Selasa, 09 Mei 2017

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOSNTRUKTIVIS 5E TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN APLIKASI KONSEP METODE PENELITIAN



PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOSNTRUKTIVIS 5E TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN APLIKASI KONSEP METODE PENELITIAN

Andika Adinanda Siswoyo

Abstrak: Berdasarkan  hasil observasi pada mahasiswa semester V PGSD Universitas Trunojoyo, sebagian besar kesulitan memahami metodologi penelitian sehingga motivasi belajar  rendah.  Tujuan penelitian:  (1) membandingkan hasil belajar pemahaman konsep metodologi penelitian antara mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran konstruktivis 5E dan konvensional, (2) Membandingkan perbedaan hasil belajar aplikasi konsep metodologi penelitian antara mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran konstruktivis 5E dan konvensional.Penelitian ini adalah eksperimen semu Pretest-Posttest Control Group Design.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan  ada perbedaan hasil pretes dan postes pemahaman konsep pada kelas yang diberi perlakuan model pembelajaran konstruktivis 5E berpengaruh terhadap pemahaman konsep dan aplikasi konsep metode penelitian. Sedangkan hasil belajar aplikasi konsep mahasiswa dalam memahami metode penelitian di kelas kontrol dan kelas eksperimen juga terdapat perbedaan. Sedangkan hasil belajar aplikasi konsep, rata-rata hasil belajar aplikasi konsep metode penelitian di kelas kontrol adalah 74,15 sedangkan kelas eksperimen adalah 84,5, sehingga dapat disimpulkan  pembelajaran konstruktivis 5E berpengaruh terhadap aplikasi konsep metode penelitian.
           
    Kata kunci: Pembelajaran Konstruktivis 5E,  Pemahaman konsep, Aplikasi konsep

PENDAHULUAN
Pemahaman adalah suatu proses mental terjadinya adaptasi dan transformasi ilmu pengetahuan. Seseorang dikatakan memahami apabila dapat menunjukan unjuk kerja pemahaman level kemampuan yang lebih tinggi (analisis, sintesis, dan evaluasi) baik dalam konteks yang sama maupun dalam konteks yang berbeda (Willis, 2000). Pemahaman seseorang juga dicirikan oleh kemampuanya dalam memberikan skema tertentu melalui cara-cara mengemukakan gagasan, perspektif, dan solusi yang selalu siap untuk dikritik orang lain. Dengan demikian, pemahaman merupakan salah satu unsur penting pendidikan yang mendasar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Pentingnya pemahaman bagi mahasiswa dalam memahami isi materi pelajaran, saat ini masih dirasakan menjadi permasalahan dalam pendidikan, terutama dalam mata kuliah metodologi penelitian, padahal mata kuliah metodologi penelitian memiliki peranan yang signifikan dalam pengembangan teori maupun pengkajian teori baru di bidang pendidikan. Menurut Nasir (2011), mata kuliah metodologi penelitian memiliki peranan penting sebagai berikut. Pertama, menemukan sesuatu yang baru. Bahwa penemuan yang dilakukan melalui kegiatan penelitian memperoleh hasil yang valid dan mendapat ekspektasi dari kalangan ilmuwan di bidangnya. Kedua mengembangkan ilmu pengetahuan. Bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dan dieksplorasi oleh para peneliti untuk dikembangkan secara berkesinambungan. Peneliti mengkaji kembali untuk mengembangkan teori dengan permasalahan yang relevan, dan berkelanjutan sehingga hasil penelitian dapat dibandingkan dan ditelaah antara penelitian yang lalu, saat sekarang, dan masa yang akan datang.
Peran metodologi penelitian yang lain yaitu menemukan permasalahan penelitian. Bahwa permasalahan penelitian pada hakikatnya dapat diperoleh dimana saja dan kapan saja. Akan tetapi, cara mengekplorasi masalah penelitian hanya dapat dilakukan jika kita jeli dalam mengidentifikasi masalah, serta dengan pemahaman konsep tentang metodologi penelitian yang telah dipelajari. Dengan adanya peranan tersebut, mahasiswa hendaknya terdorong, tertarik, dan tertantang dalam belajar, sehingga termotivasi untuk melakukan riset yang baru.
Menurut Gardner (1999b), setidaknya ada tiga faktor sebagai penghalang utama pemahaman bagi mahasiswa, yaitu (1) pemiliham metode pembelajaran yang cenderung mentoleransi unitary ways of knowing, (2) substansi kurikulum yang cenderung non-kontekstual, (3) perumusan tujuan pembelajaran belum diorientasikan pada pencapaian pemahaman secara mendalam.  Penghalang tersebut pada dasarnya selain menghambat pemahaman konsep mahasiswa, juga berpeluang menyebabkan pemahaman mahasiswa yang salah (misunderstanding).
           Secara umum, berdasarkan kajian teoritis dan observasi pada mahasiswa semester V PGSD Universitas Trunojoyo, sebagian besar mahasiswa sulit memahami metodologi penelitian sehingga motivasi untuk terlibat dalam pembelajaran rendah. Kendala yang dianggap bias menghambat pembelajaran metodologi penelitian antara lain (1) materi pembelajaran belum dirancang secara tepat dengan berpedoman pada prinsip pengembangan perangkat pembelajaran, (2) materi pembelajaran banyak memuat konsep-konsep atau informasi yang memerlukan keterampilan yang mendalam, (3) pembelajaran metodologi penelitian secara umum masih bercirikan konvensional, dengan pembelajaran lebih berpusat pada pembelajar (teacher-center). Pembelajaran konvensional menjadi penyebab pemahaman mahasiswa terhadap pelajaran yang kurang bermakna, dan pasif, sehingga kemampuan mengingat hanya sekitar 50% dari yang dihafal, sehingga perlu diterapkan pembelajaran yang berbasis konstruktivistik
Dalam Pembelajaran Konstruktivisme terdapat dua landasan dasar yang mendasari landasan konstruktivis. yaitu landasan psikologis, dan landasan epistemologis. Landasan Epsitemologis pembelajaran konstruktivis berasal dari perbedaan epistemologi konvensional dan epistemology konstruktivis terhadap pengetahuan. Epistemologi pkonvensional memandang bahwa pengetahuan sebagai fenomena objektif, sedangkan epistemologi konstruktivis memadang sebuah pengetahuan sebagai pemahaman subjektif tiap individu. Sedangkan landasan psikologi pembelajaran konstruktivisme mengatakan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi individu yang diperoleh melalui pemahaman pebelajar. Piaget berpendapat bahwa keadaan pengetahuan saat ini adalah temporal, berubah pada waktu ke waktu melewati pengetahuan yang telah berubah pada masa lalu, tetapi suatu proses membangun dan menyusun kemballi secara kontinyu. Vigotsky percaya bahwa interaksi social melalui pasangan yang bekerjasama dalam memecahkan masalah dapat membawa perkembangan kognitif.
              Prinsip dan Praktik Pembelajaran Konstruktivisme .Praktik pembelajaran konstruktivisme menekankan pada kemampuan pebelajar untuk memecahkan masalah hidup yang nyata (real-life), dan masalah-masalah praktis. Praktik pembelajaran konstruktivisme menekankan pentingnya interaksi dalam proses belajar. Praktik pembelajaran konstruktivisme juga menekankan pentingnya interaksi dalam proses belajar. Dewey dan Vigotsky (Hipitiew, 2011) menjelaskan bahwa interaksi adalah salah satu komponen yang paling penting  dari banyak pengalaman belajar, baik dalam bentuk verbal maupun non verbal, sadar maupun tidak sadar.
Bruner (Hipitiew, 2011) menekankan bahwa pembelajaran konstruktivitik hendaknya mengikuti prinsip-prinsip (1) pembelajaran harus dihubungkan dengan pengalaman dan konteks yang membuat keinginan pebelajar, (2) pembelajaran harus disusun sedemikian rupa sehingga dengan mudah dipahami pebelajar, (3) pembelajaran harus di desain untuk memudahkan eksplorasi dan mengisi kesenjangan informasi.
Sedangkan Brooks dan Brooks (dalam Kim, 2005) mengajukan lima prinsip pembelajaran konstruktivisme, yaitu (1) mengajukan permasalahn yang relevan kepada pebelajar, (2) menyusun belajar pada konsep-konsep yang utama pencarian/penyelidikan sebagai esensi, (3) mencari dan dan menilai sudut pandang pebelajar, (4) mengadaptasi kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan pebelajarm (5) mengakses belajar pebelajar dalam konteks pembelajaran.
Karakteristik pembelajaran konstruktivisme dari segi pembelajar (teachers) konstruktivisme, sebagai berikut: (1) pembelajar konstruktivisme meminta pertanyaan dan ide pebelajar, (2) pembelajar konstruktivisme menerima dan mendorong ide-ide yang dibuat/ditemukan oleh pebelajar, (3) pembelajar konstruktivisme mendorong kepemimpinan, keijasama, pencarian informasi, dan presentasi ide-ide pebelajar, (4) pembelajar konstruktivisme memodifikasi strategi pembelajaran mereka berdasarkan pikiran, pengalaman, dan minat pebelajar, (5) pembelajar konstruktivisme menggunakan bahan-bahan tercetak yang sama seperti dari ahli untuk memperoleh informasi lebih, (6) pembelajar konstruktivisme mendorong diskusi dengan cara meminta ide-ide baru dari pertanyaan dan jawaban pebelajar, (7) pembelajar konstruktivisme mendorong atau meminta prediksi pebelajar atas penyebab dan pengaruh dalam hubungannya dengan kasus dan perisitiwa tertentu, (8) pembelajar konstruktivisme membantu pebelajar untuk menguji ide-ide mereka sendiri, (9) pembelajar konstruktivisme meminta ide-ide pebelajar, sebelum pebelajar dikenalkan dengan ide dan bahan-bahan pembelajaran, (10) pembelajar konstruktivisme mendorong pebelajar pada tantangan konsep dan ide-ide yang lain, (11) pembelajar konstruktivisme menggunakan strategi pembclajaran kooperatif melalui interaksi pebelajar, sharing ide, dan tugas-tugas belajar, (12) pembelajar konstruktivisme mendorong pebelajar menghormati dan menggunakan ide-ide orang/teman lainnya melalui relleksi dan analisis, dan (13) pembelajar konstruktivisme memungkinkan penyusunan kembali ide-ide pebelajar melalui refleksi terhadap fiakta/petunjuk dan pengalaman baru.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil pemahaman bahwa pembelajaran konstruktivisme memberikan kesempatan yang luas kepada pebelajar untuk secara aktif mengkonstruksi pengetahuan mereka dan kebebasan dalam mengembangkan ketrampilan berfikir.
Adapun langkah-langkah strategi pembelajaran konstruktivisme adalah menggunakan siklus belajar 5E. Menurut Lorsbach (dalam Intan, 2011)Siklus belajar merapakan langkah-langkah pembelajaran yang menekankan pengalaman sebagai bagian penting dalam pembelajaran yang sesuai dengan teori konstruktivisme sosial. Siklus belajar adalah cara merencanakan pembelajaran yang disusun dalam langkah-langkah tertentu, yang pada awalnya diaplikasikan dalam pembelajaran sains yang dirancang sesuai dengan teori kontemporer tentang bagaimana pebelajar harus belajar. Siklus belajar 5E merapakan siklus pembelajaran yang memfasilitasi pembelajar dalam proses belajar konstruktivisme dimana struktur lingkungan belajar dirancang memberikan banyak kesempatan kepada pebelajar untuk beraktivitas dan mendorong pebelajar dalam membangim pemahaman. Siklus belajar 5E ini merapakan penyempurnaan yang dilakukan oleh Bybee dari siklus belajar 3 fase atau langkah, yang pada awalnya dikembangkan oleh Robert Karplus dan koleganya berdasarkan teori belajar Piaget yang berbasis konstruktivisme, yaitu langkah eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application) (Renner, dkk., 1988). Pada siklus belajar 5E, ditambahkan langkah engagesebelum explore dan ditambahkan pula langkah evaluate pada bagian akhir siklus. Pada siklus ini. langkah concept introduction dan concept application masing-masing diistilahkan menjadi explain dan elaborate, Oleh karenanya, disebut siklus belajar 5E (Engage, Explore, Explain, Extend/Elaborate, dan Evaluate.
Adapun aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada kelima langkah siklus belajar 5E adalah sebagai berikut. Pertama, engage (menarik minat, keingintahuan, keterlibatan), yaitu suatu kegiatan dimana pembelajar mengases pengetahuan awal pebelajar dan membantu mereka menjadi terlibat atau tertarik dalam konsep baru dengan membaca, mengajukan pertanyaan, melakukan demonstrasi, atau melakukan beberapa aktivitas singkat/pendek yang memajukan keingintahuan dan menimbulkan pengetahuan awal.
Kedua, explore (eksplorasi), yaitu suatu kegiatan dimana pebelajar bekerja di dalam tim kolaboratif untuk menyelesaikan aktivitas yang membantu mereka menggunakan pengetahuan awal guna menghasilkan ide-ide, menggali pertanyaan-pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan jawaban, serta mendesain dan melakukan inkuiri.
Ketiga, explain (menjelaskan), yaitu suatu kegiatan dimana pebelajar diberi kesempatan untuk menjelaskan pemahaman mereka pada konsep yang sedang dikaji. Mereka dapat menjelaskan dengan membuat presentasi, berbagi (sharing) ide dengan yang lain, mereview penjelasan pengetahuan dan membandingkannya dengan pemahaman mereka sendiri, dan atau mendengarkan penjelasan dari pembelajar yang membantu mereka ke arah pemahaman yang lebih mendalam.
Keempat, extend/elaborate (memperluas/memperdalam), yaitu suatu kegiatan dimana pebelajar memerinci atau memperdalam pemahaman mereka pada suatu konsep dengan melakukan aktivitas tambahan, seperti melakukan kembali aktivitas, proyek, atau ide lebih awal, atau aktivitas yang memerlukan aplikasi konsep. Fokus pada tahap ini adalah menambah luas dan dalamnya pemahaman mereka.
Kelima, evaluate (evaluasi), yaitu suatu kegiatan dimana pembelajar mendorong pebelajar untuk mengases seberapa jauh pemahaman dan kemampuan mereka terhadap suatu konsep, serta memberikan kesempatan pembelajar untuk mengevaluasi perkembangan pebelajar ke arah pencapaian tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan penjelasan langkah-langkah strategi pembelajaran konstruktivisme tersebut, maka sintaks strategi pembelajaran konstruktivisme ada penelitian ini, tersaji pada tabel berikut.
Tabel 1. Sintaks Pembelajaran Konstruktivis
LANGKAH PEMBELAJARAN
AKTIVITAS PEMBELAJARAN
AKTIVITAS MAHASISWA
AKTIVITAS DOSEN
1.
Engage
(Menarik minat, keingintahuan, melibatkan)
·      Mahasiswa fokus pada materi dengan menjawab pertanyaan dari dosen
(apa/bagaimana dan mengapa) serta membongkar tentang apa yang mahasiswa ketahui/pikirkan tentang topik yang dibahas.
·      Mahasiswa diberikan kesempatan untuyk mengemukakan pendapatnya dan menanggapi
·      Mahasiswa diberikan kesempatan untuk membuat prediksi jawaban dari permasalahan yang diberikan dosen
·         Memberikan apersepsi kepada mahasiswa, untuk melibtakan secara aktif dalam pembelajaran
·         Dosen memberikan umpan balik kepada mahasiswa untuk menanggapi pertanyaan yang diberikan
2
Explore
(Mengeksplorasi)
·         Mahasiswa membentuk kelompok kecil 4-5 orang mahasiswa
·         Mahasiswa bekerja sama dalam kelompok untuk menghasilkan ide-ide yang diberikan tentang topik yang akan dipelajari bersama, mengeksplor pertanyaan yang diajukan, dna mencoba mencari alternative atau kemungkinan jawaban, dan mendiskusikanya dengan mahasiswa lain
·         Merekam, mencatat ide-ide yang muncul. Mahasiswa melakukan persiapan inkuiri dengan mengumpulkan bukti/ informasi dari berbagai sumber (buku, jurnal dll)
·         Mengklarifikasi pemahaman mereka sendiri atas konsep yang mereka kaji.
·         Bertindak sebagai konsultan, dosen mendorong mahasiswa bekerja dalam tim kolaboratif pada kelompok kecil
·         Mengamati dan mengobservasi mahaiswa yang sedang berinteraksi dalam diskusi
·         Mengajukan pertanyaan untuk mengarahkan kembali investigasi mahasiswa. Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk memecahkan masalah.
·         Membangun “keinginan mengetahui “ (need to know) mahasiswa dengan memberikan berbagai sumber (jurnal, buku dll)
3
Explain
(Menjelaskan)
·         Menjelaskan kemungkinan solusi atau jawaban kepada mahasiswa lain atas pemahamannya pada konsep utama yanag dibahas dengan membuat presentasi
(power point), berbagi (sharing) ide yang lain. Mahasiswa lain mendengarkan dengan kritis.
·         Memperhatikan penjelasan dosen berdasarkan topic yang diberikan
·         Mengkonstruk pemahamanya sendiri setelah selesai berdiskusi

·         Mendorong mahasiswa menjelaskan pemahaman konsep dan definisi dengan bahasanya snediri
·         Menjustifikasi pertimbangan (bukti) dan dari klarifikasi dari mahasisewa tentang definisi, penjelasan, dan makna baru dengan menggunakan pengalaman mahasiswa sebelumnya (last experience) sebagai perbandingan. Dan mengenalkan konsep dan keterampilan baru.
·         Mengakses perkembangan pemahaman mahasiswa
4
Elaborate/extend
(memperluas)
·         Mengerjakan soal-soal latihan
·         Mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan lebih jauh, dengan menghubungkan konsep satu dengan konsep yang lain yang terikat dan mengaplikasikanya pada dunia sekitar
·         Menarik kesimpulan sebagai upaya membangun pemahaman mereka tentang konsep
·         Memberikan soal-soal latihan untuk dikerjakan
·         Mendorong mahasiswa menerapkan atau memperluas konsep dan keteranpilan baru dari apa yang telah  mereka pelajari.
·         Mendorong mahasiswa menunjukan data dan bukti dari apa yang telah mereka simpulkan
·         Meminta mahasiswa untuk mengecek pemahaman mereka kepada sesama
5
Evaluate
(Memperluas)
·         Menjawab pertanyaan terbuka dengan menggunakan pengamatan, bukti, dan penjelasan yang diterima sebelumnya.
·         Meninjukan pemahaman atau keterampilannya melalui soal-soal pilihan ganda dan uraian
·         Mengakses perkembangan dan pengetahuan mereka sendiri (self-assesment)
·         Mengajukan pertanyaan terkait yang akan mendorong investigasi ke depan
·         Mengamati mahasiswa yang memahami konsep dan keterampilan baru dalam pertanyaan terbuka
·         Mengakses pengetahuan mahasiswa melalui soal pilihan ganda dan uraian
·         Mengakses belajar mereka sendiri dan keterampilan proses kelompok mereka.
·         Menanyakan pertanyaan seperti “ Mengapa anda berfikir demikian…?” Bukti apa yang anda miliki?” Bagaimana anda menjelaskanya? Selanjutnya dosen memberikan tugas kelompok untuk dikerjakan dan dibahas pada pertemuan.







Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki setelah ia menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2009:14). Jadi hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang dialami sesorang setelah ia mengalami proses belajar mengajar selama periode tertentu.Hasil belajar metodologi penelitian merupakan skor yang dicapai pebelajar terhadap topik atau bahasan yang dipelajarinya yang diukur dengan tes hasil belajar. Adapun topik yang diteskan dalam penelitian ini adalah konsep-konsep metodologi penelitian yang menuntut pemahaman konsep dan aplikasi konsep metodologi penelitian.
Suatu konsep memiliki lima unsur dan seseorang dikatakan memahami suatu konsep apabila dapat mengetahui semua unsurnya. Kelima unsur itu adalah (1) nama, (2) contoh- contoh, baik yang positif maupun negatif, (3) karakteristik, baik yang pokok maupun tidak, (4) rentangan karakteristik, dan (5) kaidah. Jika dicermati, kemampuan memahami kelima unsur tersebut menuntut kemampuan berfikir tingkat tinggi, karena meminta kemampuan pebelajar baik dalam mengorganisir, memproses, menyimpan dalam memori maupun mengaplikasikanya (Bruner dalam Degeng, 1989).
Pemahaman dan aplikasi konsep dalam beberapa taksonomi termasuk dalam ranah kognitif, dimana aplikasi merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari pada pemahaman. Meskipun demikian, keduanya saling mempengaruhi.dimana kualitas pemahaman sangat mempengaruhi hasill belajar aplikasi dan sebaliknya, kemampuan mengaplikasikan suatu konsep dipengaruhi oleh hasil belajar pemahaman. Pemahaman konsep mencakup semua pengetahuan konseptual, pengetahuan yang lebih kompleks meliputi, klarifikasi dan kategorisasi, prinsip, teori, model, dan struktur. Sedangkan aplikasi merupakan penggunaan abstraksi (ide, prinsip, dan teori) untuk memecahkan masalah baru atau masalah nyata. Kemampuan aplikasi menuntut pebelajar mampu menggunakan pengetahuannya dalam memecahkan masalah praktis.
Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini (1) membandingkan hasil belajar pemahaman konsep metodologi penelitian antara mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran konstruktivis 5E dan konvensional, (2) Membandingkan perbedaan hasil belajar aplikasi konsep metodologi penelitian antara mahasiswa yang belajar dengan model pembelajaran konstruktivis 5E dan konvensional

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis eksperimen yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) Pretest-Posttest Control Group Design. Tujuannya untuk mengetahui hubungan sebab akibat dari perlakuan yang diberikan. Rancangan Pretest-Posttest Control Group Design adalah sebagai berikut.


                               Pretest                  Treatment                   Posttest
T1                                          X1                                          T2
T1                                          X2                                          T2

 
Group
Exp. Group
Cont. Group

Gambar 1. Rancangan Penelitian (Sumber: Depdikbud, 1983: 25)
Keterangan:
T1     = Pretest Konsep Metodologi Penelitian
X1     = Perlakuan pada kelas eksperimen berupa pembelajaran dengan mengimple-mentasikan model konstruktivis 5E
X2     = Perlakuan pada kelas kontrol berupa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional
T2     = Posttest pemahaman konsep dan aplikasi Metodologi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa PGSD Universitas Trunojoyo semester V tahun akademik 2014/2015 yang terdiri dari lima kelas dengan jumlah 200 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random assignment (Sugiyono, 2012:64). Pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.Sampel penelitian adalah Mahasiwa Universitas Trunojoyo Madura khususnya kelas VB dengan jumlah siswa sebanyak 37 mahasiswa sebagai kelas eksperimen dan kelas VC sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa sebanyak 39 mahasiswa.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data tentang hasil belajar pemahaman konsep dan aplikasi konsep metodologi penelitian. Pengumpulan data mulai dilakukan sebelum eksperimen dilaksanakan. Data tentang kemampuan awal siswa diperoleh dari hasil pretest yang dilakukan sebelum pelaksanaan eksperimen. Kemudian, kelas eksperimen diberi perlakuan berupa penerapan model konstruktivis 5E, sedangkan pembelajaran pada kelas kontrol dilakukan dengan penerapan strategi konvensional. Di akhir pelaksanaan eksperimen, dilakukan posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk mengetahui hasil belajar pemahaman konsep dan aplikasi konsep metodologi penelitian.
Jenis data dan teknik pengumpulan data ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel Jenis Data  dan Teknik Pengumpulan Data
No.
Tujuan
Data yang Diperlukan
Teknik Pengumpulan Data
1.
Mengetahui kemampuan awal Mahasiswa
Kemampuan awal
-          Pemahaman konsep
-          Aplikasi konsep
Metodologi penelitian

-          Menggunakan tes tertulis (pretest)
-          Menggunakan tes tertulis (pretest)
2.
Mengetahui hasil belajar Metodologi penelitian
Hasil belajar Metodologi penelitian
-          Aplikasi konsep

-          Pemahaman konsep


-          Menggunakan tes tertulis pilihan ganda  (posttest)
-          Menggunakan tes tertulis uraian  (posttest)]

Ada dua teknik analisa data yang digunakan untuk mengolah data yaitu analisis deskriptif kualitatif dan analisis inferensial. Langkah-langkah pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.    Uji Normalitas
Uji normalitas yang digunakan dengan SPSS 20.0 Kolmogorov Smirnov, dilakukan untuk mengetahui apakah data kedua kelas berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Jika nilai Sig atau signifikansi <0,05, maka distribusi tidak normal.
b.    Uji Homogenitas
     Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh memiliki varians yang homogen atau tidak
c.    Jika data yang dianalisis berdistribusi normal dan homogen, maka untuk pengujian hipotesis dilakukan uji-t
d.   Jika data yang dianalisis berdistribusi normal tetapi tidak homogen, maka untuk pengujian hipotesis dilakukan uji-t

HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi data yang disajikan dalam penelitian ini adalah deskripsi data hasil pretesdan postes daripemahaman konsep dan aplikasi konsep
1.    Variabel Pemahaman Konsep
a.    Uji Normalitas Data Pemahaman Konsep
            Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas data pretes dan postes kemampuan berpikir kritis digunakan uji statistik Kolmogorov Smirnov dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil uji normalitas disajikan pada tabel:
Tabel  Normalitas Pretes Kelas Kontrol Dan Kelas Eksperimen
Variabel
Data
Signifikansi
Status Distribusi
Pemahaman Konsep
Pretes kelas control
0,74
Terdistribusi Normal
Postes kelas kontrol
0,88
Terdistribusi Normal
Pretes kelas eksperimen
0,86
Terdistribusi Normal
Postes kelas eskperimen
1.11
Terdistribusi Normal
            Berdasarkan tabel di atas, diketahui  nilai signifikansi untuk pretes kelas kontrol dan kelas eksperimen sebesar 0,74 dan 0,88 Sedangkan untuk kelas postes kontrol dan kelas eksperimen sebesar 0,86 dan 1,11. Diketahui bahwa nilai signifikansi dari semua data lebih dari 0,05 sehingga data pretes dan postes kelas eksperimen dan kontrol terdistribusi normal

b.   Uji Homogenitas Data
 Uji Homogenitas Data Pretes dan Postes Pemahaman konsep
Tabel  Tes Homogenitas Varian


Statistik Levene
df1
df2
Sig.
eksperimen
Berdasarkan rata-rata
5,07
1
46
,06
Berdasarkan median
5,03
1
46
,03
Berdasarkan median dan df yang disesuaikan
5,03
1
42,64
,03
Berdasarkan rata-rata yang dipangkas
5,05
1
46
,02

Berdasarkan Tabel, diketahui bahwa nilai signifikan 0,06yang artinya <0,05 sehingga dapat disimpulkan varian data pretes dan postes antara kelompok eksperimen dan kontrol homogen

c.    Uji Hipotesis Pemahaman Konsep
Berdasarkan uji normalitas data diketahui data terdistribusi normal, dan dari uji homogenitas diketahui varian antar kelompok adalah homogen Oleh karena data terdistribusi normal maka data pemahaman konsep ini menggunakan uji parametrik yaitu uji t.
            Taraf yang digunakan mengambil taraf signifikansi (α) sebesar 0,05. Kriteria pengujiannya yaitu jika nilai Sig (2-ekor) lebih dari 0,05 maka Ho diterima atau jika nilai Sig (2-ekor) kurang dari 0,05 maka Ho ditolak.


Uji persamaan Pretes Pemahaman Konsep Kelas Kontrol Dan Kelas Eksperimen
Tabel . Persamaan PretesPemahaman KonsepKelas Kontrol Dan Kelas Eksperimen
Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means
F
Sig.
t
df
Sig. (2-tailed)
Mean Difference
Std. Error Difference
95% Confidence Interval of the Difference
Lower
Upper
Pretes
Equal variances assumed
.268
.606
-2.091
58
.71
-4.16667
1.99256
-8.15521
-.17812
Equal variances not assumed


-2.091
57.929
.041
-4.16667
1.99256
-8.15532
-.17801

            Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai Sig (2-ekor) sebesar 0,71 lebih dari 0,05, maka Ho diterima. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor pretes pemahaman konsep kelas kontrol dan kelas eksperimen. Selanjutnya dilakukan uji perbedaan rata-rata hasil nilai postes pemahaman konsep pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pasangan hipotesis nol dan hipotesis alternatifnya adalah sebagai berikut:
a.    Ho = tidak terdapat perbedaan rata-rata skor postes antara kelas kontrol dan kelas eksperimen
b.    Ha = terdapat perbedaan rata-rata skor postes antara kelas kontrol dan kelas eksperimen

1)   Uji Perbedaan Pemahaman Konsep Pretes Ekperimen dan postes kelas eksperimen
            Selanjutnya dilakukan uji perbedaanpemahaman konsep sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Uji yang digunakan adalah uji-t berpasangan dengan taraf signifikansi (α) sebesar 0,05. Pasangan hipotesis nol dan hipotesis alternatifnya adalah sebagai berikut:
a.    Ho = tidak terdapat perbedaan rata-rata skor prtes dan postes setelah diberikan perlakuan
b.    Ha = terdapat perbedaan rata-rata skor pretes dan postes setelah diberikan perlakuan
            Hasil uji perbedaan nilai postes pemahaman konsep pada kelas eksperimen pada Tabel
Tabel  Uji Perbedaan Pretes eksperimen dan Postes eksperimen Pemahaman Konsep
Test Statisticsa

posteseksperimen - preteseksperimen
Z
-4.722b
Asymp. Sig. (2-tailed)
.000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.

Berdasarkan tabel di atas, nilai signifikansi untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh angka Sig 0,00 adalah <0,05 sehingga dinyatakan ada perbedaan hasil pretes dan postes pada kelas eksperimenyaitu kelas yang diberi perlakuan strategi pembelajaran konstruktivis model cycle Learning 5E
2.    Variabel Aplikasi Konsep
a.    Uji Normalitas Data
            Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas data pretes dan postes kemampuan berpikir kritis digunakan uji statistik Kolmogorov Smirnov dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil uji normalitas disajikan pada Tabel  di bawah ini:

Tabel . Normalitas Aplikasi Konsep
Variabel
Data
Signifikansi
Status Distribusi
Pemahaman Konsep
Pretes kelas kontrol
1.13
Terdistribusi Normal
Postes kelas kontrol
1.55
Terdistribusi Normal
Pretes kelas eksperimen
1.42
Terdistribusi Normal
Postes kelas eskperimen
1.55
Terdistribusi Normal

b.     Uji Homogenitas
Tabel . Uji Homogenitas Data Pretes dan Postes Karakter


Statistik Levene
df1
df2
Sig.
eksperimen
Berdasarkan rata-rata
7,35
1
46
,12
Berdasarkan median
6,29
1
46
,016
Berdasarkan median dan  df yang disesuaikan
6,29
1
42,89
,016
Berdasarkan rata-rata yang dipangkas
7,70
1
46
,008
            Berdasarkan Tabel  diketahui bahwa nilai signifikan 0,12 yang artinya >0,05 sehingga dapat disimpulkan varian data pretes dan postes antara kelompok eksperimen dan kontrol homogen

3. Uji Hipotesis
1)   Uji Persamaan pemahaman Konsep Postes kontrol dan postest eksperimen
Tabel 8. Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means
F
Sig.
t
df
Sig. (2-tailed)
Mean Difference
Std. Error Difference
95% Confidence Interval of the Difference
Lower
Upper
Postes
Equal variances assumed
.025
.876
-4.072
58
.000
-7.66667
1.88257
-11.43504
-3.89830
Equal variances not assumed


-4.072
57.420
.000
-7.66667
1.88257
-11.43585
-3.89749
            Berdasarkan Tabel   diketahui bahwa nilai Sig (2-ekor) sebesar 0,000 < 0,05 sehingga Ha diterima dan Ho ditolak artinya terdapat perbedaan nilai postes pemahaman konsep pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.
2)   Uji perbedaan pemahaman konsep Pretes ekperimen dan postes kelas eksperimen
Tabel . Test Statisticsa

posteseksperimen - preteseksperimen
Z
-4.539b
Asymp. Sig. (2-tailed)
.000
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.
Berdasarkan Tabel  di atas, nilai signifikansi untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh angka Sig 0,00 adalah <0,05 sehingga dinyatakan ada perbedaan pemahaman konsep hasil pretes dan postes pada kelas eksperimenyaitu kelas yang diberi perlakuan model pembelajaran konstruktivis 5E.

3)      Perbedaan Hasil Belajar Aplikasi konsep kelas kontrol dengan kelas eksperimen
Hasil belajar aplikasi konsep dilakukan menggunakan statistik deskriptif melalui pengumpulan hasil proposal metode penelitian. Rata-rata hasil belajar aplikasi metode penelitian pada kelas kontrol mencapai 71,5, sedangkan pada kelas eksperimen rata-rata hasil belajar mahasiswa mencapai 84,5. Dari sini dapat diketahui bahwa hasil belajar aplikasi konsep kelas eksperimen lebih besar dari pada kelas kontrol, sehingga model pembelajaran konstruktivis 5E dapat dikatakan berpengaruh terhadap aplikasi metode penelitian.

KESIMPULAN
Berkaitan dengan pengujian hipotesis, dan pembahasan, dapat disampaikan kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut.
a.       Perbedaan signifikansi untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh angka Sig 0,00 adalah <0,05 sehingga dinyatakan ada perbedaan pemahaman konsep hasil pretes dan postes pada kelas eksperimenyaitu kelas yang diberi perlakuan model pembelajaran konstruktivis 5E.
b.      Hasil belajar aplikasi konsep mahasiswa dalam memahami metode penelitian di kelas kontrol dan kelas eksperimen juga terdapat perbedaan. Hasil uji coba di lapangan, menunjukan bahwa rata-rata hasil belajar aplikasi konsep metode penelitian di kelas kontrol adalah 74,15 sedangkan di kelas eksperimen adalah 84,5. Sehingga dapat dikatakan hasil belajar aplikasi konsep metode penelitian di kelas eksperimen lebih unggul dibandingkan rata-rata hasil belajar aplikasi konsep di kelas kontrol.
c.       Perbedaan hasil belajar pemahaman konsep dan aplikasi konsep metode penelitian, secara umum memiliki perbedaan. Hal ini disebabkan sintaks pembelajaran antara kedua kelas berbeda. Di kelas eksperimen, pembelajaran menggunakan strategi konstruktivis melalui model 5E, dimana sintak pembelajaran terdiri dari engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluasi , sedangkan pembelajaran di kelas kontrol hanya menggunakan pembelajaran konvensional.

DAFTAR  RUJUKAN

A.Tabrani Rusyan, Atang Kusdinar, & Zainal Arifin. 1989. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya
Arends. Learnig To Teach. Nineth Edition. New York:
Bodner,G.M. 1986. Contructivism. A Theory Of Knowledge. Jurnal of chemical eduaction.
Budiyono. 2004. Statistika Untuk Penelitian. Surakarta: UNS Press
Dahar, R. W. 1989. Teori-teori Belajar.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Gardner. 1999. Multiple Intelegence
Gino, Suwarni, Suripto, Maryanto, dan Sutijan. 1998. Belajar dan Pembelajaran I. Surakarta :
Hipitiew. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Malang: UM
Intan, 2011. Penerapan model pembelajaran 5E untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa. Tesis. UM
Nonoh Siti Aminah. 2004. Penggunaan Anava pada Penelitian Pembelajaran. Surakarta :
Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Perdana Media Group.
Setyosari, Punaji 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Malang: UM
Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remadja Rosdakarya
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Wijaya, Cece dkk. 1988. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. Bandung: CV Remadja Karya
Willis, 2000. Teori Belajar. PT Remadja Rosdakarya
Winkel, W.S. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: PT Grasindo