Selasa, 23 Mei 2017

UPAYA  MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK  MELALUI PENERAPAN  MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY, INTELLECTUALLY, REPETITION  BERBANTUAN MEDIA VIDEO

Sri Handayani,  Nurul  Umamah,   Reny Putri Aditiya

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah  kelas X IPS. Rancangan Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas belajar peserta didik secara klasikal pada siklus 1 66,35%, siklus 2 meningkat 13,63% menjadi 75,40%, siklus 2 meningkat 5,19% menjadi 79,32%. Hasil belajar kognitif siklus 1 75,67%, siklus 2 meningkat 7,14% menjadi 81,08%, siklus 3 meningkat 6,66% menjadi 86,48%. Hasil belajar afektif siklus 1 64,45%, siklus 2 meningkat 10,90% menjadi 71,48%, siklus 3 meningkat 12,29% menjadi 80,27%. %. Hasil belajar psikomotor siklus 1 57,93%, siklus 2 meningkat 18,67% menjadi 68,75%, siklus 3 meningkat 12,02% menjadi 77,02%. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition berbantuan  media video dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah ..

     Kata kunci: Model Pembelajaran Auditory, Inttelectually, Repetition, Video, Aktivitas
                          Dan  Hasil Belajar

Abstract:  This research aimd to improve class X IPS 2 students’ activity and learning outcomes in History at SMAN Kunir. This research was conducted in May 2016. This research is Classroom Action Research. The results of this research showed that learning activities of students classically in cycle 1 was 66.35% then in cycle 2 increased 13.63% to 75.40% while in cycle 3 increased 5.19% to 79.32%.  The cognitive learning outcomes in cycle 1 was 75,67% then in cycle 2 increased 7,14% to 81,08% while in cycle 3 increased 6,66% to 86,48%. The affective learning outcomes in cycle 1 was 64.45% then in cycle 2 increased 10.90% to 71.48% while in cycle 3 increased 12.29% to 80.27%. The psychomotor learning outcomes in cycle 1 was 57,93% then in cycle 2 increased 18,67% to 68,75% while in cycle 3 increased 12,02% to 77,02%. Based on the explanation above, it can be concluded that the application of Auditory, Intellectually, Repetition  learning model through video can improve class X IPS 2 students’ activity and learning outcomes in History.
      Keyswords: Model Of Learning Auditory, Intellectually, Repetition , Videos, Activities,  
                           Learning Outcomes

PENDAHULUAN
Pengembangan  kepribadian generasi muda, dikembangkan melalui kemampuan berpikir kronologis, sikap toleran.  Merupakan suatu kenyataan yang harus diakui bahwa proses pengembangan kemampuan berpikir kronologis yang merupakan kemampuan berpikir dasar dalam sejarah maupun sikap toleransi yang dikembangkan baru sebagai nurturant effect dan bukan sebagai suatu instructional effect. Proses pengajaran sejarah yang terjadi tidak memberi kesempatan bagi guru untuk merancang pengembangan kualitas kesejarahan ini dalam suatu proses pendidikan yang adekuat (Hasan, 1999: 10). Tujuan pembelajaran  sejarah yang ada harus diperkuat dan disesuaikan dengan tuntutan dan tantangan kehidupan yang dihadapi sekarang dan masa mendatang pendidikan sejarah harus mengembangkan tujuan pendidikannya lebih dari yang ada sekarang. Pendidikan sejarah harus; memaksimumkan kemampuannya dan mengambil peran yang lebih banyak dalam mempersiapkan anak didik memasuki kehidupan masa mendatang yang penuh kejutan berdasarkan kekuatan yang dimiliki peristiwa sejarah (Hasan, 1997:7).
            Karena itu metode atau pendekatan yang digunakan guru dalam proses pembelajaran, selayaknya tidak mengacu hanya pada satu metode atau pendekatan tertentu saja, apa lagi dengan menggunakan ceramah monoton yang kering pada sepanjang semester atau bahkan sepanjang tahun ajaran, tanpa diselingi dengan metode atau pendekatan yang lain, pPendidikan sejarah memiliki posisi yang strategis dalam pendidikan di Indonesia. Sebagai mata pelajaran, sejarah diajarakan disemua jenjang pendidikan. Pendidikan sejarah memiliki potensi besar dalam mengembangkan pendidikan karakter pada diri peserta didik, meningkatkan integritas dan kepribadian bangsa. Peserta didik dapat mengambil nilai-nilai positif dari pembelajaran sejarah. Melalui pembelajaran sejarah peserta didik akan mampu mengembangkan potensinya untuk mengenal nilai-nilai bangsa yang diperjuangkan pada masa lalu, dipertahankan dan disesuaikan untuk kehidupan masa kini, dan dikembangkan lebih lanjut untuk kehidupan masa depan (Hasan, 2012:87). Namun realita di lapangan peserta didik sering menganggap bahwa pelajaran sejarah adalah pelajaran yang kurang menarik dan kurang memberikan nilai-nilai yang dianggap penting oleh peserta didik. Masih rendahnya pemahaman tentang guna/manfaat belajar sejarah, arti penting sejarah, menyebabkan peserta didik kurang antusias dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran sejarah.
Pembelajaran sejarah di sekolah memiliki kesan pembelajaran yang kurang menarik dan membosankan. Materi yang disampaikan berkaitan dengan fakta-fakta di masa lalu. Ada suatu kecendrungan dalam pembelajaran sejarah di lapangan bahwa mengajarkan fakta-fakta di masa lalu sangat kering, materi sejarah yang disampaika hanya rentetan waktu dan peristiwa belaka. Hal ini menjadikan peserta didik kurang antusias dalam mengikuti proses pembalajaran.
Berdasarkan observasi pembelajaran sejarah di kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir terlihat peserta didik kurang aktif pada saat pembelajaran sedang berlangsung, dengan indikator yang teramati; (1) peserta didik kurang mendengarkan ketika pendidik menerangkan pelajaran dan memberikan tugas; (2) peserta didik jarang mengajukan pertanyaan kepada pendidik; (3) peserta didik kurang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan pendidik: (4) peserta didik pada saat berdiskusi banyak yang tidak mau bekerja dalam kelompok, hanya bergantung pada teman yang pintar saja; (5) peserta didik masih belum banyak yang mengungkapkan pendapatnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pendidik peneliti mendapatkan informasi masih ada beberapa masalah dalam proses pembelajaran sejarah di kelas. Pendidik sudah menerapkan model pembelajaran seperti inquiri dengan metode ceramah dan diskusi dalam proses pembelajaran sejarah. Ketika pendidik sedang menerangkan masih ada peserta didik yang tidak mendengarkan penjelasan pendidik, peserta didik banyak yang berbicara dengan teman, dan ada peserta didik yang membuat gaduh didalam kelas.
Saat proses pembelajaran sejarah pendidik masih jarang yang menggunakan media pembelajaran yang bervarias, karena belum menggunakan media yang bervariasi ini maka perhatian peserta didik terhadap pelajaran sejarah juga kurang. Kondisi pembelajaran seperti inilah yang mengakibatkan peserta didik kurang antusias mengikuti pembelajaran sehingga peserta didik kurang aktif dan pembelajaran yang dilakukan kurang efektif.
Pendidik sejarah dituntut melakukan inovasi khususnya terhadap metode, pendekatan dan terutama model pembelajaran yang fresh, dengan tujuan untuk menarik minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Dengan mencari model pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan aktif yang akan membuat peserta didik antusias dalam belajar sejarah. Model pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi kelas terutama pada peserta didik. Model pembelajaran yang digunakan harus dapat mendorong peserta didik untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga peserta didik lebih aktif selama pembelajaran sejarah. Selain pemilihan model pembelajaran untuk membuat pembelajaran yang aktif dan menyenangkan Usaha peneliti dan pendidik untuk mengatasi permasalahan rendahnya aktivitas dan hasil belajar peserta didik adalah dengan penerapan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) dengan media video pada mata pelajaran sejarah kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir.
Model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) adalah salah satu model pembelajaran yang menekankan pada tiga aspek yaitu Auditory (mendengar), Intellectually (berpikir), Repetition (pengulangan). Tujuan spesifik dalam pembelajaran ini adalah melatih kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah, melatih keberanian peserta didik dalam mengemukakan pendapatnya saat proses diskusi, serta membantu peserta didik lebih memahami materi yang telah dipelajari dengan adanya pendalaman yang diberikan dalam bentuk kuis sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan memacu peserta didik untuk belajar.
Pembelajaran dengan model Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) akan melatih peserta didik untuk merekonstruksi pengetahuannya sendiri. Menurut Douch (dalam Widja, 1989:11) dalam pembelajaran sejarah ada kepentingan bagi peserta didik untuk merasa terlibat dalam sejarah dan bahwa mereka mestinya melihat sejarah bukan seperti film yang mereka sekedar tontonan, tapi sebagai pertunjukan yang berkelanjutan dan mereka sendiri termasuk pelaku-pelaku. pembelajaran dengan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dapat didukung dengan penggunaan media pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti melakukan kerjasama dengan pendidik untuk melakukan penelitian tindakan kelas yang dirumuskan dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan Media Video untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata  Pelajaran Sejarah Kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir Tahun Ajaran 2015/2016”

Permasalahan yang di bahas adalah:
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan permasalahan adalah sebagai berikut:
1).Apakah penerapan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik mata pelajaran sejarah kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir tahun ajaran 2015/2016 ?
2)Apakah penerapan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik mata pelajaran sejarah kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir tahun ajaran 2015/2016 ?

Tujuan penelitian ini adalah:
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1).Untuk menganalisis peningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas X IPS 2 di SMA Negeri Kunir dengan menerapkan model pembelajaran Auditory,  Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video;
2)Untuk menganalisis peningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X IPS 2 di SMA Negeri Kunir dengan menerapkan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video.

Manfaat penelitian ini adalah :
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan akan memberikan beberapa manfaat sebagai berikut:
1).Bagi peneliti, sebagai bekal saat terjun di dunia pendidikan sekaligus sebagai tambahan wawasan tentang penerapan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik;
2)bagi pendidik, dapat sebagai alternatif dalam pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran sejarah dan kebutuhan peserta didik;
3)bagi peserta didik, diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar sehingga hasil pembelajaran peserta didik meningkat;
4)bagi sekolah yang diteliti, sebagai referensi dalam kegiatan penelitian dan sumbangan pemikiran bagi peningkatan mutu pendidikan terutama dalam pembelajaran sejarah.

METODE PENELITIAN
Subjek penelitian adalah peserta didik kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berkolaborasi dengan pendidik mata pelajaran sejarah kelas X IPS 2. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X IPS 2 dengan jumlah peserta didik 37, 26 peserta didik laki-laki dan 11 peserta didik perempuan. Berdasarkan hasil observasi kelas X IPS 2 tergolong kelas yang pasif. Aktivitas belajar rendah dan hasi belajar masih belum optimal.
Rancangan penelitian tindakan kelas ini menggunakan model penelitian tindakan Hopskin dengan tahapan penelitian tindakan pada satu siklus meliputi: Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Penelitian diawali dengan merencanakan sesuatu yang akan dilakukan, kemudian melakukan tindakan, selama melakukan tindakan dilakukan juga observasi dalam rangka mengumpulkan data yang diinginkan, kemudian refleksi. Penelitian ini dilakukan tiga siklus, siklus 1, 2, dan 3. Rancangan penelitiannya sebagai Berikut:


Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini meliputi: metode angket, observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar peserta didik sedangkan analisis data kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan pelaksanaan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition dengan media video.
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini apabila aktivitas dan hasil belajar peserta didik dapat meningkat dengan menggunakan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) dengan media video. Aktivitas peserta didik dinyatakan berhasil apabila aktivitas belajar peserta didik meningkat dari siklus 1 ke siklus 2 dan dari siklus 2 ke silkus 3 yang diukur dari indikator  (1) mendengarkan dan melihat video; (2) mengajukan pertanyaan; (3) mengemukakan pendapat; (4) menjawab pertanyaan dan (5) kerjasama dalam kelompok. Suatu kelas dinyatakan aktif atau tuntas apabila mencapai persentase 70% dari 100% dengan kategori aktif dan sangat aktif (Kemendikbud, 2014:93).
Ketuntasan hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan standar ketuntasan yang ditetapkan oleh sekolah. Ketuntasan individu adalah peserta didik dinyatakan tuntas apabila mencapai skor 75 dari skor 100. Ketuntasan klasikal suatu kelas dikatakan telah tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat rata-rata klasikal minimal ≤ 75% dari skor maksimal 100. 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bagian ini memaparkan hasil dan pembahasan penelitian yang dilakukan di kelas X IPS 2 SMAN Kunir pada semester genap tahun ajaran 2015/2016.

A. Peningkatan Aktivitas Belajar Peserta Didik Kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir dengan Penerapan Model Pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan Media Video.

Hasil analisis persentase aktivitas belajar peserta didik dalam belajar sejarah dengan menggunankan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan Media Video dengan membandingkan persentase pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 yang disajikan dalam diagram dibawah ini:
Berdasarkan gambar 1 dapat diketahui bahwa aktivitas peserta didik mengalami peningkatan dari siklus 1, 2 dan 3. Pada indikator mendengarkan dan melihat video pada siklus 1 memperoleh persentase 75% dengan kriteria aktif, pada siklus 2 meningkat 9% menjadi 81,75% dengan kriteria sangat aktif pada siklus 3 meningkat 5,78% menjadi 86,48% dengan kriteria sangat aktif. Pada indikator mengajukan pertanyaan berdasarkan observasi siklus 1 memperoleh persentase 60,81% dengan kriteria cukup aktif, pada siklus 2 meningkat 12,21% menjadi 68,24% dengan kriteria cukup aktif pada siklus 3 meningkat 5,93% menjadi 72,19% dengan kriteria aktif. Pada indikator mengemukakan pendapat berdasarkan observasi siklus 1 memperoleh persentase 60,13% dengan kriteria cukup aktif, pada siklus 2 meningkat 16,86% menjadi 70,27% dengan kriteria aktif pada siklus 3 meningkat 6,73% menjadi 75% dengan kategori aktif. Pada indikator menjawab pertanyaan pada siklus 1 memperoleh persentase 67,56% dengan kriteria cukup aktif, pada siklus 2 meningkat 15% menjadi 77,70% dengan kriteria aktif pada siklus 3 meningkat 4,35% menjadi 81,08% dengan kriteria sangat aktif. Pada indikator kerjasama dalam kelompok pada siklus 1 memperoleh persentase 68,24% dengan kriteria cukup aktif, pada siklus 2 meningkat 15,84% menjadi 79,05% dengan kriteria aktif pada siklus 3 meningkat 3,41% menjadi 81,75% dengan kriteria sangat aktif.
Berdasarkan hasil observasi pada pelaksanaan siklus 1, 2 dan 3 dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video dapat meningkatkan aktivitas peserta didik kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Huda (2014:289) bahwa model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dapat melatih kemampuan memecahkan masalah dan peserta ddik lebih berani mengemukakan pendapat saat proses pembelajaran.

B. Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir dengan Penerapan Model Pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan Media Video
Peningkatan hasil belajar sejarah dengan menerapkan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video pada siklus 1, 2, dan 3 dapat diperoleh data sebagai berikut.
1) Hasil belajar kognitif
Berdasarkan dari hasil observasi persentase dapat diketahui hasil belajar aspek kognitif peserta didik secara klasikal pada siklus 1, 2 dan 3. Persentase ketuntasan hasil belajar kognitif pada siklus 1 sebesar 75,67%, pada siklus 2 meningkat 7,14% menjadi 81,08% pada siklus 3 meningkat 6,66% menjadi 86,48%. Peningkatan juga terjadi pada rata-rata hasil belajar kognitif pada siklus 1 rata-rata hasil belajar sebesar 76,91 pada siklus 2 meningkat menjadi 77,72 dan pada siklus 3 meningkat menjadi 79,75. Peningkatan hasil belajar aspek kognitif disajikan pada diagram berikut

2) Hasil Belajar Afektif
Penilaian hasil belajar afektif dinilai dari indikator bersyukur, jujur, tanggung jawab, sopan santun dan disiplin. Hasil analisis data hasil belajar aspek afektif secara klasikal berdasarkan pada observasi pada siklus 1, 2 dan 3 mengalami peningkatan.
Pada indikator bersyukur siklus 1 memperoleh persentase sebesar 74,32% pada siklus 2 meningkat 9,09% menjadi 81,08% dan pada siklus 3 meningkat 4,99% menjadi 85,13%. Indikator jujur pada siklus 1 memperoleh persentase sebesar 60,81% pada siklus 2 meningkat 13,32% menjadi 68,91% dan pada siklus 3 meningkat 18,63% menjadi 81,75%. Indikator tanggung jawab siklus 1 memperoleh persentase sebesar 56,08% pada siklus 2 meningkat 21,68% menjadi 68,24% dan pada siklus 3 meningkat 15,84% menjadi 79,05%. Pada indikator sopan santun siklus 1 memperoleh persentase sebesar 66,89% pada siklus 2 meningkat 9,08% menjadi 72,97% dan siklus 3 meningkat 10,18% menjadi 80,40%. Indikator disiplin pada siklus 1 memperoleh persentase sebesar 64,18% pada siklus 2 meningkat 3,16% menjadi 66,21% dan pada siklus 3 meningkat 13,27% menjadi 75%.

3) Hasil belajar psikomotor
Penilain psikomotor dinilai dari produk yang dihasilkan peserta didik yang berbentuk tulisan. Indikator yang dinilai yaitu analisis, argumentasi, kelengkapan materi dan simpulan. Hasil analisis data hasil belajar aspek psikomotor secara klasikal berdasarkan pada observasi pada siklus 1, 2 dan 3 mengalami peningkatan.
Pada indikator analisis siklus 1 memperoleh persentase sebesar 57,43% pada siklus 2 meningkat 17,63% menjadi 67,56% dan pada siklus 3 meningkat 12% menjadi 75,67%. Indikator argumentasi pada siklus 1 memperoleh persentase sebesar 52,02% pada siklus 2 meningkat 19,49% menjadi 62,16% dan pada siklus 3 meningkat 19,56% menjadi 74,32%. Indikator kelengkapan materi siklus 1 memperoleh persentase sebesar 61,48% pada siklus 2 meningkat 16,49% menjadi 71,62% dan pada siklus 3 meningkat 10,37% menjadi 79,05%. Pada indikator simpulan siklus 1 memperoleh persentase sebesar 60,81% pada siklus 2 meningkat 21,09% menjadi 73,64% dan siklus 3 meningkat 7,34% menjadi 79,05%. Peningkatan hasil belajar aspek psikomotor disajikan pada diagram berikut
   Berdasarkan hasil penilaian pada pelaksanaan siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran sejarah kelas X IPS 2 SMA Negeri Kunir.

KESIMPULAN DAN SARAN
Penerapan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video dapat meningkatkan aktivitas belajar sejarah peserta didik kelas X IPS 2 SMAN Kunir Semester Genap Tahun Ajaran 2015/2016. Peserta didik menjadi lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas belajar sejarah peserta didik dengan indikator sebagai berikut: (1) Mendengarkan dan melihat video; (2) Mengajukan pertanyaan; (3) Mengemukakan pendapat; (4) Menjawab pertanyaan dan (5) Kerjasama dalam kelompok. Pada pra siklus aktivitas belajar peserta didik secara klasikal sebesar 53,24% dengan kategori kurang aktif. Pada siklus 1 persentase aktivitas belajar peserta didik secara klasikal mencapai 66,35% dengan kategori cukup aktif sehingga mengalami peningkatan dari pra siklus sebesar 24,62% . Pada siklus 2 persentase aktivitas belajar peserta didik secara klasikal sebesar 75,40% mengalami peningkatan 13,63% dari siklus 1 dengan kategori aktif. Pada siklus 3 persentase aktivitas belajar peserta didik secara klasikal mencapai 79,32% dan mengalami peningkatan sebesar 5,19% dengan kategori aktif.
    Penerapan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video dapat meningkatkan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X IPS 2 SMAN Kunir Semester Genap Tahun Ajaran 2015/2016. Pada pra siklus hasil belajar secara klasikal peserta didik pada aspek kognitif sebesar 72,97%. Pada siklus 1 hasil belajar aspek kognitif memperoleh ketuntasan secara klasikal sebesar 75,67% sehingga terjadi peningkatan dari pra siklus ke siklus 1 sebesar 3,70%. Pada siklus 2 hasil belajar aspek kognitif memperoleh ketuntasan secara klasikal sebesar 81,08% sehingga terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 7,14%. Pada siklus 3 hasil belajar aspek kognitif memperoleh ketuntasan secara klasikal sebesar 86,48% sehingga terjadi peningkatan dari siklus 2 dan siklus 3 sebesar 6,66%. Hasil belajar peserta didik aspek afektif pada siklus 1 sebesar 64,45%, pada siklus 2 meningkat 10,90% menjadi 71,48%, pada siklus 3 meningkat 12,29% menjadi 80,27%. Hasil belajar peserta didik aspek psikomotor pada siklus 1 sebesar 57,93%, pada siklus 2 meningkat 18,67% menjadi 68,75%, pada siklus 3 meningkat 12,02% menjadi 77,02%.
Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video dapat meningkatkan aktivitas belajar sejarah peserta didik kelas X IPS 2 SMAN Kunir Semester Genap Tahun Ajaran 2015/2016 peneliti memberikan saran sebagai berikut: (1) Bagi pendidik sejarah, sebaiknya menggunakan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video, sebagai salah satu model pembelajaran yang diguanakan dalam pembelajaran sejarah di sekolah; (2) Bagi lembaga pendidikan, hasil  penelitian ini merupakan sebuah masukan yang dapat  digunakan sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam rangka peningkatan mutu pendidikan dan kegiatan pembelajaran sejarah di sekolah; (3) Bagi peneliti lain, agar lebih mengembangkan penelitian pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) dengan media video pada materi yang lain dalam ruang lingkup yang luas dalam waktu yang lama.

DAFTAR   RUJUKAN
Arikunto, S. dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas.  Jakarta: Bumi Aksara
Aswan Zain , Djamarah S. B.2010 , Strategi Belajar Mengajar, cet. Ke-4( Jakarta: Rinek Cipta.
Hardiyanti, D dkk. 2012.”Pengaruh Penggunaan Model       Pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR)           Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X”. Kumpulan   Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika (KARMAPATI) Volume 2, Nomor 4 : 519-524
Hasan, H. 2012. “Pendidikan Sejarah Untuk Memperkuat    Pendidikan Karakter”. Paramita Vol. 22. No 1 – Januari (ISSN : 085-0039) Hlm. 81-95
Huda, M. 2014. Model-Model Pengajaran dan          Pembelajaran : Isu-Isu Metodis Dan Paradigmatis.   Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Kemendikbud. 2014. Implementasi Pelatihan Guru I            mplementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014 Mata           Pelajaran Sejarah Indonesia SMA/SMK. Jakarta:       Kemendikbud.
Madjid Abdul, 2013.Strategi Pembelajaran . Bandung, Remaja Rosdakarya.

Suyadi, 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter .Bandung: Remaja Rosdakarya.

Widja, I. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Strategi S       erta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta : Departemen           Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal      Pendidikan Tinggi.