Selasa, 23 Mei 2017

PERBEDAAN TINGKAT KEMATANGAN  TUGAS PERKEMBANGAN PADA SISWA DENGAN AKTIVITAS  YANG BERBEDA DALAM ORGANISASI KESISWAAN DI SMA NEGERI I TUREN KAB. MALANG

Inta Elok Youarti
irnello@yahoo.com

Abstrak: Penelitian ini untuk mengetahui: 1) Tingkat kematangan tugas perkembangan remaja di SMA Negeri I Turen 2) Tingkat aktivitas siswa dalam organisasi kesiswaan di SMA Negeri I Turen 3) Perbedaan Tingkat Kematangan Tugas Perkembangan Pada Siswa dengan Aktivitas yang Berbeda dalam Organisasi Kesiswaan di SMA Negeri I Turen. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65.04 % siswa kelas II  SMA Negeri I Turen memiliki tingkat kematangan tugas perkembangan yang cukup. Sedangkan 57.7 % memiliki aktivitas dalam organisasi kesiswaan yang cukup. Hasil pengujian hipotesis diperoleh nilai Fhit sebesar 4.803 dengan signifikansi 0.010. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan pada siswa dengan aktivitas yang berbeda dalam organisasi kesiswaan di SMA Negeri I Turen. Dengan demikian, aktivitas dalam organisasi kesiswaan berdampak terhadap tingkat kematangan tugas perkembangan.

Kata kunci:  Tugas Perkembangan Remaja dan Aktivitas Siswa


PENDAHULUAN
Dari segi rentang usia, para siswa sekolah menengah berada dalam masa yang dalam literatur-literatur psikologi dan pendidikan disebut sebagai masa remaja. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa yang ditandai dengan perubahan berbagai aspek fisik dan psikis. Monk (1994) mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, dimana masa ini ditandai dengan tanda-tanda pubertas kematangan seksual, pertumbuhan badan maksimal serta mencapai perkembangan mental secara penuh. Dalam setiap perubahan diri itu remaja dituntut untuk mengadakan penyesuaian diri dengan dirinya maupun dengan lingkungannya. Remaja juga harus dapat melihat dan mengerti serta menerima setiap perubahan yang terjadi pada dirinya secara wajar, baik dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik, sosial maupun psikologis.
            Soerjono Soekanto (1989) membedakan remaja dalam remaja awal dan remaja akhir. Golongan remaja awal (early adolescence) bagi anak perempuan adalah dalam rentangan usia 13 sampai 17 tahun dan remaja akhir antara 17 sampai 21 tahun. Inipun sangat tergantung pada kematangannya secara seksual. Sementara bagi anak laki-laki adalah anak yang berusia 14 sampai 17 tahun dan remaja akhir antara 17 sampai 22 tahun.
            Sebagaimana fase-fase perkembangan yang lain, masa remaja juga memiliki beberapa tugas perkembangan yang harus dilaksankan. Keberhasilan menunaikan tugas-tugas perkembangan akan membawa individu kebahagiaan dan kesuksesan dalam tugas-tugas perkembangan berikutnya. Kegagalan seseorang menunaikan tugas-tugas perkembangan membuatnya tidak bahagia dan membawa kesukaran dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Menurut Havighurst (dalam Syaodih. 2009.: 161) mengatakan bahwa: “Definisi tugas perkembangan adalah suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam kehidupan seseorang, yang kesuksesan penyelesaiannya akan mengantarkan orang tersebut kedalam bahagia, dan kegagalan penyelesaiannya akan menyebabkan orang tersebut tidak bahagia, tidak diterima oleh masyarakat, dan mengalami kesulitan dalam menjalani tugas-tugas berikutnya”. Sedangkan menurut Dariyo (2004: 77) menyatakan bahwa: “tugas-tugas perkembangan (development tasks) yakni tugas-tugas atau kewajiban yang harus dilalui oleh setiap individu sesui dengan tahap perkembangan individu 9 itu sendiri. Dari sejak kandungan, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, sampai dewasa akhir, setiap individu harus melakukan tugas itu”. Menurut Garisson (1958), tugas-tugas perkembangan masa remaja adalah (1) menerima keadaan jasmani, (2) memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya, (3) menerima keadaan sesuai jenis kelaminnya dan belajar hidup seperti kaumnya, (4) memperoleh kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya, (5) memperoleh kesanggupan berdiri sendiri dalam hal-hal yang bersangkutan dengan ekonomi/keuangan, (6) mendapatkan perangkat nilai-nilai hidup dan falsafah hidup.
            Masing-masing remaja mempunyai tingkat kemajuan yang berbeda dalam berbagai tugas perkembangan. Mereka harus berusaha keras untuk dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan dengan baik.
            Usia sekolah menengah bagi remaja dapat dipandang sebagai suatu masa dimana individu telah mencapai kematangan dalam proses perkembangannya, terutama kematangan fisik. Beberapa hal baru yang berkaitan dengan perubahan fisik yang terjadi tak jarang nampak aneh bagi dirinya. Datangnya menarche, berubahnya beberapa bagian tubuh, bertambahnya berat badan dianggap sebagai hal yang mengganggu penampilan, karena bagaimanapun penampilan aalah modal utama bagi remaja untuk diterima di dalam kelompok yang diminatinya.
            Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok memanglah masih tetap penting. Lambat laun mereka mulai mendambakan dirinya berada ‘lebih’ dan tidak sama dengan teman-temannya. Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama orang lain yang bukan anggota keluarganya. Lingkungan teman sebaya merupakan suatu kelompok baru yang memiliki norma, kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam lingkungan keluarga remaja (Mappiare, 1982).
            Wujud dari pelaksanaan tugas-tugas perkembangan dapat dilihat dari perilaku remaja di sekolah maupun di lingkungannya. Kegagalan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan dapat disebabkan oleh: (1) Kelambatan dalam perkembangan seseorang, (2) Tidak adanya kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan, (3) Tidak adanya motivasi pada seseorang. Pada dasarnya individu yang dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan dengan baik dapat dilihat dari kemampuannya dalam melaksanakan penyesuaian diri dengan lingkungannya.
            Di SMA Negeri I Turen, remaja dalam hal ini adalah pelajar SMA Negeri I Turen terdapat kelompok sebaya yang siap menampung kreativitasnya. Kelompok sebaya tersebut tergabung dalam organisasi kesiswaan yang disediakan oleh sekolah seperti OSIS, Majelis Permusyawaratan Kelas, redaksi sekolah, Badan Dakwah Islam, Kelompok Pembinaan Agama Kristen dan sebagainya. Salah satu faktor yang mempengaruhi kematanan tugas perkembangan adalah motivasi dari luar.
Dengan menyediakan kegiatan berorganisasi, berarti sekolah telah memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan dan memperlancar tugas perkembangannya. Dengan alasan tersebut di atas maka peneliti bermaksud untuk mengambil SMA Negeri I Turen sebagai sampel dalam penelitian.
            Disediakannya kegiatan organisasi oleh sekolah, hendaknya siswa dapat memilih kegiatan yang sesuai dengan bakat dan minatnya, sebab kegiatan organisasi kesiswaan yang ada di sekolah diharapkan dapat menjadi sarana untuk mengisi waktu luang yang dimiliki siswa dengan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan aspek-aspek kepribadian yang dimilikinya serta dapat digunakan sebagai penunjang penyelesaian tugas-tugas perkembangan siswa.

Rumusan Masalah
Sejalan dengan deskripsi pada latar belakang di atas dirumuskan permasalahan penelitian ini sebagai berikut :
Bagaimana tingkat kematangan tugas-tugas perkembangan siswa SMA Negeri I Turen?
Bagaimana tingkat aktivitas siswa SMA Negeri I Turen?
Apakah ada perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan pada siswa dengan aktivitas yang berbeda dalam organisasi kesiswaan di SMA Negeri I Turen ?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui : Tingkat kematangan tugas-tugas perkembangan siswa SMA Negeri I Turen, Aktivitas siswa SMA Negeri I Turen dan Ada/Tidaknya perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan pada siswa dengan aktivitas yang berbeda dalam organisasi kesiswaan di SMA Negeri I Turen.

Kegunaan Penelitian
Penelitian tentang pelaksanaan tugas-tugas perkembangan remaja ini diharapkan berguna bagi kepala sekolah, guru dan konselor.
1.      Kepala Sekolah dan Guru
Dari hasil penelitian ini diharapkan sekolah dapat memberikan masukan dalam menciptakan suasana pendidikan dan proses belajar yang meluangkan siswa untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan dan mengatur aktivitas dengan baik.
2.      Konselor Sekolah
Sebagai informasi untuk mengembangkan pengetahuan atau konsep tentang remaja untuk memecahkan masalah siswa, sehubungan dengan pelaksanaan tugas-tugas perkembangan dan aktivitas siswa.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian komparatif deskriptif yang memiliki arti membandingkan dua hal atau lebih (Isparjadi, 1988). Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa penelitian komparatif pada pokoknya adalah penelitian yang berusaha menemukan persamaan dan perbedaan tentang benda, tentang orang, tentang prosedur kerja, tentang ide, kritik terhadap orang, kelompok terhadap suatu ide atau prosedur kerja. Dapat juga dilaksanakan dengan maksud untuk membandingkan kesamaan pandangan orang, group atau negara terhadap kasus, terhadap peristiwa atau terhadap ide (Sudjiono, 1987).
Secara skematis rancangan penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1.




Gambar 3.1 Rancangan Penelitian

Aktivitas Siswa
Kematangan Tugas Perkembangan
Tinggi
Cukup
Rendah
Tinggi
T, T
T, C
T, R
Cukup
C, T
C, C
C, R
Rendah
R, T
R, C
R, R
Keterangan:           T: Tinggi          C: Cukup         R: Rendah
            Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA 3, X IIS 4, XI MIPA 5 dan XI IIS 4 SMAN 1 Turen. Dalam penelitian ini instrumen pengumpul data yang digunakan adalah angket. Angket yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk skala yang memuat suatu nilai untuk tiap alternatif jawaban yang tersedia. Angket penelitian ini memuat data tentang: identitas siswa, aktivitas siswa dan tugas perkembangan remaja. Data tentang identitas siswa meliputi: nama siswa, kelas siswa dan organisasi kesiswaan yang diikuti siswa.
Data mengenai aktivitas siswa meliputi: kedudukan dalam organisasi, Frekuensi pelaksanaan organisasi, peran serta dalam organisasi kesiswaan,  serta kerja sama dan kemampuan berkomunikasi.
Data tentang tugas-tugas perkembangan remaja meliputi: menerima keadaan jasmani, mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya, menerima peranan sosial sesuai jenis kelamin masing-masing, mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya, mencapai kebebasan ekonomi dan mendapatkan seperangkat nilai hidup dan falsafah hidup.

Tabel 3.2 Patokan Kematangan Tugas Perkembangan
Klasifikasi
Skor
Tinggi
Cukup
Rendah
142-188
95-141
47-94
JUMLAH

Tabel 3.3 Patokan Aktivitas Siswa
Klasifikasi
Skor
Tinggi
Cukup
Rendah
76-101
51-75
25-50
Jumlah

Statistik uji yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat kematangan antara remaja aktif dan tidak aktif dalam organisasi kesiswaan, penulis menggunakan statistik uji parametrik yaitu analisis klasifikasi satu ragam (One Way Anova) dengan program Windows SPSS versi 10.0. Sebelum dilakukan analisis data dengan klasifikasi satu arah maka dilakukan uji terhadap beberapa asumsi yaitu asumsi normalitas data dan uji homogenitas ragam.
Hipotesis Uji:
Ho     :    Tidak ada perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan pada siswa dengan aktivitas tinggi, cukup dan rendah dalam organisasi kesiswaan
H1     :    Ada perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan pada siswa dengan aktivitas tinggi, cukup dan rendah dalam organisasi kesiswaan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan temuan penelitian tingkat kematangan tugas perkembangan siswa SMA Negeri I Turen kelas II semester I (65.04%) cukup tinggi. Kematangan tugas perkembangan remaja berhasil atau gagal dilaksanakan karena suatu faktor baik dari dalam maupun dari luar individu. Bahkan mungkin sekali tugas tersebut terhambat atau terhenti. Faktor dari dalam antara lain fisik dan psikis siswa. Faktor dari luar di antaranya adalah motivasi dari luar yang diberikan kepada siswa. Faktor fisik siswa SMA Negeri 1 Turen dalam kondisi normal, dan psikis yang dibuktikan dengan inteligensi yang berkembang dengan baik. Dari luar, Di SMA Negeri I Turen konselor sekolah memotivasi siswa dengan memberikan layanan yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan tugas perkembangannya, contohnya: memberikan informasi tentang bagaimana harus menerima dan menghargai fisik, informasi tentang cara bergaul dengan teman sejenis atau lawan jenis, serta layanan konseling untuk semua siswa.
Dari hasil temuan penelitian, diketahui bahwa 57.7 % siswa SMA Negeri I Turen Kelas II semester I memiliki aktifitas yang cukup dalam organisasi kesiswaan. Keaktifan remaja dalam organisasi kesiswaan dipengaruhi oleh kondisi fisik remaja dan respon yang diterima siswa dari lingkungan. Faktor yang mempengaruhi keputusan siswa untuk aktif di organisasi kesiswaan adalah motivasi dari luar yang diterima siswa, contohnya dari orang tua, teman-teman atau guru. Di SMA Negeri I Turen motivasi tersebut diberikan oleh sekolah kepada siswa yang aktif dalam organisasi kesiswaan dalam bentuk pemberian dukungan  berupa materi dan pemberian fasilitas kepada organisasi itu sendiri demi terlaksananya setiap program-program yang telah disusun, sehingga penggerak dan pelaksana program-program organisasi dalam melaksanakan tugasnya tidak mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti.
Hasil penelitian yang lain menyebutkan bahwa sebagian besar siswa memiliki aktivitas yang cukup tinggi, artinya ada sebagian kecil lagi siswa yang memiliki keaktifan rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan siswa memilih untuk tidak aktif dalam organisasi kesiswaan adalah siswa belum menemukan organisasi yang sesuai dengan bakat dan minat siswa. Banyaknya organisasi kesiswaan di sekolah membuat siswa bingung untuk menentukan pilihannya terhadap salah satu organisasi.
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan pada siswa dengan aktivitas berbeda dalam organisasi kesiswaan di SMA Negeri I Turen.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kematangan tugas perkembangan adalah motivasi yang diberikan dari luar, antara lain adalah pemberian kesempatan yang diberikan lingkungan kepada individu untuk melaksanakan tugas perkembangan tersebut. Kesempatan-kesempatan tersebut juga didapatkan oleh remaja dalam aktivitas keorganisasian.
Remaja dikatakan dapat menerima keadaan jasmaninya apabila di antaranya sudah dapat memimpin diri sendiri dalam semua pemeliharaan kesehatan sehari-hari dan dapat mempergunakan tubuhnya dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Seorang yang aktif dalam organisasi kesiswaan akan lebih banyak menggunakan waktunya untuk kegiatan-kegiatan organisasi daripada kegiatan-kegiatan di luar. Jadi, kemungkinan kecil jika remaja tersebut akan melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat dan merugikan dirinya.
Tujuan tugas perkembangan memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya adalah untuk belajar menjadi dewasa di antara orang dewasa lainnya, belajar bekerja sama dengan orang lain dalam mencapai satu tujuan, menyisihkan perasaan sendiri, belajar memimpin tanpa menguasai. Dalam kehidupan berorganisasi, komunikasi menduduki tempat yang utama. Hal ini disebabkan karena kerja seseorang tak mungkin dapat dilakukan sendiri, namun harus saling berhubungan dalam usaha untuk mencapai tujuan. Jika seorang remaja aktif dalam kegiatan oranisasi kesiswaan, maka mau tidak mau harus belajar teknik-teknik berkomunikasi yang baik agar dapat dengan lancar berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain. Dengan demikian remaja tersebut akan mendapat kesempatan untuk mencapai tujuan tugas perkembangan memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya.
Walaupun era emansipasi telah mulai populer di masyarakat Indonesia, namun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi kesiswaan, tugas dan tanggung jawab pada umumnya diberikan kepada siswa sesuai dengan gender masing-masing. Dalam pementasan teater, yang perempuan berperan sebagai putri dan yang laki-laki berperan sebagai pangeran. Dalam penyelenggaraan pentas seni sekolah, yang perempuan menjadi seksi konsumsi dan yang laki-laki menjadi seksi keamanan. Dari kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang tersebut, seringkali menjadikan seorang siswa perempuan mulai tertarik dengan siswa laki-laki begitu juga sebaliknya. Artinya, dengan aktif dalam organisasi kesiswaan remaja mendapat kesempatan untuk mencapai tujuan dari tugas perkembangan menerima peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin masing-masing.
Tugas perkembangan yang harus dilakukan remaja selanjutnya adalah memperoleh kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Remaja yang aktif dalam organisasi sekolah mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua berupa kepercayaan untuk bisa membagi waktu dan konsentrasi antara kegiatan belajarnya dan kegiatan organisasi. Dari guru dan pihak sekolah, siswa mendapat kepercayaan untuk menyelesaikan program-program organisasi yang diikutinya.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa dalam organisasi pada umumnya didukung oleh sekolah dalam bentuk subsidi dana kegiatan yang jumlahnya terbatas. Dana kegiatan tersebut haruslah dikelola dengan baik agar tetap dapat membantu tercapainya tujuan organisasi. Berarti, siswa yang aktif dalam organisasi kesiswaan memiliki kesempatan untuk melaksanakan tugas perkembangan mencapai kebebasan ekonomi.
Untuk mencapai tujuannya, semua organisasi kesiswaan memiliki aturan dan tata tertib masing-masing yang harus dipatuhi dan dilaksanakan anggotanya. Hukuman dan sanksi telah dipersiapkan bagi anggotanya yang melanggarnya. Dengan demikian siswa yang aktif dalam organisasi kesiswaan juga mendapat kesempatan untuk belajar memperoleh seperangkat nilai hidup dan falsafah hidup.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa aktivitas dalam organisasi kesiswaan berdampak positif bagi kematangan tugas perkembangan remaja. Semakin aktif seorang siswa dalam organisasi kesiswaan akan semakin tinggi tingkat kematangan tugas perkembangannya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1.      Sebagian besar siswa SMA Negeri I Turen mencapai tingkat kematangan tugas perkembangan cukup tinggi.
2.      Sebagian besar siswa SMA Negeri I Turen mencapaai aktivitas cukup tinggi.
3.      Ada perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan pada siswa dengan aktivitas tinggi, cukup dan rendah dalam organisasi kesiswaan di SMA Negeri I Turen. Dilihat dari dua tingkat aktivitas yang dibandingkan, terdapat perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan antara siswa dengan aktivitas tinggi dan siswa dengan aktivitas rendah; dan antara siswa dengan aktivitas cukup dan siswa dengan aktivitas rendah. Namun, tidak ada perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan antara siswa dengan aktivitas tinggi dan siswa dengan aktivitas cukup. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa aktivitas dalam organisasi kesiswaan berdampak bagi kematangan tugas perkembangan remaja.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat diajukan saran-saran yang berkenaan dengan tingkat kematangan tugas perkembangan remaja dan aktifitas siswa.
1.      Bagi Kepala Sekolah
       Hasil penelitian ditemukan bahwa pada umumnya aktivitas siswa SMA Negeri I Turen cukup tinggi, namun demikian mengingat dampak positif yang ditimbulkan aktivitas dalam organisasi kesiswaan terhadap kematangan tugas perkembangan maka disarnkan agar keaktifan tersebut ditingkatkan. Dengan catatan keaktifan tersebut tidak akan mengganggu kegiatan belajar siswa. Kepala sekolah bersama stafnya terutama Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan sebagai pembina Organisasi Kesiswaan di Sekolah diharapkan dapat lebih memotivasi siswa untuk dapat lebih aktif dalam organisasi kesiswaan, memberikan penghargaan terhadap siswa yang berprestasi dalam organisasi adalah beberapa contoh cara yang dapat digunakan untuk menarik minat siswa untuk lebih aktif.
2.      Bagi Konselor
       Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa ada perbedaan tingkat kematangan tugas perkembangan pada siswa dengan aktivitas berbeda dalam organisasi kesiswaan. Temuan ini dapat digunakan konselor sebagai bahan bimbingan pribadi khususnya dengan topik pelaksanaan tugas perkembangan.
       Hasil lain dari penelitian ini ditemukan bahwa sebagian besar siswa memiliki aktivitas yang cukup tinggi, artinya ada sebagian kecil lagi siswa yang memiliki keaktifan rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan siswa memilih untuk tidak aktif dalam organisasi kesiswaan adalah siswa belum menemukan organisasi yang sesuai dengan bakat dan minat siswa. Konselor diharapkan dapat memberikan informasi dan bimbingan yang dapat membantu siswa menemukan organisasi kesiswaan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
3.      Orang Tua
       Dari hasil penelitian diketahui bahwa aktivitas cukup berdampak dalam kematangan tugas perkembangan remaja. Remaja yang aktif memiliki tingkat kematangan tugas perkembangan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa tidak aktif. Hendaknya orang tua dapat lebih memotivasi remaja untuk menggunakan waktu luangnya dengan hal-hal yang positif di organisasi kesiswaan sekolah.



DAFTAR RUJUKAN
Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Garrison, Karl.C. 1958. Psychology of Adolescence. Englewood Cliff, N.J: Prentice Hall
Gunarsa, S.,D., dan Gunarsa, S.Y. 1985. Psikologi Perkembangan anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Hurlock, Elizabeth B. 1990. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Terjemahan oleh Ridwan Sijabat (Eds). Jakarta: Erlangga
Huvighurst, J. Robert. 1984. Perkembangan Manusia dan Pendidikan. Terjemahan oleh Firmansyah. Bandung: Jemmars
Monks,dkk. 1992. Psikologi Perkembangan Dalam Berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University
Sujono, Achmad. 1996. Studi Tentang Pelaksanaan Tugas Perkembangan dan Konsep Diri. IKIP Malang, Skripsi Sarjana Kependidikan, Tidak dipublikasikan. Malang: FIP-IKIP