Jumat, 01 Desember 2017

MODAL SOSIAL DALAM PERSPEKTIF EKONOMI PENDIDIKAN

Harmawan Teguh Saputra, SE., M.Si
FIP IKIP PGRI Jember

Abstract

College is social institution needed to produce educational  products  and services, which useful for the existence of individual, community, or nation and state. In the term of economic of education, education production processes consume resources which scarce or limited, so education stakeholders should be capable to use the available resources effectively and efficiently. Educational results can be categories as consumption and investment. As consumption, the results are immediately and directly enjoyable, called “outputs”. While as investment, education give benefits indirectly and in the long term continuously, named “outcomes”. Also the results can be differentiating as economic valued outputs and non-economic valued outputs.  The first one is outputs which potentially useful to get financial or monetary advantages, as knowledge and skills. While the second one is benefits which can not be measured as money, like friendship, happiness etc. The calculation of economical education results carried out by formulas: the earnings differentials, net present value, or internal rate of return, etc. This computation is very important to make decision or consideration in choose and continue study, to explain manpower condition, and to improve education program to meet with manpower demand.

Key words: educational production, outputs, outcomes, consumption, investment, and economicor non-economicvalue.


Pendahuluan

       Masyarakat modern tidak dapat dilepaskan dari peran Perguruan Tinggi khususnya  Perguruan Tinggi karena lembaga tersebut menjadi tumpuan utama untuk mendidik anak-anaknya. Peran strategis itu dapat dipahami sebab dalam masyarakat modern, pada umumnya ketersediaan waktu orangtua lebih banyak untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarga yang terus meningkat sejalan dengan perkembangan jaman. Untuk itu pendidikan anak-anak mereka tidak lagi dapat dilakukan secara intensif di dalam lingkungan keluarga atau masyarakat secara sendiri-sendiri, tetapi lebih banyak diserahkan kepada Perguruan Tinggi seperti sistem Perguruan Tinggi.

Pemahaman lebih banyak diserahkan ke PERGURUAN TINGGI tersebut berimplikasi bahwa meskipun tanggung jawab pendidikan generasi muda diserahkan kepada PERGURUAN TINGGI, namun keluarga dan masyarakat tetap memiliki tanggung jawab untuk mendukung penyelenggaraan pendidikandi PERGURUAN TINGGI itu. Tanggung jawab bersama tersebut oleh Downey (Sutisna, 1989) dapat dipilah menjadi tugas-tugas primer dan sekunder, baik menyangkut dimensi pribadi, kecerdasan, sosial,maupun dimensi produktif, sebagaimana deskripsi dalam tabel berikut.
Tabel 1. Prioritas Tugas Pendidikan di PERGURUAN TINGGI dan di Luar PERGURUAN TINGGI


PERGURUAN TINGGI                  Keluarga dan Masyaraka tEdukatif

1.
Keterampilan intelektual: cara-cara
1.
Kesadaran beragama.

Memperoleh dan mengkomunikasikan
2.
Kesehatan fisik.

Ilmu pengetahuan.
3.
Stabilitas emosi.
2.
Kreativitas dan kemampuan
4.
Integritas moral.

Memecahkan masalah.
5.
Keterampilan sosial.
3.
Hasrat akan pengetahuan: kesukaan
6.
Kemampuan kewarga-negaraan.

Akan belajar
7.
Keterampilan konsumen.
4.
Pengetahuan tentang: manusia,dunia
8.
Patriotisme.

pekerjaan,dunia fisik dan ekologi,
9.
Rumahdan hidup keluarga.

Warisan budaya,nenek moyang dan
10.
Persiapan untuk bekerja.

tetangga,tanggungjawab warga



negara.


5.
Persiapan untuk bekerja:informasi dan



latihan.



A.  Tugas Primer, mengajar dan melatih dalam:

A.  TugasPrimer,menjalankan kepemimpinan dalam mengembangkan:
B.  Tugas Sekunder, melengkapi keluarga dan masyarakat dengan:
1.     Memupuk kemampuan sosial dalam hubungan antar manusia, tanggungjawab warganegara,loyalitas dan patriotisme.
2.     Menyediakan suatu lingkungan dan pengajaran untuk kesejahteraan pribadi dalam kesadaran beragama,kesehatan fisik,stabilitas emosi,integritas moral, dan apresiasiestetik.

B.  Tugas Sekunder,melengkapi dan memperkuat PERGURUAN TINGGI dalam tugas-tugas primernya.


Sumber: Lawrence Downey dalam Sutisna (1989) dengan modifikasi tampilan oleh penulis (untuk memudahkan perbandingan).

Sementara itu Leslie dan Brinkman (1993) mengemukakan bahwa tujuan dan sasaran pendidikan,antara lain: meningkatkan kesempatan pendidikan, meningkatkan  pertumbuhan dan produktivitas ekonomi, menyediakan tenaga kerja terlatih,mencapai berbagai tujuan sosial khusus, mengembangkan warga Negara yang terdidik,dan menciptakan ilmu pengetahuan dan melaksanakan pembelajaran. Berdasarkan pendapat inidan rincian tugas di atas dapat dinyatakan bahwa Perguruan Tinggi mempunyai spectrum tugas dan tanggungjawab yang sangat luas, dari yang bersifat pengembangan individual sampai pengembangan sosial dan nasional. Dengan katalain, tanpa mengabaikan tugas dan kewajiban bersama diantara masyarakat dan pemerintah, Perguruan Tinggi berkewajiban mempersiapkan generasi muda agar mampu berkiprah dalam suatusi stemsosial dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hasil dari pelaksanaan tugas dan kewajiban Perguruan Tinggi adalah keluaran yang berupa output atau outcome. Suatu produk diperoleh melalui proses pengolahan input dengan menggunakan berbagai sumberdaya, baik yang bersifat personal, material maupun finansial. Dalam kaitan ini Fitz-enz (2000) mengemukakan bahwa"All processes share acommon pattern. Theyconsume resources, andthey generate a product or a service". Dengan demikian diperlukan pengorbanan berbagai sumber daya untuk menghasilkan suatu keluaran Perguruan Tinggi.Ketersediaan sumber daya itu, sesuai hukum ekonomi, seringkali sangat terbatas atau langka (scare). Oleh karena itu pendidikan dapat dipandang sebagai "barang ekonomi", yakni barang yang memerlukan usaha atau pengorbanan untuk memperolehnya. Dalam konteks ini Johns dan Morphet (1975) menyatakan bahwa "education isaneconomic good regardless of whetheriti

producedinthepublic  or  in  the  privateeconomy".Dengan  kategorisebagai barangekonomitersebutmaka sungguhmenarikuntukmengkajioutputPerguruan Tinggi dari perspektif ekonomi pendidikan.
Dalam kesempatanini,kajiandifokuskanpadapermasalahansebagai berikut.
a.  ApasajakahyangmenjadioutputPerguruan Tinggi,danoutputpendidikan manakah yang mempunyainilai ekonomi?
b.   Bagaimanakah  cara  menghitung  nilai  ekonomi  dari  output  Perguruan Tinggi?
c.  MengapaperhitungannilaiekonomisdarioutputPerguruan Tinggisangat diperlukan?


2. Konsep Dasar Ekonomi Pendidikan

Ekonomipendidikan,menurutWoodhall(dalamPsacharopoulos, 1987), merupakan cabangdariteoriekonomiyangberkembangsangatcepatsejak1960- an.Awaltahun1960-anmerupakan kemunculansecaraformaldariekonomi pendidikan,yangjauhsebelumnyatelahdimulaidengan kajiantentangmodal manusia (human capital)yang bersifat sporadissepertiyang dilakukanoleh Smith (1776), Strumilin(1924),dan Walsh(1935).Vaizey(1962)jugamengemukakan adanya  pakarlain yang menggagas kemunculan ekonomi pendidikan melalui kajianseputarperanpendidikanatauperPerguruan Tinggi dalampeningkatan kesejahteraan  penduduk, seperti yang dilakukan John Stuart Mill (1867) dan AlfredMarshall  (1890).  AdapunCohn  (1979)  menyebutkannama-nama yang terkait dengan kajian ekonomi pendidikan antara lain: Heinrich von Thunen,

DavidRicardo,Jean-BaptisteSay,NassauSenior,FrederichList,Henry McLead, William Roscher, Leon Walras, Walter Bagehot, dan Henry Sidwick.
Teoriekonomipadadasarnyaadalah teoripilihmemilihuntuk memaksimalkan kepuasanberbagai kebutuhanberdasarkan keterbatasan sumberdaya (Sumarsono, 2003). Oleh karenaitu “ekonomi”  dapat diartikan sebagai "thestudyofchoice" (Johnes,1993)atau"thestudyoftheproductionand distributionof allscarce resources" (Cohn,1979).LebihlanjutJohnes mengemukakan bahwa“pendidikan” dapatdiartikansebagai penambahan persediaanketerampilan,ilmupengetahuandanpemahaman baikolehindividu maupunolehmasyarakatsecara keseluruhan.Untukituekonomipendidikan berkenaan dengancaradimanaberbagaipilihanditetapkanuntukmengubah persediaan tersebut, baik oleh individu yang memerlukan pendidikan maupun oleh guru dan lembaga yang menyediakan layanan pendidikan.


Berdasarkan berbagaipengertian tersebutdapatdisimpulkanbahwa ekonomi  pendidikan  merupakan  kajian  tentang   bagaimana  individu  dan masyarakat membuatpilihanpenggunaansumberdaya produktifyanglangkaatau terbatas didalamrangkaproduksidandistribusipendidikan,dalambentukupaya menambah,meningkatkanataumengembangkanpenguasaanilmupengetahuan saat ini dan masa yang akan  datang
3. Sistem Produksi Perguruan Tinggi

Perguruan Tinggiyang dimaksudkandisiniadalahlembagaformal dalam  bentuk  PERGURUAN TINGGI. Menurut  Becker  (1993), PERGURUAN TINGGI  dapat didefinisikan sebagai "institusiyang mengkhususkanpadaproduksi pelatihan,untuk membedakan denganperusahaanyangmenawarkanpelatihandalamrangka produksi barang". SementaraituCohnmenyatakanbahwa"Fungsi produksi pendidikanpadaprinsipnyasamadenganfungsiproduksilain"(1979).
Dalamhal


inisepertihubunganmatematik  yangmenggambarkanbagaimanasumberdaya (inputs)dapatdiolahmenjadikeluaran (outputsatauoutcomes),atauseperti dikemukakan   Hanushek  (dalam   Psacharopoulos,  1987)  bahwa  "production functionrelatethevariouseducationalinputsto educationaloutputs". Dengan demikianprosespengolahan inputspendidikanmenjadioutputsatauoutcomes merupakan unsur pentinguntukmenggambarkanfungsiproduksipendidikan secara lengkap.
Cohn(1979)menjelaskan bahwa inputpendidikanmeliputikarakteristik siswa,faktor-faktor PERGURUAN TINGGI(schoolfactors)danpengaruh laindarilingkungan masyarakat(non-schoolfactors).InputPERGURUAN TINGGImencakup unsursumberdaya manusia danfisik. Sumberdaya  manusiaantara lain: guru, kepala PERGURUAN TINGGI, pegawai administrasidanstaf pendukunglain, konselor, laboran,dan pustakawan. Karakteristiksumberdayamanusiatersebut --sepertipendidikan,pengalaman, motivasi,bebantugasdaninsentifyang diberikan--dapatmempengaruhiproses pendidikan dan selanjutnyaberdampak padahasilpendidikan. Adapununsurfisik meliputiantara lain:karakteristikbangunan,jumlahdankualitasperalatan pendidikan, buku, dan peralatan pendukung pembelajaran lainnya.
Sementara ituinputnon-PERGURUAN TINGGImencakupantaralain:temansejawat, statussosialekonomiorang tua(pendidikan,pendapatan,kepemilikanbukudi rumah),suku,ukurankeluarga,karakteristiklingkungan siswa(sepertitingkat urbanisasi,tingkatkemakmurandanstandarperumahan,  komposisipenduduk, rata-rata pencapaianpendidikanorangdewasa,danrata-rata pendapatandan kesejahteraan). Faktor-faktorinidapatsecaralangsungmaupuntidaklangsung mempengaruhi pretasi belajar siswa.


Inputpendidikanmerupakanbahandasardariproses pendidikanuntuk menghasilkan outputpendidikan.Menurut Schultz(dalam Cohn, 1979),output pendidikandapatdiklasifikasikanmenjadiduakategori,yaitu sebagai konsumsi dan investasi.DalamkonteksiniVaizey (1962)menganalogikan konsumsiseperti membeli rotiataususu,sebagai sesuatuyang langsungdapatdinikmati,sementara investasi,seperti membelimesinatau membanguntoko,merupakanbentuk pengeluaran saat ini untuk mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang. Untuk itu "investment  is restricted to a single period and returns to all  remaining periods"(Becker, 1993).Dengandemikiankonsumsidapatdiartikansebagai bentukpengeluaranyangdapatlangsungatausegera dinikmatihasilnya; dan investasimerupakanbentukpengeluaran saatiniyangbarudapatdinikmati hasilnya  setelahjangka waktu tertentu, secara berkelanjutan  dalam jangka panjang.

Dengan demikiandapatdisimpulkanbahwa hasil-hasilpendidikandapat dinikmatioleh individumahasiswa,keluarganya,masyarakat dannegarapada umumnya. Keuntungantersebutbaikberupa konsumsi(dapat dinikmatisecara langsung dalamjangkapendek)maupuninvestasi(yangdapatdinikmatihasilnya setelah dalam jangka waktu yang relatif lama).
Bagaimanapun hasil-hasilpendidikandiatas,sangattergantungpadacara pemrosesaninputsyang tersedia.MenurutKidwelldanO'Brien (dalamJohnson danRush,1995),suatuproses adalah"….aseriesoflinked activitiesinwhichan inputistransformedintoanoutputanda tangibleproductisdeliveredtoan external customer". Jadiprosesdapatdiartikansebagaiserangkaiankegiatanyang saling terkaitdimanasuatuinputdiolahmenjadisuatuoutput,dansuatuproduk nyata disampaikankepadapelangganeksternal.



4. Output dan Outcome Perguruan Tinggi

Terminologi  "output"  lembaga   pendidikan   seringkali  disilang-pakai denganistilah"outcome"karena secaraleksikalkeduaistilahtersebutmempunyai artiyangrelatifsama.MenurutHornby(1987),"Output" adalah"1.quantityof goods,etc., product…2.power,energy,etc. produced.3.informationproduced fromacomputer";dan"Outcome" adalah"effectorresultof anevent, orof circumstance".Jadiartikeduaistilahtersebutlebihkurangsamadengan"hasil,
produksi,atauakibat"(lihatEcholsdanShadily, 1990).Menuruthematpenulis, dalam bidangekonomipendidikan, keduaistilahtersebut perludibedakanuntuk memudahkan menentukanposisi"hasil pendidikan"tersebutdidalam perhitungan keuntungan yangdiperoleh dari  suatu proses produksi pendidikan.  Untuk itu proses produksi pendidikan tersebut dapat digambarkan sama seperti proses
pendidikan yang dikemukakan oleh Chapman (2002)
Sebagaimana dijelaskandimukabahwa prosesproduksipendidikanselalu menggunakan berbagaisumberdayayangterbatas.Berkenaandenganitu diperlukanupaya untukmenggunakanberbagaisumberdayatersebutsecara berdayaguna  danberhasilguna untuk menghasilkan suatu keluaran pendidikan yang sesuaidengankebutuhan.Dalam terminologiekonomipendidikan,upaya menghubungkanpenggunaansumberdaya (input)secaratepatgunadan berdayagunadidalamprosesproduksiuntukmenghasilkankeluaran(outputdan


outcome)merupakanpemasalahan  efisiensi,sebagaimanapenyataanWoodhall (dalam Psacharopoulos,1987)bahwa"Theterm'efficiency'alsorefersto relationshipbetweentheinputsandoutputsofaprocess,andcanbeappliedto the education ".
Ada berbagaimacamjenisefisiensi dalamekonomipendidikan. Hanushek (dalamPsacharopoulos,1987)membedakan adanyaefisiensiekonomisdan efisiensi teknis, dengan pengertian sebagai berikut.
"Economicefficiencyreferstothecorrectchoiceofinputmixgiventhepricesofinputs (andtheproduction function).Technicalefficiencyreferstooperatingontheproduction frontier,thatis,maximizingoutputforagivensetofinput".

Dengan demikian"efisiensiekonomi" berkenaandengan pilihanyang tepat dalam mengkombinasikanberbagai input(dengan memilihhargatermurah)dalam proses produksi untukmenghasilkan suatu produktertentu. Kombinasi inputdapat dilakukandenganmerealokasipenggunaanberbagai sumberdaya yang ada,untuk ituefisiensiekonomiiniseringkalidisebutjugasebagai"efisiensialokatif" (lihat Johnes,1993). Contoh dalam pendidikan misalmengkombinasikan antara penataranguru, penggunaanbukupelajaran,dankomputeratauaudio-visualaid untukmeningkatkankualitaspendidikan.Sedangkan"efisiensiteknis" berkenaan denganupaya memaksimalkanprosesproduksidenganmenggunakanteknikdan atau teknologi tertentu.Penggunaan penggunaanwhite-board,OHP,danin-focus merupakan contoh-contoh bentuk efisiensi teknis dalam pendidikan.

Efisiensijuga dapatdilihatdarisegi lingkupinstitusiatausistem pendidikan,yang mencakupefisiensiinternaldanefisiensieksternal. Woodhall (dalamPsacharopoulos,1987)mengemukakan bahwaefisiensiinternalberkenaan denganhubunganantara inputdanoutput institusi pendidikan(PERGURUAN TINGGI),  atau dalam sistem pendidikan secara  keseluruhan. Konsep  hubungan  ini disebut dengan   "efisiensi  internal",  untuk  membedakan  dengan   konsep  "efisiensi eksternal"yangterkaitdenganalokasiberbagaisumberdayauntukkepentingan lain di dalam masyarakat. Sementara itu Depdiknas (2002) menyatakan bahwa:
"Maksudefisiensiadalahagarsasarandibidangpendidikan dapatdicapaisecaraefisien atauberdayaguna dalamartidapatmemberikanhasilyangbaikdengantidak menghamburkansumberdayayangadasepertiuang,waktu,tenaga,dansebagainya".


Pendidikandapatmemberikan keuntunganbagiindividudanmasyarakat, baiksecaralangsungatautidaklangsung, bersifatkonsumtif(dapatdinikmatisaat


mengikuti pendidikanataubegituselesaimenjalanipendidikan) daninvestatif (dinikmatisecara berkelanjutanselangbeberapawaktusetelahselesaimengikuti pendidikan),sertadapatbersifat moneterataunon-moneter(Cohn,1979;Solmon dalamPsacharopoulos,1987;Leslie danBrinkman,1993).Berbagaikeuntungan tersebutdapat dilihat pada bagian 2 di muka.
Sebagai rangkumandaribentuk-bentuk outputdanoutcometersebut,dan dengan mengacukepadagambaryangdikemukakanChapmandanMuljani(t.t.), makadapatditampilkangambar sistemproduksipendidikan,denganunsur-unsur: input,proses,outputsdanoutcomes,sertafaktorPERGURUAN TINGGIdanfaktornon-PERGURUAN TINGGI

4. Pengukuran Nilai Ekonomis Output dan Outcome Pendidikan

Drucker, sebagaimanadikutipFitz-enz(2000) mengklaimbahwa "tantanganterbesarbagiorganisasipadahariinidandekade mendatangpaling tidakadalah menanggapiperubahandarieraindustrikeekonomiilmu pengetahuan".Implikasinya, setiaporganisasi(termasuk Perguruan Tinggi) harus dapat secaraproaktifmenanggapi tantangantersebut, agardapattumbuh secara berkelanjutan.Salahsatustrategiyangdapat ditempuholehPerguruan Tinggi adalahmempersiapkandanmenghasilkanlulusanyangmemilikiilmu pengetahuan danketerampilanyangbernilaiekonomis.Dengandemikian pendidikan,apapunjenis  dantingkatnyaharus dapatmemberikankeuntungan ekonomis, baik bagi individu, masyarakat maupun negara.
Individu, masyarakatdannegaratelahmempertaruhkansebagian penghasilan danatau anggaran untuk berinvestasi dalam bidang  pendidikan. Untukituwajarapabilanilaiekonomisdari investasipendidikan tersebutperlu diidentifikasidandiukur,baikbagiindividu,masyarakatmaupunnegara.Untuk

melakukan berbagaiperhitunganpengukurannilaiekonomisdarikeluaran pendidikan tersebutadabaiknya terlebihdahulumengkajipeta biayadan keuntungan pendidikansebagaimanadikemukakanolehLesliedanBrinkman (1993) dalam gambar berikut ini.
Gambar 3
Kerangka Kerja Biaya-Keuntungan


Biayatidak
I        langsung

Keuntungan
Moneter             III






Biaya


Keuntungan

Keuntungan
Konsumsi
Langsung
Non-moneter
Dan
Keuntungan
Investasi
Biaya
Individu

Keuntungan
Individu

II
IV










Dari   gambar   tersebut  dapat  diketahui  bahwa   untuk  menghitung keuntungan  ekonomisdiperlukan  data tentang biaya tidak langsung (sering disebutjuga sebagaiopportunitycostatauimputedcost)danbiayalangsung. Sementaraitukeuntunganyang diperolehdapatberupakeuntunganyangbersifat konsumtifdan keuntunganyangbersifatinvestatif.Untukmemperkirakan keuntunganekonomisataumoneter,selanjutnyaLeslie danBrinkman(1993) mengajukantigacarayakni melaluiperhitunganearningsdifferentials,perkiraan Net Present Value(NPV), dan perhitunganprivate rate of return.
Perhitungan earningsdifferentials dilakukan  dengan menghitung perbedaanpenghasilanantara lulusanjenjangpendidikantertentudengan penghasilandarilulusanjenjang pendidikanlainnya.Sebagaicontohperbedaan penghasilanperguruantinggidengnanlulusanPERGURUAN TINGGImenengah,atauPERGURUAN TINGGI


dasar.Sementaraituperkiraan NPVdilakukandenganmenghitungnilaisaatini darijenjangpendidikantertentusetelahdikurangiberbagaibiayayang telah dikeluarkan selamamengikutijenjang pendidikantersebut,setelahdandikoreksi (disesuaikan) berdasarkan perubahan nilai uang.
Sebagaimana diketahuisetiaptambahansatutahunPERGURUAN TINGGIberarti,disatu pihakdapatmeningkatkankemampuan kerjadanpenghasilan seseorang,tetapidi pihaklain,menundapenerimaan penghasilanselamamengikutiPERGURUAN TINGGItersebut. Selain menundapenerimaan penghasilan tersebut, orang yang  melanjutkan PERGURUAN TINGGI harusmembayarsecara langsunguangPERGURUAN TINGGI,pembelianbukudanalat PERGURUAN TINGGI, transpor dansebagainya. Jumlah keseluruhan biayayang dikeluarkan dan penghasilanyangseharusnya diterimatersebutmerupakanangkauntuk mengurangipenghasilanseumurhidupyangbersangkutan sehinggadapat diperoleh perkiraan NPV.
Selanjutnya untukmenghitungtingkatkembalianindividudigunakan ukuran TingkatKembalianInternal(InternalRateofReturnatauIRR).Dalamhal iniIRRdarimelanjutkanPERGURUAN TINGGIdalamwaktutertentuadalah tingkatdiscount yang mempersamakanhasildarimelanjutkanPERGURUAN TINGGItersebutdenganbiayatotal. BiayatotaluntukmelanjutkanPERGURUAN TINGGIadalahjumlahbiaya tidaklangsung (opportunitycosts)danbiayalangsung.Selanjutnya denganmengubahformula biayaindividumenjadibiayasosial,yang mencakuppengeluaranindividutadi, ditambahdenganbiayayang ditanggungolehmasyarakatdanpemerintahmaka dapat dihitung pula keuntungan sosial dari pendidikan yang bersifat moneter.
Berbagaiperhitungankeuntungandarikeluaran pendidikansepertidiatas, menurut Sumarsono (2003) dapat digunakan untuk beberapa hal, antara lain:


(a) Sebagaidasar  pengambilankeputusanmengenaiapakahseseorangakan melanjutkan PERGURUAN TINGGIatautidak.
(b) Untukmenerangkansituasisepertipertambahanpengangguran dikalangantenagakerja terdidikIndonesia.
(c) Untukmemperkirakantambahanpenyediaantenagakerjadarimasing-masing jenisdan tingkatpendidikanuntukbeberapatahunkedepan.
(d) Untukmenyusunkebijaksanaanpendidikandanperencanaantenagakerja.
(e)Untukmenentukanapakahsuatuprogram pendidikantertentucukupbaikuntuk diselenggarakan atautidak,dandalamhalinipemilihanprioritasdariberbagaialternatif programpendidikanyangterbuka.



Dengandemikiandapatdisimpulkanbahwaperhitungan ekonomisdari keluaran(outputdanoutcomes)Perguruan Tinggipada dasarnyadapat digunakan:(1)sebagaidasar pengambilankeputusanuntukmelanjutkanPERGURUAN TINGGI atau tidak,(2) untukmenerangkan situasikerja atau kondisiketenaga-kerjaan, dan (3) untuk menyusun kebijakan pendidikan dan perencanaan ketenaga-kerjaan.




5. Penutup

Pendidikandapatdipandangsebagaiprosesproduksiyang berfungsi mengolahmasukan(input)denganmenggunakanberbagaisumberdaya untuk menghasilkan keluaran, berupa  output dan outcomes. Keluaran pendidikan tersebut dapatbernilaiekonomisdan non-ekonomis.Untukitunilaiekonomis pendidikanperludipahamiolehparapemangkukepentinganagarsumberdaya yangterbatasdapatdimanfaatkansecaraefektifdanefisien. Demikianlahmaka perspektif ekonomipendidikanpada prinsipnyadapat membantuindividu, masyarakat dannegara didalammemilihdanmenyelenggarakanpendidikanyang sesuai dengan tuntutan pasar tenaga kerja.




DAFTAR PUSTAKA


Anderson, L. dan Windham,D.G.(eds) (1982). Education and Development: Issuesin the Analysis and Planning of Postcolonial Societies.Lexington, Massachussetts, Toronto: Lexington Books -D.C. Heath and Company

Becker, G.S. (1993). Human Capital: A Theoritical and Empirical Analysis, with Special Referenc eto Education (thirded.). Chicago:   The Universityof Chicago Press.

Chapman, D. (2002). Management and Efficiencyin Education: Goalsand Strategies. Manila-Hongkong: Asian Development Bank and Comparative Education Research Center, The University of Hongkong.

Cohn, E.(1979). The Economics of Education. Cambridge, Massachusetts: Ballinger Publishing Company.


Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Pengkajian13 Indikator Pendidikan. Jakarta: PDIP Balitbang Depdiknas.

Fitz-enz, J. (2000). The ROI of Human Capital: Measuring the Economic Value of Employee Performance.NewYork: American Management Association (AMACOM).

Leslie, L.L., dan Brinkman, P.T., (1993). The Economic Value of Higher Education. Phoenix: The Oryx Press.

Muljani, A. N.(t.t.).Pengantar Ekonomi Pendidikan: Suatu Perkenalan Singkat. Hand-out Kuliah Ekonomi Pendidikan. Jurusan Administrasi Pendidikan, FIP UNY.

Sukirno, S. (2000).Pengantar Teori Mikro ekonomi (EdisiKedua).Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.

Sumarsono, S.  (2003). Ekonomi  Manajemen  Sumberdaya  Manusia  dan Ketenagakerjaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sutisna, O. (1989). Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional. Bandung: Angkasa.

Vaizey. J. (1962). The Economics of Education. London: Faber and Faber Limited.