Senin, 29 Mei 2017

PENGEMBANGAN BUKU BELAJAR SISWA BERBASIS MASALAH  PADA PELAJARAN MATEMATIKA SMP KELAS VIII

Eric Dwi Putra, Dwi Noviani Sulisawati
email: ric_chaenk@yahoo.co.id
email: dwi.moshimoshi@gmail.com

Abstract: The problem in this research is "What is the process and what the result of the development of students' books for learning based on a math problem in class VIII SMP valid, practical, and effective?". In line with this, the study aims to obtain books mathematics students to problem-based learning for students of class VIII. Development of student books in math class VIII SMP grounded in problem-based learning developed by Plomp. To test criteria established then validated experts and limited testing of the product. The tests showed that the validation sheets, observation sheets, tests, and questionnaires have been eligible. For criteria of practicality, the results materialize Textbook Students meet the high criteria. As for the criteria of effectiveness, Textbook Students get active criteria for student activities, positive criteria for a complete response based on the requirements of students and learning exhaustiveness. This means Textbook Student to study the problem based on the material and beam prism that has been developed has met all the criteria valid, practical and effective.

                  Keywords: Textbook Development, Problems, Cube and Beams

PENDAHULUAN

Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang kompleks, artinya bahwa pembelajaran itu dipengaruhi banyak faktor yaitu tujuan, kompetensi, materi, bahan ajar, metode, strategi, media, waktu, umpan balik, evaluasi, siswa, dan guru. Hal ini berarti jika komponen-komponen ini tidak diperhitungkan dan dikelola dengan baik akan mengakibatkan lemahnya proses pembelajaran sehingga kurangnya pengembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, kritis, dan penekanan proses pembelajaran pada pengembangan kemampuan siswa untuk mengingat dan menghafal materi yang diajarkan.
Salah satu tujuan mata pelajaran matematika dalam Kurikulum 2006 untuk SMP/MTs adalah menyelesaikan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Dalam penyelesaian masalah, siswa diharapkan mampu memahami proses penyelesaian masalah tersebut dan menjadi terampil dalam memilih, serta identifikasi kondisi dan konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian, serta mengorganisasikan ketrampilan yang telah dimiliki sebelumnya (Hudojo, 2005:125)
      Menurut Yuwono (2009) rendahnya hasil belajar siswa umumnya dipengaruhi banyak faktor, misalnya proses pembelajaran belum berjalan secara bermakna artinya siswa cenderung diberikan drill dan hafalan sebanyak-banyaknya. Proses pembelajaran matematika seharusnya lebih banyak memberi penekanan pada kemampuan memecahkan masalah, pengembangan cara berpikir dan bernalar, dan mengkomunikasikan gagasan matematika pada berbagai konteks ilmu pengetahuan dan teknologi (Depdiknas, 2006).
Cooney, Davis, & Henderson (dalam Hudojo, 2005:126) menyatakan bahwa mengajar siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah memungkinkan siswa menjadi lebih analitik  mengambil keputusan dalam kehidupan. Siswa  menjadi lebih terampil dalam mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis informasi dan menyadari bahwa betapa pentingnya meneliti kembali hasil yang telah diperoleh, serta memberikan motivasi kepada siswa untuk mempelajari pelajaran tersebut. Oleh karena itu, pada penelitian ini dipilihlah model pembelajaran, yaitu belajar berbasis masalah. Karena dalam belajar berbasis masalah pada pelajaran matematika,  siswa akan diberi kesempatan dengan pengenalan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.Siswa  akan belajar bagaimana melakukan penemuan melalui proses penyelesaian masalah tersebut dalam proses pembelajaran.
Belajar berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran berdasarkan teori belajar konstruktivisme (Mustaji & Sugiarso, 2005:15). Menurut Walle (2008:23) teori konstruktivisme berakar kuat dari psikologi kognitif dan teori-teori dari Piaget yang berkembang sekitar tahun 1960. Prinsip dasar konstruktivisme adalah siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka.
Begitupun dengan pemilihan bahan ajar yang akan digunakan. Bagi siswa, seringkali sumber belajar yang terlalu banyak membuat mereka bingung. Oleh karena itu, guru perlu membuat sumber belajar untuk menjadi pedoman bagi sisw, salah satunya adalah Buku Siswa. Buku siswa adalah salah satu contoh sumber belajar yang dirancang (learning resources by design). Buku siswa yang berisi materi yang harus dipelajari merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah karena merupakan sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Buku siswa adalah bahan pelajaran yang disusun khusus untuk keperluan dan pegangan siswa dalam proses belajar (Sitepu, 2010). Trianto (2007) mengemukakan bahwa buku siswa merupakan buku panduan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang memuat materi pelajaran, kegiatan penyelidikan berdasarkan konsep, kegiatan matematika, informasi, dan contoh-contoh peberapan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, buku siswa ini juga sebagai panduan belajar baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun belajar mandiri.
Berdasarkan pendapat di atas, yang dimaksud dengan buku siswa dalam penelitian ini adalah buku pegangan siswa yang memuat masalah-masalah konstektual dan berbagai model dengan tujuan agar siswa dapat menemukan sendiri konsep-konsep yang ada pada matematika. Misalnya menemukan konsep rumus pada pembelajaran matematika. Selain itu, buku siswa ini memuat kegiatan siswa, kesimpulan dari kegiatan, dan diakhiri dengan soal-soal cerita. Soal-soal latihan pada buku siswa dapat digunakan guru sebagai alternatif tugas rumah bagi siswa. Buku siswa yang baik adalah buku siswa yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dan dilengkapi dengan gambar beserta keterangan-keterangannya.
Pada penelitian ini, buku siswa yang dikembangkan mencerminkan karakteristik belajar berbasis masalah karena pada buku tersebut memuat masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa, aktivitas-aktivitas yang mengarahkan siswa menemukan konsep dan menerapkannya, dan soal-soal latihan sebagai latihan pemantapan siswa dalam memahami konsep-konsep yang diterima.Brooks & Slavin (dalam Mustaji & Sugiarso, 2005:15) menyatakan bahwa ciri khas teori belajar konstruktivisme adalah siswa harus menemukan dan mengubah informasi yang kompleks menjadi lebih sederhana, bermakna, membandingkan informasi yang satu dengan yang lain. Jika tidak cocok, siswa berupaya mengubahnya agar sesuai dengan skematanya. Jadi belajar bersifat konstruktif, artinya membangun makna, pemahaman dari bermacam-macam informasi. Pandangan ini mempunyai dampak yang besar untuk pembelajaran, karena mendorong siswa berperan lebih aktif dalam belajarnya.
Seperti diketahui bahwa pandangan konstruktivis dalampembelajaran matematika lebih ditekankan pada proses, bukan pada hasil dan siswa terlibat langsung dalam melakukan investigasi menemukan suatu konsep tertentu. Hal inilah yang mendukung perlunya belajar berbasis masalah dalam pembelajaran matematika. Diharapkan siswa dapat memahami materi yang diberikan lebih mendalam lagi karena berhubungan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada ketertarikan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya dan peragaan. Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah bertujuan antara lain untuk: (a) membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah, (b) belajar peranan orang dewasa yang autentik, dan (c) menjadi pembelajar yang mandiri.
Dalam penelitian ini akan dikembangkan Buku Ajar Siswa berbasis masalah dengan menggunakan model pengembangan Plomp. Plomp (Hobri, 2010) memberikan suatu model dalam mendesain pendidikan yang terbagi dalam 5 fase, yaitu: (1) fase investigasi awal, (2) fase desain, (3) fase realisasi/kontruksi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, dan (5) fase implementasi.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti akan melakukan penelitian yang mengembangkan buku siswa untuk belajar berbasis masalah di SMP kelas VIII pada pelajaran matematika. Judul penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu “Pengembangan Buku Siswa Untuk  Belajar Berbasis Masalah  Pada Pelajaran Matematika Di SMP Kelas VIII”. Dengan tujuan untuk menghasilkan buku siswauntuk belajar berbasis masalah pada pelajaran matematika di SMP kelas VIII  yang valid, praktis, dan efektif.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini  dilaksanakan mulai bulan Mei 2016 sampai dengan November 2016. Penelitian ini bertempat di Jember dengan menggunakan tiga kelas di dua sekolah yang dijadikan sebagai tempat pengambilan data untuk kegiatan uji coba prototype yang dikembangkan, yang terdiri dari kelas VIII A dan VIII B di MTs Akbar Jember serta kelas VIII C di SMP Darul Hikmah Jember.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang  menggunakan desain pengembangan milik Plomp. Desain pengembangan Plomp terdiri dari beberapa tahap yang meliputi (1) fase investigasi awal, (2) fase desain, (3) fase realisasi/konstruksi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi, dan (5) fase implementasi. Tetapi dalam penelitian ini, peneliti melakukan modifikasi terhadap pengembangan model Plomp menjadi empat fase yaitu: (1) Tahap Investigasi Awal yang terdiri dari analisis ujung depan, analisis siswa, analisis materi, analisis tugas, dan spesifikasi kompetensi; (2) Tahap Perancangan/ Desain, (3) Tahap Realisasi/ Konstruksi,  dan  (4) Tahap Tes, Evaluasi dan Revisi. Subjek uji coba dalam pengembangan Buku Ajar Siswa Kelas VIII ini adalah siswa kelas VIII . sedangkan untuk jenis data yang diperoleh dari uji coba produk pengembangan berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa skor yang diperoleh melalui lembar validasi, lembar observasi, angket respon siswa, hasil pekerjaan rumah (PR) siswa dan tes hasil belajar. Sedangkan data kualitatif berupa catatan, saran atau komentar berdasarkan hasil penilaian yang diperoleh melalui penilaian ahli terhadap kevalidan buku siswa, RPP, tes, lembar observasi dan angket, keterlaksanan buku siswa oleh observer (praktisi), aktivitas siswa oleh observer, dan angket penilaian siswa tentang buku siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ada empat fase yang dilakukan peneliti selama proses pelaksanaan penelitian pengembangan ini. Kegiatan pada fase pertama meliputi: (1) Analisis masalah pembelajaran, (2) Analisis siswa, (3) Analisis materi, (4) Analisis tugas, dan (5) Spesifikasi indicator serta tujuan pembelajaran.
Fase kedua yang dilakukan adalah penyusunan rancangan buku ajar. Untuk mendukung penggunaan buku ajar, maka juga dirancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan instrument penelitian berupa lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa serta lembar soal tes akhir.
Selanjutnya, fase ketiga merupakan realisasi hasil rancangan yang telah dilakukan peneliti pada fase kedua. Pada fase ini, dihasilkan prototipe, yaitu berupa Buku Ajar bagi Siswa, RPP, dan instrument penelitian.
Pada fase keempat, dilakukan validasi ahli dan uji coba lapangan terhadap produk yang telah dihasilkan. Buku Ajar Siswa, RPP, dan instrument penelitian yang lain divalidasi oleh ahli terlebih dahulu untuk memperoleh saran dan masukan guna perbaikan pada prototipe yang telah dihasilkan sehingga instrument tersebut valid sebelum dilakukan uji coba di lapangan. Sedangkan saat uji coba di lapangan untuk menetapkan bagian-bagian yang memerlukan perbaikan sehingga menghasilkan Buku Ajar Siswa yang valid, praktis, dan efektif.
Berdasarkan hasil analisis data tentang masalah pembelajaran menunjukkan bahwa guru biasanya mengajar dengan metode ceramah dan drill (latihan soal); hasil ketuntasan belajar dengan skor maksimum 100, siswa kelas VIII A hanya 16 siswa atau 60% yang mendapat skor ≥75 dari 27 siswa, sedangkan 11 siswa atau 40% mendapatkan skor <75. Kelas VIII B hanya 12 siswa atau 67% yang mendapat skor ≥75 dari 18 siswa, sedangkan 8 siswa lainnya mendapatkan skor <75 dan kelas VIII C terdapat 16 siswa atau 55% siswa mendapat skor ≥75. Secara klasikal kelas VIII A, VIII B dan VIII C belum mencapai ketuntasan belajar karena siswa yang memperoleh skor ≥75 kurang dari 85% yang sudah ditetapkan sekolah. Selanjutnya prototipe yang dikembangkan disesuaikan dengan permasalahan yang telah ditemukan tersebut. Namun, sebelum diujicobakan, prototipe yang dihasilkan telah lebih dahulu diuji validasi pada ketiga ahli.
Hasil uji validasi menunjukkan bahwa prototipe yang terdiri dari Buku Ajar, RPP, lembar observasi aktivitas siswa dan guru, angket respon siswa, angket penilaian siswa tentang Buku Ajar, tes hasil belajar yang dihasilkan dikatakan valid. Selanjutnya dilakukan proses uji coba terhadap prototipe yang telah dihasilkan tersebut yang berlangsung dari tanggal 9 Mei hingga 24 Mei 2016. Berdasarkan hasil uji coba didapatkan bahwa (1) keterlaksanaan Buku Ajar Siswa setiap pertemuan memenuhi kriteria tinggi; (2) hasil belajar siswa pada pelaksanaan uji coba pada materi kubus dan balok telah mencapai kriteria ketuntasan hasil belajar, (3) aktivitas siswa selama empat pertemuan memenuhi kriteria aktif, respon siswa positif dan (4) 93,25% siswa menyatakan bahwa Buku Ajar Siswa mudah dimengerti saat dibaca oleh siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Sanjaya (2010:220) yang menyatakan bahwa kelebihan belajar berbasis masalah adalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa dan dapat mengembangkan minat siswa  untuk secara terus menerus belajar tetapi memang membutuhkan waktu yang cukup untuk melakukan persiapan.
pada proses pelaksanaan uji coba Buku Ajar Siswa juga didapatkan hasil bahwa selama pelaksanaan uji coba, melalui soal-soal yang disajikan di Buku Ajar Siswa, siswa mengaku merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah yang ada pada soal-soal yang telah disediakan. Hal ini dikarenakan Secara umum belajar berbasis masalah menyajikan berbagai masalah yang autentik dan bermakna, yang dapat berfungsi sebagai pendorong kepada siswa untuk melakukan penyelidikan  dan  inquiry ( Arends, 2008:41).  Menurut Bruner (dalam  Ibrahim & Nur, 2000:22),  belajar  berbasis masalah juga bergantung  pada scaffoldingyang dapat meningkatkan inquiry dan pertumbuhan intelektual. Scaffolding merupakan proses dimana seseorang yang lebih banyak pengetahuannya (guru) membantu seseorang yang lebih sedikit pengetahuannya (siswa) untuk menuntaskan suatu masalah yang melampaui tingkat pengetahuannya saat ini.
Penelitian ini memberikan manfaat guna keefektifan proses pembelajaran matematika di kelas yang berbasis masalah dengan menghasilkan Buku Ajar bagi siswa untuk belajar berbasis masalah pada pelajaran matematika di SMP kelas VIII  yang valid, praktis, dan efektif

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa Buku Ajar Siswa untuk belajar berbasis masalah pada kelas VIII untuk materi kubus dan balok yang telah dikembangkan telah memenuhi semua kriteria valid, praktis dan efektif
Lebih lanjut lagi, peneliti menyarankan kepada pembaca agar pada penelitian berikutnya dapat dikembangkan Buku Ajar bagi Siswa yang berbasis masalah tetapi untuk materi lain dan peneliti juga menyarankan agar uji coba yang dilakukan guna meneliti tentang keefektifan Buku Ajar yang dihasikan agar tidak hanya dilakukan satu kali, sehingga akan mendapatkan lebih banyak saran, masukan dan perubahan yang berarti guna menunjang keterlaksanaan penerapan Buku Ajar tesebut.

DAFTAR RUJUKAN

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP/MTs. Jakarta: Depdiknas.

Hobri. 2010. Metodologi Penelitian Pengembangan (Aplikasi pada Penelitian Pendidikan Matematika). Jember: Pena Salsabila.

Hudojo, H. 2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: UM Press.

Mustaji & Sugiarso. 2005. Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik: Penerapan dalam Pembelajaran Berbasis Masalah.  Surabaya: Unesa University Press.

Sanjaya, W. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
.
Sitepu, B.P. 2010. Buku dan Perkembangannya, (Online), (http://bintangsitepu.wordpress.com/category/buku-dan-perkembangannya/, diakses 6 Desember 2010).

Walle, John A. Van De. 2008. Elementary and Middle School Mathematics: Sixth Edition. New York: Pearson Prentice Hall.

Yuwono, Ipung. 2009. Membumikan Pembelajaran Matematika di Sekolah. Pidato Pengukuhan Guru Besar FMIPA UM. Malang.