Senin, 23 April 2018

KONDISI GEOGRAFIS PENGRAJIN SEPATU DI CIBADUYUT BANDUNG JAWA BARAT

Rosita Manurung

Abstract: Micro-businesses in Indonesia actually had an important role in
development. This also happened in the village Cibaduyut Bandung, West Java.
Cibaduyut has been instrumental in the development of tourism and the industrial
city of Bandung. Cibaduyut we can see how entrepreneurs work hard to produce
shoes - shoes with very high quality so famous Bandung can be up to - foreign
countries. However, in the development of micro-enterprises should get the attention
and treatment of more serious from various parties including the government
because several important issues.So in this study will be discussed how the
geographical aspect Cibaduyut city in increasing effort - the micro enterprises. Then
it will be discussed also the SWOT analysis to look at the advantages and
disadvantages of entrepreneurs - entrepreneurs, so these things play a role in the
improvement of business small traders.
Keywords: Cibaduyut, Industry, SWOT, Geography.

PENDAHULUHAN

Usaha kecil atau industri kecil di Indonesia sebenarnya telah memiliki peranan
penting dalam pembangunan. Hal-hal yang dapat dilihat yaitu, mereka (usaha kecil) telah
memberikan kontribusi terhadap pemerataan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja
sertamewujudkan pemerataan hasil pembangunan. Sehingga sektor ini diharapkan dapat
mampu menjadi pendorong, pemicu, dan sekaligus motor penggerak pembangunan.
Namun dalam perkembangannya usaha kecil ini harus mendapatkan perhatian dan
penanganan yang lebih serius dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Usaha kecil ini
umumnya masih menghadapi berbagai kompleksitas masalah baik internal maupun
eksternal, seperti penguasaanteknologi yang rendah, kekurangan modal, akses pasar yang
terbatas, kelemahandalam pengelolaan usaha dan lain sebagainya (Tulus Tambunan
2009:5)Ketika terjadi krisis ekonomi, sebenarnya hanya usaha kecilah yang lebih efisien
dalam mempertahankan ekonomi jika dibandingkan dengan usaha-usaha besar, bahkan
ketika terjadi krisis ekonomi, usaha-usaha kecil telah berjasa dalam menahan pertumbuhan
ekonomi dan juga memberikan lapangan pekerjaan. Hal ini menggabarkan bahwa usaha
kecil menjadi patokan mengapa Negara harus memberikan perharian khusus dalam
keberlanjutannya.
Tabel 1 :Perkembangan Jumlah UMKM di Indonesia Tahun 2003-2010
______________________________________________________________
Rosita Manurung adalah Dosen UPJJ Universitas Terbuka Jakarta
28Kondisi Geografis Pengrajin Sepatu Di Cibaduyut Bandung,. ..(Rosita Manurung)
sumber : BPS dan Statistik UKM, diolah UPI
Persoalan-persoalan yang menyangkut unit usah berskala kecil juga terjadi pada
usaha-usaha sepatu berskala kecil di kelurahan cibaduyut, Jawa barat. Cibaduyut
merupakan sebuah kelurahan di Bandung Provinsi Jawa Barat. Cibaduyut telah dikenal
luas sejak lamah karena memiliki industri pengolahan sepatu.
Cibaduyut menjadi salah satu kelurahan yang sekaligus menjadi ikon kota
bandung.Cibaduyut pun terkenal sebagai kawasan dengan deretan toko terpanjang di Asia,
dimana di lokasitersebut merupakan sentra penjualan sepatu hasil kreasi para pengrajin
yang ilmupembuatannya didapat secara turun menurun.
Saat ini sepatu impor yang masuk ke Indonesia dan dipasarkan dengan harga yang
murah, mau tak mau berakibat pada sepatu buatan Cibaduyut. Meskiperajin telah
berekspresi dengan membuat model sepatu terbaru, tapi produk luar negeri yang dijual
dengan harga yang sangat murah,terus menurunkan industri sepatu di Cibaduyut. Oleh
karena itu, penulis merasa penting untuk melihat analisis SWOT dan bentuk geografis kota
Cibaduyut, sehingga penulis dapat menganalisis bagaimana potensi pemasaran sepatu yang
di usahakan oleh unit industri kecil di Cibaduyut tersebut.

Berdasarkan pada latar belakang tersebut di atas dapat dikatakan bahwa, moderen
ini persaingan terus meningkat dalam dunia usaha. Para pengusaha kelas menengah
kebawah, tentu akan tersingkir apa bila mereka tidak melakukan strategi dalam
“mempertahankan” usaha mereka. Hal inilah yang kemudian akan dirasakah oleh para
pengusah sepatu skala kecil di Cibaduyut.

Dari masalah tersebut, maka penulis meresa
perlu melihat :
a. Bagaimana pengaruh letak geografis dalam mendorong strategi pemasaran
sepatu dari pengrajin cibaduyut?
b. Bagaimana analis SWOT dalam melakukan strategi pemasaran?
Penulisan ini bertujuan untuk :
a. Mengetahui bagaimana pengaruh letak geografis Cibaduyut sebagai
pengrajin sepatu.
b. Mengetahuifaktor strategi pasar Cibaduyut sebagai pengrajin sepatu
berdasarkan analisi SWOT.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang dipakai oleh peneliti, pada tulisan ini adalah adalah jenis
penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk
mendeskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku. Di dalamnya terdapat upaya
mendeskripsikan, mencatat, analisis dan menginterpretasikan kondisi yang sekarang ini
terjadi atau ada. Pada tulisan ini penulis ingin mendeskripsikan kenyataan yang terjadi di
kelurahan cibaduyut, kota Bandung Jawa Barat, dengan didukung oleh penelusuran
literatur. Penelitian deskriptif sebenarnya kualitatif dirancang untuk mengumpulkan
informasi tentang keadaan-keadaan nyata sekarang yang sementara berlangsung. Dengan
kata lain penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk memperoleh informasi -
informasi mengenai keadaan yang ada (Mardalis,1999). Pada hakikatnya penelitian
deskriptif kualitatif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu
objek dengan tujuan membuat deskriptif, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual
dan akurat mengenai fakta-fakta atau fenomena yang diselidiki.
29Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017

Analisis SWOT

Rais (2009:4), metode analisa SWOT dianggap sebagai metode analisa yang paing
dasar, berguna untuk melihat suatu topik atau permasalahan dari 4 (empat) sisiyang
berbeda. Hasil analisa biasanya adalah arahan atau rekomendasi untukmempertahankan
kekuatan dan menambah keuntungan dari peluang yang ada, sambilmengurangi
kekurangan dan menghindari ancaman. Jika digunakan dengan benar,analisa SWOT akan
membantu kita untuk melihat sisi-sisi yang terlupakan atau tidakterlihat selama ini. Analisa
ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu:
S = Strengths, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasiatau
program pada saat ini.
W = Weaknesses, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dariorganisasi
atau program pada saat ini.
O = Opportunities, adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang di luarorganisasi
dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi di masadepan.
T = Threats, adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datangdari luar
organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di masa depan.
Perbandingan antara empat komponen dasar (SWOT) dijelaskan dalam skema
matriks SWOT. Matriks SWOT terdiri dari 8 sel:4 sel berisi inventori variableinternal dan
lingkungan bisnis (eksternal) dan empat sel lainnya berisi implikasistrategis yang
ditimbulkannya. Sel 1 berisi berisi daftar (list) kekuatan (S) perusahaanyang berhasil
dibangun oleh manajemen dan sel 2 berisi daftar kelemahan (W) yangingin dihilangkan.
Oleh karena itu sel 1 dan 2 secara berturut-turut disebut sel S dansel W. Sel 3 berisi daftar
peluang (O) bisnis yang dimiliki pada masa sekarang danyang akan datang dan sel 4 berisi
daftar ancaman (T) yang sedang dihadapi sekarangdan yang akan datang. Oleh karena itu
sel 3 dan 4 secara berturut-turut disebut sel Odan sel T.

Sel 5 merupakan pilihan strategi yang hendak dipilih oleh manajemen berdasar
kombinasi kekuatan dan peluang bisnis yang ada pada sel S dan O dan olehkarena itu
disebut sebagai sel atau stategi SO. Stategi pada sel tersebut juga seringdisebut sebagai
strategi maksi-maksi. Sel 6 adalah strategi yang hendak dipilih olehmanajemen
berdasarkan kombinasi kelemahan dan peluang bisnis yang ada pada selW dan O dan oleh
karena itu disebut sel atau strategi WO. Startegi pada sel WO seringjuga dinamai sebagai
strategi mini-maksi.

Sel 7 berisi pilihan strategi yangditimbulkan oleh kombinasi sel S dan T dan oleh
karena itu disebut sel atau strategiST. Strategi pada sel ST sering juga disebut sebagai
strategi maksi-mini. Sel 8 berisistrategi hasil kombinasi sel W dan T dan oleh karena itu
disebut sel atau strategi WT.Strategi tersebut sering juga diberi nama sebagai strategi mini-
mini.

Gambar Secara skematis, matriks SWOT
30Kondisi Geografis Pengrajin Sepatu Di Cibaduyut Bandung,. ..(Rosita Manurung)
Strategi SO dirumuskan dengan pertimbangan
bahwa manajemen
hendakmemanfaatkan kekuatan perusahaan dan keunggulan bersaing yang dimiliki
untukmengeksploitasi peluang bisnis yang tersedia. Strategi ini bersifat agresif,
memacupertumbuhan perusahaan. Oleh karena itu strategi ini juga disebut maksi-
maksikarena manajemen mencoba menggunakan apa yang serba positif ( maksimal)
yangkini dimiliki. Manajemen tentu saja menyukai jika memiliki kesempatan
untukmengimplementasikan strategi ini karena perusahaan sedang sehat dan di saat
yangsama tersedia peluang bisnis yang menjanjikan.

Strategi WO diperoleh ketika manajemen mencoba memanfaatkan peluangbisnis
yang tersedia untuk mengurangi bahkan mengeliminasi kelemahan perusahaanyang ada.
Strategi ini disebut mini-maksi karena yang maksimal hanya satuvariable, yakni peluang;
sedangkan satu variable lainnya dinilai sebagai sesuatu yagminimal karena hanya berupa
kelemahan. Strategi ini tidak seagresif yang disebutpertama, karena manajemen tidak
sepenuhnya dapat memanfaatkan peluang bisnisyang tersedia. Ia lebih berkonsentrasi
untuk menyehatkan perusahaan dengan caramengeliminir kelemahan yang dimiliki atau
outsourcing. Jika terpaksa manajemendapat membiarkan peluang bisnis yang tersedia
untuk diambil oleh perusahaanpesaingnya.Strategi ST serupa dengan strategi WO karena
variable yang ada tidakmaksimal.

Strategi ST lahir dari analisis manajemen yang hendak menggunakankekuatan dan
keunggulan yang dimiliki untuk menghindari efek negatif dari ancamanbisnis yang
dihadapi. Strategi ini disebut maksi-mini karena hanya memiliki satuvariable maksimal,
yakni kekuatan. Variabel yang lain bersifat minimal, yakniancaman bisnis. Perusahaan
memiliki keunggulan akan tetapi tidak dapatmemanfaatkannya secara maksimal karena
yang tersedia hanya ancaman bisnis.Ancaman bisnis tersebut dapat menjadi sebab
ketidaksehatan
perusahaan
jikamanajemen
jika
manajemen
keliru
dalam
mengantisipasinya.
Strategi WT pada dasarnya lebih merupakan strategi bertahan yakni strategibisnis
yang masih mungkin ditemukan dan dipilih dengan meminimalisasi kelemahandan
menghindari ancaman bisnis. Karena sifatnya yang pasif dan tidak kedua variableyang ada
bersifat minimal, strategi WT disebut juga strategi mini-mini. Manajemententu saja tidak
hendak meletakkan strategi ini pada pilihan pertama. Strategi inihanya amat sedikit
memberikan ruang gerak bagi manajemen. Perusahaan telahsampai pada soal mati atau
hidup (survival), bahkan mungkin harus memilih untukmelakukan likuidasi. Sekalipun
demikian, masih tersedia pilihan lain, misalnya merjer dengan perusahaan lain atau
mengurangi skala operasi secara besar-besaran (Suwarsono 2008:16-19)

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Kelurahan Cibaduyut meliputi wilayah Kabupaten Bandung dan wilayah Kota
Bandung tepatnya di Kecamatan Dayeuh Kolot dan di Kecamatan Bojong Loa
Kidul. Cibaduyut selalu didentikkan dengan sentra industry sepatu dan tidak sedikit
pula yang menganggap bahwa produk sepatu yangberedar di Indonesia berasal dari
Cibaduyut.Cibaduyut telah mememperkenalkan Bandung sebagai Kota wisata
sehingga banyak dikunjungi oleh para wisatawan.

2. MURI (Museum Record Indonesia) memberikan penghargaan kepada kawasan
industri sepatu Cibaduyut sebagai kawasan terpanjang khusus sentra industri sepatu
(Febrianto, 2014).hal ini bisa dilihat dari took-toko yang berjejer. Di Cibaduyut
terdapat 828 unit usaha sepatudan menyebar. Sedangkan jumlah toko yang ada di
kawasan Cibaduyut sebanyak 165 unit.

31Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
3. Sentra Cibaduyut, berdirinya sekitar tahun 1920. Industri Kecil Menengah (IKM)
Sepatu Cibaduyut awalnyahanya dirintis oleh beberapa orang warga setempat yang
kesehariannya bekerjapada sebuah pabrik sepatu di Bandung. Tahun 1940, jumlah
pengrajin sudahmencapai 89 orang. Dari tahun ke tahun para pengrajin terus
bertambah. Seiringitu pula namanya kian populer di tengah masyarakat. Pada tahun
1950 saja jumlahpengrajin sudah mencapai 250 unit usaha. Cibaduyut pun
menemukan masajayanya di era 1990-an.

4. Berdasarkan data dari Instalasi Pengembangan IKMPersepatuan Cibaduyut, jumlah
unit usaha atau pengrajin memang mengalamipenurunan. Tahun 2003 sebanyak
861 pengrajin, 2004 sebanyak 848 pengrajin,tahun 2005 sebanyak 845 pengrajin
dan tahun 2006 hingga 2007 stabil dijumlah828 pengrajin sepatu.
Jumlah Pekerja Sentra Cibaduyu

Sumber: Harian Kompas Online, dalam Febrianto 2014
Cibaduyut. Kawasan seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar 5 kilometer di
selatan pusat Kota Bandung itu memang sejak lama dikenal sebagai "Surga Sepatu". Di
kawasan yang termasuk wilayah Kec.Bojongloa Kidul tersebut, pengunjung bisa
menemukan beranekaragam barang yang terbuat dari kulit. Tak hanya sepatu, tetapi juga
sandal, tas, dompet, hingga barang lainnya. Cibaduyut, bahkan, sudah terkenal hingga ke
luar negeri. Industri sepatu Cibaduyut bermula pada tahun 1920-an dan dirintis oleh
beberapa warga setempat yang sehari-harinya bekerja pada sebuah pabrik sepatu di Kota
Bandung. Dengan bekal keterampilan dan tekad, mereka kemudian mulai membuka usaha
kecil di rumah tangga dengan tenaga kerja putra-putri mereka sendiri. Setelah pesanan
semakin banyak, mereka kemudian merekrut pekerja dari tetangga sekitar rumah.
Akhirnya, keterampilan mereka terus menyebar secara turun temurun.
Seperti pada umum nya, gambaran pengusaha kecil dicibaduyut tentu memiliki
berbgai kekurangan dalam membuat inovasi dalam berbisnis sepatu, hal ini sebenarnya
memberikan gambaran secara umum bagaimana pengetahuan pengusa-pengusaha kecil di
Indonesia. Secara umum, usaha kecil di Cibaduyut memang membutuhkan bantuan dari
pihak pemerintah untuk mendukung kelancara bisnis tersebut. Sekitar tahun 1978
pemerintah pusat melalui departemen Perindustrian bekerja sama dengan Lembaga
Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) saat itu melakukan
pengkajian dalam rangka bimbingan dan Pengembanga sentra sepatu Cibaduyut. Hasil
kajian tersebut merekomendasikan dibangunnya pusat pelayanan fasilitasi pembinaan atau
32Kondisi Geografis Pengrajin Sepatu Di Cibaduyut Bandung,. ..(Rosita Manurung)
dengan sebutan Center Service Facility (CSF) dan lebih dikenal masyarakat pengusaha
sepatu dengan sepatu Unit Pelayanan Teknis (UPT) barang kulit. Pada sekitar tahun 1980-
an dengan digulirkan proyek BIPIK dari departemen perindustrian berbagai fasilitas
bantuan sarana dan prasarana kepada UPT persepatuan di Cibaduyut berupa pembangunan
fasilitas gedung, mesin dan peralatan serta program pelatihan untuk mengembangkan
pengrajin sepatu Cibaduyut. Masa jaya itu kemudian berakhir dengan adanya krisis
ekonomo pada tahun 1997. Usaha sepatu Cibaduyut menjadi korban. Melorotnya kurs
rupiah membuat harga bahan baku seperti kulit kambing, kulit sapi, serta kulit imitasi
melonjak drastis. Akibatnya perajin tak mampu membelinya. Hal ini lah kemudia memicu
tejadinya kemunduran dalam usaha kerajinan sepatu trersebut lalu kemudian satu per satu
perajin sepatu mundur dari usaha mereka. Ini lah masa dimana usaha sepatu Cibaduyu
menapaki masa kejayaan mereka.
Dikutip dari kompas.com. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Barat Ferry Sofwan Arif menjelaskan, industri kerajinan sepatu di Cibaduyut
mengandalkan sistem kerja maklun atau borongan dari pemilik toko yang berjajar di tepi
jalan. Kadang ada pemilik bengkel yang beralih menjadi tukang di bengkel lain apabila
tidak mendapatkan pesanan. ”Ada pula yang menjual tempat usahanya dan pindah ke
daerah sekitar di Kabupaten Bandung atau Kota Cimahi,” ujarnya. Gungun Runiadi Heze
(pengusaha sepatu), menjelaskan, mental dan kualitas sumber daya manusia menjadi
masalah di Cibaduyut sehingga sulit bangkit kembali ke masa keemasannya tahun 1990-an.
Para pemilik usaha kebanyakan malas berinovasi dan menggantungkan diri pada pesanan
dari toko. Demi berebut pesanan, kadang perang harga pun terjadi sehingga mereka semua
yang rugi. Lantas dengan demikian penulis merasa penting untuk melihat factor-fator yang
dapat meberikan dampak terhadap “matinya” usaha sepatu tersebut. Untuk melihat factor-
faktor tersebut, maka penulisa akan menganalisinya dalam dua bentuk, yaitu menggunakan
analisis SWOT dan dengan menggunakan pendekatan sisi geografisnya.
a. Pengaruh Letak Geografis
Dalam geografi untuk mendekati suatu permasalahan, digunakan tiga
macam pendekatan, yaitu: pendekatan keruangan (spatial approach),
pendekatan ekologi (ecological approach), dan pendekatan kompleks wilayah
(regional complex approach) (Bintarto dan Surastopo, 1981:12-30). Cibaduytu
terletak pada lokasi yang sangat strategis, Lokasi nya berada tepat di sepanjang
jalur jalan Cibaduyut Raya. Untuk menuju centra Cibaduyut tersebut pun
sangatlah mudah, pelanggan dapat menggunakan fasilitas jalan tol untuk
menuju ke Cibaduyut. Sebagai kawasan wisata yang ramai dan selalu dipadati
pengunjung, objek wisata di bandung ini buka mulai pukul 08.00 – 22.00 WIB.
Lokasi wisata belanja Cibaduyut sangatlah mudah. Bagi wisatawan luar
kota yang menggunakan jalan tol Cipularang, silahkan ambil pintu Tol Kopo.
Anda bisa langsung belok kiri menuju jalan bypass. Dari jalan bypass ambil
arah kanan dan lurus, nah ketika sampai di perempatan lampu merah yang ada
terlihat tugu sepatu, silahkan anda belok kanan dan anda sudah masuk kawasan
Cibaduyut. Untuk harga sepatu, pelanggan dapat membelinya dengan harga
yang terjangkau tetapi tentunya dengan kualitas yang bagus. Oleh karena itu
Pemerintah Kota Bandung juga secara bertahap mengupayakan perbaikan
infrastruktur jalan, trotoar, drainase dan sarana perparkiran kawasan sentra
industry.
33Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan
Perindustrian Perdagangan (KUKM Perindag) Kota Bandung, jumlah usaha di
sentra sepatu Cibaduyut pada 2007 mencapai 845 unit yang menyerap sekitar
3.556 tenaga kerja. Investasi yang tertanam di sentra ini, diperkirakan,
mencapai Rp 23,72 miliar dengan kapasitas produksi lebih dari 4 juta
pasang/tahun. Sementara itu, industri pendukung yang ada meliputi 152 unit
showroom/outlet, 4 pusat perdagangan, 38 toko bahan baku dan bahan
penolong, 8 industri shoelast/acuan kasar, tiga industri peralatan dan sparepart,
15 industri kemasan, dan lima unit industri sol karet.
Ketersediaan outlet-outlet yang beragam pun dapat mempermudah
pelanggan untuk memndapatkan beragam jenis barang kesukaan nya dengan
berbagai macam tawaran harga. Selain itu, factor letak geografis yang sangat
strategis tersebut membuat pelanggan tidak harus repot-repot datang kesana,
karena berbagai fasilitas telah mendukung, misalnya dengan adanya ikon tugu
sepatu, kemudian juga nama centra Cibaduyut bahkan sudah terdengar hingga
sampai ke mancanegara. Hal ini sebenarnya memberikan penjelasan bahwa,
untuk
aspek geografis centra cibaduyut sangat mendungkung dalam
meningkatkan usaha-usaha kecil tersebut.
b. Analis SWOT
Analisa SWOT dianggap sebagai metode analisa yang paing dasar,
berguna untuk melihat suatu topik atau permasalahan dari 4 (empat) sisiyang
berbeda. Hasil analisa biasanya adalah arahan atau rekomendasi
untukmempertahankan kekuatan dan menambah keuntungan dari peluang yang
ada, sambilmengurangi kekurangan dan menghindari ancaman. Jika digunakan
dengan benar,analisa SWOT akan membantu kita untuk melihat sisi-sisi yang
terlupakan atau tidakterlihat selama ini. Penulis akan menanalisi pengusahaan
sepatu di Cibaduyut dengan menggunakan analisi SWOT:
34Kondisi Geografis Pengrajin Sepatu Di Cibaduyut Bandung,. ..(Rosita Manurung)
Kekuatan
Peluang
1. Memiliki ketermpilan yang berkualitas 1. Informasih tantang Centra Cibaduyut
tinggi
telah menyebar ke seluruh pelosok
2. Dapat memberikan keuntungan berupa
nusantara bahkan hingga ke manca
nilai tambah bagi penghasilan
Negara , sehingga ini bisa menjadi
3. Centra cibaduyut sudah terkenal hingga
modal awal bagi pengusaha untuk
ke manca Negara
melebarkan jaringan usanya
4. Pemerintah mulai memberikan dukungan 2. Kualitas yang setara dengan kualitas
dan fasilitas
impor memberikan peluang untuk
minat membeli masyarakat, karena
meskipun kualitas baik, tetapi harga
nya cukup terjangkau.
3. Sepatu Cibaduyut banyak diburuh oleh
wisatawan
4. Cibaduyut menjadi suatu daerah wisata
yang banyak mendapat pengunjung
wisatawan
Kelemahan
Ancaman
1. Pengusaha ada yang kurang mampu 1. Di Cibaduyut sendiri, jenis usahanya
dengan TIK (Teknologi dan Informasi)
tidak hanya sepatu, tetapi pengusaha
2. Terjadi persaingan kurang sehat antara
sepatu harus bersaing dengan usaha-
pengusaha, sehingga memungkinkan
usaha seperti jacket atau pun tas
terjadinya monopoli pasar
2. Saat ini marak sekali Negara kita
3. Banyak pengusaha yang beralih profesi
mengimpor sepatu-sepatu dari luar
karena menurut mereka menjadi
negri, pada hal kualitas sepatu di
pekerja sepatu kurang meberikan
Cibaduyut terbilang sangat baik. Untuk
peluang secara ekonmis
kualitas harga pun sebenarnya centra
4. Kurang tersedianya bahan baku
Cibaduyut menawarkan harga yang
cukup terjangkau dibandingkan sepatu
hasil impor.
3. Dukungan pemerintah meskipun ada
namun tidak terlalu berdampak, fokus
dukungan pemerintah hanya pada
perbaikan inspraktruktur, sedangkan
yang dibutuhkan pengusaha selain itu
adalah
peningkatan
kapasitas
pengusaha (SDM)
Dari hasil tabel di atas dapat penulis katakana bahwa, menurunnya daya
produksi sepatu di cibaduyut dikarenakan oleh :
- Kemampuan memberikan inovasi baru yang masih minim.
- Pengetahuan para pengusaha kecil yang masih belum memadai.
- Seharusnya pemerintah meberikan pelatihan-pelatihan yang sifatnya
mengasah kemampuan sumber daya pera pengusaha.
- Seharusnya pemerintah mengurangi impor sepatu dari luar negri dan
meningkatkan promosi produk-produk lokal tersebut.
- Pengusaha seharusnya menguasai penggunaan informasi dan teknologi, agar
dapat bersaing di era moderen ini.
35Jurnal Pendidikan dan Humaniora ISSN 1907-8005, Vol. 58. No.1 Desember 2017
KESIMPULAN DAN SARAN
Jika dilihat dari hasil pembahaasan tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa,
untuk analisis geografis tidak terlalu memberikan dampak negative, mala sebaliknya. Letak
geografis sangat memberikan dapak yang berguna bagi keberlanjuta usaha-usaha kecil
tersebut. Sedangkan untuk analisis SWOT, penulis menemukan beberapa kendala, dan
beberapa masalah serius yang menurut penulis bisa menjadi potensi buruk dalam
mempertahankan usaha-usaha kecil tersebut. Oleh karena itu pada bagian kritik dan saran
penulis berusaha memberikan kritik dan saran agar dapat dipertimbankan oleh seluruh
stakeholder.
Saran
Pemerintah kurang memberikan dukungan dalam mepromosikan hasil karya anak
bangsa, sehingga produknya tidak bisa berkembang.Seharusnya kapasitas sumberdaya
pengusaha dapat ditingkatkan sehingga mampu bersaing dengan barang-barang import
yang masuk. Pengusaha harus memiliki alternatif lain dalam menggunakan bahan baku,
jika dilihat dari bahan baku yang makin lama - makin berkurang.
DAFTAR RUJUKAN
Assauri, Sofjan, 2007. Manajemen Pemasaran, Rajawali Pers, Jakarta.
Bintarto.R dan Surastopo Hadisumarmo. 1979. Metodeanalisa Geografi. Jakarta: LP3ES.
BPS, 2010. Profil Industri Kerajinan Dan Rumah Tangga. [online]. Tersedia di
Perpustakaan UPI.
Convelo G. Cevilla, dkk. (1993). Pengantar Metode Penelitian. Universitas Indonesia.
Jakarta.
Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia, (Maret 1999). Badan
Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, Peristilahan Dalam
Perdagangan Berjangka Komoditi, Jakarta.
Heri Sudarsono (2008), Bank & Lembaga Keuangan Syari’ah. Yogyakarta: Ekonisia.
Cetakan ke-2.
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller, (2008). Manajemen Pemasaran, Jilid 1, Penerbit
Erlangga. Jakarta.
Mardalis (1999). Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Ed. 1, Jakarta: Bumi
Aksara. cet. 4.
Rais, Sasli, dan Wahkyudin. 2009. Pengembangan Pegadaian Syariah di Indonesia
dengan analisis SWOT. Jurnal Pengembangan Bisnis dan Manajemen
STIE PBM, vol. IX no. 14 April 2009.
Tulus T.H Tambunan. (2009). UMKN di INDONESIA, Ghalia Indonesia, Bogor.
Yuke Firmansyah Febrianto (2014). Profil dan Tanggapan Wisatawan Kawasan Wisata
Belanja Cibaduyut Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia |
repository.upi.eduperpustakaan.upi.edu
http://www.bedanews.com/ (di unduhpadatanggal 20 januari 2017)
http://nasional.kompas.com/(di unduhpadatanggal 20 januari 2017)
Lihat :Petagambarankelurahancibaduyuthttps://www.google.co.id/maps/@-
6.9571301,107.5928532,17z(di unduhpadatanggal 20 januari 2017)
Lihat :http://www.gabeboni.com/2015/09/wisata-belanja-ke-sepatu-cibaduyut.html?m=1(di
unduhpadatanggal 20 januari 2017)
Lihat :http://www.serbabandung.com/sentra-sepatu-cibaduyut/(di unduhpadatanggal 20
januari 2017).
36