Selasa, 29 Agustus 2017

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI “LAPORAN BERITA “, MELALUI METODE MENGAJAR SESAMA TEMAN (PEER TEACHING METHODS) SISWA KELAS VII SMPN 5 SAMBOJA


PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI “LAPORAN BERITA “, MELALUI METODE MENGAJAR SESAMA TEMAN (PEER TEACHING METHODS) SISWA KELAS VII SMPN 5 SAMBOJA

Sujadi

Abstrak: Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah untuk menngkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Laporan Berita” Melalui Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) Siswa Kelas VII SMPN 5 Samboja.. Desain Penelitian ini adalah penelitian Tindakan Kelas. Dilaksanakan selama dua siklus dengan langkah-langkah: Perencanaa, Tindakan, Observasi dan Refleksi. Hasil Penelitian menunjukkan dari kondisi awal ketuntasan baru mencapai 60 %, pada siklus pertama meningkat menjadi 77 %, selanjutnya pada siklus kedua mencapai kutuntasan klasikal sebesar 91 %. Keaktifan siswa juga mengalami peningkatan, pada akhir siklus kedua siswa semua aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian apa yang peneliti harapkan telah tercapai dengan melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini.

Kata Kunci: Hasil Belajar, (Peer Teaching Methods

PENDAHULUAN
Bagi peserta didik, bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua mata pelajaran. Pada dasarnya pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, lingkungan sekitarnya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan, pemikiran dan perasaan, interaksi sosial serta berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.
Pembelajaran bahasa Indonesia dewasa ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sesuai kaidah bahasa, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia harus mencapai ukuran kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Melaui mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan: 1)peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa Indonesia; 2)guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai aktivitas dan kreativitas berbahasa dengan berbagai sumber belajar; 3)guru harus lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya dimana guru tersebut mengajar (Depdikbud, 2004).
Pembelajaran bahasa Indonesia pada semua jenjang pendidikan adalah diarahkan mampu membimbing siswa, memfungsikan bahasa Indonesia dalam komunikasinya dengan segala aspek. Dalam pengertian ini jelas bahwa tujuan pengajaran bahasa Indonesia itu diarahkan kepada kemampuan siswa agar melakukan komunikasi dengan bahasa Indonesia sesuai dengan fungsinya.
Bahasa Indonesia tidak akan terlepas dari kebudayaan bangsa Indonesia karena bahasa Indonesia dijadikan alat berkomunikasi dengan berbagai suku di tanah air. Bahasa Indonesia memang diajarkan sejak anak-anak, tetapi model pengajaran yang baik dan benar tidak banyak dilakukan oleh seorang pengajar. Metode pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat menggunakan satu metode karena bahasa Indonesia sendiri yang bersifat dinamis. Bahasa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi sebagai keterampilan sehingga penggunaan metode yang tepat perlu dilakukan.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik   dan   benar,   baik   secara   lisan   maupun   tulis,   serta menumbuhkan   apresiasi   terhadap   hasil   karya   kesastraan   manusia Indonesia.
Bahasa Indonesia memang diajarkan sejak anak-anak, tetapi model pengajaran yang baik dan benar tidak banyak dilakukan oleh seorang pengajar. Metode pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat menggunakan satu metode karena bahasa Indonesia sendiri yang bersifat dinamis. Bahasa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi sebagai keterampilan sehingga penggunaan metode yang tepat perlu dilakukan.
Peneliti yang sekaligus sebagai guru Bahasa Indonesia mendapatkan temuan bahwa hasil belajar di kelas VII SMPN 5 Samboja, masih tergolong rendah, yang mencapai ketuntasan belajar hanya 60% dari jumlah seluruh siswa.
Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif. 
Untuk sampai pada tujuan tersebut, diperlukan strategi penyampaian pembelajaran berupa metode untuk menyampaikan pembelajaran kepada pebelajar. Adapun strategi pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara pelajar (Sardiman, 2011).
Beberapa keuntungan dan kelebihan metode peer teaching tidak hanya berguna bagi siswa yang enggan bertanya atau kurang aktif, tapi juga untuk siswa yang dijadikan tutor bagi temannya. Salah satu tanda bahwa seseorang telah menguasai suatu materi adalah dia bisa mengajarkannya kembali pada orang lain. Sehingga semakin menguasai materi. Beberapa pakar meyakini bahwa suatu subyek dapat dikatakan benar-benar dikuasai hanya jika pembelajar mampu mengajarkannya kepada orang lain. Praktik mengajar teman (peer teaching) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu dengan sebaik-baiknya dan pada saat yang bersamaan menjadi sumber belajar bagi satu sama lain, sehingga siswa semua aktif dan produktif (Silberman, 2013; Machfudz, 2000.).
Peneliti yang juga sebagai guru mata pelajaran bahasa Indonesia mengadakan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki hasil belajar siswa. Metode peer teaching adalah teknik menyampaikan materi ajar melalui rekan atau bantuan teman sendiri. Mulai dari pembahasan materi sampai penilaian juga dilakukan dari dan oleh siswa dalam kelompok itu sendiri (self-assessment dan peer assessment). Sedangkan untuk nilai akhirnya adalah penggabungan antara penilaian oleh guru dan teman sebaya.



Perumusan Masalah
Berdasarkan masalah penelitian tindakan kelas maka rumusan ini, peneliti sampaikan sebagai berikut : Apakah Ada Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Laporan Berita” Melalui Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) Siswa Kelas VII SMPN 5 Samboja ?

Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah untuk mengkaji tentang : Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Laporan Berita” Melalui Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) Siswa Kelas VII SMPN 5 Samboja.

Manfaat Hasil Penelitian
Sesuai dengan uraian tujuan penelitian diatas, hasil di capai dari penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermafaat :
  1. Bagi siswa, dapat membuat suasana belajar lebih menyenangkan sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa menjadi meningkat karena materi pelajaran lebih mudah dipahami,
  2. Bagi guru, dapat menjadi referensi dalam menentukan model pembelajaran pada mata pelajaran lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa,
  3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat merupakan bahan masukan yang berguna dalam meningkatkan kinerja dan profesional kinerja guru

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas ini diadakan pada semester Ganjil tahun Pelajaran 2016/2017, sedangkan tempat penelitian yaitu di SMPN 5 Samboja Kutai Kartanegara.

Subyek Penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VII yang berjumlah 30 siswa, serta Aktivitas Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Laporan Berita” Melalui Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods).


Rancangan Penelitian
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan kelas, maka penelitiSan ini menggunakan model penelitian tindakan dari Hopkins dalam “Yaitu berbentuk kegiatan berulang dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (perencanaan), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi”.
Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan, dan analisa data pada kondisi awal. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya dengan tujuan untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Dalam penelitian ini dilaksanakan selama tiga siklus, karena dengan tindakan dalam tiga siklus, yaitu siklus Kondisi Awal, siklus I dan siklus II, sudah dapat dilihat peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa dengan menerapkan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia materi ajar “Laporan Berita”.
Jenis penelitian ini adalah adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR), dengan ruang lingkup adalah pembelajaran di dalam kelas yang dilaksanakan oleh guru dan siswa. PTK adalah bentuk kajian yang bersifat reflektif yang diawali dari proses perenungan atas dampak tindakan yang selama ini dilakukan guru terkait dengan tugas-tugas pembelajaran di kelas, dilakukan oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakannya dalam melaksanakan tugas dan memperdalam pemahaman terhadap kondisi dalam praktik pembelajaran (Muslich, 2011: 8).
Penelitian Tindakan Kelas adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa pada kemampuan dasar yang dianggap guru belum berhasil, dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri (Muslich, 2011: 8). Pengertian lain Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara professional (Muslich, 2011: 9).
Hakikat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah terdiri dari tiga kata, yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian diartikan sebagai kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara, aturan, dan metodologi tertentu untuk menemukan data akurat tentang hal-hal yang dapat meningkatkan mutu objek yang diamati. Tindakan, merupakan gerakan yang dilakukan secara sengaja dan terencana dengan tujuan tertentu. Kelas, adalah tempat terdapat sekelompok siswa yang dalam waktu bersamaan menerima pelajaran dari guru yang sama (Suyadi, 2012: 3).
Adapun rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas adalah Model Penelitian Tindakan Kelas oleh Hopkins. Langkah pertama dalam penelitian tindakan kelas adalah melakukan Planning (perencanaan) tindakan misalnya membuat skenario pembelajaran, lembar observasi, aktivitas siswa, aktivitas guru dan lain-lain. Kemudian langkah selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini dilakukan pengamatan atau observasi. Selanjutnya melakukan analisis dan refleksi. Apabila metode yang digunakan telah berhasil, dapat ditarik kesimpulan, tetapi apabila metode yang digunakan masih perlu perbaikan maka akan dilakukan rencana selanjutnya, demikian terus secara berulang sampai benar-benar metode yang digunakan berhasil.
Penelitian tindakan ini bercirikan adanya perubahan secara bertahap. Bila pembelajaran berbicara melalui gelar wicara belum meningkatkan keterampilan berbicara siswa, peneliti akan melaksanakan tindakan selanjutnya sampai mencapai hasil yang diharapkan, yaitu mencapai KKM dengan pembelajaran yang bermakna bagi siswa dalam menerima pengalaman belajar. Dengan demikian jumlah siklus tidak terikat dan tidak dapat ditentukan sampai siklus tertentu.

Prosedur Penelitian
Pada prosedur penelitian ini dikemukakan oleh Suhardjono (2008:74) yang mempunyai 4 tahapan, yaitu :
  1. Perencanaan (Planning)
  2. Pelaksanaan (Action)
  3. Pengamatan (Observing)
  4. Refleksi (Reflecting)
  1. Menyusun Rencana Tindakan (Planning)
Rancangan kegiatan penelitian ini terdiri dari 2 siklus yang terdiri dari Kondisi Awal, siklus I dan siklus II dengan rincian sebagai berikut: Kondisi Awal
Pembelajaran dilakukan dengan model pembelajaran konvensional. Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) dalam proses pembelajaran belum diterapkan . Pada akhir siklus ini peneliti melakukan evaluasi dengan memberikan tes siklus kondisi awal untuk melihat hasil belajar siswa.
  1. Siklus I
Pada siklus I ini peneliti mulai menerapkan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) dalam proses pembelajaran. Dalam observasi dan evaluasi akan dilakukan refleksi untuk melihat kelemahan pada siklus pertama ini, sehingga pada siklus berikutnya akan dilakukan tindakan yang dapat memperbaiki kelemahan pada siklus ini agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.
  1. Siklus II
Pada siklus II sama sperti siklus I, peneliti menerapkan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) dalam proses pembelajaran. Dalam observasi dan evaluasi akan dilakukan refleksi untuk melihat kelemahan pada siklus kedua ini, apabila pada siklus II ini peneliti belum merasa puas dengan hasil yang dicapai maka peneliti dapat melanjutkan pada siklus berikutnya. Namun, apabila peneliti telah merasa puas dengan hasil yang dicapai maka penelitian boleh dihentikan.
2. Pelaksanaan Tindakan (Action)
  1. Kondisi Awal
Pembelajaran yang dilakukan adalah pembelajaran konvensional. Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) belum diterapkan pada siklus ini. Tahapan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
  • Guru membuka pelajaran dengan memberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa.
  • Guru menyampaikan topik bahasan dan tujuan pembelajaran
  • Guru menjelaskan materi di depan kelas secara keseluruhan.
  • Guru memberikan beberapa contoh soal.
  • Guru memberikan latihan.
  • Guru memberikan tes akhir dengan soal berbentuk essay.
  • Merefleksikan perbaikan proses pembelajaran.
b. Siklus I
  • Guru menjelaskan materi ajar “Laporan Berita”, tujuan pembelajaran, dan langkah/kegiatan yang akan dilalui siswa
  • Membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 6 siswa secara merata (tiap kelompok terdapat siswa yang pintar)
  • Di dalam kelompoknya siswa belajar dari dan dengan sesama teman lain dengan cara yang saling menguntungkan serta berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman masing-masing.
  • Setiap anggota kelompok dituntut memberikan tanggapan serta pendapat mereka sendiri yang nantinya akan disatukan dalam satu kesimpulan.
  • Setiap kelompok merumuskan hasil diskusinya dalam satu kesimpulan atas dasar kesepakatan bersama.
  • Beberapa menit kemudian (sekitar 20 menit) salah satu anggota masing-masing kelompok secara bergiliran mengajarkan hasil temuannya di hadapan kelompok lain.
  • Setiap kelompok diminta memberikan tanggapan (kritik, saran, pendapat, pertanyaan, komentar, dll)
  • Perbedaan pendapat didiskusikan sampai permasalahan terpecahkan
  • Setiap masalah baru yang muncul dicatat oleh guru dan diberikan solusinya
  • Guru memberi kesimpulan permasalahan dan pemecahannya, sehingga pemahaman setiap siswa seragam.
  • Penilaian dilakukan oleh guru saat proses pembelajaran sedang berlangsung (terutama pada langkah 3)
c. Siklus II
  • Dengan metode tanya jawab guru mengingatkan kembali tentang materi yang telah diberikan.
  • Guru menjelaskan materi ajar “Laporan Berita”, tujuan pembelajaran, dan langkah/kegiatan yang akan dilalui siswa
  • Membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 6 siswa secara merata (tiap kelompok terdapat siswa yang pintar)
  • Di dalam kelompoknya siswa belajar dari dan dengan sesama teman lain dengan cara yang saling menguntungkan serta berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman masing-masing.
  • Setiap anggota kelompok dituntut memberikan tanggapan serta pendapat mereka sendiri yang nantinya akan disatukan dalam satu kesimpulan.
  • Setiap kelompok merumuskan hasil diskusinya dalam satu kesimpulan atas dasar kesepakatan bersama.
  • Beberapa menit kemudian (sekitar 20 menit) salah satu anggota masing-masing kelompok secara bergiliran mengajarkan hasil temuannya di hadapan kelompok lain.
  • Setiap kelompok diminta memberikan tanggapan (kritik, saran, pendapat, pertanyaan, komentar, dll)
  • Perbedaan pendapat didiskusikan sampai permasalahan terpecahkan
  • Setiap masalah baru yang muncul dicatat oleh guru dan diberikan solusinya
  • Guru memberi kesimpulan permasalahan dan pemecahannya, sehingga pemahaman setiap siswa seragam.
  • Penilaian dilakukan oleh guru saat proses pembelajaran sedang berlangsung (terutama pada langkah 3)
  • Guru memberikan latihan soal, kemudian meminta siswa sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya.
  • Guru mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman pembelajaran.
  • Guru memberikan tes akhir untuk siklus II
  • Merefleksikan kegiatan pembelajaran.
3. Pengamatan (Observing)
Kegiatan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) . Kegiatan yang diamati adalah hasil belajar siswa yang dilakukan pada akhir siklus dengan memberikan tes tertulis dalam bentuk tes objektif. Hasil pengamatan ini dicatat untuk dikembangkan pada siklus berikutnya. Apabila peneliti telah cukup merasa puas dengan hasil belajar yang diperoleh siswa maka penelitian dapat dihentikan.
4. Refleksi (Reflecting)
  • Pada langkah Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan, kemudian hasil refleksi dari pengamatan disusun rencana tindakan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
  • Agar dapat menarik kesimpulan mengenai data yang diperoleh, maka peneliti melakukan evaluasi guna mengetahui hal-hal yang dirasakan sudah memuaskan dan secara cermat mencari hal-hal yang perlu diperbaiki berdasarkan analisis peneliti sehingga dapat ditarik kesimpulan apakah terdapat atau tidak peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa setelah diterapkan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods).

Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk tes. Menurut Suharsimi Arikunto (2008:29) bahwa “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.” Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman materi yang diajarkan. Dalam penelitian ini tes diberikan dalam bentuk tes formatif yang diberikan setiap akhir siklus. Bentuk soal tes adalah pilihan ganda (objektif). Untuk mendapatkan tes yang benar-benar valid, reliabilitas yang tinggi serta memperhatikan tingkat kesukaran dan daya beda soal maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Membuat kisi-kisi soal tes
  2. Menyusun soal tes sesuai dengan kisi-kisi soal tes.
  3. Melakukan uji coba soal tes yang bertujuan untuk menganalisis butir soal, sehingga diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadakan perbaikan.

Teknik Analisis data
Analisis data merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif.
Analisis data kualitatif dalam penelitian ini adalah analisis data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi. Sedangkan analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar apakah sesuai dengan yang hendak dicapai (efektif) atau tidak.
Dimana presentase ketuntasan belajar siswa dirumuskan dengan:
  1. Ketuntasan Secara Individual
P = n x 100%
N
Keterangan:
P= Persentase ketuntasan hasil belajar siswa
n= Skor yang diperoleh siswa
N= Skor maksimum dalam tes
  1. Ketuntasan secara Klasikal
Rumus Persentase Ketuntasan = Jumlah Siswa Tuntas x100%
Jumlah Seluruh Siswa
Depdikbud, 1994:22)
Data yang dipresentasikan kemudian ditafsirkan menggunakan kalimat yang bersifat kualitatif untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian dari masing­-masing data yang diperoleh, adapun target pencapaian tujuan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Sebelum Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan, kegiatan pertama-tama yang dilakukan adalah mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Selanjutnya peneliti mengadakan analisa data pada kondisi awal ini untuk mengetahui , apakah perlu atau tidak penelitian tindakan kelas dilaksanakan di Kelas ini.
Hasil analisa pada kondisi awal diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 14 siswa atau sebesar 40%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 21 siswa atau sebesar 60%, maka hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia materi ajar “ Laporan Berita” pada kondisi awal dinyatakan belum tuntas. Untuk itu perlu diadakan perbaikan pembelajaran sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar, salah satunya adalah melalui penelitian tindakan kelas.
Kegiatan selanjutnya adalah pelaksanaan penelitian tindakan kelas sesuai dengan desain yang telah dibuat sebelumnya yaitu penerapan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods). Pada tahap ini persiapan telah dilakukan, baik yang berkaitan dengan persiapan mengajar (Rencana Pembelajaran, alat evaluasi dan perencanaan setting pembelajaran) lembar observasi, panduan wawancara, dan persiapan tes/latihannya ).
Pada tahapan-tahapan ini akan dijelaskan pada pembelajaran berikutnya yakni Siklus I dan Siklus II yang tujuannya untuk mencari peningkatan ketuntasan hasil belajar dengan menerapkan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi ajar “ Laporan Berita”.
Berkaitan dengan proses pembelajaran akan dijelaskan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
  • Perencanaan
Kegiatan perencanaan adalah penerapan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods), menyiapkan RPP, media dan buku mata pelajaran, buku-buku dongeng anak, dll.
  • Tindakan
Dalam kegiatan tindakan meliputi seluruh proses kegiatan belajar mengajar melalui Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods).
  • Observasi
Dalam kegiatan observasi adalah kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan proses penerapan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods), meliputi peningkatan minat belajar, aktivitas dan kemampuan menyelesaikan tugas.
  • Refleksi
Dalam kegiatan refleksi yang dilakukan antara lain, meliputi kegiatan analisis hasil pembelajaran sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara kolaborasi dengan guru lain di SMP 5 Samboja. yang membantu dalam pelaksanaan observasi dan refleksi selama penelitian berlangsung.
Setelah mencatat hasil observasi, mengevaluasi hasil observasi, menganalisa hasil belajar dengan penerapan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods), selanjutnya mencari kelemahan untuk diperbaiki pada siklus berikutnya.
Adapun hasil analisis data dari pembelajaran pada siklus I, dapat di lihat pada tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
8
23%
65 – 100
27
77%
Jumlah
35
100%
Pada Tabel 1 diatas, pembelajaran siklus I dapat dilihat adanya peningkatan hasil belajar dibandingakan pada pra tindakatan, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 23% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 27 siswa atau sebesar 77%, maka pada siklus I dinyatakan tuntas belajar. Selanjutnya untuk mencapai target ketuntasan yang diinginkan, analisa data berikutnya dilakukan pada siklus II.
Proses pembelajaran pada siklus II ini pada dasarnya adalah penyempurnaan dari apa yang sudah dilaksanakan pada siklus I, Hasil analisa data yang diperoleh pada siklus II dapat dilihat pada tabel 2, dibawah ini,


Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Siklus 2
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
9%
65 – 100
32
91%
Jumlah
35
100%
Sumber : Data yang diolah
Hasil analisa data pada tabel 2 diatas, menunjukkan pada siklus II, terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar yang sangat menggembirakan , yaitu yang mendapat nilai < 65 hanya 3 siswa atau sebesar 9% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 32 siswa atau sebesar 91%, dengan demikian pada siklus II, secara dinyatakan secara klasikal tuntas belajar, sehingga tidak perlu diadakan analisa data pada siklus berikutnya mengingat sudah mencapai target ketuntasan yang diinginkan.
Untuk lebih jelas, hasil perbandingan ketuntasan hasil belajar pada Kondisi awal, Siklus I, dan Siklus II dapat di lihat pada tabel 3 dan grafik perbandingan di bawah ini :

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
14
40%
8
23%
3
9%
65 – 100
21
60%
27
77%
32
91%
Jumlah
35
100%
35
100%
35
100%
Sumber : Data yang diolah

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Sumber : Data yang diolah


Pembahasan
Berdasarkan teori yang telah diuraikan di atas, bagaimanapun juga pengetahuan yang kita dapat merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Karena dalam proses belajar dan pembelajaran perlu adanya sikap aktif siswa. Sebagaimana dikatakan Dalton (2016); guru tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu, namun guru lebih diposisikan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan megkonstruksi pengetahuannya sendiri. Banyak sekali manfaat yang diperoleh siswa, diantaranya memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan gagasan dengan menggunakan bahasa mereka sendiri, memberikan kesempatan pada siswa untuk berpikir dan memikirkan tentang pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif, memberikan kesempatan pada siswa untuk mencoba melakukan dan melaksanakan gagasan-gagasan, memberikan pengalaman pada siswa yang berhubungan dengan gagasan-gagasan yang telah dimiliki siswa sebelumnya, dan menciptakan lingkungan belajar dan kondusif sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa.
Peningkatan hasil belajar yang terjadi pada siklus I dan siklus II ini membuktikan bahwa penerapan Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Methods) membuat suasana pembelajaran menjadi sangat menyenangkan. Hal ini juga dapat membuat siswa menjadi lebih mudah dalam memahami materi yang diajarkan
Peningkatan yang dicapai oleh siswa pada siklus I yang cukup signifikan ini, akan menjadi dasar bagi peneliti untuk meneruskan model pembelajaran ini dengan pembelajaran pada siklus II, khususnya untuk mencapai kriteria ketuntasan belajar secara klasikal walaupun model pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada waktu proses belajar mengajar cukup bervariasi, akan belum banyak memberikan perubahan pada upaya optimalisasi peningkatan proses pembelajaran yang tuntas.
Pada umumnya siswa akan sangat tertarik dengan hal-hal yang baru. Atas dasar inilah seorang guru harus jeli dalam memilih metode pembelajaran agar siswa tetap termotivasi dan antusias untuk belajar. Metode mengajar sesama teman (peer teaching methods) bisa dijadikan pilihan untuk memenuhi hal itu. Hanya saja jangan terlalu sering diterapkan karena kesannya, pembelajaran akan monoton dan akhirnya membosankan siswa.
Metode peer teaching adalah teknik menyampaikan materi ajar melalui rekan atau bantuan teman sendiri. Mulai dari pembahasan materi sampai penilaian juga dilakukan dari dan oleh siswa dalam kelompok itu sendiri (self-assessment dan peer assessment). Sedangkan untuk nilai akhirnya adalah penggabungan antara penilaian oleh guru dan teman sebaya.
Pembelajaran kooperatif dengan teknik ini bisa dilaksanakan bersamaan dengan metode diskusi. Prasyarat untuk melaksanakan pembelajaran dengan metode peer teaching, di dalam kelas harus terdapat beberapa siswa yang cepat (pintar) dan semua siswa cenderung memiliki pengetahuan dasar yang relevan.
Ada berbagai manfaat : 1)Dapat memotivasi siswa untuk saling membantu pembelajaranya satu sama lain; 2)Menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kelompoknya (sebagaimana kepada diri mereka sendiri) untuk melakukan yang terbaik; 3Meningkatkan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk bekerja secara efektif; 4) Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan ketrampilan bertanya dan membahas sesuatu masalah; 5) Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan ketrampilan berdiskusi (Agus N, 2013..
Sedangkan kekurangan model ini adalah: 1)Memerlukan waktu yang relatif lama; 2)Jika siswa tidak memiliki dasar pengetahuan yang relevan maka metode ini menjadi tidak efektif; 3)Kemungkinan didominasi oleh siswa yang suka berbicara, pintar, atau yang ingin menonjolkan diri; 4)Memerlukan perhatian guru yang ekstra ketat

Mengingat semua model/metode pembelajaran pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, untuk itu guru harus dapat menyesuaikan model pembelajaran yang akan diterapkan dengan situasi dan kondisi siswa agar mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. Pada beberapa kasus, bimbingan teman (peer tutoring) menghasilkan pencapaian akademik yang lebih besar dibandingkan entah pembelajaran tuntas ataupun pengajaran seisi kelas yang lebih tradisional. Salah satu kemungkinan alasannya adalah peer teaching memberikan siswa lebih banyak kesempatan untuk membuat respon aktif yang dari sudut pandang behavioris sangat penting bagi pembelajaran. Peer teaching menyediakan suatu konteks di dalamnya siswa yang mengalami kesulitan mungkin lebih nyaman dalam mengajukan pertanyaan ketika mereka tidak memahami pelajaran sehingga prestasi belajar pun dapat meningkat (Djamarah,2014)


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
 Hasil analisis data menunjukkan peningkatan hasil belajar yang signifikan dari siklus ke siklus, seingga dapat disimpulkan bahwa : ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar bahasa Indonesia materi ajar “laporan berita” melalui metode pembelajaran sesama teman (peer teaching methods) siswa kelas VII. Dari kondisi awal ketuntasan baru mencapai 60 %, pada siklus pertama meningkat menjadi 77 %, selanjutnya pada siklus kedua mencapai kutuntasan klasikal sebesar 91 %.

Saran-Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, ada beberapa saran peneliti yang perlu dipertimbangkan yaitu: Untuk guru, hendaknya berani untuk melaksankan Peer Teaching Methods ntuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk Sekolah, hendaknya memberi dukungan berupa sarana prasarana agar metode pembelajaran yang diterapkan bisa terlaksana secara optimal.

DAFTAR RUJUKAN
AM. Sardiman .2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta. Rajawali
Cahyo, Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar. Yogyakarta: Diva Press.
Dalton, S.T.2016. Five Standars for Efeffektive Teaching. San Francisco: John Willy. Inc.
Djamarah, S.B & Zain, A. (2014). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hanafiah Nanang dan Cucu Suhana 2010. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung. Refika Aditama
Machfudz, Imam. 2000. Metode Pengajaran Bahasa Indonesia Komunikatif. Jurnal Bahasa dan Sastra UM
Muslich.M.2011. PTK Itu Mudah. Jakarta: Bumi Aksara
Sagala, Syaiful. 2012. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensido Offset.
Suparno. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.Yogyakarta: Kanisius
Suyono dan Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. Bandung: Rosda
Saksomo, Dwi. 1983. Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang
Suhardjono . 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka