Selasa, 23 Mei 2017

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI AJAR “CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN MAKHLUK TAK HIDUP” MELALUI PENERAPAN METODE DISKUSI INTERAKTIF DAN KERJA KELOMPOK SISWA KELAS III SD NEGERI PETUNG 02

Sri Hartami 

Abstrak: Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah untuk  meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” Melalui Penerapan Metode Diskusi Interaktif Dan Kerja Kelompok Siswa Kelas III SD Negeri Petung 02. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan hasil belajar. Pada kondisi awal ini nilai < 65 masih  12 siswa atau  46% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya 14 siswa atau hanya 54%. Pada siklus I mengalami peningkatan, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau 23% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 meningkat menjadi 20 siswa atau sebesar 77%. Pada siklus II, diperoleh data dari 26 siswa, yang mendapat nilai <65 hanya 2 siswa atau sebesar 8% dan yang mendapat nilai 65-100 meningkat  24 siswa atau  92%, berarti sudah mencapai ketuntasan.

     Kata Kunci:  Metode Diskusi Interaktif, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar telah dirumuskan dalam kurikulum .Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mergkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Ilmu Pengetahuan Alam  di SD merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setup satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam selama ini masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit karena materinya harus banyak yang dihafal. Sehingga menjadikan siswa tidak tertarik dan malas mempelajarinya. Hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam khusus nya di kelas III SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Pada materi ajar “ Ciri-ciri makhluk hidup dan makhluk tak hidup” juga masih rendah, yaitu dari 26 siswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya 14 siswa atau hanya sebesar 54%, sedangkan sisanya yaitu sebanyak 12 siswa atau sebesar 46% masih belum mencapai ketuntasan belajar.
 Peneliti yang juga sebagai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di kelas tersebut memandang perlu dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan metode pembelajaran yang dapat mengkondisikan siswa dapat tertarik dan aktif produktif yaitu Metode Diskusi Interaktif Dan Kerja Kelompok. Peneliti sangat tertarik untuk mengacu pada strategi pembelajaran yang berorientasi pada pandangan konstruktivistik. Karena pembelajaran yang berorientasi pada pandangan konstruktivistik menekankan pada bagaimana membelajarkan siswa.
Dalam proses belajar mengajar juga perlu digunakan metode diskusi interaktif dalam rangka menciptakan suatu intaraksi antara guru dengan siswa.
Pada mata pelajaran apapun penerapan metode diskusi juga penting untuk memecahkan suatu permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran sehingga diharapkan siswa dapat mengerti tentang materi pelajaran yang sedang dibahas.Diskusi merupakan suatu cara belajar mengajar dimana murid-murid akan mendapatkan kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama sehingga dengan hal ini ada beberapa pendapat mengenai pengertian dari metode diskusi antara lain : menurut pendapat I. Jumhur menyebutkan bahwa diskusi merupakan suatu cara dimana murid mendapat kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama, setiap murid mendapatkan kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan suatu masalah. Dalam diskusi ini tertanam pula rasa bertanggung jawab dan percaya diri ( 1973 : 107 ).
Sedangkan menurut Conny Semiawan dkk, dikatakan bahwa diskusi dapat dilakukan antara guru dan seluruh kelas, antara guru dengan sekelompok siswa. Siswa dengan siswa dalam kelompok dan antara siswa dengan siswa dalam kelas. Dengan demikian yang menjadi pemimpin diskusi tidak hanya guru tetapi lebih baik jika guru membimbing siswa agar mampu memimpin diskusi. Adapun keuntungan kegiatan belajar mengajar dengan tehnik diskusi antara lain adalah sebagai berikut: 1)Mempertinggi peran siswa secara perorangan; 2)Mempertinggi peran kelas secara keseluruhan; 3)Memupuk sikap saling menghargai pendapat orang lain (1989 ; 76-77)
Berbeda dengan pandangan behavioristik, pandangan kontruktivistik tidak lagi menempatkan guru sebagai pemberi ilmu namun lebih sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan kata lain siswa sendirilah yang harus membangun pengetahuan mereka (Hudojo, 1998-5-6). Teori belajar ini pertama kali dikemukakan oleh Piaget yang didasarkan pada hasil penelitiannya yang intinya bahwa manusia / siswa mengkonstruksi pengetahuan dan pemahamannya sendiri sesuai dengan skemata yang dimilikinya sebagai implikasi dari interaksi dengan orang lain dan lingkungannya (Hudoyo, 1998:8-9 & Setyosari, 1997: 51 – 52).

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :  Apakah Ada Upaya Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” Melalui Penerapan Metode Diskusi Interaktif Dan Kerja Kelompok Siswa Kelas III SD Negeri Petung 02?

Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dari rumusan masalah penelitian, maka tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah sebagai berikut untuk mengkaji tentang : Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” Melalui Penerapan Metode Diskusi Interaktif Dan Kerja Kelompok Siswa Kelas III SD Negeri Petung 02.


Manfaat Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk kepentingan teoritis maupun untuk kepentingan praktis, yaitu :
a)      Kepentingan teoritis Penelitian diharapkan dapat menambah dan memperkuat teori yang sudah ada atau bahkan membangun teori baru dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam,
b)      Kepentingan praktis Hasil penelitian ini diharapkan menjadi model, pembelajaran alternatif dalam rangka membelajarkan siswa,
c)      Dapat meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran pada definisi yang akan digunakan dalam penelitian ini, maka penting untuk menentukan definisi operasional.Adapun hal yang perlu didefiniskan secara operasional, yaitu :
a)      Diskusi Intreaktif adalah cara belajar mengajar dimana murid akan mendapat, kesempatan yang sama untuk memecahkan masalah secara bersama­-sama, baik dengan sesama murid maupun bersama dengan guru
b)      Metode Kerja kelompok adalah suatu strategi belajar mengajar yang memilki kadar tersendiri dalam memperoleh kekompakan pada siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar
c)      Hasil belajar  adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah melakukan proses pembelajaran, yang menjadi penilaian dalam penelitian ini berupa aspek kognitif yaitu kemampuan berfikir secara hierarkis terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sistesis dan evaluasi.
d)     Ketuntasan hasil belajar adalah penguasaan penuh dari peserta didik terhadap bahan yang telah diajarkan. Untuk mengetahui sampai sejauh mana proses belajar mengajar mencapai ketuntasan hasil belajar maka perlu dilakukan tes hasil belajar (Arikunto, 2002: 228).

METODE PENELITIAN

Tempat  dan Subyek Penelitian
            Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan  di Kelas III SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Yang menjadi subyek  Penelitian Tindakan Kelas ini adalah seluruh siswa Kelas III SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember berjumlah sebanyak 26 siswa.

Metode Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian merupakan tempat atau lokasi obyek penelitian dilakukan (Hadi, 1994:67). Penentuan daerah penelitian ini ditetapkan berdasarkan metode purpose sampling area, artinya daerah penelitian sudah ditentukan dengan sengaja dan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu (Sudjana, 1999:96). Adapun alasan pemilihan daerah penelitian sebagai berikut : kelas ini memiliki prestasi belajar yang cukup rendah dilihat dari hasil ulangan harian .

Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang artinya suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alas menemukan keterangan mengenai apa yang diinginkan kita ketahui (Margono, 2000:105).
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penyelidikan atau kajian secara sistematis terencana yang dilakukan oleh peneliti (dalam hal ini guru) untuk memperbaiki pelajaran dengan jalan mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan (Sunardi, 1998:3). Mengingat penelitian ini berusaha mengkaji efektifitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup”, maka tekanan dalam penelitian ini adalah pada proses dan hasil pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup”. Oleh karena itu variabel-variabel yang perlu dikaji dalam penelitian ini adalah:
1)      Faktor siswa, dapat diamati melalui aktifitas siswa dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  materi ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup,
2)      Faktor guru, melalui kemampuan dan ketrampilan guru dalam proses pembelajaran
3)      Proses pembelajaran, meliputi aktivitas guru, siswa dan interaksi aktif berbagai kegiatan pembelajaran ,
4)   Hasil pembelajaran.
Penelitian ini menggunakan model skema spiral  Penelitian Tindakan Hopkins, yaitu model yang menggunakan prsedur kerja yang dipandang sebagai suatu siklus spiral yang terdiri dari empat fase (PGSM, 1999:8). Keempat fase tersebut meliputi perencanaan, tindakan, observasi, refleksi seperti yang tertera dalam gambar berikut :

Prosedur Penelitian
Penelitian ini direncanakan menggunakan dua siklus yang masing-masing siklus mencakup empat fase. Jika siklus pertama hasil belajar sudah mencapai ketuntasan klasikal, maka pelaksanaan siklus dihentikan. Jika hasil yang dicapai masih belum seperti yang diinginkan, maka dilanjutkan pada siklus yang kedua dan jika siklus yang kedua hasil yang dicapai masih belum seperti yang diinginkan, maka dilanjutkan pada siklus yang ketiga dan selanjutnya.
Ketuntasan yang dimaksud berdasarkan ketuntasan belajar , minimal untuk standar kompeteasi dimana ketuntasan hasil belajar individu mencapai 65%, sedang untuk tingkat klasikal mencapai 85% (Depdiknas, 2004).

Tindakan Pendahuluan
Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan, dalam penelitian ini perlu diadakan tindakan pendahuluan sebagai langkah awal sebelum pelaksanaan siklus. Tindakan pendahuluan dalam penelitian ini meliputi kegiatan:
1)      Observasi ketika pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” berlangsung untuk mengetahui cara belajar siswa.
2)      Wawancara (interview) dengan siswa kelas III untuk mengetahui gambaran kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup”  
3)      Tindakan pendahuluan yang meliputi kegiatan tersebut dilaksanakan sebelum pelaksanaan siklus dan juga menentukan kelompok siswa.
3.5.2 Pelaksanaan siklus
1. Perencanaan.
Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam merencanakan tindakan, yaitu:
a.       Peneliti menetapkan alternatif peningkatan efektivitas pembelajaran.
b.      Menyusun satuan pembelajaran dan rencana pembelajaran.
c.       Menyiapkan topik bahasan berupa, lembar permasalahan atau tugas kelompok yang berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
d.      Membentuk daftar kelompok
e.       Menyiapkan perangkat evaluasi.
2.      Tindakan
Pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada tahap ini siswa membentuk kelompok yang nantinya mempresentasikan hasil diskusinya. Setelah pembelajaran selesai maka dilakukan tes untuk mengetahui kemampuan siswa. pada, tahap ini juga akan dilakukan wawancara kepada, siswa untuk mengetahui kesulitan siswa dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran metode Diskusi Interaktif Dan Kerja Kelompok yang diterapkan.
3.      Observasi
Observasi dilaksanakan secara langsurg, yaitu bersama-sama dengan pelaksanaan tindakan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan untuk memperoleh gambaran aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran dikelas sehingga diketahui kekurangan atau kelemahan apa yang muncul pada saat pelaksanaan tindakan.
4.      Refleksi
Tahap ini merupakan tahap untuk memperoleh data atau masukan dari hasil yang telah dilaksanakan. Data ini kemudian kriteria dianalisis sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam analisis data. Dari hasil proses diskusi siswa, akan diketahui ketuntasan hasil belajar siswa, data tersebut digunakan sebagai masukan bagi langkah dan tindakan selanjutnya. Jika secara individual ketuntasan belajar siswa mencapai 65%, dan secara klasikal ketuntasan belajar siswa mencapai 85% atau lebih, maka siklus kedua tidak dilakukan. Apabila belum mencapai ketuntasan, maka dilakukan siklus yang kedua. Dengan demikian guru akan dapat mengetahui keefektivan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengurnpulkan data penelitiannya (Arikunto, 2002:136). Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan dan akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, tes, dokumentasi.
Metode Observas  adalah salah satu pengamatan yang dilakukan terhadap suatu obyek dengan aturan-aturan tertentu. Metode observasi adalah metode dengan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh panca indera (Arikunto, 2002:133). Dalam penelitian ini observasi yang dipakai adalah observasi langsung artinya observasi bersama-sama dengan obyek yang sedang diamati atau diselidiki.
Observasi pada penelitian ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas siswa selama proses pembelajaran melalui metode Diskusi interaktif Dan Kerja Kelompok.
Metode wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewee) (Arikunto, 2002:132). Dalam penelitian ini jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara bebas terpimpin, karna pewawancara membawa pedoman yang hanya berupa garis besarya saja, sedangkan pengembangan dilakukan pada saat wawancara berlangsung. Wawancara akan dilakukan kepada sebagian siswa kelas III baik yang tuntas maupun yang tidak tuntas pembelajarannya karena untuk mengetahui kesulitan dalam mengikuti metode Diskusi interaktif Dan Kerja Kelompok .
Metode Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alas lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelempok (Arikunto, 2002:127).
Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes tertulis yang terdiri dari tes, essay dan tes obyektif yang disesuaikan dengan kurikulum, silabus serta konsultasi dengan guru bidang studi.
Metode Dokumentasi berasal dari asal kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis (Arikunto, 2002:135): Di dalam melaksanakan metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti daftar hadir siswa, daftar nilai, dokumen sekolah. Data-data tersebut digunakan untuk penelitian metode Diskusi interaktif Dan Kerja Kelompok

 Analisis Data
Analisis data merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif.
Analisis data kualitatif dalam penelitian ini adalah analisis data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi. Sedangkan analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar apakah sesuai dengan yang hendak dicapai (efektif) atau tidak.
Dimana persentase ketuntasan belajar siswa dirumuskan dengan:
  1. Ketuntasan Secara Individual
P = n x 100%
                 N
Keterangan:
P           = Persentase ketuntasan hasil belajar siswa
n           = Skor yang diperoleh siswa
N          = Skor maksimum dalam tes
2.    Ketuntasan secara Klasikal
          Rumus Persentase Ketuntasan  =  Jumlah Siswa Tuntas  x100%
                                                                      Jumlah Seluruh Siswa
(Depdikbud, 1994:22)
Data yang dipresentasikan kemudian ditafsirkan menggunakan kalimat yang bersifat kualitatif untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian dari masing­-masing data yang diperoleh, adapun target pencapaian tujuan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Hasil wawancara dengan siswa di dapatkan bahwa belajar dengan penerapan metode diskusi interaktif dan kerja kelompok dapat membuat siswa semangat dalam belajar, serta senang tanpa ada unsur keterpaksaan selain itu materi yang disampaikan jadi lebih mudah diingat dan sangat menarik sehingga dapat menghilangkan kebosanan dalam belajar. Metode ini juga mendorong siswa lebih aktif dalam belajar. Berkaitan dengan hasil belajar akan dijelaskan lebih lanjut.Pada pertemuan pertama dan ke dua pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Hasil dari test dari dua kali pertemuan ini, dijadikan sebagai dasar pijakan awal untuk mengetahui perkembangan proses belajar mengajar Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” pada kondisi awal ini dapat diketahui secara klasikal dikatakan tidak tuntas karena dari 26 siswa yang mendapat nilai < 65 masih sebanyak 12 siswa atau masih sebesar 46% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 14 siswa atau hanya sebesar 54%.
            Untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam mencapai ketuntasan yag diharapkan dilakukan pembelaran dengan menerapkan metode diskusi interaktif dan kerja kelompok pada siklus I. Dan selanjutnya diadakan analisa data melalui evaluasi yang hasilnya adalah yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 23% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 meningkat menjadi sebanyak 20 siswa atau sebesar 77%. Ketuntasan hasil belajar pada siklus I, lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini,

Tabel 1.  Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri-Ciri  Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” Siswa Kelas  I  SDN Petung 02  pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
6
23%
65 – 100
20
77%
Jumlah
26
100%
Sumber : data yang diolah
            Meskipun dengan penerapan metode diskusi interaktif dan kerja kelompok pada siklus I sudah terjadi peningkatan hasil belajar, namun secara klasikal masih belum mencapai ketuntasan seperti yang diharapkan. Untuk itu masih perlu dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklsus II.
            Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II pada dasarnya hanya sebagai pengulangan dan penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Pada siklus ini, peneliti tidak merubah anggota kelompok yang sudah dibentuk pada siklus I, supaya siswa lebih terbiasa bekerjasama dengan teman kelompoknya.
            Hasil analisa data melalui evaluasi yang dilaksanakan pada siklus I, dapat dilihat pada tabel dibawah ini,


Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” Siswa Kelas I SDN Petung 02 pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
2
8%
65 – 100
24
92%
Jumlah
26
100%
Sumber : data yang diolah
            Tabel 2 diatas menjelaskan bahwa dari 26 siswa, yang mendapat nilai <65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan yang mendapat nilai 65-100 meningkat menjadi sebanyak 24 siswa atau menjadi 92%. Dengan demikian penelitian dihentikan pada siklus II, karena ketuntasan belajar pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal.
Selanjutnya untuk  melihat lebih jelas perbandingan ketuntasan hasil belajar yang diperoleh pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II dapat disajikan pada tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” Siswa Kelas I SDN Petung 02 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan siklus II
Kriteria
Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
12
46%
6
23%
2
8%
65 – 100
14
54%
20
77%
24
92%
Jumlah
26
100%
26
100%
26
100%
Sumber : Data yang diolah

Tabel 3 diatas, juga dapat dijelaskan melalui garik 1 sebagai berikut

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” Siswa Kelas I SDN Petung 02 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan siklus II
 










Sumber : Data Penelitian yang diolah

 Pembahasan
Peningkatan hasil  belajar pada penelitian ini, menunjukkan bahwa metode diskusi interaktif dan kerja kelompok dapat  membuat siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan, dalam hal ini pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “ Ciri-ciri makhluk hidup dan makhluk tak hidup”.          
Diskusi merupakan suatu cara belajar mengajar dimana murid-murid akan mendapatkan kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama sehingga dengan hal ini ada beberapa pendapat mengenai pengertian dari metode diskusi antara lain : menurut pendapat I. Jumhur menyebutkan bahwa diskusi merupakan suatu cara dimana murid mendapat kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama, setiap murid mendapatkan kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan suatu masalah.
Sedangkan dalam pelaksanaannya, kelas dibagi menjadi kelompok­-kelompok secara random atau berdasarkan pengaturan tertentu misalnya dengan menyebarkan peserta kelompok yang kurang mampu dengan yang mampu, cepat membuat ribut atau teralihkan perhatiannya dari tugasnya.
Sebelum pembelajaran dengan penerapan metode interakti dan kerja kelompok, terlebih dahulu dilaksanakan analisa data pada pembelajaran dengan metode ceramah seperti yang selama ini diterapkan.  Pada kondisi awal ini diperoleh data,  secara klasikal dikatakan tidak tuntas karena dari 26 siswa yang mendapat nilai < 65 masih sebanyak 12 siswa atau masih sebesar 46% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 14 siswa atau hanya sebesar 54%.
Selanjutnya dilaksanakan perbaikan pembelajaran dengan mnerapkan metode interaktif dan kerja kelompok pada siklus I. Dalam kegiatan pembelajaran siklus I, terlihat penerapan metode interaktif dan kerja kelompok mulai berjalan dengan baik. Hal ini terbukti, hasil belajar pada siklus I mengalami peningkatan, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 23% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 meningkat menjadi sebanyak 20 siswa atau sebesar 77%. Namun meskipun dengan penerapan metode diskusi interaktif dan kerja kelompok pada siklus I sudah terjadi peningkatan hasil belajar, namun secara klasikal masih belum mencapai ketuntasan seperti yang diharapkan. Untuk itu masih perlu dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklsus II.
            Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II pada dasarnya hanya sebagai pengulangan dan penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Pada siklus ini, peneliti tidak merubah anggota kelompok yang sudah dibentuk pada siklus I, supaya siswa lebih terbiasa bekerjasama dengan teman kelompoknya.
Pada siklus II, diperoleh data dari 26 siswa, yang mendapat nilai <65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan yang mendapat nilai 65-100 meningkat menjadi sebanyak 24 siswa atau menjadi 92%. Dengan demikian penelitian dihentikan pada siklus II, karena ketuntasan belajar pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal. Hasil belajar siswa meningkat dikarenakan mereka lebih menyukai pembelajaran dengan model ini dari pada biasanya, yang diketahui dari wawancara siswa.
            Dari cuplikan wawancara dengan beberapa dapat disimpulkan bahwa belajar Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “ Ciri-ciri makhluk hidup dan makhluk tak hidup” melalui penerapan metode diskusi interaktif dan kerja kelompok dapat membuat pelajaran lebih menarik. Hal ini dikarenakan, penataan kondisi belajar yang menarik dapat membuat siswa
merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar. Pembelajaran tidakmonoton, dan siswa lebih mudah dalam memahami materi bahan ajar, karena materi yang didapat selain menggunakan peta konsep yang dituntun oleh guru, mereka juga mendapatkan materi secara langsung yaitu pengerjaan tugas lembar kerja siswa (LKS) dan diskusi.
 Keseluruhan analisis dari data-data yang diperoleh mengarah pada kesimpulan bahwa, penerapan metode diskusi dan kerja kelompok bisa digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan analisis data yang dilaksanakan pada penelitian tindakan kelas, terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar pada setiap siklus, sehingga dapat kami simpulkan bahwa Ada Upaya Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Ciri-Ciri Makhluk Hidup Dan Makhluk Tak Hidup” Melalui Penerapan Metode Diskusi Interaktif Dan Kerja Kelompok Siswa Kelas III SD Negeri Petung 02Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan hasil belajar. Pada kondisi awal ini diperoleh data,  secara klasikal dikatakan tidak tuntas karena dari 26 siswa yang mendapat nilai < 65 masih sebanyak 12 siswa atau masih sebesar 46% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 14 siswa atau hanya sebesar 54%. Pada siklus I mengalami peningkatan, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 23% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 meningkat menjadi sebanyak 20 siswa atau sebesar 77%. Pada siklus II, diperoleh data dari 26 siswa, yang mendapat nilai <65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan yang mendapat nilai 65-100 meningkat menjadi sebanyak 24 siswa atau menjadi 92%, sudah mencapai ketuntasan.

Saran-saran
Adapun saran-saran yang dapat peneliti sampaikan adalah sebagai berikut : 1)Untuk pengajar hendaknya menerapkan Metode Diskusi Interaktif Dan Kerja Kelompok untuk meningkatkan hasil belajar, juga dapat diterapkan pada kompetensi yang lain jika materinya memiliki karakteristik yang sama; 2)Bagi lembaga sekolah dapat memacu siswa membiasakan diskusi dan kerja kelompok dengan tujuan mendapatkan hasil belajar yang maksimal dan optimal berdasarkan proses belajar mengajar guru

DAFTAR  RUJUKAN                          
Arikunto, S. 2002. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Dimyati & Mulyono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 1999. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya.
Nurkancana & Sunartama. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Rachman, Saiful. Dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah Bahan Pelatihan Pengembangan Profesi Fungsional Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas TK, SMP/MTS, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK. Surabaya: SIC bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur.
Sanjaya, Wina. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada Media Group.
Saripudin, U. 1996. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi, D. K. 1995. Proses Bimbingan dan  Penyuluhan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukidin. 2002. Menejemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insan Cendekia.
Suryosubroto. 1990. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Syafriani, D. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Tim Pelatihan Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta.
Wardhani, I. Dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.