Selasa, 29 Agustus 2017

KAUSALITAS DALAM SEJARAH: MENGENAL HAKEKAT DAN STRATEGI-STRATEGI PEMBELAJARANNYA


KAUSALITAS DALAM SEJARAH:
MENGENAL HAKEKAT DAN STRATEGI-STRATEGI PEMBELAJARANNYA

Susanto Yunus Alfian

Abstrak : Siswa harus mempelajari bahan ajar. Guru harus mengajarkan analisis tekstual kepada siswa. Dalam mempelajari teks, salah satu aspek yang penting adalah kemampuan untuk memahami hubungan logis antar informasi yang ada di teks. Dalam tulisan ini akan dibahas model-model pemikiran sejarah, pemikiran sejarah dengan kausalitas, dan pembelajaran kausalitas

Key Words: kausalitas, pembelajaran kausalitas, pemikiran sejarah

PENDAHULUAN
Ketika mengajar, tentu saja harus menyediakan bahan ajar untuk siswa. Dalam pembelajaran sejarah, siswa harus mempelajari bahan ajar tersebut. Agar mereka bisa belajar, kita harus meminta mereka untuk membacanya. Dalam konteks ini, pendekatannya didasarkan pada pembelajaran berbasis teks.
Dalam mempelajari teks, salah satu aspek yang penting adalah kemampuan untuk memahami hubungan logis antar informasi yang ada di teks. Biasanya siswa mengalami kesulitan dalam membuat hubungan-hubungan dalam teks. Karena kesulitan itulah, akhirnya siswa tidak bisa memahaminya. Untuk memahami teks tersebut, siswa harus mempunyai kerangka pengetahuan awal supaya bisa mengenali struktur isi cerita dalam teks sejarah. Saya yakin bahwa pengorganisasian logis dari gagasan akan lebih mudah diingat dari pada gagasan yang tidak ditata secara terorganisir logis. Dalam makalah ini, saya menawarkan strategi pembelajaran kausalitas. Berdasar dari itu, makalah ini membahas tentang membaca, model pemikiran historis, pemikiran historis dan kausalitas dan bagaimana strategi pembelajaran kausalitas.
Yeager (1994) telah meneliti bagaimana guru-guru melakukan pemikiran sejarah ketika mereka menghadapi teks sejarah. Guru harus mengajarkan analisis tekstual kepada siswa (Colby, 2007). Guru-guru pada bidang studi IPS sangat menggantungkan meteri pelajaran pada buku teks (Ciardiello, 2002). Siswa mendapat kesulitan untuk memahami pola pengaturan gagasan atau struktur teks. Seringkali siswa menganggap bahwa isi yang disajikan dalam buku teks berupa fakta terpisah dan kalimat terpisah juga. Siswa tidak memperhatikan hubungan logis antar gagasan. Pola pengaturan gagasan, meskipun namanya berbeda-beda pada prinsipnya berupa struktur tets berikut: hirarki, urutan waktu, sebab/akibat, deskripsi dan perbandingan. Namun dmikian, umumnya siswa merasa kesulitan mengidentifikasi pola sebab/akibat. Sebaiknya siswa perlu diajak mengidentifikasi sebab/akibat, karena pola sebab/akibat ini banyak mendominasi buku-buku bidang studi IPS.
Buku-buku sejarah seringkali mengorganisir isi dalam bentuk sebab/akibat. Mendalami teks dengan melihat sebab akibat berarti mencari hubungan antar paristiwa atau melihat bagaimana suatu peristiwa menimbulkan suatu peristiwa lainnya. Melihat hubungan sebab akibat sangat membantu dalam memahami peristiwa saling berkaitan dan memahami mengapa peristiwa terjadi atau alasan-alasan terjadinya peristiwa tersebut.ketika membaca teks, kita bertanya seperti: apakah informasi di teks itu diorganisir sebagai rangkaian peristiwa sesuai urutan waktu atau sebagai rangkaian peristiwa sesuai sebab akibat? Harus diingat bahwa satu peristiwa bisa mengakibatkan beberapa peristiwa atau bisa juga beberapa peristiwa mengakibatkan hanya satu peristiwa. Suatu teks sejarah bisa berisi satu sebab dan beberapa akibat, satu akibat dan beberapa sebab. Penalaran kausal nampaknya memperoleh pertahatian para pakar akhir-akhir ini. Penalaran kausal dan belajar dari teks menjadi salah satu fokus dalam penelitian pembelajaran sejarah disamping juga akuisisi (Voss & Wiley, 1995).
Dalam mengajarkan sejarah, kita sering kali meminta siswa untuk melakukan penalaran kausal. Dalam penalaran kausal, siswa dituntut untuk mengidentifikasi sebab-sebab terjadinya peristiwa. Pada dasarnya kausalitas sangat dibutuhkan dalam pengajaran sejarah. Siswa harus memahami hubungan kausal. Begitu pentingnya kausalitas dalam matapelajaran sejarah, maka bagaimana pengajaran kausalitas dalam pembelajaran sejarah akan menjadi fokus dari tulisan ini. Untuk itu, tulisan ini akan membahas model-model pemikiran sejarah, pemikiran sejarah dengan kausalitas, dan pembelajaran kausalitas.

PEMBAHASAN
Model-Model Pemikiran Sejarah
Pemikiran sejarah adalah kemampuan operasional kognitif yang menggunakan kegiatan mental yang kompleks dalam rangka memahami sejarah (Kim, 2005). Guru-guru harus menerapkan aspek-aspek pemikiran sejarah dalam menghadapi berbagai teks sejarah (Yeager & Davis, Jr., 1995). Pemikiran sejarah adalah proses-proses heuristik yang meliputi sourcing, kontekstualisasi dan koroborasi dan konsep-konsep yang berkenaan dengan pembacaan dan analisis teks sejarah yaitu bukti, empati, multiple perspectives, signifikansi dan kausalitas (Cochran, 2010). (1) Sourcing, ketika sejarawan membangun argumen tentang masa lalu, mereka menganalisis berbagai sumber, melakukan koroborasi terhadap informasi-informasi penting, dan mencari bukti lain untuk melawan bukti yang bertentangan. (2) Kontekstualisasi, sejarawan memperhatikan jaman, setting atau lokasi dan pandangan waktu itu dari sumber atau dokumen itu dibuat. (3) Koroborasi, sejarawan mempertentangkan antar dokumen, antar interpretasi sejarawan. (4) Bukti, sejarawan membangun cerita dan argumen masa lalu dengan cara analisis kritis terhadap berbagai sumber bukti. Mereka menganalisis berbagai sumber, melakukan koroborasi dan mencari bandingan terhadap bukti-bukti yang bertentangan. (5) Empati, sejarawan berusaha untuk memahami perspektif-perspektif yang berdasar pada setting dan waktu saat itu. (6) Signifikansi, sejarawan berusaha untuk mencari hubungan-hubungan antar peristiwa sejarah dan hubungannya dengan masa sekarang. Dan (7) Kausalitas, sejarawan harus bisa melihat hubungan antar peristiwa dan mencari unsur-unsur utama yang bisa digunakan untuk menerangkan gerak atau peristiwa sejarah. Atau sejarawan harus mencari berbagai faktor penyebabnya.
Ada beberapa model pemikiran sejarah dari para pakar yang layak diketahui (Martin, 2012). Peter Seixas menyebutkan unsur pemikiran sejarah meliputi enam proses berpikir yaitu signifikansi sejarah, bukti sejarah, keberlanjutan dan perubahan, sebab dan konsekwensi, perspektif sejarah, dan dimensi moral. Levesque menganggap pemikiran sejarah miliputi signifikansi sejarah, keberlanjutan dan perubahan, kemajuan dan kemunduran, bukti sejarah, dan empati sejarah. Van Drie dan Van Boxtel menekankan pada penalaran sejarah yaitu pembuatan argumen sejarah. Dalam pembuatan argumen ini, siswa mengorganisir informasi tentang masa lalu untuk mendeskripsikan, membandingkan dan atau menerangkan peristiwa sejarah. Komponen penalaran sejarah meliputi: menanya, menggunakan sumber, kontekstualisasi, argumentasi, menggunakan konsep substantif dan meta konsep. Guru bisa menggunakan berbagai cara untuk mengajarkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam sejarah (Chowen, 2005).

Pemikiran Sejarah dengan Kausalitas
Van den Broek et al (2000) memaparkan bagaimana hubungan kausal menjadi faktor utama pemahaman naratif dan apa syarat hubungan kausal yang kuat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor utama dalam memahami naratif adalah hubungan kausal antar peristiwanya. Hasil penelitian mereka memberi bukti bahwa hubungan kausal memiliki beberapa kelebihan. Pertama, Lebih sering diingat. Kedua, Lebih mudah diakses di memori. Ketiga, Lebih menentukan tingkatan pengingatan peristiwa lain yang berkaitan. Keempat, Membawa pembaca memperhatikan peristiwa lain yang berkaitan. Dan kelima, Membawa pembaca lebih bisa membuat kesimpulan.Ada dua kompponen kausalitas untuk adanya hubungan kausal pada dua peristiwa. Pertama, Necessigty: suatu peristiwa dikatakan necessary berarti bahwa suatu peristiwa konsekwensinya tidak terjadi bila peristiwa antesendennya tidak terjadi. Dan kedua, Sufficiency: suatu peristiwa dikatakan sufficent berarti bahwa peristiwa pertama memungkinkan untuk diikuti peristiwa kedua. Siswa memang perlu menerangkan tentang mengapa a mengakibatkan b dan mengapa b menimbulkan (Beck et al, 1989). Hubungan kausal dikatakan kuat jika memiliki unsur necessity dan unsur sufficency.
Peristiwa-peristiwa yang disusun dalam bentuk susunan kausal jauh lebih mudah diingat (Trabasso & van den Broek, 1985). Peristiwa-peristiwa yang mempunyai hubungan kausal langsung jauh lebih mudah diingat dari pada peristiwa-peristiwa yang tidak saling berkaitan. Ada tiga faktor yang menentukan dalam memudahkan suatu peristiwa mudah diingat. Pertama adalah The story grammar category of the event. Kedua adalah ada tidaknya rangkaian kausal dari peristiwa-peristiwanya. Dan ketiga adalah banyaknya hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Suatu cerita lebih mudah diingat bila peristiwa-peristiwanya disajikan dalam bentuk “networking” dari pada disajikan dalam bentuk linear.
Hubungan-hubungan kausal antar peristiwa sejarah menjadi faktor utama dalam memahamai naratif (Van den Broek et al, 2000). Ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, pernyataan-pernyataan yang mempunyai hubungan kausalitas lebih mudah diingat dari pada pertanyaan yang tidak berhubungan dengan pernyataan lain. Kedua, pernyataan-pernyataan yang mempunyai hubungan kausalitas lebih mudah mudah diakses di memori dengan lebih cepat dari pada pertanyaan yang tidak berhubungan. Ketiga, semakin kuat hubungan kausal antar pernyataan sangat menentukan semakin kuatnya pengungkapan kembali pernyataan-pernyataan lain yang berkaitan. Keempat, perhatian pembaca sangat mengikuti hubungan kausal antar peristiwa. Dan kelima, pembaca akan terfasilitasi dalam membuat kesimpulan-kesimpulan yang berkenaan dengan hubungan-hubungan kausal.
Fitsgerald (2012) membagi dua macam hubungan kausal. Hubungan kausal bisa bersifat sederhana (linearly structured) dan kompleks (factorially structured). Dalam hubungan kausal yang bersifat linear, satu peristiwa terjadi setelah peristiwa lain terjadi. Dalam hubungan kausal yang bersifat kompleks atau factorial, beberapa pristiwa berhubungan secara kausal. Mana dari dua hubungan itu yang lebih mudah diingat? Hubungan linear lebih mudah diingat dari pada hubungan kompleks. Dalam teks, dua kalimat bisa saja memiliki hubungan kausal dengan tanpa kata penghubung misal sebab atau karena. Hubungan kausal tanpa kata penghubung itu disebut asyndetic construction.


Pembelajaran Kausalitas
Penalaran kausal sangat mungkin dilakukan dengan pembelajaran langsung (Jonassen & Ionas, 2008). Pembelajaran langsung yang bisa dilakukan meliputi: diagram pengaruh, pendampingan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan, penggunaan simulasi, penggunaan model-model kausal. Untuk menjawab pertanyaan mengapa, yang menjadi penekanan adalah pada alasan (Woodcock, 2005). Dalam hal kausalitas atau sebab akibat, yang ditekankan adalah pada alasan-alasan yang paling berpengaruh terhadap peristiwa utama atau peristiwa terakhir. Derajat pengaruh itu bisa langsung atau tak langsung. Pengaruh tersebut bisa bersifat transformatif atau hanya sebatas momentum saja.
Untuk meningkatkan pemahaman teks yang diorganisir dalam bentuk sebab/akibat, pembelajarannya bisa dilakukan dengan pembelajaran struktur teks (Williams et al, 2004). Strateginya adalah sebagai berikut. Pertama, mengajak siswa untuk membahas apa artinya sebab dan apa artinya akibat. Kedua, memberi pertanyaan-pertanyaan sebab/akibat. Pertanyaan harus difokuskan pada informasi sebab/akibat yang ada di teks. Pertanyaan tersebut adalah: apa yang terjadi? Dan mengapa terjadi? Ketiga, menyajikan kosa kata yang berkaitan dengan isi atau informasi yang ada di teks. Kata-kata itu nantinya dituliskan di paragraf. Dalam paragraf itu, kata-kata tersebut diterangkan dan juga diilustrasikan dengan contoh-contoh. Keempat, menjaikan kata-kata kausal: karena, maka, oleh karena itu. Siswa diminta untuk menggunakan kata-kata tersebut dalam pembuatan kalimat. Kelima, mengajak siswa membaca dan menganalisis paragraf. Siswa mencari kata penghubung. Dan siswa melingkarinya. Kemudian siswa menggarisbawahi bagian-bagian kalimat yang ada baik sebelum dan sesudah kata penghubung. Keenam, siswa menyajikan bagian-bagian sebab dan bagian-bagian akibat dalam graphic organizer. Graphic organizer-nya terdiri dari kotak yang dihubungkan dengan panah penghubung. Dan ketujuh, meriview kata penghubung, pertanyaan sebab/akibat dan graphic organizer.

KESIMPULAN
Dalam pembelajaran sejarah, siswa harus mempelajari bahan ajar tersebut. Agar mereka bisa belajar, kita harus meminta mereka untuk membacanya. Buku-buku sejarah seringkali mengorganisir isi dalam bentuk sebab/akibat. Mendalami teks dengan melihat sebab akibat berarti mencari hubungan antar paristiwa atau melihat bagaimana suatu peristiwa menimbulkan suatu peristiwa lainnya. Mendalami teks dengan melihat sebab akibat berarti mencari hubungan antar paristiwa atau melihat bagaimana suatu peristiwa menimbulkan suatu peristiwa lainnya. Melihat hubungan sebab akibat sangat membantu dalam memahami peristiwa saling berkaitan.
Ada beberapa model pemikiran sejarah dari para pakar yang layak diketahui, salah satunya adalah kausalitas. Sejarawan harus bisa melihat hubungan antar peristiwa dan mencari unsur-unsur utama yang bisa digunakan untuk menerangkan gerak atau peristiwa sejarah. Atau sejarawan harus mencari berbagai faktor penyebabnya.
Peristiwa-peristiwa yang disusun dalam bentuk susunan kausal jauh lebih mudah diingat. Hubungan-hubungan kausal antar peristiwa sejarah menjadi faktor utama dalam memahamai naratif. Hubungan kausal bisa bersifat sederhana (linearly structured) dan kompleks (factorially structured).
Kausalitas bisa dilakukan dengan pembelajaran langsung ataupun pembelajaran struktur teks. Penalaran kausal sangat mungkin dilakukan dengan pembelajaran langsung. Untuk meningkatkan pemahaman teks yang diorganisir dalam bentuk sebab/akibat, pembelajarannya bisa dilakukan dengan pembelajaran struktur teks.

DAFTAR RUJUKAN

Beck, I. L., McKeown, M. G., & Gromoll, E. W. (1989). Learning from social studies texts. Cognition and Instruction , 6 (2), 99-158.
Chowen, B. W. (2005). Teaching historical thinking: what happened in a secondary school world history classroom. Disertasi . The University of Texas at Austin.
Ciardiello, A. V. (2002). Helping adolescents understand cause/effect text structure in social studies. The Social Studies , 93 (1), 31-36.
Cochran, M. M. (2010). Teaching historical thinking: the challenge of implementing reform minded practices for three first year teachers. Disertasi . University of Maryland.
Colby, S. R. (2007). Students as historians: the historical narrative inquiry model's impact on historical thinking and historical empathy. Disertasi . University of North Texas.
Fitzgerald, J. C. (2012). "It doesn't say": exploring students' understandings of asyndetic constructions in history textbooks. Social Studies Research and Practice , 7 (2), 150-173.
Jonassen, D. H., & Ionas, I. G. (2008). Designing effective supports for causal reasoning. Educational Technology Research and Development , 56 (3), 287-308.
Kim, M. S. (2005). Alignment of classroom history assessments and the 7th national curriculum in Korea: assessing historical knowledge and reasoningskills. Disertasi . University of Pittsburgh.
Trabasso, T., & Van den Broek, P. (1985). Causal thinking and the representation of narrative events. Journal of Memory and Language , 24, 612-630.
Van den Broek, P., Fletcher, C., & Marsolek, C. J. (2000). The role of causal discourse structure in narrative writing. Memory & Cognition , 28 (5), 711-721.
Van den Broek, P., Linzie, B., Fletcher, C., & Marsolek, C. J. (2000). The role of causal discourse structure in narrative writing. Memory & Cognition , 28 (5), 711-721.
Voss, J. F., & Wiley, J. (1995). Acquiring intellectual skills. Annual Review of Psychology , 46, 155-181.
Williams, J. P., Pllini, S., & Nulla-Kung, A. M. (2004). An intervention to improve comprehension of cause/effect through expository text structure intervention. Journal of Educational Psychology , 106 (1), 1-17.
Woodcock, J. (2005). Does the linguistic release the conceptual? Helping year 10 to improve their causal reasoning. Teaching History , 119, 5-14.
Yeager, E. A., & Davis, J. O. (1995, March). Teaching "the knowing how" of history: classroom teachers' thinking about historical texts. Paper presented at the Annual Meeting of the American Educational Research Association . San Francisco, CA.
Yeager, E. A., & Davis, J. O. (1994, April). Understanding the "knowing how" of history: elementary student teachers' thinking about historical texts. Paper presented to the Annual Meeting of the American Educational Research Association . New Orleans, LA.