Selasa, 29 Agustus 2017

KORELASI ANTARA KONDISI SOSIAL, PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN KEMAMPUAN MEMORI DENGAN HASIL BELAJAR MAHASISWA MATAKULIAH MEDIA PEMBELAJARAN


KORELASI ANTARA KONDISI SOSIAL, PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN KEMAMPUAN MEMORI DENGAN HASIL BELAJAR MAHASISWA MATAKULIAH MEDIA PEMBELAJARAN

Dedy Ariyanto
dedyariyanto903@gmail.com

Abstrak: The purpose of this study is to determine whether there is correlation between social conditions, Technological Developments, memory capacity with learning outcomes learning media courses studying the extraordinary education IKIP PGRI Jember. The research method used a correlational descriptive design where the population of the study was 200 students, while the sample was taken 20% ie 20 students and taken randomly / ramdom. The statistical calculation uses Spearman Tata Jenjang correlation formula where data is analyzed with the help of SPSS for windows. The result of this research is (1) there is a significant correlation between social condition of student with learning result with correlation value 0,304 with probability value (Sig.) <0.17, (2) there is significant correlation between technological development with learning result with correlation value 0.422 with probability value (Sig.) <0,05, (3) there is significant correlation between memory ability with learning result with correlation value 0,480 with probability value (Sig.) <0,05. Based on the result of the research, the conclusion is (1) There is a significant correlation between social condition and learning outcomes in the learning media, (2) There is a significant correlation between technological development with learning outcomes in the learning media, (3) There is a significant correlation between memory ability with learning outcomes in the learning media course.

Keyword: Social Condition, Technology Development, Memory Capability, Learning Outcomes

PENDAHULUAN
Menurut perkembangan yang wajar dari suatu program pendidikan harus dapat membantu pribadi, meningkatkan kualitas dan martabat sebagai individu dan warganegara, yang dengan kemampuan dan kepercayaan pada diri sendiri harus dapat mengendalikan perubahan dan kemajuan inilah yang sesungguhnya menjadi inti dari segala pendidikan, di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.keberhasilan belajar mengajar yang dilakukan tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain kondisi sosial mahasiswa, gaya belajar dan kemampuan memori mahasiswa.
Kondisi sosial saat ini sudah sangat berbeda dengan kondisi sosial 10 tahun yang lalu, mungkin juga kondisi sosial saat ini akan berbeda dengan kondisi sosial 10 tahun yang akan datang. Perbedaan itu dapat dapat dilihat dari kemajuan teknologi informasi saat ini yang berkembang pesat. Saat ini teknologi informasi sudah menjadi kebutuhan primer sehingga dapat dikatakan wajib bagi semua orang. Penggunaan teknologi informasi sebagai alat komunikasi dan belajar antar sesama sekarang ini sudah sangat mudah dijumpai, begitu pula dalam hal proses pembelajaran. Keadaan inilah yang harus diperhatikan institusi pendidikan karena institusi pendidikan harus menyeimbangkan materi yang diajarkan dengan yang ada di dunia nyata. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi saat ini sangat penting sehingga otomatis akan mengubah kondisi sosial masyarakat.
Menurut Soekanto (2009:58) “ suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu: adanya kontak sosial dan adanya komunikasi”. Adanya kontak antara seorang siswa dengan siswa lain dan dengan masyarakat sekitar akan menimbulkan pengaruh pada proses pendidikannya. Akan tetapi perlu diingat bahwa “kontak sosial tersebut dapat bersifat positif dan bersifat negatif. Yang bersifat positif mengarah pada suatu kerjasama, sedangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau bahkah sama sekali tidak menghasilkan suatu interaksi sosial” (Soekanto, 2009:60). Vembriarto (1987:18) mengatakan bahwa untuk mengukur keberhasilan proses penyesuaian diri, dapat ditinjau dari 4 kriteria yaitu kepuasan psikis, efisiensi kerja, gejala fisik, dan penerimaan sosial. Hubungan ilmu pengetahuan teknologi dengan kondisi lingkungan sosial dijelaskan dalam kaitan ilmu pengetahuan teknologi dengan nilai dan moral. Menurut Soelaeman (2001:226) kaitan ilmu dan teknologi dengan nilai atau moral, berasal dari ekses penerapan ilmu dan teknologi sendiri.
Kondisi sosial di daerah tempat tinggal siswa dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu lingkungan keluarga, teman sebaya, lingkungan daerah tempat tinggal. Sosialisasi merupakan salah satu hasil hidup bermasyarakat yang tidak dapat dielakan, karena itu banyak latarnya. Tetapi yang paling penting adalah latar keluarga.Keluarga adalah wadah yang sangatnpenting di antara individu dan group, dan merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak-anak menjadi anggotanya (Ahmadi, 2007:108). Menurut Swift (1989:53) fungsi keluarga adalah “mempersiapkan anak untuk dunia yang lebih luas”. Teman sebaya adalah lembaga kedua terpenting setelah keluarga. Menurut Fatimah (2010) “Teman sebaya adalah anak-anak dengan usia atau tingkat kedewasaan yang kurang lebih sama”.Teman sebaya, baik yang berasal dari kerabat, tetangga, maupun teman sekolah merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola-pola perilaku seseorang (Narwoko dan Suyanto, 2007:94).Lingkungan adalah kondisi-kondisi di sekitar individu yng mempengaruhi proses sosialisasinya” (Vembriarto, 1987:23).Lingkungan masyarakat daerah tempat tinggal memiliki pengaruh terhadap belajar siswa. Menurut Slameto (2010:69) “pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat”.Lingkungan disekitar tempat tinggal siswa dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu:lingkungan alam, kebudayaan, masyarakat lain sekitar individu. jika situasi lingkungan sosial di daerah tempat tinggal siswa kurang baik, maka siswa akan terpengaruh menjadi kurang baik pula.
Kemampuan memori juga memiliki peran yang sangat besar, hal ini dikarenakan dalam materi ini diperlukan penguasaan cakupan materi yang sangat luas, diperlukan tambahan pemikiran yang tidak hanya menghafal tapi juga mengembangkan, mendeskripsikan dan membuat sebuah ide untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Hal ini menyebabkan seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan memori yang kurang akan bekerja lebih ekstra dari pada mereka yang memiliki kemampuan memori tinggi.
Hubungan antara kondisi sosial, perkembangan teknologi, dan kemampuan memori dengan hasil belajar mahasiswa nampak pada nilai mahasiswa yang diperoleh di kelas. Jika situasi kondisi social, baik maka dalam belajarnya hasilnya akan menjadi baik pula karena kondisi sosial di daerah tempat tinggal siswa berpengaruh terhadap proses belajar mengajar di sekolah. begitu pula dengan perkembangan teknologi yang digunakan, semakin mudah akses yang digunakan maka dapat dimungkinkan akan semakin baik pula hasil belajarnya.



METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelasional. Penelitian korelasional kadang-kadang diperlakukan sebagai penelitian deskriptif, terutama disebabkan penelitian korelasional mendeskripsikan sebuah kondisi yang telah ada (Emzir, 2009:37). Jika dilihat dari segi pendekatan, penelitian ini disebut sebagai penelitian kuantitatif, sedangkan dilihat dari segi metode, penelitian ini disebut penelitian deskriptif korelasional.
Jumlah populasi dalam penelitian ini berjumlah 100 mahasiswa program studi Pendidikan Luar Biasa IKIP PGRI Jemberdengan sampel yang digunakan sebesar 20% yaitu 20 mahasiswa reguler, dimana pengambilan sampel dilakukan secara acak/random. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah tes, angket dan dokumentasi, tes digunakan untuk mencari data kemampuan memori, angket digunakan untuk mencari data kondisi sosial, perkembangan teknologi sedang dokumentasi digunakan untuk mencari data hasil belajar yaitu nilai ujian tengah semester. Jenis data dalam penelitian ini adalah data interval dan data ordinal. Data interval adalah data hasil belajar dan data ordinal adalah data kondisi sosial, perkembangan teknologi, dan kemampuan memori. Sumber data adalah data primer karena data diperoleh langsung dari responden, yaitu mahasiswa Program studi Pendidikan luar biasa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kondisi sosial, perkembangan teknologi dan kemampuan memori serta variabel terikatnya adalah hasil belajar.
Analisis data menggunakan rumus korelasi tata jenjang spearman dengan terlebih dahulu mengubah data interval menjadi data ordinal. Perhitungan menggunakan bantuan SPSS 20for Windows.


HASIL
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan , diperoleh tabel 1.1:
Tabel 1.1 Hasil hitung Spearman’s rho dengan SPSS 15 for windows

Correlations

x1
x2
x3
y
Spearman's rho
x1
Correlation Coefficient
1,000
,144
,404**
,304*
Sig. (2-tailed)
.
,242
,001
,017
N
60
60
60
60
x2
Correlation Coefficient
,154
1,000
,141
,422**
Sig. (2-tailed)
,242
.
,284
,001
N
60
60
60
60
x3
Correlation Coefficient
,404**
,141
1,000
,480**
Sig. (2-tailed)
,001
,284
.
,000
N
60
60
60
60
y
Correlation Coefficient
,304*
,422**
,480**
1,000
Sig. (2-tailed)
,017
,001
,000
.
N
60
60
60
60
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa hasil nilai korelasi antara kondisi sosial (X1) dengan hasil belajar didapat nilai sebesar 0,304 dengan Sig. (2-tailed) 0,017, nilai korelasi antara Perkembangan Teknologi (X2) dengan hasil belajar didapat nilai sebesar 0,422 dengan Sig. (2-tailed) 0,001, nilai korelasi antara Kemampuan Memori (X3)dengan hasil belajar didapat nilai sebesar 0,480 dengan Sig. (2-tailed) 0,000.
Hasil pengujian hipotesis yaitu (1) antara kondisi sosial dengan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Media Pembelajaranprodi Pendidikan Luar Biasa, bernilai sebesar 0,304 dengan probabilitaas (Sig.) 0,017. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 ditolak, dan H1 diterima ; (2) antara perkembangan teknologi dengan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Media Pembelajaranprodi Pendidikan Luar Biasa, sebesar 0,422 dengan probabilitas (Sig.) 0,001. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima; (3) antara kemampuan memori dengan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Media Pembelajaranprodi Pendidikan Luar Biasa,, bernilai sebesar 0,480 dengan probabilitas (Sig.) 0,000. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Melihat hasil perhitungan korelasi dan pengujian hipotesis diatas maka didapat hasil penelitian yaitu (1) adanya korelasi yang signifikan antara Kondisi social dengan hasil belajar mata kuliah Media Pembelajaran dengan nilai korelasi 0,304 dengan nilai probabilitas (Sig.) < 0,04, (2) adanya korelasi yang signifikan antara perkembangan teknologi dengan hasil belajar mata kuliah Media Pembelajaran dengan nilai korelasi 0,422 dengan nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, (3) adanya korelasi yang signifikan antara Kemampuan memori dengan hasil belajar mata kuliah Media Pembelajaran dengan nilai korelasi 0,480 dengan nilai probabilitas (Sig.) < 0,05.

PEMBAHASAN
Korelasi Antara Kondisi sosial dengan HasilBelajar mata kuliah Media Pembelajaran Program studi Pendidikan Luar Biasa.
Di dalam kondisi normal, keluargalah yang memiliki hubungan pertama kali dengan anak seperti orang tua, saudara-saudara yang lebih tua (kalau ada), serta kerabat dekatnya yang tinggal serumah (kalau ada) kemudian teman sebaya, teman bermain dan orang lain yang memiliki hubungan lain seperti bisnis atau kerjasama lainnya. Akan tetapi melalui keluargalah anak akan mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang dilakukan sehari-hari atau dengan kata lain anak mengalami sosialisasi awal. Seperti yang diungkapkan Soekanto (2009:386) bahwa orang tua, saudara, maupun kerabat dekat lazimnya mencurahkan perhatiannya untuk mendidikanak supayaanak memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang baik dan benar, melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasiannya.
Menurut Swift (1989:53) fungsi keluarga adalah “mempersiapkan anak untuk dunia yang lebih luas. Dilihat dari sudut pandang ini, orang tua merupakan sponsor anak dengan tanggung jawab mempersiapkannya menjadi orang dewasa”. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa orang tua mempunyai tanggung jawab langsung terhadap anak dan bagaimana orang tua tersebut mempersiapkan anak untuk bisa mencapai masa depan dengan baik.
Peranan teman sebaya lebih banyak terlihat pada usia remaja sampai dewasa, hal ini dapat dilihat secara kongkret bahwa remaja akan lebih bergantung pada teman-temannya dari pada orang tua sendiri. Dari asumsi diatas dapat diinterprestasikan dari hasil penelitian yang menunjukkan seorang anak di tingkat remaja, akan selalu memilih-milih siapa yang akan menjadi temannya, termasuk dalam hal belajar dan bermain. Ketika seorang anak cocok dengan temannya maka dia akan dipilih untuk menjadi temannya dan jika tidak maka anak itu ditolak menjadi temannya. Dalam belajarpun anak akan memilih siapa yang akan dijadikan patner belajarnya, baik secara individu maupun secara berkelompok. Ketika ada anak yang mengalami kesulitan belajar, anak belum tentu mau membantu jika bukan teman dekatnya. Dalam berkelompok, seorang anak akan memilih sendiri teman-teman yang akan dijadikan kelompoknya, anak yang pintar biasanya akan menjadi rebutan dalam berkelompok.
Tarsidi (2007) mengungkapkan “Sebagai sumber kognitif, hubungan teman sebaya memungkinkan anak untuk saling mengajari dalam banyak situasi, dan pada umumnya kegiatan ini efektif. Dalam perkembangan teknologi saat ini kita mengenal adanya jejaring sosial, jenisnya bermacam – macam mulai dari luar negeri sampai buatan lokal. Dari jejaring sosial itulah anak dapat memiliki teman dari seluruh dunia meskipun belum mengenalnya, pertemanan didunia maya ini perlu adanya kontrol dari orang tua, karena pertemanan ini bisa diselewengkan jika teman yang baru dikenalnya tersebut berasal dari lingkungan yang kurang baik atau pergaulannya buruk.
Keadaan alam, kebudayaan, dan masyarakat lain sekitar individu juga memiliki hubungan terhadap keberhasilan studi anak. Keadaan alam di dataran rendah dan di daerah pegunungan atau di daerah subur dan di daerah gersang tentu akan memiliki perbedaan terhadap belajar anak, nilai – nilai, pandangan hidup, adat istiadat dalam masyarakat juga akan memiliki pengaruh terhadap belajar anak.
Bentuk masyarakat juga akan mempengaruhi belajar anak, misalnya jika lingkungannya tidak baik seperti orang yang tidak terpelajar, penjudi, pencuri dan sebagainya, akan berpengaruh buruk pada anak yang berda di sekitarnya. Hal ini karena anak akan tertarik pada kebiasaan yang dilakukan orang-orang sekitarnya, sehingga belajar anak akan terganggu. Sebaliknya jika lingkungannya terdiri dari lingkungan orang-orang terpelajar, mau menyekolahkan anaknya, antusias dengan cita-cita luhur akan masa depan anaknya maka anak akan terpengaruh untuk berbuat seperti orang-orang lingkungannya, pengaruh itu dapat meningkatkan semangat belajar anak (Slameto, 2010:71).
Keadaan alam, kebudayaan, dan masyarakat lain sekitar individu juga memiliki hubungan terhadap keberhasilan studi anak. Keadaan alam di dataran rendah dan di daerah pegunungan atau di daerah subur dan di daerah gersang tentu akan memiliki perbedaan terhadap belajar anak, nilai – nilai, pandangan hidup, adat istiadat dalam masyarakat juga akan memiliki pengaruh terhadap belajar anak.
Bentuk masyarakat juga akan mempengaruhi belajar anak, misalnya jika lingkungannya tidak baik seperti orang yang tidak terpelajar, penjudi, pencuri dan sebagainya, akan berpengaruh buruk pada anak yang berda di sekitarnya. Hal ini karena anak akan tertarik pada kebiasaan yang dilakukan orang-orang sekitarnya, sehingga belajar anak akan terganggu. Sebaliknya jika lingkungannya terdiri dari lingkungan orang-orang terpelajar, mau menyekolahkan anaknya, antusias dengan cita-cita luhur akan masa depan anaknya maka anak akan terpengaruh untuk berbuat seperti orang-orang lingkungannya, pengaruh itu dapat meningkatkan semangat belajar anak (Slameto, 2010:71).
Dukungan dari kondisi sosial mahasiswa dapat meningkatkan hasil belajar anak tetapi jika kondisi sosial tidak mendukung maka hasil belajar akan terhambat. Kondisi sosial sekitar akan menentukan akan jadi apa anak itu nanti kelak, jika kondisi sosial tersebut berjalan ke arah positif maka hasilnya akan baik, akan tetapi jika sebaliknya maka akan menjadi kurang baik. Hal ini dikarenakan kondisi sosial siswa merupakan kondisi yang berada disekitar siswa yang meliputi kondisi keluarga, teman sebaya, dan kondisi lingkungan sekitar.
Dukungan dari kondisi sosial siswa tersebut dapat meningkatkan hasil belajar anak tetapi jika kondisi sosial tidak mendukung maka hasil belajar anak akan terhambat. Kondisi sosial sekitar akan menentukan akan jadi apa anak itu nanti kelak, jika kondisi sosial tersebut berjalan ke arah positif maka hasilnya akan baik, akan tetapi jika sebaliknya maka akan menjadi kurang baik, maka sesuai pendapat Slameto (2010:70) “Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jikasiswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat terlalu banyak ... belajarnya akan terganggu, lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya”.

Korelasi antara Perkembangan Teknologi dengan HasilBelajar mata kuliah Media Pembelajaran Program studi Pendidikan Luar Biasa.
Perkembangan teknologi sangat pesat, akan tetapi terjadi ketimpangan antar daerah. Perkembangan teknologi saat ini banyak menawarkan hal-hal yang dapat memudahkan dalam beraktifitas maupun dalam hal belajar. Perkembangan Teknologi terutama Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah berkembang sangat jauh saat ini dantelah merevolusi cara hidup kita, baik terhadap cara berkomunikasi, cara belajar, cara bekerja,cara berbisnis, dan lain sebagainya. Teknologi informasi memberikan ruang lingkup yang sangat besar untuk mengorganisasikan segala kegiatan melalui cara baru, inovatif, instan, transparan,akurat, tepat waktu, lebih baik, memberikan kenyamanan yang lebih dalam mengelola dan menikmati kehidupan. dengan teknologi informasi dan komunikasi semua proses kerja dankonten akan ditransformasikan dari fisik dan statis menjadi digital, mobile, virtual dan personal. akibatnya kecepatan kinerja meningkat dengan cepat. Kecepatan proses meningkat sangat tajam di banyak aktivitas modern manusia.
Dalam proses perkuliahan tidak bisa dipungkiri mahasiswa menggunakan perkembangan teknologi dalam menyeleseikan tugas-tugas perkuliahan dan dalam mencari sumber referensi. Proses pembelajaran akan berjalan efektif dan efisien jika didukung oleh adanya teknologi yang menunjang kebutuhan belajar mengajar. Kemajuan perkembangan teknologi yang begitu pesat dan memungkinkan dengan adanya penyediaan sarana-prasarana pembelajaran melalui internet maupun media elektronik lainnya. Di era 2000an ini sangf padat populer apa yang namanya pembelajaran online, dimana konsep pembelajaran ini lebih dikenal sebagai e-learning. Sedangkan konsep lain yang dikembangkan akibat dari perkembangan teknologi adalah blendet learning, yaitu pembelajaran yang menggabungkan antara pembelajaran online dengan pembelajaran tatap muka.
Dengan meningkatnya perkembangan teknologi maka akan berdampak positif bagi hasil belajar mahasiswa, dimana mahasiswa dapat belajar kapan saja, dimana saja, dan dapat mencari informasi yang dibutuhkan tanpa ada batas ruang , jarak dan waktu. Dengan konsep pembelajaran e-learning misalnya siswa dapat belajar tidak hanya materi, tapi juga bisa dalam bentuk contoh nyata, terdapat komunikasi langsung, Komunikasi Tertunda, pelacak progress, materi ajar, suara/audio, dan visualisasi. Konsep pembelajaran yang yang dikenal dengan istilah LMS/CMS (Learning/ course Management System) antara lain WebCT, eCollege, Dokeos, Claroline (yang dipakai IKIP PGRI Jember), Moodle, Moc.
Menurut Aulia (2016) Untuk dapat memanfaatkan Perkembangan teknologi dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu Siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, Harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, Guru harus memliki pengetahuan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu para siswa agar siswa mencapai standar akademik.



Korelasi antara Kemampuan Memori dengan HasilBelajar mata kuliah Media Pembelajaran Program studi Pendidikan Luar Biasa..
Kemampuan dalam ingatan terdiri atas kemampuan untuk memasukkan atau learning, kemampuan untuk menyimpan pesan atau materi yang sudah dimasukkan ke dalam ingatan dengan baik atau retention, kemampuan untuk memunculkan kembali ke dalam kesadaran pesan atau materi yang sudah diterima, dimasukkan dan disimpan dalam ingatan (remembering). Dosen harus memahami jenis-jenis kemampuan memori para mahasiswa. Kemampuan memori ini tidak bisa diamamti langsung dengan menggunakan panca indra, akan tetapi diperlukan adanya perhatian secara khusus dan pengamatan secara mendetail pada masing-masing anak untuk bisa memahaminya. Dengan memperhatikan kemampuan memori siswa, seorang pendidik akan lebih tepat dalam memilih metode dan media pembelajaran yang tepat (Desstya, dkk., 2012:174)
Dalam proses belajar mengajar perlu adanya upaya mengaktifkan factor-faktor yang memberi konstribusi dalam pencapaian hasil belajar. Salah satu yang paling penting adalah kemampuan memori yang merupakan factor internal. pada kegiatan belajar mengajar prestasi belajar adalah bagian dari hasil mengajar yang secara umum dipengaruhi oleh kemampuan memori anak. Ausubel berpendapat bahwa pendidik harus mengembangkan potensi kognitif melalui proses belajar yang bermakna. Bermakna dalam hal ini berarti pendidik harus menyajikan materi yang diajarkan dan dapat menghubungkan dengan konsep yang sudah ada.
Kemampuan memori yang dimaksud disini adalah kemampuan memasukkan atau learning, menyimpan atau retention, dan menimbulkan kembali atau remembering hal-hal yang telah lampau. Anak atau mahasiswa yang memiliki memori tinggi akan dapat mengingat informasi yang diterimanya dengan baik. Hal ini dimungkinkan akan membantu dalam memahami konsep dan aturan yang ada dalam materi perkuliahan media pembelajaran.
Menurut Alaei (2001) mengatakan bahwa belajar dan ingatan mempengarui berfikir, merencanakan, dan sebagian membuat keputusan. Perolehan dan penyimpanan informasi memungkinkan seseorang untuk mengingat kembali informasi dan memanfaatkan pengalaman masa lalu dengan sukses.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan analisa data maka dapat disimpulkan sebagai berikut:Terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi sosial dengan hasil belajar dalam matakuliah media pembelajaran prodi Pendidikan Luar Biasa IKIP PGRI Jember. Hal ini dapat dilihat dari hasil korelasi bernilai 0,304 nilai probabilitas (Sig.) 0,017< 0,05 (taraf signifikan 5%).Terdapat korelasi yang signifikan antara perkembangan teknologi dengan hasil belajar dalam matakuliah media pembelajaran prodi Pendidikan Luar Biasa IKIP PGRI Jember. Hal ini dapat dilihat dari hasil korelasi bernilai 0,422 nilai probabilitas (Sig.) 0,001 < 0,05 (taraf signifikan 5%).Terdapat korelasi yang signifikan antara kemampuan memori dengan hasil belajar dalam matakuliah media pembelajaran prodi Pendidikan Luar Biasa IKIP PGRI Jember. Hal ini dapat dilihat dari hasil korelasi bernilai 0,480 nilai probabilitas (Sig.) 0,000 <0,05 (taraf signifikan 5%).

Saran
Berdasarkan temuan penelitian, ada beberapa saran yang akan disampaikan sebagai berikut: (1) untuk orang tua agar dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dirumah, (2) untuk mahasiwa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya, (3) untuk masyarakat agar membantu untuk menyediakan suasana kondusif untuk belajar di lingkungan sekitar, (4) untuk prodi harus menyadari bahwa mahasiswanya berasal dari lingkungan yang berbeda-beda, sehingga harus bisa memberikan cara pengajaran yang mencakup untuk keseluruhan siswa, (5) untuk dosen bisa memiliki metode pengajaran yang bisa membuat siswa mampu mengikuti pelajaran dengan sempurna, (6) untuk peneliti selanjutnya agar menggunakan instrumen yang lainnya selain kondisi keluarga, teman sebaya, dan kondisi lingkungan sekitar.

DAFTAR RUJUKAN
Ahmadi, Abu. 2007. Sosiologi Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta
Alaei, Hojjatallah. 2001. Learning and Memory. Iran:Departemen of Physiology. University of Medical Sciences Isfahan.
Aulia, Anisa. 2016. Perkembangan Teknologi dalam Pendidikan. http://zpreneur.org (Diakses tgl 12 Januari 2017)
Desstya, Anatri., Dkk. 2012. Pembelajaran Kimia dengan Metode Team Games Tournament (TGT) menggunakan media animasi dan kartu ditinjau dari kemampuan memori dan gaya belajar siswa.. Jurnal Inkuiri. Vol. 1 No. 3. jurnal.pasca.uns.ac.id
Emzir. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan:Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Fatimah, Siti. 2010. Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Anak, (Online),(http://www.kompasianan.com/chanel/humaniora), diakses 3 Maret 2011
Narwoko, J Dwi & Suyanto, Bagong. 2007. Sosiologi: Teks Pengantar & Terapan. Jakarta: Kencana
Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers
Soelaeman, M Munandar. 2001. Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung. PT Refika Aditama
Slameto. 2010. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta
Swift, D.F. Tanpa Tahun. Sosiologi Pendidikan: Perspektif Pendahuluan yang Analitis. Terjemahan oleh Panuti Sudjiman dan Greta Librata. 1989. Jakarta: Bhratara Niaga Media.
Vembriarto, ST. 1987. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Paramita