Selasa, 23 Mei 2017

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI PENGGUNAAN METODE PROYEK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI IPS 2 SMA NEGERI RAMBIPUJI

Mohammad Naim,  Kayan Swastika  dan Muhammad Khoirul Umam
E-mail: mohamadnaim66@yahoo.co.id


ABSTRACT: The aim of nation history material learning in curriculum 2013 is to build students' knowledge about it. Students' was motivated more active in learning process. Despite of this, the fact show that students follow the learning process passively.it caused of unvariative learning methode are used by teacher and the old material learning design, it bring out un significant effect to reach the students learning goal. To solve this problem, the one of ways is using project methode in learning process. The aim of this research is to improving the students' learning activity and students' learning result of IPS 2 eleven class student of SMA Negeri Rambipuji using project learning methode on national history subject. This research was start on january and finished on april 2015. this research object is IPS 2 eleven class students of SMA Negeri Rambipuji with total students' population are 31. the research collection data methode are observation, interview and also documentation. The research indikcators are students' learning activities and learning result. The result indicators of student's activity in cycle 1 is 1. 35,48%, 2. 45,16%, 3. 9,68%, and 4. 25,81%. cycle 2 is 1. 48,39%, 2. 54,84%, 3. 35,48%, and 4. 45,16%. cycle 3 is 1. 51,61%, 2. 58,06%, 3. 41,93%, and 4. 45,61%. Based on the classical students' learning result in cycle 1 show 51,61% and in the cycle grow up 19,35% with the last point is 80.64%, in the cycle 3 grow up 6,46% with the last point is 87,09%. based on the research result, we can get clear conclution that project learning methode give a significant effect to improve student's learning activity and learning result on IPS 2 eleven class students of SMA Negeri Rambipuji.

Kata kunci: Metode Proyek , aktivitas Belajar Peserta Didik, Hasil Belajar Sejarah

PENDAHULUAN
Pembelajaran sejarah dalam kurikulum 2013 diharapkan menjadi mata pelajaran yang dapat membentuk pengetahuan peserta didik. Peserta didik dituntut untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran. Pendidik hendaknya melaksanakan pembelajaran yang melibatkan peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran (Zulfahmi, 2013: 278). Aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran sangat dibutuhkan supaya tujuan yang ditetapkan dalam Kompetensi Dasar bisa tercapai. Terasahnya kemampuan peserta didik melalui aktivitas selama proses pembelajaran mampu menunjang tercapai hasil belajar. Hasil belajar peserta didik dapat diperoleh berdasarkan pengalaman aktivitas belajar selama proses pembelajaran. Maka diharapakan pendidik dapat mengimplementasikan pembelajaran sesuai  dengan tujuan kurikulum 2013. Kenyataan dilapangan pendidik lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan oleh pendidik masih menggunakan metode konvensional. Pendidik menyampaikan materi dengan metode ceramah, tanya jawab dan memberikan catatan untuk diingat oleh peserta didik. Cara belajar yang seperti ini sering kali kurang mengasah dan mengembangkan pengetahuan peserta didik. Sehingga  banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran tersebut. Pada saat diberikan materi pembelajaran sejarah peserta didik hanya mendengarkan, peserta didik terkadang mencatat  dan menyalin apa yang ada dibuku tanpa dianalisis terlebih dahulu. Salah satu faktor penyebabnya yaitu peserta didik tidak dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi masalah dalam proses pembelajaran diatas, dibutuhkan sebuah metode pembelajaran alternatif yaitu metode yang dapat digunakan sebagai cara untuk mengali kreativitas dan keterampilan peserta didik. Metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas peserta didik dan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik yaitu metode proyek.
Metode proyek adalah suatu metode mengajar dimana bahan pelajaran diorganisasikan sedemikian rupa sehingga merupakan suatu kesatuan bulat yang bermakna dan mengandung suatu pokok masalah (Ahmadi dan Prasetya dalam Subandi 2009:70). Metode proyek memiliki beberapa  karakteristik yaitu: 1. proses pembelajaran berpusat pada peserta didik; 2. bersifat kolaboratif; 3. mengandung gagasan orisinal; 4. bersifat kontekstual; dan 5. menghasilkan produk nyata. Metode proyek memberikan pengalaman kepada peserta didik secara langsung dalam mengkaji peristiwa sejarah. Selain itu metode proyek dapat memberikan aktivitas yang akan membantu peserta didik untuk lebith aktif dalam proses pembelajaran, serta dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik (Andriyani, 2014:6). Hal tersebut dapat dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan Mutikaningsih, et.al.,2009,  menunjukkan bahwa metode proyek dapat meningkatkan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran ekonomi. Penelitian yang selanjutnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Andriyani (2014) menunjukkan bahawa metode proyek dapat meningkatkan  hasil belajar peserta didik.

Permasalahan yang di bahas adalah:
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
·         Apakah penerapan metode proyek dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji pada mata pelajaran sejarah?
·         Apakah penerapan metode proyek dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji pada mata pelajaran sejarah?


Tujuan penelitian ini adalah:
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian sebagai berikut:
·         Untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji dengan menerapkan metode proyek pada mata pelajaran sejarah.
·         Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji dengan menerapkan metode proyek pada mata pelajaran sejarah..

Manfaat penelitian ini adalah:
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, maka manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1)Bagi pendidik, sebagai masukan dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi mata pembelajaran sejarah dan kebutuhan peserta didik; 2)Bagi peserta didik, diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar terhadap mata pelajaran sejarah dalam pembelajaran; 3)Bagi sekolah yang diteliti, memberikan masukan dalam upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di SMA Negeri Rambipuji khususnya dalam peningkatan pembelajaran sejarah.

METODE PENELITIAN
Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berkolaborasi dengan pendidik mata pelajaran sejarah kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji.  Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji dengan jumlah peserta didik sebanyak 31 peserta didik, 16 peserta didik laki-laki dan 15 peserta didik perempuan.  memerlukan perlakuan khusus dan berdasarkan nilai kurang dari KKM.
Rancangan penelitian tindakan kelas ini menggunakan model penelitian tindakan Hopkins yang berbentuk spiral dengan tahapan penelitian tindakan pada satu siklus meliputi: Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi, dan Refleksi. Penelitian diawali dengan merencanakan sesuatu yang akan dilakukan, kemudian melakukan tindakan, selama melakukan tindakan dilakukan juga observasi dalam rangka mengumpulkan data yang diinginkan, kemudian refleksi. Penelitian ini dilakukan tiga siklus, siklus 1, 2, dan 3.
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini meliputi: metode observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kuantitatif digunakan untuk menganalisis peningkatan hasil belajar peserta didik sudah sesuai dengan yang hendak dicapai atau belum. sedangkan analisis data kualitatif diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila pendidik dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji dengan menerapkan metode proyek. Aktivitas peserta didik diukur dari keaktifan peserta didik dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan, berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik, mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan, menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh. Hasil belajar yang diukur dalam penelitian ini adalah aspek kognitif. Ketuntasan hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil belajar peserta didik menggunakan standar ketuntasan belajar yang di tetapkan sekolah yang dinyatakan tuntas apabila memenuhi KKM yaitu 75.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Peningkatan Aktivitas Peserta Didik Kelas XI IPS 2 dengan  Menerapkan Metode Proyek
Hasil analisis persentase aktivitas pembelajaran peserta didik dalam belajar sejarah dengan menerapkan metode proyek dengan membandingkan persentase pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 yang disajikan dalam diagram dibawah ini:
Gambar 1. Peningkatan aktivitas pembelajaran peserta didik siklus   1,   2, dan 3 (Sumber:  Hasil analisis data siklus 1, 2, dan 3)
Berdasarkan gambar 1 dapat diketahui bahwa aktivitas pembelajaran peserta didik mengalami peningkatan dari siklus 1, 2 dan 3. Peningkatan indikator keaktifan peserta didik menjawab dan mengajukan pertanyaan dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 12,90% dan dari siklus 2 ke 3 mengalami peningkatan sebesar 3,23%. Rincian indikator peserta didik menjawab dan mengajukan pertanyaan pada siklus 1 sebanyak 11 peserta didik dapat menjawab pertanyaan dari pendidik dan mengajukan pertanyaan dan 20 peserta didik tidak dapat  menjawab pertanyaan dari pendidik dan mengajukan pertanyaan, sehingga memperoleh persentase 35,48% peserta didik yang aktif dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan; rincian pada siklus 2 adalah 15 peserta didik dapat menjawab pertanyaan dari pendidik dan mengajukan pertanyaan dan 16 peserta didik tidak dapat  menjawab pertanyaan dari pendidik dan mengajukan pertanyaan, sehingga memperoleh persentase 48,39% peserta didik yang aktif dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan; rincian pada siklus 3 adalah 16 peserta didik dapat menjawab pertanyaan dari pendidik dan mengajukan pertanyaan dan 15 peserta didik tidak dapat  menjawab pertanyaan dari pendidik dan mengajukan pertanyaan, sehingga memperoleh persentase 51,61% peserta didik yang aktif dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan.
Peningkatan indikator keaktifan peserta didik berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 9,68% dan dari siklus 2 ke 3 mengalami peningkatan sebesar 3,23%. Rincian indikator peserta didik berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik pada siklus 1 sebanyak 14 peserta didik dapat berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik dan 17 peserta didik tidak dapat berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik, sehingga memperoleh persentase 45,16% peserta didik yang dapat  berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik; rincian pada siklus 2  sebanyak 17 peserta didik dapat berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik dan 14 peserta didik tidak dapat berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik, sehingga memperoleh persentase 54,84% peserta didik yang dapat  berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik; rincian pada siklus 3 sebanyak 18 peserta didik dapat berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik dan 13 peserta didik tidak dapat berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik, sehingga memperoleh persentase 58,06% peserta didik yang dapat  berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik
Peningkatan indikator keaktifan peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan dari siklus 1 ke 2 mengalami peningkatan sebesar 25,81% dan dari siklus 2 ke 3 mengalami peningkatan sebesar 6,45%. Rincian indikator peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus 1 sebanyak 3 peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan dan 28 peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan, sehingga memperoleh persentase 9,68% peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan; rincian pada siklus 2 sebanyak 11 peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan dan 20 peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan, sehingga memperoleh persentase 35,48% peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan; rincian pada siklus 3 sebanyak 13 peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan dan 18 peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan, sehingga memperoleh persentase 41,93% peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan.
Peningkatan indikator keaktifan peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh dari siklus 1 ke 2 mengalami peningkatan sebesar 19,35% sedangkan dari siklus 2 ke 3 tidak mengalami peningkatan. Rincian indikator peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh pada siklus 1 sebanyak 8 peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh dan 23 peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh, sehingga memperoleh persentase 25,81% peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh; rincian pada siklus 2 sebanyak 14 peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh dan 17 peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh, sehingga memperoleh persentase 45,16% peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh; rincian pada siklus 3 sebanyak 14 peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh dan 17 peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh, sehingga memperoleh persentase 45,16% peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar yang diperoleh.
 Berdasarkan hasil observasi pada pelaksanaan siklus 1, 2, dan 3 dapat disimpulkan bahwa penerapan metode  proyek  dapat meningkatkan aktivitas peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji.
Aktivitas pembelajaran peserta didik kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji meningkat setelah dilakukan pembelajaran dengan metode proyek pada siklus 1, siklus 2 dan siklus 3. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mutikaningsih, et.al., (2009:97) menunjukkan bahwa penerapan metode proyek dapat meningkatkan aktivitas peserta didik.

B. Peningkatan Hasil Belajar  Peserta Didik Kelas XI IPS 2 dengan Penerapan Metode Proyek
Hasil belajar yang dianalisis dalam penelitian ini adalah pada aspek kognitif. Hasil analisis persentase hasil belajar aspek kognitif peserta didik dalam belajar sejarah dengan menggunakan metode proyek dengan membandingkan ketuntasan pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 yang disajikan dalam diagram dibawah ini:
Gambar 2. Peningkatan Hasil Belajar Aspek Kognitif (Sumber: Hasil analisis  siklus 1, siklus 2, dan siklus 3)
Berdasarkan gambar 2 dapat diketahui hasil analisis data hasil belajar peserta didik pada aspek kognitif terdapat peningkatan berdasarkan tes yang dilakukan pada siklus 1, 2, dan 3. Pelaksanaan siklus 1 dengan mengggunakan metode proyek pada aspek kognitif terdapat 19 peserta didik dalam kategori tuntas dan 12 peserta didik dalam kategori  belum tuntas sehingga pada aspek kognitif memperoleh persentase ketuntasan klasikal sebesar  61,29%. Pelaksanaan siklus 2 pada aspek kognitif terdapat 25 peserta didik dalam kategori tuntas dan 6 peserta didik dalam kategori  belum tuntas sehingga pada aspek kognitif memperoleh persentase ketuntasan klasikal sebesar 80,64%. Pelaksanaan siklus 3 pada aspek kognitif terdapat 27 peserta didik dalam kategori tuntas dan 4 peserta didik dalam kategori belum tuntas sehingga pada aspek kognitif memperoleh persentase ketuntasan klasikal sebesar  87,09%. Peningkatan ketuntasan hasil belajar peserta didik dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 19,35%, peningkatan siklus 2 ke siklus 3 sebesar 6,45%.
Hasil analisis persentase hasil belajar sejarah peserta didik dengan menggunakan metode proyek pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 disajikan dalam diagram dibawah ini:
Gambar 4. Persentase Hasil Belajar Peserta Didik Siklus 1, 2, dan  3 (Sumber: Hasil analisis data siklus 1, siklus 2 dan siklus 3)

Berdasarkan gambar 4 dapat diketahui bahwa hasil belajar sejarah peserta didik mengalami peningkatan dari siklus 1, siklus 2 dan siklus 3. Pada pra siklus hasil belajar aspek kognitif peserta didik memperoleh ketuntasan klasikal sebesar 51,61%. Pada siklus 1 hasil belajar peserta didik pada aspek kognitif memperoleh ketuntasan klasikal 61,29% sehingga terjadi peningkatan dari pra siklus ke siklus 1 sebesar 9,68%. Pada siklus 2 meningkat 19,35% dengan persentase 80,64%. Pada siklus 3  meningkat 6,45% dengan  memperoleh  persentase 87,09% .

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Upaya Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Peserta Didik Melalui Penggunaan Metode Proyek Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji Tahun Ajaran 2014/2015, sebagai berikut:
·         Penerapan metode proyek pada peserta didik kelas XI IPS 2 pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri rambipuji menunjukkan hasil dapat meningkatkan aktivitas peserta didik ditunjukkan dari (1) kekatifan peserta didik dalam menjawab dan mengajukan pendapat pada siklus 1 memperoleh presentase 35,48% meningkat 32,6% dari pra siklus, pada siklus II 48,39% meningkat 12,90% dari siklus I, pada siklus III 51,61% meningkat 3,23% dari siklus II; (2) keaktifan peserta didik berinteraksi dengan peserta didik lain maupun dengan pendidik pada siklus I memperoleh presentase 45,16% meningkat 41,94% dari pra siklus, pada siklus II 54,84% meningkat 9,68% dari siklus I, pada siklus III 58,06% meningkat 3,23% dari siklus II; (3) keaktifan peserta didik dalam mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I memperoleh presentase 9,68% meningkat 9,68% dari pra siklus, pada siklus II 35,48% meningkat 25,81% dari siklus I, pada siklus III 41,93% meningkat 6,45% dari siklus II; dan (4) keaktifan peserta didik dalam menyusun laporan hasil diskusi baik secara tertulis maupun lisan berkenaan dengan hasil belajar pada siklus I memperoleh hasil 25,81% meningkat 25,81% dari pra siklus, pada siklus II 45,16% meningkat 19,35% dari siklus I, pada siklus III 45,16%.
·         Penerapan metode proyek dapat meningkatkan hasil belajar pada peserta didik kelas XI IPS 2 pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri Rambipuji yaitu pada siklus I  61,29% meningkat 9,68% dari hasil belajar kogitif pra siklus 51,61%. Pada siklus II 80,64% meningkat 19,35% dari hasil belajar kogitif siklus I. Pada siklus III 87,09% meningkat 6,45% dari hasil belajar kogitif siklus II. Setelah melakukan penelitian per siklus serta melihat peningkatan ketuntasan hasil belajar ranah kognitif maka peningkatan ketuntasan hasil belajar melalui penerapan metode proyek dapat tercapai. 
Berdasarkan hasil penelitian tentang upaya peningkatan aktivitas dan hasil belajar peserta didik melalui penggunaan metode proyek pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS 2 SMA Negeri Rambipuji Tahun Ajaran 2014/2015, maka peneliti memberikan saran dan masukan pada Bagi pendidik, Hendaknya menerapkan metode proyek dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik dapat lebih aktif dalam pembelajaran baik bertanya, menjawab, berpendapat, menilai dan menyimpulkan. Aktivitas peserta didik dapat meningkat secara optimal dan menyebabkan peningkatan hasil belajar pula. Bagi peserta didik, Peserta didik yang aktivitas dan hasil belajarnya masih rendah hendaknya harus lebih aktif dan termotivasi agar aktivitas dan hasil belajarnya lebih meningkat. Bagi sekolah yang diteliti, Hasil penelitian ini merupakan sebuah masukan yang berguna dan ilmu pengetahuan baru yang dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran, mutu lembaga dan mutu pendidikan. Bagi peneliti lain, Peneliti hendaknya dapat  lebih  mengembangkan  penelitian pembelajaran   melalui   penerapan   metode proyek pada mata pelajaran sejarah atau mata pelajaran yang lain dalam ruang lingkup yang lebih luas. .

DAFTAR RUJUKAN
Andriyani, E, 2014. Penerapan Metode Proyek Sebagai Upaya Meningkatkan hasil Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran Sejarah.. Bandung: Repository.upi.edu

Mutikaningsih, E. 2009. Penerapan Metode Proyek Untuk Meningkatkan Pemahaman dan Keterampilan Siswa Pada Mata Pelajaran Akuntansi Pokok Bahasan Jurnal Khusus. Jember: Skripsi Tidak Diterbitkan.
Arikunto, Suhardjono, & Supardi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Nurhayati. 2006. Penerapan Metode Proyek Dalam Pembelajaran Fisika Pada Siswa Kelas XI Semester Genap SMAN 1 Arjasa Tahun Ajaran 2005/2006. Jember: Skripsi Tidak Diterbitkan.
HB, Zulfahmi. 2013. Indikator Pembelajaran Aktif Dalam Konteks Pengimplemetasian Pendekatan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (PAKEM). (Diunduh 18 Maret 2016)
            Djamarah, Saiful B. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Kemendikbud. 2014. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014 Mata Pelajaran Sejarah  SMA/SMK. Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.
Subandi. 2009. Pembelajaran Dengan Metode Proyek. (On line). http://general65.blogspot.co.id/2009/03/pembelajaran-dengan-metode-proyek_18.html?m=1 diakses tanggal 7 Januari 2016. Pukul 06.00
Kochhar, S.K. 2008. Pembelajarah Sejarah (Teaching Of History). Jakarta: PT Grasindo.
Soewarso. 2000. Cara-cara Penyampaian Pendidikan Sejarah untuk membangkitkan Minat Peserta Didik Mempelajari Sejarah Bangsanya. Jakarta: Proyek Pembangunan Guru Sekolah Menengah Depdiknas.
Juono, R. P. 2013. Metode Pembelajaran. [serial online] http://juonorp.blogspot.com/2013/05/metode-pembelajaran.html?m=1 [30 Mei 2014]

Subakti, Y.R.2010. Paradigma Pembelajaran Sejarah Berbasis Konstruktivisme. (online). http://usd.ac.id/lembaga/lppm/f1l3/Jurnal%20Historia%20Vitae/vol24no1april2010/PARADIGMA%20PEMBELAJARAN%20SEJARAH%20YR%20Subakti.pdf (diakses pada 24 September 2014).