Selasa, 29 Agustus 2017

PENGEMBANGAN BUKU BELAJAR SISWA BERBASIS MASALAH PADA PELAJARAN MATEMATIKA SMP KELAS VIII


PENGEMBANGAN BUKU BELAJAR SISWA BERBASIS MASALAH PADA PELAJARAN MATEMATIKA SMP KELAS VIII

Eric Dwi Putra, Dwi Noviani Sulisawati
email: ric_chaenk@yahoo.co.id
email: dwi.moshimoshi@gmail.com

Abstract: The problem in this research is "What is the process and what the result of the development of students' books for learning based on a math problem in class VIII SMP valid, practical, and effective?". In line with this, the study aims to obtain books mathematics students to problem-based learning for students of class VIII. Development of student books in math class VIII SMP grounded in problem-based learning developed by Plomp. To test criteria established then validated experts and limited testing of the product. The tests showed that the validation sheets, observation sheets, tests, and questionnaires have been eligible. For criteria of practicality, the results materialize Textbook Students meet the high criteria. As for the criteria of effectiveness, Textbook Students get active criteria for student activities, positive criteria for a complete response based on the requirements of students and learning exhaustiveness. This means Textbook Student to study the problem based on the material and beam prism that has been developed has met all the criteria valid, practical and effective.

Keywords: Textbook Development, Problems, Cube and Beams

PENDAHULUAN

Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang kompleks, artinya bahwa pembelajaran itu dipengaruhi banyak faktor yaitu tujuan, kompetensi, materi, bahan ajar, metode, strategi, media, waktu, umpan balik, evaluasi, siswa, dan guru. Hal ini berarti jika komponen-komponen ini tidak diperhitungkan dan dikelola dengan baik akan mengakibatkan lemahnya proses pembelajaran sehingga kurangnya pengembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, kritis, dan penekanan proses pembelajaran pada pengembangan kemampuan siswa untuk mengingat dan menghafal materi yang diajarkan.
Salah satu tujuan mata pelajaran matematika dalam Kurikulum 2006 untuk SMP/MTs adalah menyelesaikan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Dalam penyelesaian masalah, siswa diharapkan mampu memahami proses penyelesaian masalah tersebut dan menjadi terampil dalam memilih, serta identifikasi kondisi dan konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian, serta mengorganisasikan ketrampilan yang telah dimiliki sebelumnya (Hudojo, 2005:125)
Menurut Yuwono (2009) rendahnya hasil belajar siswa umumnya dipengaruhi banyak faktor, misalnya proses pembelajaran belum berjalan secara bermakna artinya siswa cenderung diberikan drill dan hafalan sebanyak-banyaknya. Proses pembelajaran matematika seharusnya lebih banyak memberi penekanan pada kemampuan memecahkan masalah, pengembangan cara berpikir dan bernalar, dan mengkomunikasikan gagasan matematika pada berbagai konteks ilmu pengetahuan dan teknologi (Depdiknas, 2006).
Cooney, Davis, & Henderson (dalam Hudojo, 2005:126) menyatakan bahwa mengajar siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah memungkinkan siswa menjadi lebih analitik mengambil keputusan dalam kehidupan. Siswa menjadi lebih terampil dalam mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis informasi dan menyadari bahwa betapa pentingnya meneliti kembali hasil yang telah diperoleh, serta memberikan motivasi kepada siswa untuk mempelajari pelajaran tersebut. Oleh karena itu, pada penelitian ini dipilihlah model pembelajaran, yaitu belajar berbasis masalah. Karena dalam belajar berbasis masalah pada pelajaran matematika, siswa akan diberi kesempatan dengan pengenalan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.Siswa akan belajar bagaimana melakukan penemuan melalui proses penyelesaian masalah tersebut dalam proses pembelajaran.
Belajar berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran berdasarkan teori belajar konstruktivisme (Mustaji & Sugiarso, 2005:15). Menurut Walle (2008:23) teori konstruktivisme berakar kuat dari psikologi kognitif dan teori-teori dari Piaget yang berkembang sekitar tahun 1960. Prinsip dasar konstruktivisme adalah siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka.
Begitupun dengan pemilihan bahan ajar yang akan digunakan. Bagi siswa, seringkali sumber belajar yang terlalu banyak membuat mereka bingung. Oleh karena itu, guru perlu membuat sumber belajar untuk menjadi pedoman bagi sisw, salah satunya adalah Buku Siswa. Buku siswa adalah salah satu contoh sumber belajar yang dirancang (learning resources by design). Buku siswa yang berisi materi yang harus dipelajari merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah karena merupakan sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Buku siswa adalah bahan pelajaran yang disusun khusus untuk keperluan dan pegangan siswa dalam proses belajar (Sitepu, 2010). Trianto (2007) mengemukakan bahwa buku siswa merupakan buku panduan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang memuat materi pelajaran, kegiatan penyelidikan berdasarkan konsep, kegiatan matematika, informasi, dan contoh-contoh peberapan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, buku siswa ini juga sebagai panduan belajar baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun belajar mandiri.
Berdasarkan pendapat di atas, yang dimaksud dengan buku siswa dalam penelitian ini adalah buku pegangan siswa yang memuat masalah-masalah konstektual dan berbagai model dengan tujuan agar siswa dapat menemukan sendiri konsep-konsep yang ada pada matematika. Misalnya menemukan konsep rumus pada pembelajaran matematika. Selain itu, buku siswa ini memuat kegiatan siswa, kesimpulan dari kegiatan, dan diakhiri dengan soal-soal cerita. Soal-soal latihan pada buku siswa dapat digunakan guru sebagai alternatif tugas rumah bagi siswa. Buku siswa yang baik adalah buku siswa yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dan dilengkapi dengan gambar beserta keterangan-keterangannya.
Pada penelitian ini, buku siswa yang dikembangkan mencerminkan karakteristik belajar berbasis masalah karena pada buku tersebut memuat masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa, aktivitas-aktivitas yang mengarahkan siswa menemukan konsep dan menerapkannya, dan soal-soal latihan sebagai latihan pemantapan siswa dalam memahami konsep-konsep yang diterima.Brooks & Slavin (dalam Mustaji & Sugiarso, 2005:15) menyatakan bahwa ciri khas teori belajar konstruktivisme adalah siswa harus menemukan dan mengubah informasi yang kompleks menjadi lebih sederhana, bermakna, membandingkan informasi yang satu dengan yang lain. Jika tidak cocok, siswa berupaya mengubahnya agar sesuai dengan skematanya. Jadi belajar bersifat konstruktif, artinya membangun makna, pemahaman dari bermacam-macam informasi. Pandangan ini mempunyai dampak yang besar untuk pembelajaran, karena mendorong siswa berperan lebih aktif dalam belajarnya.
Seperti diketahui bahwa pandangan konstruktivis dalampembelajaran matematika lebih ditekankan pada proses, bukan pada hasil dan siswa terlibat langsung dalam melakukan investigasi menemukan suatu konsep tertentu. Hal inilah yang mendukung perlunya belajar berbasis masalah dalam pembelajaran matematika. Diharapkan siswa dapat memahami materi yang diberikan lebih mendalam lagi karena berhubungan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada ketertarikan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya dan peragaan. Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah bertujuan antara lain untuk: (a) membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah, (b) belajar peranan orang dewasa yang autentik, dan (c) menjadi pembelajar yang mandiri.
Dalam penelitian ini akan dikembangkan Buku Ajar Siswa berbasis masalah dengan menggunakan model pengembangan Plomp. Plomp (Hobri, 2010) memberikan suatu model dalam mendesain pendidikan yang terbagi dalam 5 fase, yaitu: (1) fase investigasi awal, (2) fase desain, (3) fase realisasi/kontruksi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, dan (5) fase implementasi.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti akan melakukan penelitian yang mengembangkan buku siswa untuk belajar berbasis masalah di SMP kelas VIII pada pelajaran matematika. Judul penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu “Pengembangan Buku Siswa Untuk Belajar Berbasis Masalah Pada Pelajaran Matematika Di SMP Kelas VIII”. Dengan tujuan untuk menghasilkan buku siswauntuk belajar berbasis masalah pada pelajaran matematika di SMP kelas VIII yang valid, praktis, dan efektif.


METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei 2016 sampai dengan November 2016. Penelitian ini bertempat di Jember dengan menggunakan tiga kelas di dua sekolah yang dijadikan sebagai tempat pengambilan data untuk kegiatan uji coba prototype yang dikembangkan, yang terdiri dari kelas VIII A dan VIII B di MTs Akbar Jember serta kelas VIII C di SMP Darul Hikmah Jember.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan desain pengembangan milik Plomp. Desain pengembangan Plomp terdiri dari beberapa tahap yang meliputi (1) fase investigasi awal, (2) fase desain, (3) fase realisasi/konstruksi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, dan (5) fase implementasi. Tetapi dalam penelitian ini, peneliti melakukan modifikasi terhadap pengembangan model Plomp menjadi empat fase yaitu: (1) Tahap Investigasi Awal yang terdiri dari analisis ujung depan, analisis siswa, analisis materi, analisis tugas, dan spesifikasi kompetensi; (2) Tahap Perancangan/ Desain, (3) Tahap Realisasi/ Konstruksi, dan (4) Tahap Tes, Evaluasi dan Revisi. Subjek uji coba dalam pengembangan Buku Ajar Siswa Kelas VIII ini adalah siswa kelas VIII . sedangkan untuk jenis data yang diperoleh dari uji coba produk pengembangan berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa skor yang diperoleh melalui lembar validasi, lembar observasi, angket respon siswa, hasil pekerjaan rumah (PR) siswa dan tes hasil belajar. Sedangkan data kualitatif berupa catatan, saran atau komentar berdasarkan hasil penilaian yang diperoleh melalui penilaian ahli terhadap kevalidan buku siswa, RPP, tes, lembar observasi dan angket, keterlaksanan buku siswa oleh observer (praktisi), aktivitas siswa oleh observer, dan angket penilaian siswa tentang buku siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ada empat fase yang dilakukan peneliti selama proses pelaksanaan penelitian pengembangan ini. Kegiatan pada fase pertama meliputi: (1) Analisis masalah pembelajaran, (2) Analisis siswa, (3) Analisis materi, (4) Analisis tugas, dan (5) Spesifikasi indicator serta tujuan pembelajaran.
Fase kedua yang dilakukan adalah penyusunan rancangan buku ajar. Untuk mendukung penggunaan buku ajar, maka juga dirancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan instrument penelitian berupa lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa serta lembar soal tes akhir.
Selanjutnya, fase ketiga merupakan realisasi hasil rancangan yang telah dilakukan peneliti pada fase kedua. Pada fase ini, dihasilkan prototipe, yaitu berupa Buku Ajar bagi Siswa, RPP, dan instrument penelitian.
Pada fase keempat, dilakukan validasi ahli dan uji coba lapangan terhadap produk yang telah dihasilkan. Buku Ajar Siswa, RPP, dan instrument penelitian yang lain divalidasi oleh ahli terlebih dahulu untuk memperoleh saran dan masukan guna perbaikan pada prototipe yang telah dihasilkan sehingga instrument tersebut valid sebelum dilakukan uji coba di lapangan. Sedangkan saat uji coba di lapangan untuk menetapkan bagian-bagian yang memerlukan perbaikan sehingga menghasilkan Buku Ajar Siswa yang valid, praktis, dan efektif.
Berdasarkan hasil analisis data tentang masalah pembelajaran menunjukkan bahwa guru biasanya mengajar dengan metode ceramah dan drill (latihan soal); hasil ketuntasan belajar dengan skor maksimum 100, siswa kelas VIII A hanya 16 siswa atau 60% yang mendapat skor ≥75 dari 27 siswa, sedangkan 11 siswa atau 40% mendapatkan skor <75. Kelas VIII B hanya 12 siswa atau 67% yang mendapat skor ≥75 dari 18 siswa, sedangkan 8 siswa lainnya mendapatkan skor <75 dan kelas VIII C terdapat 16 siswa atau 55% siswa mendapat skor ≥75. Secara klasikal kelas VIII A, VIII B dan VIII C belum mencapai ketuntasan belajar karena siswa yang memperoleh skor ≥75 kurang dari 85% yang sudah ditetapkan sekolah. Selanjutnya prototipe yang dikembangkan disesuaikan dengan permasalahan yang telah ditemukan tersebut. Namun, sebelum diujicobakan, prototipe yang dihasilkan telah lebih dahulu diuji validasi pada ketiga ahli.
Hasil uji validasi menunjukkan bahwa prototipe yang terdiri dari Buku Ajar, RPP, lembar observasi aktivitas siswa dan guru, angket respon siswa, angket penilaian siswa tentang Buku Ajar, tes hasil belajar yang dihasilkan dikatakan valid. Selanjutnya dilakukan proses uji coba terhadap prototipe yang telah dihasilkan tersebut yang berlangsung dari tanggal 9 Mei hingga 24 Mei 2016. Berdasarkan hasil uji coba didapatkan bahwa (1) keterlaksanaan Buku Ajar Siswa setiap pertemuan memenuhi kriteria tinggi; (2) hasil belajar siswa pada pelaksanaan uji coba pada materi kubus dan balok telah mencapai kriteria ketuntasan hasil belajar, (3) aktivitas siswa selama empat pertemuan memenuhi kriteria aktif, respon siswa positif dan (4) 93,25% siswa menyatakan bahwa Buku Ajar Siswa mudah dimengerti saat dibaca oleh siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Sanjaya (2010:220) yang menyatakan bahwa kelebihan belajar berbasis masalah adalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa dan dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar tetapi memang membutuhkan waktu yang cukup untuk melakukan persiapan.
pada proses pelaksanaan uji coba Buku Ajar Siswa juga didapatkan hasil bahwa selama pelaksanaan uji coba, melalui soal-soal yang disajikan di Buku Ajar Siswa, siswa mengaku merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah yang ada pada soal-soal yang telah disediakan. Hal ini dikarenakan Secara umum belajar berbasis masalah menyajikan berbagai masalah yang autentik dan bermakna, yang dapat berfungsi sebagai pendorong kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inquiry ( Arends, 2008:41). Menurut Bruner (dalam Ibrahim & Nur, 2000:22), belajar berbasis masalah juga bergantung pada scaffoldingyang dapat meningkatkan inquiry dan pertumbuhan intelektual. Scaffolding merupakan proses dimana seseorang yang lebih banyak pengetahuannya (guru) membantu seseorang yang lebih sedikit pengetahuannya (siswa) untuk menuntaskan suatu masalah yang melampaui tingkat pengetahuannya saat ini.
Penelitian ini memberikan manfaat guna keefektifan proses pembelajaran matematika di kelas yang berbasis masalah dengan menghasilkan Buku Ajar bagi siswa untuk belajar berbasis masalah pada pelajaran matematika di SMP kelas VIII yang valid, praktis, dan efektif

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa Buku Ajar Siswa untuk belajar berbasis masalah pada kelas VIII untuk materi kubus dan balok yang telah dikembangkan telah memenuhi semua kriteria valid, praktis dan efektif
Lebih lanjut lagi, peneliti menyarankan kepada pembaca agar pada penelitian berikutnya dapat dikembangkan Buku Ajar bagi Siswa yang berbasis masalah tetapi untuk materi lain dan peneliti juga menyarankan agar uji coba yang dilakukan guna meneliti tentang keefektifan Buku Ajar yang dihasikan agar tidak hanya dilakukan satu kali, sehingga akan mendapatkan lebih banyak saran, masukan dan perubahan yang berarti guna menunjang keterlaksanaan penerapan Buku Ajar tesebut.

DAFTAR RUJUKAN

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP/MTs. Jakarta: Depdiknas.

Hobri. 2010. Metodologi Penelitian Pengembangan (Aplikasi pada Penelitian Pendidikan Matematika). Jember: Pena Salsabila.

Hudojo, H. 2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: UM Press.

Mustaji & Sugiarso. 2005. Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik: Penerapan dalam Pembelajaran Berbasis Masalah. Surabaya: Unesa University Press.

Sanjaya, W. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
.
Sitepu, B.P. 2010. Buku dan Perkembangannya, (Online), (http://bintangsitepu.wordpress.com/category/buku-dan-perkembangannya/, diakses 6 Desember 2010).

Walle, John A. Van De. 2008. Elementary and Middle School Mathematics: Sixth Edition. New York: Pearson Prentice Hall.

Yuwono, Ipung. 2009. Membumikan Pembelajaran Matematika di Sekolah. Pidato Pengukuhan Guru Besar FMIPA UM. Malang.





UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENERAPAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION PADA MATA PELAJARAN SEJARAH


UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENERAPAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION PADA MATA PELAJARAN SEJARAH

Mohammad Naim, Bambang Soepeno dan Muhasanah
mohamad naim@unej.ac.id

ABSTRACT: The aim of this study was to improve the activity and results of the study of history by using cooperative learning model of Group Investigation. The subjects were students of class X IPS 1 MAN jumlah meditated with 42 students. The indicators examined are activity and learning outcomes. Learning activity cycles 1 to obtain a percentage of 64.28%, cycle 2 percentage gain of 73.17%, cycle 3 percentage gain of 81.58%. Cognitive learning results obtained percentage of 64.28%, cycle 2 the results obtained percentage of 78.57% and cycle 3 percentage gain of 83.33%, the affective aspect in cycle 1 was 69.68%, psychomotor aspects of 68.09 %. In cycle 2 of learning outcomes gained 78.57% affective, psychomotor aspects of 70,63%. Cycle 3 of affective gain of 83.33%, 83.33% psychomotor aspects.

Key word: cooperative learning model type group investigation, learning activities, history subject learning outcomes


PENDAHULUAN
Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dengan tujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik agar menjadi manusia yang berkualitas dengan ciri-ciri beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab (UU Sisdiknas No. 20 pasal 1 ayat 1 tahun 2003). Pendidikan harus mampu menyesuaikan dinamika yang berkembang dalam masyarakat, terutama tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Pendidik nantinya akan melaksanakan kurikulum di kelas melalui proses pembelajaran perlu mengetahui dan memahami kurikulum yang berlaku untuk diimplemetasikan dalam menjalankan proses pembelajaran.
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Tujuan pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik (Isjoni, 2009:14). Menurut Subakti (2010:4), pembelajaran sejarah adalah pembelajaran yang mampu menumbuhkan kemampuan peserta didik melakukan konstruksi kondisi masa sekarang dengan mengaitkan atau melihat masa lalu yang berbasis topic pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah merupakan pembelajaran yang dapat menolong peserta didik untuk berfikir kritis dan komprehensif dan berafektif moral (Aman, 2009:50). Melihat perkembangan pendidikan masa sekarang terutama pada proses pembelajaran disekolah berdasarkan kurikulum yang digunakan membuat peserta didik aktif di dalam proses pembelajaran. Aktifnya peserta didik selama proses pembelajaran akan berpengaruh pada hasil belajar peserta didik. Aktivitas belajar peserta didik yang tinggi akan membuat hasil belajar sejarah juga tinggi. 
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara Waka kurikulum dan pendidik mata pelajaran sejarah di MAN Bondowoso kelas X IPS 1 menggunakan kurikulum 2013, yaitu kegiatan di dalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung bukan kegiatan satu arah dari pendidik ke peserta didik dan antarpeserta didik (student centered), melainkan kegiatan timbal balik antara pendidik dengan peserta didik dan antara sesama peserta didik (student centered). Kegiatan pembelajaran memberi kesempatan peserta didik untuk aktif melakukan kegiatan dalam proses belajar akan menyebabkan peserta didik terdorong dalam mempelajari suatu materi pembelajaran sehingga apa yang diperoleh peserta didik dari belajar akan bermakna bagi peserta didik.
Hasil observasi pada saat pembelajaran sejarah bahwa permasalahan yang terjadi antara lain, mata pelajaran sejarah berada diakhir jam pembelajaran sehingga membuat peserta didik tidak bersemangat untuk mengikuti proses pembelajaran, dalam proses pembelajaran pendidik memberikan ceramah dan penugasan kepada peserta didik, hanya beberapa peserta didik yang memperhatikan penjelasan pendidik, peserta didik kurang aktif saat pembelajaran, aktivitas peserta didik rendah, dibuktikan dengan peserta didik bicara sendiri ketika pendidik memberi penjelasan, peserta didik tidak bertanya, peserta didik kurang aktif saat diskusi, hanya bergantung pada teman yang pintar saja, hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah rendah. Pembelajaran sejarah di kelas X IPS 1 menunjukkan peserta didik memiliki aktivitas belajar yang rendah dalam mengikuti pembelajaran sehingga menyebabkan peserta didik kurang aktif saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini terlihat dari respon peserta didik yang cenderung pasif, ketika pendidik memberikan pertanyaan terkait materi yang akan dipelajari.
Rendahnya aktivitas peserta didik ditunjukkan dengan aktivitas peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung, misalnya: (1) ketika pendidik menerangkan banyak peserta didik yang tidak mendengarkan penjelasan pendidik; (2) peserta didik ramai sendiri dikelas; (3) peserta didik masih belum banyak yang mengungkapkan pendapatnya; (4) peserta didik jarang bertanya  kepada pendidik. Kondisi tersebut menunjukkan rendahnya aktivitas peserta didik saat proses pembelajaran sejarah berlangsung. Pada saat pembelajaran sejarah dikelas, pendidik sudah menerapkan model ceramah. Dengan menggunakan ceramah peserta didik dapat mendengarkan penjelasan dari pendidik dan aktif dalam pembelajaran, dengan mendengarkan penjelasan dari pendidik peserta didik akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru namun kenyataannya hanya beberapa peserta didik yang mendengarkan. Terdapat banyak peserta didik yang sering lupa dengan materi pembelajaran sebelum-sebelumnya hal ini terlihat ketika pendidik bertanya kepada peserta didik tidak bisa menjawab pertanyaan dari pendidik.
Berdasarkan hasil observasi di kelas X IPS 1 MAN Bondowoso kelas X IPS 1  diperoleh data aktivitas peserta didik menurut Diedrich dengan indikator yaitu: (1) peserta didik mengajukan pertanyaan sebesar 54,76%; (2) peserta didik mengeluarkan pendapat sebesar 46,03%; (3) keaktifan berdiskusi sebesar 50,00%; (4) peserta didik mencatat 43,65; (5) peserta didik mencari informasi sebesar 47,61%. Berdasarkan perolehan persentase tersebut, dapat diketahui bahwa aktivitas belajar peserta didik rendah dan juga berdampak pada hasil belajar peserta didik dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang harus dicapai yaitu 70.
Permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah tidak semua peserta didik mendengarkan dan memahami pelajaran yang diberikan oleh pendidik. aktivitas belajar peserta didik selama proses pembelajaran masih rendah. Maka perlu diciptakan suasana pembelajaran yang mendorong peserta didik terlibat aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Untuk menciptakan suasana pembelajaran tersebut dibutuhkan suatu model pembelajaran yang akan membuat peserta didik antusias dalam belajar sehingga aktivitas belajar peserta didik dapat meningkat. Untuk meningkatkan perhatian peserta didik, aktivitas dan hasil belajar peserta didik meningkat dapat diterapkannya model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran kelompok yang memiliki aturan-aturan tertentu. Prinsip dasar pembelajaran kooperatif adalah peserta didik membentuk kelompok kecil dan saling mengajarkan sesamanya untuk mencapai tujuan bersama (Wena,2009; Slavin, 1995).
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tuga tujuan yaitu, prestasi, akademis, toleransi dan penerimaan terhadap keanekaragaman dan pengembangan keterampilan sosial (Arends, 2008uprijono, 20095). Dengan model pembelajaran kooperatif peserta didik dapat bekerja dalam timnya untuk mencapai tujuan belajar, tim-tim tersebut adalah terdiri atas peserta didik yang berprestasi rendah, sedang dan tinggi dan juga terdapat peserta didik terdiri atas campuran ras, budaya dan gender. Model pembelajaran kooperatif membuat prestasi tinggi dalam tugas-tugas belajar akademik lebih dapat diterima. Selain mengubah norma-norma yang terkait dengan dengan prestasi tinggi, dapat membantu peserta didik mengajarinya temannya. Dalam prosesnya, mereka yang berprestasi tinggi juga memperoleh hasil secara akademik karena bertindak sebagai tutor menuntut untuk berfikir lebih mendalam tentang hubungan di antara berbagai ide dalam subjek tertentu.
Model pembelajaran kooperatif memiliki beragam tipe. Terdapat beberapa model kooperatif yang bertujuan untuk prestasi akademis dan peserta didik terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan danpak positif, dapat memotivasi peserta didik untuk meningkatkan prestasi belajarnya, serta diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik didalam kelompoknya seperti menjadi pendengar yang baik dan selama kerja kelompok, tugas kelompok adalah mencapai ketuntasan antara lain, model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Dalam model pembelajaran kooperatif Group Investigation peserta didik bukan hanya bekerja bersama-sama tetapi juga membantu merencanakan topic yang akan dipelajari maupun prosedur investigative yang digunakan (Arends, 2008:14). Didalam investigasi kelompok peserta didik dapat memecahkan permasalahannya bersama kelompoknya serta peserta didik mampu untuk berfikir mandiri.
Terdapat beragam tipe model pembelajaran kooperatif antara lain, model pembelajaran kooperatif Student Teams Achiement Divisoins (STAD),Team Game Tournamen (TGT), Think Pair Share (TPS), Numbered Heads Together (NHT), dan Group Investigation (Investigasi Kelompok). Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation merupakan model pembelajaran yang menuntut melibatkan peserta didik sejak perencanaan, baik menentukan topik maupun cara untuk mempelajari  melalui investigasi (Wena, 2004:195). Hal yang membedakan dengan model kooperatif lain adalah investigasi kelompok melibatkan kemampuan para peserta didik untuk mempelajari melalui investigasi atau penyelidikan. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation adalah memungkinkan peserta didik untuk secara aktif melakukan investigasi terhadap suatu topik sebab investigasi kelompok memfokuskan pada investigasi terhadap suatu topik atau konsep. Model pembelajaran kooperatif Group Investigation menyediakan kesempatan kepada peserta didik untuk membentuk atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan bermakna. Investigasi kelompok efektif dalam membentuk peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok dengan latar belakang berbeda.
Berdasarkan penjelasan dari beberapa model pembelajaran diatas, salah satu model pembelajaran yang cocok untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation mendorong peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Di dalam investigasi kelompok, peserta didik dapat mengeluarkan ide-idenya, mengemukakan pendapatnya, dapat memecahkan suatu permasalahan bersama kelompoknya serta peserta didik mampu untuk berfikir mandiri.
Permasalahan yang dibahas adalah:
1.Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group  Investigation dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah ?
2.Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group  Investigation dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah?

Tujuan Penelitian ini adalah:
1.Untuk menganalisis peningkatan aktivitas belajar melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  pada peserta didik kelas X IPS Pada mata pelajaran sejarah.;
2.Untuk menganalisis peningkatan hasil belajar sejarah melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation  pada peserta didik kelas X IPS Pada mata pelajaran sejarah.;

Manfaat Penelitian ini adalah:
Bagi peserta didik, peserta didik akan lebih mudah memahami pembelajarn sejarah yang menyenangkan dengan menggununakan model pembelajaran koopeatif tipe Group Investigation; Bagi sekolah, diharapkan dapat membangkitkan minat belajar peserta didik sehingga dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran sejarah; Bagi pendidik, diharapkan dapat memperluas wawasan dan kreativitas pendidik untuk merancang pembelajaran;

METODE PENELITIAN
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X IPS 1 MAN 1 Bondowoso dengan jumlah 42 peserta didik. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian model Hopkins. Di dalam  model penelitian tindakan kelas terdapat empat komponen pokok yaitu, perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observasion, refleksi (reflecting). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah observasi, wawancara, tes dan dokumentasi Pada penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif. Analisis data kualitatif untuk pengumpulan data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil data kuantitatif berupa tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar apakah sesuai dengan yang dicapai atau tidak. Data yang akan dianalisis yaitu aktivitas belajar peserta didik dalam proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil observasi pada saat proses pembelajaran diperoleh informasi-informasi yang selanjutnya dianalisis. Ketuntasan belajar dalam penelitian ini adalah kemampuan aktivitas belajar peserta didik dan hasil belajar menggunakan standar ketuntasan belajar yang ditetapkan disekolah. Ketuntasan hasil belajar dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar dan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan standar ketuntasan yaitu ketuntasan belajar dinyatakan tuntas apabila tingkat persentase ketuntasan minimal mencapai ≥ 70 dari skor maksimal 100.





HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini memaparkan hasil dan pembahasan penelitian yang dilakukan:

A. Peningkatan Aktivitas Belajar Peserta Didik Kelas X IPS 1 MAN Bondowoso dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dalam Pembelajaran Sejarah
Peningkatan aktivitas belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation per siklus (siklus 1, siklus 2 dan siklus 3) dapat dilihat dari lima indikator berikut: (1) mengajukan pertanyaan; (2) mengeluarkan pendapat; (3) keaktifan berdiskusi; (4) mencatat; (5) mencari informasi. Berikut hasil peningkatan masing-masing indikator aktivitas belajar peserta didik.
Hasil analisis persentase aktivitas belajar peserta didik mengalami peningkatan dari siklus 1, 2 dan 3. Pada indikator mengajukan pertanyaan siklus 1 meningkat 5,55% menjadi 60,31% dengan 21,42% dengan kriteria peserta didik sangat baik, 61,90% peserta didik dengan kriteria baik, 21,4% peserta didik kriteria kurang. Pada siklus 2 meningkat 10,32% menjadi 70,63% dengan 33,4% peserta didik sangat baik, 33,4% peserta didik dengan kriteria baik, 21,4%. Siklus 3 meningkat 2,38% menjadi 73,01% dengan 23,8% peserta didik kurang baik 66,7% peserta didik dengan kriteria baik, 23,8% dengan kriteria peserta didik sangat baik. Pada indikator mengeluarkan pendapat dapat diketahui siklus 1 meningkat 23,01% menjadi 69,04% dengan 23,8% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 57,14% peserta didik dengan kriteria baik dan 21,41% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada siklus 2 meningkat 6,68% menjadi 75,9% dengan 40,47% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 45,23% peserta didik dengan kriteria baik dan 14,28% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Siklus 3 meningkat 6,63% menadi 82,53% dengan 50% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 47,61% peserta didik dengan kriteria baik dan 2,38% peserta didik dengan kriteria kurang baik.
Pada indikator keaktifan berdiskusi dapat diketahui siklus 1 meningkat 19,84% menjadi 69,84% dengan 23,80% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 57,14% peserta didik dengan kriteria baik dan 16,7% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada siklus 2 meningkat 4,76% menjadi 74,60% dengan 23,8% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 71,4% peserta didik dengan kriteria baik dan 9,52% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Siklus 3 meningkat 12,7% menjadi 87,30% dengan 61,9% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 38% peserta didik dengan kriteria kurang baik.
Pada indikator mencatat dapat diketahui Siklus 1 meningkat 17,48% menjadi 61,11% dengan 11,9% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 59,52% peserta didik dengan kriteria baik dan 28,57% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada siklus 2 meningkat 10,31% menjadi 71,42% dengan 2,8% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 61,9% peserta didik dengan kriteria baik dan 16,7% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Siklus 3 meningkat 6,35% menjadi 77,77% dengan 57,14% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 4,76% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada indikator mencari informasi diketahui siklus 1 meningkat 15,08% menjadi 62,69% dengan 11,9% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 61,9% peserta didik dengan kriteria baik dan 28,57% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Pada siklus 2 meningkat 11,11% menjadi 73,80% dengan 23,8% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 66,7% peserta didik dengan kriteria baik dan 16,7% peserta didik dengan kriteria kurang baik. Siklus 3 meningkat 13,5% menjadi 87,30% dengan 61,9% peserta didik dengan kriteria sangat baik, 38,09% peserta didik dengan kriteria baik.


B. Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dalam Pembelajaran Sejarah
Peningkatan hasil belajar sejarah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada siklus 1, 2 dan 3 dapat diperoleh data yaitu berdasarkan dari hasil observasi dapat diketahui persentase hasil belajar aspek kognitif peserta didik secara klasikal pada siklus 1,siklus 2 dan siklus 3. Persentase ketuntasan aspek kognitif pada siklus 1 sebesar 64,25%, pada siklus 2 meningkat menjadi 78,57%, pada siklus 3 meningkat menjadi 83,33%. Peningkatan ketuntasan aspek kognitif juga mengalami peningkatan. Pada pelaksanaan siklus 1 memperoleh persentase sebesar 42,1%, pada pelaksanaan siklus 2 meningkat menjadi 3,92% dan pada pelaksanaan siklus 3 meningkat menjadi 6,06%. Sedangkan rata-rata hasil belajar aspek kognitif pada siklus 1 memperoleh 72,85, pada pelaksanaan siklus 2 meningkat menjadi 75,71% dan pelaksanaan siklus 3 meningkat menjadi 77,5 %. Hasil belajar peserta didik pada aspek afektif pada siklus 1 sebesar 69,68%, dan aspek psikomotorik sebesar 68,09%. Pada siklus 2 hasil belajar afektif memperoleh sebesar 78,57%, dan aspek psikomotorik sebesar 70,63%. Siklus 3 hasil afektif memperoleh sebesar 83,33%, dan hasil belajar aspek psikomotorik memperoleh sebesar 83,33%.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigtaion pada mata pelajaran sejarah dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas X IPS Pada mata pelajaran sejarah. Penerapan model kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas X IPS Pada mata pelajaran sejarah.
Peserta didik mampu mengajukan pertanyaan, mengeluarkan pendapat, keaktifan berdiskusi, mencatat dan mencari informasi mengenai pembelajaran. Pada siklus 1 aktivitas belajar peserta didik ketuntasan klasikal memperoleh persentase sebesar 64,28% dengan kriteria cukup baik, pada siklus 2 aktivitas belajar peserta didik ketuntasan klasikal memperoleh persentase sebesar 73,17% dengan kriteria baik, pada siklus 3 aktivitas belajar peserta didik ketuntasan klasikal memperoleh persentase sebesar 81,58% dengan kriteria sangat baik.
Penerapan model kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan hasil belajar peserta. Siklus 1 hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan klasikal sebesar 64,28%, siklus 2 hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan klasikal sebesar 78,57%, siklus 3 hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan klasikal sebesar 83,33%. Hasil belajar peserta didik pada aspek afektif pada siklus 1 sebesar 69,68%, dan aspek psikomotorik sebesar 68,09%. Pada siklus 2 hasil belajar afektif memperoleh sebesar 78,57%, dan aspek psikomotorik sebesar 70,63%. Siklus 3 hasil afektif memperoleh sebesar 83,33%, dan hasil belajar aspek psikomotorik memperoleh sebesar 83,33%.
  • Berdasarkan hasil penelitian saran yang dapat diajukan oleh peneliti yaitu bagi pendidik, sebaiknya menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dikelas, bagi peserta didik, agar dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar mata pelajaran sejarah, bagi sekolah yang diteliti, hasil dari penelitian ini merupakan sebuah masukan yang dapat berguna dan digunakan sebagai peengetahuan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan dan kegiatan pembelajaran disekolah, bagi peneliti lain, agar dapat lebih mengembangkan penelitian pembelajaran dengan model  pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada materi yang lain dalam ruang lingkup yang luas.


DAFTAR RUJUKAN
Aman. 2009. Evaluasi Pembelajaran Sejarah. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Arends, R. 2008.Learning To Teach Belajar untuk Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Lie, A. 2002. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia.
Slavin, R.E. (1995). Cooperatif Learning: Theory, Research and Practice. Second Edition. Massachusetts: Allyn and Bacon Publishers.

Subakti, Y.R.2003. Paradigma Pembelajaran Sejarah Berbasis Konstruktivisme. SPPS Vol (24):1.
Suprijpono, A. (2009). Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustka Pelajar
Undang-Undang SPN No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
Wena, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.






 

PENERAPAN MODEL CORE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA


PENERAPAN MODEL CORE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA
(Studi Kuasi Eksperimen di Kelas XI MAN 2 Jember)

Hariyanto

Abstrak: Kemampuan koneksi matematis siswa masih rendah sehingga diperlukan alternatif pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan koneksi matematis Tujuan penelitian: 1)Menganalisis peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang pembelajarannya menggunakan model CORE lebih baik dibandingkan dengan yang menggunakan metode ekspositori; 2) menganalisis sikap siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model CORE. Rancangan Penelitian: Pretest and Posttest Control Group Design. Subjek penelitian: siswa kelas XI IPA MAN 2 Jember. Indikator kemampuan koneksi matematis:1) mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama; 2) mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi lain yang ekuivalen; 3) menggunakan dan menilai keterkaitan antar topik matematika dan keterkaitan di luar matematika; 4) menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Instrumen pengumpul data: angket, lembar observasi, dan jurnal harian siswa. Hasil analisis statistik, disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran CORE lebih baik, dari pada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional dan sebagian besar siswa menunjukkan sikap yang positif terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model CORE.

Kata kunci: Model pembelajaran CORE , Kemampuan koneksi matematis

PENDAHULUAN
Matematika merupakan pelajaran yang mempunyai peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan dalam berbagi disiplin ilmu lain. Oleh sebab itu, matematika dipelajari dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Walaupun matematika memiliki peran penting dalam kehidupan, kenyataannya pelajaran matematika masih merupakan pelajaran yang kurang digemari oleh siswa, masalah yang sering terjadi adalah siswa kurang memahami atau memaknai arti bahasa yang digunakan dalam matematika berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dewasa ini semakin pesat, sehingga memungkinkan diperolehnya informasi yang melimpah dengan cepat dan mudah. Agar dapat bertahan pada keadaan yang selalu berubah dan kompetitif ini, setiap orang dituntut untuk memiliki kemampuan memperoleh, memilih, dan mengelola informasi, kemampuan untuk dapat berpikir kritis, sistematis, logis, kreatif, dan kemampuan untuk bekerja sama secara efektif.
Hal tersebut tercantum dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah pada mata pelajaran matematika tahun 2007. Sikap dan cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran.Pembelajaran matematika, khususnya di bangkusekolah merupakan proses belajar-mengajar yang di dalamnya memuat unsur mendidik yang sangat kental. Sehingga, ketika siswa sudah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah, siswa diharapkan dapat memiliki dan mengaplikasikan kemampuan dan nilai-nilai matematika dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika siswa mengenyam pendidikan di bangku kuliah maupun ketika siswa sudah berada di dunia kerja.
Menurut Suherman, dkk. (2001: 59) salah satu fungsi matematika sekolah adalah sebagai pembentukan pola pikir dan pengembangan penalaran untuk mengatasi berbagai permasalahan, baik masalah dalam mata pelajaran ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat tersebut senada dengan Coernellius (dalam Marlina, 2004: 20) yang mengemukukan bahwa, “Tujuan pembelajaran matematika di sekolah diantaranya adalah untuk memberikan perangkat dan keterampilan yang perlu untuk penggunaan dalam dunianya, kehidupan sehari-hari, dan dengan mata pelajaran lain.” Pendapat-pendapat tersebut juga sejalan dengan Davis (dalam Marlina, 2004: 21) yang menyatakan bahwa “Tujuan pembelajaran matematika salah satunya memberikan sumbangan pada permasalahan sains, teknik, filsafat, dan bidang-bidang lainnya.”
Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran matematika dalam kurikulum di Indonesia menyiratkan dengan jelas tujuan yang ingin dicapai yaitu: (1) Kemampuan pemecahan masalah (problem solving); (2) Kemampuan berargumentasi (reasoning); (3) Kemampuan berkomunikasi (communication); (4) Kemampuan membuat koneksi (connection); dan (5) Kemampuan representasi (representation). Kelima hal tersebut oleh NCTM (1999) dikenal dengan istilah standar proses daya matematis (mathematical power process standards), di mana kemampuan-kemampuan ini juga termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi (high-order mathematical thinking).
Salah satu komponen dari berpikir matematis tingkat tinggi (high-order mathematical thinking) adalah koneksi matematis. Menurut House dan Coxford (Darhim, 2008: 9) koneksi matematis merupakan pengaitan antar topik matematika, matematikadengan mata pelajaran lain atau topik lain, serta pengaitan matematika dengan kehidupan. Koneksi matematis bertujuan untuk membantu persepsi siswa dengan cara melihat matematika sebagai bagian yang terintegrasi dengan kehidupan. Tujuan pembelajaran koneksi matematis di sekolah dapat dirumuskan ke dalam tiga bagaian yaitu memperluas wawasan pengetahuan siswa, memandang matematika sebagai suatu keseluruhan yang terpadu bukan sebagai materi yang berdiri sendiri, serta mengenal relevansi dan manfaat matematikadalam konteks dunia nyata.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan secara umum bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi, khususnya kemampuan koneksi matematis, sangat penting dimiliki oleh siswa. Tetapi sayangnya, menurut hasil survey yang dilakukan oleh Programme for International Student Assesmentbahwa Indonesia menduduki peringkat 58 dari 65 negara partisipan (PISA, 2009). Penelitian tersebut mengemukakan bahwa kemampuan siswa dalam menerapkan konsep-konsep matematika ke dalam masalah-masalah yang berkitan (yang dikenal dengan istilah koneksi matematis) sangat rendah. Hasil dari penelitian itu menunjukkan bahwa 69% siswa Indonesia hanya mampu mengenali tema masalah, tetapi tidak mampu menemukan keterkaitan antara tema masalah dengan pengetahuan yangtelah dimiliki. Keterkaitan yang dimaksud di sini adalah koneksi antara tema masalah dengan segala pengetahuan yang ada.
Rendahnya kemampuan koneksi matematis siswa dapat berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Menurut Wahyudin (dalam Rahman, 2010: 4), penyebab rendahnya pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika diantaranya karena proses pembelajaran yang belum optimal. Pada proses pembelajaran, umumnya guru hanya sibuk sendiri menjelaskan apa yang telah dipersiapkan sebelumnya, sedangkan siswa hanya sebagai penerima informasi. Akibatnya, siswa hanya mengerjakan apa yang dicontohkan oleh guru, tanpa tahu makna dan pengertian dari apa yang ia kerjakan. Hal tersebut menyebabkan siswa kurang memiliki kemampuan mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama, mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi lain yang ekuivalen, menggunakan dan menilai keterkitan antar topik matematika dan keterkaitan topik di luar matematika, dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Keempat kemampuan tersebut merupakan indikator kemampuan koneksi matematis dalam pembelajaran matematika.
Dengan demikian, kemampuan koneksi matematis siswa harus dikembangkan agar
kemampuan koneksi matematis siswa dapat meningkat.Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran membuat para praktisi dan peneliti pendidikan untuk mengembangkan teknik pembelajaran. Teknik pembelajaran yang digunakan di lapangan diantaranya kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru dan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pada kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, keaktifan siswa dalam pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan daya ingat siswa terhadap materi yang disampaikan.
Berdasarkan hasil penelitian, diungkapkan bahwa pada umumnya manusia mampu mengingat 20 % dari apa yang dibaca, 30 % dari apa yang didengar, 40 % dari apa yang dilihat, 50 % dari apa yang dikatakan, 60 % dari apa yang dikerjakan dan 90 % dari apa yang dilihat, didengar, dikatakan dan dikerjakan (Rose dan Nicholl, 2009:192).
Saat ini terdapat beragam metode pembelajaran yang berpusat pada siswa dan sedang dikembangkan dalam bidang pendidikan matematika secara khusus untuk menjawab segala kebutuhan siswa akan pendidikan tersebut. Salah satunya adalah metode diskusi. Berdasarkan hasil penelitian, strategi belajar yang diberikan dengan menonjolkan aktivitas diskusi dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan siswa (Jacob, 2005: 13). Jacob menambahkan bahwa dengan diskusi, siswa dapat mengkoneksikan diri untuk balajar, dapat meningkatkan berpikir berpikir reflektif dan dapat memperluas pengetahuan siswa.
Model CORE merupakan salah satu model pembelajaran dengan metode diskusi. Model CORE mencakup empat proses, yaitu Connecting Organizing Reflecting Extending (Calfee et. al, dalam Jacob, 2005: 13). Dalam Connecting, siswa diajak untuk dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuannya terdahulu. Organizingmembantu siswa untuk dapat mengorganisasikan pengetahuannya. Reflecting, siswa dilatih untuk dapat menjelaskan kembali informasi yang telah mereka dapatkan. Terakhir yaitu Extendingatau proses memperluas pengetahuan siswa, salah satunya dengan jalan diskusi.
Model pembelajaran CORE siswa dapat menjembatani siswa untuk mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama, mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi lain yang ekuivalen, menggunakan dan menilai keterkitan antar topik matematika dan keterkaitan topik di luar matematika, dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat mempengaruhi kemampuan koneksi matematis siswa. Oleh karena itu, peneliti tertarik melaksanakan suatu penelitian dengan judul “Penerapan Model CORE dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa.”
Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan maka hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran menggunakan model CORElebih baik dari pada siswa yang mendapat pembelajaran mengunakan model ekspositori.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen yang menelaah penerapan model CORE dalam pembelajaran matematika terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa dan bertujuan untuk melihat hubungan sebab akibat dan perlakuan yang dilakukan terhadap variabel bebas kemudian dilihat hasilnya pada variabel terikat. Pembelajaran dengan model CORE sebagai variabel bebas danvariabel terikatnya adalah kemampuan koneksi matematis siswa.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pretest-Postest-Control Group Design (Sugiyono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MAN 2Jember dan dipilih sampel secara acak diperoleh kelas XI IPA 5 sebagai kelas kontrol dan kelas XI IPA 4 sebagai kelas eksperimen kemudian kedua kelompok tersebut mendapatkan tes awaldan tes akhir.
Adapun instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen penelitian yang berbentuk tes adalah tes kemampuan koneksimatematis, sedangkan instrumen penelitian yang berbentuk non-tes adalah angket siswa,lembar observasi,dan jurnal harian siswa.
Pengolahan tes kemampuan berpikir kreatif matematis dilakukan dengan menggunakan uji statistik terhadap kemampuan awal koneksi matematis siswa,kemampuan akhir koneksi matematis siswa,dan indeks gainuntuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis pada kedua kelas. Data yang diperoleh melalui angket siswa,lembar observasi,dan jurnal harian siswadiolah dan dianalisis untuk mengetahui responssiswa terhadap model pembelajaran CORE.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil rata-rata tes awal untuk kelas eksperimen adalah 25,79; sedangkan rata-rata tes awaluntuk kelas kontrol adalah 24,53.Setelah dilakukan uji normalitas, didapat bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswakelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal, danuntuk kemampuan awal koneksi matematis siswakelas eksperimen berasal dari populasi berdistribusi normal. Karena kelas kontrol dan eksperimen berdistribusi normal,maka disimpulkan bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswa berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Langkah pengolahan data selanjutnya adalah menguji homogenitas kedua sampel. Berdasarkan uji homogenitas diperoleh nilai Sig sebesar 1,876. Nilai ini tidak kurang dari 0,01;maka diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswa kelas kontrol dan eksperimen memiliki varians yang homogen. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap kesamaan dua rata-rata.Berdasarkan uji kesamaandua rata-rata diperolehnilaiSig sebesar0,588.Nilai ini tidak Kurangdari 0,05;maka diperoleh kesimpulan bahwakemampuan awal koneksi matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama.
Langkah pengujian statistik selanjutnya dilakukan terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa, yaitu dengan melakukan pengujian terhadap kemampuan akhir koneksi matematis dan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa. Peningkatan kemampuan koneksi matematis dalam penelitian ini digambarkan oleh indeks gain kemampuan koneksi matematis yang telah diolah.Hasil rata-rata tesakhiruntuk kelas eksperimen adalah71,26; sedangkanrata-ratates akhiruntuk kelas kontrol adalah59,68. Setelah dilakukan uji normalitas, didapat bahwa kemampuan akhir koneksi matematis siswakelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal, danuntuk kemampuan akhir koneksi matematis siswakelas eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Karena kelas kontrol dan eksperimen berdistribusi normal,maka disimpulkan bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswa berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Langkah pengolahan data selanjutnya adalah menguji homogenitas kedua sampel. Berdasarkan uji homogenitas diperoleh nilai Sig sebesar 1,591. Nilai ini tidak kurang dari 0,01; maka diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswa kelas kontrol dan eksperimenmemiliki varians yanghomogen. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap perbedaandua rata-rata.Berdasarkan uji perbedaandua rata-rata diperolehnilai Sig sebesar 7,209. Nilai ini lebih dari 0,01;maka diperoleh kesimpulan bahwakemampuan akhirkoneksimatematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah berbeda.Uji gain kelas eksperimen dengan kelas kontrol nilai Sig sebesar 0,769dan ini kurang dari 0,05.
Dengan deskripsi data tersebut, dapat dilihat bahwa ternyata terdapat perbedaan rata-rata indeks gain pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah dilakukan uji normalitas, didapat bahwa kemampuan akhir koneksi matematis siswakelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal, danuntuk kemampuan akhir koneksi matematis siswakelas eksperimen berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal. Karena salah satu sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal, maka disimpulkan bahwa kemampuan akhir koneksi matematis siswa berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal.
Langkah pengolahan data selanjutnya adalah menguji perbedaan dua rata-rata non parametrik. Berdasarkan uji kesamaan dua rata-rata diperoleh nilai Sig sebesar 0,00. Nilai ini kurang dari0,05; sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan koneksimatematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran CORE lebih baik daripada siswa yang mendapatkan model pembelajaran ekspositori. Hal ini berati penerapan model pembelajaran CORE akan mampu meningkatkan kemampuan berfikir tinggi, dapat menajdi solusi dari rendahnya kemampuan siswa dalam menerapkan konsep-konsep matematika ke dalam masalah-masalah yang berkitan (yang dikenal dengan istilah koneksi matematis) sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assesment dimana Indonesia menduduki peringkat 58 dari 65 negara partisipan (PISA, 2009). Penelitian ini menunjukkan bahwa 69% siswa Indonesia hanya mampu mengenali tema masalah, tetapi tidak mampu menemukan keterkaitan antara tema masalah dengan pengetahuan yangtelah dimiliki. Keterkaitan yang dimaksud di sini adalah koneksi antara tema masalah dengan segala pengetahuan yang ada.
Hasil pengolahan data angket, dan pedoman wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memberikan responsbaik terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran CORE.
Hasil penelitian ini selaras dengan yang diungkapkan oleh Wahyudin (2010) bahwa pembelajaran yang optimal, siswa akan mampu mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama, mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi lain yang ekuivalen, menggunakan dan menilai keterkitan antar topik matematika dan keterkaitan topik di luar matematika, dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari serta siswa akan memberikan respons baik terhadap pembelajaran matematika.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada seluruh tahapan penelitian yang dilakukan di kelas XI MAN2 Jember. dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan koneksimatematis siswa yang pembelajarannya dengan model pembelajaran CORE lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya dengan model pembelajaran ekspositori dan sebagian besar siswa menunjukkan respons yang baik terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran CORE.
Adapun saran bagi yang hendak menerapkan model pembelajaran COREantara lain: jika melaksanakan penelitian dalam jangka waktu yang agak lama, diusahakan untuk mengemas pembelajaran sedemikian sehingga siswa tidak merasa bosan, namun masih dalam koridor yang sejalan dengan model pembelajaran yang digunakan; jika menggunakan model ini dalam penelitian, sebaiknya peneliti selalu mengarahkan baik pertanyaan maupun jawaban siswa agar waktu yang digunakan saat diskusi kelas lebih efektif; siapkan rencana lain kemudian siapkan pula perlengkapan yang dibutuhkan dalam rencana pembelajaran yang dibuat. Jika merencanakan menggunakan infokus dalam menyajikan materi pengantar dalam proses pembelajaran, siapkan pula perlengakapan yang dibutuhkan jika mati listrik ataupun perlengkapan tidak dapat digunakan yaitu dengan menggunakan karton sebagai alat bantu visual dalam penyampaian materi pembelajaran; pembelajaran yang dilakukan pada bulan ramadhan dibutuhkan pengalokasian waktu yang lebih efektif, dikarenakan waktu untuk satu jam pembelajaran disediakan lebih sedikit dari waktu pembelajaran seperti biasanya (selain bulan ramadhan); untuk penelitian selanjutnya mengenai penggunaan model pembelajaran CORE dapat dilakukan pada materi, indikator, dan kompetensi matematis yang berbeda dengan subjek penelitian yang lebih luas.

DAFTAR RUJUKAN

Baharuddin. dan Wahyuni, E.N. (2010). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: ArRuzz Media.
Darhim. (2008). Pembuktian, Penalaran, dan Komunikasi Matematika.Bandung: Tidak diterbitkan.
Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Permendiknas tentang Pelaksanaan Standar Isi.Jakarta:
Depdiknas. [On line] Tersedia:http://palembang.bpk.go.id/web/files/2009/10/Lampiran-Permen-Dik-Nas-No.14-Thn.2007-Standar-Isi-untuk-Program-Paket-A-B-C.pdf. [12 April 2011].
Jacob, C. (2005). Pengembangan Model CORE dalam Pembelajaran Logika dengan Pendekatan Reciprocal Teaching bagi Siswa SMA Negeri 9 Bandung dan SMA Negeri 1 Lembang. Bandung: Laporan Piloting FPMIPA UPI. tidak diterbitkan.
Jacobsen, David A. dkk. (2009). Methods For Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Kusumah, Y.S. (2003). Desain dan Pengembangan Bahan Ajar Matematika Interaktif Berbasiskan Teknologi Komputer. Makalah dalam Seminar Nasional Pendidikan MIPA IMSTEP-JICA. Bandung: FPMIPA UPI.
Kusumah, Y.S. (2008). Konsep, Pengembangan, dan Implementasi Computer-Based Learning dalam Peningkatan Kemampuan High-Order Mathematical Thinking.Bandung: UPI Press.
Marlina, D. (2004). Pembelajaran Matematika Melalui Penyusunan Peta Konsep Untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematik Siswa SMA. Skripsi UPI Bandung: tidak diterbitkan.
NCTM. (1999). Standar Evaluation Standars 9-12.[On line]. Tersedia: http://www.sunysb.edu/pep/docs/NCTM Prof Stds Eval. Pdf. [12 April 2011].
PISA. (2009). Pisa Country Profiles.[On line]. Tersedia: //www.pisa.oecd.org. [12 April 2011].
Priyatno, D. (2009). 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta: Andi.
Rahman, R. (2010). Pengaruh Pembelajaran Berbantuan Geogebra terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif dan Self-concept Siswa.Tesis PPS UPI Bandung
Rose, C., dkk. Penerjemah: Dedi Ahimsa. (2009). Accelerated Learning forThe Century, Cara Belajar Cepat Abad XXI. Bandung: Nuansa.
Ruseffendi, E. T. (1998). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan Bidang Eksakta dan Non Eksakta Lainnya. Semarang: IKIP Semarang Press.
Ruseffendi, E. T. (1998). Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.
Ruseffendi, E.T. (2006). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.Bandung: Tarsito.
Ruspiani. (2000). Kemampuan Siswa dalam Melakukan Koneksi Matematika. Tesis UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Setiawan, A. (2008). Implementasi Model Pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUPs) Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa.Skripsi. UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Sudjana. (2005). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2011). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Suherman, E., dkk. (1990). Petunjuk Praktis untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Wijayakusumah 157.
Suherman, E., dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, Jica.
Wena, Made. (2011). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara