Selasa, 29 Agustus 2017

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KUANTUM (QUANTUM LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS X IPS 1 SMA NEGERI 1 TANGGUL KABUPATEN JEMBER


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KUANTUM (QUANTUM LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS X IPS 1 SMA NEGERI 1 TANGGUL
KABUPATEN JEMBER

Ribut Wardana

Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas ini, bertujuan:Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Materi Ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan“Siswa Kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember. melalui Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning). Berdasarkan hasil analisis data ddiperoleh ada peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Materi Ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan“ Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning) Siswa Kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember. Pada Kondisi Awal , sebanyak 41% belum tuntas , baru tuntas sebanyak 59%, pada Siklus I. belum tuntas sebanyak 24%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 atau sebanyak 76%, pada siklus II yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 atau sebanya 9%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 31 siswa atau sebesar 91% dengan demikian pada siklus II hasil analisis dikatakan tuntas .


Kata Kunci: Quantum Learning, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Metode mengajar merupakan cara yang digunakan guru dalam memebelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Setiap metode mengajar  memiliki karakteristik yang berbeda-beda  dalam membentuk pengalaman balajar siswa, tetapi satu dengan yang lainnya saling menunjang.
Penggunaan metode mengajar yang didasarkan pada pembentukan kemampuan siswa, seperti memiliki kreativitas. Setiap metode mengajar memiliki keunggulan dan kekurangan sehingga hal tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih metode tersebut.Kelemahan-kelemahan metode harus diantisipasi dan dikaji oleh guru agar penggunaannya dapat efektif.
Sebuah proses pembelajaran yang baik hendaknya tidak hanya mengacu pada tujuan/hasil belajar sampai pada domain kognitif saja,sebaiknya harus menunjukan keseimbangan antara tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Karena hakikatnya, tujuan pembelajaran adalah sebagai arah dari proses belajar mengajar yang diharapkan mampu mewujudkan rumusan tingkah laku yang dapat dikuasai siswa setelah siswa menempuh pengalaman belajarnya.
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan, karena hasil belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas ini, masih rendah. Pada Kondisi Awal , sebelum Penelitian Tindakan Kelas , diperoleh data dari 34 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 14 siswa, atau sebanyak 41%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 20 siswa atau sebanyak 59%, sehingga pada kondisi awal dinyatakan belum tuntas belajar
Pembelajaran kuantum merupakan terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum learning. Quantum Learning  adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2011:16 ).Dengan demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan dari peserta didik atau siswa.
Selanjutnya, Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:30) mengungkapkan mengenai karakterisitik dari pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu sebagai berikut:
  1. Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.
  2. Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.
  3. Pembelajaran kuantum lebih bersifat konstruktivis (tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis, dan atau maturasionistis.
  4. Pembelajaran kuantum berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengkolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran.
  5. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna.
  6. Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
  7. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamian dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
  8. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
  9. Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.
  10. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.
  11. Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.
  12. Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban.
  13. Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran.
Menurut Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:12) adapun tujuan dari pembelajaran kuantum (quantum learning) adalah sebagai berikut.
  1. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
  2. Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan.
  3. Untuk menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak.
  4. Untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir.
  5. Untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran
Tujuan di atas, mengindikasikan bahwa pembelajaran kuantum mengharapkan perubahan dari berbagai bidang mulai dari lingkungan belajar yaitu kelas, materi pembelajaran yang menyenangkan, menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan, serta mengefisienkan waktu pembelajaran.
Menurut Kompasiana (2010) Lingkungan belajar dalam pembelajaran kuantum terdiri dari lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja, dan berkreasi. Lebih khusus lagi perhatian pada penataan meja, kursi, dan belajar yang teratur. Lingkungan makro yaitu dunia luas, artinya siswa diminta untuk menciptakan kondisi ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya, sehingga kelak dapat berhubungan secara aktif dengan masyarakat. Bobbi DePorter,et al., (2004:14) menyatakan mengenai lingkungan dalam konteks panggung belajar. “Lingkungan yaitu cara guru dalam menata ruang kelas, pencahayaan warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik, dan semua hal yang mendukung proses belajar”.
Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran kuantum sangat memperhatikan pengkondisian suatu kelas sebagai lingkungan belajar dari peserta didik mengingat model pembelajaran kuantum merupakan adaptasi dari model pembelajaran yang diterapkan di luar negeri.
Pada Penelitian Tindakan Kelas ini, peneliti yang juga sebagai guru menerapkan model pembelajaran Kuantum (Quantum Learning) untuk meningkatkan hasil belajar Mata Pelajaran Ekonomi pada Siswa kelas X IPS 1 SMA Negeri 1 Kabupaten Jember . Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar, dengan menerapkan metode/model pembelajaran yang variatif.

Perumusan Masalah
Adapun permasalahan penelitian tindakan kelas peneliti rumuskan sebagai berikut:
  1. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning) Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Materi A jar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan“ Siswa Kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember ?
  2. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning) Dapat Meningkatkan Minat Belajar Siswa, Terhadap Mata Pelajaran Ekonomi ?

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan :
  1. Untuk Mengkaji Tentang Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Materi Ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan“Siswa Kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember
  2. Untuk Mengkaji Tentang Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning) Untuk Meningkatkan minat Belajar Siswa

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan diharapkan dapat memberi manfaat :
  1. Bagi guru, yaitu dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan serta membangkitkan rasa percaya diri sehingga lebih berani menerapkan model pembelajaran yang variatif untuk memperbaiki  pembelajarannya secara terus menerus,
  2. Bagi siswa yaitu  dapat meningkatkan  pemahaman dalam memahami materi yang dipelajari sehingga  proses  dan hasil belajar pun akan lebih meningkat pula,
  3. Bagi  sekolah  yaitu bermanfaat  untuk membantu sekolah  dalam mengembangkan dan menciptakan lembaga pendidikan yang berkualitas yang  akan  menjadi  percontohan atau model bagi sekolah-sekolah, disamping akan terlahir guru-guru yang profesional  berpengalaman.



METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember. Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember yang berjumlah 34 siswa serta proses pembelajaran Mata Pelajaran Ekonomi dengan penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning).

Penelitian Tindakan Model Elliot (1991)
Berikut ini gambar siklus pelaksanaan PTK menurut John Elliot.

















Gambar : Siklus Pelaksanaan PTK model John Elliot

Tahapan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : tahap perencanaan (rencana tindakan), tahap implementasi (pelaksanaan tindakan), tahap observasi, tahap evaluasi dan refleksi yang diikuti dengan perencanaan ulang.

Metode Pengumpulan Data
Dalam metode pengumpulan data disetiap penelitian tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab kegiatan pengumpulan data dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan telaah dokumen. Data yang dikumpulkan adalah melalui catatan observasi selama proses belajar berlangsung dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian hingga sampai dengan siklus 2.
Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dan permunculan ketrampilan kooperatif siswa, sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan mutu belajar siswa.
Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan. Lebih rinci akan penulis jelaskan sebagai berikut :
  1. Metode Angket
Metode angket adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal lain yang diketahuinya (Suharsimi Arikunto, 1983 : 107). Selanjutnya Kartini Kartono (1990 : 217) menjelaskan angket adalah penyelididkan mengenai suatu masalah yang banyak menyangkut kepentingan umum dengan jalan mengadakan formulir daftar pertanyaan, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan jawaban tertulis seperlunya.
Dapat disimpulkan angket adalah suatu daftar pertanyaan yang disusun secara teratur menjadi sebuah pertanyaan tertulis untuk memperoleh informasi dari orang yang dikenai angket tersebut. Dalam hal ini Bimo Walgito mengemukakan angket dapat dibedakan atas beberapa jenis tergantung pada sudut pandangnya :
  1. Dipandang dari macam pertanyaannya, maka ada ;
    1. Pertanyaan yang tertutup : dimana responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan didalam angket.
    2. Pertanyaan yang terbuka : memberikan kesempatan kepada responden untuk memberikan jawabannya terhadap angket tersebut.
    3. Pertanyaan yang terbuka dan tertutup : merupakan campuran dari kedua pertanyaan diatas.
  2. Dipandang dari cara memberikan, maka ada :
    1. Angket langsung yaitu bila angket itu langsung diberikan kepada responden yang ingin diselidiki.
    2. Angket tidak langsung yaitu angket yang untuk mendapatkan jawaban membutuhkan perantara.
Dalam aplikasinya angket atau kuisioner dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut :
  • Menyusun beberapa pertanyaan tentang variable yang diteliti
  • Menyampaikan daftar pertanyaan kepada responden
  • Mengumpulkan kembali daftar pertanyaan yang telah dijawab oleh responden, sehingga diperoleh data.
  • Memeriksa jawaban yang telah dikumpulkan dengan tujuan jika ada jawaban yang kurang jelas dapat dikoreksi melalui wawancara kepada responden yang bersangkutan
  1. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan jalan mencatat secara sistematika dan fenomena yang diselidiki (Arifin : 1991 : 49). Observasi dilaksanakan adalah untuk mengetahui tentang kedaan sekolah, kegiatan belajar mengajar serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Selain itu juga ada aspek afektif yang meliputi minat dan rasa ingin tahu siswa, perhatian siswa, kedisiplinan siswa, kerjasama, tanggung jawab, dan rasa tenggang rasa siswa. Sedangkan aspek psikomotorik meliputi ketrampilan mengerjakan tugas, ketrampilan berdiskusi, mempresentasikan materi, menyimpulkan materi dan berbicara.
  1. Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002 : 206). Adapun sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
  1. Nama responden penelitian
  2. Daftar nilai ujian
  1. Wawancara
Menurut Arikunto, wawancara adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara terhadap terwawancara. Hal ini juga didukung oleh Arifin (1991 : 54). Wawancara langsung adalah wawancara langsung dengan orang yang diwawancarai tanpa perantara. Dan wawancara tidak langsung adalah wawancara dengan orang yang diwawancarai melalui perantara atau tidak bertemu langsung.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan siswa untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mengikuti pembelajaran Mata Pelajaran Ekonomi.

Metode Analisis Data
Analisis data merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana denga baik tetapi jika analisa datanya tidak relevan. Data hasil observasi pembelajaran dianalisis bersama-sama dengan mitra kolaborasi dengan guru pelajaran dengan peneliti. Kemudian ditafsirkan berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman guru. Sedangkan hasil belajar siswa dianalisis berdasarkan ketentuan belajar siswa.

Indikator Hasil Kerja
Indikator yang dapat dicapai dari penelitian ini antara lain :
  1. Adanya interaksi antara guru dan murid yang lebih aktif jika menerapkan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning)
  2. Terjadi peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai pre tes ke nilai pos tes.
  3. Ketuntasan Hasil belajar dalam penelitian ini adalah suatu pencapaian dari suatu penguasaan materi secara maksimal baik
  4. secara perorangan maupun secara kelompok. Bila dalam belajar mengajar sudah diperoleh ketuntasan belajar maka proses belajar mengajar dikatakan efektif.
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
  1. Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skormaksimal 100.
  2. Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan sebagai salah satu upaya perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran yang variatif. Dalam hal ini, penelitian dilaksanakan di kelas X IPS 1 SMA 1 Tanggul Jember pada mata pelajaran Pendidikan Ekonomi Akuntansi materi ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan”.
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan, karena hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Ekonomi Akuntansi materi ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan” di kelas ini, masih rendah. Pada Kondisi Awal, sebelum Penelitian Tindakan Kelas, diperoleh data dari 34 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 14 siswa, atau sebanyak 41%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 20 siswa atau sebanyak 59%, sehingga pada kondisi awal dinyatakan belum tuntas belajar.
Selanjutnya diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning), pada Siklus I.

  1. Deskripsi Pembelajaran Siklus I
  1. Perencanaan
Kegiatan pertama-tama dilakukan dalam penelitian ini adalah melaksanakan kegiatan sesuai dengan desain yang telah dibuat sebelumnya. Mata Pelajaran Ekonomi materi ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan”. Pada tahap ini persiapan telah dilakukan, baik yang berkaitan dengan persiapan mengajar (Rencana Pembelajaran, alat evaluasi dan perencanaan setting pembelajaran) lembar observasi, panduan wawancara dan persiapan latihannya.
  1. Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan, guru mengajar materi Mata Pelajaran Ekonomi sesuai rencana yang telah direncanakan, guru lebih menekankan pada aktivitas siswa.
Langkah-langkah dalam pembelajaran pertama-tama guru menjelaskan ruang lingkup materi kemudian guru (peneliti) menjelaskan garis besar materi Ekonomi Akuntansi, selanjutnya siswa diberi tugas kerja kelompok materi, kemudian dipresentasikan siswa yang mau maju kedepan. Langkah selanjutnya guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk bertanya. Setelah proses diskusi selesai, siswa diberi tugas soal.
  1. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi utamanya dilakukan oleh guru (sebagai peneliti) dan dibantu oleh guru lain, observasi difokuskan pada proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran utamanya berkaitan dengan keterampilan guru dalam mengajarkan tugas dengan kerja kelompok.
Observasi juga dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan dilakukan oleh peneliti dan pembantu peneliti.
Disamping ini peneliti juga memberikan tes tertulis. Untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan pencapaian kompetensi mata pelajaran
  1. Refleksi
Pada tahap ini, peneliti mengadakan analisis, interprestasi dan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, seperti kegiatan observasi, hasil hasil wawancara, angket dan hasil test. Semua kegiatan ini dilakukan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan pencapaian tindakan.
Beberapa kegiatan yang dianalisis, diinterprestasi dan dievaluasi meliputi :Efektivitas pembelajaran melalui tugas kerja kelompok dan latihan soal, Prestasi siswa,Aktivitas belajar siswa.
Pada suatu permulaan, suasana kelas cukup kondusif dan tertib. Aktivitas guru (peneliti) dan pembantu peneliti dalam melakukan pembelajaran, utamanya dalam melakukan observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran masih nampak agak kesulitan. Hal ini disebabkan karena banyaknya lembar observasi yang harus dipakai oleh peneliti baik yang bersifat individu. Dari analisis, bahwa beberapa permasalahan tersebut. Karena peneliti belum sepenuhnya hafal secara perseorangan terhadap nama-nama siswa pada kelas ini. Partisipasi siswa masih didominasi oleh siswa tertentu. Kurangnya partisipasi, karena siswa yang lain masih nampak malu dan bahkan takut mengemukakan pendapat. Selama kegiatan ini aktivitas peneliti menjadi sangat sibuk, karena disamping harus membantu siswa dalam kegiatan pembelajaran, juga harus mengamati aktivitas siswa yang lain yang mengerjakan tugas.
Selanjutnya peneliti mengadakan tes untuk mengevaluasi hasil pembelajaran pada siklus I. hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Materi Ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan” Siswa Kelas Kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember pada siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
8
24 %
65 - 100
26
76 %
Jumlah
34
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel pada siklus I diartas, diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebanyak 24%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 atau sebanyak 76%, dengan demikian pada siklus I dinyatakan secara klasikal masih belum tuntas belajar. Sehingga untuk mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi, selanjutnya diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II .
Hasil kegiatan pada siklus I, Tingkat penguasaan materi belum berhasil. Hal ini ditandai dengan hasil analisis tingkat penguasaan materi pelajaran Ekonomi Akuntansi siswa atau hasil daya serap siswa. Kegiatan PBM yang kurang berhasil adalah pada saat diskusi masih banyak yang kurang aktif maka masih diperlukan perbaikan pada siklus berikutnya pada siklus II , untuk mengaktifkan siswa, yaitu dengan merubah teknik diskusi. Diubah dengan dibentuk diskusi kelompok agar semua siswa terlibat aktif.

b. Deskripsi Pembelajaran Pada Siklus II
1. Perencanaan
Setelah menganalisis kegiatan pada siklus I, maka perlu diadakan beberapa perbaikan agar hasil yang diharapkan lebih baik. Pada tahap ini semua persiapan dilakukan berdasarkan beberapa kelemahan yang terjadi pada siklus I untuk itu ada beberapa perencanaan ulang yang perlu dilakukan. Hal ini baik yang berkaitan dengan aktivitas peneliti, peran siswa mengatasi kelemahan yang terjadi pada siklus I, selain itu peneliti yang akan melibatkan siswa diajak berdiskusi tentang beberapa kelemahan yang terjadi, sehingga dapat menyebabkan kesulitan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Tentang kektifan siswa yang kurang optimal dapat dipecahkan dengan merubah teknik diskusi. Diubah dengan dibentuk diskusi kelompok agar semua siswa terlibat aktif.
2. Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan, guru mengajar materi Mata Pelajaran Ekonomi sesuai rencana yang telah direncanakan, guru lebih menekankan pada aktivitas siswa.
Langkah-langkah dalam pembelajaran pertama-tama guru menjelaskan ruang lingkup materi kemudian guru menjelaskan garis besar materi Ekonomi Akuntansi, selanjutnya siswa diberi tugas kerja kelompok, kemudian dipresentasikan siswa yang mau maju kedepan. Langkah selanjutnya guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk bertanya. Setelah proses diskusi selesai, siswa diberi tugas soal.
3. Observasi
Pada kegiatan ini ada beberapa yang diamati yaitu: a) Aktivitas guru; b).Aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran mengamati proses siswa selama mengerjakan tugas individu maupun tugas kelompok maupun pada saat mereka mengerjakan test diakhir proses pembelajaran. Peneliti juga membuat catatan untuk mengcover beberapa peristiwa yang tidak terekam dalam kegiatan observasi yang telah dipersiapkan, selain itu peneliti juga menyebar angket dan mengadakan wawancara kepada beberapa siswa.
Kegiatan observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi utamanya dilakukan oleh guru (sebagai peneliti) dan dibantu oleh guru lain, observasi difokuskan pada proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran utamanya berkaitan dengan keterampilan guru dalam mengajarkan dan pemberian tugas kerja kelompok.
Obeservasi juga dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan dilakukan oleh peneliti dan pembantu peneliti. Disamping ini peneliti juga memberikan tes tertulis. Untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan pencapaian kompetensi mata pelajaran.
4. Refleksi
Pada saat refleksi peneliti mengadakan analisis, interprestasi dan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, seperti kegiatan observasi, hasil hasil wawancara, angket dan hasil test. Semua kegiatan ini dilakukan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan pencapaian tindakan.
Beberapa kegiatan yang dianalisis, diinterprestasi dan dievaluasi meliputi a) Efektivitas pembelajaran melalui tugas kerja kelompok dan latihan soal; b) Aktivitas belajar siswa.
Pada suatu permulaan, suasana kelas cukup kondusif dan tertib. Aktivitas Peneliti dan rekan sejawat dalam melakukan pembelajaran, utamanya dalam melakukan observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran masih nampak agak kesulitan. Hal ini disebabkan karena banyaknya lembar observasi yang harus dipakai oleh peneliti baik yang bersifat individu. Dari analisis, bahwa beberapa permasalahan tersebut. Karena peneliti belum sepenuhnya hafal secara perseorangan terhadap nama-nama siswa pada kelas ini. Partisipasi siswa masih didominasi oleh siswa tertentu. Kurangnya partisipasi, karena siswa yang lain masih nampak malu dan bahkan takut mengemukakan pendapat.
Selama kegiatan ini aktivitas peneliti menjadi sangat sibuk, karena disamping harus membantu siswa dalam kegiatan pembelajaran, juga harus mengamati aktivitas siswa yang lain yang mengerjakan tugas.Permasalah yang dihadapi peneliti kurang lebih sama dengan yang dihadapi oleh guru itu masih susah mengadakan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Selanjutnya peneliti mengadakan tes untuk mengevaluasi hasil pembelajaran pada siklus II. Hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Materi Ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan” Siswa Kelas Kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember pada siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
9 %
65 - 100
31
91 %
Jumlah
34
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan hasil analisa data pada siklus II yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 atau sebanyak 9%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 31 siswa atau sebesar 91% dengan demikian pada siklus II hasil analisis dikatakan tuntas belajar secara klasikal. Karena pada siklus II sudah mendapatkan hasil ketuntasan yang diharapkan, maka perbaikan pembelajaran dihentikan pada siklus II.
Hasil kegiatan pada siklus II, Tingkat penguasaan materi sudah berhasil. Hal ini ditandai dengan hasil analisis tingkat penguasaan materi pelajaran Ekonomi Akuntansi siswa atau hasil daya serap siswa.
Untuk melihat lebih jelas peningkatan hasil belajar dari Kondisi Awal , siklus I, dan siklus II, dapat dilihat pada tabel 3 dan grafik 1 dibawah ini.
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
14
41%
8
24%
3
9%
65 - 100
20
59%
26
76%
31
91%
Jumlah
34
100%
34
100%
34
100%
Sumber : data yang diolah

Grafik 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Materi Ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan” Siswa Kelas Kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II













Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Hasil perbandingan Kondisi Awal, Siklus I,dan siklus II tampak pada grafik sebagaimana diatas. Bahwa pada Kondisi Awal , diperoleh data dari 34 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 14 siswa, atau sebanyak 41%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 20 siswa atau sebanyak 59%, sehingga pada kondisi awal dinyatakan belum tuntas belajar.
Selanjutnya diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning), pada Siklus I. Hasil analisa data pada siklsu I, diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebanyak 24%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 atau sebanyak 76%, dengan demikian pada siklus I dinyatakan belum tuntas belajar secara klasikal. Sehingga untuk mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi, perlu diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II .
Hasil kegiatan pada siklus I, tingkat penguasaan materi belum berhasil. Hal ini ditandai dengan hasil analisis tingkat penguasaan materi pelajaran Ekonomi Akuntansi siswa atau hasil daya serap siswa. Kegiatan PBM yang kurang berhasil adalah pada saat diskusi masih banyak yang kurang aktif maka masih diperlukan perbaikan pada siklus berikutnya pada siklus II , untuk mengaktifkan siswa, yaitu dengan merubah teknik diskusi. Diubah dengan dibentuk diskusi kelompok agar semua siswa terlibat aktif.
Sedangkan hasil analisa data pada siklus II yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 atau sebanya 9%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 31 siswa atau sebesar 91% dengan demikian pada siklus II hasil analisis dikatakan tuntas belajar secara klasikal. Sehingga pembelajaran tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Pembelajaran kuantum merupakan terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum learning. Quantum Learning  adalah kiat, petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat” (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 2011:16 ).Dengan demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan dari peserta didik atau siswa.
Dengan demikian siswa akan berusaha untuk menerapkan dan mengaplikasikan apa yang telah diperoleh dalam proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (1989) bahwa latihan soal akan memudahkan anak didik terbiasa dalam menghadai situasi ujian maka secara psikologis lebih siap, apalagi materinya. Sehubungan dengan hal tersebut Handoyo (1979:165) memberikan pernyataan tentang pengerjaan soal latihan sebagai berikut, pemecahan masalah merupakan hal yang sangat essensial di dalam pengajaran sebab : a) Siswa menjadi terampil untuk menyeleksi informasi y

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan: ada peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Materi Ajar “Kebutuhan Dan Alat Pemuas Kebutuhan“ Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning) Siswa Kelas X IPS-1 SMA Negeri 1 Tanggul Jember. Pada Kondisi Awal , diperoleh data dari 34 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 14 siswa, atau sebanyak 41%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 20 siswa atau sebanyak 59%, pada Siklus I. Hasil analisa data pada siklsu I, diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebanyak 24%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 atau sebanyak 76%, pada siklus II yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 atau sebanya 9%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 31 siswa atau sebesar 91% dengan demikian pada siklus II hasil analisis dikatakan tuntas .

Saran-saran
Saran-saran yang peneliti sampaikan untuk memperbaiki proses pembelajaran, adalah sebagai berikut :
  1. Untuk guru, hendaknya lebih berani untuk menerapkan mpdel pembelajaran yang variatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa,
  2. Untuk sekolah, hendaknya menyiapkan sarana dan prasarana belajar yang dibutuhkan guru dan siswa supaya pembelajaran di sekolah bisa berjalan dengan optimal.

DAFTAR RUJUKAN

Agus Mulyadi, 2002, Penyusunan Karya Tulis Ilmiah, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Azhar Arsyad, 2002, Media Pembelajaran, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Budimansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian. Bandung: Ganesindo
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993, Kurikulum Pendidikan Dasar, Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar.
Departemen Pendidikan Nasional.2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi SD/Ml. Jakarta: Depdiknas.
Dimyati, Mujiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: ASMP; Mahasatya. Depdiknas, 2003, Draf Final Kurikulum 2004, Jakarta: Depdiknas.
Muis, Daniel dan David Rainold. 2008. Efective Teaching. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Roestiyah NK., 1988, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara.
Suryabrata, Sumadi, 1989, Proses Belajar Mengajar, Yogyakarta: Penerbit
Andi opset.
Winataputra, Udin S. 2001. Model-model pembelajaran Inovatif. Jakarta: Universitas Terbuka.