Minggu, 24 September 2017

EFEKTIVITAS LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA UNDERACHIEVER PADA SISWA DI SD NEGERI 2 BALUNG

Weni Kurnia Rahmawati
Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP PGRI Jember
Email: weni.kurnia240988@gmail.com

ABSTRACT
The problems or the study is how group guidance can improve students’ learning motivation underachiever in SD Negeri 2 Balung?. The purpose of the study is to obtain the effectiveness of group guidance in improving students' learning motivation underachiever. The method applied in this study is action research. The method of sampling of this study is using purposive sampling technique. The results of study shows that the implementation of appropriate group guidance can improve student motivation underachiever. It is said that the result of descriptive analysis of percentage at the initial condition of student learning motivation level of 48.71%, then after given the group guidance service in cycle 1 increased to 60.71%, then increased again in cycle 2 to 79%.

Keyword: group guidance, learning motivation and underachiever


PENDAHULUAN
Motivasi belajar merupakan hal yang penting bagi siswa, motivasi belajar sangat dibutuhkan dalam pembinaan perkembangan anak agar mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Motivasi akan menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar siswa. Supaya dapat mencapai prestasi belajar yang optimal siswa harus memiliki motivasi belajar yang tinggi. Motivasi sangat dibutuhkan bagi siswa yang berkemampuan tinggi maupun siswa yang berkemampuan rendah. Siswa yang berkemampuan tinggi apabila tidak diberi motivasi maka hasil belajarnya akan menurun. Sedangkan siswa berkemampuan rendah apabila tidak diberi motivasi maka akan mengalami gangguan belajar dan tidak bisa meningkatkan kemampuan akademiknya.
Selama kegiatan belajar mengajar sangat terasa sekali perbedaan motivasi belajar pada siswa yang normal dengan siswa yang tergolong dalam underachiever. Siswa  underachiever  cenderung pasif dan  tidak memiliki ketertarikan mengikuti pelajaran yang berlangsung. Jarang mengerjakan tugas rumah, lamban jika menyelesaikan tugas di sekolah, dan kurang cepat menangkap apa yang dikatakan oleh guru, merupakan beberapa ciri yang ada pada anak-anak underachiever di SD Negeri 2 Balung. Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi yang rendah yang dimiliki siswa underachiever mengakibatkan rendahnya prestasi belajar mereka. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus, maka siswa akan semakin kurang bersemangat belajarnya.
Pemberian motivasi telah dilakukan bagi disetiap kelas dengan berbagai cara, ceramah bimbingan, pemberian reward dan punishment sampai pelaksanaan pendampingan khusus bagi anak yang berkebutuhan khusus telah dilakukan guna meningkatkan motivasi belajar  siswa underachiever. Akan tetapi, upaya tersebut tidak memberikan perubahan, pasalnya hasil belajar siswa  underachiever  lebih rendah dari kemampuannya. Berdasarkan masalah yang terjadi di SD Negeri 2 Balung ini, penulis memandang  perlu menggunakan layanan bimbingan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, dan dari beberapa layanan bimbingan konseling, bimbingan kelompoklah  yang  diduga  paling tepat digunakan, karena dengan bimbingan kelompok siswa yang tergolong dalam  underachiever  tidak akan merasa di bedakan sebab dalam bimbingan  kelompok nanti mereka akan berbaur dengan teman lainnya dalam kelompok kecil yang santai namun tetap serius dan terarah. Oleh karena itu, penulis mengangkat  judul  “Efektifitas Layanan Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Underachiever  pada Siswa Kelas 6 SD Negeri 2 Balung”.
Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: Apakah bimbingan kelompok  dapat meningkatkan motivasi belajar siswa underachiever SD Negeri 2 Balung?. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan gambaran empirik efektivitas bimbingan kelompok  dalam meningkatkan motivasi belajar siswa underachiever.
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Dalam belajar, motivasi sangatlah penting karena sebagai modal yang berkaitan dengan semangat dan kebutuhan dalam melakukan kegiatan belajar. Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Ciri-ciri siswa yang memiliki motivasi belajar menurut Sardiman (2011: 83) adalah:
  1. Tekun menghadapi tugas
Anak yang tekun dalam mengerjakan tugas mempunyai kebiasan dapat bekerja keras terus menerus dalam waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai, dan akan lebih memunculkan kreatifitas dalam mengerjakan tugas-tugasnya.
  1. Ulet menghadapi kesulitan
Anak yang ulet dalam menghadapi kesulitan tidak lekas putus asa ketika mengalami segala persoalan apapun, lebih suka mencari alternatif penyelesaian suatu kesulitan daripada mengeluh, fokus jika diberikan tantangan.
  1. Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi
Anak yang memiliki motivasi dalam belajar akan mempunyai semangat tersendiri dalam berprestasi tentunya tanpa iming-iming hadiah (reward).
  1. Ingin mendalami bahan atau bidang pengetahuan yang diberikan
Siswa mempunyai sifat ingin tahu yang tinggi, Sering mengajukan pertanyaan yang baik, Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, memiliki daya imajinasi kuat.
  1. Selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin
Anak yang memiliki ciri ini tidak cepat puas dengan prestasinya, selalu ingin meningkatkan kemampuan yang dimiliki untuk lebih baik lagi.
  1. Senang, rajin belajar, dan penuh semangat
Siswa yang memiliki ciri tersebut akan mudah menangkap pelajaran, senang dan sering membaca, mempunyai daya konsentrasi yang baik, mempunyai pemahaman dan lebih tekun dalam menangkap materi pelajaran, serta anak yang rajin belajar memiliki daya ingat yang baik, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali.
  1. Dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya kalau diyakini itu benar
Anak lebih berani mengeluarkan pendapat, bebas dalam menyatakan pendapat, tidak goyah dengan tekanan yang membuatnya melepaskan pendapatnya yang diyakini itu benar.
  1. Mengejar tujuan-tujuan jangka panjang
Anak dengan ciri ini memiliki orientasi masa depan, tidak berfikir kesenangan saat ini, semua yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik, memiliki daya imajinasi dan pengamatan yang cermat tentang masa depan.
  1. Senang mencari dan memecahkan soal-soal
Anak menyukai tantangan, mencari pemecahan atas soal-soal yang dihadapinya, cenderung mencari persoalan yang menurutnya perlu adanya penyelesaian, senang mencoba hal yang baru.
Menurut Davis & Rimm (dalam Munandar, 2004: 239) underachievement atau berprestasi di bawah kemampuan ialah jika ada  ketidaksesuaian antara prestasi sekolah anak dan indeks kemampuannya sebagaimana nyata dari tes inteligensi, prestasi atau kreativitas, atau dari data observasi, dimana tingkat prestasi sekolah  nyata lebih rendah daripada tingkat kemampuan anak. Underachiever adalah anak yang berprestasi rendah dibandingkan tingkat kecerdasan yang dimilikinya. Prestasi rendah ini bukan disebabbkan oleh adanya hambatan dalam menguasai pelajaran yang diberikan dalam proses belajar mengajar (Gustian, 2002: 30).
Underachiever banyak dialami oleh siswa di sekolah mereka menentukan prestasi yang tidak sesuai dengan IQ yang dimilikinya. Menurut Whitmore (dalam Munandar, 2004: 243) menyebutkan ada beberapa kriteria yang biasanya ada pada siswa underachiever, yaitu:
1.      Nilai rendah pada prestasi
2.      Mencapai nilai rata-rata atau dibawah rata-rata kelas dalam keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung
3.      Pekerjaan sehari-hari tidak lengkap atau buruk
4.      Memahami dan mengingat konsep-konsep dengan baik jika berminat
5.      Kesenjangan antara tingkat kualitatif pekerjaan lisan dan tulisan (secara lisan lebih baik)
6.      Pengetahuan faktual sangat luas
7.      Daya imajinasi kuat
8.      Selalu tidak puas dengan pekerjaannya
9.      Kecenderungan perfeksionisme dan mengkritik diri sendiri, menghindari kegiatan baru seperti untuk menghindari kinerja yang tidak sempurna
10.  Menunjukkan prakarsa lain mengerjakan proyek di rumah yang dipilih diri sendiri
11.  Mempunyai minat yang luas dan keahlian yang khusus dalam suatu bidang penelitian
12.  Rasa harga diri rendah nyata dalam kecenderungan untuk menarik diri atau menjadi agresif di dalam kelas
13.  Tidak berfungsi konstruktif di dalam kelompok
14.  Menunjukkan kepekaan dalam persepsi terhadap diri sendiri, orang lain, dan hidup pada umumnya.
15.  Menetapkan tujuan yang tidak realistis untuk dirinya sendiri (terlalu tinggi atau terlalu rendah)
16.  Tidak menyukai pekerjaan praktis atau hafalan
17.  Tidak mampu memusatkan perhatian dan berkonsentrasi pada tugas-tugas
18.  Mempunyai sikap negative terhadap sekolah
19.  Menolak upaya guru untuk mermotivasi atau mendisiplinkan perilaku di
dalam kelas
20.  Mengalami kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya, kurang dapat mempertahankan persahabatan
Bimbingan kelompok merupakan upaya pemberian bantuan kepada siswa melalui kelompok untuk mendapatkan informasi, baik tentang pendidikan, karier, pribadi,dan sosial agar dapat menyusun rencana, membuat keputusan yang tepat, serta untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman terhadap dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan dalam menunjang terbentuknya perilaku yang efektif.
Dalam  Bimbingan  Kelompok   ada komponen–komponen  yang harus diketahui sehingga Bimbingan Kelompok dapat berjalan. Menurut Prayitno (2004: 4) Komponen Bimbingan kelompok yaitu.
1.         Pemimpin Kelompok
Pemimpin Kelompok  (PK) adalah konselor yang terlatih dan berwenang menyelenggarakan  praktik konseling professional.
2.         Anggota Kelompok
Tidak  semua kumpulan atau individu dapat dijadikan anggota bimbingan kelompok. Untuk terselengaranya Bimbingan Kelompok seorang  konselor harus membentuk kumpulan individu menjadi sebuah kelompok yang memiliki persyaratan sebagaimana tersebut. Besarnya kelompok (jumlah anggota kelompok) dan homogenitas/ heterogenitas anggota kelompok dapatmempengaruhi kinerja kelompok.
3.         Dinamika Kelompok
Dalam kegiatan Bimbingan Kelompok dinamika Bimbingan  Kelompok sengaja ditumbuh kembangkan, karena dinamika kelompok adalah hubungan interpersonal yang ditandai dengan semangat, kerja sama antar anggota kelompok, saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan mencapai tujuan kelompok.
Tahap-tahap bimbingan kelompok dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Tahap pembentukan ( awal )
Tahap ini tahap pengenalan dan keterlibatan anggota kedalam kelompok dengan tujuan agar anggota kelompok memahami maksud bimbingan kelompok. Pada tahap ini bertujuan untuk saling menumbuhkan suasana saling mengenal, percaya, menerima dan membantu teman-teman yang ada dalam anggota kelompok.
2.      Tahap Peralihan
Tahap ini transisi dari pembentukan ketahap kegiatan. Dalam menjelaskan kegiatan apa yang harus dilaksanakan pemimpin kelompok dapat menegaskan jenis kegiatan Bimbingan Kelompok yaitu tugas dan bebas.
3.      Tahap Kegiatan
Tahap ini merupakan tahap inti dari kegiatan Bimbingan kelompok dengan suasana yang akan dicapai, yaitu terbahasnya secara tuntas permasalahan yang dihadapi anggota kelompok dan terciptanya suasana untuk mengembangkan diri, baik menyangkut pengembangan kemampuan berkomunikasi maupun menyangkut tentang pendapat yang dikemukakan oleh anggota kelompok.
4.      Tahap Pengakhiran
Pada tahap ini terdapat dua kegiatan yaitu penilaian (evaluasi) dan tindak lanjut (follow Up). Tahap ini merupakan tahap penutup dari serangkaian kegiatan Bimbingan kelompok dengan tujuan telah tuntasnya topik yang dibahas oleh  kelompok tersebut.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan (action research). Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang didasarkan tujuan tertentu (Arikunto, 1992: 113). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis data yang berupa angka hasil dari skala motivasi belajar setelah pemberian tindakan pada setiap siklusnya. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis data berkaitan dengan meningkatnya motivasi belajar kemudian dideskripsikan. Analisis deskriftif/kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk  mengetahui gambaran peningkatan motivasi belajar siswa  underachiever  melalui layanan bimbingan kelompok.


HASIL
A.      Gambaran Kondisi Awal Motivasi Belajar Siswa Kelas V dan Siswa Underachiever Sebelum Mendapatkan Layanan Bimbingan Kelompok
Subyek penelitian ini adalah 10 orang siswa kelas VI SD Negeri 2 Balung yang terdiri dari 7 siswa underachiever dan 3 siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi.
Tabel 1. Hasil Persentasi Seluruh Siswa Kelas VI
No
Interval Persentase
Frekuensi
%
1
85%-100%
3
7,5
2
70%-85%
14
35
3
55%-70%
16
40
4
40%-55%
6
15
5
25%-40%
1
2,5

Dari analisis persentase kondisi awal,  diperoleh  secara keseluruhan kelas VI memiliki rata-rata motivasi belajar sebesar 67.96 % dengan kriteria sedang. Adapun rincian jumalah siswa dalam kriteria yaitu 3  siswa yang memperoleh kategori sangat tinggi dengan persentase 7.5%, 14 orang siswa yang memperoleh kategori tinggi dengan persentase 35%, 16  orang siswa yang memperoleh kategori sedang dengan persentase  40%, 6  orang siswa memperoleh kategori rendah dengan persentase 15%, serta 1 orang siswa yang memperoleh kriteria sangat rendah dengan persentase 2.5%. 

B.       Gambaran Motivasi Belajar  Siswa Underachiever  Setelah Mendapat Layanan Bimbingan Kelompok
1.         Pelaksanaan Layanan Bimbingan Kelompok Siklus 1
Teknik pelaksanaan layanan bimbingan kelompok  tiap siklus terdiri dari perencanaan (Planning), tindakan (Action), pengamatan (Observation), refleksi (Reflection). Tahapan pada siklus 1 dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tahap pertama adalah perencanaan, rencana tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 2 Rencana Tindakan Siklus 1
Pertemuan
Waktu
Kegiatan
Pertemuan 1
50 Menit
Menyiapkan Satuan Layanan (SATLAN), metode ceramah dan diskusi,  materi layanan yaitu menumbuhkan semangat belajar, kelengkapan, alat bantu dokumentasi
Pertemuan 2
50 Menit
Menyiapkan Satuan Layanan (SATLAN), metode ceramah dan diskusi,  materi layanan yaitu menumbuhkan semangat belajar, kelengkapan, alat bantu dokumentasi
Pertemuan 3
50 Menit
Menyiapkan Satuan Layanan (SATLAN), metode ceramah dan diskusi,  materi layanan yaitu menumbuhkan semangat belajar, kelengkapan, skala motivasi belajar, alat bantu dokumentasi
Post test 1

Tahap kedua adalah tindakan. Pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan. Tiap pertemuan peneliti memberi materi layanan dan pada saat pertemuan terakhir ditambah dengan post test 1 untuk mengetahui tingkat motivasi belajar anggota kelompok khususnya yang tergolong underachiever selama mengikuti kegiatan bimbingan kelompok siklus 1.
Tahap ketiga adalah pengamatan. Perbedaan tingkat motivasi belajar  siswa underachiever  sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan kelompok pada  sebagian  siswa kelas VI dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 3 Perbedaan Motivasi Belajar Siswa Underachiever Sebelum dan Sesudah Mendapatkan Layanan Bimbingan Kelompok Pada Siklus 1
No
Responden
Sebelum
Siklus 1
Peningkatan
%
Ket
%
Ket
%
1
R1
107 
53.5
R
123
61.5
S
7
2
R2
99
49.5
R
133
66.5
S
13.5
3
R3
97
48.5
R
133
66.5
S
12.5
4
R4
79
39.5
SR
107
53.5
R
8.5
5
R5
98
49
R
137
68.5
S
16.5
6
R6
99
49.5
R
139
69.5
S
9
7
R7
103
51.5
R
140
70
S
17

Rata-rata
97.43
48.71
R
121.43
60.71
S
12

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa setelah diberikan layanan bimbingan kelompok, motivasi belajar siswa  underachiever  meningkat. Tingkat motivasi belajar setelah siklus 1 masing-masing responden adalah R1 sebesar 60.5% dengan kriteria sedang, R2 sebesar 63% dengan kriteria sedang, R3 sebesar 61% dengan kriteria sedang, R4 sebesar 48% dengan kriteria rendah, R5 sebesar 65.5% dengan kriteria sedang, R6 sebesar 58.5% dengan kriteria sedang, R7 sebesar 68.5% dengan kriteria sedang.
Berdasarkan hasil pengamatan,  peningkatan  motivasi belajar  siswa underachiever  terlihat dari perilaku siswa saat mendapatkan layanan bimbingan kelompok  dan kegiatan belajar mengajar dalam kelas. Siswa menunjukkan perkembangan yang  cukup  baik, terlihat beberapa siswa sudah  berani berpendapat,  berkonsentrasi, memperhatikan guru menjelaskan, mau bertanya, dan lebih rajin dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.
Tahap keempat adalah refleksi. Pada tahap ini peneliti melakukan evaluasi terhadap keseluruhan pelaksanaan proses pemberian layanan bimbingan kelompok mulai dari keberhasilan, hambatan yang dihadapi beserta cara  untuk menanggulanginya. Tahap ini sangat berguna untuk menentukan perencanaan pada siklus berikutnya.

2.         Pelaksanaan Bimbingan Kelompok Siklus 2
Hasil refleksi pada siklus 1 ditemukan adanya beberapa hal yang belum maksimal yang dijalankan oleh peneliti dalam melaksanakan perannya pada setiap tahapan kegiatan tindakan. Hal-hal yang kurang tersebut sekaligus menjadi rekomendasi perbaikan pada pelaksanaan  tindakan layanan pada siklus 2. Tahap-tahap siklus 2 meliputi tahap perencanaan (Planning), tindakan (Action), pengamatan (Observation), refleksi (Reflection). Perbedaan siklus 1 dan siklus 2 terletak pada metode penyampaian materi dan tempat pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok. Jika pada siklus 1 menggunakan metode ceramah dan diskusi, maka pada siklus 2 ini menggunakan metode video dan diskusi. berikut ini penjelasan pelaksanaan siklus 2.
Sebelum memulai tindakan pada siklus 2, peneliti terlebih dahulu membuat perencanaan kembali agar tindakan yang dilakukan peneliti pada siklus 2 dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan penelitian. Berikut ini adalah perencanaan yang disusun peneliti:
Tabel 4 Rencana Tindakan Siklus 2
Pertemuan
Waktu
Kegiatan
Pertemuan 1
50 Menit
Menyiapkan Satuan Layanan (SATLAN), metode video dan diskusi,  materi layanan yaitu menumbuhkan semangat belajar, kelengkapan, alat bantu dokumentasi
Pertemuan 2
50 Menit
Menyiapkan Satuan Layanan (SATLAN), metode video dan diskusi,  materi layanan yaitu menumbuhkan semangat belajar, kelengkapan, alat bantu dokumentasi
Pertemuan 3
50 Menit
Menyiapkan Satuan Layanan (SATLAN), metode video dan diskusi,  materi layanan yaitu menumbuhkan semangat belajar, kelengkapan, skala motivasi belajar, alat bantu dokumentasi
Post test 1

Pada tahap tindakan, peneliti melaksanakan tindakan layanan bimbingan kelompok sesuai dengan tahapan layanan bimbingan kelompok. Pada proses  pelaksanaan layanan bimbingan kelompok pada pertemuan ini, dinamika kelompok sudah nampak dengan sangat baik. Semua anggota kelompok sudah aktif untuk berpendapat. Suasana mulai terkondisi dan perhatian anggota kelompok terpusat pada kegiatan bimbingan kelompok. Pemahaman anggota kelompok mengenai sikap toleransi sudah baik. Pada pertemuan terakhir pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, dinamika kelompok sudah nampak dengan sangat baik. Antusias anggota kelompok sangat tinggi, terlihat dari berbagai  anggota kelompok yang berebut untuk mengemukakan pendapat. Setelah kegiatan bimbingan kelompok diakhiri, peneliti meminta anggota kelompok untuk mengisi skala motivasi belajar, guna mengetahui tingkat motivasi belajar anggota kelompok setelah dilaksanakannya siklus 2 (post-test2).
Pada pengamatan, peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa selama mengikuti layanan bimbingan kelompok secara keseluruhan. Selain itu, tahap ini juga dilakukan peneliti sebagai tindak lanjut dari proses layanan bimbingan kelompok yang telah selesai dilakukan. Berdasarkan  skala motivasi belajar  dapat diketahui hasil layanan bimbingan kelompok setelah siklus 2. Adapun perbedaan hasil perhitungan  skala motivasi belajar setelah mengikuti layanan bimbingan kelompok pada siklus 1 dan siklus 2 dapat dilihat pada tabel berikut.



Tabel 5 Perbedaan Motivasi Belajar Siswa Underachiever Sesudah Mendapatkan Layanan Bimbingan Kelompok Pada Siklus 1 dan 2
No
Responden
Siklus 1
Siklus 2
Peningkatan
%
Ket
%
Ket
%
1
R1
123
61.5
S
151
75.5
T
14
2
R2
133
66.5
S
150
75
T
8.5
3
R3
133
66.5
S
149
74.5
T
8
4
R4
107
53.5
R
142
71
T
17.5
5
R5
137
68.5
S
152
76
T
7.5
6
R6
139
69.5
S
151
75.5
T
6
7
R7
140
70
S
175
87.5
ST
17.5

Rata-rata
121.43
60.71
S
158
79
T
18.21
Berdasarkan tabel tersebut diperoleh peningkatan  motivasi belajar  siswa underachiever  setelah    layanan bimbingan kelompok pada siklus 2 dengan rata-rata 18.21%. Dari 7 anggota kelompok yang tergolong dalam underachiever pada siklus 2 ini. Dengan masing masing responden memiliki tingkat motivasi belajar sebagai berikut: R1 sebesar 75.5% dengan kriteria tinggi, R2 sebesar 75% dengan kriteria tinggi, R3 sebesar 74.5% dengan kriteria tinggi, R4 sebesar 71% dengan kriteria tinggi, R5 sebesar 76% dengan kriteria tinggi, R6 sebesar 75.5% dengan kriteria tinggi, R7 sebesar sebesar 87.5% dengan kriteria sangat tinggi.
Pada tahap refleksi, secara keseluruhan proses pelaksanaan layanan bimbingan kelompok pada siklus kedua berjalan baik dan lancar serta berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun peneliti. Pada siklus 2 ini, peneliti video motivasi  sebagai bahan materi yang nantinya akan didiskusikan bersama. Pertimbangan dari dipilihnya metode video  agar lebih menarik dalam pembahasan dan agar anggota kelompok mempunyai motivasi yang lebih tinggi. Keberhasilan yang didapat dari siklus 2 ini cukup bagus, karena seluruh indikator  dari motivasi belajar tinggi  telah tercapai.

3.         Gambaran Motivasi Belajar Siswa Underachiever Setelah Mendapat Layanan Bimbingan Kelompok
Tabel presentase per responden dengan perbedaan persentase setelah tindakan siklus  1 dan setelah tindakan siklus 2 secara lengkap dapat disajikan sebagai berikut:
Tabel 6 Hasil Persentase Motivasi Belajar Siswa Underachiever Setelah Tindakan Layanan Bimbingan Kelompok Siklus 1 dan Siklus 2
No
Responden
Sebelum
Siklus 1
Siklus 2
%
Ket
%
Ket
%
Ket
1
R1
107 
53.5
R
123
61.5
S
151
75.5
T
2
R2
99
49.5
R
133
66.5
S
150
75
T
3
R3
97
48.5
R
133
66.5
S
149
74.5
T
4
R4
79
39.5
SR
107
53.5
R
142
71
T
5
R5
98
49
R
137
68.5
S
152
76
T
6
R6
99
49.5
R
139
69.5
S
151
75.5
T
7
R7
103
51.5
R
140
70
S
175
87.5
ST

Rata-rata
97.43
48.71
R
121.43
60.71
S
158
79
T

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa terjadi perubahan yang signifikan pada persentase motivasi belajar siswa underachiever dari kondisi awal ke siklus 1 dan ke siklus 2. terlihat dari nilai rata-rata dari kondisi awal sebesar 48.71 % dengan kriteria rendah, kemudian setelah dilakukan silkus 1 meningkat menjadi 60.71% dengan kriteria sedang, dengan kata lain dari kondisi awal ke siklus 1 mengalami peningkatan sebesar  12%  . Kemudian dari siklus 1 sebesar 60.71% dengan kriteria sedang ke siklus 2 meningkat menjadi 79% dengan kriteria tinggi, maka dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 18.29%.

C.      Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terjadi perubahan yang signifikan pada persentase motivasi belajar siswa underachiever dari kondisi awal ke siklus 1 dan ke siklus 2. Hal ini dibuktikan  hasil perhitungan deskripsif prosentase skala motivasi belajar menunjukkan peningkatan yang signifikan.  Sebelum diberikan tindakan berupa layanan bimbingan kelompok  rata-rata siswa tingkat motivasi belajarnya dalam tingkat rendah, namun setelah diberikan layanan bimbingan kelompok selama 6 kali pertemuan rata-rata tingkat motivasi belajar siswa underachiever menjadi tinggi. Selain dari hasil perhitungan deskriptif prosentase skala motivasi belajar, peningkatan siswa juga dapat terlihat dari hasil observasi yang dilaksanakan elama kegiatan belajar mengajar di kelas dengan bantuan guru kelas sebagai kolaborator. Peningkatan siswa yang dapat terlihat antara lain adalah siswa menjadi lebih berani dalam berpendapat, siswa lebih rajin dalam mengerjakan tugas-tugas, siswa lebih tepat waktuu dalam mengumpulkan tugas, siswa terlihat lebih bersemangat mengikuti kegitan belajar mengajar, dan lain sebagainya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat  motivasi belajar  siswa underachiever meningkat setelah mendapatkan layanan bimbingan kelompok. Dengan kata lain motivasi belajar siswa underachiever dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok yang tepat.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan pelaksanaan bimbingan kelompok yang tepat dapat meningkatkan motivasi belajar siswa underachiever. Hal ini dibuktikan dengan hasil analisis deskripstif prosentase pada kondisi awal tingkat motivasi belajar siswa sebesar 48.71%, kemudian setelah diberikan layanan bimbingan kelompok pada siklus 1 meningkat menjadi 60.71%, lalu meningkat lagi pada siklus 2 menjadi 79%.
Saran peneliti adalah: Sekolah diharapkan memiliki guru bimbingan konseling yang kompeten untuk membantu mengatasi siswa yang berprestasi rendah.

DAFTAR PUSTAKA
ABKIN. (2007). Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Departemen Pendidikan Nasional.

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 2004.  Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta

Ali, Mohammad. 1985. Penelitian Kependidikan Prosedur & Strategi. Bandung: Angkasa.

Anni, Chatarina Tri. 2007. Psikologi Belajar. Semarang; UPT MKK UNNES

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

----------. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Dalyono, M. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Delphie, Bandi. 2006. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (dalam Setting Pendidikan Inklusi). Bandung: PT Refika Aditama

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta; PT Asdi Mahasatya

Gustian, Edy. 2002. Menangani Anak Underachiever:Anak Cerdas dengan Prestasi Rendah. Jakarta: Puspa Swara

Hamalik, Oemar. 2009.  Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hidayat, Dede Rahmat dan Aip Badrujaman. 2012.  Penelitian Tindakan dalam Bimbingan Konseling. Jakarta: PT Indeks Permata Puri Media

Makmun, Abin Syamsudin. 2007.  Psikologi Kependidikan; Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Cetakan ke 10. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreatiivitas Anak Berbakat. Jakarta: PT Rineka Cipta

Prayitno, 2004. Layanan Bimbingan Kelompok . Universitas Negeri Padang.

----------. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta: Ghalia.

Purwanto, M. Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung; PT Remaja Rosdakarya.

Sardiman, AM. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sobour, Alex. 2003. Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung: CV Pustaka Setia

Subini, Nini. 2011. Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak. Yogyakarta: Javalitera.

Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling Di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Sutoyo, Anwar. 2009. Pemahaman Individu. Semarang: Widya Karya

Tadjri, imam. 2010. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Semarang: widya karya semarang

Uno, Hamzah B. 2009. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara

Wibowo,  Eddy Mungin.  2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.

Winkel, WS. 2006.  Bimbingan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.