalam setiap
pembelajaran sehingga memicu siswanya untuk aktif dan tidak bosan dengan
pembelajaran yang diterimanya.
4. Guru selalu melakukan refleksi setelah melaksanakan proses pembelajaran supaya
guru dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya saat mengajar sehingga dapat
melakukan perbaikan di pembelajaran berikutnya. Dengan begitu hasil yang didapat
akan menjadi lebih baik dan mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik.
141Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
5. Kepada pihak sekolah diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan guru dalam
pembelajaran, misalnya ruang-ruang khusus penunjang pembelajaran, alat peraga,
pelatihan-pelatihan bagi guru yang sifatnya untuk meningkatkan kreatifitas dan hasil
yang maksimal dalam kegiatan pembelajaran.
DAFTAR RUJUKAN
Anitah, Sri,. W,dkk. (2011). Strategi Pembelajaran , Jakarta: Universitas Terbuka
Asra, Sumiati. (2009).Metode Pembelajaran, Bandung: CV Wacana Prima
http://liayuliawati-pgsdipa.blogspot.co.id/2012/10/fungsi-media-dalam-pembelajaran-ipa-
di.html, Tanggal 15 September 2016
https://nurmanspd.wordpress.com009/09/06/model-pembelajaran-cooperative-learning-
tipe-jigsaw, Tanggal 06 September 2016
Isjoni. (2010). Cooperatif Learning, Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung :
Alfabeta.
Lie, Anita. (2002). Cooperative Learning. Jakarta : PT. Grasindo.
Nur, Asma. (2006). Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta Depdiknas.
Nur, Mohammad. (2005). Pembelajaran Kooperatif (Departemen Pendidikan Nasional
Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Menengah LPMP. Jawa Timur).
Slavin, E. Robert. 2008. Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik. Bandung ; Nusa
Media.
Solihatin, Etin dkk. (2007). Cooperative Learning. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Susanto, Ahmad. ( 2013 )Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah
Susilana,
Rudi
dan
.,Cepi
Riyana,(2011).Media
Pembelajaran
Hakikat,
Pemgembangan,Pemanfaatan, dan Penilaian, Bandung: CV Wacana Prima.
142