Selasa, 29 Agustus 2017

PELAKSANAAN LESSON STUDY IDENTIFIKASI DAN ASESMEN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM SETTING PENDIDIKAN INKLUSIF UNTUK ANAK USIA DINI PADA GURU PAUD DI KABUPATEN JEMBER


PELAKSANAAN LESSON STUDY IDENTIFIKASI DAN ASESMEN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM SETTING PENDIDIKAN INKLUSIF UNTUK ANAK USIA DINI PADA GURU PAUD
DI KABUPATEN JEMBER

Lailil Aflahkul Yaum
Asrorul Mais

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan dampak pelaksanaan lesson study identifikasi dan asesmen anak berkebutuhan khusus dalam setting pendidikan inklusif untuk anak usia dini pada guru PAUD di Kabupaten Jember. Metodologi penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian 31 guru PAUD di Kab. Jember. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara (Interview) dan dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan teknik triangulasi sumber sebagai teknik keabsahan datanya. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan adanya lesson study, guru PAUD dapat mengidentifikasi dan mengasesmen tentang karakteristik ABK serta pemecahan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media, metode dan strategi pembelajaran, namun ada beberapa kendala yang dihadapi diantaranya guru PAUD mengalami kesulitan dalam membedakan ABK tunagrahita ringan dan lamban belajar, anak autis dan anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif.

Kata kunci: Lesson Study, identifikasi dan asesmen ABK, guru PAUD, pendidikan inklusif.

PENDAHULUAN
Anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dalam pendidikan, hal ini telah tertera dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab IV pasal 5 ayat 1 dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Warganegara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. selain itu.
UU RI No.8 tahun 2016 pasal 10 tentang Hak pendidikan untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak: a.)mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif dan khusus; b.) mempunyai Kesamaan Kesempatan untuk menjadi pendidik atau tenaga kependidikan pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan;c.) mempunyai Kesamaan Kesempatan sebagai penyelenggara pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan; dan d.) mendapatkan akomodasi yang layak sebagai peserta didik.
Sensus nasional tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah anak-anak berkebutuhan khusus (usia 5-18 tahun) telah mencapai 21,42% dari keseluruhan jumlah anak berkebutuhan khusus dengan berbagai kekurangan atau kecacatan, atau dengan jumlah sekitar 330.764 anak (Nur Mita Apriastuti, Karwanto; 2014). Data tersebut menunjukkan bahwa paling tidak ada 330.764 anak berkebutuhan khusus yang memerlukan pelayanan pendidikan khusus di Indonesia.
Layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dapat berupa pendidikan inklusif dan pendidikan khusus. Pendidikan inklusi adalah sistem pengajaran yang pelaksanaannya menggabungkan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal dan menggabarkan separuh atau seluruh waktu belajar siswa berkebutuhan khusus dalam kelas regular, dimana lingkungan sekolah memberi kebebasan untuk mendukung anak berkebutuhan khusus (eripek, 2007 dan Kircal-Iftar, 1998 dalam Sadioglu, Batu, Bilgin, dan Oksal, 2013)
Secara konseptual akademik, inklusi diartikan dengan integrasi yang menyeluruh untuk semua siswa tanpa terkecuali siswa dengan kebutuhan khusus dalam kelas regular yang disesuaikan dengan umur siswa dan letak sekolah (BĂ©langer dalam Schmidt dan Venet 2012).
Di Indonesia, pendidikan inklusif secara resmi didefinisikan sebagai berikut:
Pendidikan inklusi dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik (Direktorat PSLB, 2004).
Kabupaten Jember merupakan salah satu kabupaten yang memiliki Peraturan Daerah No. 7 tahun 2016 tentang Disabilitas yang didalamnya terdapat penyelenggaraan dan implementasi pendidikan inklusif pada jenjang PAUD hingga Sekolah dasar minimal 3 sekolah di setiap kecamatan. Salah satu implementasi penyelenggaraan pendidikan inklusif yaitu pada pendidikan anak usia dini. Implementasi penyelenggaraan pendidikan inklusif anak usia dini di sekolah PAUD merupakan sistem pendidikan pra sekolah yang di rencanakan untuk memberi kesempatan yang sama untuk anak berkebutuhan khusus pada usia dini untuk dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan anak yang lainnya.
Proses pelaksanaan pendidikan inklusi di PAUD di Jember telah menyebabkan adanya perubahan tuntutan yang besar bagi guru-guru di sekolah tersebut. Terutama tuntutan pembelajaran yang berbasis kebutuhan individual untuk setiap siswa dalam setting kelas bersama. Guru pada lembaga PAUD Inklusi memegang peranan penting dalam membantu ABK, tidak hanya pada perkembangan akademik tetapi juga non akademik, seperti: perkembangan sosialisasi, komunikasi, perilaku, motorik dan perkembangan latihan keterampilan hidup sehari-hari.
Praktek penyelenggaraan inklusif PAUD di Kabupaten Jember memiliki beragam kendala, kendala-kendala yang terjadi diantaranya minimnya pengetahuan dan keterampilan guru dalam menangani anak berkebutuhan khusus sesuai dengan kebutuhannya. Untuk meminimalkan adanya kendala-kendala dalam implementasi pendidikan inklusif perlu adanya persiapan yang matang. Salah satu komponen yang paling penting untuk disiapkan adalah guru sebagai tenaga pendidik di sekolah dalam menangani anak berkebutuhan khusus.
Menurut penelitian Widiasti (2013) tentang kesiapan sekolah terhadap pendidikan inklusif, diperoleh bahwasannya berada dalam urutan kelima dari delapan aspek kesiapan guru. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesiapan guru kelas dalam memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus belum terlalu matang. Oleh karena itu, kesiapan guru perlu ditingkatkan sehingga guru mampu menangani anak berkebutuhan khusus dengan lebih baik agar dapat mengimplementasikan pendidikan inklusif menjadi semakin baik.
Salah satu usaha untuk menyiapkan dan mengimplementasikan Penyelenggaraan pendidikan inklusif anak usia dini pada guru PAUD di Kabupaten Jember dengan mengadakan pelaksanaan Lesson study Identifikasi dan Asessmen anak berkebutuhan khusus pada guru PAUD di Jember.
Menurut Lewis (2011:9) lesson study dapat menjadi pembinaan guru meningkatkan profesionalitas dalam menganalisis suatu praktek pembelajaran yang dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran berbasis riset untuk menemukan inovasi pembelajaran tertentu. Sedangkan menurut Rusman (2010:384) Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelaja-ran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlan-daskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community.
Astika (2013) Lesson Study mendukung terjadinya peningkatan kemampuan professionalisme guru, khususnya kompetensi pedagogi dan kompetensi profesional. Teknik pengajaran yang dilakukan dengan berbagai ketrampilan bertujuan untuk menciptakan situasi dalam proses belajar mengajar, yakni dapat menyenangkan dan mendukung terciptanya prestasi belajar siswa yang memuaskan.
Menurut Hidayat (2015: 05) Langkah-langkah Lesson Study adalah a.) Perencanan (Plan) Perencanaan dilakukan secara kolaboratif berdasarkan permasalahan di kelas untuk mengembangan model pembelajaran yang berpusat pada siswa melalui hands-on & minds-on activity, daily life, and local materials. Secara umum kegiatan “Plan” berupa penggalian akademik, perencanaan pembelajaran dan penyiapan alat-alat. Perencanaan pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan tujuan pembelajaran dan karakteristik serta perkembangan siswa, yang dilakukan secara koligeal dan kolaboratif. Perencanaan bisa juga dilakukan dengan cara: dibuat oleh salah seorang guru kemudian dikonsultasikan/dipaparkan dihadapan rekan guru yang lain sehingga mendapat saran dan masukan untuk memperoleh perencanaan pembelajaran yang baik. b.) Pelaksanaan (Do) adalah kegiatan di mana seorang guru model melaksanakan pembelajaran di kelas, sedangkan guru yang lain melakukan pengamatan terhadap seluruh aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan juga dapat dilakukan oleh orang lain yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan, dengan catatan sasaran pengamatan tidak ditujukan kepada guru, tetapi tertuju pada aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Selama kegiatan “do” pengamat tidak diperkenankan membantu, menginterfensi, bertanya dan mengganggu siswa selama proses pembelajaran. c.) Refleksi (See) Kegiatan refleksi dilakukan setelah kegiatan pembelajaran (do) selesai dilaksanakan, untuk melihat berbagai hal yang ditemukan dalam pelaksanaan pembelajaran, baik oleh guru model maupun para observer.
Manfaat lesson study identifikasi dan asesmen anak berkebutuhan khusus yaitu meningkatkan strategi dalam menangani anak berkebutuhan khusus untuk mengimplentasikan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif.
Dari pemaparan tersebut, fokus dalam penelitian ini adalah: Bagimana proses dan dampak pelaksanaan lesson study identifikasi dan asesmen anak berkebutuhan khusus dalam setting pendidikan inklusif untuk anak usia dini pada guru PAUD di Kabupaten Jember?

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menganalisis pelaksaan Lesson Study Identifikasi dan Asesmen anak berkebutuhan khusus untuk mengimplentasikan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif anak usia dini pada Guru PAUD di Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode sampling purposive area dengan mengambil 31 guru PAUD yang masing-masing kecamatan diwakili oleh 1 guru. Metode Pengumpulan data yang akan digunakan antara lain adalah metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai bulan juni 2017 di Lab. PLB Kampus I IKIP PGRI Jember.
Adapun tujuan Penelitian deskriptif kualitatif ini untuk mendeskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku. Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, analisis dan menginterpretasikan kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada. Dengan kata lain penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan yang ada (Mardalis:1999).
Dilihat dari hal tersebut maka analisis data dalam penelitian ini akan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Plan
Pada tahap ini guru-guru PAUD yang bergabung dalam Lesson study membentuk 7 kelompok. Masing-masing kelompok melakukan identifikasi dan asesmen ABK dengan menggunakan Instrumen Identifikasi dan Asesmen ABK sesuai pedoman penyelenggaraan Pendidikan Inklusi tahun 2011 di sekolah masing-masing. Hasil dari identifikasi dan asesmen ABK tersebut didiskusikan dalam kelompok lesson study tentang karakteristik ABK dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media, metode dan strategi pembelajaran.
  1. Do
Pada tahap ini setiap kelompok menunjuk satu guru untuk melakukan presentasi dari hasil diskusi Identifikasi dan Asesmen ABK dengan memaparkan Karakteristik ABK dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media, metode dan strategi pembelajaran dengan mempraktikkan secara langsung dengan melakukan peerteaching. Sedangkan kelompok lain yang tidak mempresentasikan melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dan mencatat atau memberikan saran-saran dalam meningkatkan hasil identifikasi dan asesmen ABK serta kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media, metode dan strategi pembelajaran.
  1. See
Pada tahap ini guru yang tampil dan observer mengadakan diskusi tentang hasil yang telah dipaparkan dan pemecahan yang telah dipraktikkan dengan peerteaching. Diskusi ini dipimpin oleh masing masing ketua kelompok. Pertama guru yang telah memaparkan hasil identifikasi dan asesmen ABK dan pemecahan yang telah dipraktikkan dengan peerteaching, selanjutnya guru lain sebagai observer memberikan hasil analisanya terhadap yang telah dilakukan oleh guru yang mempresentasikan dan melakukan peerteaching. Kemudian guru yang telah mengimplementasikan memberi tanggapan kembali dari hasil analisa. Apakah hasil identifikasi dan asesmen telah sesuai, dan apakah kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media, metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik ABK.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan Lesson Study identifikasi dan asesmen anak berkebutuhan khusus untuk mengimplentasikan penyelenggaraan pendidikan inklusif anak usia dini pada Guru PAUD di Kabupaten Jember diawali dengan pemberian materi tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yaitu 1) Pendidikan Inklusif, 2) Identifikasi dan asesmen Anak Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa, Autis, Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif (GPPH), Kesulitan Belajar Dan Lamban Belajar.
Pelaksanaan berikutnya adalah tahap implementasi lesson Study Identifikasi dan Asesmen ABK yaitu membagi guru-guru PAUD atau peserta Lesson Study menjadi 7 kelompok. Tahap pertama “plan” yaitu masing-masing kelompok mendiskusikan hasil dari identifikasi dan asesmen ABK tentang karakteristik ABK dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media, metode dan strategi pembelajaran sebagai berikut:
Kelompok
Identifikasi dan Asesmen ABK
1
Tunarungu
2
Tunadaksa
3
Tunagrahita
4
Tunanetra
5
Autis
6
GPPH
7
Kesulitan belajar dan lamban belajar

Dalam kegiatan pada tahap “plan” ini, guru-guru PAUD mulai menjalin kolaborasi antar guru dalam satu kelompok untuk memecahkan hasil dari identifikasi dan asesmen ABK pada masing-masing kelompok, terbukti dengan adanya saling memberikan pendapat dan saran serta beberapa metode yang akan digunakan untuk mengimplentasikan kebutuhan pembelajaran ABK. Selain itu, hasil dari diskusi ini dipaparkan oleh masing-masing kelompok didepan kelas sedangkan kelompok lain sebagai observer memberikan pendapat dan saran untuk mengembangkan dan menyempurnakan hasil identifikasi dan asesmen ABK.
Berdasarkan pendapat dan saran dari hasil observasi pada kegiatan tahap “do” lesson study yang telah di praktikkan oleh guru PAUD untuk masing-masing kelompok yaitu sebagai berikut:
Kelompok
Identifikasi dan Asesmen ABK
Pendapat dan saran
1
Tunarungu
Pengamatan Karakteristik dari segi koginitif dan motorik anak kurang rinci, Kurang memperhatikan posisi tempat duduk, anak di tempatkan di depan pinggir depan kelas, sebaiknya diposisikan pada posisi duduk di tengah dan depan kelas agar anak dapat fokus serta mengoptimal kemampuan visual pada media yang disampaikan melalui papan tulis
2
Tunadaksa
Identifikasi dan asessmen dirasa sudah cukup bagus, namun untuk mengidentifikasi dari segi motorik perlu dipaparkan lebih rinci. Lebih diperhatikan untuk Posisi duduk anak terutama posisi tulang punggung. Selain itu, posisi duduk sebaiknya didepan yang mudah di akses anak
3
Tunagrahita
Dapat disamakan dengan anak yang lainnya dalam pembelajaran namun pada tingkat penilaian harusnya diberikan penilaian tersendiri.
4.
Tunanetra
Lebih cenderung pada indra pendengaran. Mencegah gerakan streotip pada anak terutama di kelas, mempertajam indra perabaan serta pendengaran. Posisi duduk di depan untuk mengoptimalkan indra pendengaran
5.
Autis
Kerjasama dengan orangtua perlu diperhatikan, interaksi dengan teman sebaya dan guru lebih ditingkatkan lagi.
6.
AGPPH
Posisi duduk sebaiknya tidak didekat pintu, ditempatkan/duduk pada kelompok yang anak-anaknya memiliki peran yang cukup membantu AGPPH dalam melakukan aktivitas belajar. Guru hendaknya melakukan koordinasi dengan anak dan orangtua
7.
Kesulitan belajar dan lamban belajar
Melakukan pembelajaran remedial secara individu. Guru mencari kesulitan belajar anak dan mencari solusi yang terbaik, menambahkan metode atau strategi pembelajaran yang sesuai dengan minatnya.

Dari hasil data tersebut menunjukkan bahwasanya hasil observasi dari guru-guru PAUD yaitu tentang hasil identifikassi dan asesmen ABK yang meliputi pemecahan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media yang dibutuhkan anak, metode pembelajaran, penempatan posisi duduk anak, dan strategi pembelajaran yang digunakan dalam kelas, serta kerjasama dengan orangtua.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tahap “see” lesson study, guru dan observer menyampaikan tentang “do” yang telah dilaksanakan. Teori dari pakar JICA (dalam Syamsuri, Istamar dkk, 2007:52) bahwa dalam “see” ini guru harus menyampaikan data tentang kegiatan siswa atau perilaku belajar siswa di kelas, bagaimana jalan keluar agar proses berlangsung efektif dan efisien, serta pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. Secara keseluruhan berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini guru PAUD sudah melaksanakan lesson study sesuai dengan teori.
Saat pelaksanaan tahap “see”, para observer mengemukakan pendapat atau saran atau segala sesuatu yang berkaitan dengana kegiatan tahap “do” dan menyampaikan tentang pelaksanaan hasil identifikasi dan asesmen ABK serta melakukan peerteaching, namun ada observer yang hanya mencatat gambaran secara garis besar kegiatan peerteaching pembelajaran tersebut, seperti guru cukup memahami keadaan anak, media yang dilakukan cukup bagus. Seharusnya yang dicatat oleh observer ketika mengikuti tahap “do” adalah keadaan siswa ABK pada saat pembelajaran, ketertarikan siswa pada pembelajaran, posisi duduk, media yang digunakan dalam pembelajaran. Observer yang demikian belum menunjukkan kegiatan “do” atau pengamatan terhadap siswa yang sesungguhnya. Pernyataan tersebut sesuai dengan teori kelemahan lesson study, menurut Thobroni (2015:267) bahwa salah satu kelemahan lesson study di Indonesia yaitu belum seragamnya pemahaman tentang lesson study.
Dalam pelaksanaan lesson study ini terdapat beberapa kesulitan yang dihadapi guru PAUD terutama kesulitan dalam membedakan anak berkebutuhan khusus yaitu anak tunagrahita ringan dan anak lamban belajar, anak autis dan AGPPH. Kesulitan membedakan ABK tersebut berdampak pada pemecahan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media, metode dan strategi pembelajaran sehingga menjadi kurang tepat.
Hasil pengamatan bahwa guru guru PAUD dalam setiap kelompok telah dilakukan sesuai dengan hasil dari diskusi pada tahap “plan”. ini menunjukkan bahwa diskusi masing-masing kelompok dapat menerima pendapat dan saran dari kelompok lain atau guru PAUD atau peserta lesson study lainnya pada saat berdiskusi dalam tahap perencanaan (plan). Selanjutnya setelah tahap pelaksanaan (do) selesai, dilakukan tahap refleksi (see), dimana guru observer memberikan pendapat dan saran terhadap guru yang menjadi model, yang memberikan tanggapan dan pandangan dari pelaksanaan lesson study yang telah dilaksanakan.
Dalam kegiatan lesson study ini guru mampu memperbaiki dan meningkatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran khususnya penanganan ABK sehingga implementasi Penyelenggaraan pendidikan inklusif anak usia dini dapat terwujud. Hal ini didukung oleh hasil wawancara bahwasannya guru mampu meningkatkan pemahamannya tentang ABK dan mampu mengembangkan serta menjadi lebih kreatif dalam memecahkan yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media yang dibutuhkan anak, metode pembelajaran, penempatan posisi duduk anak, dan strategi pembelajaran yang digunakan dalam kelas, kerjasama dengan orangtua.

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Lesson Study Identifikasi dan Asesmen anak berkebutuhan khusus untuk mengimplentasikan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif anak usia dini pada Guru PAUD di Kabupaten Jember diselenggarakan di Lab. PLB kampus IKIP PGRI Jember yang terdiri dari tahap “plan, do dan see” dapat berjalan sesuai dengan tahap-tahap lesson study. Guru-guru PAUD dapat melakukan identifikasi dan asesmen ABK, memaparkan hasil identifikasi dan asesmes ABK serta pemecahan masalah yang berkaitan dengan mempersiapkan media, metode dan strategi pembelajaran.
Dengan adanya guru PAUD pada tahap plan, guru PAUD dapat berkolaborasi untuk merencanakan proses pembelajaran. Semua guru dapat berbagi pengalaman dalam mengidentifikasi dan mengasesmen ABK dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan penggunaan media, Metode dan strategi pembelajaran ABK dalam seting inklusif. Sedangkan pada tahap do, guru PAUD dari masing-masing kelompok mewakili guru model melaksanakan peerteaching hasil dari tahap plan tersebut dan observer melakukan observasi. Pada tahap see, semua guru baik guru model maupun observer menyampaikan refleksinya atas do yang telah terlaksana.
Terkait dalam pelaksaanaan lesson study identifikasi dan asesmen ABK dalam setting pendidikan Inklusif untuk anak usia dini. Guru PAUD mampu menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik dan mampu melaksanakan identifikasi dan asesmen ABK dalam mempersiapkan pembelajaran ABK. Meskipun ada beberapa kesulitan yang dihadapi guru PAUD diantaranya kesulitan dalam membedakan anak berkebutuhan khusus yaitu anak tunagrahita ringan dan anak lamban belajar, anak autis dan AGPPH. Kesulitan membedakan ABK tersebut berdampak pada pemecahan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ABK dalam mempersiapkan media, metode dan strategi pembelajaran sehingga menjadi kurang tepat. Namun, dengan adanya lesson study guru PAUD dapat membangun motivasi, antusias guru PAUD untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran untuk ABK, sehingga berdampak pada kesiapan untuk mengimplentasikankan penyelengaraan pendidikan inklusif anak usia dini.
Saran
Berdasarkan kenyataan dari analisis data menunjukkan bahwa dengan adanya Lesson Study identifikasi dan asesmen anak berkebutuhan khusus untuk mengimplentasikan penyelenggaraan pendidikan inklusif anak usia dini pada guru PAUD di Kabupaten Jember dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menangani ABK serta meningkatkan kesiapan guru PAUD dalam menerima ABK untuk mengimplentasikan penyelenggaraan pendidikan inklusif anak usia dini, maka ada beberapa saran sebagai berikut :
  1. Bagi guru PAUD di Kab. Jember, antusias dan berpartisipasi terhadap kegiatan lesson study lebih ditingkatkan, tidak hanya ketika akan menjadi guru model, akan tetapi juga ketika akan menjadi observer, agar tujuan adanya lesson study benar-benar tercipta.
  2. Bagi semua guru PAUD agar dapat memanfaatkan pelaksanaan lesson study ini dalam rangka meningkatkan dan menambah wawasan dalam penanganan ABK dari hasil identifikasi dan asesmen ABK.
DAFTAR RUJUKAN
Astika .2013. Efektivitas Diklat Lesson Study Terhadap Peningkatan Kompetensi Profesional, Kompetensi Pedagogi Guru, Dan Prestasi Belajar Siswa Sma Negeri 3 Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia
Hidayat, Boby. 2015. Micro Teaching Berbasis Lesson Study. Laboratorium Micro Teaching: FKIP UM Metro
Lewis, Catherine C. 2011. Lesson Study Step by Step: How Teacher Learning Communities Improve Instruction. Portsmouth, NH: Heinemann
Mardalis. 1999. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta : Bumi Aksara
Nur Mita Apriastuti, Karwanto. (2014). Menejemen Sekolah Inklusif di SD Negeri Babatan V Surabaya. Jurnal. Diakses pada Rabu, 04 Februari 2017 melalui : https://www.scribd.com/doc/203357661/MANA JEMEN-SEKOLAH-INKLUSIF-DISD-NEGERI-BABATAN-VSURABAYA# scribd
Rusman. 2010. Model-Model Pemebelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Ban-dung: Raja Grafindo Persada
Schmidt, S & Venet, M. (2012). Principals Facing Inclusive Schooling or Integration. Canadian Journal Of Education 35, 1 :217-238.
Sadioglu, O. Batu, S. Bilgin, A dan Oksal, A. 2013. Problem, Expectations, and Suggestion of Elementary Teacher Regarding Inclusion. Educational Science: Theory & Practice. DOI: 10.12738/estp.20133.1546
Syamsuri, Istamar dkk. 2007. Lesson study (Studi Pembelajaran). Malang: FMIPA UM
Susilo dkk. 2009. Lesson Study Berbasis Sekolah. Malang: Bayumedia Publishing
Thobroni, M. 2015. Belajar & Pembelajaran Teori dan Praktik. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA
Widiasti, Dinda Intan. (2013). Tingkat Kesiapan Sekolah dalam Implementasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (Studi Deskriptif pada Sekolah Dasar Inklusif di Kota Semarang Tahun Ajaran 2012/2013). Skripsi. Diakses pada Rabu, 04 Februari 2017 pukul 19.15 WIB melalui : http://lib.unnes.ac.id /18434/