Selasa, 23 Mei 2017

PENGARUH PEMAHAMAN NILAI-NILAI  PANCASILA DAN PENDIDIKAN DALAM KELUARGA TERHADAP SIKAP ANTI KORUPSI
PADA SISWA MAN 2 JEMBER

Mamik Isgiyanti, Mohamad Na'im  dan Sri Handayani
E-mail: mamikisgiyanti@yahoo.co.id

ABSTRACT:This study was conducted to determine whether there is a significant influence understanding of the values of Pancasila and education in the family against corrupt behavior in students of class XI MAN 2 Jember second semester of academic year 2015 / 2016. The research design was expost facto and correlational. To determine the sample using proportional random sampling, as many as 72 respondents. Data collection methods used are tests and questionnaires, while supporting data used for observation, documentation and interview. Data was analyzed by correlation and regression. Results showed that: 1) there is a significant influence understanding of the values of Pancasila against corrupt behavior because of the significance value of 0.000. with a contribution of 28.2% .; 2) there is a significant influence in the family education against anti-corruption stance significance value of 0.014, and a contribution of 8.3%. 3) there is a significant influence understanding of the values of Pancasila and education in the family of the anti-corruption together against anti-corruption stance with significant value of 0.000, while the contribution of 30.7%.

      Keywords: understanding of Pancasila values, family education, anti-corruption attitude

PENDAHULUAN
Generasi muda merupakan aset yang menentukan eksistensi dan kemajuan suatu bangsa, oleh karena itu perlu dipersiapkan sosok generasi yang siap dengan segala tantangan terutama yang saat ini lagi marak yaitu praktik korupsi. Fenomena justeru menunjukkan kenyataan yang kontradiksi dengan tuntutan itu. Sikap dan perilaku para siswa, khususnya siswa MAN 2 Jember masih ada yang terlihat belum mencerminkan sikap anti korupsi, padahal mereka telah mendapatkan pendidikan baik di sekolah maupun dalam keluarga yang seharusnya mendukung pada terbentuknya sikap anti korupsi.
Melalui pendidikan di sekolah, kepada para siswa sebagai cikal bakal yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan para pemimpin terdahulu menuju kemajuan suatu bangsa, mulai tingkat dasar bahkan sampai tingkat atas perlu diberikan mata pelajaran yang dapat menanamkan nilai-nilai yang mampu membentuk suatu sikap dalam diri  para siswa untuk anti terhadap korupsi. Hal ini perlu dilakukan karena salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan suatu tindakan atau perbuatan tertentu adalah disebabkan adanya dorongan yang kuat dalam diri seseorang untuk melakukan tindakan tersebut yang pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang terinternalisasi dalam diri orang tersebut
Dalam upaya menumbuhkan sikap anti korupsi, pendidikan dalam keluarga memiliki arti yang sangat penting, karena keluarga merupakan referensi pertama mengenai nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan menjadi acuan untuk mengevaluasi perilaku (Elkin dan Handel dalam Lestari, 2012; 87). Sedangkan korupsi pada dasarnya merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral. Sebagaimana yang dinyatakan Megawangi (2004: 4), budaya korupsi merupakan praktik pelanggaran moral, yaitu ketidakjujuran, tidak bertanggung jawab, rendahnya disiplin, rendahnya komitmen kepada nilai-nilai kebaikan.
Pendidikan dalam keluarga merupakan sarana efektif dalam upaya mencegah dan memberantas tindak korupsi. Sebagaimana dinyatakan dalam Buku Pandidikan Anti Korupsi (Kemendikbud, 2011: 92), bahwa sarana kontrol sosial yang dapat mencegah dan memberantas korupsi adalah kekuasaan orang tua, kebiasaan-kebiasaan, ataupun agama. Anti korupsi merupakan sikap yang dapat mencegah dan menghilangkan peluang berkembangnya korupsi. Pendidikan anti korupsi dapat dilakukan melalui pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal pada lingkungan keluarga (Kemenag, 2013:6).
Keluarga merupakan peletak dasar nilai yang akan menentukan bagi kehidupan anak selanjutnya. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Uhbiyati (1997: 237), bahwa dalam keluarga akan terjadi interaksi pendidikan pertama dan menjadi pondasi dalam pendidikan selanjutnya. Sedangkan Djamarah (2014; 38), menyatakan bahwa institusi keluarga memiliki peran strategis dalam menanamkan dasar pendidikan nilai kepada anak untuk dikembangkan di dunia persekolahan atau di masyarakat yang lebih luas. Keluarga adalah tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi yang menentukan kualitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan aggota keluarga. Apabila keluarga gagal mengajarkan kejujuran, semangat, keinginan menjadi baik, dan kemampuan-kemampuan dasar, maka akan sulit bagi lembaga lain untuk memperbaikinya (Bennett dalam Megawangi, 2004: 63).
Keluarga memiliki peran penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan karakter positif pada anak, khususnya dalam rangka menumbuhkan sikap anti korupsi. Sebagaimana pernyataan Lickona (2012: 81), keluarga adalah pihak pertama dan paling penting dalam memengaruhi karakter anak. Penggerak dari setiap perbuatan, tingkah laku, perangai dan perkataan serta sikap pada umumnya adalah mental atau kepribadian secara keseluruhan, dan untuk menjadikan seseorang sehat mental serta sempurna kepribadiannya harus melalui pembinaan yang sungguh-sungguh sejak kecil. Oleh karena itu semua nilai yang penting harus masuk dalam pembinaan pribadi, sejak kecil (Darajat, 1976: 66). Dalam konteks ini  orang tualah yang menjadi penanggung jawab utama. Bentuk pola asuh orang tua mempengaruhi pembentukan kepribadian anak setelah ia menjadi dewasa (Koentjaraningrat dalam Djamarah, 2014: 52). Orang tua memiliki peran penting dan strategis dalam menentukan ke arah mana dan kepribadian anak yang bagaimana yang akan dibentuk. Bimbingan orang tua diperlukan untuk memberikan arah yang jelas dan meluruskan kesalahan sikap dan perilaku anak ke jalan yang lurus (Djamarah, 2014: 40).
Dari uraian di atas jelas, bahwa pendidikan dalam sebuah keluarga, yang berkenaan dengan bagaimana orang tua dalam mengasuh anak maupun apa yang diajarkan pada anak, memiliki peranan yang sangat besar dalam membentuk sikap anak, khususnya yang mengarah pada sikap anti korupsi. Melalui Pola asuh dan nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga akan memberikan pengaruh pada kehidupan anak kelak ketika ia dewasa dan dapat menjadi benteng bagi anak untuk terhindar dari perbuatan korupsi.
Pemahaman nilai-nilai Pancasila dan keberhasilan keluarga dalam mendidik anak, menjadikan siswa akan tahu mana perbuatan yang baik dan buruk, benar dan salah, yang diperintahkan dan yang dilarang sehingga mereka akan dapat membentengi diri dari tindakan-tindakan yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, terutama yang terkait dengan pembahasan dalam tulisan ini yaitu memiliki sikap anti korupsi.
Berangkat dari latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini ialah:
1) adakah pengaruh yang signifikan pemahaman nilai-nilai Pancasila sikap anti korupsi; 2) adakah pengaruh yang signifikan pendidikan dalam keluarga terhadap sikap anti korupsi; 3) adakah pegaruh yang signifikan pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga secara bersama-sama terhadap sikap anti korupsi.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian expost facto dan korelasional, karena peneliti tidak memberikan perlakuan terhadap variabel yang diteliti, dan dan bertujuan untuk menganalisis apakah ada pengaruh yang signifikan pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga terhadap sikap anti korupsi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa MAN 2 Jember kelas XI, yang diambil sampel untuk dijadikan responden penelitian dengan metode proporsional random sampling yaitu sebanyak 72 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, kuesioner, dokumentasi, dan wawancara. Ada dua jenis validitas yang digunakan yaitu validitas isi dan validitas konstruk, sedangkan untuk mengukur reliabilitas digunakan rumus alpha cronbach. Metode analisis data yang digunakan yaitu anlisis korelasi dan regresi. Untuk mengetahui pengaruh variabel X1 terhadap Y analisis regresi sederhana, dan X2 terhadap Y digunakan analisis regresi ganda.

HASIL
Hipotesis pertama (Ha) dari penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan antara pemahaman nilai-nilai Pancasila (X1) terhadap sikap anti korupsi (Y) pada siswa MAN 2 Jember, Berdasarkan hasil analisis statistik regresi sederhana dengan bantuan program SPSS versi 22, diketahui F hitung = 27,503 dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh yang signifikan pemahaman nilai-nilai Pancasila terhadap sikap anti korupsi. Adapun arah hubungan menunjukkan arah positif, artinya semakin tinggi tingkat pemahaman nilai-nilai Pancasila, maka semakin tinggi tinggi pula sikap anti korupsinya, sebaliknya semakin rendah tingkat pemahaman nilai-nilai Pancasila, maka semakin rendah pula sikap anti korupsinya.
Hipotesis kedua (Ha) dari penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan pendidikan dalam keluarga (X2) terhadap sikap anti korupsi (Y) pada siswa MAN 2 Jember. Berdasarkan hasil analisis statistik regresi sederhana dengan bantuan program SPSS versi 22, diketahui F hitung = 6,367 dengan taraf signifikansi 0,014 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh yang signifikan pendidikan dalam keluarga terhadap sikap anti korupsi. Adapun arah hubungan menunjukkan arah positif, artinya semakin baik pendidikan dalam keluarga, maka semakin tinggi pula sikap anti korupsinya, sebaliknya semakin tidak baik pendidikan dalam keluarga, maka semakin rendah pula sikap anti korupsinya.
Hipotesis ketiga (Ha) dari penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan pemehaman nilai-nilai Pancasila (X1) dan pendidikan dalam keluarga (X2) secara bersama-sama terhadap sikap anti korupsi (Y) pada siswa MAN 2 Jember. Hipotesis ketiga ini diuji dengan analisis statistik regresi ganda. Berdasarkan perhitungan dengan bantuan program SPSS versi 22, diperoleh hasil sebagai berikut:
1.      Diketahui nilai constant (a) sebesar 22, 456, b1 sebesar 0,401, dan b2 sebesar 0,048, sehingga diperoleh model persamaan reggres sebagai berikut: Y = 22,456 + 0,401X1 + 0,048X2
2.      Diketahui F hitung = 15,308 dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh yang signifikan  pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga secara bersama-sama terhadap sikap anti korupsi.
3.      Untuk mengetahui besarnya pengaruh pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga secara bersama-sama terhadap sikap anti korupsi, dilihat dari nilai koefisien determinasinya yaitu sebesar 0,307 yang mengandung pengertian bahwa 30,7% variabel terikat sikap anti korupsi dipengaruhi oleh variabel bebas yaitu pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga. Dengan kata lain sikap anti korupsi dapat dipengaruhi oleh variabel lain, seperti lingkungan masyarakat, teman bergaul, tingkat intelegensi, dan lain sebagainya yang tidak diteliti dalam penelitian ini, yaitu sebesar 69,3%.
4.      Untuk mengetahui kontribusi dari masing-masing variabel, maka dapat dilihat dari hasil perhitungan korelasi parsial, yaitu kontribusi pemahaman nilai-nilai Pancasila  (X1) terhadap sikap anti korupsi (Y) sebesar 0,494. Hal ini menunjukkan 49,4% variabel sikap anti korupsi dipengaruhi oleh pemahaman nilai-nilai Pancasila, pendidikan dalam keluarga (X2) terhadap sikap anti korupsi (Y) sebesar 0,188. Hal ini menunjukkan 18, 8% variabel sikap anti korupsi dipengaruhi oleh pendidikan dalam keluarga.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil deskripsi data pemahaman nilai-nilai Pancasila (X1) siswa MAN 2 Jember kelas XI semester genap tahun pelajaran 2015/ 2016 dapat dikatakan cukup baik, oleh karena dari 72 responden terdapat 49 siswa atau 68,06% yang memperoleh skor di atas rata-rata (28,56), sedangkan sisanya sebanyak 23 siswa atau 31,94% memperoleh skor di bawah skor rata-rata. Hal ini bahwa pemahaman siswa MAN 2 Jember terhadap nilai-nilai Pancasila adalah cukup baik.
Deskripsi data pendidikan dalam keluarga (X2) termasuk dalam kategori cukup baik, karena dari 72 responden terdapat 47 siswa atau 65,28% yang memperoleh skor di atas rata-rata (188,46), sedangkan sisanya sebanyak 25 siswa atau 34,72% memperoleh skor di bawah rata-rata. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan siswa MAN 2 Jember dalam keluarga adalah cukup baik.
Deskripsi data sikap anti korupsi (Y) termasuk dalam kategori cukup baik, karena dari 72 responden terdapat 46 siswa atau 63,89% yang memperoleh skor di atas rata-rata (42,97), sedangkan sisanya sebanyak 26 siswa atau 36,11% memperoleh skor di bawah rata-rata. Hal ini menunjukkan bahwa siswa MAN 2 Jember cukup tinggi. Hubungan ketiga variabel tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pengaruh pemahaman nilai-nilai Pancasila terhadap sikap anti korupsi
Berdasarkan hasil analisis regresi sederhana, maka diketahui F hitung = 27,503 dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh yang signifikan pemahaman nilai-nilai Pancasila terhadap sikap anti korupsi. Persamaan regresi yang diperoleh yaitu Y = 30,554 + 0,435X1, penggunaan dari rumus persamaan ini dapat dicontohkan sebagai berikut: Jika seorang siswa memperoleh skor pemahaman nilai-nilai Pancasila sebesar 39, maka dapat diprediksi skor sikap anti korupsi siswa tersebut adalah sebagai berikut: Y = 30,554 + 0,435 (39) = 30,554 + 16,965 = 30,554 + 16,965 = 47,52
Koefisien determinasi yang menunjukkan besarnya pengaruh pemahaman nilai-nilai Pancasila (X1) terhadap sikap anti korupsi (Y) sebesar 28,2%. Temuan ini menunjukkan adanya kontribusi pemahaman nilai-nilai Pancasila terhadap pembentukan sikap anti korupsi. Walaupun angka kontribusinya tidak begitu besar, namun antara variabel pemahaman nilai-nilai Pancasila (X1) dengan vasiabel sikap anti korupsi (Y) ada pengaruh yang signifikan. Dengan mengacu pada kenyataan tersebut, tidaklah berlebihan jika dinyatakan bahwa pemahaman nilai-nilai Pancasila mempunyai peranan penting dalam mendukung terbentuknya sikap anti korupsi pada siswa di MAN 2 Jember. Hal ini sesuai dengan penelitin terdahulu yang dikemukakan oleh Puspita et al.(2014), bahwa ada pengaruh pemahaman nilai-nilai Pancasila terhadap pembentukan sikap. Oleh karena itu perlu adanya suatu pembelajaran yang lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila terhadap siswa MAN 2 Jember, sehingga dengan pemahaman itu akan berpengaruh terhadap meningkatnya suatu sikap yaitu sikap anti korupsi pada diri siswa.

2. Pengaruh pendidikan dalam keluarga terhadap sikap anti korupsi
Berdasarkan hasil analisis korelasi sederhana, maka diketahui F hitung = 6,367 dengan nilai signifikansi 0,014 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh yang signifikan pendidikan dalam keluarga terhadap sikap anti korupsi.
Persamaan regresi yang diperoleh yaitu Y = 27,030 + 0,085X2, penggunaan dari rumus persamaan ini dapat dicontohkan sebagai berikut: Jika seorang siswa memperoleh skor pendidikan dalam keluarga sebesar 208, maka dapat diprediksi skor sikap anti korupsi siswa tersebut adalah sebagai berikut:
Y = 27,030 + 0,085 (208) = 27,030 + 17,68
= 27,030 + 17,68 = 44,71
Koefisien determinasi yang menunjukkan besarnya pengaruh pendidikan dalam keluarga (X2) terhadap sikap anti korupsi (Y) sebesar 8,3%. Temuan ini menunjukkan bahwa kontribusi pendidikan dalam keluarga terhadap pembentukan sikap anti korupsi lebih kecil bila dibandingkan dengan variabel pemahaman nilai-nilai Pancasila (X1) Walaupun nilai kontribusinya termasuk, tetapi ini bukan beararti variabel pendidikan dalam keluarga (X2) tidak berpengaruh sama sekali terhadap pembentukan sikap anti korupsi. Hal tersebut terlihat dari adanya hubungan positif dan signifikan dari variabel pendidikan dalam keluarga dengan sikap anti korupsi serta adanya garis persamaan regresi Y atas X2 yang berarti semakin baik pendidikan dalam keluarga akan berakibat meningkatnya sikap anti korupsi pada siswa MAN 2. Begitu pula sebaliknya Semakin tidak baik pendidikan dalam keluarga akan berakibat menurunnya sikap anti korupsi pada siswa MAN 2. Dengan mengacu pada kenyataan tersebut, tidaklah berlebihan jika dinyatakan bahwa pendidikan dalam keluarga mempunyai peranan penting dalam mendukung terbentuknya sikap anti korupsi pada siswa di MAN 2 Jember. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dikemukakan oleh Muhayati Cahyani (2012), bahwa pola asuh dan budaya yang ditanamkan orang tua dapat membentuk sikap anak.

3. Pengaruh pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga secara bersama-sama terhadap sikap anti korupsi
Berdasarkan hasil analisis statistik regresi ganda, maka diketahui F hitung = 15,308 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada pengaruh yang signifikan pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga terhadap sikap anti korupsi.
Koefisien korelasi ganda R sebesar 0,554, sehingga nilai koefisien determinasinya sebesar 0,307. Artinya pengaruh atau kontribusi pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga secara bersama sama terhadap sikap anti korupsi sebesar 30,7%
Berdasarkan temuan penelitian ini diketahui bahwa kontribusi pemahaman nilai-nilai Pancsila terhadap sikap anti korupsi sebesar 49,4% lebih besar dibandingkan dengan kontribusi pendidikan dalam keluarga terhadap sikap anti korupsi yang hanya 18,8%. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pemahaman nilai-nilai Pancasila lebih berpengaruh terhadap pembentukan sikap anti korupsi, jika dibandingkan dengan pendidikan dalam keluarga. Akan tetapi walaupun demikian, karena kedua variabel tersebut sudah terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan sikap anti korupsi, oleh karena itu perlu ada suatu upaya yang mendukung adanya peningkatan terhadap kedua variabel tersebut, sehingga nantinya juga akan membawa peningkatan terhadap sikap anti korupsi

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Terdapat pengaruh yang signifikan pemahaman nilai-nilai Pancasila terhadap sikap anti korupsi pada siswa MAN 2 Jember kelas XI semester genap tahun pelajaran 2015/ 2016. Hal ini dilihat dari nilai signikansi sebesar 0,000. Adapun besarnya pengaruh dapat diketahui dari nilai koefisien determinasi yaitu sebesar 0,282 yang artinya bahwa pemahaman nilai-nilai pancasila memiliki kontribusi sebesar 28,2% terhadap pembentukan sikap anti korupsi pada siswa MAN 2 Jember. Hubungan Pemahaman nilai-nilai Pancasala dengan sikap anti korupsi menunjukkan arah positif, yaitu semakin tinggi tingkat pemahaman siswa MAN 2 Jember terhadap nilai-nilai Pancasila, maka akan semakin tinggi pula sikap anti korupsinya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tingkat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila, maka akan semakin rendah sikap anti korupsinya.
2.      Terdapat pengaruh yang signifikan pendidikan dalam keluarga terhadap sikap anti korupsi pada siswa MAN 2 Jember kelas XI semester genap tahun pelajaran 2015/ 2016. Hal ini terlihat dari nilai signifikansi sebesar 0,014. Adapun besarnya pengaruh dapat diketahui dari nilai koefisien determinasi yaitu sebesar 0,083  yang artinya bahwa pendidikan dalam keluarga memiliki kontribusi sebesar 8,3% terhadap pembentukan sikap anti korupsi pada siswa MAN 2 Jember. Hubungan pendidikan dalam keluarga dengan sikap anti korupsi menunjukkan arah positif, yaitu semakin baik pendidikan dalam keluarga , maka akan semakin tinggi pula sikap anti korupsinya. Begitu pula sebaliknya, semakin tidak baik pendidikan dalam keluarga, maka akan semakin rendah sikap anti korupsinya.
3.      Terdapat pengaruh yang signifikan pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga secara bersama-sama terhadap sikap anti korupsi pada siswa MAN 2 Jember kelas XI semester genap tahun pelajaran 2015/ 2016. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,000. Adapun besarnya pengaruh dapat diketahui dari nilai koefisien determinasi yaitu sebesar 0,307 yang artinya bahwa pemahaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan dalam keluarga secara bersama-sama memiliki kontribusi sebesar 30,7% terhadap pembentukan sikap anti korupsi pada siswa MAN 2 Jember. Dengan kata lain pembentukan sikap anti korupsi dapat dipengaruhi oleh variabel seperti lingkungan masyarakat, teman bergaul, dan lain sebagainya yang tidak diteliti dalam penelitian ini yaitu sebesar 69,3%. Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi dari masing-masing variabel, dapat dilihat dari hasil perhitungan korelasi parsial, yaitu pengaruh pemahaman nilai-nilai Pancasila terhadap sikap anti korupsi 49,4%, lebih besar jika dibandingkan dengan kontribusi pendidikan dalam keluarga terhadap sikap anti korupsi yaitu 18,8%.

Saran
Berdasarkan pada kesimpulan dan implikasi penelitian, maka dapat dikemukakan beberapa saran, sebagai berikut:
1.      Kepada guru khususnya guru PKn yang terkait langsung dalam proses pembelajaran mengenalkan nilai-nilai Pancasila kepada para siswa, hendaknya lebih kreatif mengembangkan suatu proses pembelajaran yang dapat menjadikan siswa betul-betul memahami nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bagi bangsa Indonesia, dengan harapan apa yang dipahami siswa tersebut akan mempengruhi pola pikir siswa yang pada akhirnya pola pikir itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku siswa. Selain itu perlu ada evaluasi yang benar-benar mampu mengukur pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila walaupun terintegrasi dengan pokok bahasan yang lain.
2.      Kepada para orang tua siswa hendaknya merasa terpanggil untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua, dengan memberikan pengasuhan dan mengajarkan hal-hal yang mendukung terhadap pembentukan sikap dan perilaku anak. Berikan pendidikan yang terbaik bagi untuk perkembangan anak di masa yang akan datang.
3.      Perlu adanya kerja sama guru dan orang tua siswa, karena baik orang tua maupun guru ternyata dapat memberikan kontribusi terhadap terbentuknya sikap anti korupsi.

DAFTAR RUJUKAN
Darajat, Zakiah. 1976. Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2014. Pola Asuh Orang Tua dan Komunikasi dalam Keluarga: Upaya Membangun Citra Membentuk Pribadi Anak. Jakarta: Rineka Cipta.

Kemendikbud. 2011. Pendidikan Anti Korupsi Untuk Perguruan tinggi. Jakarta: Dirjen. Dikti.

Kementerian Agama RI. 2013. Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi di Madrasah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

.Lestari, Sri. 2012. Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan & Konflik dalam Keluarga. Jakarta: Kencana
Lickona, Thomas. 2012. Character Matters: Persoalan Karakter Bagaiaman membantu Anak Mengembangkan Penilaian Yang Baik Integritas dan kebajikan Penting lainnya. Jakarta: Bumi Aksara.

Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter: Solusi Yang Tepat Untuk Membangun Bangsa. Jakarta: Heritage Foundation