Selasa, 09 Mei 2017

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN HYPNOTEACHING TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH SISTEM POLITIK INDONESIA



PENGARUH METODE PEMBELAJARAN HYPNOTEACHING TERHADAP PRESTASI BELAJAR    MATA  KULIAH  SISTEM POLITIK INDONESIA 
                                               
Yosdy Praseko Bayono

Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Pengaruh Metode Hypnoteaching dan keaktifan berproses  Terhadap Prestasi belajar siswa Mata Kuliah sistem Politik Indonnganesia.  Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, analisis data  menggunakan rumus chi kuadrat selanjutnya diuji dengan menggunakan rumus koefisien kontingensi dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pembelajaran hypnoteaching dan  keaktifan dalam berproses berpengaruh  terhadap prestasi belajar mata kuliah sistem politik Indonesia pada mahasiswa PPKn  FPIPS IKIP PGRI Jember.

       Kata Kunci :  Metode Hypnoteaching, Prestasi, Belajar
       
PENDAHULUAN
Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam pembukaan UUD 1945 termaktub bahwa salah satu cita – cita luhur bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta mempunyai tanggung jawab dalam bermasyarakat dan berbangsa.
           “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3 UU RI No 20/ 2003). Pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja agar anak didik memiliki sikap dan kepribadian yang baik, sehingga penerapan pendidikan harus diselengggarakan sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional. Jadi pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja agar anak didik memiliki sikap dan kepribadian yang baik, sehingga penerapan pendidikan harus  diselenggarakan  sesuai  dengan  Sistem  Pendidikan  Nasional.  Maka pembelajaran di kampus, khususnya pembelajaran pada mata kuliah sistem politik Indonesia yang merupakan salah satu sub sistem, harus selaras dan menunjang tercapainya tujuan pendidikan tersebut.                
            Berbicara tentang sistem, bahwa sistem adalah suatu totalitas yang terdiri dari unsur-unsur yang satu sama lain saling berkaitan, saling ketergantungan satu sama lain, saling berinteraksi dan saling pengaruh mempengaruhi, sehingga keseluruhannya merupakan suatu kebulatan yang utuh dan mempunyai peranan dan tujuan tertentu.
Sistem politik Indonesia diartikan sebagai kumpulan atau keseluruhan berbagai kegiatan dalam Negara Indonesia yang berkaitan dengan kepentingan umum termasuk proses penentuan tujuan, upaya-upaya mewujudkan tujuan, pengambilan keputusan, seleksi dan penyusunan skala prioritasnya. Hal –hal inilah lingkup materi  mata kuliah sistem politik Indonesia.
Politik adalah semua lembaga-lembaga negara yang tersebut di dalam konstitusi negara ( termasuk fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif ). Dalam Penyusunan keputusan-keputusan kebijaksanaan diperlukan adanya kekuatan yang seimbang dan terjalinnya kerjasama yang baik antara suprastruktur dan infrastruktur politik sehingga memudahkan terwujudnya cita-cita dan tujuan-tujuan masyarakat/Negara. Dalam hal ini yang dimaksud suprastruktur politik adalah Lembaga-Lembaga Negara. Lembaga-lembaga tersebut di Indonesia diatur dalam UUD 1945 yakni MPR, DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial. Lembaga-lembaga ini yang akan membuat keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kepentingan umum.
Badan yang ada di masyarakat seperti Parpol, Ormas, media massa, Kelompok kepentingan (Interest Group), Kelompok Penekan (Presure Group), Alat/Media Komunikasi Politik, Tokoh Politik (Political Figure), dan pranata politik lainnya adalah merupakan infrastruktur politik, melalui badan-badan inilah masyarakat dapat menyalurkan aspirasinya. Tuntutan dan dukungan sebagai input dalam proses pembuatan keputusan. Dengan adanya partisipasi masyarakt diharapkan keputusan yang dibuat pemerintah sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat. Semuan cakupan materi diatas harus dikuasai dan dipahami oleh mahasiswa yang menempuh mata kuliah sistem politik Indonesia, yang ditunjukkan dalam hasil ujian atau prestasi belajarnya.
           Sering dijumpai berbagai fenomena nyata khususnya pada keadaan peserta didik  kita baik dalam hal kerajinan, kedisiplinan, etika, dan minat belajar mereka. Dari berbagai fenomena yang kompleks tersebut, seorang guru pun dituntut menerapkan metode pembelajaran yang kompleks pula, kompleks dalam arti memiliki banyak cara, banyak inisiatif, banyak alternatif yang bersifat kreatif dan inovatif, selain itu seorang guru harus banyak bersabar pada muridnya untuk mengulang materi, menjelaskan ulang, membimbing mereka, sehingga mereka nantinya selain menjadi manusia yang berkualitas mereka juga mempunyai karakter yang baik, matang serta stabil. Ini merupakan fungsi guru sebagai administrator, fasilitator, motivator, pendidik, motivator.   Salah satu faktor yang penting adalah metode pembelajaran yang digunakan oleh para pengajar. Seorang pengajar dituntut untuk menguasai metode-metode pembelajaran yang ada untuk dapat membawa peserta atau anak didiknya menghasilkan output yang maksimal. Anak akan belajar cenderung lebih baik dan lebih bermakna jika ia “mengalami” apa yang dipelajarinya dan bukan “mengetahui”nya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi dalam jangka pendek, namun gagal membekali anak dalam memecahkan masalah kehidupan dalam jangka panjang (Depdiknas, 2002b:2)
          Pembelajaran di Indonesia selama ini banyak pengajar yang menggunakan metode pembelajaran konvensional dalam proses mengajar, yaitu metode pembelajaran dengan cara ceramah dimana peran guru di sini aktif dan peserta didik cenderung pasif. Dengan menggunakan metode mengajar yang tepat akan berpengaruh besar pada hasil belajar siswa. Sebagaimana diungkapkan oleh Slameto, 2003: 65) “Metode mengajar guru yang kurang baik diakibatkan karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa atau mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya, akibatnya siswa malas untuk belajar dan mencatat materi pelajaran yang sedang dipelajari”.  Hadi (dalam http://www.sman1-labakkang.com) “Beberapa hal yang menjadi ciri praktek pendidikan di Indonesia selama ini adalah pembelajaran berpusat pada guru. Guru menyampaikan pelajaran dengan menggunakan metode ceramah atau ekspositori sementara siswa mencatatnya pada buku catatan”.Metode pembelajaran hypnoteaching adalah merupakan salah satu metode yang menarik dan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Metode yang memakai sugesti-sugesti positif untuk mencapai alam bawah sadar peserta didik ini dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Hypnoteaching mencoba hadir dengan menyuguhkan sebuah pendekatan konseptual baru dalam bidang pendidikan, pembinaan dan sekaligus “pencerahan dan pengobatan” pada para siswa yang bermasalah. Hypnoteaching merupakan perpaduan antara kedahsyatan ilmu hipnosis dengan kemuliaan ilmu pendidikan. Hypnoteaching merupakan perpaduan dua kata “hypnosis” yang berarti mensugesti dan “teaching” yang berarti mengajar. Hypnoteaching merupakan perpaduan pengajaran yang melibatkan pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.  Menurut Yustisia (2012:72) Metode Pembelajaran Hypnoteaching merupakan salah satu metode pembelajaran yang dalam menyampaikan materi, guru memakai bahasa-bahasa bawah sadar yang bisa menumbuhkan ketertarikan tersendiri kepada peserta didik. Merupakan perpaduan pengajaran yang melibatkan pikiran sadar dan bawah sadar. Hypnoteaching merupakan metode pembelajaran yang kreatif, unik, sekaligus imajinatif. Sebelum pelaksanaan pembelajaran, peserta didik sudah dikondisikan untuk belajar. Oleh karena itu, dalam mempersiapkan hal-hal tersebut guru dituntut untuk stabil baik secara psikologis maupun secara psikis. Menurut Hajar (2011:75) Hypnoteaching adalah seni berkomunikasi dengan jalan memberikan sugesti agar para siswa menjadi lebih cerdas. Dengan sugesti yang diberikan, diharapkan mereka tersadar dan tercerahkan bahwa ada potensi luar biasa yang selama ini belum pernah mereka optimalkan dalam pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa hypnoteaching adalah suatu metode yang digunakan untuk meningkatkan rasa nyaman pada siswa untuk menikmati kegiatan belajar mengajar, memasukkan unsur pemberian motivasi dan ajakan untuk terus belajar sampai siswa sadar bahwa mereka memiliki potensi yang luar biasa, dalam kondisi pembelajaran yang nyaman. Menurut Jaya (2010: 5) Hypnosis adalah suatu kondisi dimana perhatian menjadi sangat terpusat sehingga tingkat sugestibilitas (daya terima saran) meningkat sangat tinggi. metode ini menekankan pada kekuatan konsentrasi, kekuatan pikiran bawah sadar siswa dan persepsi siswa sehingga pembelajaran terasa mengasikkan bagi siswa dan memudahkan guru untuk mentransfer informasi yang baru.   Pendekatan Hypnoteaching lebih mendekati kondisi hypnosis sederhana. Dalam pembelajaran tidak diperlukan hypnosis yang mampu menidurkan siswa. Siswa hanya menerima informasi berupa materi, informasi atau motivasi dapat lebih mudah diterima. Pikiran bawah sadar merupakan gudang semua informasi yang dimiliki seseorang. Pikiran bawah sadar memiliki memiliki kemampuan terpisah dari kemampuan pikiran sadar. Pikiran bawah sadar bekerja dengan sangat jujur dan apa adanya (Navis, 2013: 130). Banyak hal-hal yang tidak bisa diingat oleh pikiran sadar yang masih diingat jelas oleh pikiran bawah sadar. Artinya, banyak juga materi palajaran yang tidak bisa diingat siswa, dan mereka mengingat pada kondisi bawah sadar. Alam bawah sadar (unconscious mind) dominan memengaruhi dan menguasai pemikiran seseorang (88%), sedangkan alam sadar (conscious mind) hanya menguasai sisanya (12%).  Pikiran manusia mempunyai dua jenis pikiran yang bekerja secara simultan dan saling mempengaruhi, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar (conscious mind) adalah proses mental yang anda sadari dan bisa anda kendalikan, sedangkan pikiran bawah sadar (subconscious mind) adalah proses mental yang berfungsi secara otomatis sehingga anda tidak menyadarinya (Ibnu Hajar. 2011:61). Begitu juga Dalam “peace of mind” MC Gregor menyebutkan bahwa pikiran bawah sadar menguasai pemikiran seseorang sebanyak 88%. Sisanya adalah pikiran sadar. oleh karena itu melalui metode pembelajaran ini diharapkan materi dapat melekat dalam pikiran peserta didik. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negatif. Kata-kata yang diberikan oleh pendidik entah langsung maupun tidak langsung sangat mempengaruhi kondisi psikis peserta didik. Kata-kata  yang positif dari pendidik dapat membuat peserta didik merasa lebih percaya diri dalam menerima materi yang diberikan.
Noer dalam Yustisia (2012: 76) menerangkan unsur-unsur metode hypnoteaching meliputi penampilan guru, sikap yang empatik, rasa simpati, penggunaan bahasa, peraga, motivasi dan menguasai hati siswa.                 

Langkah- langkah Metode Pembelajaran hypnoteaching                                    
Berikut terdapat beberapa langkah dasar yang wajib dilakukan seorang guru dalam menerapkan Metode hypnoteaching yang dikemukakan oleh Noer (dalam Yustisia, 2012: 85).                                 Niat dan motivasi dalam diri Kesuksesan seseorang tergantung pada niat seseorang untuk bersusah payah dan kerja keras untuk mencapai kesuksesan tersebut. Niat yang besar akan memunculkan motivasi serta komitmen yang tinggi pada bidang yang ia tekuni. Niat dan motivasi guru harus ditularkan kepada siswa. Contoh konkret dari niat dan motivasi dalam diri guru dapat dilihat dari penampilan guru yang rapi, senyum dan ramah saat memasuki kelas, besarkan sedikit bola mata. Maksud dari membesarkan bola mata akan mempengaruhi intonasi suara yang di berikan pendidik. Dengan membesarkan bola mata, intonasi yang keluar dari mulut dapat terdengar lebih semangat.
Pacing:  Pacing berarti menyamakan posisi, gerak tubuh dengan peserta didik. Prinsip dasar disini adalah “manusia cenderung atau lebih suka berkumpul dengan sejenisnya atau memilliki banyak kesamaan.” Secara alamiah, setiap orang pasti nyaman dan senang untuk berkumpul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya sehingga akan merasa nyaman berada di dalamnya. Dengan kenyamanan yang bersumber dari kesamaan gelombang otak ini maka setiap pesan yang disampaikan dari orang satu dengan orang lain akan diterima dan dipahami dengan baik.                                                          
 Leading: Leading berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing anda lakukan. Jika anda melakukan leading tanpa didahului dengan pacing, hal itu sama saja dengan memberikan perintah pada siswa anda dengan resiko siswa anda melakukannya dengan terpaksa dan tertekan. Hal ini akan berakibat pada penolakan siswa pada diri anda, atau lebih kongkritnya adalah siswa akan lebih senang dan gembira ketika anda menderita sakit sehingga tidak dapat mengajar pada jam anda.                                                                       
 Gunakan kata positif. Langkah berikutnya adalah langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negatif. Kata-kata positif yang diberikan guru dapat meningkatkan rasa percaya diri anak didik, yakni berupa himbauan atau ajakan. Misalnya ketika anak didik ramai di kelas atau gaduh, guru jangan mengatakan “Jangan ramai” tetapi sebaiknya menggunakan kata-kata “Mohon tenang”. Gunakan intonasi yang tepat saat berbicara, guru harus memahami dan memperhatikan ritme berbicara, karena dalam ilmu komunikasi efektif, intonasi memiliki peran 38% untuk memasukkan sugesti ke alam bawah sadar siswa.                                      
           Berikan pujian Pujian merupakan reward peningkatan harga diri seseorang. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. Maka berikanlah pujian dengan tulus pada siswa. Khususnya ketika ia berhasil melakukan atau mencapai prestasi. Sekecil apapun bentuk prestasinya, tetap berikan pujian. Termasuk ketika ia berhasil melakukan perubahan positif pada dirinya sendiri, meski mungkin masih berada di bawah standar teman-temannya, tetaplah berikan pujian. Dengan pujian, seseorang akan terdorong untuk melakukan yang lebih dari sebelumnya.        
Modeling adalah proses memberi tauladan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. Hal ini sangat perlu dan menjadi salah satu kunci hypnoteaching. Setelah siswa menjadi nyaman dengan anda, kemudian dapat anda arahkan sesuai yang anda inginkan, dengan modal kalimat-kalimat positif, maka perlu pula kepercayaan (trust) siswa pada anda dimantapkan dengan perilaku anda yang konsisten dengan ucapan dan ajaran anda. Sehingga anda selalu menjadi figur yang dipercaya. Metode ini sangat dahsyat mempengaruhi pikiran lawan bicara anda. Terlebih jika anda selalu melatihnya setiap saat. Metode yang dapat membuat siswa anda menjadi senang bersekolah, dan menjadi insan cerdas yang luar biasa. Guru dapat melibatkan anak didik secara aktif dalam proses pembelajaran.Guru menyampaikan materi secara kontekstual, memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan sesuatu secara kolaboratif, memberi umpan balik secara langsung dan lain sebagainya.Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian. Hal ini untuk mengetahui lebih jauh tentang sejauhmana pengaruh metode pembelajaran hypnoteaching terhadap prestasi belajar siswa .
Rumusan Masalahnya adalah : “ Adakah Pengaruh Metode Hypnoteaching dan keaktifan berproses  Terhadap Prestasi belajar siswa Mata Kuliah sistem Politik Indonesia ?.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Pengaruh Metode Hypnoteaching dan keaktifan berproses Terhadap Prestasi belajar siswa Mata Kuliah sistem Politik Indonesia .

METODE PENELITIAN
            Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif, Penelitian ini banyak dituntut menggunakan angka (dalam penelitian ini menggunakan rumus statistik), mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Selain data berupa angka dari angket keaktifan dalam proses pembelajaran yang diterapkan dengan metode  Hypnoteaching , dalam penelitian kuantitatif juga ada data yang berupa kualitatif.   Prestasi belajar diketahui dengan metode tes.      Responden penelitian adalah mahasiswa  PPKn yang menempuh mata kuliah Sistem Politik Indonesia di Prodi PPKn FPIPS IKIP PGRI Jember.            

Metode Analisis Data                                                                                               
        Dalam penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh metode pembelajaran hypnoteaching terhadap prestasi belajar siswa, maka digunakan metode statistika dengan rumus chi kuadrat, sedangkan untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel tersebut digunakan rumus koefisien kontingensi.   Adapun rumus-rumus tersebut adalah sebagai berikut:                                   Rumus Chi Kuadrat:
            X ² = ∑ (fo-fh)²    (Dengan taraf signifikan 5 %)
                          Fh
Harga chi kuadrat

d.b
TARAF SIGNIFIKAN
5 %
1 %
2,5 %
0,5 %
1
3,841
6,635
5,0,4
7,875
( Sutrisno Hadi, 2008)                                               
Rumus koefisien kontingensi :
            KK = √  
                        X²+N
Keterangan :
      X   = Chi Kuadrat
     Fo   = frekuensi hasil observasi
     Fh   = frekuensi yang diharapkan
     KK = koefisien kontingensi
     N    = jumlah responden
Arikunto (2010: 312- 313)
            Untuk mengetahui korelasi tingkat pengaruh digunakan nilai strandart sebagai berikut:
0.00-0       – 0,200 = Korelasi Nihil
0,201 – 0,400     = Korelasi Rendah                                                                   
 0,401 – 0,60      = Korelasi Sedang                                                                     
 0,061 – 0,800   = Korelasi Tinggi                                                                      
 0,801 – 1,000    = Korelasi Sempurna          

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
            Sebagaimana telah dikemukakan bahwa responden (sampel) dalam penelitian ini.  Penentuaan responden ini menggunakan teknik random sampling cara undian.Angket untuk memperoleh data nilai keaktifan mahasiswa dalam proses pembelajaran pada saat diterapkan Metode Pembelajaran Hypnoteaching dan Prestasi belajar dengan tes, analisis datanya menggunakan analisis statistik, karena datanya berupa angka-angka, sedangkan data yang diperoleh dari hasil angket masih dalam bentuk kualitatif, oleh karena itu data tersebut harus diubah dalam bentuk kuantitatif agar dapat diketahui total score masing-masing siswa.  Adapun cara penilaiannya adalah sebagai berikut :  Jika siswa memilih jawaban angket a,  diberi score 3;Jika siswa memilih jawaban angket b, diberi score 2; Jika siswa memilih jawaban angket c, diberi score 1..Untuk mengetahui hasil jawaban angket tersebut secara lengkap dan jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
        Untuk mencari katagori baik (B) dan kurang (K) tentang  , maka penulis harus mencari rata-rata dengan rumus :
M = S                                                                                                               
 Keterangan : M  : Nilai rata-rata
                      X  : Jumlah keseluruhan
                      N  : Jumlah responden
Adapun nilai rata-rata dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut:          
1. Variabel (X)  Metode Pembelajaran Hypnoteaching
M==  
              = 52,31, Dibulatkan 52
Ÿ Nilai variabel X > dari 52 dikategorikan baik (B)
Ÿ Nilai variabel X < dari 52 dikategorikan kurang (K)
2. Variabel (Y) Prestasi Belajar
    M=   =  7860, dibulatkan  79
Nilai variabel X > dari 79 dikategorikan baik (B)
Ÿ Nilai variabel X < dari  79 dikategorikan kurang (K)

Rekapitulasi  Hasil Angket
Tentang Metode Pembelajaran Hypnoteaching dengan  Prestasi Belajar


No
Metode Pembelajaran Hypnoteaching
Prestasi belajar
Hubungan
Score
Kategori
Score
Kategori
Kategori
1
51
K
85
B
KB
2
49
K
80
B
KB
3
56
B
80
B
BB
4
53
B
90
B
BB
5
54
B
80
B
BB
6
45
K
90
B
KB
7
46
K
95
B
KB
8
44
K
80
B
KB
9
54
B
85
B
BB
10
53
B
80
B
BB
11
50
K
70
B
KB
12
45
K
80
B
KB
13
48
K
80
B
KB
14
54
B
90
B
BB
15
52
B
80
B
BB
16
52
B
85
B
BB
17
51
K
80
B
KB
18
60
B
85
B
BB
19
51
K
80
B
KB
20
54
B
80
B
BB
21
53
B
85
B
BB
22
50
K
80
B
KB
23
45
B
65
K
BK
24
51
K
75
K
KK
25
53
B
85
B
BB
26
60
B
80
B
BB
27
57
B
85
B
BB
28
49
K
55
K
KK
29
55
B
80
B
BB
30
48
K
80
B
KB
31
51
K
45
K
KK
32
51
K
55
K
KK
33
54
B
85
B
BB
34
49
K
50
K
KK
35
56
B
80
B
BB
36
50
K
80
B
KB
37
49
K
85
B
KB
38
56
B
80
B
BB
39
56
B
80
B
BB
40
51
K
80
B
KB
41
51
K
85
B
KB
42
54
B
80
B
BB
43
50
K
85
B
KB
44
54
B
80
B
BB
45
54
B
80
B
BB
46
54
B
85
B
BB
47
51
K
85
B
KB
48
47
K
80
B
KB
49
56
B
85
B
BB
50
60
B
45
K
BK
51
49
K
70
K
KK
52
50
K
80
B
KB
53
50
K
85
B
KB
54
56
B
60
K
BK
55
54
B
80
B
BB
56
47
K
80
B
KB
57
55
B
85
B
BB
58
55
B
90
B
BB
59
53
B
80
B
BB
60
54
B
90
B
BB
61
53
B
95
B
BB
62
54
B
95
B
BB
63
51
K
35
K
KK
64
55
B
80
B
BB
65
45
K
45
K
KK
66
45
K
50
K
KK
67
51
K
40
K
KK
68
54
B
80
B
BB
69
49
K
50
K
KK
70
54
B
85
B
BB
71
53
B
80
B
BB
72
51
K
95
B
KB
73
54
B
80
B
BB
74
51
K
80
B
KB
75
53
B
80
B
BB
76
52
B
85
B
BB
77
56
B
80
B
BB
78
53
B
95
B
BB
79
51
K
80
B
KB
80
52
B
80
B
BB
81
51
K
85
B
KB
82
53
B
80
B
BB
83
54
B
80
B
BB
84
57
B
80
B
BB
85
60
B
         80
B
BB
86
46
K
         40            
K
KK
87
53
B
         85                85
B
BB
88
57
B
         85
B
BB
89
55
B
80
B
BB
90
53
B
90
B
BB
91
57
B
95
B
BB
92
44
K
65
K
KK
93
52
B
80
B
BB
94
50
K
80
B
KB
95
51
K
85
B
KB
96
57
B
80
B
BB
97
52
B
95
B
BB
98
54
B
85
B
BB
99
50
K
85
B
KB
100
55
B
85
B
BB
Jumlah
5231


7860




Sumber : Hasil analisis                                                                                     
       Berdasarkan perhitungan diatas, maka diperoleh jumlah kategori :   a. Baik – baik, sebanyak=  57 siswa b. Baik – kurang, sebanyak        =    2 siswa; c. Kurang – baik, sebanyak         =  25 siswa   d. Kurang – kurang, sebanyak   =  16  siswa

Analisis Data dan Pengujian Hipotesis       
Untuk menganalisis dan sekaligus pengujian hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, digunakan analisis statistik dengan rumusan Chi Kuadrat sebagai berikut :   dengan taraf signifikasi 5                                                              
 Serta dites dengan rumusan Koefisien Kontingensi, yaitu :                                   
 KK   

Frekuensi tentang Metode Pembelajaran Hypnoteaching dengan Prestasi Belajar
Metode Pembelajaran Hypnoteaching
Prestasi Belajar
Total
Baik
Kurang
Baik
57
2
59
Kurang
25
16
41
Jumlah
82
18
100
Rumusan frekuensi harapannya adalah :
a.       Baik – baik :
fh a  =    = 48,38
           
b.      Baik – kurang :
fh b =    =  10, 62

c.       Kurang – baik :
fh c =   =  33, 62
                                  
d.      Kurang – Kurang :
fh d =    =  7,38

Metode Pembelajaran Hypnoteaching
Prestasi Belajar
Fo
Fh

Baik
B
57
48,38
8,62
74.3
1,54
Kurang
B
2
10,62
-8,62
74.3
7
Baik
K
25
33,62
-8,62
74.3
2,21
Kurang
K
16
7,38
8,62
74.3
10,07
Jumlah

100
100
0
-
20,82
Tabel Kerja Pengujian Hipotesis tentang Metode Pembelajaran Hypnoteaching dengan Prestasi Belajar
Sumber : Hasil analisis
Jadi :  Xhitung = =20,82
d.b   = ( baris – 1 ).( kolom – 1 )
        = ( 2 -1 ). (2-1)
        = 1.1
        = 1
Berdasarkan db = 1 taraf signifikasi 5 % didapat nilai  tabel = 3,841. Sedangkan  hasil perhitungan = 20,82  Hal ini ternyata  perhitungan lebih besar dari pada  tabel, berarti hipotesis nihil (Ho) yang diajukan ditolak, bahwa ada pengaruh metode pembelajaran hypnoteaching terhadap prestasi belajar. Sedangkan untuk mengetahui besar kecilnya korelasi, maka nilai  dites dengan rumus koefisien kontingensi ( KK ) sebagai berikut :
KK   =
=
=    = 0,415
            Nilai KK yang diperoleh adalah 0,415 ternyata bergerak antara 0,401– 0,600, maka  memiliki korelasi yang sedang, dapat disimpulkan bahwa, ” Ada Pengaruh Metode Pembelajaran Hypnoteaching Terhadap Prestasi Belajar  mata kuliah sistem Politik Indonesia.
.
Pembahasan Hasil Penelitian                                                                      
Berdasarkan analisa data dan pengujian hipotesis tersebut dapat memberikan hasil sebagai berikut :  Hipotesis nihil yang ditolak sehingga hipotesis kerja yang diterima, ini berarti ” Ada Pengaruh Metode Pembelajaran Hypnoteaching Terhadap Prestasi Belajar  mata kuliah sistem Politik Indonesia. dengan korelasi sedang. Pernyataan tersebut didukung oleh data – data sebagai berikut : = 20,82 ; KK  = 0,415.       Berdasarkan hipotesis, bahwa metode pembelajaran hypnoteaching dapat diterapkan kepada mahasiswa. Dapat juga  metode pembelajaran hypnoteaching diterapkan pada mata kuliah  lain dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar . Dari sekian banyak metode, metode pembelajaran hypnoteaching hanya terfokus pada penggunaan kata-kata positif dalam pembelajaran. Tujuannya agar pelajaran masuk pada alam bawah sadar siswa yang memiliki peran 88% dalam otak sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Disamping itu karena penelitian ini hanya berdasarkan data nilai angket yang didukung dengan interview dan tidak meneliti secara mendetail pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) setiap harinya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan               
            Berdasarkan hasil  analisis data,   dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pembelajaran hypnoteaching  dan keaktifan  dalam berproses dalam pembelajaran  berpengaruh  terhadap prestasi belajar mata kuliah sistem politik Indonesia pada mahasiswa PPKn  FPIPS IKIP PGRI Jember.

 Saran                                                                                                            
Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut: 1) Bagi  kolega dosen agar menerapkan hypnoteaching agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Meningkatkan kualitas diri, yang diharapkan mampu menggugah dan memotivasi anak didik dalam meningkatkan kualitas belajar khususnya dalam penggunaan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif sehingga membawa pada mutu pendidikan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Hendaknya Guru selalu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar tujuan pendidikan yang diharapkan dapat terwujud. Oleh karena itu, aspek psikis anak didik juga diperhatikan melalui metode pembelajaran hypnoteaching dapat diterapkan untuk meningkatkan prestasi belajar.  2) Bagi mahasiswa, Hendaknya lebih bersemangat dan lebih berkontribusi aktif dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dalam mata kuliah apapun untuk meraih cita-cita yang gemilang dimasa mendatang.

DAFTAR  RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2010. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
                               . 2009. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. PT.Rineka Cipta.
Asih, Ike Wahyuning.2012.Pengaruh Model Pembelajaran TAG (CTL) Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 9 Jember Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi. IKIP PGRI Jember. (Tidak dipublikasikan).
Awangga, Suryaputra N. 2007. Desain Proposal Penelitian.Yogyakarta. Pyramid              Publiser.                     
Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial IKIP PGRI JEMBER.2013.             Pedoman Penulisan Skripsi. Jember: TIM FP.IPS .
Hadi. 2008. Kendala- kendala yang Dihadapi Sekolah. Bandung. Artikel (online)              http://www.sman1-labakkang.com
http://www.forumnusantara.net /hypnoteaching (11 Maret 2013)
Ibrahim.R ,Syaodih, Nana. Juli 2003.Perencanaan Pengajaran, Jakarta: PT.           Rineka Cipta, cetakan kedua.   
Navis, Ali Akbar. 2013. Hypnoteaching: Revolusi Gaya Mengajar Untuk    Melejitkan Prestasi Siswa, Jogjakarta: Ar- Ruzz Media.   
Narbuko, Abu Achmadi. 2009. Metodologi Penelitian, Jakarta: PT. Bumi Aksara. 
Rajagukguk, Suwanto Wamington. 2012.Perbedaan Kemampuan Pemecahan       Masalah Matematika Siswa yang diajar Menggunakan Hypnoteaching dan       CTL  Pada Pokok Bahasan Pecahan di Kelas VII SMP Negeri 27 Medan             Tahun Ajaran 2011/2012.Skripsi (online). (11 Maret 2013)   
Syah, Muhibbin.2009. Psikologi Belajar. Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada.
Wirabhumi, Nara. 2012. Mengungkap Rahasia Hypnoteaching Part I (Metode Pembelajaran Dengan Menggunakan Teknik Hypnosis) http://ratnajanuarita.multiply.com/journal /item (11 Maret 2013)