Selasa, 29 Agustus 2017

UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA DI SMPN 2 SAMBOJA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA


UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA DI SMPN 2 SAMBOJA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Muhammad Yusran

Abstrak:Tujuan yang ingin dicapa dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Melalui Penerapan Pembelajaran Berbasis Multimedia Di SMPN 2 Samboja . Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari 4 tahap yaitu : merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merekflesi. Menurut tim pelatih proyek PGSM (1999:7), keempat fase dalam satu siklus sebuah PTK digambarkan dengan sebuah spiral PTK. Hasil Penelitian diketahui pada saat sebelum tindakan siswa yang tuntas baru mencapai 68 % sedangkan yang belum tuntas masih mencapai 32 %, pada iklus-1 ada peningkatan 73 % selanjutnya pada siklus-3 siswa sdah mencapai ketuntasan 100 %. Minat belajar siswa juga mengalami peningkatan yang signifikan.

Kata Kunci: Minat Dan Hasil Belajar, Multimedia

PENDAHULUAN
Belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar tersebut memerlukan adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Seseorang dapat dikatakan telah belajar dicirikan dengan adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), atau sikapnya (afektif). (Arsyad, 2003:1).
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, materiil, fasilitas, perlengkapan dan prosedur, yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Aqib, 2002:41). Dengan adanya tujuan yang jelas dalam belajar, maka keberhasilan belajar seseorang dapat dilihat dari sejauhmana ia mampu mencapai tujuan belajar itu.
Dalam proses belajar, melibatkan interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Lingkungan yang menjadi pengaruh dalam proses belajar mengajar antara lain terdiri dari murid, guru, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran, dan berbagai sumber belajar dan fasilitas perpustakaan, dan lain-lain.
Saat ini para ahli pendidikan telah mencoba mneliti dan menciptakan metode-metode belajar baru. Berbagai etode itu tentu tidak lepas dari peran media sebagai sarana untuk penyampaiannya. Media mempunyai manfaat sebagai sumber belajar, alat pembelajaran juga sebagai alat komunikasi. Kemudahan memperoleh informasi selanjutnya akan memotivasi dan meningkatkan belajar secara efektif. Menurut Sudarwan (1995) penggunaan media sangat membantu aktivitas proses belajar mengajar dan dapat meingkatkan perstasi belajar siswa.
Dalam mewujudkan kondisi-kondisi di atas banyak usaha yang perlu ditempuh, sehingga memungkinan peristiwa belajar yang optimal pada diri siswa. Usaha yang dirintis adalah dengan memanfaatkan segala sumber belajar yang berupa alat, bahan, teknik, dan lingkungan yang dikelola serta dikembangkan dalam bentuk media pembelajaran. Penggunaan media dalam menjelaskan materi dapat mempermudah pemahaman materi oleh siswa.
Penggunaan multimedia dalam pembelajaran mempunyai beberapa kelebihan, antara lain yaitu :
  1. Memberikan pengalaman seolah-olah nyata kepada siswa
  2. Penyajian materi dengan multimedia mengurangi keabstrakan, penyajian lebih dekat dengan hal konkrit sehingga memudahkan pemahaman (Heinich et al, 2002 :242).
Berdasarkan kelebihan dari multimedia tersebut, maka penggunaan multimedia sangat penting bagi semua mata pelajaran di sekolah, termasuk juga pada mata pelajaran. Mengingat peristiwa IPS hanya sekali terjadi dan tidak terulang lagi, maka cara yang dapat ditempuh oleh guru adalah dengan mengimajinasikan fakta-fakta IP Satau mevisualisasikannya kepada siswa, sehingga dapat membantu siswa seolah-olah hadir pada peristiwa tersebut. Dengan cara ini siswa akan memperoleh pemahaman dan penghayatan secara mendalam terhadap peristiwa-peristiwa serta mengambil nilai-nilainya. Untuk mewujudkan itu tentu saja membutuhkan media pembelajaran.
Seperti yang telah kita ketahui di sekolah-sekolah, mata pelajaran tidak terlalu disenangi oleh siswa. Selain itu siswa juga menganggap pelajaran sejarang kurang menarik dan cenderung membuat siswa gaduh dalam mengikutinya (Haikal, 1989:1-2).
Siswa kurang menyukai mata pelajaran IPSkarena ada beberapa factor yang mempengaruhinya, antara lain: 1) IPS merupakan mata pelajaran menghafal.; 2) Guru kurang memahami metode dan penggunaan media pembelajaran sehingga dalam penyampaiannya kurang menarik bagi siswa. Sebagian besar guru hanya menggunakan metode ceramah sehingga siswa bosan dan akhirnya tidak tertarik terhadap pelajaran IPS. 3) Guru belum menggunakan media yang bervariasi yang menyebabkan perhatian siswa pelajaran; 4) Guru IPS belum pernah mengajak siswanya belajar IPS di luar kelas (Soewarso, 2000:11-13)
Kondisi pembelajaran IPStersebut terjadi di SMPN 2 Samboja Siswa kurang begitu tertarik dengan pelajaran, karena pelajaran IPS cenderung membosankan, sehingga mereka lebih mementingkan pelajaran IPA daripada kelas IPS. Selain itu mereka menganggap kelas IPA lebih maju daripada kelas IPS. Pelajaran IPSdianggap tidak penting karena pelajaran IPSsering mencatat, bercerita, hafalan, sulit dimengerti, ditambah pula guru hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Selain itu, meskipun sarana dan prasarana di SMPN 2 Sambojasudah cukup lengkap, namun guru IPSdalam proses belajar mengajarnya hanya menggunakan media pembelajaran berupa papan tulis, jadi selama ini di SMPN 2 Sambojabelum pernah disajikan pembelajaran IPSdengan menggunakan multimedia (VCD).
Pada dasarnya multimedia merupakan suatu kombinasi dari beberapa media pendidikan dan didayagunakan secara berencana dan sistematis dalam proses instruksional atau proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan instruksional tertentu. Multimedia pendidikan dewasa ini sangat dianjurkan dalam proses belajar mengajar siswa di sekolah. Penggunaan media secara multi ternyata memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk melakukan belajar mandiri disamping terjadinya komunikasi yang lebih efektif antara guru dan siswa. Itu sebabnya dalam rancangan desain instruksional yang sedang disiapkan oleh guru juga dirancang perankat kombinasi media yang konsisten dengan aspek-aspek system insruksional lainnya yakni tujuan instruksional, materi pelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan prosedur penilaian. Rancangan instruksional yang lengkap dengan rancangan multimedia dianggap akan meningkatkan keberhasilan belajar siswa (Hamalik, 1989:186-187).
Multimedia secara sederhana diartiakn sebagai suatu media yang lebih dari satu media. Bias berupa kombinasi antara teks, grafik, animasi, suara dan video. Definisi sederhana ini telah pula mencakup salah satu jenis kombinasi yang diuraikan pada bagian terdahulu, misalnya kombinasi slide dan tape audio. Namun, pada bagian ini perpaduan dan kombinasi dua atau lebih jenis media ditekanka kepada kendali komputer sebagai penggerak keseluruhan gabungan mediaitu. Dengan demikian arti multimedia yang umumnya dikenal dewasa ini adalah berbagai macam kombnasi grafik, teks, suara, video, animasi. Penggabungan ini merupakan suatu kesatuan yang secara bersama-sama menampilkan informasi, pesan, atau isi pelajaran (Turban 2002 dalam Suyanto (2003:21).
Multimedia dapat digunakan pada pembelajaran individu maupun kelompok. Materi yang disajikan berurutan dan menggunakan gabungan dari berbagai media . pembelajaran menggunakan multimedia memberikan nilai lebih diantaranya :
  1. Memberikan pengalaman seolah-olah nyata kepada siswa.
  2. Penyajian materi dengan multimedia mengurangi keabstrakan, penyajian lebih dekat dengan hal konkrit. Sehingga hal ini dapat memudahkan pemahaman (Heinich et al, 2002:242)
Komponen multimedia ada empat antara lain :
  1. Adanya komputer yang mengkoordinasikan apa yang dilihat dan didengar, yang berinteraksi dengan kita.
  2. Adanta link yan menghubungkan kita dengan informasi.
  3. Adanya alat navigasi yang membantu kita, menjelajah jaringan informasi yang saling terhubung.
  4. tersedianya tempat bagi kita untuk mengumpulkan, memproses dan mengkomunikasikan informasi, dan menuangkan ide kita sendiri (Suheri, 2006:30).
Multimedia mempunyai beberapa objek, diantaranya :
  1. Teks, bentuk yang paling mudah dan efekif untuk menyampaikan pesan atau informasi.
  2. Grafis, bentuk yang berupa gambar yang digunakan untuk menyampaikan pesan.
  3. Sound, bentuk objek yang ditangkap dengan system pendengaran.
  4. Video, bentuk objek yang ditangkap dengan system penglihatan.
  5. Hybrid, bentuk campuran atau penggabungan objek multimedia seperti audio video.
  6. Animasi, berupa kumpulan gambar yang dapat diolah sehingga muncul gerakan (Suheri, 2006:30).
Multimedia bertujuan untuk menyajikan informasi dalam bentuk yang menyenangkan, menarik, mudah dimengerti, dan jelas. Informasi akan mudah dimengerti karena sebanyak mungkin indera, terutama telinga dan mata, digunakan untuk menyerap informasi itu. Multimedia sangat menjanjikan untuk penggunaannya dalam bidang pendidikan. Meskipun saat ini penggunaan media masih dianggap mahal, dalam beberapa tahun mendatang biaya itu akan semakin rendah dan dapat terjangkau sehingga dapat digunakan secara meluas diberbagai jenjang sekolah (Arsyad, 1997:169).
Klasifikasi media menurut Heinich dkk (1986) dalam Pribadi dan Ratin (1996:4) adalah sebagai berikut : 1)Gambar-gambar yang tidak diproyeksikan (non proyektor visuals);2 Gambar-gambar yang diproyeksikan (proyekor visuals); 3)Media suara (audio media); 4)System multimedia; 5)Filmstrip; 6)Televisi; 7)Computer; 8) Rekaman/video
Multimedia merupakan kombinasi tiga elemen, yaitu suara, gambar dan teks atau kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output dari data, media ini dapat berupa audio (suara, musik), animasi, teks, grafik dan gambar. (Turban 2002 dalam Suyanto (2003:21).

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu “ Apakah dapat Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Melalui Penerapan Pembelajaran Berbasis Multimedia Di SMPN 2 Samboja ?

Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan yang ingin dicapa dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Melalui Penerapan Pembelajaran Berbasis Multimedia Di SMPN 2 Samboja


Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
  1. Bagi peneliti dapat menambah wawasan dan pengetahuan bahwa penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar.
  2. Bagi sekolah sebagai masukan untuk mengedepankan multimedia sebagai media dalam pelajaran.
  3. Bagi siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan dan hasil belajar yang didasarkan pada penggunaan multimedia.
  4. Bagi guru dapat memberi informasi dan masukan tentang pentingnya penggunaan multimedia dalam pembelajaran.


METODE PENELITIAN

Penentuan daerh penelitian dilakukan dengan teknik purposive samling, yaitu menentukan dengan sengaja dengan mempertimbangkan kemampuan peneliti, tenaga, biaya dan waktu (Arikunto, 2002:113). Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 2 Samboja di Kelas VII, dengan pertimbangan bahwa di sekolah tersebut belum pernah dilakukan penelitian dengan judul di atas. Selain itu juga, karena sarana dan prasarana yang mendukung.
Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMPN 2 Samboja. nilai mata pelajaran IPS untuk siswa kelas VII rendah dibanding kelas yang lain.
Pada penelitian ini penulis ingin memperbaiki dan berupaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada bidang studi IPS Sebenarnya penjelasan guru sudah dapat diterima oleh murid. Ada sebagian kecil murid yang kurang memperhatikan penjelasan guru. Sebagian besar mereka dapat mengerjakan latihan-latihan soal yang diberikan guru dengan jawaban yang memuaskan, namun pada saat evaluasi akhir pelajaran hanya sebagian kecil murid yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan.

Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari 4 tahap yaitu : merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merekflesi. Menurut tim pelatih proyek PGSM (1999:7), keempat fase dalam satu siklus sebuah PTK digambarkan dengan sebuah spiral PTK, seperti ditunjukkan pada gambar berikut :

R encana


R efleksi

Tindakan/
Observasi
Rencana
Perbaikan

R efleksi


Tindakan /

Observasi

Rencana

Perbaikan

R efleksi

Tindakan/

observasi

Gambar spiral Penelitian Tindakan Kelas Model Hopkins

(tim pelatih proyek PGSM, 1997:7)

Setiap tahap dari kegiatan yang dilakukan dalam PTK akan terus berulang, sampai motivasi belajar siswa meningkat. Pada penelitian ini, peneliti hanya membatasi pelaksanaan penelitian dengan dua siklus karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki peneliti diantaranya: biaya, waktu dan tenaga. Apabila sampai dua siklus hasil penelitian masih menunjukkan motivasi belajar siswa rendah, maka penelitian ini diharapkan dapat dilanjutkan oleh peneliti sendiri bila ada kesempatan atau dilanjutkan oleh peneliti lain.
Sesuai dengan gambar spiral penelitian tindakan kelas model Hopkins, penelitian ini terdiri dari 4 fase yaitu : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Empat fase tersebut adalah sebagai berikut :
1) Perencanaan
Kegiatan yang akan dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut :
  1. Menetapkan dan memilih Kompetensi Dasar yang dijadikan bahan dalam pelaksanaan penelitian.
  2. Membuat skenario pembelajaran yang terdiri dari program perencanaan pembelajaran Kompetensi Dasar
  3. Membuat/ menggunakan alat bantu mengajar berupa multi media pengajaran .
  4. Membuat lembar observasi yang digunakan peneliti untuk menilai sikap siswa pada saat peneliti mengaplikasikan metode mengajar
  5. Membuat angket penelitian yang diberikan pada siswa untuk mengetahui minat/motivasi belajar siswa .
Penyusunan program satuan pengajaran dan rencana pembelajaran dengan kompetensi dasar yang disesuaikan dengan kurikulum SD yang sedang berlaku. Program satuan pengajaran dan rencana pembelajaran digunakan pada tahap tindakan.
2) Tindakan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan tindakan pengajaran berdasarkan pada perencanaan yang telah dibuat. Pada tahap ini peneliti melakukan dua tindakan yaitu :
Tindakan siklus I :
Peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan media pengajaran kertas karton. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan alokasi waktu 2 x 40 menit. Kegiatan inti dilakukan selama 50 menit dan sisa waktu 20 menit digunakan untuk mengerjakan soal. Peneliti melakukan observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Tindakan siklus II :
Peneliti tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan media pengajaran kertas karton. Pelaksanaan pembelajaran melanjutkan pokok bahasan pada tindakan siklus I. Pada tindakan siklus II peneliti juga melakukan observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Metode yang digunakan selama kegiatan belajar mengajar adalah multi media. Selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, peneliti memantau langsung kegiatan belajar siswa mulai dari awal sampai akhir. Sebelum jam pelajaran selesai 30 menit, peneliti memberikan tugas yang berupa soal-soal untuk dikumpulkan pada saat jam pelajaran berakhir.
  1. Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung yaitu dengan menilai motivasi belajar siswa. Adapun hal-hal yang di observasi adalah :
  • Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran
  • Semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya
  • Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya
  • Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru
  • Rasa senang dalam mengerjakan tugas yang diberikan
  1. Refleksi
Tahap Refleksi dilakukan untuk mengkaji kembali hasil tindakan dan hasil observasi, yang kemudian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan yang akan dilakukan kemudian. Dengan melakukan refleksi peneliti mengetahui kekurangan-kekurangan apa yang perlu diadakan tindakan perbaikan.

Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Data yang diperoleh melalui metode pengumpulan data masih mentah. Untuk dapatnya diambil suatu kesimpulan akhir, maka diperlukan analisa data yang tepat sebagai proses untuk mengambil kesimpulan tersebut.
Data yang akan dianalis dalam penelitian ini adalah:
  1. kegiatan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi yakni meliputi aspek afektif dan psikomotor;
  2. Hasil tugas dan ulangan harian siswa (aspek kognitif).
Untuk mengukur ketuntasan hasil belajar dalam hal ini adalah aspek kognitif, afektif dan psikomotor menggunakan standar ketuntasan yaitu Ketuntasan belajar individu dinyatakan tuntas apabila tingkat presentase ketuntasan minimal mencapai 65%, sedangkan untuk tingkat klasikal minimal mencapai 85% (Depdikbud: 2004)
Adapun untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar adalah dengan menggunakan rumus persentase ketuntasan hasil belajar, yaitu:
a) Ketuntasan secara Individu
Rumus Presentase Ketuntasan :

b) Ketuntasan secara Klasikal
Rumus Presentase Ketuntasan :
Data yang dipersentasekan kemudian ditafsirkan menggunakan kalimat yang bersifat kualitatif untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian dari masing-masing data yang diperoleh adapun tingkat pencapaian adalah sebagai berikut:

Batas Kategori

Predikat

T 80 %
Sangat Baik
70 % T 80 %
Baik
60 % T 70 %
Cukup Baik
50 % T 60 %
Kurang
T 50 %
Kurang Sekali
(Sukardi, dalam Nisa’ 2004:25)


Untuk mengetahui efektivitas hasil belajar IPS maka digunakan rumus sebagai berikut:
ER :
Keterangan:
ER : Tingkat keefektifan relatif
Mx : Nilai rata-rata kelas setelah dilakukan tindakan.
My : Nilai rata-rata kelas sebelum dilakukan tindakan.
Hasil penghitungan tingkat keefektifan relatif (ER) dapat disimpulkan apakah pembelajaran dengan media kertas karton lebih efektif atau tidak (dalam %) dibandingkan dengan pengajaran sebelumnya di mana Mx adalah nilai rata-rata kelas setelah dilakukan tindakan dan My adalah nilai sebelum dilakukan tindakan dan ER adalah nilai efektivitasnya (Masyhud, 2000:61).
Dalam suatu penelitian di samping menggunakan metode yang tepat juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Metode Observasi; Metode Dokumentasi; Metode Wawancara; Metode Tes.
Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila guru dapat menerapkan muliti media dalam PBM. Ketuntasan Indivisual skor 65 klasikal 85 % dari total siswa.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Data diraih dengan berbagai metode pengumpulan data.Hasil penelitian yang dilaporkan adalah proses dan hasil belajar siswa pada saat sebelum dan sesudah diberikan tindakan sesuai yang telah direncanakan.
Hasil penelitian secara umum dapat di lihat pada tabel dibawah ini. Pada tabel 1 menjelaskan bahwa peningkatan skor dari sebelum tindakan sampai pada siklus-siklus berikutnya. Hasil Belajar siswa Pada Kondisi Awal dan Setelah Tindakan:


<65
=/>65
Total
Siklus-2
0
22 ( 100 %)
22(100 %)
Siklus-1
6(27%)
16(73%)
22(100 %)
Pra Tindakan
7(32%)
15 (68%)
22(100 %)
Sumber: data penelitian yang diolah

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui pada saat sebelum tindakan siswa yang tuntas baru mencapai 68 % sedangkan yang belum tuntas masih mencapai 32 %, pada iklus-1 ada peningkatan 73 % selanjutnya pada siklus-3 siswa sdah mencapai ketuntasan 100 %. Minat belajar siswa juga mengalami peningkatan dapat dilihat di bawah ini:

Grafik Hasil Belajar Siswa dalam Proses Pembelajaran IPS dengan Multi Media Audio Visual
Pada tabel 2 menjelaskan skor keaktifan yang diperoleh siswa berdasarkan proses pengamatan selama pelaksanaan siklus pertama.
Tabel 2. Rekapitulasi Observasi Pada Pelaksanaan Tindakan pertama
No
Aspek yang diamati
Jumlah siswa yang mendapatkan skor
1
2
3
1
Senang pada kegiatan PBM
4(18)
2(9%)
15(68%)
2
Rasa ketertarikan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar
2
9%
10
(45%
10
(45%)
3
Perhatian siswa dalam PBM
2
9%
6
(27%
12
(55%)
4
Partisipasi siswa dalam PBM
2
9%
6
27%
10
45%

Pada tabel menjelaskan skor yang diperoleh siswa berdasarkan proses pengamatan selama pelaksanaan siklus kedua.

Tabel 2. Rekapitulasi Observasi Pada Pelaksanaan Tindakan Kedua
No
Aspek yang diamati
Jumlah siswa yang mendapatkan skor
1
2
3
1
Senang pada kegiatan PBM
2
9%
3
14%
17
77%
2
Rasa ketertarikan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar
1
5%
2
9%
19
86%
3
Perhatian siswa dalam PBM
0
2
9%
20
91 %
4
Partisipasi siswa dalam PBM
2
9%
0
20
91 %

Sumber : Data primer yang diolah

Keaktifan Siswa Pada Pelaksanaan Tindakan Kedua

Grafik Peningkatan Keaktifan siswa Dalam PBM

Grafik respon siswa (menyenangi) kegiatan Pembelajaran dengan Multi Media sebelum dan sesudah perlakuan.


Pembahasan
Berdasarkan hasil hasil analisis kuantitatif diskriptif di atas, menunjukan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari sebelum tindakan sejumlah 15 orang siswa atau 68% yang mendapatkan nilai 65 meningkat menjadi 16 orang siswa atau 73 % yang mendapatkan nilai 65 selanjutnya pada pelaksanaan tindakan ke-2 diharapkan mencapai ketuntasan 100 %.
Melihat kondisi ini, maka diperlukan adanya tindakan kedua untuk mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan dan juga pada tindakan pertama ini daya serap siswa secara klasikal belum tercapai. Pada siklus-2 Ketuntasan mencapai 100 % atau 22 siswa seluruhnya mendapat nilai >65 sesuai engan standar ketuntasan yang diterapkan di sekolah.
Peningkatan nilai yang dicapai oleh siswa pada tindakan pertama yang cukup signifikan ini, akan menjadi dasar bagi peneliti untuk meneruskan model pembelajaran ini dengan tindakan kedua, khususnya untuk mencapai kriteria ketuntasan belajar secara klasikal walaupun model pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada waktu proses belajar mengajar cukup bervariasi, akan belum banyak memberikan perubahan pada upaya optimalisasi peningkatan proses pembelajaran yang tuntas.
Tingkat ketuntasan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor seperti: Multi Media pembelajaran yang dipakai, motivasi, suasana kelas, materi pembelajaran, kompetensi (profesi guru) dan lain-lain. Khusus guru berdasarkan pengamatan peneliti, relatif kurang dasar profesi keguruannya, Keadaan seperti itu, akan mempengaruhi seorang guru dalam proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kadar proses pembelajaran siswa, khusus variasi-variasi model pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung dari interaksi guru dan siswa. Interaksi guru dan siswa dapat dilihat dalam hal tanya jawab yang dilakukan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar (Sudjana,1990) dan proses interaksi akan berjalan bila siswa memiliki reaksi cepat terhadap stimulus yang diberikan oleh guru.
Peran guru dalam mendorong keaktifan siswa masih diperlukan terutama dalam memberikan stimulus dan mengkondisikan belajar yang kondusif. Karena dengan selalu memperhatikan kondisi tersebut dalam pemberian stimulus oleh guru akan dapat mendorong siswa untuk semakin mandiri. pembelajaran mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat meningkatakan proses pembelajaran. Penggunaan Multi Media mampu meningkatkan ketuntasan proses pembelajaran pada tindakan pertama 15 orang siswa atau 68 % yang mendapatkan nilai 65 meningkat menjadi22 siswa atau 100 % yang mendapatkan nilai 65 pada pelaksanaan tindakan kedua.
Pemberian motivasi untuk memanfaatkan sarana pembelajaran yang tersedia dan selalu memanfaatkan belajar kelompok, akan dapat meningkatkan kadar proses pembelajaran optimal dan akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa sebagaimana diharapkan bersama, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin mengglobal sekarang.
Peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan /Penggunaan Multi Media terjadi secara signifikan.Hasil ini apabila dilaksanakan akan dapat mendorong siswa untuk meningkatkan motivasi belajar melalui kolaborasi model pembelajaran dalam rangka untuk mencapai suatu target pembelajaran yang direncakan. Tercapainya target pembelajaran itu harus didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai dan representatif. Kondisi lingkup pembelajaran yang kondusif dan sarana yang reprentatif akan membuat siswa belajar lebih giat, senang dan kreatif dalam belajar Kondusif pembelajaran yang dimiliki oleh sekolah ini sudah cukup memadai dan representatif. Untuk selanjutnya merupakan kewajiban seorang pendidik menyusun dan melaksanakan proses pembelajaran yang dapat mendorong dan memanfaatkan kondisi yang semaksimal mungkin dalam meningkatkan kadar proses pembelajaran yang berkualitas, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas hasil pembelajaran yang berdaya saing tinggi.
Peningkatan minat dan hasil beljar dapat kita pahami karena pada dasarnya Fungsi Multi Media ini adalah.
  1. Meningkatkan perhatian siswa
  2. Memperjelas penyajian pesan dari konsep yang abstrak ke yang kongkret
  3. Menignkatkan hasil belajar siswa
  4. Membantu perkembangan kemampuan berbahasa siswa
  5. Memberikan pengalaman kepada siswa
Berdasarkan fungsi dari Multi Media sangatlah penting bagi semua mata pelajaran di sekolah khususnya mata pelajaran IPSkarena sifat peristiwa IPShanya sekali terjadi (einmalig) dan tidak akan terulang lagi.
Dengan Multi Media ini siswa akan memperoleh pemahaman dan penghayatan secara mendalam terhadap peristiwa-peristiwa IPSserta mengambil nilai-nilainya. Untuk mewujudkan kegiatan pembelajaran tersebut, dalam pelaksanaannya tentunya tidak cukup hanya dengan bercerita akan tetapi membutuhkan Multi Media pembelajaran. Dengan menggunakan Multi Media akan mencapai tujuan pembelajaran IPS.


K ESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat kami simpulkan bahwa : Penggunaan Multi Media dapat meningkatkan minat dan Hasil belajar IPS pada siswa kelas VII SMPN 2 Samboja. Hasil Penelitian diketahui pada saat sebelum tindakan siswa yang tuntas baru mencapai 68 % sedangkan yang belum tuntas masih mencapai 32 %, pada iklus-1 ada peningkatan 73 % selanjutnya pada siklus-3 siswa sdah mencapai ketuntasan 100 %. Minat belajar siswa juga mengalami peningkatan yang signifikan. Motivasi belajar siswa yang semakin meningkatkan. Kenyataan menunjukan bahwa penggunaan Penggunaan Multi Media secara kualitas dapat meningkatkan proses belajar siswa .

SARAN
Berdasarkan kesimpulan Ilmu di atas, maka saran peneliti adalah sebagai berikut :Guru hendaknya menggunakan Multi Media dalam proses belajar mengajar, agar siswa dapat berperan aktif dalam meningkatkan kadar proses pembelajaran yang optimal
Kepala Sekolah terus mendorong guru-guru untuk senantiasa melakukan pengembangan kemampuan profesionalnya dalam proses belajar mengajar dengan melakukan penelitian tindakan kelas, terutama untuk menemukan model pembelajaran atau kolaborasi dari berbagai model pembelajaran yang mampu mengoptimalkan proses pembelajaran.


DAFTAR RUJUKAN
Aqib, Z. 2002. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran, Surabaya :
Insan Cendekia.
Arikunto.2002. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Dimyati dan Mudjono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Poyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti Depdikbud.
Hamalik, O. 1989. Media Komunikasi Pendidikan Nasional (Komputerisasi, Informasi, Edukasi). Bandung: Mandar Maju.
__________, 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Heinich, Robert, et al. 2002. Instructioal Media and Technologies for Learning Seven Edition. New Jersey : Pearson Education.
Pribadi, Benny Agus dan Katrin, Yuni. 1996. Media Teknologi. Jakarta : Universitas Terbuka, Depdikbud.
Soewarso. 2000. Pendidikan IPS. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Suheri, Agus. 2006. Animasi Multimedia Pembelajaran. Bandung : Jurusan Teknik Informatika ST-INTENS.
Suyanto. 2003. Multimedia Alat Untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing. Yogyakarta : Andi