Selasa, 23 Mei 2017

POLA INTERAKSI SOSIAL PATRON KLIEN ANTAR PELAKU PARKIR
DI ALUN-ALUN JEMBER

Larasati Widoningtyas, Sukidin dan Bambang Soepeno

ABSTRACT: The research is a qualitative descriptive study procedure: observe, describe, express problem, conclusions. Observations made at the parking area around the Alun-Alun Jember. Subjects in this study is the boss of illegal parking, illegal parking henchmen, parking attendants authorized, the parking sector and additional informants ie visitors who park their vehicles in the parking area around the Alun-Alun Jember. Data obtained from the proceeds of the interview. Methods of data collection using observation, interviews and documentation. Analysis of the data used is descriptive qualitative covers the roles and functions of patron and client, the client’s social interaction between actors patron parking. The result of this study indicate that the patron and client roles and functions of patron and client caused the social interaction of conflict and harmonization. In the social interaction that occurs between patron and client there is reciprocity in the form of investments and rewards. Benefits granted in the form of payment for parking to park the boss, the boss parking invest by providing protection to men. The second social interaction occurs between thugs with illegal parking attendants. Illegal parking attendants reward in the form of payments for parking. Parking sector and official parking attendants also experience social interaction. Official parking attendants parking sector to compensate for a security deposit, the park provides investment sector in the form of improved security in the parking zones around the Alun-Alun Jember.

   Keywords: Social Interaction, Patron Clients, Performers Parking.

PENDAHULUAN
Keberadaan juru parkir (jukir) di wilayah Kabupaten Jember ditengarai masih banyak melakukan pelanggaran. Hal tersebut terlihat dari banyaknya jukir yang beroperasi tanpa mengantongi izin resmi dari Pemerintah Kabupaten Jember. Bahkan dengan semakin menjamurnya jukir liar tersebut, upaya penertiban parkir di wilayah Kabupaten Jember pun masih minim.
Pesatnya laju pertumbuhan alat transportasi menimbulkan permasalahan kompleks di masyarakat. Masalah yang timbul yakni terdapat tempat parkir non resmi yang tidak mengantongi izin dari pemerintah setempat yang menimbulkan ketidaknyamanan didalam masyarakat. Terlihat fenomena juru parkir yang beroperasi di beberapa titik di Kabupaten Jember yang belum tentu berguna dalam hal membantu memarkir kendaraan padahal surat keputusan (SK) tentang sistem perparkiran tepi jalan umum tidak mengharuskan juru parkir liar, namun para jukir liar tetap saja marak dan belum diberi tindakan oleh pihak Pemerintah Daerah Parkir Jember. Para pengguna kendaraan bermotor secara tidak langsung memudahkan praktik-praktik parkir liar dengan memberikan uang kepada para jukir liar. Hal tersebut disebabkan pengaruh rasa takut terhadap juru parkir liar tersebut. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan dengan pemalakan terhadap pemilik kendaraan bermotor.
Di dalam pola interaksi hubungan patron klien antara juru parkir liar dengan preman parkir terdapat konflik dan solidaritas yang tinggi antara jukir liar dengan preman parkir. Konflik dan solidaritas antara jukir liar dengan preman parkir akan dibahas sesuai kajian teori konflik fungsional Lewis Coser (1956). Menurut Coser (1956:92-93) konflik dibagi menjadi dua, yaitu: konflik realistis, dan konflik non-realistis.
Berdasarkan teori konflik fungsional Lewis Coser, konflik realistis berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Terdapat relasi patron klien juru parkir liar dengan preman parkir yakni adanya ‘kongkalikong’ dengan preman parkir (penguasa wilayah), bagi para juru parkir liar yang tidak menyetorkan “uang keamanan” kepada preman parkir, maka si penguasa wilayah tidak segan-segan membuat kericuhan dan menimbulkan kepanikan bagi masyarakat pengendara yang memarkirkan kendaraannya di zona parkir liar. Sehingga masyarakat pengendara pun mau-tidak mau dengan berat hati membayar uang parkir kepada jukir liar.
Dibalik penilaian negatif dari masyarakat tentang jukir liar dan preman parkir, terdapat hubungan yang harmonis antara jukir liar dengan preman parkir. Harmonisasi yang terjalin antara jukir liar dengan preman parkir sesuai dengan konflik realistis yang dikemukakan oleh Lewis Coser (1956:92-93):
“Konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembalasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh, santet dan lain-lain. Sebagaimana halnya masyarakat maju melakukan pengkambinghitaman sebagai pengganti ketidakmampuan melawan kelompok yang seharusnya menjadi lawan mereka”.

Teori yang dikemukakan oleh Lewis Coser (1956:92-93) dicontohkan melalui kegiatan harmonisasi relasi jukir liar dengan preman parkir, yakni: melakukan pungutan “uang keamanan” yang dibebankan preman parkir kepada juru parkir liar. Besarnya pungutan “uang keamanan” yang disetorkan tergantung dari ramainya jumlah pengunjung yang ada di Alun-Alun Jember. Semakin banyak hasil yang didapatkan preman parkir akan menciptakan suasana yang aman dan nyaman tanpa adanya kericuhan yang dilakukan preman parkir. Maka ada keharmonisan diantara juru parkir liar, preman parkir, dan masyarakat sekitar area parkir liar di Alun-Alun Jember.
Interaksi yang terjadi antara jukir liar dengan preman parkir di Alun-Alun Jember terjadi ketika preman parkir menagih “uang keamanan” dari hasil parkir kepada jukir liar. Jukir liar yang ada di Alun-Alun Jember tidak memiliki paguyuban/perkumpulan. Juru parkir di Alun-Alun Jember merupakan orang-orang pendatang dari luar wilayah Jember, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang dari daerah bagian timur Jember, seperti daerah Banyuwangi, Bali. Jukir liar yang ada di Alun-Alun Jember berjumlah empat hingga enam orang dan terdapat enam hingga sepuluh orang preman parkir yang beroperasi di Alun-Alun. Munculnya juru parkir liar di Alun-Alun Jember awalnya berasal dari preman parkir. Preman parkir di Alun-Alun Jember merangkap jadi tukang parkir liar karena sering melihat tempat parkir di sekitar Alun-Alun Jember tidak tertata dengan rapi. Namun, lamanya mereka menjadi penguasa wilayah di Alun-Alun Jember membuat mereka menjadi lepas kontrol, preman parkir menimbulkan kericuhan kepada pengunjung yang tidak mau membayar uang parkir dalam jumlah lebih banyak seperti yang diinginkan oleh preman parkir. Preman parkir sering melakukan aksi pencurian sehingga meresahkan para pengunjung yang datang ke Alun-Alun Jember. Preman parkir di Alun-Alun Jember memiliki suatu perkumpulan.
Preman parkir di sekitar Alun-Alun Jember sudah mulai mengurangi aksi kejahatannya, namun sesekali mereka meminta uang kepada beberapa pengunjung yang ada di Alun-Alun Jember. Munculnya juru parkir liar yang baru berasal dari teman-teman preman parkir. Jukir liar pun berasal dari luar wilayah Jember, kebanyakan orang-orang dari daerah Bali. Juru parkir liar yang ada di Alun-Alun Jember tidak memiliki perkumpulan seperti para preman parkir. Aksi Bentrok dan cekcok yang terjadi antara preman parkir dengan juru parkir liar disebabkan tidak ada koordinator pembagian zona parkir secara jelas, sehingga terjadi perebutan zona area parkir liar.
Dalam hubungan patron klien, preman memberikan perlindungan keamanan kepada pemilik kendaraan bermotor dan jukir liar sesuai dengan hasil “uang keamanan” yang didapatkan preman parkir. Wujud terima kasih dan prihatin kepada jukir liar direalisasikan oleh pemilik kendaraan bermotor dengan membayar uang parkir bahkan ada yang memberi uang lebih khusus untuk jukir liar. Profesi Juru Parkir (jukir) liar sebenarnya membantu pengendara dalam memarkir kendaraannya. Profesi ini sering mengundang ejekan dan dipandang rendah, tapi tetap saja profesi ini menjadi lahan rebutan, sehingga terjadi pembagian lahan kekuasaan dikalangan juru parkir liar sendiri. Mereka melakukan aktivitasnya setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, serta menyisihkan untuk disetorkan pada preman parkir. Banyak juru parkir yang beranggapan lebih baik menjadi juru parkir daripada harus menjadi pengemis, menipu atau mencuri. Pada kenyataannya banyak juga juru parkir yang melakukan penipuan. Jika ada kendaraan yang parkir para juru parkir yang nakal meminta uang biaya parkir lebih banyak dari jumlah yang telah ditetapkan sebelumnya untuk dimasukkan dikantongnya sendiri.
Interaksi patron klien tidak hanya terjadi antara jukir liar dengan preman parkir, tetapi juga terjalin antara jukir liar dengan jukir resmi/sektor, bos parkir dengan anak buah jukir liar, dan jukir liar dengan pengunjung. Masing-masing pelaku parkir memiliki peran dan fungsi. Bos parkir dan preman parkir berperan sebagai patron. Fungsi bos parkir sebagai pelindung jukir liar menimbulkan dampak terjadinya hubungan antara jukir liar dengan preman parkir, antara jukir liar dengan jukir resmi, serta antara jukir liar dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Jember. Sedangkan fungsi preman parkir sebagai patron yang mengelola hasil uang parkir yang disetorkan jukir liar. Sektor parkir berperan sebagai patron jukir resmi sekaligus pengontrol yang memiliki fungsi mengontrol kinerja jukir resmi ketika bertugas, sebagai pengontrol keamanan parkir di zona parkir Alun-Alun Jember. Jukir liar dan jukir resmi berperan sebagai klien. Fungsi klien sebagai pekerja/bawahan yang mencari uang dan menjaga keamanan, ketertiban parkir di Alun-Alun Jember.
Harmonisasi dan konflik yang terjadi antara jukir liar dan preman parkir di Alun-Alun Jember menjadi suatu fenomena unik yang peneliti temukan di Kabupaten Jember. Maka dari itu, peneliti akan meneliti dan mengulas lebih detail melalui proposal tesis tentang “Pola Interaksi Sosial Patron Klien Antar Pelaku Parkir di Alun-Alun Jember.”

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan, menggambarkan dan mengungkapkan suatu masalah atau keadaan tertentu sebagaimana adanya sehingga dapat memberikan gambaran secara tepat tentang keadaan sebenarnya dari obyek yang diselidiki dalam rangka memecahkan masalah tertentu yang spesifik. Lexy J. Moleong (2005) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Menurut Lexy J. Moleong (2005), penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena rekayasa manusia. Metode kualitatif berusaha mengungkap berbagai keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat dan/atau organisasi dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh, rinci, dalam, dan dapat dipertaggungjawabkan secara ilmiah (Miles and Huberman, 1985:351-381). Penelitian kualitatif diharapkan mampu menghasilkan suatu uraian mendalam tentang ucapan, tulisan, dan/atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan/atau suatu organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik (Bogdan and Biklen, 1982:288).
Metode penentuan situs penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah purposive area, artinya tempat penelitian ditentukan dengan sengaja sesuai dengan tujuan penelitian. Penentuan lokasi penelitian dimaksudkan untuk mempertegas perumusan yang akan diteliti. Penelitian ini dilakukan di area parkir sekitar Alun-Alun Jember. Pertimbangan dipilihnya area parkir sekitar Alun-Alun Jember, karena Alun-Alun Jember merupakan jantung kota Jember, tempat Alun-Alun Jember strategis dan ramai.
Sumber informan merupakan orang/pihak yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan baik secara tertulis maupun lisan. Guna mendapatkan informasi yang lebih banyak hingga tidak ada varian informasi lagi (Burhan Bungin, 2008:53). Sumber informan dalam penelitian ini adalah bos parkir liar, anak buah parkir liar, preman parkir, juru parkir liar, juru parkir resmi, sektor parkir dan informan tambahan yakni pengunjung yang memarkirkan kendaraan di area parkir sekitar Alun-Alun Jember. Data yang diperoleh berasal dari hasil wawancara.
Suharsimi Arikunto (2002) mengemukakan bahwa metode pengumpulan data merupakan cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, dimana cara tersebut menunjukkan pada suatu yang abstrak, tidak dapat diwujudkan dalam benda yang kasat mata, tetapi dapat diperlihatkan penggunaannya. Pada penelitian ini peneliti menggunakan tiga metode pengumpulan data, antara lain observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi partisipan digunakan agar diperoleh data atau informasi dengan menggunakan pengamatan yang dilakukan secara langsung dan sistematis mengenai gejala dan fakta yang diteliti dalam waktu dan tempat tertentu untuk mengetahui kegiatan yang terjadi di lokasi penelitian. Interaksi yang peneliti lakukan dengan pelaku parkir di Alun-Alun Jember yakni berbincang-bincang sekaligus bertanya mengenai hal-hal yang dibutuhkan peneliti untuk melengkapi data-data penelitian. Peneliti juga mengamati aktivitas para pelaku parkir di Alun-Alun Jember, mengamati interaksi sosial antar pelaku parkir di Alun-Alun Jember. Peneliti melakukan interview bebas ketika melakukan penelitian di Alun-Alun Jember. Interview bebas yaitu pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang dikumpulkan. Data dalam penelitian kualitatif kebanyakan diperoleh dari sumber manusia (human resources) melalui observasi dan wawancara. Akan tetapi, ada pula sumber bukan manusia (non human resources), yang meliputi: dokumen, foto, dan bahan statistik. Peneliti mendokumentasikan foto-foto aktivitas antara jukir liar, preman parkir, pemilik kendaraan bermotor.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Peneliti memilah, mengkategorikan/melakukan klasifikasi. Langkah-langkah yang dilakukan, yaitu: mengumpulkan data dari hasil wawancara dengan pelaku parkir yang ada di Alun-Alun Jember mengenai peran dan fungsi patron dan klien, interaksi sosial antar pelaku parkir, merangkum kegiatan yang dilakukan para pelaku parkir dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing.

HASIL PENELITIAN
Interaksi sosial yang terjadi di masyarakat memiliki kedudukan/tingkatan masing-masing. Terdapat patron dan klien di dalam interaksi sosial yang terjadi di Alun-Alun Jember. Bos parkir liar, preman, dan sektor berperan sebagai patron, sedangkan anak buah, jukir liar, dan jukir resmi berperan sebagai klien. Di Alun-Alun Jember yang menjadi pelaku parkir antara lain bos parkir, anak buah, preman, jukir liar, sektor parkir, dan jukir resmi.
Peneliti melakukan wawancara dengan subjek penelitian yang berinisial AN selaku bos parkir liar di area parkir sebelah barat Alun-Alun Jember. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap subjek penelitian dan informan tambahan, dapat dipahami bahwa Hubungan patron klien digunakan untuk menjelaskan pola hubungan ketergantungan antara kelompok jukir liar dengan preman parkir. Di dalam pola kehidupan jukir liar terdapat hubungan patron klien, yakni antara orang yang memberikan perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat dengan kelompoknya. Seorang klien adalah seorang yang menjalin interaksi saling tukar-menukar benda dan jasa secara tidak seimbang dengan patronnya, dimana dia tidak mampu untuk membalasnya secara sepenuhnya yang mengakibatkan adanya suatu hutang budi yang mengikat dengan patronnya. Yang terjadi di area parkir sekitar Alun-Alun Jember tidak terdapat hutang budi dari klien kepada patronnya, melainkan terjadi interaksi patron klien dalam kelompok jukir liar, yakni antara bos parkir liar dengan anak buahnya, dan antara preman dengan pengunjung.
Dia area parkir sekitar Alun-Alun Jember yang berperan sebagai patron yakni bos parkir, preman parkir, dan sektor parkir. Bos parkir sebagai pelindung anak buah/jukir liar, preman parkir sebagai pengelola setoran uang parkir liar, dan sektor parkir sebagai pengontrol kinerja jukir resmi. Bentuk perlindungan yang dilakukan bos parkir terhadap jukir liar antara lain melerai pertikaian yang terjadi antara jukir liar dengan jukir resmi, melerai pertikaian antara jukir liar dengan preman parkir. Berdasarkan bentuk perlindungan yang dilakukan bos parkir terhadap jukir liar maka dapat diketahui bahwa bos parkir memiliki fungsi sebagai mediator pelerai konflik antara jukir liar dengan preman parkir, sebagai mediator pelerai konflik antara jukir liar dengan jukir resmi, sebagai mediator penyampai keluh kesah jukir liar kepada Dishub Jember. Fungsi bos parkir sebagai pelindung jukir liar menimbulkan dampak terjadinya hubungan antara jukir liar dengan preman parkir, antara jukir liar dengan jukir resmi, serta antara jukir liar dengan Dishub Jember.
Di area parkir sebelah barat Alun-Alun Jember, uang parkir dikelola oleh bos parkir. Pengelolaan uang parkir liar tidak hanya dilakukan oleh preman parkir. Di area parkir sebelah barat, anak buah menyetorkan uang parkir yang diperoleh kepada big boss setiap hari setelah jam shift kerja anak buah berakhir. Area parkir yang ada di sebelah barat Alun-Alun Jember terbagi menjadi dua lahan, yakni yang ada di tempat parkir berpaving dan di aspal jalan raya. Juru parkir liar yang beroperasi di area parkir berpaving juga menyetorkan uang parkir kepada bos parkir. Namun penyetoran uang parkir dilakukan setiap hari Sabtu per minggunya. Uang parkir yang disetorkan dari jukir liar yang ada di area parkir berpaving kepada bos parkir sebesar 40%. Selain menyetorkan uang parkir sebesar 40% kepada bos parkir, jukir liar yang ada di area parkir berpaving juga membayar uang sewa lahan yang digunakan untuk tempat parkir kepada Yayasan Al-Amin sebesar 50%. Fakta tersebut sesuai dengan ungkapan salah seorang anak buah yang ada di area parkir beraspal,
“Jukir nggak berseragam yang ada di tempat parkir pavingan ini bos kami yang ngasih kerjaan Mbak. Jadi mereka wajib ngasih ke kami 40%, trus yang ke Yayasan Al-Amin mereka juga wajib bayar uang sewa lahannya 50% dari penghasilan uang parkir yang mereka dapat. Kami yang kerja di parkiran pinggir jalan aspalan gini juga ngasih uang terima kasih namanya ke Yayasan Al-Amin karena kan bos kami yang ngasih kerjaan ke tukang parkir yang beroperasi di lahan Yayasan Al-Amin. Tapi jumlah uang yang kami berikan ke Yayasan Al-Amin tidak ditentukan berapa jumlahnya Mbak, jadi terserah bos kami mau ngasih berapa” (WL, 29th).

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan informan diperoleh informasi bahwa bos parkir juga memberikan ‘uang terima kasih’ kepada Yayasan Al-Amin karena bos parkir telah mempekerjakan jukir liar yang beroperasi di area parkir berpaving yang merupakan lahan milik Yayasan Al-Amin. Besarnya ‘uang terima kasih’ yang diberikan bos parkir kepada Yayasan Al-Amin tidak ditentukan jumlah nominalnya.
Sektor parkir merupakan patron dari jukir resmi. Peran dan fungsi sektor parkir yakni sebagai pengontrol kinerja jukir resmi. Pihak sektor datang ke Alun-Alun Jember mengontrol kinerja jukir resmi. Selain untuk mengontrol kinerja jukir resmi, pihak sektor juga membantu jukir resmi untuk memantau keamanan zona parkir di sekitar Alun-Alun Jember.
Pelaku parkir yang berperan sebagai klien yang ada di zona parkir Alun-Alun Jember memiliki fungsi berbeda. Anak buah berperan sebagai klien dari bos parkir tidak hanya memiliki fungsi sebagai bawahan/pekerja, tetapi juga memiliki fungsi sebagai kerabat dan rekan kerja bos parkir. Jukir liar berperan sebagai klien dari preman parkir memiliki fungsi sebagai pekerja parkir liar yang menyetorkan uang parkir liar kepada preman parkir. Dan jukir resmi yang berperan sebagai klien dari sektor parkir memiliki fungsi sebagai pengatur ketertiban dan penjaga keamanan tempat parkir di Alun-Alun Jember.
Preman parkir adalah orang yang memiliki kekuasaan di wilayah parkir yang digunakan oleh jukir liar untuk mencari nafkah. Preman hanya menunggu setoran dari para jukir liar. Yang menjadi preman parkir di area parkir Alun-Alun Jember berinisial BW, DP, FK, dan SL. Setiap zona parkir memiliki satu preman parkir, namun preman parkir yang bertugas berganti-ganti setiap beberapa hari. Orang-orang yang bekerja sebagai jukir liar menyetorkan hasil yang didapatkan kepada preman parkir. Berdasarkan hasil wawancara dengan jukir liar di Alun-Alun Jember,
“Ning Alun-Alun iki, jukire nyetor ning preman saben telung dino sepisan mbak yen ramai, tapi nek pas pengunjunge sepi yo nyetore seminggu pisan. Jumlah duite yo gak tentu mbak, kadang okeh kadang yo titik. Premane yo gonta-ganti. Dadi ben kene nyetor ngono ning wonge mesti bedo-bedo mbak” (BM, 25th).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa jukir liar menyetorkan uang parkir kepada preman parkir setiap tiga hari sekali apabila banyak pengunjung yang parkir, namun jika jumlah pengunjung yang parkir sedikit, jukir liar menyetorkan uang parkir tiap seminggu sekali.
Hubungan patron klien digunakan untuk menjelaskan pola hubungan ketergantungan antara kelompok jukir liar dengan preman parkir. Di dalam pola kehidupan jukir liar terdapat hubungan patron klien, yakni antara orang yang memberikan perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat dengan kelompoknya. Seorang klien adalah seorang yang menjalin interaksi saling tukar-menukar benda dan jasa secara tidak seimbang dengan patronnya, dimana dia tidak mampu untuk membalasnya secara sepenuhnya yang mengakibatkan adanya suatu hutang budi yang mengikat dengan patronnya. Yang terjadi di area parkir sekitar Alun-Alun Jember tidak terdapat hutang budi dari klien kepada patronnya, melainkan terjadi interaksi patron klien dalam kelompok jukir liar, yakni antara bos parkir liar dengan anak buahnya, dan antara preman dengan pengunjung.
Terjadi harmonisasi dan konflik di dalam interaksi sosial antar pelaku parkir. Harmonisasi terjadi antara bos parkir dengan anak buah, antara bos parkir dengan jukir liar, antara anak buah dengan jukir liar, antara bos parkir dengan sektor parkir. Konflik terjadi antara bos parkir dengan preman, antara sektor parkir dengan preman, dan antara jukir liar dengan jukir resmi. Harmonisasi yang terjalin antara pelaku parkir ditunjukkan dengan sikap bos parkir memberikan perlindungan. Harmonisasi juga terjadi antara jukir liar dengan anak buah yang ditunjukkan dengan sikap tidak egois (memiliki toleransi). Selain memiliki toleransi tinggi satu sama lain, anak buah dan jukir liar memiliki rasa solidaritas tinggi.
Interaksi sosial antara patron dengan klien diidentifikasi bahwa anak buah memberikan imbalan berupa setoran uang parkir kepada bos parkir, bos parkir melakukan investasi dengan memberikan perlindungan kepada anak buah. Interaksi sosial kedua terjadi antara preman dengan jukir liar. Jukir liar memberikan imbalan kepada preman berupa setoran uang parkir. Interaksi sosial lainnya terjadi antara bos parkir dengan preman yang ditunjukkan ketika bos parkir mengusir preman dari zona parkir di sebelah barat Alun-Alun Jember. Bos parkir memberikan imbalan berupa uang keamanan preman parkir dengan syarat preman parkir tidak membuat onar dan meresahkan pengunjung, preman parkir pun menyetujui kesepakatan yang ada dengan memberikan investasi berupa penjagaan keamanan.
Dalam interaksi sosial antara preman parkir dengan pengunjung di Alun-Alun Jember ditunjukkan dengan sikap preman memberikan perlindungan keamanan kepada pemilik kendaraan bermotor dan jukir liar sesuai jumlah “uang keamanan” yang didapatkan preman parkir. Sedangkan hubungan patron klien antara bos parkir liar dengan anak buah jukir liar ditunjukkan dengan sikap bos parkir liar menjamin keamanan anak buahnya berapapun jumlah setoran uang parkir yang didapatkan.

PEMBAHASAN
Dalam melaksanakan peran dan fungsi patron dan klien yang berperan sebagai patron yakni bos parkir, preman parkir, dan sektor parkir. Bos parkir sebagai pelindung anak buah/jukir liar, preman parkir sebagai pengelola setoran uang parkir liar, dan sektor parkir sebagai pengontrol kinerja jukir resmi.
Di sebelah selatan Alun-Alun Jember preman parkir memberikan perlindungan keamanan kepada pemilik kendaraan bermotor dan jukir liar sesuai dengan jumlah uang keamanan yang didapatkan preman parkir. Bentuk perlindungan yang dilakukan bos parkir terhadap jukir liar antara lain melerai pertikaian yang terjadi antara jukir liar dengan jukir resmi, melerai pertikaian antara jukir liar dengan preman parkir. Berdasarkan bentuk perlindungan yang dilakukan bos parkir terhadap jukir liar maka dapat diketahui bahwa bos parkir memiliki fungsi sebagai mediator pelerai konflik antara jukir liar dengan preman parkir, sebagai mediator pelerai konflik antara jukir liar dengan jukir resmi, sebagai mediator penyampai keluh kesah jukir liar kepada Dishub Jember. Fungsi bos parkir sebagai pelindung jukir liar menimbulkan dampak terjadinya hubungan antara jukir liar dengan preman parkir, antara jukir liar dengan jukir resmi, serta antara jukir liar dengan Dishub Jember. Bos parkir memberikan perlindungan kepada anak buahnya ketika preman parkir mengancam anak buah dari bos parkir. Bos parkir turun tangan untuk menghadapi ancaman dari preman parkir.
Pengelolaan uang parkir liar tidak hanya dilakukan oleh preman parkir. Di area parkir sebelah barat, anak buah menyetorkan uang parkir yang diperoleh kepada big boss setiap hari setelah jam shift kerja anak buah berakhir. Area parkir yang ada di sebelah barat Alun-Alun Jember terbagi menjadi dua lahan, yakni yang ada di tempat parkir berpaving dan di aspal jalan raya. Juru parkir liar yang beroperasi di area parkir berpaving juga menyetorkan uang parkir kepada bos parkir. Namun penyetoran uang parkir dilakukan setiap hari Sabtu per minggunya. Uang parkir yang disetorkan dari jukir liar yang ada di area parkir berpaving kepada bos parkir sebesar 40%. Selain menyetorkan uang parkir sebesar 40% kepada bos parkir, jukir liar yang ada di area parkir berpaving juga membayar uang sewa lahan yang digunakan untuk tempat parkir kepada Yayasan Al-Amin sebesar 50%. Bos parkir juga memberikan ‘uang terima kasih’ kepada Yayasan Al-Amin karena bos parkir telah mempekerjakan jukir liar yang beroperasi di area parkir berpaving yang merupakan lahan milik Yayasan Al-Amin. Besarnya ‘uang terima kasih’ yang diberikan bos parkir kepada Yayasan Al-Amin tidak ditentukan jumlah nominalnya. Jukir liar yang beroperasi di lahan berpaving hanya mendapat penghasilan 10% dari hasil kerja mereka. Jukir liar yang bekerja di zona parkir berpaving merasa tidak adil karena pendapatan yang mereka dapatkan hanya sedikit, tidak sesuai dengan lelahnya mereka ketika bekerja. Fakta tentang pengelolaan uang parkir sesuai dengan teori yang dikemukakan Ralf Dahrendorf dalam karyanya “Class and class Conflict in Industrial Society” (1959:172),
“Makhluk sosial yang mempunyai andil dalam terjadinya disintegrasi dan perubahan sosial. Masyarakat selalu dalam keadaan konflik menuju proses perubahan. Masyarakat dalam berkelompok dan hubungan sosial didasarkan atas dasar dominasi yang menguasai orang atau kelompok yang tidak mendominasi”.

Teori konflik memandang masyarakat disatukan oleh ketidakbebasan yang dipaksakan. Dengan demikian, posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain. Fakta kehidupan sosial ini mengarahkan Dahrendorf kepada tesis sentralnya bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis.
Dahrendorf memusatkan perhatian pada struktur sosial yang lebih luas. Dahrendorf menyebut otoritas tidak terletak dalam individu tapi dalam posisi. Sumber struktur konflik harus dicari dalam tatanan peran sosial yang berpotensi untuk mendominasi atau ditundukkan. Dahrendorf dalam karyanya “Class and class Conflict in Industrial Society” (1959:172) mengemukakan,
“Tugas pertama analisis konflik adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas didalam masyarakat. Karena memusatkan perhatian kepada struktur berskala luas seperti peran otoritas itu, Dahrendorf ditentang para peneliti yang memusatkan perhatian pada tingkat individual”.

Jadi dalam penelitian ini, konflik yang terjadi antara jukir liar dengan preman parkir di Alun-Alun Jember jika merujuk pada teori otoritas Dahrendorf, maka dapat disimpulkan bahwa preman parkir merupakan pihak pemegang otoritas, sementara jukir liar adalah pihak yang tidak memegang otoritas. Dalam hal ini, jukir liar berada pada posisi ketidakbebasan yang dipaksakan. Sementara itu, preman parkir didelegasikan kekuasaan dan otoritas. Maka dari itu, preman parkir memiliki kewenangan untuk mengelola area parkir liar. Pada konflik jukir liar dan preman parkir terdapat harapan tersembunyi telah disadari. Kelompok kepentingan ini telah memiliki struktur organisasi dan tujuan yang jelas. Para jukir liar menyadari kepentingan yang mereka perjuangkan yakni mendapatkan pendapatan utuh tanpa harus disetorkan kepada preman parkir sebagai uang keamanan.
Pihak sektor datang ke Alun-Alun Jember mengontrol kinerja jukir resmi. Selain untuk mengontrol kinerja jukir resmi, pihak sektor juga membantu jukir resmi untuk memantau keamanan zona parkir di sekitar Alun-Alun Jember.
Adapun yang berperan sebagai klien yakni anak buah, jukir liar, dan jukir resmi. Anak buah berperan sebagai klien dari bos parkir, jukir liar berperan sebagai klien dari preman parkir, dan jukir resmi berperan sebagai klien dari sektor parkir. Klien ialah bawahan (pekerja) yang bekerja kepada patron. Pelaku parkir yang berperan sebagai klien yang ada di zona parkir Alun-Alun Jember memiliki fungsi berbeda. Anak buah berperan sebagai klien dari bos parkir tidak hanya memiliki fungsi sebagai bawahan/pekerja, tetapi juga memiliki fungsi sebagai kerabat dan rekan kerja bos parkir. Jukir liar berperan sebagai klien dari preman parkir memiliki fungsi sebagai pekerja parkir liar yang menyetorkan uang parkir liar kepada preman parkir. Dan jukir resmi yang berperan sebagai klien dari sektor parkir memiliki fungsi sebagai pengatur ketertiban dan penjaga keamanan tempat parkir di Alun-Alun Jember. Jukir resmi menyetorkan uang parkir kepada pihak sektor untuk uang keamanan.
Hubungan patron klien digunakan untuk menjelaskan pola hubungan ketergantungan antara kelompok jukir liar dengan preman parkir. Di dalam pola kehidupan jukir liar terdapat hubungan patron klien, yakni antara orang memberikan perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat dengan kelompoknya. Seorang klien adalah seorang yang menjalin interaksi saling tukar-menukar benda dan jasa secara tidak seimbang dengan patronnya, dimana dia tidak mampu untuk membalasnya secara sepenuhnya yang mengakibatkan adanya suatu hutang budi yang mengikat dengan patronnya. Namun, yang terjadi di area parkir sekitar Alun-Alun Jember tidak terdapat hutang budi dari klien kepada patronnya, melainkan terjadi interaksi patron klien dalam kelompok jukir liar, yakni antara bos parkir liar dengan anak buahnya, dan antara preman dengan pengunjung. Berdasarkan teori James Scott (1977:267-296),
“Hubungan patron klien adalah pertukaran hubungan antara kedua peran yang dapat dinyatakan sebagai kasus khusus dari ikatan yang melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan status sosio-ekonominya yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber dayanya untuk menyediakan perlindungan, serta keuntungan-keuntungan bagi seseorang dengan status yang dianggapnya lebih rendah (klien).”

James Scott menyatakan tujuan dasar dari hubungan patron klien bagi klien yang sebenarnya yakni penyediaan jaminan sosial dasar bagi subsistensi dan keamanan. Apabila hubungan pertukaran yang menjadi dasar pola hubungan patron klien ini melemah karena tidak lagi memberikan jaminan sosial dasar bagi subsistensi dan keamanan maka klien akan mempertimbangkan hubungannya dengan patron menjadi tidak adil dan eksploitatif, dan yang terjadi kemudian legitimasi bukanlah berfungsi linear dari neraca pertukaran. Maka dari itu, terdapat tuntutan dari pihak klien terhadap patronnya untuk memenuhi janji-janji atau kebutuhan dasarnya sesuai dengan peran dan fungsinya.
Di dalam interaksi sosial yang terjadi antara patron dan klien terdapat timbal balik berupa investasi dan imbalan. Di dalam interaksi sosial antara patron dengan klien diidentifikasi bahwa anak buah memberikan imbalan berupa setoran uang parkir kepada bos parkir, bos parkir melakukan investasi dengan memberikan perlindungan kepada anak buah. Interaksi sosial kedua terjadi antara preman dengan jukir liar. Jukir liar memberikan imbalan kepada preman berupa setoran uang parkir. Semakin banyak jukir liar menyetorkan uang parkir maka tingkat keamanan di zona parkir juga semakin tinggi. Sektor parkir dan jukir resmi juga mengalami interaksi sosial. Jukir resmi memberikan imbalan kepada sektor parkir untuk uang keamanan, pihak sektor parkir memberikan investasi berupa peningkatan keamanan di zona parkir sekitar Alun-Alun Jember. Berdasarkan teori patron klien Lewis Coser (1956:92-93), interaksi antara patron dengan klien di lapangan sesuai dengan teori.
Interaksi sosial patron klien menyebabkan terjadinya harmonisasi dan konflik antar pelaku parkir. Harmonisasi terjadi antara bos parkir dengan anak buah, antara bos parkir dengan jukir liar, antara anak buah dengan jukir liar, antara bos parkir dengan sektor. Sedangkan konflik terjadi antara bos parkir dengan preman, antara sektor dengan preman, dan antara jukir liar dengan jukir resmi.
Harmonisasi yang terjalin antara pelaku parkir ditunjukkan dengan sikap bos parkir memberikan perlindungan. Bos parkir bertindak sebagai mediator pelerai konflik antara jukir liar dengan preman parkir, sebagai mediator pelerai konflik antara jukir liar dengan jukir resmi, sebagai mediator penyampai keluh kesah jukir liar kepada Dishub Jember. Harmonisasi juga terjadi antara jukir liar dengan anak buah yang ditunjukkan dengan sikap tidak egois (memiliki toleransi) ketika ada salah seorang yang berhalangan bertugas maka salah seorang diantara mereka bersedia menggantikan bertugas sementara. Selain memiliki toleransi tinggi satu sama lain, anak buah dan jukir liar memiliki rasa solidaritas tinggi yang ditunjukkan ketika ada anak buah atau jukir liar yang sakit maka anak buah atau jukir liar lainnya akan melakukan iuran untuk memberikan bantuan berupa uang yang digunakan untuk berobat.
Selain terjalin harmonisasi, interaksi sosial yang terjadi antar pelaku parkir di Alun-Alun Jember juga memicu terjadinya konflik. Konflik terjadi antara bos parkir dengan preman, dan antara jukir liar dengan jukir resmi. Pada tahun 2006 pernah terjadi konflik antara bos parkir dengan preman parkir disebelah barat Alun-Alun Jember. Konflik tersebut disebabkan preman parkir tidak mau pergi dari area parkir sebelah barat Alun-Alun Jember karena merasa wilayah kuasanya. Preman parkir yang tidak terima ketika disuruh meninggalkan area parkir akhirnya membuat onar dengan memalak pengunjung, bahkan sampai mengancam anak buah dari bos parkir yang beroperasi disebelah barat Alun-Alun Jember. Satpol PP dan polisi pun turun tangan membantu melerai aksi bentrok diantara preman parkir dengan jukir liar, mereka pun memberikan solusi dengan cara jukir liar memberikan uang kepada preman parkir agar mereka tidak membuat onar dan mau pergi dari area parkir.
Konflik lain pun muncul antara jukir liar dengan jukir resmi. Konflik tersebut berupa perebutan area parkir yang ada di seluruh lingkup Alun-Alun Jember. Jukir liar yang sudah merasa mereka lebih lama bekerja parkir di Alun-Alun Jember tidak terima ketika Dishub Jember mengusir mereka untuk digantikan dengan jukir resmi. Bos parkir sering melerai aksi bentrok antara jukir liar dengan jukir resmi di sekitar Alun-Alun Jember. Ketidakadilan yang dirasakan jukir liar antara lain tidak adanya pembinaan dari Dishub Lalu Lintas kepada jukir liar padahal sudah sembilan tahun menjalani profesi sebagai jukir liar, jukir liar juga tidak diangkat sebagai jukir resmi tanpa ada penjelasan secara jelas oleh pihak Dishub Lalu Lintas Jember, jukir resmi juga sering ‘ngenyek’ jukir liar karena tidak memiliki seragam parkir yang diberikan dari Dishub Lalu Lintas Jember sehingga menimbulkan emosi para jukir liar.
Terdapat dua orang preman parkir di zona parkir sebelah selatan Alun-Alun Jember. Interaksi yang terjalin antara preman parkir dan jukir liar di sebelah selatan Alun-Alun Jember kurang harmonis. Mereka berinteraksi langsung hanya ketika jukir liar menyetorkan uang parkir kepada preman parkir. Interaksi yang terjadi antar jukir liar di zona parkir sebelah selatan Alun-Alun Jember juga tidak harmonis. Antar jukir liar saling berebut tempat parkir dikarenakan tidak ada koordinator yang mengatur tentang pembagian penempatan dalam menjaga tempat parkir. Preman parkir tidak ikut terlibat dalam memarkirkan kendaraan para pengunjung. Preman parkir hanya duduk santai sambil ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang yang ada disekitar zona parkir sebelah selatan Alun-Alun Jember.
Interaksi sosial juga terjadi antara jukir resmi dengan sektor parkir. Interaksi yang terjalin ditunjukkan ketika pihak sektor datang ke Alun-Alun Jember mengontrol kinerja jukir resmi. Selain untuk mengontrol kinerja jukir resmi, pihak sektor juga membantu jukir resmi untuk memantau keamanan zona parkir di sekitar Alun-Alun Jember. Jukir resmi memberikan uang keamanan kepada pihak sektor setiap harinya.
Namun, terdapat fakta lain di lapangan yang menjelaskan bahwa interaksi sosial tidak hanya terjadi diantara patron dengan klien, melainkan juga terjadi antara patron dengan patron. Pada interaksi sosial antar patron diidentifikasi bahwa bos parkir memberikan uang keamanan kepada pihak sektor parkir dan sektor parkir memberikan investasi berupa peningkatan keamanan. Interaksi sosial lainnya terjadi antara bos parkir dengan preman yang ditunjukkan ketika bos parkir mengusir preman dari zona parkir di sebelah barat Alun-Alun Jember. Bos parkir memberikan imbalan berupa uang keamanan preman parkir dengan syarat preman parkir tidak membuat onar dan meresahkan pengunjung, preman parkir pun menyetujui kesepakatan yang ada dengan memberikan investasi berupa penjagaan keamanan. Namun penjagaan keamanan yang diberikan preman parkir hanya berlangsung tiga minggu, preman parkir kembali membuat onar dan meresahkan pengunjung yang datang ke Alun-Alun Jember. Interaksi sosial yang terjadi antar patron di lapangan tidak ada di dalam teori patron klien yang dikemukakan oleh Lewis Coser (1956:92-93).

KESIMPULAN
Berdasarkan kajian hasil penelitian, pelaku parkir yang berperan sebagai klien yang ada di zona parkir Alun-Alun Jember memiliki fungsi berbeda. Anak buah berperan sebagai klien dari bos parkir tidak hanya memiliki fungsi sebagai bawahan/pekerja, tetapi juga memiliki fungsi sebagai kerabat dan rekan kerja bos parkir. Jukir liar berperan sebagai klien dari preman parkir memiliki fungsi sebagai pekerja parkir liar yang menyetorkan uang parkir liar kepada preman parkir. Dan jukir resmi yang berperan sebagai klien dari sektor parkir memiliki fungsi sebagai pengatur ketertiban dan penjaga keamanan tempat parkir di Alun-Alun Jember.
Terdapat konflik dan harmonisasi dalam interaksi patron klien. Konflik terjadi antara jukir liar dengan jukir resmi/Dishub Jember, antara jukir liar dengan preman, dan antara preman dengan pengunjung di Alun-Alun Jember. Konflik antara jukir liar dengan preman terjadi ketika bos parkir liar mengusir preman parkir dengan memberikan jatah uang keamanan per bulan. Untuk lebih memperkuat kekerabatan antar jukir liar dibentuklah suatu paguyuban bernama PILPAMAS (Pembantu Lintas Masyarakat).

SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di area parkir Alun-Alun Jember, maka saran yang dapat peneliti berikan kepada Dishub Kabupaten Jember untuk selalu memberikan arahan-arahan dan pembinaan kepada jukir liar agar tetap menjalankan tugasnya sesuai peraturan perparkiran yang berlaku. Pihak Dishub Kabupaten Jember diharapkan dapat mengapresiasikan harapan jukir liar membentuk paguyuban PILPAMAS sebagai wadah keharmonisan jukir liar. Selain itu, disarankan kepada jukir liar untuk menaati peraturan perparkiran yang berlaku dan menjadikan paguyuban PILPAMAS sebagai wadah mediasi apabila terjadi konflik sehingga terbentuk satu kesepakatan yang dapat dipatuhi oleh semua anggota jukir liar.

DAFTAR  RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Bogdan, R.C., & Biklen, S.K. 1982. Qualitative Research For Education : An Introduction to Theory and Methods. Boston : Allyn & Bacon.
Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.
Coser, Lewis. 1956. The Functions of Social Conflict. New York : The Free Press.
Dahrendorf, Ralf. 1959. Class and Class Conflict in Industrial Society. Stanford : University Press.
Miles, M.B., & Huberman, A.M. 1985. Qualitative Data Analysis : An Expanded Sourcebook (2nd ed.). Newbury Park, CA : Sage.
Moleong, Lexy. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja   Rosdakarya.

Scott, James C. 1977. “Hegemony and The Peasantry”, dalam Politics and Society 7 (3).