Selasa, 23 Mei 2017

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “PENGUKURAN WAKTU” MELALUI METODE DEMONSTRASI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA SISWA KELAS V SD NEGERI PETUNG 02

 Sri Muji Utami 

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran Waktu” Melalui Metode Demonstrasi Dengan Menggunakan Alat Peraga Siswa Kelas V SD Negeri Petung 02. Rancangan penelitian ini adalah PTK. Langkahnya perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian:  Penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan persentase ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal, yaitu pada siklus I ketuntasan klasikal menjadi 79% dan pada siklus II meningkat menjadi 89.%, sehingga mememenuhi standar ketuntasan yang dipersyaratkan.

Kata Kunci:  Hasil Belajar,  Metode Demonstrasi,  Alat Peraga


Kata Kunci:  Metode Demonstrasi, Hasil  Belajar

PENDAHULUAN
Pada dasarnya anak belajar melalui benda/objek konkret. Untuk memahami konsep abstrak, anak-anak memerlukan benda-benda konkret sebagai perantara atau visualisasinya. Konsep abstrak itu dicapai melalui tingkat-tingkat belajar yang berbeda-beda. Bahkan orang dewasa pun yang pada umumnya sudah dapat memahami konsep abstrak, pada keadaan tertentu sering memerlukan visualisasi. Belajar anak akan dapat meningkat bila ada motivasi. Karena itu dalam pengajaran diperlukan faktor-faktor yang dapat memotivasi anak untuk belajar, bahkan untuk pengajar. Misalnya : pengajaran supaya menarik, dapat menimbulkan minat, sikap guru dan penilaian baik, suasana sekolah menyenangkan, ada imbalan bagi guru yang baik, dan lain-lain.
Selanjutnya konsep abstrak yang baru dipahami siswa itu akan melekat dan tahan lama bila siswa belajar melalui perbuatan dan dapat dimengerti, bukan hanya mengingat fakta. Karena itulah dalam pembelajaran kita sering menggunakan alat peraga. Dengan menggunakan alat peraga maka:
-      Proses belajar mengajar termotivasi. Baik siswa maupun guru, dan terutama siswa, minatnya akan timbul. Ia akan senang, terangsang, tertarik dan karena itu akan bersikap positif terhadap pengajaran matematika.
-      Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk konkret dan karena itu dapat dipahami dan dimengerti, dapat ditanamkan pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.
-      Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dapat dipahami.
-      Konsep-konsep abstrak yang tersajikan dalam bentuk konkret, yaitu dalam bentuk model matematik yang dapat dipakai sebagai objek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi baru bertambah banyak. (Suherman, 2003:7).
Sesuai dengan eksistensinya di sekolah, tugas utama seorang guru adalah mengajar sehingga setiap akan mengajar seseorang guru harus mempersiapkan suatu cara bagaimana agar materi yang diajarkan kepada siswa itu dapat diterima serta dapat dipahami dengan mudah. Begitu pula halnya dalam proses belajar mengajar peranan guru dalam memilih metode mana yang akan digunakan sangatlah penting. Hal ini disebabkan karena tugas utama guru adalah menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dengan harapan siswa dapat menerima dan memahami bahan pelajaran dengan mudah. Mengingat bahwa metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan, maka makin baik metode itu makin efektif pula pencapaian tujuan. Sehingga dapat dikatakan bahwa apabila guru tepat dalam memilih metode mengajar dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur, diharapkan siswa dapat menerima dan memahami dengan baik apa yang diajarkan oleh guru.
Melihat realita di atas maka guru harus dapat melaksanakan perbaikan sistem pembelajaran. Selama ini pembelajaran yang dilaksanakan tanpa menggunakan alat peraga kurang menarik perhatian siswa, sehingga menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa. Pembelajaran dengan metode ceramah membuat siswa kurang tertarik pada materi yang disampaikan guru, siswa cenderung pasif dan kurang serius dalam proses pembelajaran sehingga materi yang disampaikan oleh guru tidak tertanam dalam benak siswa (Suyitno, 2004:2). Selain itu dari berbagai sumber dijelaskan bahwa cara pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan minat belajar siswa sehingga diharapkan prestasi belajar dapat memuaskan.
Metode demonstrasi adalah suatu strategi pengembangan dengan cara memberikan pengalaman belajar melalui perbuatan melihat dan mendengarkan diikuti dengan  meniru pekerjaan yang didemonstrasikan.Menurut Syaiful Bahri Djamarah, metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Metode demonstrasi merupakan suatu sumber metode mengajar dimana seorang guru, orang luar atau manusia sumber yang sengaja diminta atau anak menunjukkan kepada kelas suatu benda aslinya, tiruan (wakil dari benda asli) atau suatu proses, misalnya bagaimana membuat peta timbul, bagaimana cata menggunakan kamera dengan hasil yang baik dan sebagainya.

Tujuan dan Manfaat Metode Demonstrasi
1) Manfaat Metode Demonstrasi
Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi secara umum adalah :
a.                   Perhatian anak dapat lebih dipusatkan
b.      Proses belajar anak lebih terarah pada materi yang sedang dipelahari.
c.      Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri anak
Di samping itu, metode demonstrasi memiliki 2 fungsi, yaitu :
-      Dapat dipergunakan untuk memberikan ilustrasi dalam menjelaskan informasi kepada anak.
-      Membantu meningkatkan daya pikir  anak usia dini terutama daya pikir dalam anak dalam meningkatkan kemampuan mengenal, mengingat, berpikir konvergen dan berpikir evaluatif.
-      Metode demonstrasi memberikan kesempatan kepada anak untuk memperkirakan apa yang akan terjadi, bagaimana hal itu dapat terjadi, dan mengapa hal itu terjadi.
Penelitian Tindakan Kelas adalah salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan karena hasil belajar matematika  siswa kelas V masih rendah, khususnya pada materi ajar “Pengukuran Waktu”. Dengan penerapan metode demonstrasi Dengan Menggunakan Alat Peraga diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam memepelajari mata pelajaran matematika yang selama ini masih dianggap sulit.

Rumusan  Masalah
Selanjutnya rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah : Apakah Ada Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran Waktu” Melalui Metode Demonstrasi Dengan Menggunakan Alat Peraga Siswa Kelas V SD Negeri Petung 02?

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang : Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran Waktu” Melalui Metode Demonstrasi Dengan Menggunakan Alat Peraga Siswa Kelas V SD Negeri Petung 02.

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil dari Penelitian Tindakan Kelas ini, diharapkan dapat bermanfaat : a) Bagi siswa, penelitian ini membuat siswa lebih mudah dalam memahami materi yang diajarkan, b) Bagi Guru, dapat dijadikan bahan pengembangan untuk penelitian lebih lanjut, sehingga bisa meningkatkan hasil belajar, memberikan pengalaman dalam mengembangkan pengetahuan tentang disiplin ilmu yang ditekuni, c) Bagi sekolah, sebagai informasi dalam pembelajaran dan alterntif metode mengajar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

Definisi Operasional
               Untuk menghindari salah tafsir tentang judul penelitian maka perlu batasan operasional sebagai berikut :
a)      Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.
b)      Alat peraga adalah benda atau alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Alat peraga adalah seperangkat benda kongkret yang dirancang, dibuat atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam pembelajaran (Djoko Iswadji, 2003).
c)      Hasil belajar Matematika siswa adalah kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal ujian setelah mengikuti pembelajaran Matematika melalui penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga  yang dilihat dari nilai hasil post-test.
d)     Ketuntasan hasil belajar adalah penguasaan penuh dari peserta didik terhadap bahan yang telah diajarkan. Untuk mengetahui sampai sejauh mana proses belajar mengajar mencapai ketuntasan hasil belajar maka perlu dilakukan tes hasil belajar (Arikunto, 2002: 228).
            Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
1)   Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skormaksimal 100.
2)   Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

METODE PENELITIAN

Tempat  dan Subyek  Penelitian

            Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan  di Kelas V SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.  Yang menjadi subyek dan sekaligus menjadi obyek dalam Peneletian Tindakan Kelas ini adalah seluruh siswa Kelas V SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember yang berjumlah sebanyak 28 siswa.
Berdasarkan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Arikunto (2008:3) ”Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan.” Sedangkan Suhardjono (2008:58) menyatakan bahwa “PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran.” 
Jadi Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah.
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Hopkins dalam “Yaitu berbentuk kegiatan berulang dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (perencanaan), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi”.
Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya dengan tujuan untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Dalam penelitian ini dilaksanakan selama tiga siklus, karena dengan tindakan dalam tiga siklus, yaitu siklus Kondisi Awal, siklus I dan siklus II, sudah dapat dilihat peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran matematika materi ajar “Pengukuran Waktu”

Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini model yang digunakan yaitu model spiral. Seperti yang dikemukakan oleh Hopkins. Jenis masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah efektivitas pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga.

Prosedur Penelitian Penelitian
Pada prosedur penelitian ini  dikemukakan oleh Suhardjono (2008:74) yang mempunyai 4 tahapan, yaitu :
a)      Perencanaan (Planning)
b)      Pelaksanaan (Action)
c)      Pengamatan (Observing)
d)      Refleksi (Reflecting)

Menyusun Rencana Tindakan (Planning)
Rancangan kegiatan penelitian ini terdiri dari 3 siklus yang terdiri dari  Pra Tindakan, siklus I dan siklus II dengan rincian sebagai berikut:
1)      Pra Tindakan
Pembelajaran dilakukan dengan model pembelajaran konvensional. Metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran belum diterapkan. Pada akhir siklus ini peneliti melakukan evaluasi dengan memberikan tes siklus pra tindakan untuk melihat hasil belajar siswa.
2)      Siklus I
Pada siklus I ini peneliti mulai menerapkan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga pada materi ajar “Pengukuran Waktu” dalam proses pembelajaran. Dalam observasi dan evaluasi akan dilakukan refleksi untuk melihat kelemahan pada siklus pertama ini, sehingga pada siklus berikutnya akan dilakukan tindakan yang dapat memperbaiki kelemahan pada siklus ini agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.
3)      Siklus II
Pada siklus II ini peneliti menerapkan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran. Dalam observasi dan evaluasi akan dilakukan refleksi untuk melihat kelemahan pada siklus kedua ini, apabila pada siklus II ini peneliti belum merasa puas dengan hasil yang dicapai maka peneliti dapat melanjutkan pada siklus berikutnya. Namun, apabila peneliti telah
merasa puas dengan hasil yang dicapai maka penelitian boleh dihentikan.

Pelaksanaan Tindakan (Action)
a)    Pra Tindakan
Pembelajaran yang dilakukan adalah pembelajaran konvensional. metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga belum diterapkan pada siklus ini. Tahapan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
-     Peneliti yang juga sebagai guru membuka pelajaran dengan memberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa.
-     Peneliti menyampaikan topik bahasan dan tujuan pembelajaran
-     Peneliti menjelaskan materi di depan kelas secara keseluruhan.
-     Peneliti memberikan beberapa contoh soal.
-     Peneliti memberikan latihan.
-     Peneliti memberikan tes akhir dengan soal berbentuk essay.
-     Merefleksikan perbaikan proses pembelajaran.
b). Siklus I
-     Peneliti menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut.
-     Peneliti mengelompokan siswa menjadi 5 kelompok (5-6 orang)/ kelompok, dan siswa yang pandai disebar pada tiap kelompok. Dalam diskusi kelompok tersebut diharapkan semua siswa aktif
-     Peneliti meminta siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengerjakan soal dan Peneliti memberikan bimbingan.
-     Peneliti memantau jalannya diskusi dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kesulitan.
-     Peneliti meminta perwakilan dari kelompok yang representatif yang mewakili variasi jawaban untuk menuliskan jawabannya di papan tulis, selanjutnya mendiskusikan hasil pekerjaan siswa tersebut secara bersama-sama.
-     Peneliti mencatat beberapa respon dari masing-masing kelompok.
-     Peneliti dan siswa membahas hasil jawaban yang diberikan siswa , jika ternyata jawaban siswa (kelompok) tidak ada yang benar, maka dengan tanya jawab Peneliti mengarahkan siswa (kelompok) sampai ditemukan jawaban yang benar.
-     Peneliti dan siswa memberikan suatu kesimpulan dari permasalahan yang diberikan.
-     Peneliti memberikan latihan soal, kemudian meminta siswa sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya.
-     Peneliti mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman pembelajaran.
-     Peneliti memberikan tes akhir untuk siklus I
-     Merefleksikan kegiatan pembelajaran
c)  Siklus II
-     Dengan metode tanya jawab Peneliti mengingatkan kembali tentang materi yang telah diberikan.
-     Peneliti mengelompokan siswa menjadi 5 kelompok (5-6 orang/ kelompok), dan siswa yang pandai disebar pada tiap kelompok.
-     Peneliti meminta siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengerjakan soal dan Peneliti memberikan bimbingan jika diperlukan.
-     Peneliti memantau jalannya diskusi dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kesulitan.
-     Peneliti meminta perwakilan dari kelompok yang representatif yang mewakili variasi jawaban untuk menuliskan jawabannya di papan tulis, selanjutnya mendiskusikan hasil pekerjaan siswa tersebut secara bersama-sama.
-     Peneliti mencatat beberapa respon dari masing-masing kelompok.
-     Peneliti dan siswa membahas hasil jawaban yang diberikan siswa . Jika ternyata jawaban siswa (kelompok) tidak ada yang benar, maka dengan tanya jawab Peneliti mengarahkan siswa (kelompok) sampai ditemukan jawaban yang benar.
-     Peneliti dan siswa memberikan suatu kesimpulan dari permasalahan yang    diberikan.
-     Peneliti memberikan latihan soal, kemudian meminta siswa sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya.
-     Peneliti mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman pembelajaran.
-     Peneliti memberikan tes akhir untuk siklus II
-     Merefleksikan kegiatan pembelajaran.


Pengamatan (Observing)
Kegiatan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga. Kegiatan yang diamati adalah hasil belajar siswa yang dilakukan pada akhir siklus dengan memberikan tes tertulis dalam bentuk tes objektif. Hasil pengamatan ini dicatat untuk dikembangkan pada siklus berikutnya.  Apabila peneliti telah cukup merasa puas dengan hasil belajar yang diperoleh siswa maka penelitian dapat dihentikan.

Refleksi (Reflecting)
-     Pada langkah Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan, kemudian hasil refleksi dari pengamatan disusun rencana tindakan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
-     Agar dapat menarik kesimpulan mengenai data yang diperoleh, maka peneliti melakukan evaluasi guna mengetahui hal-hal yang dirasakan sudah memuaskan dan secara cermat mencari hal-hal yang perlu diperbaiki berdasarkan analisis peneliti sehingga dapat ditarik kesimpulan apakah terdapat atau tidak peningkatan hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga.

 Instrumen Penelitian
 Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk tes. Menurut Suharsimi Arikunto (2008:29) bahwa “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.” Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep matematika pada standar kompetensi  “Pengukuran Waktu”. Dalam penelitian ini tes diberikan dalam bentuk tes formatif yang diberikan setiap akhir siklus. Bentuk soal tes adalah pilihan ganda (objektif). Untuk mendapatkan tes yang benar-benar valid, reliabilitas yang tinggi serta memperhatikan tingkat kesukaran dan daya beda soal .

Teknik Analisa data
Analisis data merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif.
Analisis data kualitatif dalam penelitian ini adalah analisis data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi. Sedangkan analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar apakah sesuai dengan yang hendak dicapai (efektif) atau tidak.
Dimana presentase ketuntasan belajar siswa dirumuskan dengan:
  1. Ketuntasan Secara Individual
P = n x 100%
                 N
Keterangan:
P           = Persentase ketuntasan hasil belajar siswa
n           = Skor yang diperoleh siswa
N          = Skor maksimum dalam tes
2.    Ketuntasan secara Klasikal
          Rumus Persentase Ketuntasan  =  Jumlah Siswa Tuntas  x100%
                                                                      Jumlah Seluruh Siswa
(Depdikbud, 1994:22)
Data yang dipresentasikan kemudian ditafsirkan menggunakan kalimat yang bersifat kualitatif untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian dari masing­-masing data yang diperoleh, adapun target pencapaian tujuan.
Untuk mengetahui efektivitas hasil belajar Matematika materi ajar “Pengukuran Waktu”  maka digunakan rumus sebagai berikut:
ER = A4v XY  x100
MY
Keterangan
ER             Tingkat keefektivan relatif
Mx      Nilai rata-rata kelas setelat, dilaksanakan tindakan
My      Nilat rata-rata kelas sebelum dilaksanakan tindakan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Metode pembelajaran yang sering digunakan guru dalam proses belajar mengajar, khususnya pada mata pelajaran matematika di Kelas V SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember  adalah menggunakan metode ceramah, tugas dan tanya jawab. Suasana yang kurang kondusif ditunjukkan pada siswa yang kurang merespon stimulus dari guru dan enggan terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kepasifan siswa tersebut menyebabkan guru sulit mengetahui apakah siswa sudah paham atau tidak terhadap materi yang telah disampaikan. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar mengajar di kelas V guru dengan siswa belum menampakkan interaksi yang aktif secara menyeluruh antara guru dengan siswa.
Sikap yang tidak memperhatikan pelajaran ditunjukkan dengan tingkah laku siswa seperti saling berbicara sendiri, melakukan aktivitas lain selain belajar. Pasif jika ada pertanyaan dari guru, ketidaksiapan siswa dalam belajar serta kelesuan belajar. Hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika materi ajar “Pengukuran Waktu” masih rendah dan secara klasikal masih belum mencapai ketuntasan, yaitu dari 28 siswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya 16 siswa atau hanya sebesar 57%, dan siswa yang belum tuntas masih sebanyak 12 siswa atau sebesar 43%.
Berdasarkan hasil interview, metode pembelajaran yang biasa digunakan yaitu metode ceramah seringkali membuat siswa kurang paham akan materi yang dijelaskan oleh guru karena guru terlalu cepat dalam menerangkan materi yang dibahas. Suasana kelas pun seringkali nampak tegang sehingga berpengaruh terhadap daya serap siswa dalam menerima pelajaranHasil analisa data yang dilaksanakan pada pra tindakan tersebut di atas, lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini ,
Tabel 1 : Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran Waktu” Siswa Kelas V SD Negeri Petung 02 pada Pra Tindakan
Skor
Jumlah Siswa
Persentase (%)
< 65
12
43 %
65 – 100
16
57 %
Jumlah
28
100 %
Sumber: Data yang diolah

Nilai tersebut diatas sebagai titik awal dari pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas.
Selanjutnya dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga, pada siklus I dengan tahap-tahap yang akan dijelaskan pada bab Pembahasan. Namun hasil belajar pada siklus I dapat dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2 : Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran Waktu” Siswa Kelas V SD Negeri Petung 02 pada Siklus I
Skor
Jumlah Siswa
Persentase (%)
< 65
6
21 %
65 – 100
22
79 %
Jumlah
28
100 %
Dari tabel 2 di atas dapat diketahui, bahwa penerapan metode demonstrasi  dengan menggunakan alat peraga berhasil meningkatkan hasil belajar matematika siswa, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 Siswa atau sebesar 21% dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 22 siswa atau sebesar 79%.
            Namun meskipun hasil belajar pada siklus I sudah terjadi peningkatan, secara klasikal masih belum dinyatakan tuntas secara klasikal, karena siswa yang mencapai ketuntasan baru 79% dari seluruh jumlah siswa. Untuk itu peneliti melanjutkan penelitian dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Peerbaikan pembelajaran ini dilaksanakan pada siklus II, dengan hasil evaluasi sebagaimana yang disajikan pada tabel 3 sebagai berikut,
Tabel 3 : Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran Waktu” Siswa Kelas V SD Negeri Petung 02 pada Siklus II
Skor
Jumlah Siswa
Persentase (%)
< 65
3
11 %
65 – 100
25
89 %
Jumlah
28
100 %
Dari tabel 3 di atas dapat diketahui hasil belajar matematika materi ajar “Pengukuran Waktu”  siswa kelas V SD Negeri Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014 pada siklus II telah mencapai target, karena hasil belajar siswa secara klasikal sudah dinyatakan tuntas, yaitu yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3 siswa atau hanya sebesar 11% dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 25 Siswa atau sebesar 89%. Karena target ketuntasan hasil belajar matematika pada siklus II sudah tercapai, maka tidak perlu diadakan analisis berikutnya dan penelitian dihentikan pada siklus II.
          Untuk mengetahui perbandingan ketuntasan belajar Pra Tindakan, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4 sebagai berikut :
Tabel 4 : Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran Waktu” Siswa Kelas V SD Negeri Petung 02 pada Pra Tindakan, Siklus I, Dan Siklus II
Kriteria Nilai
Pra Tindakan
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
12
43%
6
21%
3
11%
65 - 100
16
57%
22
22%
25
89%
Jumlah
28
100%
28
100%
28
100%
Sumber : data yang diolah

Tabel 4 diatas dapat juga disajikan dengan garfik sebagai berikut,

Grafik 1 : Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran Waktu” Siswa Kelas V SD Negeri Petung 02 pada Pra Tindakan, Siklus I, Dan Siklus II

Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Pengambilan data diawali dengan pengambilan nilai, dalam hal ini hanya diperoleh nilai ulangan harian saja. Berdasarkan rata-rata hasil belajar pada Pra Tindakan, tergolong rendah sehingga perlu diadakan tindakan untuk perbaikan proses belajar mengajar. Rendahnya nilai rata-rata kelas juga menjadi salah satu syarat pelaksanaan penelitian tindakan kelas, hal ini juga mendasari pemilihan responder penelitian. Salah satu yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dimana pengajar lebih merupakan subyek dalam pembelajaran sedangkan Siswa hanya sebagai obyek penerima materi.  Dengan kondisi pembelajaran yang demikian maka peneliti yang juga sebagai guru mata pelajaran matematika di kelas V mengadakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar dengan menerapkan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga pada materi ajar “Pengukuran Waktu”.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti sebelum pelaksanaan tindakan diketahui secara umum proses belajar mengajar di kelas V berlangsung cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari beberapa komponen yang terlibat dalam proses belajar mengajar yaitu guru, siswa dan fasilitas yang ada di kelas V.
Namun pada siklus I, tampak terlihat kondisi pembelajaran semakin kondusif dan siswa terlihar lebih antusias serta bersemangat dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dengan metode demonstrasi dan alat peraga, peneliti menjelaskan materi ajar “Pengukuran Waktu”  secara singkat dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.Selanjutnya secara kelompok, mengamati percobaan dengan membuat jam mainan. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan secara individual, siswa menyimpulkan hasil diskusi dan percobaan/demonstrasi yang dilaksanakan, yaitu menentukan tanda waktu dengan notasi 24 jam sesuai masalah yang ada pada buku paket.
        Dari hasil observasi yang dilakukan pada siklus diperoleh data, hasil belajar melalui penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga meningkat, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 21% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 79%.
Sedangkan pada siklus II, data pencapaian target sangat memuaskan karena ketuntasan belajar secara klasikal dikatakan tuntas , yaitu yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3 siswa atau sebesar 11% dan yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 25 siswa atau menjadi sebesar 89%.
Bentuk soal yang diberikan pada ulangan harian adalah bentuk essay, bentuk dan isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai. Adapun tugas yang diberikan dapat berupa masalah yang harus dipecahkan, pemberian tugas ini dilakukan agar Siswa secara individu atau kelompok kecil dapat mengerjakan sesuatu untuk memecahkan masalah dengan cara sendiri.
Peningkatan prestasi belajar siswa dapat kita pahami searah dengan pandapat Menurut Novak (1981: 3), pemetaan konsep adalah suatu proses yang melibatkan identifikasi konsep-konsep yang lebih spesifik. Selanjutnya Novak dan dapat digunakan sebagai alas untuk menilai belajar bermakna. Kemudian juga menjelaskan bahwa peta heuristik konsep menilai pembelajaran terhadap pengenalan konsep dan informasi lain-lain tentang sifat-sifat objek atau proses ke dalam suatu kebermaknaan.
Penggunaan alat peraga sangat berguna untuk melengkapi pengertian siswa terhadap materi yang dipelajari dan prinsipnya untuk meningkatkan efektivitas dan kelancaran proses belajar. Fungsi dan nilai praktis media pembelajaran adalah :
-      Menyeragamkan pengamatan dan wawasan siswa terhadap Kompetensi Dasar
-      Menumbuhkan pemikiran yang teratur
-      Memotivasi siswa untuk memperoleh hasil belajar
-      Menginteraktifkan siswa dengan lingkungan belajarnya
-      Meningkatkan perhatian, keinginan, dan minat siswa
-      Menanamkan konsep dasar, kongkrit, dan realistic
-      Memberikan gambaran pengalaman nyata
-      Menjadikan pengalaman yang diperoleh siswa tidak mudah terlupakan
Kekuatan penelitian ini terletak, pada jenis penelitian tindakan kelas, Peneliti bertindak sebagai observer dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga peneliti dapat mengamati dan memperbaiki kekurangan - kekurangan yang terjadi pada saat tindakan di kelas.
Selain itu, penelitian yang dilaksanakan di kelas V , karena kelas tersebut merupakan yang memiliki keaktifan belajar siswa rendah dan hasil belajar rendah dibandingkan kelas yang lain. Namun dengan diterapkannya metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga terjadi peningkatan pada keaktifan siswa dan hasil belajar siswa dan terbukti pada siklus I dan silkus II serta dilihat pada Grafik I Hasil Belajar Siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga merupakan bagian dari media pembelajaran yang diartikan sebagai semua benda (dapat berupa manusia, objek atau benda mati) sebagai perantara di mana digunakan dalam proses pembelajaran. Tujuan pada prinsip dasar penggunaan media pembelajaran yakni memperjelas instrumen yang disampaikan, dapat merangsang pikiran, perhatian, dan kemampuan siswa, harus dapat meningkatkan efektifitas dan kelancaran proses belajar, terutama dalam memperjelas materi yang dipelajari, sehingga pada akhirnya mempercepat proses perubahan tingkah laku pada siswa.
Penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan persentase ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal, yaitu pada siklus I ketuntasan klasikal menjadi 79% dan pada siklus II meningkat menjadi 89% sehingga dapat disimpulkan, bahwa Ada Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran Waktu” Melalui Metode Demonstrasi Dengan Menggunakan Alat Peraga Siswa Kelas V SD Negeri Petung 02 .

Saran-saran
Saran kepada guru-guru hendaknya memilih metode pembelajaran yang sesuai dan efektif dalam penyampaian materi pelajaran Bahasa Indonesia. Guru dapat menerapkan dan mengembangkan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga pada pembelajaran matematika ke dalam kompetensi atau tema-tema yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing karena terbukti
dengan menerapkan metode demonstrsai dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan aktivitas dan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan selalu memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN                           
Aqib, Zainal. 2008. Tulisan Tindakan Kelas. Bandung : Yrama Widya.
Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Tulisan Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Bumi Aksara.
Engkoswara dan Rocham Natawidjaja. 1979. Alat Peraga dan Komunikasi Pendidikan. Jakarta: PT Bunda Karya.
Kasmadi, Hartono. 1996. Model-Model dalam Pembelajaran . Semarang:IKIP Semarang Press.
Lestari, Tita. Supervisi Pembelajaran. Makalah.
Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Roijakkers, 1982, Mengajar dengan Sukses, Jakarta : Gramedia.
Russefendi, E.T. 1979. Pengajaran Matematika Modern untuk Orang Tua dan Wali Murid dan SPG.Bandung. Tarsito.
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media.
Sudjana, Nana dan Rivai Ahmad, 1991. Media Pengajaran, Sinar Baru  Algensindo:Bandung
Suherman, E. 2003. Strategi Pengajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Suherman, Erman. 1994. Strategi Belajar dan Mengajar Matematika. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Suyitno, A. 1997. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika. Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES.
Zaini, Hisyam dkk. 2007. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga.