Selasa, 23 Mei 2017

PENGEMBANGAN MODEL BLENDED LEARNING  PADA PEMBELAJARAN SEJARAH SMA  MENGGUNAKAN ASSURE

Riyati,  Sumardi dan  Nurul Umamah

ABSTRACT: The development process was conducted in order to obtain a model of Blended Learning using ASSURE viable, practical, and effective require device-learning devices and instruments related research is syntax, the social system, the principle of the reaction, the support system, the impact of instructional and companion through trials validation team, individual testing, piloting small groups, and field trials. This research is the development of (Developmental Research). The results show that the development of the validation results of experts consisting of experts of learning materials, expert instructional design, instructional media experts and linguists give very good results although there were some revisions for improvement. For individual test results can be seen that the average percentage of learning model is 89% which is in the excellent category. For a small group of test results mean percentage feasibility study model is 89% which is in the excellent category and the mean percentage of practicality learning model by 88% which is in the excellent category. The field tests, it can be seen that for the test categories kalayakan of 88% included in the category of very feasible, and to test the practicality that is equal to 89% included in the category of very practical. Test effectiveness can be seen from the results of analysis using the t test paired sample t test, namely P <0.00; df = 32; t = -13.425, by a margin of difference between pretest and posttest of -6.27273. Negative values ​​in the difference between both of them showed lower than the pretest posttest. This means that with the development of Learning Blended learning model by using ASSURE been able to improve student learning outcomes of 6.27273 compared with the previous condition.

Keywords: Blended Learning Model Development, and ASSURE.


PENDAHULUAN
            Pada umumnya dalam kegiatan pembelajaran sejarah, pendidik masih menempatkan diri sebagai pusat kegiatan belajar, sementara peserta didik sebagai sasaran dan pelengkap dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Para peserta didik menjadi kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Tujuan pembelajaran sejarah adalah agar peserta didik mampu mengembangkan kemampuannya dalam berfikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia. Menurut Widya (2006:23) pembelajaran sejarah adalah perpaduan antara aktifivas belajar dan mengajar yang di dalamnya mempelajari tentang peristiwa masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini.
            Menurut White (1997:90), pembelajaran sejarah membuat siswa pasif dan membosankan, karena pelajaran sejarah merupakan pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk menghafal materi yang terlalu luas, sehingga membuat peserta didik merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran sejarah tersebut. Berdasarkan pada kenyataan itu, pandangan peserta didik tentang meteri sejarah dan pembelajarannya menempati posisi yang kurang berarti dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Strategi, metode, maupun teknik pembelajaran yang sering ditrerapkan pendidik lebih banyak bertumpu pada teacher centered learning yang monoton dan meminimalkan partisipasi peserta didik, sehingga pendidik menjadi satu-satunya sumber informasi peserta didik. Metode atau cara yang digunakan pendidik dalam proses pembelajaran masih bersifat konvensional yang menjadikan pembelajaran sejarah di samping membosankan, dan hanya menjadi wahana pengembangan keterampilan berfikir tingkat rendah dan tidak memberi peluang kemampuan memecahkan masalah. Penyebab utama adanya kondisi tersebut adalah pendidik yang kurang dapat memilih maupun menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik, sehingga pembelajaran kurang layak, praktis, dan efektif.
Upaya mengatasi hal tersebut dilakukan beberapa perubahan dalam model pembelajaran yang diterapkan. Pelaksanaan proses pembelajaran sejarah di SMA Negeri 4 Jember sudah mulai mempergunakan model pembelajaran yang modern, seperti model pembelajaran Curah Pendapat (Brainstorming), model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD), model pembelajaran Project Based Learning (PBL), dan model pembelajaran Blended Learning. Beberapa model pembelajaran yang pernah diterapkan tersebut, yang cukup berhasil untuk dipergunakan pada pembelajaran sejarah yaitu model pembelajaran blended learning. Pembelajaran Blended Learning dapat meningkatkan kemandirian peserta didik dalam pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukan pendidik tidak hanya dilakukan melalui face to face  saja, akan tetapi dapat dilakukan dengan menggunakan online, seperti pada saat menerima maupun mengumpulkan tugas yang diberikan oleh pendidik, peserta didik dapat melakukannya melalui online (Bhonk dan Graham, 2005:71).
Beberapa faktor yang menyebabkan belajar Blended Learning dapat memberikan hasil yang maksimal yaitu belajar blended dapat memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana saja dan kapan saja, menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas, mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran, serta peserta didik tidak hanya mengandalkan materi yang diberikan oleh pendidik, tetapi dapat mencari tambahan materi dengan berbagai cara, seperti perpustakaan, menanyakan kepada teman kelas atau teman saat online, membuka website, maupun mencari materi belajar melalui blog, atau dapat juga dengan media media lain berupa software pembelajaran dan juga tutorial pembelajaran (Musfadilah, 2014:75). Peserta didik dituntut untuk aktif dan mandiri dalam hal mengerjakan segala tugas yang diberikan oleh pendidik. Penerapan model pembelajaran Blended Learning cukup mudah, karena peserta didik sudah biasa menggunakan online. Hampir seluruh npeserta didik memiliki fasilitas yang menunjang pembelajaran online tersebut (HP). Fasilitas yang ada di sekolah juga mendukung adanya pembelajaran Blended Learning tersebut, karena lengkapnya laboratorium komputer serta adanya wifi di sekolah yang dapat dipergunakan oleh peserta didik.
Penerapan model pembelajaran Blended Learning dapat menggunakan prinsip 50/50, 75/25 atau 25/75 bergantung pada analisis kompetensi yang ingin dihasilkan, tujuan mata pelajaran, karakteristik pebelajar, interaksi tatap muka, strategi penyampaian pembelajaran online atau kombinasi, karakteristik, lokasi pebelajar, karakteristik dan kemampuan pendidik, dan sumber daya yang tersedia (Musfadilah, 2014:77). Perbandingan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan 75/25, dimana untuk 75 adalah pembelajaran online sedangkan untuk 25 adalah pembelajaran melalui tatap muka langsung dengan peserta didik. Upaya pengaplikasian pada proses pembelajaran yang telah dilakukan, pendidik lebih banyak menerapkan pembelajaran online daripada pembelajaran tradisional (face to face).
lebih lanjut Bhonk dan Graham (2005:76) menjelaskan bahwa Blended Learning merupakan gabungan dari dua sejarah model perpisahan mengajar dan belajar: sistem pembelajaran tradisional dan sistem penyebaran pembelajaran, yang menekankan peran pusat teknologi berbasis komputer dalam blended learning. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik memiliki keterampilan dalam mengerjakan tugas maupun menyelesaikan segala permasalahan yang diberikan oleh pendidik melalui media online, dan tidak selalu beranggapan bahwa pendidik merupakan sumber utama dalam pemberian informasi. Model pembelajaran yang diterapkan tersebut sudah menggunakan model pembelajaran yang modern yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Blended Learning, tetapi pembelajaran masih belum dapat dikatakan praktis dan efektif, walaupun pembelajaran tersebut sudah layak diterapkan.
Alternatif pemecahan masalah tersebut adalah dengan mengembangkan model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE. Beberapa alasan peneliti melakukan pengembangan model pembelajaran Blended Learning menggunakan Assure karena sesuai dengan kondisi peserta didik yaitu peserta didik sudah terbiasa menggunakan online. Alasan yang lain yaitu adanya fasilitas sekolah yang menunjang dalam pelaksanaan pembelajaran ini yaitu tersedianya wifi dan laboratorium komputer yang lengkap. Pelaksanaan model pembelajaran Blended Learning menggunakan Assure menuntut peserta didik agar aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran, melatih peserta didik dalam tanggung jawab, dapat belajar secara mandiri, serta dapat melatih peserta didik untuk dapat mengidentifikasi masalah secara mendalam.
Pengembangan model pembelajaran dalam penelitian ini terdapat beberapa komponen yaitu sintakmatik, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak intruksional, dan dampak pengiring (Joice dan Weil, 1992:14-16). Tolak ukur pengembangan model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan Assure dikatakan berhasil jika sudah memenuhi aspek kualitas model yaitu layak, praktis, dan efektif. Untuk penilaian dalam pengembangan model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE menggunakan lembar validasi dan tes (pretes dan postest). Produk pengembangan dalam pengembangan model Blended Learning dengan menggunakan ASSURE meliputi: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), alat peraga (media blog dan power poin), modul, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan tes hasil belajar (evaluasi)
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan dalam penelitian ini ialah: bagaimanakah hasil validasi ahli terhadap model pembelajaran Blended Learning pada pembelajaran Sejarah SMA dengan menggunakan ASSURE dan apakah model pembelajaran Blended Learning pada pembelajaran Sejarah SMA dengan menggunakan ASSURE mampu menunjang pembelajaran sejarah indonesia menjadi pembelajaran yang layak, praktis, dan efektif.

METODE PENELITIAN
            Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Developmental Research). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran sejarah yang layak, praktis, dan efektif melalui model Blended Learning dengan menggunakan ASSURE. Untuk melaksanakan model Blended Learning dengan menggunakan ASSURE diperlukan alat pembelajaran yang sesuai dengan model Blended Learning dengan menggunakan ASSURE yang terkait yaitu sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dan dampak instruksional dan pengiring, dan dikembangkan secara bersamaan dengan model Blended Learning dengan menggunakan ASSURE. Proses pengembangan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan model Blended Learning dengan menggunakan ASSURE yang layak, praktis, dan efektif yang memerlukan perangkat-perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian yang terkait yaitu sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak instruksional dan pengiring melalui uji coba tim validasi, uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan.

HASIL PENELITIAN
Penelitian pengembangan ini adalah untuk melihat praktis, layak, dan efektif dari model pembelajaran yang telah dikembangkan yaitu model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE melalui tim validasi dan ujioba produk yang meliputi uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan.
1.        Uji Ahli Validasi
a.       Ahli Materi
Hasil =  x 100%
Hasil Validasi Ahli Materi Pembelajaran =   x 100% = 90,43%.
b.      Ahli Media dan Desain pembelajaran
Untuk ahli media pembelajaran adalah dengan hasil sebagai berikut:
Hasil =  x 100%
Hasil Validasi Ahli Materi Pembelajaran =   x 100% = 91,11%.
Untuk ahli desain pembelajaran adalah dengan hasil sebagai berikut:
Hasil =  x 100%
Hasil Validasi Ahli Materi Pembelajaran =   x 100% = 94%.
c.       Ahli Bahasa
Hasil =  x 100%
Hasil Validasi Ahli Materi Pembelajaran =   x 100% = 90%.
2.        Uji Coba Produk
a.       Uji Coba Perorangan
Rerata persentase model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE dari masing-masing indikator adalah (86,67+86,67+100+93,33+93,33+ 80+93,33+93,33+93,33+80+80+80+93,33+93,33+80+93,33+93,33+100+80+86,67)% : 20 = 89%. Jadi rerata persentase model pembelajaran adalah 89%. Jika dikonsultasikan dengan tabel kelayakan, maka model pembelajaran tersebut dikategorikan sangat tepat digunakan kepada peserta didik dan tidak perlu ada revisi.
b.      Uji Coba Kelompok Kecil
Rerata persentase model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE untuk indikator kelayakan adalah sebagai berikut: (91+89+87+89+91+89+87+91+89+91+89+ 87+89+91+89+87)% : 16 = 89%. Jadi rerata persentase kelayakan model pembelajaran adalah 89%. Jika dikonsultasikan dengan tabel kelayakan, maka model pembelajaran tersebut dikategorikan sangat tepat digunakan kepada peserta didik dan tidak perlu ada revisi
3.        Uji Coba Lapangan
a.       Analisis Kelayakan
Berdasarkan hasil uji coba lapangan yang dilakukan pada siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 4 Jember, dapat diketahui tingkat kelayakan dari adanya pengembangan Blended Learning dengan menggunakan ASSURE sebagai berikut:
Persentase (%)             =  x 100%
= 89%
Setelah dikonsultasikan dengan tabel kelayakan, persentase tingkat pencapaian 89% berada dalam kualifikasi sangat baik. Artinya pengembangan model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE sangat baik digunakan untuk peserta didik, sehingga model pembelajaran tersebut tidak perlu revisi.
b.      Analisis Kepraktisan
Kepraktisan dihubungkan pula dengan efisien dan efektifitas waktu dan dana. Berdasarkan hasil uji coba lapangan yang dilakukan pada siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri 4 Jember, dapat diketahui tingkat kepraktisan dari adanya pengembangan Blended Learning dengan menggunakan ASSURE sebagai berikut:
Persentase (%)             =  x 100%
= 88%
Setelah dikonsultasikan dengan tabel kepraktisan, persentase tingkat pencapaian 88% berada dalam kualifikasi sangat baik. Artinya pengembangan model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE sangat baik digunakan untuk peserta didik, sehingga model pembelajaran tersebut tidak perlu revisi.
c.       Analisis Efektivitas
Hasil Efektivitas dalam penelitian ini melihat dari ketuntasan klasikal dari peserta didik, nilai yang sudah sesuai dengan KKM yang ditetapkan oleh pihak sekolah, serta perbedaan nilai yang dipeorleh siswa antara sebelum dan sesudah pelaksanaan pembelajaran tersebut dengan menggunakan uji t yaitu menggunakan Paired Sample t Test dengan bantuan program SPSS (Statistic Product Sevice Solution) versi 22 dengan hasil sebagai berikut:
Tabel Hasil Uji-t Menunjukkan Perbedaan Antara Hasil Pretest dan Postes
Paired Samples Test

Paired Differences
t
df
Sig. (2-tailed)
Mean
Std. Deviation
Std. Error Mean
95% Confidence Interval of the Difference
Lower
Upper
Pair 1
Sebelum - Sesudah
-6,27273
2,68413
,46725
-7,22448
-5,32098
-13,425
32
,000
Sumber: Data Primer Diolah
Hasil analisis data tabel di atas menunjukkan bahwa antara pretest dan postest berbeda dengan signifikansi (P < 0,00; df = 32; t = -13,425, dengan selisih perbedaan antara pretest dan postest sebesar -6,27273.

PEMBAHASAN
Tahap pertama dalam pengembangan model pembelajaran ini diawali dengan penetapan mata pelajaran yang akan dikembangkan. Perimbangan dalam memilih mata pelajaran Sejarah Indonesia adalah berdasarkan observasi di lapangan. Observasi lapangan dilakukan sejak pengembang mengajarkan mata pelajaran tersebut. Secara khusus kegiatan yang dilakukan berupa penyebaran angket peserta didik dan diskusi dengan pendidik mata pelajaran sejarah yang lain, untuk mengetahui kendala dan permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
Tahap kedua adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran, melakukan analisis instruksional, mengidentifikasi perilaku awal dan karakteristik peserta didik, menulis PTK, dan mengembangkan tes acuan patokan. Tahap ketiga adalah mengembangkan strategi pembelajaran. Tahap keempat adalah penyusunan dan penulisan model pembelajaran. Tahap kelima adalah mendesain dan melakukan evaluasi formatif dan merevisi produk pengembangan. Pengembangan model pembelajaran secara lengkap dilakukan pengembang saat proses pembelajaran pada semester genap. Penyajian dan analisis data ini memaparkan tentang sajian dan analisis data hasil tanggapan/penilaian ahli materi dan desain pembelajaran, ahli media pembelajaran, ahli bahasa, uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan.
1.        Ahli Tim Validasi
Hasil validasi dari para ahli yang terdiri dari ahli materi pembelajaran, ahli desain pembelajaran, ahli media pembelajaran, dan ahli bahasa memberikan hasil yang sangat baik walaupun ada beberapa revisi untuk perbaikan. Hasil validasi untuk ahli materi pembelajaran yang dilakukan oleh Drs. Kayan Swastika, M.Si memiliki skor sebesar 90,43%. Setelah dicocokkan dengan tabel kelayakan, maka kelayakan model pembelajaran yang telah dikembangkan dengan nilai 90,43% termasuk dalam kategori sangat baik dan tidak perlu revisi. akan tetapi berdasarkan saran perbaikan ahli materi pembelajaran, produk yang dikembangkan akan diberikan sedikit revisi perbaikan. Tanggapan dan komentar dari ahli materi pembelajaran tidak banyak. Ahli materi menyampaikan saran-saran, yakni secara keseluruhan kualitas isi dari modul pembelajaran sangat bagus dan sesuai untuk siswa SMA. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: karakteristik sejarah yang bersifat kronologis untuk lebih ditampakkan, perspektif diakronis harus lebih menonjol dibandingkan perspektif sinkronis, dan untuk lebih memperbanyak bahan yang digunakan.
Hasil validasi untuk ahli media pembelajaran yang dilakukan oleh Prof. Drs. Slamin, M.Comp. Sc. Ph.D. memiliki skor sebesar 91,11%. Setelah dicocokkan dengan tabel kelayakan, maka kelayakan model pembelajaran yang telah dikembangkan dengan nilai 91,11% termasuk dalam kategori sangat baik dan tidak perlu revisi. akan tetapi berdasarkan saran perbaikan ahli media pembelajaran, produk yang dikembangkan akan diberikan sedikit revisi perbaikan. Tanggapan dan komentar dari ahli media pembelajaran tidak banyak. Ahli media menyampaikan saran-saran, yakni secara keseluruhan kualitas isi dari media pembelajaran sangat bagus dan sesuai untuk siswa SMA baik power point baupun media blog yang digunakan. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan yaitu pada media blog yang digunakan, agar dilengkapi sumber pada setiap gambar serta menambahkan video yang terkait dengan materi. Hasil validasi untuk ahli desain pembelajaran Prof. Drs. Slamin, M.Comp. Sc. Ph.D memiliki skor sebesar 94%. Setelah dicocokkan dengan tabel kelayakan, maka kelayakan model pembelajaran yang telah dikembangkan dengan nilai 94% termasuk dalam kategori sangat baik dan tidak perlu revisi. akan tetapi berdasarkan saran perbaikan ahli desain pembelajaran, produk yang dikembangkan akan diberikan sedikit revisi perbaikan. Ahli validasi untuk media dan desain pembelajaran dilakukan oleh 1 orang karena pada model pembelajaran Blended Learning tersebut menekankan pada penggunaan media online.
Hasil validasi untuk ahli bahasa yang dilakukan oleh Anita Widjajanti, S.S., M.Hum memiliki skor sebesar 90%. Setelah dicocokkan dengan tabel kelayakan dari seluruh skor tersebut, maka kelayakan model pembelajaran yang telah dikembangkan termasuk dalam kategori sangat baik dan tidak perlu revisi. akan tetapi berdasarkan saran perbaikan para tim validasi, produk yang dikembangkan akan diberikan sedikit revisi perbaikan. Ahli bahasa tidak banyak memberikan komentar. Komentar tertulis yang beliau sampaikan adalah semua butiran sudah baik dan sangat baik. Berdasarkan wawancara mengenai kekurangan model pembelajaran yang diterapkan, beliau menyampaikan bahwa pada prinsipnya sudah cocok untuk level siswa SMA.
2.        Uji Coba Produk
Uji coba produk dalam penelitian ini meliputi uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil.
a.       Uji Coba Perorangan
Uji coba perorangan dilakukan pada peserta didik kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 4 Jember. Subjek coba pada tahap ini adalah 3 orang peserta didik. Untuk mengetahui kualitas produk model pembelajaran dari karakteristik peserta didik yang berbeda, maka ketiga peserta didik tersebut dipilih berdasarkan prestasi belajarnya. 1 orang peserta didik dengan prestasi belajar tinggi, 1 orang peserta didik dengan prestasi belajar sedang, dan 1 orang peserta didik dengan prestasi belajar rendah. Pretasi belajar peserta didik dilihat dari nilai rapot peserta didik. Uji coba perorangan dilaksanakan pada hari selasa 26 April 2016 di kelas XI IPS 2. Uji coba perorangan tersebut ditekankan pada model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE. Berikut merupakan hasil uji coba perorangan berturut-turut mulai penyajian data, hasil tanggapan/nilai peserta didik, analisis data, dan revisi produk pengembangan.
Berdasarkan hasil uji perorangan dapat diketahui bahwa rerata persentase model pembelajaran adalah 89%. Jika dikonsultasikan dengan tabel kelayakan, maka model pembelajaran tersebut dikategorikan sangat tepat digunakan kepada peserta didik dan tidak perlu ada revisi.
Item penilaian yang mendapatkan skor persentase tertinggi adalah pemberian topangan pada peserta didik yang membutuhkan dan kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pembelajaran yaitu dengan skor 100%. Sedangkan item penilaian yang mendapatkan skor persentase terendah adalah Memberikan PR/tugas, peserta didik mengerjakan tugas yang diberikan oleh pendidik secara online, antar peserta didik saling berinteraksi dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh pendidik, Perhatian pendidik terhadap tata cara peserta didik dalam menyelesaikan tugas secara online, pemberian respon terhadap hasil kerja peserta didik, dan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan tugas dan permasalahan yaitu sebesar 80%. Walaupun berdasarkan persentase per item maupun rerata persentase sudah menunjukkan hasil yang baik, namun berdasarkan masukan dari komentar dan wawancara dengan peserta didik ada beberapa hal yang perlu mendapatkan revisi.
b.      Uji Coba Kelompok Kecil
Subjek coba pada tahap uji kelompok kecil ini adalah 9 orang peserta didik kelas XI IPS 2. Kesembilan peserta didik ini bukan merupakan peserta didik  yang ikut dalam uji coba perorangan. Kesembilan orang peserta didik tersebut terdiri atas 3 orang berprestasi belajar tinggi, 3 orang berprestasi belajar sedang, dan 3 orang berprestasi belajar rendah. Dalam uji coba kelompok kecil produk pengembangan yang diujicobakan yaitu model pembelajaran yang meliputi kelayakan san kepraktisan. Uji coba kelompok kecil dilaksanakan pada hari selasa 26 April 2016. Uji coba kelompok kecil tersebut ditekankan pada model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE. Berikut merupakan hasil uji coba kelompok kecil berturut-turut mulai penyajian data, hasil tanggapan/nilai peserta didik, analisis data, dan revisi produk pengembangan.
Untuk hasil uji kelompok kecil rerata persentase kelayakan model pembelajaran adalah 89%. Jika dikonsultasikan dengan tabel kelayakan, maka model pembelajaran tersebut dikategorikan sangat tepat digunakan kepada peserta didik dan tidak perlu ada revisi. Item penilaian yang mendapatkan skor persentase tertinggi adalah pembelajaran model Blended Learning dengan menggunakan ASSURE merupakan suatu pengembangan model pembelajaran sejarah yang kreatif dan inovatif, komposisi warna dan tampilan media pembelajaran baik dan menarik, penggunaan huruf pada media pembelajaran yang proporsional dan memiliki komposisi huruf yang baik, isi materi sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dengan persentase sebesar 91%.
Sedangkan item penilaian yang mendapatkan skor persentase terendah adalah pembelajaran Model Blended Learning dengan menggunakan ASSURE memiliki keunggulan dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional (ceramah), penggunaan ilustrasi gambar sesuai dan menarik, peserta didik dapat memahami materi pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran Model Blended Learning dengan Menggunakan ASSURE, dan menggunakan intonasi suara yang jelas yaitu sebesar 87%. Walaupun berdasarkan persentase per item maupun rerata persentase sudah menunjukkan hasil yang baik, namun berdasarkan masukan dari komentar dan wawancara dengan peserta didik ada beberapa hal yang perlu mendapatkan revisi.
Rerata kepraktisan dari pengembangan model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE adalah sebesar 88%. Jika dikansultasikan dengan tabel kepraktisan pada, maka model pembelajaran tersebut masuk dalam kategori sangat praktis. Item penilaian yang mendapatkan skor sangat tinggi adalah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tradisional dan online yaitu sebesar 91%. Sedangkan untuk item yang mendapatkan persentase terendah yaitu kepraktisan peserta didik dalam mencari tambahan materi melalui blog, kepraktisan peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan sesuai dengan materi pembelajaran, kepraktisan dalam pengumpulan tugas yang diberikan oleh pendidik, dan kepraktisan model pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu sebesar 87%. Walaupun berdasarkan persentase per item maupun rerata persentase sudah menunjukkan hasil yang baik, namun berdasarkan masukan dari komentar dan wawancara dengan peserta didik ada beberapa hal yang perlu mendapatkan revisi.

3.        Uji Coba Lapangan
Pada tahap uji lapangan subjek coba terdiri atas peserta didik pada mata pelajaran Sejarah Indonesia. Subjek coba peserta didik adalah seluruh peserta didik kelas XI IPS 1 SMA Negeri 4 Jember yang menempuh mata pelajaran Sejarah Indonesia. Model pengembangan berupa pengembangan model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE, Komentar atau saran dari ahli materi, ahli media pembelajaran, ahli bahasa, uji coba perorangan, dan uji coba kelompok kecil dinamakan produk pengembangan draf III. Produk pengembangan draft III selanjutnya diuji coba dalam kelas yang sesungguhnya. Uji coba lapangan dilaksanakan pada hari kamis 28 April 2016. Peserta didik yang dijadikan responden uji coba adalah peserta didik kelas XI IPS 1 yang berjumlah 33 peserta didik.
Pengembangan model pembelajaran Blended Learning pada pembelajaran Sejarah SMA dengan menggunakan ASSURE mampu menunjang pembelajaran sejarah indonesia menjadi pembelajaran yang layak, praktis, dan efektif. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisis dari uji coba lapangan yaitu untuk kelayakan sebesar 88% yang termasuk dalam kategori sangat baik. Jika dikonsultasikan dengan tabel kelayakan, maka model pembelajaran tersebut dikategorikan sangat tepat digunakan kepada peserta didik dan tidak perlu ada revisi. Item penilaian yang mendapatkan skor persentase tertinggi adalah tata letak desain media proporsional dengan persentase sebesar 93,33%. Sedangkan item penilaian yang mendapatkan skor persentase terendah penggunaan ilustrasi gambar sesuai dan menarik yaitu sebesar 87%. Walaupun berdasarkan persentase per item maupun rerata persentase sudah menunjukkan hasil yang baik, namun berdasarkan masukan dari komentar dan wawancara dengan peserta didik ada beberapa hal yang perlu mendapatkan revisi.
Untuk analisis kepraktisan yaitu sebesar 89% yang termasuk dalam kategori sangat baik. Jika dikansultasikan dengan tabel kepraktisan, maka model pembelajaran tersebut masuk dalam kategori sangat praktis. Item penilaian yang mendapatkan skor sangat tinggi adalah penggunaan model dan media pembelajaran yang diterapkan yaitu sebesar 89,7%. Sedangkan untuk item yang mendapatkan persentase terendah yaitu waktu yang dipergunakan dalam pelaksanaan model pembelajaran, kepraktisan peserta didik dalam mencari tambahan materi melalui blog, dan kepraktisan dalam pengumpulan tugas yang diberikan oleh pendidik yaitu sebesar 86,67%. Walaupun berdasarkan persentase per item maupun rerata persentase sudah menunjukkan hasil yang baik, namun berdasarkan masukan dari komentar dan wawancara dengan peserta didik ada beberapa hal yang perlu mendapatkan revisi.
Sedangkan untuk uji efektifitas dapat dilihat dari hasil analisis pada uji coba lapangan dengan menggunakan uji t Paired Sample t Test yaitu P < 0,00; df = 32; t = -13,425, dengan selisih perbedaan antara pretest dan postest sebesar -6,27273. Nilai negatif pada selisih keduanya menunjukkan pretest lebih rendah daripada postest. Artinya dengan adanya pengembangan model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE telah mampu meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 6,27273 dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan penelitian pengembangan ini adalah model pembelajaran Blended Learning dengan menggunakan ASSURE dapat digunakan sebagai model pembelajaran sejarah menjadi pembelajaran yang layak, praktis, dan efektif.

Saran
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini maka dapat diberikan saran pada beberapa pihak antara lain, bagi guru yang ingin menerapkan model pembelajaran serupa, dapat merancang atau mengembangkan sendiri perangkat pembelajaran yang diperlukan dengan memperhatikan komponen model pembelajaran dan karakterisitik dari materi pembelajaran yang akan dikembangkan. Bagi peneliti lain yang hendak melakukan penelitian yang sejenis, langkah pengembangan model pembelajaran ini hanya sampai pada evaluasi formatif, untuk lebih mengetahui efisiensi pembelajaran, sebaiknya dalam langkah diseminasi dilakukan tes sumatif terlebih dahulu.

DAFTAR  RUJUKAN

Bonk, B.J & Graham C.R. 2005. Handbook of Blended Learning: Global Perspectives, Local Design. San Fransisco, CA: Pfeiffer Publising, San Fransisco, CA.

Joice, B & Weil, M. 1992. Models of Teaching. Fourth edition. Boston London-Toronto-Sydney-Singapure: Allyn and Bacon Publishers..

Masfadilah. 2014. Penerapan Pembelajaran Blended Learning untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI di SMA Negeri 3 Malang. (https://www.academia.edu/6645512/RESUME_BLENDED_LEARNING_BAB_1_2_3 ). [diakses pada tanggal 01-06-2015]rta.

White, C. 1997. Indonesian social Studies Education: Critical Analisys, The Social Studies (March-April). Houston: Akademic Research Library

Widja. 2006. Menuju Wajah Baru Pendidikan Sejarah. Jakarta: PT. Bumi Aksara.