Selasa, 23 Mei 2017

PERAN PELABUHAN KALIMAS SURABAYA DALAM PERDAGANGAN ANTAR  PULAU   PADA ABAD 16-20 M

Tutiek Ernawati
                                    tutiek.ernawati12@gmail.com,

ABSTRAK: . VOC memiliki hak octroi yang diberikan oleh pemerintah Belanda, salah satunya adalah hak untuk memonopoli perdagangan yang diperolehnya sejak tahun 1606.  Setelah VOC dibubarkan pada akhir tahun 1799, penjajahan di Indonesia diambil alih oleh pemerintah Belanda (1808). Gaya perdagangan warisan VOC tetap berlanjut. Kegiatan perdagangan antar pulau memerlukan sarana dan prasarana berupa pelabuhan. Salah satu tempat yang baik untuk pelabuhan adalah sungai dan salah satu pelabuhan yang merupakan pelabuhan sungai adalah pelabuhan Kalimas Surabaya. Fungsi pelabuhan Kalimas tidak hanya  sebagai  pelabuhan  dagang  intern  kerajaan,  tetapi juga menjadi pelabuhan dagang antar kerajaan, antar wilayah atau antarpulau. Keberadaan pelabuhan ini pada masa kolonial Belanda menjadi pelabuhan yang penting, pelabuhan komoditi utama perdagangan masa itu terutama untuk gula dan tembakau. Pelabuhan sungai Kalimas dalam perkembangannya mengalami pendangkalan dan menyempitan, sehingga hanya perahu-perahu kecil yang bisa masuk, kegiatan bongkar muat barang dari perahu-perahu besar harus dipindahkan dulu ke perahu kecil dan tongkang. Terminal Kalimas yang merupakan pelabuhan rakyat khusus layanan perahu tradisional tetap dipertahankan sebagai salah satu pelabuhan dagang peninggalan sejarah. Keberadaan   pelabuhan  tradisional  ini  tetap  memberikan  kontribusi perekonomian bagi masyarakat hingga sekarang.

Kata Kunci: Kalimas, pelabuhan, antar pulau, perdagangan

  PENDAHULUAN
   Hubungan antarmanusia sudah lama terjalin, tidak terbatas pada manusia dalam satu wilayah/pulau/negara, tetapi juga hubungan manusia antarpulau/antarnegara. Salah satu hubungan tersebut adalah hubungan perdagangan. Perdagangan adalah kegiatan jual beli barang. Adanya kegiatan perdagangan dikarenakan manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan sendiri akan barang. Sebelum manusia mengenal uang sebagai alat pembayaran, kegiatan perdagangan dilakukan dengan cara tukar menukar barang, yang dikenal dengan sistem perdagangan barter. Perdagangan barter terkadang sulit dilakukan jika pemenuhan kebutuhan melibatkan beberapa orang. Setelah manusia mengenal uang sebagai alat pembayaran, kegiatan perdagangan lebih mudah dilakukan
       Masyarakat dunia mengenal dan melakukan kegiatan perdagangan sejak lama, bahkan sejak zaman prasejarah, dimana perdagangan saat itu berkaitan juga dengan migrasi. Zaman prasejarah mengungkapkan migrasi yang merambah di tiga benua, yaitu Asia, Eropa, dan Afrika. Sejak zaman dahulu lalu lintas perdagangan berjalan beriringan dengan migrasi (Van Leur, 2015). Sejalan    dengan    perkembangan    dunia,    perdagangan     juga   terus berkembang, dan sifat perdagangan pada masa berikutnya masih sama dengan perdagangan pada masa awal, yaitu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Jenis barang dagangan juga semakin bervariasi sejalan dengan peningkatan kebutuhan dan perkembangan kemampuan manusia memproduksi barang. Kegiatan perdagangan pun meluas antarbangsa.
         Perdagangan pada masyarakat Indonesia sudah terjadi sejak zaman kuno.  Perdagangan oleh  masyarakat Indonesia saat itu terjadi ketika tidak dapat memenuhi sendiri kebutuhan akan barang yang diperlukan. Perdagangan yang dilakukan tidak terbatas dalam sebuah masyarakat/wilayah saja, tetapi juga perdagangan antarwilayah dan antarpulau. Bahkan masyarakat awal Indonesia sudah melakukan hubungan perdagangan dengan bangsa lain di luar wilayah nusantara. Komoditi dagang beragam, dari wilayah Indonesia Timur adalah rempah-rempah (pala, cengkeh, kayu manis dan sebagainya), sedangkan dari wilayah Indonesia Barat diantaranya beras, jagung, dan lain-lain.Untuk kegiatan perdagangan tersebut tentunya diperlukan sarana. Sarana untuk kegiatan perdagangan antarwilayah adalah perahu sebagai sarana angkutan, dan pelabuhan sebagai sarana perhubungan, tempat bersandar/berlabuhnya kapal dagang, dan sebagai tempat kegiatan perdagangan. Beberapa pelabuhan dagang pada masa kuno masih ada hingga sekarang, salah satu diantaranya adalah pelabuhan Kalimas Surabaya.
        Sejarah perdagangan antarwilayah/antarpulau di Indonesia sangat panjang. oleh karena itu dalam penulisan ini penulis membatasi pembahasan pada perdagangan antar pulau di Indonesia abad 16 sampai dengan abad 20 dan Masalah yang dikaji penulis menekankan peran salah satu pelabuhan dalam kegiatan perdagangan tersebut yaitu pelabuhan Kalimas Surabaya. Jadi dalam tulisan ini saya menekankan peran pelabuhan Kalimas Surabaya dalam perkembangan perdagangan antarpulau di Indonesia abad 16 sampai dengan abad 20 M.

METODE PENELITIAN
            Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau berdasarkan rekonstruksi yang imajinatif (Gottsschalk, 1985:32). Metode sejarah memiliki empat langkah, yaitu (1) Heuristik, (2) kritik, (3) Interpretasi, (4) Historiografi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah Perdagangan Antar Pulau Di Indonesia
Kegiatan perdagangan laut di Indonesia sudah lama dilakukan, baik perdagangan antar pulau di Nusantara maupun perdagangan dengan negri lain, diantaranya dengan India dan Tiongkok.
…. Indonesia ikut dalam perkembangan  perdagangan  melalui djalan ini. Sedjak dahulu kala jang  diperdagangkan   ialah rempah-rempah, jaitu lada dari Sumatera, tjengkih dan buah pala dari Indonesia Timur, berbagai djenis kaju  jang  berharga  (terutama dari pulau2 Nusa Tenggara) serta hasil hutan lainnja, seperti  misalnja   kapur  barus  dari  Sumatera,   berbagai macam burung dn barang nadir lainnja.(Burger : 1962)
  Hubungan dagang yang terjadi antara Indonesia dengan India lebih dahulu berkembang daripada hubungan dagang Indonesia dengan Cina (Van Leur, 2015). Lebih lanjut Van Leur berpendapat bahwa melalui perdagangan, Indonesia terhubung dengan pelabuhan India dan kemudian menjadi kawasan perdagangan bagi Cina (hingga sejauh mana pelayaran Indonesia memiliki peran penting [dalam perdagangan Asia] belum pernah dikemukakan) (Van Leur, 2015).
Namun sejak kapan hubungan perdagangan tersebut mulai berlangsung, para ahli sependapat hal itu sulit  ditentukan.  Hal  itu  dikarenakan  tidak ditemukannya sumber-sumber tertulis dari Indonesia yang memberikan keterangan yang jelas. Sedangkan sumber-sumber dari India lebih pada kitab-kitab, seperti kitab Jataka yang menyebutkan “suvarnnabhumi” (nama untuk menyebut Sumatera), dan kitab Ramayana yang menyebutkan “yawadwipa” (nama untuk menyebut Jawa, meskipun sumber-sumber yang lebih muda banyak menyebut nama itu untuk  pulau Sumatera). Kata Yawa dalam prasasti Canggal (654 Saka/732 M) berarti Jawa. Arti nama-nama yang disebutkan dalam kitab-kitab India tersebut memang belum dapat mengungkap awal mulainya hubungan dagang Indonesia dengan India, tetapi telah memberikan bukti bahwa memang sudah ada hubungan antara Indonesia dengan India. Dalam kitab Geographike karya Claudius Ptolomeus disebutkan nama Iabadiou, pulau jelai. Dalam bahasa Sanskerta Yawa adalah nama untuk menyebut jelai, sedangkan Diou dalam bahasa Sanskerta adalah dwipa dan dalam bahasa Pakrit adalah diwu, yang artinya pulau. Jadi kita bertemu nama Iabadiou adalah Yawadwipa.
Walaupun   identifikasi   berbagai   tempat   yang    disebutkan dalam kitab Ptolomeus masih perlu penelitian lebih lanjut,jelas bahwa pada  masa  keterangan-keterangan  tersebut  dibukukan telah  terdapat  pengetahuan  mengenai  daerah  sebelah  timur India yang sampai di dunia Barat. Hal ini tentu hanya mungkin jika dunia perdagangan pada masa itu yang menjadi sumber keterangan     para     penyusun     Geographike      mempunyai pengetahuan   factual  mengenai  daerah  tersebut.  Ini   berarti bahwa    pada    masa    itu   Indonesia   telah    masuk    dalam jangkauan   perdagangan   “internasional”,   khususnya   dunia perdagangan yang terletak di sebelah baratnya (Poesponegoro & Notosusanto, 2009)
Hubungan perdagangan dengan India terus berlangsung dan semakin intensif. Hubungan dagang tersebut tentunya membawa pengaruh lain berupa budaya India. Diantara pengaruh budaya India adalah agama Hindu, agama Budha dan sistem pemerintahan kerajaan yang bersifat dinasti atau turun temurun. Sehingga muncullah di Indonesia kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Beberapa kerajaan tersebut merupakan kerajaan maritim, yaitu kerajaan dengan salah satu ciri ekonomi masyarakatnya adalah perdagangan laut atau sungai.
 Kegiatan perdagangan terus berlanjut pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha,  baik  perdagangan  yang  dilakukan intern kerajaan maupun perdagangan antar kerajaan dan antar pulau. Banyak terdapat pelabuhan sebagai tempat atau sarana aktivitas perdagangan antar kerajaan dan antar pulau pada masa kuno, baik pelabuhan laut maupun pelabuhan sungai. Kegiatan perdagangan pada masa kerajaan sudah lama ada baik di Sumatera, Jawa maupun pulau lain di nusantara.  Dari abad ke abad banyak terdapat berita tentang perdagangan laut internasional dari Sumatera dan Jawa (Burger, 1962). Lebih lanjut Burger berpendapat :
Di Djawa,  sedjak  abad  ke-9, titik  berat  kesibukan terletak  di Djawa Timur.   Beberapa  keradjaan  ganti-berganti  berkuasa di sini.   Dalam  abad  ke-11,  dibawah  radja  Erlangga,   diadakan persiapanuntuk  keperluan  perdagangan-laut;  aliran-hilir Kali  Brantas  diperbaiki.  ada   pedagang2  bangsa  asing  berdiam   di  Djawa,   seperti   bangsa   Keling,   Drawida,  Singal,  Pegu  dan Kambodja,  djadi orangjang  berasal  dari India-Selatan, Sailan. Birma dan Hindia-Belakang (Burger,1962)
Dari pendapat Burger  tersebut dapat disimpulkan bahwa perdagangan antarpulau di wilayah Nusantara telah terjadi sejak lama, melalui sarana pelabuhan laut maupun sungai.

a.Perdagangan Antarpulau di Indonesia pada Abad 16 - 20 M
 1). Perdagangan antarpulau Indonesia abad 16-18 M
 Perdagangan dunia antara bangsa-bangsa Eropa dengan Asia (dengan komoditi dagang utama dari Asia adalah rempah-rempah) mengalami perubahan setelah salah satu pusat perdagangan internasional yaitu Konstantinopel  jatuh ke tangan Turki (tahun 1453). Turki kemudian melarang orang-orang Eropa berdagang lagi di Konstantinopel. Akibatnya orang-orang Eropa mencari sendiri rempah- rempah ke daerah asalnya di Asia. Penjelajahan samuderapun dimulai, dan semakin lama semakin ramai seiring dengan perkembangan zaman.
            Kedatangan bangsa Eropa ke Asia membawa perubahan pada perdagangan di Asia. D.H. Burger berpendapat bahwa pada sekitar tahun  1500  terjadi   perubahan-perubahan   yang   besar   dalam  dunia perdagangan di Asia sebagai akibat dari kedatangan bangsa Eropa di Asia sesudah penemuan jalan perhubungan laut yang mengelilingi benua Afrika (Burger,1962).  Perubahan tersebut juga terjadi pada kegiatan perdagangan di wilayah Nusantara, yang  pada  masa itu telah   berkembang  kerajaan-kerajaan Islam.    Diantara kerajaan-kerajaan Islam yang dimaksud, terdapat di Sumatera terutama di sepanjang pesisir Malaka dan pesisir barat Sumatera seperti yang diberitakan oleh Tome Pires baik kerajaan besar maupun kecil, yaitu kerajaan Aceh, Biar Lamuri, Pedir, Pirada, Pacee, Batak, Aru, Arkat, Rupat, Siak, Kampar, Tongkal, Indragiri, Capocam, Jambi, Palembang, Sekampung, Tulang Bawang, Andalas, Pariaman, Tico, Fansur, Barus, Singkel, Meulaboh, Daya, Pirim (Pedir?) (Poesponegoro &Notosusanto, 2009).
           Pada masa Islam tersebut, perdagangan maritim di nusantara terus berlangsung sebagaimana pada masa Hindu-Budha. Beberapa kerajaan Islam mengembangkan perdagangan maritim baik melalui laut maupun sungai, baik di Sumatera, Jawa, Maluku dan sebagainya. Perdagangan tersebut tentunya berlangsung juga antar wilayah atau antar pulau. Diantara kerajaan Islam dengan perdagangannya yang maju  yaitu kerajaan Islam Demak di Jawa, dengan pelabuhan dagangnya Gresik dan Tuban. Sebuah kesultanan yaitu Butun yang merupakan wilayah “pengaruh kekuasaan” Ternate, mempunyai peran yang penting dalam pelayaran di Indonesia Timur. Secara geografis Butun menghubungkan jalur pelayaran dari barat ke timur, wilayah rempah-rempahyang ketika abad XVI-XVIII menjadi incaran banyak bangsa di dunia (Poesponegoro & Notosusanto, 2009).
               Kerajaan Islam lain, yaitu kerajaan Aceh (berdiri tahun 1507) yang terletak di ujung utara pulau Sumatera. Letaknya yang berdekatan dengan Selat Malaka yang menjadi pusat perdagangan internasional pada masa itu, membuat kerajaan Aceh tampil sebagai kerajaan Islam yang besar dengan perdagangan sebagai ekonomi utama masyarakatnya.  Setelah Portugis menguasai Malaka (1511 M), terjadi perubahan dalam  jalur perdagangan laut di nusantara. Sebelum itu Makasar hanya disinggahi kapal-kapal untuk mengambil perbekalan dan belum mempunyai perdagangan sendiri tetapi setelah Malaka dikuasai Portugis, banyak pedagang nusantara yang pindah dari Malaka ke tempat-tempat lain, dan diantara mereka ada yang pindah ke Makasar. Dan setelah kedatangan pedagang-pedagang dari Jawa Timur pada awal abad ke-17, maka Makasar kemudian menjadi tempat penimbunan rempah-rempah yang besar dari wilayah Maluku dan sangat diuntungkan karenanya. Dengan demikian terjadi perubahan pada jalur perdagangan nusantara pada masa itu. Keadaan ini tentunya merupakan suatu keuntungan bagi Makasar, seperti pendapat D.H. Burger.
 Namun bagaimanapun yang  mendapat keuntungan yang lebih besar karena pindahnya  perdaganagn  Djawa   adalah  Makasar. Makasar menjadi pusat  perdagangan  rempah2   jang terpenting. Djalan perdagangan   laut yang  terpenting  di  Indonesia  djadi berubah. Dahulu   kapal2  berlajar  dari   Maluku  melalui  Djawa  Timur kearah Selat Malaka dan  sebaliknja. Tetapi setelah  tahun 1625  pelajaran dari Maluku ke Selat Malaka melalui Makasar  (Burger, 1962)
         Sedangkan untuk wilayah Jawa, perdagangan di Jawa masih merupakan perdagangan transito dari Timur ke Barat dan sebaliknya. Banten memiliki barang dagang berupa lada yang dapat diekspor ke luar wilayah Indonesia. Sedang untuk Jawa pada umumnya menghasilkan beras dan bahan makanan lain untuk perdagangannya dengan Maluku, Malaka dan Banten serta kota-kota pelabuhan lain di Indonesia (Burger,1962)
         Berdagang dengan pedagang-pedagang pribumi di wilayah nusantara memberikan keuntungan yang besar bagi bangsa-bangsa Eropa. Oleh karenanya bangsa-bangsa Eropa berusaha untuk memonopoli perdagangan, terlebih Belanda yang bahkan kemudian menguasai nusantara sebagai kolonialis sejak pendirian kongsi dagangnya yaitu VOC tahun 1602. Monopoli perdagangan tersebut  menjadikan  perdagangan  masyarakat  di wilayah-wilayah nusantara tidak sebebas sebelumnya.
         VOC memiliki hak octroi yang diberikan oleh pemerintah Belanda, salah satunya adalah hak untuk memonopoli perdagangan yang diperolehnya pada tahun 1606.  Dengan hak monopoli tersebut membuat VOC bertindak sewenang-wenang dalam melakukan kegiatan perdagangan dengan bangsa Indonesia. Misalnya menguasai pusat perdagangan, menentukan harga sesukanya,  melarang  pedagang   pribumi berdagang dengan  pedagang  asing selain VOC, dan sebagainya. Sebagaimana yang ditulis oleh Susanto Zuhdi bahwa VOC/Belanda dengan terlalu sulit akhirnya menguasai jalur-jalur pelayaran dan artinya laut-laut kini tak lagi diarung secara bebas. Ironisnya pedagang pribumi dianggap sebagai “penyelundup” (shijkhandel) atau “bajak laut” (zeerover). (Zuhdi, 2014). Hal-hal tersebut tentunya membuat bangsa  Indonesia  banyak dirugikan dalam kegiatan  perdagangannya. Pusat-pusat perdagangan di nusantara yang mestinya menjadi tempat bertemu dan tempat berdagang  para pedagang nusantara, banyak dikuasai VOC. Pajak-pajak perdagangan yang diterapkan VOC semakin menambah penderitaan bagi para pedagang pribumi. Dan monopoli itu berlangsung hingga jatuhnya VOC pada akhir abad 18.

 2). Perdaganan antarpulau Indonesia Abad 19-20 M
Setelah VOC dibubarkan pada akhir tahun 1799, penjajahan di Indonesia diambil alih oleh pemerintah Belanda (1808). Gaya perdagangan warisan VOC berlanjut. Monopoli, pajak, penentuan harga sekehendak pemerintah kolonial Belanda, sanksi-sanksi perdagangan, masih mewarnai  kegiatan  perdagangan  di  masa  kolonial  Belanda.  Bahkan politik devide et impera yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda tidak hanya dilakukan dalam bidang politik (kekuasaan) saja,  tetapi juga dalam kegiatan perdagangannya dengan pedagang-pedagang pribumi. Dengan demikian semakin lengkaplah penderitaan pedagang-pedagang pribumi menghadapi para pedagang Belanda.
       Pada masa penjajahan Inggris dengan gubernur Jendralnya Thomas Stanfort Raffless, perdagangan masyarakat di Nusantara mengalami perubahan karena Raffless menerapkan system perdagangan bebas, kecuali perdagangan garam. Meskipun akibat penjajahannya juga menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat jajahan sebagaimana kaum penjajah pada umumnya, namun penerapan perdagangan bebas oleh Gubjend Inggris tersebut membawa warna lain bagi perdagangan rakyat Indonesia. Hal itu juga bagi perdagangan antarwilayah/antarpulau di Indonesia.
         Masa penjajahan kedua pemerintah Kolonial Belanda, ketika diterapkan sistem ekonomi liberal/sistem ekonomi pintu terbuka, dan banyak berdiri pabrik-pabrik, perdagangan di Indonesia tentunya banyak mengalami perubahan. Banyaknya pengusaha asing yang menanamkan modalnya di Indonesia, baik berupa pendirian pabrik maupun pembukaan perkebunan, lebih meramaikan kegiatan perdagangan di wilayah Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, perubahan sIstem ekonomi Kolonial menjadi sistem ekonomi nasional pun dilakukan. Penataan kehidupan ekonomi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dilakukan salah satunya dengan memajukan sektor perdagangan, misalnya dengan melaksanakan sistem ekonomi Gerakan Benteng, yang bertujuan untuk memajukan perdagangan pribumi. Penataan ekonomi saat itu memang tidak secepatnya membawa perubahan ekonomi Indonesia mencapai kestabilan ekonomi, namun dengan pembangunan ekonomi disektor perdagangan (termasuk perdagangan maritim tentunya) menunjukkan upaya pemerintah untuk dapat menguasai perdagangan di negeri sendiri.
        Perdagangan laut masyarakat Indonesia merupakan salah satu faktor pemersatu bangsa, dalam hal ini yang dimaksud adalah integrasi ekonomi. Sebagai negeri yang secara geografis merupakan kepulauan dengan beribu- ribu pulau besar dan kecil, fungsi laut juga menjadi pemersatu. Salah satunya adalah laut Jawa. Laut Jawa sebagai jaringan yang membentuk pola-pola perkembangan pelayaran dan perdagangan antarwilayah yang membentuk integrasi ekonomi nasional Indonenesia (Zuhdi, 2014).  Perdagangan maritim (laut maupun sungai) terus berkembang dan mengalami kemajuan seiring dengan pembangunan yang dilaksanakan di negeri ini.

Peran Pelabuhan Kalimas dalam Perdagangan di Indonesia Pada Abad 16-20 M
         Dalam kegiatan perdagangan antar wilayah/antar pulau, keberadaan pelabuhan sangat diperlukan. Pelabuhan adalah tempat berlabuh/persinggahan kapal-kapal, baik kapal penumpang atau kapal barang. Sebuah pelabuhan harus memiliki kondisi yang strategis dan faktor pendukung yang baik untuk tempat berlabuhnya kapal-kapal. Pelabuhan yang strategis akan mempengaruhi ramai tidaknya pelabuhan tersebut. Semakin strategis pelabuhan maka akan semakin ramai didatangi kapal-kapal, demikian sebaliknya. Sejauh kapal  berlayar,  sekali  kelak  ia  masuk  pelabuhan. Pelabuhan  yang  satu   berbeda  dengan  pelabuhan  yang  lain.  Ramai  tidaknya  pelabuhan   tergantung   dari    berbagai   faktor,   diantaranya    yang    terpenting     adalah    faktor     ekologi.  Pelabuhan   bukan  asal  saja   tempat  berlabuh,  melainkan tempat   kapal   dapat  berlabuh  dengan   aman,  terlindung  dari  ombak   besar,  angin,  dan   arus  yang   kuat     (seperti yang tersirat dalam arti kata harbour, haven, dan lain-lain) (Poesponegoro & Notosusanto, 2009).
        Dalam jaringan lalu lintas laut di sebuah negeri kepulauan seperti Indonesia, fungsi pelabuhan adalah sebagai penghubung antara jalan maritime dan jalan darat (Poesponegoro & Notosusanto, 2009).    Sebuah pelabuhan harus memiliki daya tarik bagi  kapal-kapal  dari luar,  diantaranya ketersediaan  bahan  makanan dan air minum, pasar yang ramai untuk menjual hasil hutan dari pedalaman. Tempat yang baik untuk pelabuhan  adalah  sebuah  sungai, agak jauh  ke  dalam.  Akan  tetapi,  dalam  hal  ini  lebar  sungai  membatasi perkembangan pelabuhan bersangkutan. Oleh karena itu banyak pelabuhan terletak di muara yang agak terbuka, atau-meskipun kurang terlindung-di dalam sebuah teluk (Poesponegoro & Notosusanto, 2009).   
        Salah satu pelabuhan yang merupakan pelabuhan sungai adalah pelabuhan Kalimas Surabaya. Kalimas adalah nama di wilayah utara kali Brantas yang bisa diseberangi untuk menuju ke tengah kota (De Graaff & Stibbe, 1918). Dalam kaitannya dengan penulisan ini maka penulis memfokuskan pada pelabuhan dagang, dan seperti yang sudah penulis uraikan dalam bab pendahuluan, maka pembahasan tentang peran pelabuhan ini penulis fokuskan pada salah satu pelabuhan dagang di Surabaya yaitu pelabuhan Kalimas. Penulis tertarik dengan pelabuhan Kalimas karena merupakan salah satu pelabuhan dagang yang penting sejak masa kerajaan Hindu-Budha, masa Islam, masa kolonial, dan hingga sekarang masih aktif beroperasi.
          Pelabuhan Kalimas merupakan pelabuhan dagang sungai, yaitu sungai Kalimas yang merupakan salah satu cabang dari  sungai  besar yang bernama Brantas. Dalam catatan sejarah, pada masa kerajaan Kadiri, Singosari dan Majapahit, pelabuhan Kalimas menjadi pusat perdagangan kerajaan-kerajaan tersebut. Menurut  D.H. Burger, sejak abad ke-9, pusat kesibukan perdagangan laut di Jawa adalah di Jawa Timur. Ada beberapa kerajaan yang bergantian pernah berkuasa di sini. Dalam abad ke-11 di bawah raja Airlangga, diadakan persiapan untuk keperluan perdagangan laut, untuk itu diadakan perbaikan aliran hilir sungai Brantas.(Marwati Djoned P., Nugroho Notosusanto:2009).   
        Fungsi pelabuhan Kalimas tidak hanya  sebagai  pelabuhan  dagang  intern  kerajaan,  tetapi juga menjadi pelabuhan dagang antar kerajaan, antar wilayah atau antar pulau. Pada masa itu sungai Kalimas dapat dilalui kapal-kapal dagang hingga sampai ke pelabuhan Kalimas di dalam kota Surabaya. Tetapi kapal-kapal dagang itu bukan kapal-kapal besar, melainkan perahu- perahu kecil. “…. Pelabuhan Surabaya pada abad ke-15 demikian pula. Di muara sungai kapal-kapal besar dari Cina menemui kesukaran untuk maju, sebab itu dipakai perahu-perahu kecil yang masih harus menempuh 20 li sebelum tiba di tempat tujuan (Poesponegoro & Notosusanto, 2009).   
         Keberadaan pelabuhan ini pada masa kolonial Belanda menjadi pelabuhan yang penting, pelabuhan komoditi utama perdagangan masa itu terutama untuk gula dan tembakau. Dalam perkembangan di masa kolonial pelabuhan Kalimas tetap menjadi pelabuhan dagang yang ramai, meskipun sempat mengalami sedikit perubahan fungsi. Dulu tahun 1875 yang berlabuh adalah perahu-perahu kecil untuk mengangkut tentara-tentara Belanda (De Graaft & Stibbe, 1918 )
         Pelabuhan sungai Kalimas dalam perkembangannya mengalami pendangkalan dan menyempitan, sehingga hanya perahu-perahu kecil yang bisa masuk, kegiatan bongkar muat barang dari perahu-perahu besar harus dipindahkan dulu ke perahu kecil dan tongkang. Karena kebutuhan akan sarana dan prasarana perdagangan antar wilayah/antar pulau semakin meningkat, sementara fasilitas di pelabuhan Kalimas tidak memadai, maka perlu ada pembangunan fasilitas baru. Oleh   karena   itu  maka  pada  1875  Ir. W.de Jonght berencana membangun pelabuhan di Perak sehingga kegiatan bongkar muat dapat dilakukan secara langsung tanpa menggunakan tongkang dan perahu (Profile Pelabuhan Tanjung Perak: 2016).  Tetapi ternyata rencana Jonght tersebut tidak disetujui karena membutuhkan biaya yang sangat besar.  Rencana pembangunan pelabuhan Tanjung Perak akhirnya terealisasi mulai tahun 1910. Pembangunan pelabuhan tersebut dilaksanakan secara bertahap, terdiri dari 6 lokasi, yaitu terminal Kalimas, terminal Nilam, terminal Jamrud, terminal Mirah, terminal penumpang, pulau Karang Jamuang. Terminal Kalimas dikhususkan melayani kapal-kapal pelayanan rakyat (Pelra) dengan menyediakan layanan untuk transportasi dan perahu layar tradisional. Terminal Nilam sebagai terminal peti kemas pelabuhan Perak yang melayani pelayaran antar pulau dan pelayaran samudra. Terminal Jamrud melayani bongkar muat kargo internasional dan domestik. Terminal Mirah melayani bongkar muat kargo umum.
          Pembangunan pelabuhan modern Tanjung Perak Surabaya sangat mendukung kelancaran pelayaran di wilayah Jawa Timur khususnya dan Indonesia pada umumnya.  Ini juga memperlancar pelayaran perdagangan antar wilayah/antar pulau pada abad 20 bahkan hingga sekarang. Pelabuhan Tanjung Perak mulai mengambil bagian dalam memberikan kontribusi pembangunan ekonomi dalam skala cukup besar dan memiliki peran penting dalam meningkatkan lalu lintas perdagangan baik di Jawa Timur dan seluruh bagian Indonesia Timur (Profile Pelabuhan Tanjung Perak: 2016).  Pengelolaan secara operasional  pelabuhan  ini   ditangani oleh PT. Pelindo III. Bahkan Terminal Kalimas yang merupakan pelabuhan rakyat khusus layanan perahu tradisional tetap dipertahankan sebagai salah satu pelabuhan dagang peninggalan sejarah.
         Keberadaan   pelabuhan  tradisional  ini  tetap  memberikan  kontribusi perekonomian bagi masyarakat hingga sekarang.  Diantaranya bagi perajin perahu, nahkoda kapal, buruh angkut, pedagang-pedagang makanan.  Di tengah kemajuan teknologi dan peradaban, keberadaan sarana/fasilitas memang disesuaikan, namun keberadaan pelabuhan Kalimas yang telah tertoreh dalam perjalanan sejarah bangsa ini masih tetap bertahan. Kemajuan, modernisasi, globalisasi,  tidaklah menghilangkan semua ketradisionalan, karena perjalanan sejarah bangsa ini tidak dimulai dari abad-abad kini tetapi sejak masa lalu, sebagaimana dimensi waktu di dalam sejarah, yaitu masa lalu, masa kini,  dan masa yang akan datang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya.

KESIMPULAN
        Sebagai negeri yang secara geografis berbentuk kepulauan dengan beribu pulau besar dan kecil, laut memegang peran penting dalam kehidupan masyarakatnya.  Tidak terkecuali kegiatan perdagangan. Kegiatan perdagangan laut masyarakat Indonesia sudah dilakukan sejak lampau, baik perdagangan antar wilayah/pulau di dalam negeri maupun perdagangan laut dengan bangsa-bangsa asing.
        Perdagangan laut di Indonesia kemudian mengalami perubahan setelah kedatangan bangsa-bangsa Eropa, karena bangsa-bangsa ini kemudian melakukan monopoli perdagangan dan penindasan kepada para pedagang pribumi, terutama bangsa Belanda. Hal itu tidak hanya membuat perdagangan masyarakat Indonesia menjadi tidak bebas, tetapi juga mengakibatkan penderitaan bagi bangsa Indonesia terutama para pedagang.
Dalam kegiatan perdagangan laut, peran pelabuhan sangat penting. Pelabuhan dagang tidak hanya sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang, tetapi juga sebagai tempat berlindung kapal, mengisi perbekalan dan lain-lain. Untuk itu sebuah pelabuhan harus strategis letaknya, dapat melindungi kapal dari ombak besar, angin dan arus yang kuat ketika kapal berlabuh.
       Pelabuhan dagang tidak selalu pelabuhan laut, tetapi juga pelabuhan sungai. Salah satu pelabuhan dagang sungai yang ada di Jawa Timur adalah pelabuhan sungai Kalimas Surabaya salah satu cabang sungai Brantas. Peran pelabuhan Kalimas Surabaya sudah dimulai sejak masa kerajaan Hindu-Budha, masa Islam, masa kolonial, dan bahkan sampai sekarang. Sebagai pelabuhan dagang tradisional pelabuhan Kalimas dalam perkembangannya mengalami pendangkalan dan penyempitan. Karena kebutuhan akan adanya pelabuhan dagang yang lebih memadai, maka dilakukan pembangunan Pelabuhan Perak pada tahun 1910. Pelabuhan Kalimas menjadi salah satu terminal  dari Pelabuhan Perak yaitu Terminal Kalimas yang khusus melayani kapal-kapal pelayaran rakyat (Pelra) dengan menyediakan layanan untuk transportasi dari perahu layar tradisional. Keberadaan pelabuhan Kalimas (Pelra) hingga kini memberikan kontribusi perekonomian bagi masyarakat, diantaranya perajin perahu, nahkoda kapal, buruh angkut, pedagang-pedagang makanan.

DAFTAR RUJUKAN
Burger, D.H. 1962. Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia. Djakarta: Pradjnaparamita.
De Graff, S., & Stibbe, D.G. 1918. Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie. Leiden:  NVE. J. Brill.
Kasdi, A. 2005. Memahami Sejarah. Surabaya: UNESA University Press.
Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana.
Pires, T. 2015. Suma Oriental. Yogyakarta: Ombak.
Poesponegoro, M.D. & Notosusanto N.  2009. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
Van Leur, J.C. 2015. Perdagangan & Masyarakat Indonesia: Esai-Esai Tentang Sejarah Sosial dan Ekonomi Asia. Yogyakarta: Ombak.
Zuhdi, S. 2014. Nasionalisme, Laut, dan Sejarah. Depok: Komunitas Bambu.
Zuhdi, 2016. Company Profile-Pelindo III Tanjung Perak. Surabaya. Pelabuhan Kalimas/Pelra Surabaya