Selasa, 29 Agustus 2017

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENERAPAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION PADA MATA PELAJARAN SEJARAH


UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENERAPAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION PADA MATA PELAJARAN SEJARAH

Mohammad Naim, Bambang Soepeno dan Muhasanah
mohamad naim@unej.ac.id

ABSTRACT: The aim of this study was to improve the activity and results of the study of history by using cooperative learning model of Group Investigation. The subjects were students of class X IPS 1 MAN jumlah meditated with 42 students. The indicators examined are activity and learning outcomes. Learning activity cycles 1 to obtain a percentage of 64.28%, cycle 2 percentage gain of 73.17%, cycle 3 percentage gain of 81.58%. Cognitive learning results obtained percentage of 64.28%, cycle 2 the results obtained percentage of 78.57% and cycle 3 percentage gain of 83.33%, the affective aspect in cycle 1 was 69.68%, psychomotor aspects of 68.09 %. In cycle 2 of learning outcomes gained 78.57% affective, psychomotor aspects of 70,63%. Cycle 3 of affective gain of 83.33%, 83.33% psychomotor aspects.

Key word: cooperative learning model type group investigation, learning activities, history subject learning outcomes


PENDAHULUAN
Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dengan tujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik agar menjadi manusia yang berkualitas dengan ciri-ciri beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab (UU Sisdiknas No. 20 pasal 1 ayat 1 tahun 2003). Pendidikan harus mampu menyesuaikan dinamika yang berkembang dalam masyarakat, terutama tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Pendidik nantinya akan melaksanakan kurikulum di kelas melalui proses pembelajaran perlu mengetahui dan memahami kurikulum yang berlaku untuk diimplemetasikan dalam menjalankan proses pembelajaran.
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Tujuan pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik (Isjoni, 2009:14). Menurut Subakti (2010:4), pembelajaran sejarah adalah pembelajaran yang mampu menumbuhkan kemampuan peserta didik melakukan konstruksi kondisi masa sekarang dengan mengaitkan atau melihat masa lalu yang berbasis topic pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah merupakan pembelajaran yang dapat menolong peserta didik untuk berfikir kritis dan komprehensif dan berafektif moral (Aman, 2009:50). Melihat perkembangan pendidikan masa sekarang terutama pada proses pembelajaran disekolah berdasarkan kurikulum yang digunakan membuat peserta didik aktif di dalam proses pembelajaran. Aktifnya peserta didik selama proses pembelajaran akan berpengaruh pada hasil belajar peserta didik. Aktivitas belajar peserta didik yang tinggi akan membuat hasil belajar sejarah juga tinggi. 
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara Waka kurikulum dan pendidik mata pelajaran sejarah di MAN Bondowoso kelas X IPS 1 menggunakan kurikulum 2013, yaitu kegiatan di dalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung bukan kegiatan satu arah dari pendidik ke peserta didik dan antarpeserta didik (student centered), melainkan kegiatan timbal balik antara pendidik dengan peserta didik dan antara sesama peserta didik (student centered). Kegiatan pembelajaran memberi kesempatan peserta didik untuk aktif melakukan kegiatan dalam proses belajar akan menyebabkan peserta didik terdorong dalam mempelajari suatu materi pembelajaran sehingga apa yang diperoleh peserta didik dari belajar akan bermakna bagi peserta didik.
Hasil observasi pada saat pembelajaran sejarah bahwa permasalahan yang terjadi antara lain, mata pelajaran sejarah berada diakhir jam pembelajaran sehingga membuat peserta didik tidak bersemangat untuk mengikuti proses pembelajaran, dalam proses pembelajaran pendidik memberikan ceramah dan penugasan kepada peserta didik, hanya beberapa peserta didik yang memperhatikan penjelasan pendidik, peserta didik kurang aktif saat pembelajaran, aktivitas peserta didik rendah, dibuktikan dengan peserta didik bicara sendiri ketika pendidik memberi penjelasan, peserta didik tidak bertanya, peserta didik kurang aktif saat diskusi, hanya bergantung pada teman yang pintar saja, hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah rendah. Pembelajaran sejarah di kelas X IPS 1 menunjukkan peserta didik memiliki aktivitas belajar yang rendah dalam mengikuti pembelajaran sehingga menyebabkan peserta didik kurang aktif saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini terlihat dari respon peserta didik yang cenderung pasif, ketika pendidik memberikan pertanyaan terkait materi yang akan dipelajari.
Rendahnya aktivitas peserta didik ditunjukkan dengan aktivitas peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung, misalnya: (1) ketika pendidik menerangkan banyak peserta didik yang tidak mendengarkan penjelasan pendidik; (2) peserta didik ramai sendiri dikelas; (3) peserta didik masih belum banyak yang mengungkapkan pendapatnya; (4) peserta didik jarang bertanya  kepada pendidik. Kondisi tersebut menunjukkan rendahnya aktivitas peserta didik saat proses pembelajaran sejarah berlangsung. Pada saat pembelajaran sejarah dikelas, pendidik sudah menerapkan model ceramah. Dengan menggunakan ceramah peserta didik dapat mendengarkan penjelasan dari pendidik dan aktif dalam pembelajaran, dengan mendengarkan penjelasan dari pendidik peserta didik akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru namun kenyataannya hanya beberapa peserta didik yang mendengarkan. Terdapat banyak peserta didik yang sering lupa dengan materi pembelajaran sebelum-sebelumnya hal ini terlihat ketika pendidik bertanya kepada peserta didik tidak bisa menjawab pertanyaan dari pendidik.
Berdasarkan hasil observasi di kelas X IPS 1 MAN Bondowoso kelas X IPS 1  diperoleh data aktivitas peserta didik menurut Diedrich dengan indikator yaitu: (1) peserta didik mengajukan pertanyaan sebesar 54,76%; (2) peserta didik mengeluarkan pendapat sebesar 46,03%; (3) keaktifan berdiskusi sebesar 50,00%; (4) peserta didik mencatat 43,65; (5) peserta didik mencari informasi sebesar 47,61%. Berdasarkan perolehan persentase tersebut, dapat diketahui bahwa aktivitas belajar peserta didik rendah dan juga berdampak pada hasil belajar peserta didik dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang harus dicapai yaitu 70.
Permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah tidak semua peserta didik mendengarkan dan memahami pelajaran yang diberikan oleh pendidik. aktivitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran masih rendah. Maka perlu diciptakan suasana pembelajaran yang mendorong peserta didik terlibat aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Untuk menciptakan suasana pembelajaran tersebut dibutuhkan suatu model pembelajaran yang akan membuat peserta didik antusias dalam belajar sehingga aktivitas belajar peserta didik dapat meningkat. Untuk meningkatkan perhatian peserta didik, aktivitas dan hasil belajar peserta didik meningkat dapat diterapkannya model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran kelompok yang memiliki aturan-aturan tertentu. Prinsip dasar pembelajaran kooperatif adalah peserta didik membentuk kelompok kecil dan saling mengajarkan sesamanya untuk mencapai tujuan bersama (Wena,2009; Slavin, 1995).
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tuga tujuan yaitu, prestasi, akademis, toleransi dan penerimaan terhadap keanekaragaman dan pengembangan keterampilan sosial (Arends, 2008uprijono, 20095). Dengan model pembelajaran kooperatif peserta didik dapat bekerja dalam timnya untuk mencapai tujuan belajar, tim-tim tersebut adalah terdiri atas peserta didik yang berprestasi rendah, sedang dan tinggi dan juga terdapat peserta didik terdiri atas campuran ras, budaya dan gender. Model pembelajaran kooperatif membuat prestasi tinggi dalam tugas-tugas belajar akademik lebih dapat diterima. Selain mengubah norma-norma yang terkait dengan dengan prestasi tinggi, dapat membantu peserta didik mengajarinya temannya. Dalam prosesnya, mereka yang berprestasi tinggi juga memperoleh hasil secara akademik karena bertindak sebagai tutor menuntut untuk berfikir lebih mendalam tentang hubungan di antara berbagai ide dalam subjek tertentu.
Model pembelajaran kooperatif memiliki beragam tipe. Terdapat beberapa model kooperatif yang bertujuan untuk prestasi akademis dan peserta didik terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan danpak positif, dapat memotivasi peserta didik untuk meningkatkan prestasi belajarnya, serta diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik didalam kelompoknya seperti menjadi pendengar yang baik dan selama kerja kelompok, tugas kelompok adalah mencapai ketuntasan antara lain, model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Dalam model pembelajaran kooperatif Group Investigation peserta didik bukan hanya bekerja bersama-sama tetapi juga membantu merencanakan topic yang akan dipelajari maupun prosedur investigative yang digunakan (Arends, 2008:14). Didalam investigasi kelompok peserta didik dapat memecahkan permasalahannya bersama kelompoknya serta peserta didik mampu untuk berfikir mandiri.
Terdapat beragam tipe model pembelajaran kooperatif antara lain, model pembelajaran kooperatif Student Teams Achiement Divisoins (STAD),Team Game Tournamen (TGT), Think Pair Share (TPS), Numbered Heads Together (NHT), dan Group Investigation (Investigasi Kelompok). Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation merupakan model pembelajaran yang menuntut melibatkan peserta didik sejak perencanaan, baik menentukan topik maupun cara untuk mempelajari  melalui investigasi (Wena, 2004:195). Hal yang membedakan dengan model kooperatif lain adalah investigasi kelompok melibatkan kemampuan para peserta didik untuk mempelajari melalui investigasi atau penyelidikan. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation adalah memungkinkan peserta didik untuk secara aktif melakukan investigasi terhadap suatu topik sebab investigasi kelompok memfokuskan pada investigasi terhadap suatu topik atau konsep. Model pembelajaran kooperatif Group Investigation menyediakan kesempatan kepada peserta didik untuk membentuk atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan bermakna. Investigasi kelompok efektif dalam membentuk peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok dengan latar belakang berbeda.
Berdasarkan penjelasan dari beberapa model pembelajaran diatas, salah satu model pembelajaran yang cocok untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation mendorong peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Di dalam investigasi kelompok, peserta didik dapat mengeluarkan ide-idenya, mengemukakan pendapatnya, dapat memecahkan suatu permasalahan bersama kelompoknya serta peserta didik mampu untuk berfikir mandiri.
Permasalahan yang dibahas adalah:
1.Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group  Investigation dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah ?
2.Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group  Investigation dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah?

Tujuan Penelitian ini adalah:
1.Untuk menganalisis peningkatan aktivitas belajar melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  pada peserta didik kelas X IPS Pada mata pelajaran sejarah.;
2.Untuk menganalisis peningkatan hasil belajar sejarah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  pada peserta didik kelas X IPS Pada mata pelajaran sejarah.;

Manfaat Penelitian ini adalah:
Bagi peserta didik, peserta didik akan lebih mudah memahami pembelajarn sejarah yang menyenangkan dengan menggununakan model pembelajaran koopeatif tipe Group Investigation; Bagi sekolah, diharapkan dapat membangkitkan minat belajar peserta didik sehingga dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran sejarah; Bagi pendidik, diharapkan dapat memperluas wawasan dan kreativitas pendidik untuk merancang pembelajaran;

METODE PENELITIAN
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X IPS 1 MAN 1 Bondowoso dengan jumlah 42 peserta didik. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian model Hopkins. Di dalam  model penelitian tindakan kelas terdapat empat komponen pokok yaitu, perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observasion, refleksi (reflecting). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah observasi, wawancara, tes dan dokumentasi Pada penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif. Analisis data kualitatif untuk pengumpulan data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil data kuantitatif berupa tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar apakah sesuai dengan yang dicapai atau tidak. Data yang akan dianalisis yaitu aktivitas belajar peserta didik dalam proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil observasi pada saat proses pembelajaran diperoleh informasi-informasi yang selanjutnya dianalisis. Ketuntasan belajar dalam penelitian ini adalah kemampuan aktivitas belajar peserta didik dan hasil belajar menggunakan standar ketuntasan belajar yang ditetapkan disekolah. Ketuntasan hasil belajar dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar dan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan standar ketuntasan yaitu ketuntasan belajar dinyatakan tuntas apabila tingkat persentase ketuntasan minimal mencapai ≥ 70 dari skor maksimal 100.





HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini memaparkan hasil dan pembahasan penelitian yang dilakukan:

A. Peningkatan Aktivitas Belajar Peserta Didik Kelas X IPS 1 MAN Bondowoso dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dalam Pembelajaran Sejarah
Peningkatan aktivitas belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation per siklus (siklus 1, siklus 2 dan siklus 3) dapat dilihat dari lima indikator berikut: (1) mengajukan pertanyaan; (2) mengeluarkan pendapat; (3) keaktifan berdiskusi; (4) mencatat; (5) mencari informasi. Berikut hasil peningkatan masing-masing indikator aktivitas belajar peserta didik.
Hasil analisis persentase aktivitas belajar peserta didik mengalami peningkatan dari siklus 1, 2 dan 3. Pada indikator mengajukan pertanyaan siklus 1 meningkat 5,55% menjadi 60,31% dengan 21,42% dengan kriteria peserta didik sangat baik, 61,90% peserta didik dengan kriteria baik, 21,4% peserta didik kriteria kurang. Pada siklus 2 meningkat 10,32% menjadi 70,63% dengan 33,4% peserta didik sangat baik, 33,4% peserta didik dengan kriteria baik, 21,4%. Siklus 3 meningkat 2,38% menjadi 73,01% dengan 23,8% peserta didik kurang baik 66,7% peserta didik dengan kriteria baik, 23,8% dengan kriteria peserta didik sangat baik. Pada indikator mengeluarkan pendapat dapat diketahui siklus 1 meningkat 23,01% menjadi 69,04% dengan 23,8% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 57,14% peserta didik dengan kriteria baik dan 21,41% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada siklus 2 meningkat 6,68% menjadi 75,9% dengan 40,47% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 45,23% peserta didik dengan kriteria baik dan 14,28% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Siklus 3 meningkat 6,63% menadi 82,53% dengan 50% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 47,61% peserta didik dengan kriteria baik dan 2,38% peserta didik dengan kriteria kurang baik.
Pada indikator keaktifan berdiskusi dapat diketahui siklus 1 meningkat 19,84% menjadi 69,84% dengan 23,80% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 57,14% peserta didik dengan kriteria baik dan 16,7% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada siklus 2 meningkat 4,76% menjadi 74,60% dengan 23,8% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 71,4% peserta didik dengan kriteria baik dan 9,52% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Siklus 3 meningkat 12,7% menjadi 87,30% dengan 61,9% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 38% peserta didik dengan kriteria kurang baik.
Pada indikator mencatat dapat diketahui Siklus 1 meningkat 17,48% menjadi 61,11% dengan 11,9% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 59,52% peserta didik dengan kriteria baik dan 28,57% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada siklus 2 meningkat 10,31% menjadi 71,42% dengan 2,8% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 61,9% peserta didik dengan kriteria baik dan 16,7% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Siklus 3 meningkat 6,35% menjadi 77,77% dengan 57,14% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 4,76% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada indikator mencari informasi diketahui siklus 1 meningkat 15,08% menjadi 62,69% dengan 11,9% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 61,9% peserta didik dengan kriteria baik dan 28,57% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada siklus 2 meningkat 11,11% menjadi 73,80% dengan 23,8% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 66,7% peserta didik dengan kriteria baik dan 16,7% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Siklus 3 meningkat 13,5% menjadi 87,30% dengan 61,9% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 38,09% peserta didik dengan kriteria baik.


B. Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dalam Pembelajaran Sejarah
Peningkatan hasil belajar sejarah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada siklus 1, 2 dan 3 dapat diperoleh data yaitu berdasarkan dari hasil observasi dapat diketahui persentase hasil belajar aspek kognitif peserta didik secara klasikal pada siklus 1,siklus 2 dan siklus 3. Persentase ketuntasan aspek kognitif pada siklus 1 sebesar 64,25%, pada siklus 2 meningkat menjadi 78,57%, pada siklus 3 meningkat menjadi 83,33%. Peningkatan ketuntasan aspek kognitif juga mengalami peningkatan. Pada pelaksanaan siklus 1 memperoleh persentase sebesar 42,1%, pada pelaksanaan siklus 2 meningkat menjadi 3,92% dan pada pelaksanaan siklus 3 meningkat menjadi 6,06%. Sedangkan rata-rata hasil belajar aspek kognitif pada siklus 1 memperoleh 72,85, pada pelaksanaan siklus 2 meningkat menjadi 75,71% dan pelaksanaan siklus 3 meningkat menjadi 77,5 %. Hasil belajar peserta didik pada aspek afektif pada siklus 1 sebesar 69,68%, dan aspek psikomotorik sebesar 68,09%. Pada siklus 2 hasil belajar afektif memperoleh sebesar 78,57%, dan aspek psikomotorik sebesar 70,63%. Siklus 3 hasil afektif memperoleh sebesar 83,33%, dan hasil belajar aspek psikomotorik memperoleh sebesar 83,33%.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigtaion pada mata pelajaran sejarah dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas X IPS Pada mata pelajaran sejarah. Penerapan model kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas X IPS Pada mata pelajaran sejarah.
Peserta didik mampu mengajukan pertanyaan, mengeluarkan pendapat, keaktifan berdiskusi, mencatat dan mencari informasi mengenai pembelajaran. Pada siklus 1 aktivitas belajar peserta didik ketuntasan klasikal memperoleh persentase sebesar 64,28% dengan kriteria cukup baik, pada siklus 2 aktivitas belajar peserta didik ketuntasan klasikal memperoleh persentase sebesar 73,17% dengan kriteria baik, pada siklus 3 aktivitas belajar peserta didik ketuntasan klasikal memperoleh persentase sebesar 81,58% dengan kriteria sangat baik.
Penerapan model kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan hasil belajar peserta. Siklus 1 hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan klasikal sebesar 64,28%, siklus 2 hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan klasikal sebesar 78,57%, siklus 3 hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan klasikal sebesar 83,33%. Hasil belajar peserta didik pada aspek afektif pada siklus 1 sebesar 69,68%, dan aspek psikomotorik sebesar 68,09%. Pada siklus 2 hasil belajar afektif memperoleh sebesar 78,57%, dan aspek psikomotorik sebesar 70,63%. Siklus 3 hasil afektif memperoleh sebesar 83,33%, dan hasil belajar aspek psikomotorik memperoleh sebesar 83,33%.
  • Berdasarkan hasil penelitian saran yang dapat diajukan oleh peneliti yaitu bagi pendidik, sebaiknya menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dikelas, bagi peserta didik, agar dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar mata pelajaran sejarah, bagi sekolah yang diteliti, hasil dari penelitian ini merupakan sebuah masukan yang dapat berguna dan digunakan sebagai peengetahuan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan dan kegiatan pembelajaran disekolah, bagi peneliti lain, agar dapat lebih mengembangkan penelitian pembelajaran dengan model  pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada materi yang lain dalam ruang lingkup yang luas.


DAFTAR RUJUKAN
Aman. 2009. Evaluasi Pembelajaran Sejarah. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Arends, R. 2008.Learning To Teach Belajar untuk Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Lie, A. 2002. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia.
Slavin, R.E. (1995). Cooperatif Learning: Theory, Research and Practice. Second Edition. Massachusetts: Allyn and Bacon Publishers.

Subakti, Y.R.2003. Paradigma Pembelajaran Sejarah Berbasis Konstruktivisme. SPPS Vol (24):1.
Suprijpono, A. (2009). Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustka Pelajar
Undang-Undang SPN No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
Wena, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.