Selasa, 29 Agustus 2017

PENGARUH PENERAPAN MODEL REGRESIF BERBANTUAN MEDIA POWER POINT TERHADAP KESADARAN SEJARAH DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH


PENGARUH PENERAPAN MODEL REGRESIF BERBANTUAN MEDIA POWER POINT TERHADAP KESADARAN SEJARAH DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH

Mohammad Na’im, Kayan Swastika , Ainun Siska
mohamadnaim 66 @yahoo.co.id
Abstrak:Tujuan penelitian, untuk menganalisis pengaruh penerapan penggunaan model regresif berbantuan media power point terhadap hasil belajar sejarah pada pembelajaran sejarah, dan untuk menganalisis pengaruh penerapan penggunaan model regresif menggunakan media power point terhadap kesadaran sejarah. Rancangan penelilitian ini menggunakan penelitian eksperimen dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, data-data yang diperoleh dianalisis dengan rumus-rumus statistic t test independent.Desaign penelitiannya adalah True Experimental Design. Hasil Penelitian menunjukkan pembelajaran sejarah dengan menggunakan model regresif berbantuan media power point berpengaruh terhadap hasil belajar dan kesadaran sejarah. peserta didik kelas XI IPS di SMAN Kalisat.


Keywords: Model Regresif, Hasil Belajar, Kesadaran Sejarah

PENDAHULUAN
Sejarah sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan yang dipersiapkan dalam kurikulum pendidikan nasional mempunyai peran yang penting dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan, hal ini dikarenakan sejarah mengajarkan kepada setiap manusia untuk bisa belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu yang bisa diambil hikmahnya dalam perjalanan kehidupan selanjutnya. Melalui belajar sejarah peserta didik diajak untuk menelaah keterkaitan kehidupan yang dialami oleh diri sendiri, masyarakat, dan bangsanya, bukan hanya menghafal fakta dan peristiwa sejarah yang merupakan bentuk pengalaman secara lisan dari buku pelajaran (Isjoni, 2007; Fitzgerald, 2012; Pathak, 2003)
Pembelajaran sejarah berfungsi mengembangkan kepribadian peserta didik terutama dalam hal: 1) Mengembangkan perhatian serta minat kepada sejarah masyarakatnya sebagai suatu kesatuan komunitas. Dalam kesatuan komunitas realitas tidak selamanya berjalan serasi, selaras dan seimbang, ada ketegangan, konflik dan sebagainya; 2)Mendapat inspirasi dari cerita sejarah, baik dari kisah-kisah kepahlawanan maupun peristiwa-peristiwa yang merupakan tragedi nasional untuk berusahan, mencapai kehidupan yang lebih baik; 3)Memupuk kebiasaan berpikir secara kontekstual, terutama dalam ruang dan waktu tanpa menghilangkan hakikat perubahan yang terjadi dalam proses sosio-kultural; 3)Tidak mungkin terjebak pada opini, karena dalam berpikir lebih kritis dan rasional dengan dukungan fakta; 4)Menghormati dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan (Kartodirdjo, 1982; Cochran, 2010).
Mengembangkan pembelajaran sejarah harus selalu diingat siapa pelaku peristiwa sejarah, di mana dan kapan. Perspektif waktu merupakan dimensi yang sangat penting dalam sejarah. Sekalipun sejarah itu erat kaitannya dengan waktu lampau, tetapi waktu lampau itu terus berkesinambungan, sehingga persepktif waktu dalam sejarah, ada waktu lampau, kini dan yang akan dating (Yeager & Davis,1995; Colby, S. R. (2007). Dalam mendesain materi pokok pembelajaran sejarah dapat dikaitkan dengan persoalan masa kini dan masa depan. Terutama dalam menyisipkan  kecakapan hidup(life skill), kesetaraan gender, hak azazi manusia, dan multi culture).Sejarah sebagai mata pelajaran yang mempunyai misi dan tujuan pendidikan tertentu dan sejarah sebagai ilmu, harus dipadukan dalam konsep yang jelas tanpa mengorbankan prinsip-prinsip salah satunya atau keduanya (Pathak, 2003; Kim, 2005). Menurut Kochhar (2008:37) sasaran umum pembelajaran sejarah adalah : 1)Mengembangkan tentang diri sendiri; 2)Memberikan gambaran yang tepat tentang konsep waktu, ruang dan masyarakat; 3)Membuat masyarakat mampu mengevaluasi nilai dan hasil yang telah dicapai oleh generasinya;4) Mengajarkan toleransi; 5) Menanamkan sikap intelektual;Memperluas cakrawala intelektualitas; 6) Mengajarkan prinsip-prinsip intelektualitas; 7)Mengajarkan prinsip-prinsip moral; 8)Menanamkan orientasi ke masa depan;Memberikan pelatihan mental; 9)Melatih siswa menangani isu-isu controversial; 10)Membantu mencarikan jalan keluar bagi berbagai masalah sosial dan perorangan; 11)Memperkokoh rasa nasionalisme; 12)Mengembangkan pemahaman internasional; 13)Mengembangkan keterampilan-keterampilan yang berguna.
Perlu disadari bahwa ada unsur yang berpengaruh dalam pendidikan sejarah, yaitu unsur manusiawi yang terdiri dari pendidik dan peserta didik. Latar belakang masalah penelitian ini adalah pembelajaran sejarah yang masih menggunakan paradigma konvensional dan kurangnya peran model dan media pembelajaran sejarah di sekolah mengakibatkan peserta didik menjadi jenuh dan pasif dalam belajar sejarah. Hal tersebut juga akan mempengaruhi hasil belajar dan kesadaran sejarah peserta didik (Williams, J. P., Pllini & Nulla-Kung, 2004; Jonassen & Ionas, 2008).
Melihat fakta dilapangan terkait tentang penggunaan model dan media pembelajaran sejarah kiranya cukup menarik untuk dilakukan eksperimen .Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh penerapan model regresif menggunakan media power point terhadap hasil belajar peserta didik pada pembelajaran sejarah, serta apakah ada pengaruh penerapan model regresif menggunakan media power point terhadap kesadaran sejarah peserta didik pada pembelajaran sejarah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penerapan penggunaan model regresif menggunakan media power point terhadap hasil belajar sejarah didik pada pembelajaran sejarah, dan untuk menganalisis pengaruh penerapan penggunaan model regresif menggunakan media power point terhadap kesadaran sejarah peserta didik pada pembelajaran sejarah.
Penerapan model regresif dan media power point dalam proses belajar mengajar diharapkan mampu menunjang pembelajaran sejarah didalam kelas, sehingga menjadikan pembelajaran sejarah menjadi pembelajaran yang tidak membosankan dan menarik minat belajar peserta didik serta hasil belajarnya dapat optimal.

METODE PENELITIAN
Penelilitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, data-data yang diperoleh dianalisis dengan rumus-rumus statistik untuk memperoleh kesimpulan (Sugiyono, 2015:7).Desaign penelitiannya adalah True Experimental Design atau eksperimen yang sebenarmya melibatkan variabel bebas tetapi subjeknya dipilih secara acak untuk menentukan kelompok perlakuan.Populasi penelitian adalah seluruh peserta didik kelas XI IPS di SMAN Kalisat, yang terdiri dari XI IPS1, XI IPS2, dan XI IPS3. Bentuk penelitian True Experimental Desaign dalam penelitian ini adalah Posttest-Only Control Design menurut Sugiyono (2015:76) yaitu dengan metode pengambilan sampel dengan random sampling dan setelah didapatkan dua kelas, satu kelas diberi perlakuan pembelajaran model regresif dengan menggunakan media power point, dalam penelitian ini disebut dengan kelas eksperimen.
Adanya pengaruh pada hasil belajar dan kesadaran sejarah digunakan kelas pembanding yakni kelas kontrol. Kelas kontrol merupakan kelas yang diberi perlakuan pembelajaran konvensional, disitu kelas tidak menerapkan model regresif menggunakan media power point dalam pembelajarannya, selanjutnya peneliti memberikan posttest kepada kedua kelas untuk menginvestigasi perbedaan nilai diantara kedua kelas tersebut.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner untuk mengetahui kesadaran sejarah dan tes digunakan untuk mengukur hasil belajar sejarah peserta didik. Menurut Arikunto (2013:193) tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegnsi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Sedangkan, angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang kesadaran sejarah peserta didik.Angket dalam penelitian ini dirancang dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan indikator kesadaran sejarah.Pertama, mengahayati makna dan hakekat sejarah, kedua, mengenal diri sendiri dan bangsanya, ketiga, membudayakan sejarah bagi pembinaan budaya bangsa, dan keempat, menjaga peninggalan bangsa.
Uji t tidak berpasangan digunakan untuk menguji ada tidaknya perbedaan rata-rata antara dua kelompok yang saling bebas.Dasar pengambilan keputusan uji ini dengan menggunakan nilai thitung dan nilai signifikansi (p-value).Niali thitung yang lebih besar dari ttabel atau nilai signifikansi (p-value) yang lebih kecil dari alpha sebesar 5% menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok yang dibandingkan.
Tabel 7. Hasil Uji t Independent Sample data Penelitian
Variabel
Kelompok
N
Mean
Thitung
Df
Sig.
Keterangan
Hasil Belajar
Eksperimen
Kontrol
31
31
80,24
72,58
2,328
60
0,023
Berbeda Signifikan
Kesadaran Sejarah
Eksperimen
Kontrol
31
31
78,41
72,19
2,567
60
0,013
Berbeda Signifikan


PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan mengenai hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran regresif dan media power point. Hal ini diketahui berdasarkan hasil dari uji hipotesis bahwa hasil belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh nilai thitung sebesar 2,328 dengan nilai signifikansi sebesar 0,023. Nilai ttabel pada derajat bebas 60 dan tarif nyata 0,05 sebesar 1,670. Apabila dilakukan pembandingan maka thitung>ttabel atau nilai signifikansi < 0,05. Hal ini sesuai dengan kelebihan dari model regresif yaitu materi yang diajarkan menjadi kontekstual, mempermudah anak untuk mengingat masa lalu, dan peserta didik tidak terlalu merasa asing terhadap materi yang baru, karena peserta didik akan lebih senang belajar dari suasana yang kontekstual yang kongkrit saat ini yang telah mereka ketahui kemudian diruntut kepada masa lampau yang lebih abstrak, sehingga peserta didik akan lebih aktif saat pembelajaran sejarah berlangsung (Pathak, 2003:32). Pembelajaran sejarah juga menggunakan media power point yang merupakan salah satu program persentasi yang banyak digunakan orang untuk mempersentasikan slidenya, sehingga memudahkan siswa memahami materi pelajaran (Arsyad, 2014:164).
Hasil analisis yang diperoleh adalah kesadaran sejarah antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh nilai thitung 2,567 dengan dengan nilai signifikansi sebesar 0,013. Nilai ttabel pada derajat bebas 60 dan taraf nyata 0,05 sebesar 1,670. Apabila dilakukan pembandingan maka thitung>ttabel atau nilai signifikansi < 0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan kesadaran sejarah kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada kelompok kontrol. Hal ini Sesuai dengan pendapat Isjoni (2007:99) yang mengatakan bahwa pembelajaran menggunakan model regresif yang dapat memanfaatkan situasi sekarang sebagai langkah awal pengkajian pembelajaran yang mempermudah persepsi anak untuk mengingat masa lalu. Selain itu penggunaan media power point dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik sesuai pendapat Daryanto (2010:158) bahwa media power point dapat menstimulus peserta didik untuk meningkatkan rasa ingin tahu terhadap materi yang tersaji secara visual sehingga lebih mudah dipahamin oleh peserta didik. Pembelajaran sejarah dengan menggunakan model regresif dan media power point memberikan pengaruh terhadap kesadaran sejarah peserta didik dibandingkan dengan pembelajaran yang menggunakan metode konvensional . Siswa lebih memahami dan menghayati bahwa peristiwa sejarah penting untuk pedoman kehidupan menuju masa depan (Williams, J. & Nulla-Kung, 2004).

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pembelajaran sejarah dengan menggunakan model regresif dan media power point mempengaruhi terhadap hasil belajar sejarah peserta didik.Hal ini dapat dilihat dari hasil posttest yang diperoleh setelah dilakukan analisis data dengan uji-t (Independent Sample T Test) setelah pembelajaran sejarah dengan menggunakan model regresif dan media power point diperoleh perbandingan hasil belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh thitung sebesar 2,328 dengan nilai signifikansi sebesar 0,023. Nilai ttabel pada derajat bebas 60 dan taraf nyata 0,05 sebesar 1,670. Apabila dilakukan pembandingan maka thitung>ttabel atau nilai signifikansi < 0,05 sehingga disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajarkelompok eksperimen lebih tinggi dari pada kelompok kontrol. Dari pernyataan diatas dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh penerapan model regresif menggunakan media power point terhadap hasil belajarpeserta didik pada mata pelajaran sejarah.Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Sudjana (2013:22) bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimilki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya.
Pembelajaran sejarah dengan menggunakan model regresif dan media power point mempengaruhi terhadap kesadaran sejarah sejarah peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari hasil posttest yang diperoleh setelah dilakukan analisis data dengan uji-t (Independent Sample T Test) setelah pembelajaran sejarah dengan menggunakan model regresif dan media power point diperoleh perbandingan hasil belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh thitung sebesar 2,567 dengan dengan nilai signifikansi sebesar 0,013. Nilai ttabel pada derajat bebas 60 dan taraf nyata 0,05 sebesar 1,670. Apabila dilakukan pembandingan maka thitung>ttabel atau nilai signifikansi < 0,05 sehingga disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan kesadaran sejarah kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada kelompok kontrol, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh penerapan model regresif menggunakan media power point terhadap kesadaran sejarah peserta didik pada mata pelajaran sejarah.
Pembelajaran sejarah dengan menggunakan model regresif dan media power point memberikan pengaruh terhadap hasil belajar dan kesadaran sejarah peserta didik dibandingkan dengan pembelajaran yang menggunakan metode konvensional.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model regresif menggunakan media power point berpengaruh terhadap hasil belajar dan kesadaran sejarah peserta didik kelas XI IPS di SMAN Kalisat.

Saran-saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka disarankan menerapkan model regresif agar peserta didik dapat memahami dan melaksanakan pembelajaran sejarah yang menyenangkan. Pendidik Sejarah dan Calon Pendidik Sejarah diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan dan memperluas wawasan dalam menggunakan model dan media pembelajaran untuk meningkatkan kualitas belajar dan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik. Sekolah diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran model regresif dan media power point. Peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan untuk penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan penggunaan model regresif dan media power point dalam lingkup yang lebih luas.

DAFTAR RUJUKAN
Aman, 2009. Evaluasi Pembelajaran Sejarah .Yogyakarta: FIS .UNY.
Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pengantar Praktek. Yogyakarta:Rineka Cipta.
Ahyani, Nur, 2013. Berfikir Kritis Dalam Pembelajaran Sejarah, Surakarta; UNS
Arsyad, A. 2014.Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Colby, S. R. (2007). Students as historians: the historical narrative inquiry model's impact on historical thinking and historical empathy. Disertasi . University of North Texas.
Cochran, M. M. (2010). Teaching historical thinking: the challenge of implementing reform minded practices for three first year teachers. Disertasi . University of Maryland.
Chowen, B. W. (2005). Teaching historical thinking: what happened in a secondary school world history classroom. Disertasi . The University of Texas at Austin.
Daryanto. 2013. Media Pembelajaran. Bandung: PT. Satu Nusa.
Fitzgerald, J. C. (2012). "It doesn't say": exploring students' understandings of asyndetic constructions in history textbooks. Social Studies Research and Practice , 150-173.
Garvey, Brian & Krug, Mary, 2015. Model-Model Pembelajaran Sejarah di Sekolah Menegah, Yogyakarta: Ombak.
Isjoni. 2007. Pembelajaran Sejarah Pada Satuan Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Jonassen, D. H., & Ionas, I. G. (2008). Designing effective supports for causal reasoning. Educational Technology Research and Development , 56 (3), 287-308.
Kim, M. S. (2005). Alignment of classroom history assessments and the 7th national curriculum in Korea: assessing historical knowledge and reasoningskills. Disertasi . University of Pittsburgh.
Pathak. 2003. The Teaching Of History The Paedo-Centric Approach. New Delhi: Kanishka Publishers.
Sudjana, N. 2011.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Raja Grafindo
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabet
Yeager, E. A., & Davis, J. O. (1995, March). Teaching "the knowing how" of history: classroom teachers' thinking about historical texts. Paper presented at the Annual Meeting of the American Educational Research Association . San Francisco, CA.
Williams, J. P., Pllini, S., & Nulla-Kung, A. M. (2004). An intervention to improve comprehension of cause/effect through expository text structure intervention. Journal of Educational Psychology , 106 (1), 1-17.