Senin, 29 Mei 2017

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MELALUI PENUGASAN PROJEC BERTINGKAT

Indah Rahayu Panglipur

Abstrak:Pembelajaran dengan proses yang baik akan berdampak pada hasil belajar. Aktivitas mahasiswa yang baik sangat mendukung kelancaran dan keberhasilan proses pembelajaran. Selain itu pembelajaran yang menarik dan tidak monoton merupakan pilihan yang tepat oleh dosen untuk mendapatkan hasil belajar yang sesuai harapan.  Pada penelitian bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah pengantar pendidikan yang diasumsikan mahasiswa sebagai mata kuliah yang kurang menarik, kurang menantang dan membosankan. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar yang kurang maksimal. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan jenis penelitian metode pre-experiment. Subyek yang diambil adalah mahasiswa semester 3 program studi pendidikan matematika dan mahasiswa program studi pendidikan biologi tahun ajaran 2016/2017sebanyak 15 orang. Instrument yang digunakan antara lain tes, observasi, wawancara. Tes dilaksanakan pada akhir pembelajaran secara individu, observasi aktivitas siswa dan dosen diambil pada saat proses pembelajaran. Dibantu oleh 2 observer. Sedangkan wawancara dilaksanakan pada 2 mahasiswa dengan kriteria nilai tertinggi dan terendah. Hasil tes menunjukkan peningkatan dari 8 orang menjadi  14 orang mahasiswa mencapai nilai diatas 80, sedangkan dari 7 orang menjadi 1orang mahasiswa kurang dari 80. Observasi aktivitas siswa diperoleh hasil bahwa 90% mahasiswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan aktifitas dosen baik dengan melaksanakan seluruh kegiatan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pada pembelajaran penugasan project bertingkat.


     Kata Kunci: Peningkatan, Hasil Belajar, Penugasan Project Bertingkat

PENDAHULUAN
Berkaitan dengan Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang standar penilaian, menyatakan bahwa proyek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks), yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu. Menurut [2] Poedjiati (Sudaryono, 2012 hlm. 89) penugasan proyek dapat melatih dan mengembangkan peserta didik untuk kreatif dalam memilih, merancang, dan memanipulasi alat serta bahan sehingga menjadi produk yang berkaitan dengan topik atau konsep yang sedang dibahas. Maka dari itu melalui penugasan proyek, kemampuan berpikir kreatif siswa dapat terlatih. Menurut  Poedjiati (Sudaryono, 2012 hlm. 89) penugasan proyek dapat melatih dan mengembangkan peserta didik untuk kreatif dalam memilih, merancang, dan memanipulasi alat serta bahan sehingga menjadi produk yang berkaitan dengan topik atau konsep yang sedang dibahas. Maka dari itu melalui penugasan proyek, kemampuan berpikir kreatif siswa dapat terlatih.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh  Antuni W dan Erfan P dengan judul Efektivitas Penerapan Penilaian Proyek (Project Based Assessment) pada Pembelajaran Kimia Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Ketuntasan Belajar Kimia Siswa SMA di Sleman menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar pada kelas yang menggunakan penilaian proyek yaitu sebesar 11.6 %. Hasil penelitian yang dilakukan [4] oleh Afifudin (2013) dengan judul Skripsi Penerapan Model Pembelajaran Fisika Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kemampuan Berpikir kreatif Siswa SMA menyebutkan bahwa penerapan model pembelajaran fisika berbasis proyek dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata skor gain yang dinormalisasi <g> sebesar 0.5 dengan kategori sedang. Strategi penugasan proyek merupakan kegiatan pembelajaran yang disertai dengan penugasan yang harus diselesaikan dalam periode/ waktu tertentu. Tugas tersebut berupa kemampuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penyajian suatu proyek [5] (Arifin, 2013). Keterlaksanaan strategi penugasan proyek diamati oleh beberapa observer dengan menggunakan lembar observasi, yaitu lembar keterlaksaanan pembelajaran dengan penugasan proyek oleh guru dan siswa.
Mahasiswa semester 3 tahun ajaran 2016/2017 di fakultas MIPA (prodi biologi dan matematika) mempunyai kemampuan berpikir nalar yang baik, tetapi belum menunjukan hasil belajar yang baik pada semua mahasiswa secara merata. Dalam hal ini terdapat beberapa kemungkinan diantaranya kurangnya kesempatan mahasiswa dalam menunjukkan potensinya untuk dinilai pada unjuk kerja hasil tugasnya, terbatasnya pengetahuan yang dimiliki dosen hanya terpacu pada materi sesuai silabus sehingga kurang berkembang berdampak pada materi  yang diperoleh oleh mahasiswajuga terbatas dan membatasi pola berfikir mahasiswa. Oleh karena itu sangatlah penting memberikan kesempatan dengan penugasan secara bertingkat pada mahasiswa sesuai dengan capaian kemampuan yang dimiliki hal ini bertujuan untuk dapat melihat seberapa dan pada tahapan mana kemampuan mahasiswa secara individu maupun kerja kelompok(tim). Penugasan project bertingkat meruapak pengembangan dari pembelajaran pembelajaran project namun bedanya terdapat padatahapan penugasan. Secara lengkap langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut. Mahasiswa dibagi dalam kelompok dengan tugas masing-masing kelompok berbeda materi. Pada awal penugasan merupakan level 1 yaitu berisi tugas pada masing-masing materi dengan tingkatan yang termudah dan mendasar. Setelah tuntas menyelesaikan level 1 kemudian kelompok tersebut naik ke level 2 dengan tingkatan materi kesulitan materi lebih tinggi, begitu seterusnya hingga level tertentu yang ditetapkan oleh dosen. Setiap kelompok yang selesai mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan dinilai telah tuntas oleh dosen maka boleh melanjutkan pada tingkatan level berikutnya, namun apabila kelompok tersebut setelah presentasi dosen menilai masih belum tuntas hasilnya maka kelompok tersebut belum bias naik tingkat harus memperbaiki pekerjaanya kembali dan mempresentasikan lagi demikian seterusnya.
Dari kegiatan tersebut dapat diamati kelompok mana yang berhasil mencapai tingkatan tertinggi levelnya terlebih dahulu maka dapat diartikan kelompok tersebut berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Selain itu dosen juga dapat mempebrikan penilaian kinerja secara individu sebagai nilai pendukung.



METODE PENELITIAN

Menurut [Sugiyono (2013: 6) metode penelitian pendidikan dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pre-experiment karena masih ada kemungkinan variabel lain berpengaruh terhadap variabel yang sedang di teliti. Desain dari penelitian ini adalah one group pretest-post test design, sampel diberi pre test kemudian diberi perlakuan berupa pembelajran mengunakan strategi penugasan proyek dan akhirnya sampel diberi post test dan tes kemampuan berpikir kreatif siswa. Skema desain penelitian ini di gambarkan dalam bentuk gambar.


 






Gambar 1. Skema desain penelitian

 Keterangan :
O1  = Pre Test
X   = Pembelajaran dengan strategi penugasan proyek
O2  = Post Test
O3  = observasi aktivitas

Menurut Sugiyono (2012: 117) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswa program studi matematika dan biologi IKIP PGRI Jember. Sedangkan sampelnya adalah mahasiswa semester 3 program studi pendidikan matematika dan mahasiswa program studi pendidikan biologi IKIP PGRI Jember tahun ajaran 2016/2017sebanyak 15 orang. Sampel diambil secara simple random sampling yaitu pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
Instrument yang digunakan dalam mengambil data berupa soal tes dan lembar observasi aktivitas dosen dan mahasiswa. Soal tes diberikan untuk dapat mengukur kemampuan mahasiswa setelah proses pembelajaran, sedangkan lembar observasi digunakan untuk melihat aktivitas dosen dan mahasiswa pada saat proses pembelajaran dikelas. Peneliti dibantu oleh 2 observer dalam melakukan observasi.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembelajaran dimulai dengan pemberian pre-test. Selanjutnya dalam kegiatan pembelajaran mahasiswa dikelompokan dalam 5 kelompok dengan anggota masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang. Dalam mengikuti pembelajaran kelompok tercepat dalam menuntaskan tugasnya adalah kelompok 1,2,dan 4. Sedangkan kelompok lainnya terlambat dalam 2 level dan 1 level. Namun dapat menyelesaikan tugasnya 1 minggu kemudian.
Hasil dari penelitian menujukkan adanya peningkatan jumlah mahasiswa yang mencapai nilai lebih dari 80. Pada awal tes/pre-tes mahasiswa sejumlah 8 orang mendapatkan hasil lebih dari sama dengan 80, sedangkan yang yang kurang dari itu sejumlah 7 mahasiswa. Setelah dilakukan pembelajaran maka post-tes diberikan dengan hasil 14 mahasiswa mencapai nilai lebih dari sama dengan 80 sisanya 1 orang kurang dari 80. Terjadi peningkatan  hasil belajar. Sedangkan untuk aktivitas mahasiswa 90% dalam kategori aktif dan dosen dengan baik melakukan kegiatan pembelajaran. Sedangkan hasil wawancara dilakukan pada mahasiswa dengna nilai tertinggi adalah pembelajaran tidak membosankan, materi yang diterima lebih luas, mahasiswa diberi keleluasaan dalam mengelola materi, dan sangat senang sekali. Sedangkan mahasiswa dengan nilai terendah menyampaikan bahwa terhambat proses pembelajaran karena sedang sakit sehingga 2 minggu tidak mengikuti pembelajaran dampaknya merasa tertinggal materi dan kesulitan dalam penyesuain materi. Secara keseluruhan dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa pembelajaran berjalan dengan baik dan mahasiswaa sangat senang dan aktif dalam mengikuti proses pembelajara.

SIMPULAN
Berdasarkan kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat disimpilkan sebagai berikut.
Hasil belajar mahasiswa meningkat dari hasil tes yaitu  8 orang menjadi  14 orang mahasiswa mencapai nilai diatas 80, sedangkan dari 7 orang menjadi 1orang mahasiswa kurang dari 80. Observasi aktivitas siswa diperoleh hasil bahwa 90% mahasiswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan aktifitas dosen baik dengan melaksanakan seluruh kegiatan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pada pembelajaran penugasan project bertingkat. Pembelajaran perungasan project secara keseluruhan dalam pelaksanaannya sangat membantu mahasiswa dan dapat meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa di kelas.

SARAN
Menindaklanjuti dari kegiatan penelitian ini terdapat beberapa saran yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.
1.      untuk penelitian selanjutnya harus mempersiapkan lebih cermat kembali materi tiap level sehingga benar-benar setara tingkat kesulitannya pada setiap kelompoknya.
2.      Pada proses pembelajaran lebih dikelola kembali pengolahan penggunaan waktu dalam setiap presentsi sehingga dapat diatur lebih tertib, tidak terjadi keterlambatan presentasi karena biasanya terjadi diskusi yang melebar dan tidak ada batasan waktunya
DAFTAR  RUJUKAN

[Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2013) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan.
 Sudaryono. (2012). Teknik dan Prosedur Evaluasi. Jakarta: Gaung Persada.

Wiyarsi, Antuni. dan Efan Priyambodo. (2011). Efektivitas Penerapan Penilaian Proyek (Project Based Assessment) pada Pembelajaran Kimia Terhadap
Afifudin. (2013) Penerapan Model Pembelajaran Fisika Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SMA. (Skripsi).

Arifin, Z. (2013). Evaluasi Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosda Karya.

 Sugiyono. (2013). Metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D). Bandung. Alfabeta.

T. Lubis, dkk (2015).  Penerapan Strategi Penugasan Proyek Untuk Mengetahui Peningkatan Penguasaan Konsep Dan Profil Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Smp.
 Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia