Selasa, 23 Mei 2017

PENGARUH PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAAN,  PEKERJAAN  ORANG TUA  TERHADAP SIKAP WIRAUSAHA  SISWA SMKN 2 JEMBER

Achmad Muzaki Ghufron  dan  Sukidin 

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah: 1)Untuk menganalisis pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaanterhadap sikap wirausaha siswa; 2)Untuk menganalisispengaruhpekerjaan orangtua terhadap sikap wirausaha siswa; 3)Untuk menganalisis secara bersama-sama pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan denganpekerjaan orangtuaterhadap sikap wirausaha siswa.  Desain penelitian ini adalah penelitian korelasional, Analisis yang digunakan adalah Regresi. Hasil Penelitian: Secara keseluruhan setelah dilakukan uji regresi berganda dengan variabel dummy, ternyata ada pengaruh yang signifikan antara prestasi belajar mata pelajaran (prakarya dan kewirausahaan) dan pekerjaan orangtua dengan sikap wirausaha para siswa SMKN 2 di kota Jember. Besarnya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat ditunjukkan dengan nilai R=0,320 dan nilai R2= 0,102, dengan nilai F=5,400 yang signifikan pada tingkat probabilitas 0,000. Berarti terdapat pengaruh positif prestasi belajar mata pelajaran (prakarya dan kewirausahaan) dan pekerjaan orangtua terhadap sikap wirausaha.

Kata Kunci:  Prestasi Belajar Mata Pelajaran Kewirausahaan,  Pekerjaan
                       Orang Tua,   Sikap Wirausaha 

PENDAHULUAN
            Masyarakat Indonesia akan menghadapi persaingan liberalisasi pasar yang makin ketat, terutama saat diterapkannya ASEANEconomic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di akhir tahun 2015 yang lalu. Tidak hanya liberalisasi perdagangan barang, jasa, investasi, maupun arus modal, namun juga liberalisasi pasar tenaga kerja. Liberalisasi pasar tenaga kerja dapat diartikan bahwa semua warga negara ASEAN dapat keluar masuk secara bebas untuk mencari pekerjaan tanpa adanya hambatan dari pihak negara yang dituju dan siap bersaing dengan tenaga kerja lokal. Dalam pelaksanaan MEA akhir 2015 tersebut, seluruh negara ASEAN sepakat membuka secara bebas tenaga kerja delapan sektor jasa antar negara ASEAN. Delapan sektor jasa itu adalah medical (pengobatan atau dokter), nurse (perawat), arsitektur, engineering (tenaga ahli), dental (dokter gigi), akunting, tenaga survei, lalu tourisme (pariwisata).
            Dengan diterapkannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini, tingkat persaingan tenaga kerja di dalam negeri akan semakin ketat. Para tamatan terdidik tidak hanya berkompetensi dengan sesama tamatan terdidik lokal, tetapi juga akan berkompetensi secara ketat dengan tenaga kerja yang datang dari negara-negara ASEAN. Bila tamatan terdidik kita tidak mampu berkompetensi dengan tenaga kerja asing maka dapat mengakibatkan tingkat pengangguran dalam negeri yang makin tinggi di negeri ini. Kondisi tersebut sangat mencemaskan karena akan semakin menambah beban pengangguran usia produktif di Indonesia. Dimana pengangguran usia produktif merupakan usia yang rata-rata dialami oleh mereka yang putus sekolah tingkat SLTP di usia 15 tahun-an hingga lulus SMA di usia 18 tahun, dan tidak kuliah di usia 20 tahun-an hingga lulus perguruan tinggi pada usia 24 tahun-an. Menurut Salladien (1999:10-11), mereka itu lebih dikenal sebagai penganggur muda. Padahal mereka inilah yang seharusnya mampu diharapkan menjadi generasi penerus untuk bisa membawa kemajuan bagi bangsa ini.
            Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan yang diharapkan oleh pemerintah maupun masyarakat mampu mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Pasalnya, lulusan SMK telah mempunyai keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kerja. Tak hanya itu tamatan SMK juga dibekali skill untuk membuka dunia usaha dan membuka lapangan kerja. Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1990, pasal 3 ayat 2, yang menyatakan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan terutama menyiapkan tamatan untuk: a) memasuki lapangan kerja serta dapat mengembangkan sikap profesional dalam lingkup keahlian bisnis  dan manajemen; b) mampu memilih karir, mampu berkompetensi dan mampu mengembangkan diri dalam lingkup bisnis dan manajemen; c) menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini maupun masa yang akan datang dalam lingkup bisnis dan manajemen; dan d) menjadi warga negara yang produktif, adaptif dan kreatif.
            Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diharapkan menjadi garda depan menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dalam rangka menghadapi MEA, pemerintah berkomitmen memperbanyak jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk menciptakan tenaga-tenaga terampil. Diharapkan pada 2014-2019, rasio SMK 70 persen dan 30 persen SMA. Sehingga mayoritas tamatan pendidikan tingkat menengah nantinya merupakan tamatan dengan berbagai keahlian/skill yang siap memenuhi berbagai kebutuhan dunia usaha atau industri dan mampu berkompetensi sebagai wirausaha yang tangguh dan mandiri.
            Berbagai upaya juga telah dilakukan oleh pemerintah agar menghasilkan tamatan SMK sesuai denganyang dibutuhkan oleh dunia usaha. Diterapkannya kebijakan link and match, pendidikan sistem ganda, broad-based education, life skill education, pendidikan berbasis kompetensi, manajemen berbasis sekolah, hingga penerapan kurikulum 2013 yang semuanya memiliki tujuan meningkatkan kualitas tamatan siswa SMK sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan kerja dan dibidang kewirausahaan.
            Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mulai tahun 2015, semua tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan mendapatkan sertifikat ahli dari pemerintah.Sertifikat tersebut merupakan bentuk pengakuan pemerintah terhadap keahlian dan keterampilan manajerial sebagai bentuk pencapaian kompetensi lulusan SMK. Pada akhirnya, mereka dapat bersaing era MEA (http://berita.suaramerdeka.com)
Di sisi yang lainkinerja SMK yang telah ada dewasa ini masih belum optimal. Berita resmi statistik BPS No. 47/05/Th.XVIII sebagaimana tampak pada tabel 1.1 menunjukkan tingkat pengangguran tertinggi justru diduduki oleh tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 9,05 persen. Padahal tamatan SMK memiliki keahlian/skill yang lebih baik dan lebih siap kerja bila dibandingkan dengan lulusan tingkat pendidikan lainnya, seperti lulusan sekolah menengah umum, diploma maupun lulusan universitas.
Kinerja SMK yang masih belum optimal sebagaimana yang ditunjukkan oleh data BPS di atas menurut Suyanto (2007: 01) ditandai oleh pencapaian indikator keberhasilan pendidikan di SMK yang belum optimal. Indikator-indikator keberhasilan yang dimaksud adalah sebagai berikut; 1) terserapnya tamatan di dunia kerja sesuai dengan kompetensi pada program keahliannya, 2) kemampuan mengembangkan diri dalam berwirausaha sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru, dan 3) kemampuan bersaing dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
            Mencermati paparan data BPS diatas mengindikasikan juga bahwa pendidikan kewirausahaan di SMK belum mampu mencapai target untuk membentuk siswa yang lebih mandiri. Kemampuan mengembangkan diri dalam berwirausaha yang menjadi salahsatu indikator keberhasilan SMK (Suyanto, 2007:01) dapat menjadi alternatif solusi dan ini artinya harus mencetak wirausaha. Pencetakan wirausaha harus diikuti dengan usaha menumbuhkembangkan jiwa dan semangat kewirausahaan dalam masyarakat Indonesia (Frinces, 2011: 47). Pendapat ini didukung oleh Ciputra (2009:32) yang menyatakan bahwa wirausaha merupakan solusi tepat untuk menyelesaikan masalah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia, karena dengan hanya berbekal ijazah tanpa kecakapan entrepreneurship, siapkanlah diri untuk antri pekerjaan karena saat ini pasokan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi tidak sebanding dengan peluang kerja yang tersedia. Wirausaha merupakan salah satu solusi untuk menekan tingkat pengangguran, terutama lulusan SMK yang jumlahnya masih cukup besar di Indonesia. Selain bisa menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri, wirausaha juga dapat membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
Penciptaan wirausaha memiliki nilai strategis karena mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas lapangan dan kesempatan kerja baru serta menopang perekonomian negara. Sebagaimana yang dikatakan oleh Birch dan Birley bahwa kewirausahaan dapat menciptakan lapangan kerja baru sehingga dapat meningkatkan fleksibilitas dan pertumbuhan ekonomi (Thomas and Mueller, 2000:288). Menurut David McClelland (Gallyn, 2011:3) bahwa suatu negara dapat dikatakan makmur apabila minimal memiliki jumlah entrepreneur atau wirausaha sebanyak 2 persen dari jumlah populasi penduduknya. Sementara jumlah wirausaha di Indonesia baru sekitar 3,87 juta wirausaha atau sekitar 1,56 persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 248 juta (http://www.enciety.co).Untuk mencapai jumlah minimal dua persen jumlah wirausaha dari total penduduk Indonesia, Indonesia masih membutuhkan 1,09 juta wirausaha baru (http://www.enciety.co).
Negara-negara maju, meskipun dengan jumlah penduduk yang jauh lebih sedikit dari Indonesia sudah memiliki tingkat kewirausahaan yang jauh lebih tinggi, sebagaimana tampak pada gambar 1.1 Grafik Perbandingan Jumlah Wirausaha Indonesia dengan Negara Lain. Usaha menciptakan wirausaha-wirausaha baru, khususnya untuk tamatan SMK tidaklah mudah, karena tamatan SMK masih banyak yang lebih senang menjadi pegawai atau buruh di suatu instansi atau perusahaan, daripada memilih berwirausaha. Sebagaimana yang dikatakan oleh Gimin (2000: 134) bahwa mereka lebih memilih menjadi pegawai negeri ketika berhasil menyelesaikan pendidikan formalnya.
Hal ini akan menjadi kendala dalam menciptakan wirausaha baru untuk tamatan SMK. Apalagi dengan adanya hasil Survey BPS (2002) yang menemukan hanya sekitar 6% lulusan SLTA dan Perguruan Tinggi yang menekuni bidang kewirausahaan, sisanya 94% memilih untuk bekerja pada orang lain atau menjadi karyawan (Hartini dalam Susiana, 2008:3).
Setelah mengkaji beberapa kenyataan di atas, dapat digarisbawahi bila salah satu masalah dalam menciptakan kewirausahaan sebenarnya adalah permasalahan yang terkait dengan pembentukan sikap yaitu sikap wirausaha (Alma, 2015: 15). Beberapa sikap atau mentalitas masyarakat yang bisa menjadi penghambat perkembangan wirausaha di Indonesia, seperti mentalitas yang suka meremehkan, suka menerabas, sikap yang tidak percaya diri, sikap tidak berdisiplin murni, dan mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab harus dihilangkan (Alma, 2000; Koentjaraningrat, 1985). Dengan demikian usaha melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru agar bisa maju dan sukses dimulai dengan pembentukan sikap wirausaha terlebih dahulu, agar pembentukan sikap wirausaha nantinya bisa dijadikan bekal awal oleh para siswa dengan penuh keyakinan dan tidak ragu-ragu melangkah menjadi seorang wirausaha yang sukses. Hal ini terutama didukung oleh hasil penelitian Charles Schriber dalam Buchari Alma (2009:18) bahwa kontribusi keberhasilan kewirausahaan seseorang yang ditentukan oleh pendidikan formal hanya 15% dan selebihnya 85% ditentukan oleh sikap kewirausahaan.
Menurut Suit dan Almasdi (2000:16), sikap wirausaha merupakan gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan tentang kewirausahaan. Gambaran kepribadian tersebut lebih jelasnya bisa kita ketahui dengan mengamati ciri-ciri sikap wirausaha yang merujuk kepada pendapat Soemanto (1999:15-20) dan Danuhadimedjo (1998:43-58) sebagai berikut: berkemauan keras, berkeyakinan kuat atas kekuatan sendiri, jujur dan tanggung jawab, mempunyai ketahanan fisik dan mental, ketekunan dan keuletan untuk bekerja keras, pemikiran yang konstruktif dan kreatif, berorientasi ke masa depan, dan berani mengambil resiko. Sikap-sikap positif tersebut diatas harus benar-benar ditanamkan kepada siswa (dan masyarakat pada umumnya) sehingga membentuk kepribadian yang utuh yang tercermin dari pola pikir dan pola sikapnya yang positif tentang kewirausahaan.
Untuk menumbuhkan semangat berwirausaha sejak dini, pemerintah melalui kurikulum 2013, pendidikan kewirausahaan diajarkan kepada semua siswa SMA, MA dan SMK melalui mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan. Pendidikan prakarya dan kewirausahaan di dalam kurikulum 2013 di arahkan untuk menciptakan enterpreneur yang inovatif dan kreatif. Untuk mendukung pemahaman yang utuh tentang kewirausahaan dan semangat berwirausahakepada peserta didik, pembelajaran kewirausahaan digabungkan dengan pembelajaran Prakarya supaya peserta didik tidak hanya menghasilkan ide kreatif namun juga dapat merealisasikan dalam bentuk purwarupa karya nyata, bahkan sampai pada aktivitas menciptakan peluang pasar. Sehingga pembelajaran pendidikan prakarya dan kewirausahaan ini diharapkan tidak hanya sekedar teori saja, tetapi lebih ke ranah aplikasinya. Teori yang mendalam tanpa adanya praktik dalam merealisasikan pengetahuan tersebut tetap tidak menghasilkan suatu produk yang dapat dimanfaatkan secara langsung.
Pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan pada peserta didik diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkanuntuk menciptakan karya nyata, menciptakan peluang pasar, dan menciptakan aktivitas bernilai ekonomi dari produk dan pasar tersebut.Sehingga penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam bentuk prestasi belajar untuk mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan menarik untuk dikaji atau diteliti lebih mendalam untuk mengetahui sejauhmana pengaruhnya terhadap pembentukan sikap wirausaha pada siswa. Prestasi belajar mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dapat dilihat dari nilai yang diperoleh peserta didik setelah melaksanakan proses pembelajaran disekolah.
Selain usaha membangun sikap wirausaha siswa di lingkungan sekolah melalui pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan, faktor lain diluar lingkungan sekolah juga perlu diperhatikan dan menarik untuk dikaji. Salah satunya adalah faktor latar belakang pekerjaan orangtua.Lingkungan keluarga dalam bentuk “role models” diduga mempunyai pengaruh terhadap sikap wirausaha anak. Orangtua yang memiliki usaha sendiri cenderung mendukung serta mendorong keberanian anaknya untuk berdiri sendiri dan ini sangat penting bagi calon pengusaha (Alma, 2003: 7). Hal ini makin jelas dan didukung dengan adanya temuan dari penelitian Gimin (2000; 136) yang menunjukkan bahwa seseorang yang berasal dari latar belakang orangtua yang berwirausaha, menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap wirausaha.
Dengan demikian, membangun sikap wirausaha siswa dengan memahami faktor-faktor pembentuknya sangat penting, karena hanya generasi yang memiliki sikap kewirausahaan  yang dapat menghadapi tantangan masa depan dirinya, masa depan bangsa dan negara.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti diSMK Negeri 2 Jember yang berlokasi di jl. Tawangmangu 59 Jember diketahui bahwa SMK Negeri 2 Jember merupakan Sekolah Menengah Kejuruan favorit bagi warga di kota Jember dan daerah sekitarnya. Berikut ini data penyerapan tamatan siswa SMK Negeri 2 Jember tahun pelajaran 2014/2015 sebagaimana tampak pada tabel 1.2 dibawah ini.

Tabel . Penyerapan Tamatan SMK Negeri 2 Jember
                Tahun Pelajaran 2014 / 2015
No
Kompetensi Keahlian
Jml tama
tan
Wira
Usaha
Bekerja / pegawai
Ke perguruan tinggi
Blmbekerja
1
Tek. Konstruksi Batu Beton
27

18
8
1
2
Tek. Gambar Bangunan
59
12
27
12
8
3
Tek. Pembangkit Tenaga Listrik
32
5
20
6
1
4
Tek. Instalasi Tenaga Listrik
61
5
45
6
5
5
Tek. Pemesinan
86
1
70
10
5
6
Tek. Kendaraan Ringan
89
2
73
12
2
7
Tek. Alat Berat
32

22
10

8
Tek. Mekatronika
30
1
21
8

9
Tek. Audio Video
24
1
22
1

10
Tek. Komputer dan Jaringan
37
1
28
8

11
Multimedia
31
3
25
3

12
Teknik Sepeda Motor





Jumlah
508
31
371
84
22
Prosentase

6 %
73 %
17%
4 %
Sumber: Dokumen SMKN 2 Jember
Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa dari 508 tamatan siswa SMKN 2 Jember, 371 tamatan siswa atau 73 persen memilih bekerja sebagai pegawai, sementara yang memilih berwirausaha hanya sebesar 31 atau 6 persen, sedangkan sisanya 84 tamatan siswa atau 17 persen melanjutkan ke perguruan tinggi dan 22 tamatan siswa atau 4 persen masih mencari pekerjaan atau menganggur.
Berkaitan dengan paparan di atas, timbul pertanyaan: Bagaimanakahsesungguhnya keadaan sikap wirausaha para siswa Sekolah Menengah Kejuruan saat ini, khususnya siswa kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Jember tahun ajaran 2015/2016 ? Variabel apa saja yang dapat membentuk sikap wirausaha dikalangan para siswa ?

Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Apakah terdapat pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan terhadap  sikap wirausaha siswa ?
2.      Apakah terdapat pengaruh pekerjaan orangtua terhadap sikap wirausaha siswa ?
3.      Apakah terdapat pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan denganpekerjaan orangtua secara bersama-sama  terhadap sikap wirausaha siswa?

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1.      Untuk menganalisispengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaanterhadap sikap wirausaha siswa.
2.      Untuk menganalisispengaruhpekerjaan orangtua terhadap sikap wirausaha siswa.
3.      Untuk menganalisis secara bersama-sama pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan denganpekerjaan orangtuaterhadap sikap wirausaha siswa.
Manfaat Penelitian
a.       Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya teori pembelajaran, utamanya yang berkaitan dengan masalah pendidikan kewirausahaan atau pendidikan nilai.
b.      Hasil penelitian ini diharapkan dapat mempermudah guru dalam memilih strategi pembelajaran kewirausahaan terkait dengan perbedaan latar belakang pekerjaan orangtua siswa, khususnya yang berkaitan dengan upaya meningkatkan sikap wirausaha ke arah yang lebih posistif.
c.       Hasil Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orangtua, masyarakat dan pemerintah, utamanya dalam upaya pengembangan sikap wirausaha dikalangan pemuda/pelajar.
d.      Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pejabat pemerintah yang terkait dengan ketenagakerjaandalam upaya mendukung dalam bentuk membuka pelatihan-pelatihan keterampilan dan kewirausahaan.


METODE PENELITIAN

 Penentuan Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian
            Lokasi penelitian dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Jember (SMKN 2 Jember) yang berada di Jl. Tawangmangu 59, desa Tegal Gede, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. SMKN 2 Jember merupakan sekolah favorit untuk sekolah kejuruan dan SMKN 2 Jember sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan atau industri dalam bentuk kegiatan Prakerin (Pratek Kerja Industri).
            Sebagai populasi, responden yang dipilih adalah seluruh siswa sekolah menengah kejuruan  kelas XI SMKNegeri 2 Jember untuk tahun ajaran 2015/2016 yang terdiri dari 4 kompetensi keahlian dengan jumlah total siswa sebanyak 130 siswa, karena pertimbangan psikis. Secara psikis, siswa kelasXI telah cukup matang menyerap materi pelajaran prakarya dan kewirausahaan, sehingga diharapkan sikap wirausaha mereka sudah tertanam.
            Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Proporsional random samplingyakni pengambilan sampel secara acak dengan teknik undian. Menurut Sugiyono (2008:82), teknik ini digunakanapabila populasi mempunyai anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata proporsional.Teknik perhitungan untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin (Sevilla et. al., 1960:182).
            Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan menganalisis hubungan kausal antara prestasi belajar mata pelajaran (prakarya dan kewirausahaan) dan pekerjaan orangtua dengan sikap wirausaha para siswa SMKN 2 Jember. Sehingga penelitian ini dirancang sebagai penelitian survey korelasional.
           
Prosedur Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data di penelitian ini menggunakan kuesioner. Pertimbangan peneliti menggunakan kuesioner,        Untuk mencari data prestasi belajar siswa melalui data dokumen. Mengumpulkan data dengan cara menghimpun nilai raport ulangan tengah semester siswa kelas XI yang kini  sudah masuk di semester akhir  di SMK Negeri 2 Jember. Sedangkan data pekerjaan orang tua peroleh melalui data identitas responden di instrumen angket atau kuesioner.
                       
Definisi Operasional
            Definisi operasional dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperjelas bagaimana setiap variabel dioperasionalisasikan dan diukur, sehingga diharapkan diperoleh keseragaman persepsi dalam memahami permasalahan yang akan dikaji maupun temuan hasil penelitian ini.

a. Sikap wirausaha
            Sikap wirausaha adalah kecenderungan seseorang merespon suatu objek bisnis berdasarkan pemikiran, perasaan dan nilai-nilai yang melekat pada dirinya.Sikap wirausaha diukur berdasarkan kecenderungan responden dalam menyikapi bisnis. Variabel ini terdiri atas delapan indikator yaitu:
1.             berkemauan keras
2.             berkeyakinan kuat atas kekuatan pribadi
3.             kejujuran dan tanggung jawab
4.             ketahanan fisik dan mental
5.             ketekunan dan keuletan untuk bekerja keras
6.             pemikiran yang konstruktif dan kreatif
7.             berorientasi ke masa depan
8.             berani mengambil resiko dalam aktivitas bisnis

b. Prestasi Belajar Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan
            Prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan yang dimaksud disini adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti mata pelajaran kewirausahaan, yang diketahui dari hasil test materi prakarya dan kewirausahaan yang menekankan pada pengetahuan prakarya dan kewirausahaan atau aspek kognitif siswa yang ditunjukkan dengan nilai raport siswa.
            Indikator dari variabel prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan menurut  Permendikbud No. 104 tahun 2014 adalah nilai akhir pengetahuan yang didapat dari nilai ulangan harian, penilaian tugas, Ulangan Tengah Semester (UTS) dan nilai Ulangan Akhir Semester (UAS) semester genap mata pelajaran Prakarya da Kewirausahaan  siswa kelas XI SMKN 2 Jember tahun ajaran 2015/2016.

c. Pekerjaan Orangtua
            Pekerjaan orangtua yangdimaksud dalam penelitian ini adalah orang tua siswa yang memiliki kedudukan (posisi) atau mata pencaharian pokok untuk mendapatkan nafkah demi melangsungkan kehidupan.
            Indikator dan deskriptor variabel pekerjaan orangtua dibedakan dalam dua kelompok yakni 1) wirausaha: responden yang pekerjaan orang tuanya berwirausaha; 2)  non wirausaha: responden yang pekerjaan orang tuanya bukan berwirausaha seperti pegawai kantor, PNS, buruh pabrik, dan lain-lain.

 Analisis Data
            Berdasarkan pada hipotesis dan rancangan penelitian, data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknis analisis kuantitatif. Untuk menggambarkan keadaan responden digunakan teknik statistik deskriptif, yaitu meliputi nilai rata-rata (mean), standar deviasi, dan prosentase tentang kecenderungan sikap wirausaha para siswa. Untuk mengetahui hubungan kausal antara variabel prestasi belajar mata pelajaran (prakarya dan kewirausahaan) danpekerjaan orangtua dengan sikap wirausaha para responden digunakan teknik analisis statistik inferensial yaitu multiple regression linier. Adapun bentuk regresi yang digunakan adalah model regresi berganda variabel dummy, karena ada satu atau lebih  variabel bebas berupa variabel dummy, seperti pekerjaan orangtua ( Draper. N dan Smith. H (1992:232).
            Variabel dummy merupakan variabel yang digunakan untuk membuat kategori data yang bersifat kualitatif (data kualitatif tidak memiliki satuan ukur, misal: jenis kelamin, ras, agama, perubahan kebijakan pemerintah, pekerjaan orang tua dan lain-lain)bertransformasi ke dalam bentuk kuantitatif. Pekerjaan orangtua merupakan data kualitatif yang kemudian ditransformasikan menjadi data kuantitatif. Data kualitatif pekerjaan orangtua dalam penelitian ini adalah wirausaha dan bukan wirausaha, kemudian ditransformasikan kedalam bentuk wirausaha=1; bukan wirausaha=0.
            Untuk proses analisis data dalam penelitian ini, baik analisis deskriptif maupun analisis inferensial seluruhnya menggunakan program aplikasi analisis statistik SPSS 21 for Windows.
            Rancangan hubungan antara variabel bebas (dependent variable) dengan variabel terikat (independent variable) tersebut dapat digambarkan dalam persamaan matematis dan gambar sebagai berikut:
Y= β0 + β1 X1 + β2 X2


 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Data Hasil Penelitian
       Data penelitian ketiga variabel yaitu: 1) prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan; 2) pekerjaan orangtua; 3) sikap wirausaha, diperoleh dari 130 responden dari siswa kelas XI SMKN 2 Jember. Penyajian data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dianalisis dengan statistik deskriptif dengan bantuan Program SPSS 21.
Tabel. Deskripsi Data
Variabel
Rerata
(Means)
Mode
Standar
Deviasi
Skor
Tertinggi
Skor
Terendah
X1
83,30
83,70
3,398
94
77
X2
0,67
1,00
0,471
1,00
0,00
Y
160,43
151,00
19,560
223
129

Pengujian Hipotesis
a. Pengaruh Prestasi Belajar Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan Terhadap Sikap Wirausaha
            Hipotesis kerja yang berbunyi: Ada pengaruh yang signifikan prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan (X1) terhadap sikap wirausaha (Y) para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Jember. Hipotesis kerja tersebut dapat dirumuskan menjadi hipotesis statistik sebagai berikut:
            Ho= Tidak terdapat pengaruh prestasi belajar mata pelajaran
                    prakarya dan kewirausahaan (X1) terhadap sikap wirausaha (Y)
            Ha = Terdapat pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan
                    kewirausahaan (X1) terhadap sikap wirausaha (Y)
            Berdasarkan hasil analisis korelasi dan regresi sederhana diperoleh kooefisien korelasi sebesar 0,253 pada taraf signifikansi 0,006, sedangkan determinansinya sebesar 0,064. Hal ini menunjukkan prestasi kwu berpengaruh terhadap sikap wirausaha. Berati kontribusinya sebesar 6,4 %. Hal ini berarti H0 ditolak dan Ha diterima.
            Ha yang berbunyi terdapat pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan (X1) terhadap sikap wirausaha (Y) diterima dengan tingkat α 0,05 (nilai r= 0,253 dengan sig 0,006 < 0,050), determinansi 0,64. Jadi pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan (X1) orangtua terhadap sikap wirausaha sebesar 6,4 %.Persamaan Regresi nya adalah sebagai berikut:
            Y= B0 + B1X1
            Y= 38,963 + 1,458X1
            Hasil tersebut berarti ada pengaruh yang signifikan prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan terhadap sikap wirausaha. Jadi kalau prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan meningkat, maka sikap wirausaha para siswa akan semakin positif.

b. PengaruhPekerjaan Orangtua terhadap Sikap Wirausaha
            Hipotesis kerja yang berbunyi: Ada pengaruh yang signifikan pekerjaan orangtua (X2) terhadap sikap wirausaha (Y) para siswa SMKN 2 Jember. Hipotesis kerja tersebut dapat dirumuskan menjadi hipotesis statistik sebagai berikut:
            Ho = Tidak terdapat pengaruh pekerjaan orangtua (X2) terhadap sikap                     wirausaha (Y)
            Ha = Terdapat pengaruhpekerjaan orangtua (X2) terhadap sikap                                wirausaha (Y)
            Berdasarkan hasil analisis korelasi dan regresi sederhana diperoleh kooefisien korelasi sebesar 0,221 pada taraf signifikansi 0,014, sedangkan determinansinya sebesar 0,049. Hal ini menunjukkan prestasi kwu berpengaruh terhadap sikap wirausaha, kontribusinya sebesar 4,9 %. Hal ini berarti pekerjaan orangtua berpengaruh terhadap sikap wirausaha.
            Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa Ho yang menyatakan tidak terdapat pengaruh pekerjaan orangtua (X2) terhadap sikap wirausaha (Y) ditolak untuk tingkat α 0,05. Dengan demikian Ha yang berbunyi terdapat pengaruh pekerjaan orangtua (X2) terhadap sikap wirausaha (Y) diterima dengan tingkat α 0,05 (nilair= 0,221 dengan sig 0,014< 0,050) , determinasinya sebesar 0,049. Jadi pengaruh pekerjaan orangtua terhadap sikap wirausaha sebesar 4,9 %. Secara matematis hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
            Y= B0 + B2X2
            Y= 154,250 + 9,189 X2
            Hasil tersebut berarti ada pengaruh yang signifikan pekerjaan orangtua terhadap sikap wirausaha. Jadi dapat disimpulkan bahwa para siswa yang memiliki orangtua yang bekerja di bidang wirausaha, maka sikap wirausaha para siswa akan lebih baik daripada siswa yang orangtuanya bekerja bukan dibidang wirausaha.

c. Pengaruh Prestasi Belajar Mata Pelajaran (Prakarya dan Kewirausahaan) dan Pekerjaan Orangtua terhadap Sikap Wirausaha
            Hipotesis kerja yang akan dibuktikan berbunyi: Terdapat pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan (X1) dan pekerjaan orangtua (X2) terhadap sikap wirausaha (Y). Hipotesis kerja dan model matematik yang dinyatakan di atas dapat dirumuskan menjadi hipotesis statistik sebagai berikut:
Ho = tidak terdapat pengaruh X1 dan X2 terhadap Y
Ha = terdapat pengaruhX1 dan X2 terhadap Y
            Berdasarkan hasil analisis pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa Ho yang menyatakan tidak terdapat pengaruh  prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan (X1) dan pekerjaan orangtua (X2) terhadap sikap wirausaha (Y) ditolak untuk tingkat α 0,05. Dengan demikian Ha yang berbunyi terdapat pengaruh prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan (X1) dan pekerjaan orangtua (X2) terhadap sikap wirausaha (Y) diterima dengan tingkat α 0,05 (nilair= 0,320 dengan sig 0,000< 0,050), determinasinya sebesar 0,102. Menunjukkan variabel prestasi belajar (prakarya dan kewirausahaan) dan pekerjaan orangtua secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap sikap wirausaha sebesar 10,2 %.Untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel, X1 terhadap Y dan X2 terhadap Y secara murni dapat diperoleh dari hasil analsisis regresi stepwiseX1 terhadap Y sebesar 6,4 % dan X2 sebesar 3,8 % sehingga totalnya menjadi 10,2 %.
Secara matematis hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
            Y= B0 + B1X1 + B2X2
            Y= 43,861 + 1,334 X1 + 8,127 X2
Keterangan:
X1 = Prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan
X2 = Pekerjaan Orangtua
B0 = Konstanta
Y  = Sikap wirausaha

            Hasil tersebut berarti ada pengaruh yang signifikan prestasi belajar mata pelajaran  (prakarya dan kewirausahaan) dan pekerjaan orangtua secara bersama-sama terhadap sikap wirausaha. Jadi dapat disimpulkan bahwa para siswa yang memiliki prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan yang tinggi dan memiliki orangtua yang bekerja di bidang wirausaha, maka sikap wirausaha para siswa akan lebih meningkat daripada siswa yang tingkat prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan rendah dan memiliki orangtua yang bekerja bukan dibidang wirausaha.

PEMBAHASAN
            Berdasarkan hasil analisis data seperti disajikan di atas, selanjutnya dapat disusun pembahasannya sebagai berikut:
1. Pengaruh Prestasi Belajar Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan terhadap Sikap Wirausaha
            Dari hasil analisis data terbukti ada pengaruh yang signifikan tingkat prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan terhadap sikap wirausaha, dengan nilai r=0,253 dengan sig 0,006 diterima dengan tingkat α 0,05. Hal ini dapat dimaknai bahwa semakin tinggi prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan, semakin tinggi sikap wirausaha para siswa. Hasil ini membuktikan bahwa prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan benar-benar mempunyai peranan yang sangat strategis dalam meningkatkan sikap wirausaha para siswanilai.
2. Pengaruh Pekerjaan Orangtua terhadap Sikap Wirausaha
            Berdasarkan hasil analisis pengujian hipotesis ditemukan hubungan yang signifikan antara pekerjaan orangtua(X2) dengan sikap wirausaha dengan tingkat α 0,05 ( nilai r = 0,221 dengan sig 0,014< 0,050 ). Hal ini berarti sikap wirausaha seseorang akan semakin tinggi apabila orangtua mereka bekerja di bidang bisnis.
            Hasil temuan dalam penelitian ini sesuai dengan yang dilaporkan Gimin (2000:136) bahwa perbedaan sikap mental kewirausahaan yang signifikan antara mahasiswa yang orangtuanya bekerja sebagai wirausaha dengan yang bukan wirausaha. Temuan di atas diperkuat oleh Joyce and Weil (1996:59) bahwa pekerjaan orangtua mempunyai pengaruh terhadap academic achievement dan proses pembentukan sikap wirausaha anak. Karena para orangtua yang melakukan kegiata wirausaha biasanya secara tipikal akan selalu memikirkan waktu pengalihan bisnis kepada keluarganya (Longenecker, et al, 2001:41).
            Hal ini mengindikasikan bahwa temuan penelitian ini mendukung hasil-hasil riset atau pendapat yang telah dikemukakan para pakar sebelumnya. Oleh karena itu benar-benar terdapat pengaruh yang kuat antara pekerjaan orangtua dengan sikap wirausaha.
3. Pengaruh Prestasi belajar mata pelajaran (prakarya dan kewirausahaan)
dan pekerjaan orangtua terhadap sikap wirausaha
            Hasil Uji analisis regresi ganda ditemukan nilai r= 0,320 dan r2 = 0,102, dengan nilai F= 5400 signifikan pada tingkat probabilitas 0,000. Ini berarti ada pengaruh yang posistif variabel prestasi belajar mata pelajaran (prakarya dan kewirausahaan) dan pekerjaan orangtua terhadap sikap wirausaha. Hal ini berarti beberapa variabel bebas di atas memang perlu dipertimbangkan sebagai variabel yang dapat mempengaruhi proses pembentukan sikap wirausaha para siswa.
            Berdasarkan hasil analisis ternyata ada pengaruh yang signifikan kedua komponen sikap. Hal ini sesuai dengan teori tentang konsistensi sikap. Yakni apabila seseorang memiliki pengetahuan yang cukup tentang kewirausahaan, maka sikap dia cenderung posistif dan akan ditindaklanjuti dengan kecenderungan berprilaku yang positif pula, sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan yang telah dimiliki.
            Hasil tersebut menunjukkan bahwa para responden konsisten dengan pengetahuan kewirausahaan yang telah dimilikinya yang kemudian dijadikan sebagai keyakinan untuk menyikapi sikap wirausaha yang positif pula. Berdasarkan pada pengetahuan dan keyakinan terhadap aspek kewirausahaan tersebut,  maka mereka mempunyai kecenderungan untuk berperilaku yang positif pula dalam hal melakukan aktivitas wirausaha.
            Berdasarkan analisis data juga ditemukan nilai rata-rata untuk setiap aspek sikap wirausaha. Ternyata sikap kemauan keras dan berani menanggung resiko menduduki positif yang paling tinggi. Sedangkan sikap ketekunan dan keuletan dalam bekerja dan berusaha menempati posisi yang paling rendah. Temuan  ini sungguh sangat menarik untuk dibahas mengingat bahwa sikap ketekunan dan keuletan dalam bekerja dan berusaha ini merupakan modal awal yang harus dimiliki oleh seseorang yang kreatif dan inovatif. Tentu saja akan lebih baik bila dalam proses pembelajaran prakarya dan kewirausahaan perlu diarahkan untuk menanamkan sikap tersebut.
            Sedangkan hal positif yang dapat dijadikan sebagai modal dasar para siswa dalam berwirausaha ditunjukkan dengan tingginya skor rata-rata untuk aspek kemauan keras, dan keberanian dalam menanggung resiko. Kenyataan ini sungguh menguntungkan, karena banyak wirausahawan yang stagnasi, salah satu sebabnya karena mereka kurang berani menanggung resiko dan kurang berkemauan keras.
            Setelah dilakukan proses kategorisasi, ternyata sikap wirausaha para siswa SMKN 2 Jember tergolong sedang, karena berada pada interval 126 – 164 (dengan kategori sedang). Kenyataan seperti ini menjadi suatu tantangan, yaitu bagaimana upaya para pendidik maupun mereka yang menaruh perhatian terhadap upaya peningkatan sikap wirausaha harus bertindak ?. Berdasarkan pada analisis regresi di atas, maka variabel seperti prestasi belajar mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan perlu ditingkatkan, karena variabel tersebutlah yang memungkinkan untuk dimanipulasi atau ditingkatkan frekuensinya. Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan sikap wirausaha tidak saja menjadi tanggungjawab orangtua dan masyarakat. Mengingat pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dapat dilakukan di dalam kelas maupun diluar kelas (dalam keluarga dan masyarakat).
            Sedangkan variabel lain seperti pekerjaan orangtua, sedapat mungkin harus dijadikan bahan pertimbangan guru dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam upaya meningkatkan sikap wirausaha dikalangan pemuda dan pelajar. Di dalam proses pembelajaran misalnya, guru perlu mempertimbangkan variabel-variabel tersebut untuk djadikan sebagai pertimbangan dalam membentuk kelompok belajar dan jenis dan tugas yang diberikan pada para siswanya.


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
            Hasil analisis korelasi menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan variabel prestasi belajar matapelajaran prakarya dan kewirausahaan para siswa SMKN2 di kota Jember. Nilai r yang ditemukan sebesar 0,253 dengan sig 0,006 <0,05. Hal ini berarti ada pengaruh yang positif  variabel prestasi belajar matapelajaran prakarya dan kewirausahaan terhadap sikap wirausaha. Jadi apabila prestasi belajar matapelajaran prakarya dan kewirausahaan ditingkatkan akan dapat meningkatkan sikap wirausaha para siswa. Temuan ini memperkuat pendapat yang dikemukakan oleh Alma dan Soemanto, bahwa salahsatu cara untuk meningkatkan sikap wirausaha seseorang adalah melalui jalur pendidikan formal
Pekerjaan orangtua para siswa ternyata juga mempunyai pengaruh yang positif terhadap sikap wirausaha. Besarnya pengaruh ini ditunjukkan dengan nilai r sebesar 0,221 dengan sig 0,014 < 0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai sikap para siswa yang orangtuanya bekerja sebagai wirausaha memiliki nilai sikap yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai sikap para siswa yang orangtuanya tidak bekerja di bidang wirausaha. Hasil analisis regresi berganda juga menunjukkan bahwa nilai sikap para siswa yang orangtuanya bekerja dibidang wirausaha juga memiliki nilai rata-rata prediksi sikap yang lebih tinggi dibandingkan dengan sikap siswa yang orangtuanya tidak bekerja dibidang wirausaha.
Secara keseluruhan setelah dilakukan uji regresi berganda dengan variabel dummy, ternyata ada pengaruh yang signifikan antara prestasi belajar mata pelajaran (prakarya dan kewirausahaan) dan pekerjaan orangtua dengan sikap wirausaha para siswa SMLN 2 di kota Jember. Besarnya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat ditunjukkan dengan nilai R=0,320 dan nilai R2= 0,102, dengan nilai F=5,400 yang signifikan pada tingkat probabilitas 0,000. Temuan ini berarti terdapat pengaruh positif prestasi belajar mata pelajaran (prakarya dan kewirausahaan) dan pekerjaan orangtua terhadap sikap wirausaha. Oleh karena itu, beberapa variabel bebas tersebut perlu dipertimbangkan sebagai variabel yang dapat mempengaruhi proses pembentukan sikap wirausaha para siswa.

Saran
    Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian seperti telah di uraikan di atas, mka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut: 1)Perlu dibangun siswa yang memiliki sikap wirausaha untuk menjadi pengusaha sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap pembangunan bangsa dan negara; 2)Membangun sikap wirausaha siswa SMK bisa menjadi salahsatu strategi dalam menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
           
DAFTAR RUJUKAN
Alma, Buchari. 2000. Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta
Alma, Buchari. 2009. Kewirausahaan untuk Mahasiswa dan Umum. Bandung:      Alfabeta
Ary, Donald, Jacobs, L C. & Sorensen,C. 2011. Introduction To Research In          Iducation. New York: Wadsworth.
Azwar, Saifuddin. 2002. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2003. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:    Pustaka Pelajar.
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. California: Wadsworth           Publishing Co.
Barba, H Roberta. 1998. Science in The Multicultural Classroom, A Guide to          Teaching and Learning. Boston: Allyn and Bacon.
Berk, L.E. (2008). Infans, children, and adolescent (6th Ed.). USA: Pearson.
Best, J.W. 1970. Research in Education. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Ciputra. 2009. Quantum Leap Entrepreneurship; Mengubah Masa Depan Bangsa dan Masa Depan Anda (Cetakan ke 4). Jakarta: Elex Media Komputindo.
Danuhadimedjo, Djatmiko R. 1998. Kewiraswastaan dan Pembangunan. Bandung:          Alfabeta.
Draper N dan Smith H. 1992. Analisis Regresi Terapan. Jakarta: Gramedia
Frinces, Z. H. (2011). Be An Entrepreneur (Jadilah Seorang Wirausaha).    Yogyakarta: Graha Ilmu
Galloway, L. 2006. Identifying Entrepreneurial Potential in Students. Working      Paper 006, National Council for Graduate Entrepreneurship.
Gronlund, Norman E. 1985. Constructing Achievement Test. Diterjemahkan oleh    Bistok Sirait. Menyusun Hasil Belajar. Semarang: IKIP Semarang.
Hasan. Zaini. 1991. Prinsip Prinsip Pengukuran dalam Penelitian. Malang:            Penyelenggaraan Pendidikan Pascasarjana Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi, IKIP Malang.
Katz, J. A., & Green, R. P. 2009. Entrepreneurial small business. New York:         McGraw-Hill.
Longenecker, Justin G et al. 2001. Kewirausahaan Manajemen Usaha Kecil. Jakarta: Salemba Empat.
Mar’at. (1984). Sikap Manusia Perubahan dan Pengukuran. Jakarta. : Ghalia.
Morgan, T Clifford and King, A Richard. 1975. Introduction to Psychology. New York: McGraw-Hill Book Company.
Setyobroto, Sudibyo. 2001. Mental Training. Jakarta; Percetakan “Solo”.
Sevilla, Consuelo G. et. al.2007. Research Methods. Rex Printing Company. Quezon City.
Soegoto, E. S. 2009. Entrepreneurship; Menjadi Pebisnis Ulung. Jakarta: Penerbit             PT. Elex Media Komputindo.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Suit, Yusuf dan Almasdi. 2000. Aspek Sikap Mental dalam Manajemen Sumber     Daya Manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Suryana. 2001. Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.
Wijandi, S. 1998. Pengantar Kewiraswastaan. Bandung: PT Alumni.
Zimmerer W. Thomas and Scarborough M. Norman. 2002. Pengantar Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil. Jakarta: Prenhallindo.