Selasa, 23 Mei 2017

PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MATERI AJAR “CARA MENCEGAH BENCANA ALAM“ MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING SISWA KELAS V SD NEGERI BADEAN 02

Sukarman

Abstrak: Tujuan dalam penelitian ini adalah mengakaji tentang : Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam“ Melalui Model Pembelajaran Problem Solving Siswa Kelas V SD Negeri Badean 02 . Rancangan penelitian ini adalah PTK. Hasil Penelitian:  Ada Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam“ Melalui Model Pembelajaran Problem Solving Siswa Kelas V SD Negeri Badean 02 . Pada siklus I, dapat dijelaskan bahwa siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%.  Pada siklus II, siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3 siswa atau sebesar 13%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 21 siswa atau sebesar 87%, dengan demikian hasil belajar dinyatakan tuntas

    Kata Kunci: Problem Solving, Hasil Belajar

\
PENDAHULUAN
Belajar merupakan proses aktif (Rodriguez, 2001). Anak belajar dengan cara mengonstruksi hal yang dipelajarinya berdasarkan pengetahuan yang diketahuinya, bukan menerima suatu hal dengan pasif. Pengertian ini berakar dari perspektif konstruktivisma. Konstruktivisma sendiri banyak dijumpai di berbagai bidang antara lain psikologi, filosofi, sosiologi, dan pendidikan, serta menimbulkan implikasi yang berarti dalam pembelajaran IPA.
Hal ini menimbulkan pertanyaan bahwa bagaimana cara membuat siswa belajar aktif ? Dan pertanyaan ini sangat menentukan cara mengajar dan pembelajaran IPA di SD, bahwa pembelajaran IPA tidak hanya penentuan dan penguasaan materi, tetapi aspek apa dari IPA yang perlu diajarkan dan dengan cara bagaimana, supaya siswa dapat memahami konsep yang dipelajari dengan baik dan terampil untuk mengaplikasikan secara logis konsep tersebut pada situasi lain yang relevan dengan pengalaman kesehariannya.
Minat siswa pada IPA juga penting untuk belajar IPA yang efektif, terutama untuk mengembangkan rasa percaya diri dalam berpendapat, beralasan, dan menentukan cara untuk mencari tahu jawabannya. Apabila demikian halnya, selama enam tahun siswa akan mempunyai pengalaman belajar yang bermakna sehingga pada tahap ini siswa mampu mengembangkan sikap dan nilai-nilai dari pembelajaran IPA. Siswa yang berminat pada IPA akan merasakan bahwa belajar IPA itu menyenangkan sehingga akan antusias mengenai bagaimana pelajaran IPA berimbas pada pengalaman kesehariannya (Murphy and Beggs, 2003).
Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), guru hendaknya menerapkan prinsip belajar aktif, yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa secara fisik, mental (pemikiran dan perasaan) dan sosial serta sesuai dengan tingkat perkembangannya secara sistematis. Sesuai dasar pemikiran dan kenyataan di atas, kurangnya kualitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, rendahnya pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai Ilmu Pengetahuan Alam, maka perlu adanya pemecahan permasalahan tersebut dengan melakukan penerapan strategi dan pendekatan pembelajaran yang dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan hal tersebut diatas, peneliti yang juga sebagai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan judul : Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam“ Melalui Model Pembelajaran Problem Solving Siswa Kelas V SD Negeri Badean 02 pembelajaran Problem Solving adalah cara mengajar yang dilakukan dengan cara melatih para murid menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama–sama (Alipandie, 1984:105). Sedangkan menurut Purwanto (1999:17). Problem Solving adalah suatu proses dengan menggunakan strategi, cara, atau teknik tertentu untuk menghadapi situasi baru, agar keadaan tersebut dapat dilalui sesuai keinginan yang ditetapkan.
Selain itu Zoler (Sutaji, 2002:17) menyatakan bahwa pengajaran dimulai dengan pertanyaan – pertanyaan yang mengarahkan kepada konsep, prinsip, dan hukum, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan memecahkan masalah disebut sebagai pengajaran yang menerapkan metode pemecahan masalah. Dengan demikian problem solving adalah suatu metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan dapat melatih siswa untuk menghadapi berbagai masalah dan dapat mencari pemecahan masalah atau solusi dari permasalahan itu.
         Manfaat dari penggunaan model pembelajaran Problem Solving pada proses belajar mengajar untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik. model pembelajaran Problem Solving memberikan beberapa manfaat antara lain :
a)      Mengembangkan sikap keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan, serta dalam mengambil kepuutusan secara objektif dan mandiri
b)      Mengembangkan kemampuan berpikir para siswa, anggapan yang menyatakan bahwa kemampuan berpikir akan lahir bila pengetahuan makin bertambah 
c)      Melalui inkuiri atau problem solving kemampuan berpikir tadi diproses dalam situasi atau keadaan yang bener – bener dihayati, diminati siswa serta dalam berbagai macam ragam altenatif 
Membina pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih jauh) dan cara berpikir objektif – mandiri, krisis – analisis baik secara individual maupun kelompok

Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Apakah Ada Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam“ Melalui Model Pembelajaran Problem Solving Siswa Kelas V SD Negeri Badean 02?

Tujuan Penelitian
Berkaitan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah mengakaji tentang : Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam“ Melalui Model Pembelajaran Problem Solving Siswa Kelas V SD Negeri Badean 02 .

Manfaat Hasil Penelitian
Adapun hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat bagi :
a)      Guru, dapat dijadikan sebagai masukan bagi guru, khususnya guru Ilmu Pengetahuan Alam dalam memberikan alternatif pembelajaran untuk perbaikan proses belajar mengajar sehingga hasil belajar meningkat,
b)      Siswa, membuat proses belajar jadi menyenangkan sehingga siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan oleh guru,
c)      Bagi peneliti, sebagai pengalaman yang sangat berharga dalam mengembangkan pengetahuan pendidikan serta menambah wawasan penelitian pendidikan,
d)     Bagi lembaga yang terkait sebagai bahan masukan untuk mengambil kebijakan berkaitan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
Definisi operasional dalam penelitian ini adalah meliputi :
a)      Problem Solving adalah suatu metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan dapat melatih siswa untuk menghadapi berbagai masalah dan dapat mencari pemecahan masalah atau solusi dari permasalahan itu.Hasil belajar adalah hasil dari proses perubahan tingkah laku setelah mengalami pengalaman belajar atau berkat interaksi yang berlangsung yang lazim ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru dan keadaan siswa pada saat proses belajar berlangsung.
b)      Ketuntasan hasil belajar adalah penguasaan penuh dari siswa terhadap bahan yang telah diajarkan. Untuk mengetahui sampai sejauh mana proses belajar mengajar mencapai ketuntasan hasil belajar maka perlu dilakukan tes hasil belajar (Arikunto, 2002: 228).
            Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
1)   Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skormaksimal 100.
2)   Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di SDN Badean 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.

Subyek Penelitian
Subyek dan sekaligus menjadi obyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V  di SDN Badean 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember yang berjumlah 24 siswa serta seluruh proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Cara Mencegah Bencana Alam” dengan penerapan model pembelajaran Problem Solving.

Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik pengamatan, catatan lapangan, wawancara dan studi dokumenter.
§  Teknik pengamatan dan catatan lapangan dipergunakan untuk menilai proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar.
§  Teknik wawancara dipergunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran.
§  Studi dokumenter dipergunakan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa. Hasil-hasil siklus I dilakukan refleksi untuk dijadikan bahan penyempurnaan pada penerapan siklus II.

Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan mengikuti langkah‑langkah pokok Penelitian yaitu : refleksi awal, perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, refleksi dan perencanaan ulang jika belum mencapai ketuntasan.
Adapun desain siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut:


Rancangan Siklus I
§   Pada tahap ini peneliti bersama guru Kelas V mengidentifikasi permasalahan dan menganalisis masalah dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V SD Negeri Badean 02 .
§   Merumuskan Permasalahan Secara Operasional
Pada tahap ini peneliti bersama Guru Kelas IV merumuskan permasalahan yang muncul dalam pembelajaran yang menyangkut pendekatan yang digunakan di dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
§   Merumuskan Hipotesis Tindakan
Karena penelitian tindakan ini lebih menitik beratkan pada             pendekatan naturalistik, maka hipotesis tindakan bersifat tentatif. Dalam pelaksanaan hipotesis tindakan ini tidak mengalami modifikasi jika diperlukan (Fleksibel). Hipotesis tindakan pada siklus I dirumuskan sebagai berikut:" Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Pada Materi Pokok “Kalimat Efektif” Melalui Metode Kerja Kelompok Dan Diskusi Siswa  ".
a.       Menyusun Rancangan Tindakan
Rancangan tindakan yang diajukan adalah sebagai berikut :
§  Menentukan pokok-pokok bahasan yang akan diajarkan, membaca dan meringkas bacaan dan menjawab pertanyaan bacaan dan kosakata. Membuat persiapan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
-      Menyusun tujuan pembelajaran yang didasarkan pada Kurikulum.
-      Merumuskan materi pelajaran yang diajarkan yang diambil dari buku paket Ilmu Pengetahuan Alam dan buku penunjang dari berbagai penerbit.
§  Merumuskan pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut :
-      Kegiatan pendahuluan, meliputi apresiasi yang dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan media gambar persawahan, alam sekitar, kegiatan ini dilanjutkan dengan penjelasan tentang tata cara mengerjakan LKS dan tata tertib pengerjaan LKS.
-      Kegiatan inti, meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
o   Siswa mengegakan LKS.
o   Siswa bersama peneliti melakukan pembahasan pertemuan II
o   Siswa melakukan diskusi kelompok.
o   Siswa bersama peneliti melakukan pembahasan diskusi kelompok.
o   Ulangan harian/formatif.
-      Kegiatan penutup.
o   Membuat kesimpulan.
o   Evaluasi.
§  Peneliti menyusun alat pengumpulan data berupa lembar pengamatan, catatan lapangan tentang pelaksanaan proses pembelajaran dan instrumen evaluasi (penilaian).
§  Peneliti menyusun rencana pengolahan data, baik kualitatif maupun kuantitatif.
b.   Pelaksanaan tindakan
Guru Kelas V melaksanakan rencana pembelajaran sebagaimana tertuang dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Metode yang digunakan adalah penerapan model pembelajaran Problem Solving divariasikan dengan tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas.
Proses pembelajaran berlangsung dengan langkah-langkah :
  • Pendahuluan
Apersepsi yang mengarah ke materi ajar "Cara Mencegah Bencana Alam" dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab.
§        Inti Pembelajaran
Dengan langkah-langkah sebagai berikut :
-     Membangkitkan motivasi dan membangun/menumbuhkan keyakinan diri siswa
-     Membuat daftar hal yang diketahui dan tidak diketahui, menggunakan gambar grafis untuk memperjelas permasalahan dalam hal ini tentang “Cara Mencegah Bencana Alam”
-     Merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan membimbing untuk menganalisis dimensi-dimensi permasalahan yang dihadapi.
-     Mengembangkan cara berpikir logis siswa untuk menganalisis permasalahan yang dihadapi.
-     Membimbing siswa secara sistematis untuk memperkiraan jawaban yang mungkin untuk memecahkan masalah.
-     Membimbing siswa untuk mengecek kembali jawaban yang dibuat, mungkin ada beberapa kesalahan yang dilakukan.
-     Membimbing siswa untuk mengajukan pertanyaan
-      Tanya jawab
-      Setelah siswa melakukan tanya jawab dan demonstrasi mendengarkan, mempraktekkan, menemukan sendiri, membahas diskusi, bertanya jawab maka dilanjutkan dengan evaluasi formatif.
§  Kegiatan Penutup
b.      Pengamatan
Pengumpulan data pada penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan pengamatan pada proses pembelajaran yang meliputi aktifitas siswa, wawancara dan analisis dokumen. Peneliti mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung dengan mencatat data-data yang muncul kemudian menstranskripsikan analisis dokumen dengan menilai hasil pengerjaan LKS dan evaluasi pembelajaran. Evaluasi pembelajaran peningkatan hasil belajar diukur dengan membandingkan antara hasil penilaian formatif yang sedang berlangsung dengan hasil belajar sebelumnya.
c.       Refleksi
Berdasarkan analisis data dan refleksi yang dilakukan peneliti dalam kegiatan tersendiri. Hasil refleksi dicatat dan menghasilkan rancangan tindakan pada siklus II dan rancangan tindakan lanjutan. Peneliti melakukan analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan. Hasil yang diperoleh akan berupa temuan-temuan lapangan yang selanjutnya dipakai dasar untuk melakukan perancangan ulang untuk siklus II.

Rancangan Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi siklus I peneliti melakukan perancangan ulang. Hasil perancangan ulang ini diterapkan pada penelitian siklus II. Sebelum merevisi rencana pembelajaran (RPP) terlebih dahulu peneliti, membuat catatan-catatan permasalahan yang muncul pada siklus I. Karakteristik rencana pembelajaran yang mendapat perhatian dalam perancangan ulang adalah pada sisi LKS, langkah-langkah proses pembelajaran dan evaluasi.
a.    Rancangan Tindakan
Rancangan tindakan yang diajukan pada siklus II adalah sebagai berikut :
§  Menentukan pokok-pokok bahasan yang akan diajarkan, menyusun kalimat efektif. Membuat rencana pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut :
-        Menyusun tujuan pembelajaran yang didasarkan pada Kurikulum.
-        Menentukan materi pelajaran yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai.
-        Merumuskan materi pembelajaran yang akan dilakukan, yang diambil dari buku paket Ilmu Pengetahuan Alam dan buku penunjang lain dari berbagai penerbit.
-        Merumuskan proses pembelajaran sebagai berikut :
o   Kegiatan pendahuluan, meliputi apresiasi yang dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab, kegiatan ini dilanjutkan dengan penjelasan tentang tata cara mengerjakan LKS dan tata tertib pengerjaan LKS.
o   Kegiatan inti meliputi langkah-langkah penyempurnaan kekurangan – kekurangan yang terjadi pada siklus I
o   Siswa bersama-sama Guru melakukan pembahasan diskusi kelompok.
o   Ulangan formatif
-      Kegiatan penutup
o  Membuat kesimpulan
o  Peneliti menyusun alat pengumpulan data berupa lembar pengamatan catatan tentang pelaksanaan proses pembelajaran dan instrumen pembelajaran.
o  Menyusun rencana pengolahan data baik kualitafif maupun kuantitatif.
b.    Pelaksanaan Tindakan
Peneliti melaksanakan rencana pembelajaran siklus II yang merupakan penyempurnaan siklus I sebagaimana tertuang di dalam satuan pelajaran. Tanya jawab kelompok dilakukan sama dengan siklus I. Peneliti mengarahkan agar dalam tanya jawab ini terjadi pemerataan antara penanya dan penjawab dalam masing-­masing kelompok
c.       Pengamatan
Pengamatan proses pembelajaran meliputi aktivitas siswa dan mencatat kegiatan pembelajaran, wawancara secara mendalam dan analisis dokumen tetap dilakukan pada siklus II ini.
Peneliti mencatat data-data yang muncul kemudian mentranskripsikannya. Analisis dokumen dilakukan dengan menilai hasil evaluasi LKS dan evaluasi pembelajaran.
d.      Refleksi
Hasil refleksi dicatat dan digunakan untuk menghasilkan perancangan tindakan pada siklus berikutnya. Peneliti melakukan analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data yang telah dikumpulkan. Hasil yang diperoleh berupa temuan-temuan lapangan.

Analisis Data
Analisis dilakukan secara diskripsi kualitatif berdasarkan hasil observasi terhadap peningkatan prestasi belajar dengan langkah-langkah berikut :
1)      Melalui reduksi, yaitu mengecek dan mencatat kembali data-data yang telah dikumpulkan.
2)      Melakukan interpretasi, yaitu menafsirkan yang diwujudkan dalam bentuk pernyataan.
3)      Melakukan inferensi, yaitu menyimpulkan apakah dalam pembelajaran ini terjadi peningkatan prestasi belajar atau tidak (berdasarkan hasil observasi).
4)      Tahap tindak lanjut, dilakukan perumusan langkah-langkah perbaikan untuk siklus berikutnya atau dalam pelaksanaan di lapangan setelah siklus I berakhir berdasarkan inferensi yang telah diterapkan.
5)      Simpulan diambil berdasar analisis hasil-hasil observasi yang disesuaikan dengan tujuan penelitian ini, kemudian dituangkan bentuk interprestasi pernyataan.
Adapun kriteria peningkatan prestasi belajar adalah sebagai berikut :
a.       Rumus untuk menentukan peningkatan hasil belajar siswa setiap indikator adalah :
Peningkatan hasil =   Jumlah Siswa yang Aktif   X 100%
         Jumlah Siswa yang Masuk
b.      Meningkatnya hasil belaiar siswa ditandai dengan indikator hasil belajar (nilai hasil ulangan harian formatif) menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
     Pada tindakan awal penelitian, pertama-tama peneliti melakukan observasi untuk mengetahui aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran sebelum model pembelajaran Problem Solving diterapkan.  Selain observasi, peneliti membuat catatan segala peristiwa yang terjadi saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Catatan utamanya untuk mencatat aktivitas yang tidak tercatat pada saat observasi. Disamping ini peneliti juga memberikan tes baik secara formal maupun non formal. Untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa materi ajar yang dibahas.
Pada saat refleksi peneliti mengadakan analisis, interprestasi dan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, seperti kegiatan observasi, hasil dari catatan bebas, hasil wawancara, angket dan hasil test. Semua kegiatan ini dilakukan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan pencapaian tindakan.Pada saat diadakan evaluasi, hasil analisis data pada kondisi awal ini diperoleh data dari 24 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebesar 38%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 62%, dengan kondisi ini hasil belajar pada kondisi awal dinyatakan belum tuntas belajar, sehingga perlu perbaikan pembelajaran, dalam hal ini dilaksanakan penelitian tindakan kelas  dengan penerapan model pembelajaran problem solving pada siklus I.
Untuk lebih jelas, hasil analisis data pada kondisi awal ini, dapat dilihat pada berikut,
Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam” Siswa kelas V SDN Badean 02 Pada Kondisi Awal

Kriteria
Siswa
Persentase (%)
< 65
9
38%
65 – 100
15
62%
Total
24
100%
Sumber : Data yang diolah
    Kemudian analisis berikutnya dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Problem Solving pada siklus I. Dengan penerapan model pembelajaran Problem Solving, terlihat siswa tampak terlibat aktif dalam proses belajar. Siswa diberi kebebasan berpendapat dan berdiskusi setelah permasalahan yang akan dibahas ditentukan. Ketika diadakan evaluasi,  terbukti bahwa materi yang diajarkan lebih mudah dipahami oleh siswa. Hal ini ditandai dengan hasil analisis data siswa dan juga hasil daya serap siswa, adanya peningkatan hasil belajar pada siklus I. Untuk melihat hasil analisis data pada ketuntasan siklus I dapat di lihat tabel dibawah ini,
Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam” Siswa kelas V SDN Badean 02 Pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
5
21%
65 – 100
19
79%
Jumlah
24
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan hasil analisis data pada siklus I, dapat dijelaskan bahwa siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%. Namun untuk mendapatkan ketuntasan belajar yang lebih baik lagi, selanjutnya peneliti memperbaiki proses pembelajaran pada siklus II.
      Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa pembelajaran pada siklus II lebih kepada penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang dialami pada siklus I. Pada proses pembelajaran ini, peneliti memberi perhatian lebih kepada siswa yang pada siklus I masih belum mencapai ketuntasan belajar. Karena siswa mulai terbiasa dengan model pembelajaran problem solving.  Untuk melihat lebih jelas, ketuntasan hasil belajar pada siklus II dapat dilihat pada tabel dibawah ini,
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam” Siswa kelas V SDN Badean 02 Pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
13%
65 – 100
21
87%
Jumlah
24
100%
Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan hasil analisis data pada tabel 3, dapat dijelaskan bahwa pada siklus II, siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3 siswa atau sebesar 13%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 21 siswa atau sebesar 87%, dengan demikian hasil belajar dinyatakan tuntas secara klasikal,  maka analisis data dihentikan pada siklus II.
      Tabel dibawah ini menjelaskan perbandingan ketuntasan hasil belajar dari Sebelum Tindakan, siklus I, dan siklus II.

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam” Siswa kelas V SDN Badean 02  Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
9
38%
5
21%
3
13%
65 – 100
15
62%
19
79%
21
87%
Jumlah
24
100%
24
   100%
24
100%
Sumber : Data yang diolah
      Grafik dibawah ini menjelaskan perbandingan ketuntasan hasil belajar dari Kondisi Awal, siklus I, dan siklus II.

Grafik . Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam” Siswa kelas V SDN Badean 02 . Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Sumber: Data yang diolah

Pembahasan
Pada saat model pembelajaran problem solving diterapkan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Cara Mencegah Bencana Alam” siklus I, hampir semua siswa menyatakan bahwa model pembelajaran dapat menumbuhkan kegairahan belajar , sehingga prestasi dan hasil  belajar siswa juga meningkat. Hasil dari penelitian ini akhirnya memberikan kejelasan bahwa melalui model pembelajaran problem solving dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman dalam mempelajari materi Ilmu Pengetahuan Alam khusunya materi ajar “Cara Mencegah Bencana Alam”
         Berdasarkan analisis data pada penelitian tindakan kelas inihasil di atas maka dapat dijelaskan bahwa proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan model pembelajaran problem solving telah menunjukan adanya peningkatan hasil belajar dari masing-masing siklus dalam ketuntasan hasil belajar. Hal ini dapat dijelaskan dari hasil analisis data pada kondisi awal ini diperoleh data dari 24 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebesar 38%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 62%, dengan kondisi ini hasil belajar pada kondisi awal dinyatakan belum tuntas belajar, sehingga perlu perbaikan pembelajaran, dalam hal ini dilaksanakan penelitian tindakan kelas  dengan penerapan model pembelajaran problem solving pada siklus I.
        Kemudian analisis berikutnya dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Problem Solving pada siklus I. Dengan penerapan model pembelajaran Problem Solving, terlihat siswa tampak terlibat aktif dalam proses belajar. Siswa diberi kebebasan berpendapat dan berdiskusi setelah permasalahan yang akan dibahas ditentukan. Ketika diadakan evaluasi,  terbukti bahwa materi yang diajarkan lebih mudah dipahami oleh siswa. Hal ini ditandai dengan hasil analisis data siswa dan juga hasil daya serap siswa, adanya peningkatan hasil belajar pada siklus I, yaitu  siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%. Namun untuk mendapatkan ketuntasan belajar yang lebih baik lagi, selanjutnya peneliti memperbaiki proses pembelajaran pada siklus II.
Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa pembelajaran pada siklus II lebih kepada penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang dialami pada siklus I. Pada proses pembelajaran ini, peneliti memberi perhatian lebih kepada siswa yang pada siklus I masih belum mencapai ketuntasan belajar. Karena siswa mulai terbiasa dengan model pembelajaran problem solving.  Hasil analisis data pada tabel 3, dapat dijelaskan bahwa pada siklus II, siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3 siswa atau sebesar 13%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 21 siswa atau sebesar 87%, dengan demikian hasil belajar dinyatakan tuntas secara klasikal,  maka analisis data dihentikan pada siklus II.
Dalam model pembelajaran Problem soving/ pemecahan masalah maka guru harus mempersiapkan permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan kemampuan siswa, yaitu guru harus selektif apakah permasalahan yang diajukan dapat diselesaikan oleh siswa atau tidak. Sebelum siswa diberi permasalahan hendaknya guru memberi penjelasan tentang tujuan dari penyelesaian masalah serta cara-cara atau langkah yang harus dikerjakan untuk memecahkan masalah tersebut. Masalah-masalah yang diajukan oleh guru harus sesuai dengan dengan kehidupan nyata sehingga siswa akan mudah dalam memecahkan masalah tersebut. Selain itu guru harus menyiapkan sarana dan waktu yang cukup untuk berpikir dan berdiskusi dalam pemecahan masalah tersebut.
      Dengan model pembelajaran Problem Solving diharapkan siswa dapat memecahkan masalah-masalah dalam berbagai mata pelajaran. Metode ini juga dapat melatih siswa untuk bisa memecahkan masalah yang erat dengan kehidupannya. Karena kemampuan untuk memecahkan permasalahan sangat diperlukan setiap individu.
     Dalam proses pemecahan masalah guru harus membantu siswa untuk memecahkan masalah. Cara yang paling efektif yakni bila guru memberikan contoh kepada anak cara memecahkan suatu masalah, cara yang lebih baik ialah memberikan instruksi kepada siswa verbal untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah itu, sedangkan cara yang terbaik adalah memecahkan masalah itu langkah demi langkah dengan menggunakan aturan tertentu, tanpa merumuskan aturan itu maksudnya siswa dibantu dan dibimbing untuk menemukan sendiri pemecahan dari masalahnya.
     Dalam proses pemecahan masalah siswa harus memiliki kondisi belajar dalam diri pelajar dan kondisi dalam situasi belajar. Kondisi dalam diri pelajar merupakan kemampuannya untuk mengingat kembali aturan-aturan yang telah dipelajari sebelumnya yang berkenaan dengan pemecahan masalah itu. Sedangkan kondisi dalam situasi belajar merupakan bimbingan oleh anak itu sendiri kepada dirinya dalam hal belajar untuk mendorong anak untuk mengingat kembali aturan yang diperlukan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Analisis data yang dilaksanakan pada penelitian ini menunjukkan peningkatan hasil belajar dari siklus ke siklus sampai mencapai ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus II, menyimpulkan bahwa : Ada Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Cara Mencegah Bencana Alam“ Melalui Model Pembelajaran Problem Solving Siswa Kelas V SD Negeri Badean 02 . Pada siklus I, dapat dijelaskan bahwa siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%.  Pada siklus II, siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3 siswa atau sebesar 13%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 21 siswa atau sebesar 87%, dengan demikian hasil belajar dinyatakan tuntas

Saran-saran
     Untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran, dalam hal ini peneliti memberi saran sebagai berikut,  Untuk pengajar/guru hendaknya menerapkan model pembelajaran Problem Solving dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan mata pelajaran yang lain sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa,  Untuk lembaga yang terkait dengan dunia pendidikan, hendaknya memberi peluang kepada guru dalam mengembangkan diri demi terwujudnya proses belajar mengajar yang berkualitas.

DAFTAR  RUJUKAN                          
Arends, Richard I. (2008) . Learning to Teach Belajar untuk Mengajar. (Edisi Ketujuh/ Buku Dua).  Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gulo, W. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Grasindo
Koenjtaraningrat. 1981. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Moedjiono dan Dimyati.1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud Dijen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Nana Sudjana. 1990. Peneltian Hasil Proses Belajar Mengajar Jakarta: Rosdakarya.
Sriyono. Dkk. 1992. Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA. Jakarta : Rineka Cipta.
Soli Abimanyu. 2008. Bahan Ajar Cetak Strategi Pembelajaran. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Sardiman. (1996). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grafindo
Syaiful Bahri Djamara dan Drs Aswan Zain . (2006) Strategi Belajar Mengajar,  Jakarta : Rineka Cipta
Slavin. 2009. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media.